[Chapter 6A] Of Alienate and A Mirage: Rescue Mission

oam-fix

Of Alienate and A Mirage

by risequinn

BTS’ Suga as Ravendra, Jimin as Carden, Jin as Valco, V as Aron, J-Hope as Evan, Rap Monster as Weston, Jungkook as Leevi

with SVT’s Mingyu as Varrel and OC’s Kim Nayeon as Verna, Min Yoonra as Raizel, Hong Jean as Jeanneth, Park Jirin as Cia ft. Kento Yamazaki as Keith

genres AU!, Fantasy, Friendship, School Life, Sci-Fic | length 2.3k words | rating PG-17

Prev:
Prolog & Introduction | 1: A Secret of Nomina High School | 2: New Elementer | 3: A Punishment | 4: Who is He? | 5: Frailty

.

Mereka kerap menyebutnya ‘sesuatu yang tidak ada’.

.

.

Chapter 6A: Rescue Mission

Varrel memantulkan bola basketnya di sepanjang koridor selepas kembali dari kafetaria. Ia berniat untuk pergi ke lapangan guna mengisi waktu selama jam istirahat berlangsung. Alih-alih belajar seperti yang dilakukan teman-temannya karena ujian tengah semester sebentar lagi akan dilaksanakan, ia memilih untuk memainkan bola oranye ini.

Kemampuannya bermain basket tak perlu diragukan lagi. Nomina belum pernah memiliki pemain basket sebaik Varrel sebelum ini. Berbagai medali dan piala telah ia berikan untuk Nomina pada kejuaraan-kejuaraan nasional di kota Roovel. Pada setiap pertandingan, pemuda itu belum pernah mengecewakan Nomina dan selalu membawa pulang kemenangan.

Varrel juga termasuk siswa yang cerdas. Ia memang tak pernah kedapatan sedang belajar, di sekolah maupun di rumah, tetapi ia dapat menerima pelajaran dengan baik. Varrel bisa cepat mengingat materi pelajaran yang diajarkan dan hal itu membuat si pemuda tergolong murid pandai di Nomina.

Niat Varrel untuk pergi ke lapangan pun harus terhenti usai mendapati sosok Leevi berjalan tergesa menuju gedung ruangan-ruangan klub. Suatu ketika, Varrel melihat teman setingkatnya itu masuk ke ruangan klub yang diketuai oleh Valco. Awalnya ia menganggap hal tersebut biasa-biasa saja. Namun, ketika mendapati keduanya seolah memberi isyarat saat bertemu di tempat umum, Varrel merasa penasaran dengan apa yang mereka lakukan.

Varrel akhirnya menghentikan perjalanan Leevi dengan melempar bola basketnya. Bola itu melambung dan mengenai punggung Leevi. Sontak membuat si pemuda yang mampu melawan gravitasi itu pun berhenti untuk berbalik dan memandang Varrel yang berdiri lima meter di depannya.

“Apa Kak Valco memberimu sebuah tugas?” tanya Varrel tanpa basa-basi. Ia mendekati Leevi seraya memungut bola basketnya.

Ditanya demikian, alis Leevi pun terangkat. “Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?” balasnya datar.

“Jawab saja, Leevi.”

“Itu bukan urusanmu, Varrel.”

“Itu menjadi urusanku jika tugasmu berhubungan dengan Verna.”

Leevi tampak terdiam setelah itu. Melempar tatapan ke arah lain, enggan bertemu pandang dengan Varrel. Ia tahu betul, bahwa cepat atau lambat adik seniornya ini akan mengetahui yang sebenarnya. Varrel pun bukan anak kecil yang jika Leevi berbohong, ia akan memercayainya begitu saja.

“Kumohon jangan melakukan hal yang dapat membahayakannya.” suara Varrel kembali terdengar dengan pelan.

Leevi tidak tahan untuk menyembunyikan semuanya. Ia juga ingin berbagi dengan pemuda ini, tetapi, ia tidak dapat melakukan apa-apa. Valco telah melarang Leevi untuk memberi tahu siapapun―termasuk Varrel―tentang rencana mereka berdua. Meskipun Leevi berpikir bahwa ini bukan rencana untuk memulihkan keadaan menjadi baik, tetapi pemuda itu tidak bisa membiarkan semua hal diketahui oleh Varrel sekarang ini.

Akan ada saatnya Varrel mengetahui semuanya.

