[Chapter 6/END] Bring Back the Shadow

img_6654

Bring Back the Shadow

by ayshry

BTS members with some OCs
| genres AU!, Friendship, Mystery, Thriller | length 4.6k words | rating PG-17 |

Prev:

Prolog & Introduction – Chapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3 –Chapter 4 – Chapter 5
***

Mimpi buruk kembali menghampiri seorang Kim Seokjin. Baru beberapa saat yang lalu ia mendapatkan kabar bahwa Hoseok ditemukan tak bernyawa dikediaman milik Jungkook lantas ketika ia baru saja menjejakkan kaki di tempat kejadian tersebut, satu mayat lagi ditemukan; tergeletak di gudang tak terpakai di bagian paling belakang rumah milik Jongkook, bagian di mana tak satu orang pun yang berjaga di sana dan hal itu membuat Seokjin geram bukan main.

Jika saja bukan karena tubuhnya yang tak lagi memiliki kekuatan yang cukup untuk menghabisi semua penjaga tolol di sana lalu memburu Jungkook yang menjadi dalang dibalik kematian kawan-kawannya, mungkin Seokjin sudah menggila sekarang. Tapi apa daya, semua hanya bisa ia rencanakan tanpa mampu melakukan barang satu pun. Menjadi lelaki lemah adalah ketidakmampuan yang ingin lekas ia musnahkan, tapi mustahil. Seokjin dengan semua kejadian mengerikan tersebut telah berubah menjadi laki-laki tak bernyali. Pengecut lebih tepatnya.

Tangisan itu masih tak mampu ia bendung, bahkan ia sudah tak memedulikan matanya yang kian membengkak. Tak ada yang bisa pemuda itu lakukan selain menangisi kepergian kawan-kawannya yang tak wajar tersebut. Seokjin lemah. Benar-benar lemah. Dan ketika pemuda itu semakin terjebak dengan kesedihan tak berujung tersebut, seseorang yang benar-benar ingin ia temui tiba-tiba muncul di hadapannya, membuat amarahnya memuncak hingga tanpa sadar telah melayangkan satu pukulan tepat di pelipis orang tersebut.

“JEON JUNGKOOK SIALAN!”

Seokjin berteriak. Matanya menyalang, bibirnya gemetaran. Satu pukulan kembali ia hadiahkan kepada pemuda tersebut bahkan hingga membuatnya jatuh terjerembab di atas tanah.

“KENAPA KAU MUNCUL DI HADAPANKU, HUH?! KAU MAU MEMBUNUHKU SETELAH MENGHABISI NYAWA YANG LAIN? KEPARAT!”

Seokjin benar-benar marah. Menarik tubuh Jungkook agar berdiri kembali, ia hendak menghajar pemuda itu hingga mati jika bisa. Tapi tatapan yang diberikan oleh Jungkook justru membuatnya melemah. Kekuatannya enyah entah ke mana lantas keduanya kini sama-sama terjatuh ke atas tanah.

“Maafkan aku ….” Jungkook berujar lemah. Dari nada bicaranya, ia seakan ingin menjelaskan seberapa besar ia merasakan penyesalan.

“Kau seharusnya mati, sialan!”

“Maafkan aku.”

“KAU KIRA DENGAN MEMINTA MAAF SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA? MEREKA AKAN KEMBALI HIDUP DAN—“

“BUKAN AKU YANG MEMBUNUH MEREKA SEMUA, HYUNG!”

Seokjin terperangah. Benar-benar tak tahu malu. Setelah membuat kekacauan yang memuakkan ini, bahkan Jungkook masih bisa membela diri dan berkata bahwa bukan dia yang membunuh teman-temannya.

“Keparat! Kau masih saja mengelak.”

“Sungguh, Hyung … aku tidak membunuh mereka. Bukan aku! Percayalah.”

Nada bicara yang lirih tersebut membuat Seokjin terdiam. Ia kini mencoba menerka-nerka apa yang tengah Jungkook rencanakan. Apakan nyawanya benar-benar akan berakhir beberapa saat lagi atau malah Jungkook mengatakan kebenaran. Tetapi, jika bukan Jungkook yang melakukan pembunuhan, lantas … siapa?

“Jika kau ingin membunuhku … bunuh saja. Lagi pula, sudah tak ada gunanya lagi aku hidup sedangkan semua yang kusayangi justru sudah meninggalkanku. Tapi … kautahu hal yang lebih buruk daripada ditinggalkan orang-orang terkasih? Mengetahui fakta bahwa yang membuat mereka meninggalkanku adalah salah satu dari mereka juga; orang yang kusayangi.”

Jungkook terdiam. Memejamkan matanya lantas menghembuskan napas kuat-kuat, pemuda itu terlihat benar-benar kacau.

“Jadi … jika dengan membunuhku maka kau merasa puas, lakukanlah. Aku—“

“SUDAH KUBILANG BUKAN AKU PEMBUNUHNYA, HYUNG! KENAPA KAU SAMA SEKALI TIDAK MEMERCAYAIKU?!”

“JIKA BUKAN KAU, LANTAS SIAPA? SIAPA, JEON JUNGKOOK?!”

“Berikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya.”

“Apa lagi yang harus kau jelaskan? Semuanya sudah jelas, Kook! Kau yang selalu menghilang di waktu tak terduga dan selanjutnya akan ada mayat lain yang ditemukan! Jadi apa lagi? Pembelaan apa lagi yang hendak—“

“DENGARKAN AKU!” Jungkook berteriak frustasi. “Dengarkan aku, Hyung. Tolong berikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya. Kumohon ….” Airmata mengalir dari sudut kelopak mata Jungkook, membuat Seokjin mau tak mau melayangkan tatapan penuh tanya. Meski Seokjin masih tak mampu memupuk kembali rasa percaya untuk pemuda di hadapannya tersebut, tetapi setidaknya Seokjin masih memikirkan hubungan mereka dulunya. Dan bagaimana Seokjin masih menyimpan sedikit harapan bahwa pembelaan Jungkook benar adanya. Bahwa bukan Jungkook pembunuh sahabat-sahabatnya.

“Katakan sebelum aku berubah pikiran dan memanggil petugas untuk segera meringkusmu!”

