[BTS FF Freelance] Carnation Flower – (Chapter 1)

_20161029_140720

Carnation flower

Author: dhifanur

Main cast: Kim Jungkook

        Kim Taehyung

        Park Hye Jung

        Ratu Kwon

        selir seo

        Lee Hyung Min

Genre: Romance, family, brothership, history

Rating: PG-13

Length: Chaptered

 cerita ini terinspirasi dari drama-drama korea bertema saeguk yang saya sudah tonton. Saya suka sekali dengan drama saeguk terutama drama the moon that embrace of the sun sama yang terakhir love in the moonlight. Drama itu adalah drama yang bikin saya lupa sama tugas he…he…he…. jika ff ini banyak typo nya, harap dimaklumi mengingat membuat cerita bersejarah itu sangat susah. Apalagi saya harus membrowsing hal-hal yang berbau joseon. DON’T BE A SILENT READER ^^

Kim Taehyung adalah seorang Raja Joseon yang tegas namun dingin. Ia terkenal sebagai sosok pemimpin yang jarang menunjukkan senyumannya kepada semua orang, termasuk keluarganya sendiri. Sifatnya yang dingin disebabkan oleh sebuah peristiwa yang terjadi di masa lalu. Sebuah peristiwa yang menyebabkan ia kehilangan sesosok yang berharga.

Suatu hari, Taehyung bertemu dengan seorang gadis, yang membuatnya teringat akan sosok yang sangat ia rindukan.

Lalu, bagaimana kisah mereka selanjutnya?

Apakah dinginnya hati Taehyung akan luluh oleh gadis tersebut?

hyung, hyung!” Bisik seorang lelaki kecil, kepada seseorang lelaki ber-hanbok biru, lewat celah jendela. Postur tubuhnya yang pendek, memaksakan dia untuk berjinjit, agar bisa melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang di dalam sana. Merasa mendengar suara bisikan, lelaki ber hanbok biru itu meletakan kuasnya di atas kertas putih. Ia menoleh ke sumber suara, dan mendapati sebuah kepala, yang tak lain adalah adiknya.

Hyung, ayo kita bermain di taman istana! Disana banyak katak.” Ajak lelaki kecil itu kepada lelaki ber-hanbok biru.

“Kau bicara apa?” Tanya si lelaki ber hanbok biru. Ia kurang jelas dengan ucapan lelaki kecil itu. lelaki kecil itu menghela napas kasar. Terpaksa, ia semakin meninggikan kaki pendeknya, agar percakapan dengan kakaknya bisa jelas.

“Ayo kita bermain di taman istana! Disana banyak katak.” Ajaknya untuk kedua kalinya. Lelaki ber-hanbok biru itu akhirnya bisa mendengar bisikan lelaki kecil itu.

“Tapi…, hyung sedang belajar.” Ujarnya sambil menunjuk seorang lelaki paruh baya, yang berjalan mondar mandir sambil membawa buku tebal. Untungnya, keadaan kelas istana sedang serius, jadi tidak ada seorang pun yang menyadari kehadiran seorang anak kecil.

“Tenang saja, hyung! Kalau ada aku,pasti semuanya akan beres.” Tuturnya dengan bangga. Si lelaki ber-hanbok biru mengangguk mengerti. Ia tidak bisa pungkiri, kalau adiknya itu ahli dalam urusan melarikan diri.

“Pangeran Taehyung, apa maksud dari kalimat seekor elang yang terbang tinggi, bisa terjatuh hanya karena mangsa kecil yang ia ter…” Belum sempat lelaki paruh baya itu menjelaskan, orang yang ia tanya sudah menghilang entah kemana. Ia tidak melihat batang hidung dari pemilik meja “spesial” tersebut.

“PANGERAN KIM!” Pekik lelaki paruh baya itu dengan kesal. Bahkan, ia menjatuhkan topi nya saking kesalnya. Tak jauh dari sana, dua lelaki kecil terkekeh pelan, saat suara teriakan mengiang di dalam kelas istana. Lantas, mereka segera berlari kencang, agar misinya tidak ketahuan oleh siapapun.

Mama, semakin lama, departemen kesehatan semakin berkembang pesat. Terbukti, banyak tabib yang sangat ahli dalam bidang akupuntur. Obat-obatan herbal juga kian meningkat kualitasnya.” Puji salah satu wanita ber-hanbok hitam sutra, sambil menyesap secangkir teh jasmine. Sedangkan seorang wanita ber-hanbok kuning sutra hanya tersenyum tipis mendengarnya.