“Aku tidak akan melakukan apa-apa pada kakak perempuanmu itu. Aku justru ingin membantunya. Jadi, jangan berlebihan dan jangan tanya apa-apa lagi karena aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang. Aku pergi.”

 

***

 

Verna tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Kepalanya berdenyut tiba-tiba dan ia sudah berada di sebuah tempat asing yang belum pernah ia datangi. Tempat yang sedikit gelap dengan bau sampah di sekelilingnya.

Gadis itu terbatuk beberapa kali. Kakinya melangkah mencari jalan keluar dari tempat ini ketika ia justru menginjak sesuatu. Verna terperanjat sebentar, lantas menajamkan pandangan untuk mengetahui benda apa yang baru saja diinjaknya.

Lengan seseorang.

Mengurungkan niat untuk berteriak, Verna akhirnya berjongkok di sebelah orang yang tergeletak tersebut. Saat membalik tubuhnya yang kini dalam posisi miring, ia mendapati sebuah pisau lipat tertancap di organ vitalnya. Darah merembes dari area tikaman tersebut.

Verna memang seorang penakut. Tetapi, ia tidak dapat lari ketika melihat seseorang terluka seperti ini. Sejak kecil, ia ingin sekali menjadi seorang penyembuh. Tetapi anugerah yang diperolehnya bukan itu. Ia justru diberi tantangan dengan dianugerahi elemen terkuat. Hal tersebut kerap membuat Verna kesulitan, tetapi sejauh ini ia dapat mengendalikannya dengan baik.

Verna kembali berdiri, mencoba mencari bantuan tetapi tidak ada seorang pun yang ada di sekitar lokasi tersebut. Ia pun mendekat ke arah si lelaki yang masih terbaring di sekitar sampah yang berserakan. Menarik pisau yang tertancap, kemudian berusaha menghentikan pendarahannya dengan menekan di bagian yang terluka.

“Tuan, apa kau bisa mendengarku?” seru Verna ketika melihat pergerakan dari lelaki itu.

Hanya ada suara batuk keras disertai likuid pekat keluar dari mulut si lelaki. Ia tampaknya sudah sekarat, sementara Verna tidak dapat melakukan apa-apa untuk membantunya. Gadis itu hanya mengguncang tubuh orang itu dan berharap ia mengatakan sesuatu kepada Verna. Tetapi, ia hanya diam seolah nyawanya telah lesap baru saja.

Di dalam kepanikan si gadis teleportasi itu, terdengar suara sirine mobil polisi mendekat ke sana. Verna berharap itu adalah bantuan. Tetapi, saat menjumpai polisi-polisi itu justru menodongkan pistol ke arahnya, Verna tahu bahwa yang dilakukannya bukanlah hal yang benar.

Ini benar-benar buruk.

 

***

 

“Senior Valco, apa kau mengetahuinya?” Leevi bertanya dengan nada panik seraya berderap memasuki ruangan klub yang diketuai oleh seniornya tersebut. Sedikit tergesa, pemuda jangkung itu pun harus menahan nyeri akibat kakinya yang terantuk sudut meja.

“Soal apa?” Valco melirik sebentar seraya merapikan kertas-kertas yang tercecer di mejanya.

“Adikmu, maksudku Kak Verna.” Sahut Leevi tak sabaran.

Mendengar itu, dahi sang senior pun berkerut. Membuang pena dalam genggamannya kemudian berjalan menghampiri Leevi yang masih berada di dekat meja.

“Apa yang terjadi dengan Verna?”

“Ada sesuatu yang aneh dengannya.”

“Maksudmu dengan aneh?” tanya Valco tak sabaran.

“Aku iseng mengikutinya naik ke kelas. Kemudian, dia menghilang tiba-tiba. Bukankah Nomina melarang murid-muridnya menggunakan kekuatan mereka di area sekolah? Lantas kenapa Kak Verna―”

“T-tunggu. Menghilang? Kau yakin itu Verna?”

“Aku yakin. Aku melihatnya berjalan sendirian menaiki anak tangga dan dia menghilang begitu saja.”

Valco merasa seluruh dunianya runtuh saat itu juga. Hal yang ditakutkan oleh si pemuda akhirnya terjadi hari ini. Valco telah menebak hal ini akan terjadi akhir-akhir ini. Ia hanya tak mengira bahwa semuanya lebih cepat dari perkiraannya.

“Astaga! Jangan lagi, Verna.”

Tanpa memedulikan tatapan penuh tanya dari Leevi, Valco segera berlari meninggalkan ruangan klubnya. Ia tidak bisa memikirkan apa pun. Adik perempuannya itu adalah prioritasnya sekarang.