“Aku memiliki alasan, Hyung. Sungguh. Hari di mana Jiyoon meninggal … aku tahu. Maksudku, aku tahu kenapa Jiyoon sampai menghabisi nyawanya sendiri dan—“

“Tunggu, maksudmu … Jiyoon benar-benar bunuh diri?” Seokjin sedikit terguncang, namun entah bagaimana ia masih ingin mendengar kelanjutan dari cerita melalui sudut pandang Jeon Jungkook.

Anggukan didapatkan, membuat Seokjin tak mampu menahan diri untuk tak semakin terkejut.

“Sejujurnya, aku juga tahu siapa yang Jiyoon sukai.” Menarik napasnya dalam-dalam, Jungkook seperti tengah mempersiapkan diri untuk menceritakan cerita panjang yang menyebabkan semua kegilaan ini terjadi. “Pemuda itu Wonwoo, sepupuku. Kami tinggal serumah makanya aku mengetahui rahasia Jiyoon … karena diam-diam Jiyoon sering mengunjungi rumahku—rumah kami—hanya untuk melihat wajah Wonwoo.”

Seokjin entah bagaimana telah berubah menjadi pendengar yang baik. Meski satu ruang di hatinya menentang dan tak ingin memercayai, tetapi pemuda itu bertahan sebaik-baiknya.

“Hari itu … Jiyoon menyatakan perasaannya pada Wonwoo dan aku tak tahu apa yang pemuda itu pikirkan, tetapi Wonwoo menolaknya. Katanya, itu terdengar sedikit tak masuk akal lantaran mereka yang baru saja memasuki tahap awal perkenalan dan Wonwoo juga sedikit terkejut, makanya ia menolak Jiyoon.”

“Lalu mendorongnya ke sungai?”

“Bukannya sudah kubilang bahwa Jiyoon benar-benar bunuh diri?!”

“Dari mana kau mengetahuinya?”

“Setelah menerima penolakan, Wonwoo sudah berusaha menjelaskan keadaannya dan meminta Jiyoon untuk menunggu dan memberikannya sedikit waktu untuk bisa menerima kehadiran Jiyoon. Jujur saja, Wonwoo pernah memiliki seseorang yang benar-benar ia sayangi dan … mereka harus berpisah lantaran si gadis meninggal karena sebuah penyakit. Sejak itu, Wonwoo belum pernah berhubungan dengan perempuan lain dan kurasa tak ada yang salah dengan keputusannya tersebut. Toh, jika Jiyoon benar-benar memiliki perasaan khusus padanya, tentu saja Jiyoon mau menunggunya seidkit lebih lama lagi, bukan?”

Jungkook menatap Seokjin dalam-dalam, seakan ingin membuat pemuda di hadapannya benar-benar memercayai setiap perkataan yang menguar dari bibirnya.

“Tetapi ternyata Wonwoo salah. Tidak, kurasa itu bukan salah Wonwoo. Pemuda itu sudah menawarkan diri untuk mengantarkan Jiyoon pulang, tetapi ia mendapat penolakan. Jiyoon bilang, ia masih ingin berada di sana dan menikmati pemandangan lalu menyuruh Wonwoo untuk pergi.”

“Dan pemuda berengsek itu benar-benar pergi? Lalu Jiyoon—“

“Wonwoo pergi karena Jiyoon yang memintanya, Hyung. Tetapi lantaran merasa bersalah, ia kembali. Wonwoo kembali ke tepian sungai tempat mereka bertemu sebelumnya namun Jiyoon sudah tak berada di sana. Wonwoo kira Jiyoon sudah pulang lalu ia memutuskan untuk pulang juga. Malam harinya ia menceritakan semuanya kepadaku dan aku sempat memakinya karena dengan bodohnya meninggalkan Jiyoon sendirian seperti itu. Aku memintanya untuk menemui Jiyoon esok hari dan meminta maaf kepada gadis itu, tetapi … kautahu, ‘kan? Esok harinya Jiyoon sudah tak ada di dunia ini lagi, hanya jasad kakunya yang ditemukan di tepian sungai.”

“Lalu di mana bajingan itu? Kenapa ia tak pernah menampakkan batang hidungnya bahkan di pemakanam Jiyoon? Kau sedang menulis sebuah novel, Jeon Jungkook?”

Hyung! Aku bersungguh-sungguh! Aku juga tak tahu ke mana perginya Wonwoo sejak ia mendengar kabar bahwa Jiyoon meninggal. Wonwoo menghilang seperti ditelan Bumi. Aku bahkan sudah mendaftarkannya sebagai orang hilang namun belum ada kabar hingga detik ini. Kau ingat saat aku meninggalkanmu ketika kita hendak menuju apartemen Hayoon? Saat itu aku pergi lantaran menerima telepon dari seseorang yang mengaku melihat sosok Wonwoo, tapi nihil. Aku ke sana dan tak mendapatkan apa-apa.”

“Tentu saja bajingan itu melarikan diri setelah apa yang ia lakukan pada gadis lemah seperti Jiyoon.”

“Wonwoo bukan laki-laki seperti itu! Lagi pula, aku belum sampai pada inti ceritanya, Hyung.”

“Maksudmu?”

“Pembelaanku. Aku bukanlah pembunuh! Diam-diam aku menyelidikinya juga dan kurasa …  aku mengetahui siapa pembunuhnya.”

“Kau pembunuhnya, Jeon Jungkook.”

“AKU BUKAN PEMBUNUH! HAYOON YANG MEMBUNUH MEREKA SEMUA! AHN HAYOON!”

Mata Seokjin membulat sempurna. Bagaimana bisa Jungkook menyebutkan sebuah nama yang jelas saja sudah tak bernyawa lagi kini.

“Kau sedang main-main denganku, huh?!”