“Semua ini berkat kecerdasan selir seo. Tanpa dia, aku tidak akan bisa menjalankan kebijakanku ini.”

kamsanamida mama!” Sahut selir seo sambil menundukan kepala, lalu tersenyum ke arah sang Raja. Mengetahui posisinya berada di bawah selir Seo, ratu Kwon berteriak dalam hati. Ia mengepal kuat tangannya di samping pakaianya. Ia tak terima, kalau posisi selir seo selalu nomor satu di mata Raja. Ia hanya ingin, kedudukannya sebagai ratu, diakui oleh Raja, yang membuatnya bisa berkuasa di negeri joseon ini. Ia tak sudi, wanita di sampingnya, merebut posisi yang paling ia pertahankan, yaitu –ratu-.

dua anak kecil tengah berlari-lari di ladang bunga yang berwarna-warni dan beraroma harum. Di ladang bunga itu, mereka terlihat kerepotan mengejar beberapa katak yang melompat jauh dari mereka.

”sst…, lihat katak itu!” Pangeran Jungkook menaruh jari telunjuk di bibirnya, sambil menatap seekor katak yang berhenti melompat. Ia menggerakan tangannya, sebagai isyarat agar kakaknya mengikutinya dari belakang. Dua anak kecil itu melangkah pelan menuju katak itu. Tangan mungil mereka sudah siap, untuk menangkap makhluk amphibi tersebut. “Kita akan menangkapnya dalam hitungan ketiga. satu… dua… ti…” belum sampai hitungan ketiga, kedua pangeran itu sudah kehilangan katak yang mereka ingin tangkap. Otomatis, kedua lelaki kecil itu, terperosok ke atas tanah yang basah.

“Yah…, pakaianku jadi kotor. Pasti ibu akan marah kalau aku main kotor-kotoran.” Pangeran Taehyung mendesah frustasi, sambil membersihkan noda-noda cokelat di-hanbok sutranya. Berbeda dengan adiknya, ia justru mengoleskan tanah basah itu ke wajahnya dengan senang hati.

“Bermain dengan tanah itu menyenangkan!” Tutur pangeran Jungkook bersamaan dengan cengiran lebarnya. Lalu ia mengambil tanah yang lembek, dan melemparkannya ke wajah kakaknya.

Ya!” Protes kakaknya, takala ia menerima lemparan tanah di wajahnya. Pangeran Jungkook tertawa geli. Bagi pangeran Jungkook, membuat kakaknya marah adalah hal yang menyenangkan.

“Rasakan pembalasanku!” Taehyung tidak melupakan balas dendamnya. Ia melempar balik tanah ke adiknya, namun dalam jumlah yang besar. Pangeran Jungkook tidak diam begitu saja. Ia juga membalas lemparan kakaknya, dengan muatan yang jauh lebih besar dari kakaknya.

Alhasil, jadilah perang tanah antar dua penerus kerajaan joseon tersebut. Mereka melakukannya dengan tawa yang menggelegar sampai ke langit. Untung saja, tidak ada para pelayan di sekitar mereka. Jika ada, mereka pasti akan kena masalah, karena pakaian dan wajah mereka yang berlumuran tanah.

“Pangeran Taehyung! Pangeran Jungkook!” Tawa kedua pangeran itu berhenti seketika, saat sebuah suara berat masuk ke dalam kedua telinga mereka. Pangeran Taehyung mendongak perlahan, dan matanya langsung melebar. Begitu pula dengan pangeran Jungkook. Tanah yang ia pegang spontan terjatuh.

“Y-yang mulia…”

Di sebuah paviliun, yang temboknya dilukis dengan gambar gunung beserta matahari dan bulan, terdapat dua bocah lelaki yang tengah menunduk, kepada si pemilik paviliun itu.

“Tadi, songsaenyim oh menemuiku dan berkata, bahwa kau…” Seorang lelaki berjubah merah besar dan berlapis emas, melangkah mendekat ke arah seorang lelaki, yang berpakaian biru. “Melarikan diri dari kelas istana. Apa itu benar, pangeran Taehyung?” Tanya Sang raja, yang membuat jantung pangeran Taehyung berpacu cepat.