Valco harus segera melakukan sesuatu sebelum Verna berada dalam bahaya.

“Senior Valco mau kemana?” teriak Leevi yang berusaha menyusul Valco, tetapi seniornya itu telah jauh berlari. Selagi menutup pintu ruangan, Leevi mencoba menebak apa yang sedang terjadi. “Apa maksudnya dengan ‘jangan lagi’?”

 

***

 

“Varrel!”

Pekikan itu membuat seluruh pasang mata yang tengah berbincang di dalam kelas menoleh ke sumber suara. Hening serta merta merambahi ruangan itu selama beberapa saat sebelum akhirnya beberapa orang siswa mulai berbisik-bisik tentang kedatangan seorang senior ke kelas mereka.

Si empunya nama Varrel yang dipanggil hanya menoleh seraya melempar tatap seolah memberi pertanyaan kepada sang kakak. Tahu Valco tiba-tiba memelotot lengkap dengan keringat dingin membanjiri pelipisnya, Varrel lekas berdiri dari kursinya dan mengikuti sang kakak yang kemudian berlari menjauhi ruang kelas tingkat dua di gedung B itu.

“Hal buruk apa yang terjadi?”

“Verna menghilang.” sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh siapapun, Valco menarik pergelangan sang adik agar mendekat ke sebelahnya.

“Kita akan mencarinya? Membolos dari sekolah?” tanya Varrel sembari memerhatikan sekitar.

“Tidak ada cara lain. Sebelum hal buruk kembali menimpa kakakmu, Varrel.”

Varrel maupun Valco bersamaan mengeram pelan. Umpatan lolos dari bibir keduanya tanpa aba-aba. Mereka merasa lalai. Mereka mulai abai dengan kondisi Verna akibat kesibukan masing-masing.

Tetapi, jika diingat, Verna sendiri memang keras kepala. Valco sering memperingatkan, pun Varrel, namun gadis itu tidak mau tahu sama sekali. Ia selalu menuruti kata hatinya yang terkadang membawanya ke dalam keadaan paling buruk sekalipun.

“Aku heran.” Varrel kembali membuka percakapan ditengah perjalanan mereka. “Akhir-akhir ini dia selalu tidur larut malam. Aku sudah menegurnya, tetapi tidak berpengaruh sama sekali.”

“Kau seperti tidak tahu Verna saja. Dia keras kepala sekali, sungguh. Bahkan, setelah dia berteman dengan Carden, dia berani menentang perintahku.”

Varrel menaikkan alisnya.

“Berteman dengan Carden? Carden yang―”

“―yang merebut posisiku sebagai Ketua Dewan Sekolah satu tahun lalu dan Carden yang membuatku harus masuk ke gedung B setelah kejadian itu.”

“Apa Verna tidak tahu masalah itu?”

Valco menggeleng. Sontak menarik lengan Varrel untuk bersembunyi di sebalik pilar ketika melihat seorang master lewat di ujung koridor.

“Aku yakin Carden sudah cerita. Tetapi, mungkin dia tidak tahu jika aku adalah kakaknya Verna dan Verna sendiri tidak tahu bahwa Ketua Dewan Sekolah sebelum Carden adalah aku.”

“Kau belum menceritakan semuanya pada Verna?”

“Dan aku melarangmu untuk memberi tahunya. Dia akan seperti ini jika kita sampai memberi tahu gadis dengan tingkat keingintahuan yang tinggi seperti Verna.”

Valco memerhatikan kondisi koridor sekolahnya sekali lagi. Merasa sudah cukup aman, ia pun meminta Varrel untuk bergegas pergi ke perpustakaan Nomina High School. Jalan satu-satunya jika ingin membolos adalah lewat sebuah pintu rahasia di dalam perpustakaan tersebut. Pintu itu akan terhubung ke luar gedung sekolahnya. Ia mengetahui hal itu saat menjabat sebagai Ketua Dewan Sekolah setahun silam.

“Biar kutebak. Soal Alienate, kau juga tidak memberitahunya, Kak?”

“Tidak sama sekali. Bukankah itu juga sebuah pantangan di sekolah kita?”

Varrel masuk terlebih dulu ke dalam pintu tersebut usai Valco memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua. Penjaga perpustakaan sedang menulis sesuatu di mejanya dan tidak memerhatikan mereka masuk. Murid Nomina juga masih banyak yang berada di perpustakaan ini sekadar membaca buku atau mencari materi-materi untuk tugas mereka.