“Aku bersungguh-sungguh! Hari di mana Jimin meninggal, aku melihat Hayoon keluar apartemennya dan kembali pagi-pagi sekali. Kukira dia hanya keluar untuk menghirup udara segar tetapi kabar tentang kematian Jimin terdengar beberapa saat kemudian. Siapa lagi yang membunuhnya jika bukan Hayoon? Lalu Namjoon, dia bersama Hayoon saat itu lalu mati dan mayatnya ditemukan di markas. Dan terdengar kabar bahwa gadis itu mengalami kecelakaan di dekat kediamanku. Kau sudah melihatnya, Hyung? Kau yakin mayat itu adalah tubuh Ahn Hayoon? Bahkan wajahnya sudah tak bisa dikenali lagi, bagaimana bisa kau yakin jika gadis itu adalah Hayoon? Setelahnya Hoseok, ia ditemukan tak bernyawa di rumahku. Aku tahu semua kecurigaan sudah tertuju padaku entah sejak kapan, jadi … melarikan diri dan mengumpulkan semua bukti adalah apa yang bisa kulakukan. Oh, jangan lupakan pula jasad Taehyung yang baru beberapa waktu yang lalu kau lihat, Hyung!”

Seokjin merasa kepalanya berputar-putar. Semua yang dikatakan Jungkook ada benarnya, tetapi ia masih saja ingin memberikan sanggahan. Tidak mungkin. Hayoon tidak mungkin membunuh teman-temannya. Hayoon yang lemah bahkan tak bisa membunuh semut yang mengerumuni cake cokelat kesukaannya atau memukul mati nyamuk yang mengisap darahnya. Hayoon tidak mungkin melakukan pembunuhan sadis hanya karena kehilangan adiknya. Hanya karena ….

“Hayoon memiliki banyak alasan untuk menjadi pembunuhnya, Hyung.”

“Jangan berbual, Jeon Jungkook! Bagaimana mungkin kau menuduh orang mati sebagai pembunuh?!”

“AKU TIDAK BERBUAL! AKU MENGATAKAN YANG SEBENARNYA!” Jungkook lagi-lagi berteriak. Kali ini kedua tangannya meremas kerah Seokjin, mencoba menyadarkan pemuda itu dan memercayai perkataannya. “Hayoon yang melakukannya. Dia memiliki dendam setelah kehilangan Jiyoon, Hyung! Dia frustasi karena adiknya tiba-tiba pergi, ditambah kabar bahwa adiknya menyukai salah satu dari kita, padahal tidak. Sedangkan aku? Apa aku memiliki alasan untuk membunuh yang lainnya? Hyung, kau masih tak memercayaiku? Setelah apa yang kujelaskan dan kau—“

“Kau salah, Kook. Perkataanmu hanyalah bualan. Hayoon tidak membunuh mereka.”

“SEOKJIN HYUNG!”

“JANGAN MEMBENTAKKU, SIALAN!”

“Sadarlah! Bukan aku yang membunuh mereka tetapi Hayoon! Gadis licik itu yang—“

“Ck, masih saja membeberkan pembelaan, huh? Hayoon katamu? Jika ingin mengarang cerita, maka buatlah yang lebih masuk akal. Bagaimana mungkin gadis itu menyeret tubuh seorang lelaki lalu membunuhnya? Kau kira Hayoon memiliki kekuatan yang cukup untuk membunuh mereka? Dasar bodoh!”

“Jadi kau pikir aku—“

“Kau kira membunuh itu perkara yang mudah? Lagi pula si pelaku menggunakan proses mumifikasi dalam eksekusi akhir dari korban-korbannya. Dari mana seorang Hayoon mengetahui teknik langka tersebut, huh? Tak sembarang orang yang bisa melakukannya, seharusnya kau tahu itu.”

Hyung ….”

“Hm? Masih ingin mengatakan sesuatu, Jeon Jungkook?” Entah sejak kapan nada bicara Seokjin terdengar lembut, bahkan Jungkook dapat merasakan sesuatu yang aneh dari pemuda tersebut kini. Selain pembawaannya yang berubah santai, Seokjin juga menatap Jungkook tidak seperti biasanya. Ada kilatan di manik kecokelatan sang pemuda yang membuat Jungkook tak mampu menahan bulu-bulu halus di tubuhnya meremang, ditambah lagi penjelasan terakhir yang Seokjin kemukakan. Sepertinya, Jungkook telah melewatkan satu fakta penting bahwa ….

“Kau masih ingat bukan jika aku pernah terdaftar sebagai mahawiswa seni dengan mengambil peminatan di bagian patung? Oh, bukannya kau juga sempat memuji sebuah patung berbentuk bunglon yang berada di kamarku? Itu salah satu karya terbaik yang membuatku mendapatkan pernghargaan. Kau mengingatnya, Jeon Jungkook?”

Tubuh Jungkook menegang. Ia kini tahu apa saja yang telah terlewatkan selama ini. Mengutuki kebodohannya, pemuda itu kini berusaha untuk menjernihkan pikiran serta mengumpulkan kembali kekuatan yang tiba-tiba lenyap tak bersisa.

“Patung garam. Aku memperlajarinya dari seorang ilmuan yang bertugas melakukan penelitian terhadap beberapa mumi yang diawetkan dengan menggunakan garam. Awalnya terlihat sangat sulit, tapi aku bisa melakukannya dan kau satu-satunya orang yang mengetahuinya, ‘kan? Jadi, tidak mungkin Hayoon yang membunuh mereka, karena jelas saja gadis itu tak mengetahuinya.”

“Kim Seokjin ….”

“Kenapa? Kau menyesal, ah atau kesal karena telah menuduh orang yang salah?”

“Jadi … kau. Kau yang melakukannya? Kau si pembunuh gila itu dan—TOLONG KATAKAN JIKA AKU SALAH MENGIRA, KIM SEOKJIN!”

Kekehan yang menguar dari bibir Seokjin, membuat Jungkook semakin kehilangan akal sehatnya. Sisa tenaga yang berhasil terkumpul, ia gunakan untuk menyeret tubuhnya menjauh dari monster di hadapannya kini.

“Sayangnya kau benar, Jungkook-ie. Aku pelakunya. Aku yang menghabisi mereka. Aku yang membantu mereka menemui ajal dengan cara yang sempurna.”

“Kau … PSIKOPAT SINTING!”

“Katai aku sesukamu, toh kau akan menyusul mereka setelah ini. Tetapi, lantaran kau satu-satunya yang tersisa, jadi aku akan menceritakan dongeng sebelum tidur untukmu. Tidak panjang, tetapi bisa membuat tidurmu semakin nyenyak, percayalah.”