“Se-sebenarnya, ta-tadi ak-ku…” Pangeran Taehyung tergagap. Ia semakin menundukan kepalanya, tak berani menatap Sang raja, walaupun ia adalah ayah kandungnya sendiri. Jika sudah tertangkap basah seperti ini, pasti ayahnya akan sulit memaafkan ia dan adiknya. Parahnya lagi, ayahnya menangkap mereka, dengan keadaan yang sangat kotor. Sulit dibayangkan apa yang akan terjadi.

 “Aku lah yang mengajak pangeran Taehyung untuk bermain. Oleh karena itu, kau berhak menghukumku yang mulia.” Potong pangeran Jungkook tanpa ragu, yang membuat kakaknya menoleh ke arahnya.  Pangeran Taehyung menatap lamat wajah adiknya. Seharusnya, ialah yang bertanggung jawab, Bukan adiknya.

“Tidak, yang mulia! Ia tidak salah. Aku lah yang salah. Jangan hukum dia yang mulia.” Pangeran Taehyung langsung bersujud di depan kaki ayahandanya. Bahkan, ia tak segan mencium telapak kakinya.

“hmm…, sepertinya aku tahu hukuman apa yang pantas untuk kalian,” Sang Raja tersenyum simpul, seraya mengelus-ngelus jenggotnya yang panjang. Ia menyentuh kedua pundak putranya, lalu berkata

“Pergilah ke gudang  gandum sebagai hukuman kalian,” Sang Raja tersenyum lebar, namun membuat kedua pangeran itu bergidik ngeri. Pasalnya, gudang gandum adalah tempat yang paling berhantu dan dihindari oleh semua penghuni istana. Bahkan, prajurit-prajurit istana saja, tidak berani memasuki gudang itu. Kedua pangeran itu menelan ludah susah payah. Mau tak mau, mereka harus menerimanya, jika tak ingin mendapat masalah yang besar.

Mama, ada yang datang untuk menemuimu,” Ucap seorang kepala dayang di luar paviliun dengan pintu berukir bunga anyelir itu. Di sampingnya, ada seorang lelaki berjubah hitam,yang sedang menunggu respon dari dalam sana.

“Persilakan ia masuk!” Lelaki berjubah hitam itu berderap masuk ke dalam paviliun itu, setelah sebuah suara wanita terdengar di dalam sana. Lelaki berjubah hitam itu segera menunduk, kepada seorang wanita ber- biryeo emas naga. Wanita itu tersenyum sebagai salam penyambutan.

“Kudengar, istrimu meninggal dua tahun yang lalu. Kemudian, kau menghidupi putrimu dengan cara mencuri perhiasan para bangsawan,” Lelaki berjubah hitam itu bergetar ketakutan. Ia spontan bersujud di telapak kaki wanita itu.

“Tolong ampuni aku!” Pinta lelaki berjubah hitam itu. Wanita itu tersenyum licik. Ia mengangkat wajah lelaki itu, lalu mencengkram kuat dagunya.

“Seorang pencuri pasti ahli bermain pedang, kan?” Tanyanya sinis.

“T-tentu s-saja!” Jelas lelaki itu sambil menegak ludah.

“Kalau begitu, lakukan sesuatu dengan pedangmu. Jika tidak bisa, maka anakmu lah yang akan menjadi taruhannya,” Ancam wanita itu berbarengan dengan tatapan tajamnya. Lelaki berjubah hitam itu bergidik. Dengan terpaksa, ia akan “melakukannya” agar keselamatan anaknya bisa terjaga.

“B-baik yang m-mulia!” Wanita itu langsung melepas cengkramannya, dan membiarkan lelaki berjubah hitam itu berlalu dari ruangan pribadinya. Wanita itu kembali duduk di kursinya. Ia mensemat senyum miring akan rencananya.

Di bawah siraman cahaya bulan yang terang, terdapat sepasang suami istri yang tengah bercengkrama di atas jembatan.

“Ikan-ikan di dalam kolam itu mengingatkanku akan pertemuan pertama kita,” Kenang Raja sambil menerawang ikan-ikan koi di kolam, yang ada di bawah jembatan. “Pada saat itu, kau mengambil ikan-ikan di kolam ini, lalu aku mengejarmu karena kupikir kau adalah pencuri.” Lanjut Raja yang membuat selir seo tertawa kecil.

“Waktu itu, aku tidak berniat mencuri. Aku hanya tertarik dengan ikan-ikan koi yang sisiknya sangat indah.” Jelas selir Seo seraya tersenyum kecil.