“Itulah yang mengganggu pikirannya selama ini.”

“Maksudmu?”

“Aku mendengar dia bergumam sendirian di dalam kamar soal seseorang yang berada di atap gedung. Aku yakin dia sudah melihatnya.”

Valco yang sedikit berlari untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Varrel, mulai menyalakan senter kecil ketika mereka memasuki jalan yang cukup gelap.

“Seharusnya, Verna memang tidak perlu masuk ke Nomina. Sekolah ini penuh dengan hal-hal yang membahayakan elemen-nya.”

“Apa kita harus mengirimnya kembali ke Lifyon?”

“Itu bukan ide yang bagus, Varrel. Dia akan bertanya banyak hal kepada kita dan pada akhirnya, kita harus menyegarkan kembali otaknya seperti lima tahun silam agar dia diam.”

Varrel bergidik mengingat bagaimana Verna menjerit waktu itu. Ia sangat kesakitan. Butuh waktu lama juga untuk si gadis teleportasi pulih dan kembali seperti semula. Meski ingatannya menghilang beberapa, Verna masih mampu mengingat kakak dan adiknya.

“Itu menyakitkan, aku tidak tega melihatnya.”

“Aku juga tidak ingin menyakitinya lagi.”

Keduanya pun sampai di ujung pintu. Valco membukanya dan menemukan sebuah jalan setapak sepi di depan mereka. Varrel yang tidak tahu sedang berada di mana, memilih mengekori kakak laki-lakinya itu daripada tersesat dan membuat masalah semakin banyak.

“Jadi, kemana kita harus mencarinya?” tanya Varrel kemudian.

“Kita pergi ke tempat Profesor Abe lebih dulu. Mungkin, beliau dapat membantu.”

“Baiklah.”

 

***

 

“Kau masih anak-anak, Nona Muda. Kau juga bersekolah di sekolah bergengsi di negeri ini. Jadi, motif apa yang kau miliki sampai ingin menghabisi nyawa seseorang seperti itu?”

Verna menggeleng tegas untuk menanggapi pertanyaan dari Kepala Polisi bagian kejahatan yang kini duduk di depannya. Gadis itu menyangkal tuduhan yang diberikan kepadanya, tetapi hal itu seolah tidak membantu apa-apa. Polisi ini tetap mencurigainya.

“Aku tidak melakukannya, Mister. Sungguh, aku tidak sengaja pergi ke tempat itu dan melihat seseorang tergeletak bersimbah darah. Aku tidak bisa membiarkannya, jadi aku ingin menolongnya.” jelasnya.

“Apa kau memiliki nomor telepon orang terdekatmu?”

“Semua ada di ponselku dan aku tidak menghapalnya. Ponselku ada di dalam kelas saat aku pergi.”

“Baiklah. Karena belum ada bukti-bukti yang cukup mengenai dirimu tidak bersalah, jadi kami harus menahanmu malam ini.”

“Apa? Mister, tolong jangan menahanku. Akan ada berita buruk di sekolah jika aku di sini. Aku berbicara jujur, aku tidak melakukan apapun selain ingin membantunya.”

Polisi tersebut berdiri dari kursinya. Mengambil borgol, kemudian mendekati tempat duduk Verna. Ia sebenarnya tidak tega. Mengingat ia juga memiliki adik seumuran gadis ini. Tetapi, tidak ada yang bisa ia lakukan karena ini merupakan tugasnya sebagai seorang polisi.

“Lebih baik kau bersihkan noda darah di rok dan almamatermu sebelum berbicara begitu. Mari, ikut denganku.”

 

***

 

Petunjuk dari Profesor Abe yang dapat melakukan telepati, Verna sekarang berada di kantor polisi pusat kota Roovel. Gadis itu tertangkap karena percobaan pembunuhan pada seorang pria di sebuah pabrik lawas yang sekarang digunakan untuk tempat pembuangan sampah.

Melalui petunjuk itu, Valco dan Varrel bergegas menuju kantor polisi. Hari mulai gelap ketika mereka sampai di sana. Mereka sempat pulang untuk berganti baju dan membawakan baju untuk Verna juga, karena tidak mungkin keduanya berkeliaran menggunakan seragam Nomina High School. Itu akan membuat keadaan semakin buruk.

“Permisi. Apa ada seorang gadis beralmamater Nomina High School ditangkap hari ini?” Valco bertanya usai mereka masuk dan menuju bagian informasi.