Jungkook benar-benar tersudut kini. Memilih untuk menemui Seokjin di ruangan tertutup justru membuatnya terjebak dalam masalah besar. Ia salah, sangat salah karena mengira Seokjin adalah satu-satunya orang yang bisa ia percayai dan membantunya mengungkap segalanya. Tetapi, justru Jungkook menyambut kematiannya sendiri. Bagaimana bisa seorang Kim Seokjin melakukan pembunuhan mengerikan ini dan bersikap seolah ia yang paling terpuruk dengan segala kejadian yang berputar-putar dalam lingkaran hidup mereka? Bagaimana bisa Seokjin berpura-pura tersiksa sedang dirinyalah yang melakukan penyiksaan pada sahabatnya sendiri? Seokjin …. Iblis mana yang sudah merasuki pemuda itu hingga melakukan kejahatan tanpa merasa bersalah sedikit pun—oh, ia bahkan terlihat lebih seram dari iblis sekali pun.

“Jiyoon tidak bunuh diri. Aku yang membunuhnya; mendorong tubuh itu hingga terperosok ke dalam sungai. Jiyoon tak bisa berenang, bukan? Dan aku sangat bersyukur dengan kenyataan tersebut.”

“Jadi, kau …. KEPARAT!”

“MAKI AKU SEKALI LAGI MAKA KAU AKAN KUBUNUH, JEON JUNGKOOK!”

“Keparat! Kau sudah gila, Hyung? Bagaimana mungkin kau membunuh Jiyoon seperti itu? Dasar berengsek!”

“Hei, kau tidak sabaran rupanya!”

Seokjin menyeringai. Bilah pisau yang entah sejak kapan berada di tangan ia acungkan ke hadapan Jungkook dengan begitu semangat. Ujung pisau ia letakkan di atas kulit lengan Jungkook lantas menarik garis lurus dari atas hingga ujung jari kelingkingnya, bersamaan dengan jeritan tertahan ketika perih itu menyapa tubuh.

“BUNUH SAJA AKU, SIALAN!” Jungkook berteriak lantang. Ia yang tadinya mencoba untuk terlihat tegar pada akhirnya mulai menitikkan airmata lantaran tak mampu membendung segala kekacauan yang membuat kepalanya serasa ingin meledak.

“Tidak sebelum kuselesaikan dongengku, Jeon Jungkook. Maka, jadilah pendengar yang baik jika kau ingin segera mati tanpa kusiksa terlebih dahulu.”

Jungkook benar-benar tak memiliki kesempatan untuk lari dari maut. Pemuda itu terdiam, menangis sesegukan lantas memejamkan mata kuat-kuat lantaran tak sanggup melihat orang yang paling ia percayai berubah menjadi monster dalam hitungan menit.

“Aku menyukai Jiyoon—tidak, Jiyoon itu milikku, jadi tak boleh ada orang lain yang menyukainya atau mendekatinya. Jiyoon juga seharusnya hanya memiliki rasa padaku, tidak kepada laki-laki lain.”

“Kau benar-benar gila, Hyung!”

“Tapi ternyata Jiyoon menyukai pemuda itu, siapa namanya tadi? Oh, Jeon Wonwoo.” Seokjin berdecak usai menyebut nama tersebut. “Entah itu kesialan atau keberuntungan, tapi aku melihat momen itu, saat Jiyoon mengungkapkan perasaannya pada Wonwoo dan aku benar-benar marah. Jadi, Jiyoon tidak bunuh diri melainkan aku yang membunuhnya. Ah, si pengecut itu juga kubunuh. Mungkin kau takkan menemukan mayatnya karena aku membakarnya hidup-hidup. Menyedihkan, bukan?”

Jungkook tak bersuara, pundaknya masih naik-turun tak beraturan sedang paru-parunya mencoba untuk meraup oksigen lebih banyak lagi.

“Jujur saja, awalnya aku tak tahu kenapa sampai membunuh yang lain juga tetapi … pernah suatu hari aku melihat Jiyoon pergi bersama Yoongi dan aku merasa sangat cemburu. Lalu semua terjadi begitu saja. Setelah menghabisi nyawa Jiyoon aku sedikit ketakutan jika akan ketahuan jadi kuputuskan untuk membunuh kalian satu per satu lalu pergi ke tempat yang sangat jauh, tempat dimana tak satu orang pun yang mengenaliku.”

“Kenapa? Kenapa kau masih bisa bersikap biasa-biasa saja bahkan setelah menghabisi nyawa-nyawa tak bersalah itu?!”

“Sebut saja aku psikopat sinting, tapi sungguh, membunuh itu ternyata menyenangkan juga. Terlebih, kau memiliki cara sendiri untuk mempersembahkan karyamu kepada dunia, itu terdengar menyenangkan, bukan? Tetapi semakin ke sini semua semakin sulit kuatur. Kukira aku bisa membuat patung garam yang sempurna dari jasad kalian semua, tapi waktu memaksaku untuk menuntaskan kegilaan ini lebih cepat lagi. Sebelum aku ketahuan. Sebelum orang-orang bodoh sepertimu dan mereka yang memercayaiku mulai menaruh curiga dan segala kesenanganku terbongkar. Jadi … aku hanya mencabik-cabik tubuh mereka tanpa sempat menjadikannya karya seni.”

“Lalu Hayoon …. Saat itu kau sedang bersama yang lain dan bagaimana bisa Hayoon mengalami kecelakaan mengerikan yang—“

“Aku tidak tahu. Mungkin Tuhan sedang membantuku dan tak ingin menganggu kesenangku saat itu. Lagi pula lokasinya benar-benar sempurna, dekat dengan markas juga kediamanmu. Aku bisa bermain-main di tiga tempat tersebut tanpa meninggalkan jejak dan membuat yang lainnya merasa curiga.”

“Maksudmu Hayoon bunuh diri?”