“Pantas saja pangeran Jungkook sangat nakal. Ternyata, ia menuruni sikapmu,” Raja mengangguk mengerti. Sedangkan selir Seo, ia mengerucutkan bibirnya, tanda tak suka dengan ucapan Raja.

“Aku sama sekali tidak nakal. Aku hanya suka kebebasan,” Kilah Selir Seo

“Tapi, keduanya  sama saja. Apa kau lupa? kalau pelayan istana lebih memilih mati, ketimbang mengurusi pangeran jungkook yang nakal?” Tanya sang Raja.  Sang Raja pun mengakui, kalau putranya yang kedua itu jauh dari kata “pangeran”.

“Sudahlah yang mulia, jangan bahas itu! Aku tak suka kau membahasnya,” Selir Seo menekuk wajahnya. Melihat wajah cemberut istrinya, sang raja punya cara tersendiri untuk mengembalikan mood istrinya.

“Hmm… bagaimana kalau kita berkeliling di istana? udara malam ini sangat sejuk,” Usul Raja. Selir Seo menoleh tetapi dengan wajah yang masih ditekuk.

“Terserah yang mulia,” Sahut selir Seo dengan bibir yang pura-pura dikecutkan. Raja tersenyum kecil melihat istrinya. Dari dulu sampai sekarang, selir seo tidak pernah berubah. Ia sama persis dengan pangeran Jungkook. Sangat mudah untuk mengekspresikan wajahnya.

Raja meraih tangan selir Seo, lalu menggengamnya dengan penuh kehangatan. Wajah selir Seo bersemu merah. Ia menatap wajah raja lamat-lamat, lalu berjalan bersama-sama dengan raja. Seperti saat mereka pertama kali berhubungan.

Dari kejauhan, mereka tidak menyadari ada seorang wanita yang lain, yang sedang mengamati mereka. Di sana, ia memasang sebuah senyum mengerikan. Sebuah senyum yang berisi dendam dan kebencian.

“Aku akan membalasmu, selir seo!” Wanita itu menyeringai. Ia menatap tajam punggung selir Seo yang perlahan-lahan mulai menghilang dari pandangannya.

“Jungkook-ah, jalannya pelan-pelan saja. Aku takut kita akan menggangu penunggu di sini,” Pangeran Taehyung mencengram kuat baju adiknya, sambil berjalan pelan di belakangnya. Keningnya berkeringat dingin, bulu kuduknya berdiri. Ia menelan ludahnya kasar, takala dirinya harus berjalan, di dalam gudang yang gelap.

“Kau tenang saja! Hantu-hantu disini akan takut denganku,” Beda halnya dengan pangeran Taehyung. Adiknya sama sekali tidak takut akan sosok hantu. Bahkan, bulu kuduknya sama sekali tidak berdiri.

“Bagaimana aku bisa tenang? ini adalah tempat yang paling ditakuti di istana,” Pangeran Taehyung mendesah frustasi. Rasanya, ia ingin menangis sekencang-kencangnya dan memanggil ibunya. Namun sayang, raja tidak membiarkan siapapun untuk menolong mereka. Sedangkan, pangeran Jungkook hanya menghembuskan napas ringan. Ia lelah bukan karena hukumannya, melainkan dengan sifatnya kakaknya yang penakut.

“Kau ini payah sekali. Mana mungkin seorang penerus raja takut dengan hantu?” Cibir Jungkook.

“A-aku sama sekali tidak takut!” Taehyung menyela. Ia terpaksa melepas cengkramannya, demi menjaga harga dirinya sebagai seorang pangeran.

“Oh… jadi gitu,” Jungkook mangut-mangut. “Kalau begitu, silakan jalan terlebih dahulu, Pangeran Taehyung.” Jungkook tersenyum miring. Taehyung langsung terbelakak. Keningnya semakin mengeluarkan keringat dingin yang banyak.

“B-baiklah! akan kubuktikan kalau aku pemberani,” Pangeran menelan ludahnya, sebelum akhirnya ia berjalan mendahului adiknya dengan kaki yang gemetar. Ia melawan rasa takutnya, demi menunjukkan ke adiknya, kalau ia adalah seorang pangeran yang pemberani. Jungkook hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sifat gengsi kakaknya itu tak jauh berbeda dengan ayahandanya.

brak

Tiba-tiba, pintu gudang yang sebelumnya terkunci terbuka lebar. Pangeran Taehyung langsung diam membeku di tempat. Bulu romanya kembali berdiri, dan jantungnya mulai berdetak tak karuan.