“Kau mengenal gadis itu?” Kepala Polisi bagian kejahatan yang tengah berdiri tak jauh dari tempat mereka lah yang menyahuti pertanyaan Valco. Polisi itu memberi isyarat agar mereka berdua mengikutinya.

“Dia adikku.” jawab Valco sembari berjalan di belakang polisi itu.

“Dia ada di sa― kemana dia pergi?”

“Ya Tuhan, dia menghilang lagi!”

Valco dan Varrel bersiap untuk pergi dari sana, tetapi dicegah oleh sang Kepala Polisi bagian kejahatan tersebut.

“Kalian mau kemana? Dia adalah tahanan kami, jadi kami yang akan mencarinya.” Ia pun menyerahkan selembar kertas dan bolpoin kepada Valco selagi mengambil walkie-talkie-nya. “Tolong berikan kontakmu yang dapat dihubungi.”

“Tetapi, Mister, aku yakin adikku tidak melakukan hal yang telah dituduhkan.”

“Maaf, kami sedang mencari hal-hal yang sekiranya dapat membuktikan bahwa adikmu itu memang tidak bersalah. Selama itu, tolong jangan memberi keterangan palsu atau berbicara tanpa adanya bukti.”

“Dia sedang sakit. Pikirannya terganggu belakangan ini, jadi dia bisa menghilang ke tempat-tempat tidak terduga.” Varrel ikut menjelaskan.

Valco mengangguk untuk menyetujuinya. “Kami akan mencari buktinya, tetapi―”

“Baiklah, jika kalian ingin mencari buktinya. Namun, kami harus tetap menahan adikmu selama proses tersebut.” ujar Kepala Polisi bagian kejahatan itu, kemudian berlari pergi untuk mencari Verna bersama beberapa anggotanya yang baru tiba.

Valco meletakkan kertasnya ke atas meja, kemudian memandang Varrel. Ia semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Fokusnya pun nyaris saja terganggu dengan kejadian-kejadian ini. Pemuda itu terduduk sebentar selagi Varrel memberikan botol minuman kepadanya.

“Bagaimana, Kak?”

“Kita tidak bisa melakukan apa-apa. Kepolisian Roovel sangat teliti dalam kasus-kasus seperti ini.”

Varrel mengacak rambutnya frustasi. Ia juga tidak tahu harus melakukan apa sekarang ini. Semuanya menjadi sangat rumit. Terlebih hal itu terjadi mengatasnamakan sekolah mereka.

“Apa yang akan kita katakan kepada para Master jika mereka menanyakan Verna esok hari?”

“Yang aku takutkan bukan itu, Varrel.”

“Lantas?” Varrel mendekatkan diri di sebelah sang kakak.

“Nomina adalah sekolah yang terkenal. Jika ada salah satu muridnya ditangkap polisi, maka berita itu pasti akan segera menyebar ke media massa. Itu yang harus kita cegah sebelum semuanya bertambah buruk.”

“Kau benar, Kak.” Varrel mengangguk menyetujui. Sebelum Verna merasakan peliknya diasingkan lagi, mereka harus mencegahnya kini. “Jadi, kita pergi sekarang?”

“Kita membutuhkan Raizel dan Aron.”

“Untuk apa?”

“Membuat listrik mati sementara waktu.”

Valco lekas berdiri dari kursinya. Sementara, Varrel menyunggingkan senyum tipis seraya menegakkan tubuhnya. Keduanya bersitatap, lantas berlari bersamaan keluar dari kantor polisi kota Roovel.

“Idemu gila, Kak. Tetapi, itu jenius!”

 

 

 

To be continued…

Kim Seokjin as Valco (elemen: hydrokinesis)

tumblr_oeh8dunhna1s70o1po1_500

Kim Mingyu as Varrel (elemen: cryokinesis)

cq7f7ruukaachqq

Advertisements

6 thoughts on “[Chapter 6A] Of Alienate and A Mirage: Rescue Mission

  1. Pingback: [Chapter 6B] Of Alienate and A Mirage: Mission Accomplished – BTS Fanfiction Indonesia

  2. haaaaaa.. setelah sekian lama akhirnya..
    sayang, kurang panjaang ini…

    iya Aron, sering-sering dikeluarin dong Aron-nya,, kan kasihan disimpen terus.. lumayan, ntar ada jalan retak gitu,..

    heheh, ditunggu lanjutannya kak ^^

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s