“Lebih tepatnya kecelakaan, Jungkook-ie. Hayoon memergokiku membunuh Namjoon lalu ia melarikan diri. Aku tak memiliki banyak waktu untuk mengerjarnya dan membiarkannya, toh ia cukup terguncang dan merasa nyawanya terancam. Banyak kemungkinan yang kupikirkan saat itu. Bagaimana jika mereka mengetahuinya lebih awal? Bagaimana jika Hayoon menceritakan kegilaanku sebelum aku sempat menyelesaikannya? Dan ‘bagaimana’ lainnya yang berputar-putar. Tapi begitulah, Hayoon mengalami kecelakaan, kukira ia sangat terguncang dan merasa gelisah sehingga tak memerhatikan sekitarnya lalu, wush, ia mati di tempat. Menyedihkan, karena aku tak sempat merasakan darah hangatnya di kulitku.”

Seokjin tertawa. Gelak keras itu membuat tubuh Jungkook semakin menegang. Ia tak tahu harus melakukan apa di saat seperti ini, mengingat segala kemungkinan bisa saja terjadi dan nyawanya benar-benar tidak akan tertolong lagi.

“Jadi Jungkook-ie, kurasa aku sudah menyelesaikan dongengnya. Kau … ingin menyusul mereka, huh?”

“Kau gila, Hyung ….” Suara Jungkoo bergetar, bahkan terdengar tak begitu jelas karena isakan yang terus-terusan menguar. “Kenapa kau menjadi seperti ini? Apa yang membuatmu berpikiran sempit dan melakukan pembunuhan sadis seperti ini?”

“Ahn Jiyoon. Gadis itu yang membuatku menjadi gila, Jeon Jungkook. Jika ingin menyalahkan, maka salahkan saja gadis sialan itu! Aku juga muak dengan diriku sendiri, jika boleh jujur. Tetapi, Jiyoon penyebabnya. JIYOON YANG MEMBUATKU BERUBAH MENJADI PSIKOPAT GILA, JEON JUNGKOOK!”

“JANGAN SALAHKAN JIYOON, KEPARAT!” Entah mendapat keberanian dari mana, Jungkook kembali berteriak. Sorot matanya tajam, seakan memberikan tantangan pada pemuda di hadapannya untuk lekas menyudahi segalanya, termasuk nyawanya. “Kau yang membuat dirimu sendiri berubah menjadi tak memiliki belas kasihan, kau yang menyebabkan semua kekacauan ini, kau yang harusnya musnah dari dunia, bukan mereka yang tak bersalah sedikit pun!”

“JIYOON MENGHIANATIKU! GADIS SIALAN ITU BERANI-BERANINYA BERPALING DARIKU!”

HYUNG! KAU BAHKAN TAK MEMILIKI HUBUNGAN DIMANA KAU BISA MENGATUR HIDUP JIYOON! SADARLAH!”

“Jiyoon milikku ….”

“Jiyon milik dirinya sendiri. Kau tak memiliki hak untuk—“

“TAHU APA KAU, JEON JUNGKOOK!”

Bersamaan dengan teriakan lantang yang menguar dari bibir Kim Seokjin, mata pisau itu memaksa merobek kulit dada Jungkook lantas bersarang di jantungnya. Jungkook merasakan sakit yang luar biasa menjalari seluruh tubuhnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, bahkan untuk mengeluarkan kata-kata saja ia tak mampu; seakan ada bongkahan batu besar yang tersangkut di tenggorokkannya.

“Seharusnya aku membunuhmu dari tadi, Sialan!”

Seokjin mencabut pisau tersebut. Jungkook melolong kesakitan. Merasa bahwa waktunya tak lama lagi, pemuda tak berdaya itu hanya mampu memandangi wajah Seokjin dengan tatapan sendu.

“Bergabunglah dengan keparat-keparat itu, Jeon Jungkook! Ah, jangan lupa sampaikan salamku pada Jiyoon dan yang lain. Katakan bahwa aku tak bisa menyusul mereka secepatnya dan …. Semoga kalian bahagia di sana. Kurasa aku sudah melakukan hal yang baik, ‘kan? Mengirimkan kalian ke tempat peristirahatan terakhir yang indah. Wah, kalian benar-benar beruntung memiliki sahabat sepertiku!”

Seokjin tertawa lantang, sedang Jungkook yang tengah meregang nyawa mulai merasakan oksigen di sekitarnya menipis. Dadanya naik-turun tak beraturan, sedang napasnya putus-putus. Jungkook tak bisa lagi mengumpat atau sekedar berucap, pemuda itu benar-benar berada di ujung kehidupan. Perlahan, kelopak matanya tertutup meski Jungkook masih berusaha untuk terjaga hingga seseorang datang menolongnya. Sia-sia, Jungkook tahu itu. Takkan ada yang menolongnya, takkan ada yang menghentikan psikopat sinting itu. Tak ada. Dan Jungkook benar-benar harus menerima takdir buruknya. Hidup untuk menjadi bagian dari sahabat-sahabatnya dan mati untuk bergabung bersama mereka meski kematian tersebut justru ia alami karena kebodohannya.

“Selamat tinggal, Jungkook-ie.”

Lalu tusukan bertubi-tubi Seokjin hadiahkan pada tubuh penuh darah yang tak lagi bergerak di atas tanah.

.

.

-FIN-

.

.

Yoongi masih bergelung di dalam selimut sembari menenangkan diri. Usai kematian Jiyoon yang begitu tiba-tiba, rasanya ada sesuatu yang menghilang dari dirinya. Pemuda itu masih sibuk dengan aktivitas awal ketika bel rumahnya berbunyi dan memaksanya menyeret tungkai untuk menyambut tamu yang entah siapa itu.

Sebuah senyuman menyambut Yoongi ketika ia membukakan pintu. Seorang pemuda berdiri di sana, membawa beberapa barang yang terlihat asing namun Yoongi mencoba untuk mengabaikan.

“Ah, Seokjin Hyung, masuklah.”

Tanpa menaruh curiga barang sedikit pun, Yoongi mempersilakan tamunya tersebut untuk memasuki rumah.

“Apa aku menganggumu?”

Yoongi melempar senyuman lantas berkata, “Tentu saja tidak, Hyung. Aku malah bersyukur kau ada di sini, setidaknya aku tak merasa kesepian.” Ada desahan putus asa yang terdengar namun Yoongi berusaha untuk menyembunyikannya. “Bisakah kau tinggal di sini dan menemaniku? Kurasa aku bisa gila jika sendirian dan tak bisa menghentikan otakku untuk memikirkan … Jiyoon.”