H-hyung, itu apa?” Taehyung perlahan menoleh ke belakang, lalu melihat arah telunjuk adiknya. Pangeran Taehyung mendelik, ketika mendapati dua bayangan besar berdiri di ambang pintu. Seperdetik kemudian, ia berjalan mundur dan…

Hyung!” Pangeran Jungkook hampir memekik, lalu menangkap kakaknya yang terjatuh tak sadarkan diri. Dua bayangan itu menghampiri mereka, yang tak lain adalah raja dan selir seo. Kebetulan, mereka sedang berjalan-jalan dan melintas di depan gudang gandum itu. Kedatangan raja ke gudang itu adalah untuk mencabut hukuman, yang ia berikan untuk kedua putranya. Tapi, pangeran Taehyung mengira dirinya adalah hantu. Sangat disayangkan. Padahal, niat Raja menghukum pangeran Taehyung adalah untuk menumbuhkan keberanian. Tapi, rencananya ini jauh dari perkiraan.

eomma, kau tidak? tadi aku sangat takut, saat kami ketahuan bermain tanah oleh ayah. Ia langsung marah, melihat kami yang sangat kotor berlumuran tanah,” Jungkook bercerita panjang lebar di pangkuan ibunya. Ibunya hanya tertawa kecil mendengarnya.

“Dasar anak nakal!” Jungkook meringis takala ibunya melayangkan pukulan di keningnya.

“Eomma!” Keluh jungkook yang di manja-manjakan. Ibunya spontan tertawa terbahak-bahak, dan mengelitik pinggang anaknya. Jungkook refleks bergerak tak bisa diam, dan berusaha menghindar ibunya. Ibunya kembali menjahilinya, namun langsung dibalas oleh Jungkook. Ia menggelitik perut ibunya, tetapi ibunya membalas balik anaknya.

“Ha…ha…ha…, ibu aku geli.” Jungkook tertawa terbahak-bahak sambil membalas gelitikan ibunya. Para pelayan istana tersenyum kecil melihat tingkah laku anak dan ibu tersebut. Kedekatan anak dan ibu tersebut sangat hangat, dan membuat siapa saja iri melihat kedekatan mereka.

Sreng sreng sreng

Pada saat tengah malam, Seorang lelaki bertopeng putih menghunuskan pedangnya ke para pengawal istana, setelah dirinya berhasil memasuki sebuah paviliun ber cat hijau secara diam-diam. Darah segar para pengawal istana mengalir dengan derasnya di atas lantai. Mereka langsung tewas di tempat.

Setelah semua pengawal istana sudah ia lumpuhkan, ia berjalan mengendap-endap ke dalam paviliun tersebut. Lelaki itu kembali memainkan pedangnya yang penuh darah. Ia menggores tubuh semua dayang yang menghalanginya, lalu dayang-dayang tersebut mati seketika. Lelaki itu melanjutkan langkahnya, sambil membawa pedangnya yang dilumuri darah.

“Siapa yang di luar sana?” Lelaki itu berhenti berjalan, ketika sebuah suara parau anak lelaki kecil terdengar dari dalam kamar. Anak kecil itu mengusap matanya, karena pandangannya buram, efek dari bangun tidur.

“Apa itu kau, dayang Han?” Tanya anak lelaki kecil itu memastikan. Ia melihat sebuah siluet di pintu kamarnya.

“….” Tak ada jawaban di luar kamar lelaki kecil itu. Seorang wanita di samping lelaki kecil itu membuka matanya, ketika anaknya terbangun dari tidurnya. Lalu, ia melihat arah pandang anaknya, dan langsung terkejut dengan sebuah siluet di luar kamarnya. Wanita itu menggengam erat tangan anaknya, dan membuat anaknya itu mengkerutkan keningnya.

Eomma, ada apa?” Tanya anaknya bingung.

Brak

Tiba-tiba, siluet itu berubah menjadi sesosok lelaki yang mengenakan topeng putih. Ia mendobrak pintu kasar, sambil membawa pedangnya yang berlumuran darah. Kedua pemilik kamar tersebut terbelakak. Jantung mereka berdebar cepat, napas mereka berderu tak beraturan.

E-omma! dia siapa?” Tangan mungil lelaki kecil itu bergetar. Ia menelan kasar ludahnya, lalu melangkah mundur bersama ibunya. Lelaki itu menyeringai di balik topeng putihnya. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, lalu…

Sreng

                                                                            TBC

 

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF Freelance] Carnation Flower – (Chapter 1)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s