Yoongi tak mendapatkan jawaban, hanya senyuman aneh yang membuatnya mengerutkan kening. Tak biasanya Seokjin bertingkah seperti ini.

“Kau … baik-baik saja, Hyung?”

“Tentu saja. Ah, entahlah … kurasa aku dan kau tak ada bedanya.”

“Kematian Jiyoon membuat kita merasa amat sesak, bukan?”

“Hm, sepertinya. Maka dari itu aku hendak menyudahi segalanya, Yoongi-a.”

“Maksudmu?”

Well, mungkin ini akan mengejutkanmu, tapi … kau adalah objek percobaan pertamaku, Min Yoongi!”

Sebuah pukulan mendarat di tengkuk Yoongi, membuatnya kehilangan kesadaran dan tak mampu mengingat apa yang terjadi kepadanya kemudian.

***

Jimin merasa was-was, jelas sekali ia mendengar suara dari ruang depan tadi tapi tak ada siapa-siapa selain Namjoon dan Seokjin yang tertidur pulas.

Apa aku berkhayal? pikirnya.

Lalu Jimin memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Usai mengalami kejadian tak biasa di hidupnya, pemuda itu terlihat sangat menyedihkan. Menjatuhkan bokong ke atas sofa yang kosong, Jimin baru akan memejamkan mata ketika sebuah suara menelusup rungunya.

“Oi, Park Jimin. Giliranmu sekarang.”

Tubuh Jimin menegang saat itu juga. Bukan hanya karena suara yang terdengar, melainkan sosok orang yang membisikkan kata-kata itu padanya. Bukannya tadi dengan sangat jelas Jimin melihatnya tertidur di sofa seberang sana? Lantas, sejak kapan Seokjin berada di hadapannya dan melayangkan pukulan hingga membuat Jimin jatuh tak sadarkan diri.

Seokjin tertawa lalu berujar, “Karena kau yang menemukan Yoongi terlebih dahulu, maka kau adalah objek selanjutnya. Oh, tenang saja, Namjoon sudah kuberi obat bius, dia takkan terbangun selagi aku berkesperimen dengan tubuhmu, Park Jimin.”

***

“Namjoon, Hayoon!”

Seokjin tampak kehabisan napas ketika ia bertemu dengan dua orang itu di lorong flat milik Hayoon. Sembari menghirup oksigen banyak-banyak, pemuda itu tampak melayangkan tatap lega pada kedua orang tersebut.

“Ada apa, Seokjin?” Namjoon bertanya dengan nada cemas, kalau-kalau ada kawannya yang menjadi korban selanjutnya.

“Kukira aku akan kehilangan kalian!”

“Maaf, aku terlalu mengkhawatirkan Hayoon dan langsung menuju ke sini. Aku tahu kalian mengkhawatirkanku juga.”

“Aku mengerti. Yang penting kalian tidak kenapa-kenapa.” Seokjin tersenyum lantas mendaratkan lengan di tengkuk Hayoon demi merangkulnya. “Omong-omong, kalian mau ke mana?”

“Minimarket, mencari beberapa camilan.” Kali ini Hayoon yang menjawab.

“Kalau begitu aku ikut dengan kalian. Ah, pakai mobilmu, ya, Namjoon, aku meninggalkan mobilku di tengah jalan lalu berlari ke sini lantaran macet.”

“Kau? Berlari ke sini?”

“Tenang saja, aku melewati jalan pintas dan hanya membutuhkan waktu setidaknya sepuluh menit dengan berlari.”

“Dasar gila!”

“Aku khawatir, setelah mendengar cerita Taehyung.”

“Maaf.”

“Sudahlah. Mana kuncinya? Biar aku yang menyetir.”

Namjoon menyerahkan kunci mobil miliknya lantas ketiganya memasuki kendaraan roda empat tersebut. Seokjin mulai menghidupkan mesin mobil, melemparkan senyuman sebelum ia mulai menjalankan benda tersebut.

“Hei, kita mau ke mana?” Hayoon yang berada di jok samping melancarkan protes ketika mobil mereka baru saja melewati minimarket tujuan.

“Markas. Yang lain sudah menunggu di sana dan bukannya kita mendapat perintah untuk berkumpul bersama-sama, huh? Kuharap kalian tak memisahkan diri lagi sebelum pelaku ditangkap.”

“Tapi Seokjin-a ….”

“Tenang saja, kita aman di sana karena tempat tersebut dijaga oleh pihak kepolisian.”

Selanjutnya, tak ada kata protes yang keluar dari bibir Hayoon maupun Namjoon. Keduanya sama-sama membenarkan perkataan Seokjin dan memilih untuk menurut, sampai kemudian mereka tiba di markas mereka.

Namjoon adalah orang pertama yang keluar dari mobil disusul Hayoon lalu Seokjin kemudian. Ada sesuatu yang membuat Namjoon mengernyitkan dahi, yaitu fakta bahwa tak ada siapa-siapa yang menunggu mereka di sana.

“Kau bilang mereka menunggu di sini tapi aku tak melihat siapa pun, Seokjin. Kurasa kau—“

“NAMJOON!” Hayoon berteriak ketika Seokjin yang entah sejak kapan memiliki bongkahan batu besar di tangan, menghantam belakang kepala Namjoon dengan benda tersebut. “APA YANG KAU LAKUKAN, KIM SEOKJIN?!” Sementara Hayoon berteriak histeris, Namjoon sudah terjerembab di tanah namun masih mendapatkan sedikit kesadaran.

“Seokjin-a ….”

Lirihan itu membuat Seokjin tertawa lantang. Satu lagi hantaman ia berikan setelah Namjoon sempat berteriak dan menyuruh Hayoon untuk pergi dan mencari bantuan dan Namjoon; dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki berusaha menahan Seokjin dengan susah payah hingga Hayoon tak tampak di pelupuk mata.

“Jadi … kau iblis itu, Kim Seokjin?!”

“Kalian terlalu lamban, aku tidak suka. Jadi, sambutlah kematianmu dengan tenang, Kim Namjoon.”

***

Di tengah keramaian, Seokjin melihat Hoseok menangis sendirian. Ia mendekat lantas membawa si pemuda ke dalam pelukan; menepuk-nepuk pundak Hoseok lalu melantunkan kata-kata penenang.

Untuk beberapa saat, Seokjin membiarkan Hoseok menangis sejadi-jadinya. Lalu ketika ia sadar bahwa si pemuda sudah sedikit mendapatkan ketenangan, lekas saja itu bawa Hoseok menjauh dari kerumunan.

Hoseok menurut lantaran tak memiliki kekuatan untuk melawan. Dipikirannya, Seokjin hanya tak suka melihatnya bersedih dan hendak memberikan hiburan—meski ia tahu, Seokjin pun butuh dihibur saat ini.

Keduanya kini berada di mobil Seokjin dan jauh dari kerumanan orang-orang. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Hoseok hingga Seokjin menyodorkan sekaleng kopi hangat yang ia dapatkan dari mesin minuman tak jauh dari sana.

“Minumlah, tenangkan dirimu.”

Hoseok meminumnya tanpa menaruh curiga sedikit pun. Ia baru akan mengucapkan beberapa kata ketika merasakan kantuk mulai menyerang. Tepat sebelum Hoseok tak sadarkan diri, pemuda itu bisa melihat seringaian di wajah Seokjin serta bisikan samar-samar.

“Kau selanjutnya, Jung Hoseok.”

Dan Hoseok tak ingat apa-apa setelah itu.

***

Taehyung melangkahkan kakinya memasuki bagian paling dalam di rumah Jungkook. Ia ingat bahwa rumah besar tersebut memiliki sebuah gudang tak terpakai di belakang sana dan instingnya mengatakan bahwa Jungkook bisa jadi bersembunyi di tempat tersebut, maka dari itu ia mengumpulkan keberaniannya untuk menerobos masuk.

Ketika langkahnya baru teruntai beberapa, sebuah suara membuatnya berbalik cepat-cepat. Ia mengenalinya namun otaknya entah mengapa terlalu lamban untuk mencerna. Lantas, sebelum ia melihat siapa gerangan si pemilik suara tersebut, satu pukulan membuatnya kehilngan kesadaran.

***

Seokjin tersenyum puas. Jasad itu sudah tak bernyawa kini, tersisa bau anyir yang mengelilingi ruangan dan Seokjin menikmatinya. Noda kemerahan di pisau ia bersihkan dengan sebuah sapu tangan lalu melemparkan benda itu sembarangan.

Sekali lagi, Seokjin menilik mayat Taehyung dan kali ini tawanya menguar. Lantang dan terdengar menusuk. Tidak seperti pendosa yang menyesali perbuatannya, Seokjin malah memuji dirinya atas segala pencapaian yang telah ia lakukan.

Merajut langkah, Seokjin kini memungut sebuah pemutar suara tang tergeletak tak jauh dari seonggok daging tak bernyawa tersebut lalu kembali tertawa lantang, bahkan ia sampai merasakan kram di perut dan terpaksa menghentikannya.

Seokjin pikir, semua rencananya sungguh matang. Sebelumnya, ia tak pernah berniat untuk mencari kambing hitam atas segala kegilaannya, tapi sepertinya ini akan lebih menyenangkan jika ia mencari seseorang yang bisa ia jadikan pembunuh, menggantikan dirinya. Oh, tidak, satu orang takkan cukup untuk membuat kekacauan ini, jadi sepertinya dua orang akan lebih baik. Yang pertama adalah Jungkook dan selanjutnya Hayoon.

Sejauh ini Jungkook memang banyak meninggalkan kesan mencurigakan yang membuat Seokjin luput dari pengintaian yang lainnya. Ia bersyukur, tentu saja, lantaran tak ketahuan hingga akhir. Lalu Hayoon … sepertinya gadis itu memiliki banyak alasan untuk menjadi seorang pembunuh. Seperti membalaskan dendam adiknya, yeah, Seokjin meyakini hal tersebut dan membuat  Taehyung memercayai bahwa Hayoon-lah dalang dibalik pembunuhan berantai ini.

Caranya? Oh, sepertinya tidak banyak yang mengetahui bahwa Seokjin memiliki minat dan tertarik dengan pekerjaan sebagai pengisi efek suara di film. Lalu hubungannya? Sejak bersahabat dengan yang lainnya dan memiliki markas sebagai tempat berkumpul, pemuda itu selalu merekam apa pun yang ada di sekitarnya. Jadi, mendapatkan potongan suara Hayoon lalu menyatukannya bukanlah perkara yang sulit, bukan? Dan lagi-lagi Seokjin memuji dirinya lantaran kejeniusan yang ia miliki.

Satu nyawa lagi dan Seokjin akan menyudahi segalanya. Tujuan selanjutnya adalah meminta kepolisian menghentikan pencarian dan menghantarkan kawan-kawannya pada peristirahatan terakhir. Seokjin tahu, keinganannya itu mungkin akan mendapatkan penolakan, pun bisa membuatnya ketahuan. Maka, setelah memakamkan teman-temannya, ia akan segera pergi ke tempat yang sangat jauh dan memulai kehidupan baru. Entahlah, Seokjin tak tahu kehidupan seperti apa yang sedang menunggunya. Entah itu menjadi sosok malaikat dan melupakan segala kegilaannya atau malah semakin terpuruk dalam ruang gelap dan membuatnya terus-terusan membunuh tanpa merasa berdosa sedikit pun. Ia sendiri tak tahu tujuannya akhirnya. Karena baginya, selama apa yang telah ia inginkan tercapai, maka masa bodoh dengan masa depan. Toh, manusia sepertinya tak pantas memiliki masa depan, bukan? Jadi biarkan saja waktu yang menjawab semuanya. Apa Seokjin akan bertahan atau justru semakin terpuruk hingga melawan kehendak diri. Tidak akan ada yang tahu. Tidak, sampai kapan pun.

.

.

.

-FIN.

YEAY, FINISH!

Siapa pun, tolong jangan maki aku setelah menyelesaikan fic laknat ini XD

Well, big thanks for Kakros aka mba Riris dan Ipin aka Echa bikos sudah mau menerima kerusuhan dan banyak memberi masukan sehingga fic ini berhasil menuju ending dengan mulus /tolong ini gatau ngomong apaan haha/

Ada yang kesal? Ada yang mau marah? Sok silakan haha asal tidak melemparkan bom ke rumahku saja /pfft/ dan TIDAK ADA EPILOG ATAU APA PUN ITU /plak/ Jika masih ada beberapa hal yang membuat penasaran dan belum terjawab di cerita, silakan tinggalkan komentar dan akan dibalas dengan senang hati.

Terimakasih untuk kalian semua yang sudah mengikuti dan memberikan semangat dalam pengerjaan fic ini kyaaa I LOVE YOU, GUYS! SAMPAI BERTEMU DI PROYEK SELANJUTNYA! ❤

-mbaay.

Advertisements

43 thoughts on “[Chapter 6/END] Bring Back the Shadow

  1. Andine

    Annyeong! Aku udah baca ff ini dari awal, dan baru komen 🙂 hehe mian.

    Aku suka banget sama ceritanya dari awal sampai akhir, ini bener-bener feelnya dapet banget, terus juga bikin merinding pas tau ternyata seokjin yang membunuh semuanya! Ceritanya luar biasa keren banget!

    Oiya fighting ya thor! Ditunggu karya selanjutnya 🙂

    Like

  2. diniA

    ini ff keren bangettt… bikin gue salah ngira terus.. awalnya nebak si jimin yg bunuh eh nyatanya ikutan jg kayak suga terus habis gitu ngira yg bunuh mereka si hayoon pas baca chapter 5 udah seneng banget dugaannya bener yg bunuh hayoon, lah pas baca chapter 6 masih salah juga ternyata yg bunuh si princess jin bias gue T.T

    kenapa disini author bikin jin jg psiko sih..
    eh tp terserah author yg bikin ye kan??
    gue mah cuma baca sm comment doang

    ngomong tentang comment, maafin aku yg baru comment di chapter 3 sama 6 ya, di chap 5 sebenernya comment tp pas dikirim nggak muncul” yaudah aku lanjut ke chap 6 nggak papa kan? maafin ya..

    pokoknya ni ff bagus keren membingungkan iya pokoknya the best
    keep writing and hwating..

    Like

  3. hyejung

    Annyeong haseyo eonnieee !eon ini daebak bgttt tapi sedih jugaa ga nyangka bgt klo jin oppa pelakunya T.T
    Ditunggu ff selanjutnya yg lebih2 yaaa saranghaeyo♡♡

    Like

  4. ANNYEONG,NAMA SAYA JEON WONWOO..,
    .
    “KIIIM .SEOOOOOOOKKKK JINNNNN!!!!
    KOK LU JAHAT BANGET SIH!SEDIH GUA TAU GAK,TEMEN-TEMEN GUA MENINGGAL TERNYATA ELU YANG BUNUH..KENAPA GA SEKALIAN BUNUH GUA AJA”*plakk “PENGECUT LO,masa ga berani bunuh gua tuh kim seokjin…padahal kan gua yang bikin jiyoon berpaling dari dia”*plakk
    aposeh…
    Hufft.akhirnya selesai juga bacanya.
    ganyangka ternyata makjin yang ngebunuh.sumvah gua greget sama jin…
    Btw thor fanficnya keren loh.
    Gomawo buat author karena telah menyelesaikan ffnya sehingga membuat saya senang*
    Thor makasih bighit loh.ceritanya membekas di pikiran gua
    Say good bye
    Kutunggu karyamu lagi
    Dadah thor
    :*
    :*

    Like

  5. jung Raeki

    apa yang harus gua comment di last chapter ini, thor??

    SeokJin?? dia bias gua T.T
    gak mungkin,,
    ahh mungkin. kejiwaan oppa gua agak terganggu. -_- apa boleh buat.

    ff ini bikin..
    ahh banyak hal yang gabisa di sebutin..
    over all ,, Nice (Y)

    gua pengen belajar bikin FF yang misteri kaya gini juga. karna biasanya gendre yang gua tulis Sad ending.

    good story.

    Like

  6. Min yoonhee

    KYAAAA O(≧∇≦)O
    Tuh kan ternyata kecurigaanku sama seokjin benar ( ´ ▽ ` )ノ dari awal emang sudah curiga ama mami jin yang gelagatnya aneh eh tapi, pas chap 5 aku nemuin ternyata yang dalangnya itu hayoon tapi lagi, di chap 6 eh ternyata tebakanku selama ini benar ╥﹏╥ author bener2 dah bikin ff ini sedemikian rupa, salut aku author (≧∇≦)/
    Btw pas selesai pen bilang minta epilog eh udah author bilan gak bikin epilog huaaa (╥_╥) syedih banget mami jin jadi kayak gitu…. Author pliss buat mami jin kembali pada jalan yang benar author, kagak rela liat mami jin jadi kayak gitu *btw panjang banget gue komennya
    Mian author 😂😂

    Like

  7. Jennie

    Whoaa kece bgt nih ff nya😘💕

    Aku salah tebak mulu deh. Mulai dari jimin, jungkook, hayoon, sampe jiyoon yg gue sangka pura” mati/plakk/ eh taunya si princess yg bunuh ga nyangka:( maapin aku yg udah fitnah kalian semua terutama chimol gua ya ampun maap wkwk. Barusan mau tanya ttg detektif kang yg jagain jin eh pas liat komen udah dibahas hehe. Masih bingung aja hebat bgt si jin bisa pindah” tempat kejadian dr ambulans ke rumah jeka trus balik lagi ke ambulans cepet bgt wkwk mungkin dia jin beneran yg bisa ilang”/eh/ wkwk

    Thanks buat author yg udah bikin ff ini! Apresiasi bgt dah sama ni ff keren bgt!👏🏻😘 nanti sering” bikin ff genre begini yaa aku suka banget apalagi yang ada riddle”nya pasti tambah seru! Keep writing and hwaiting!💪🏻💕

    Like

  8. Vie

    Kerennn bgtt ff nyaa. Love thiss..
    enth kenapa pas ak baca kata “adonan garam” seketika it juga di otak aku pikirnya kim seokjin dan langsng membuat ak mencurigai kim seokjin.. wahh dan ternyata tebakann aku benarr sekalii..

    Like

  9. Seokjin yg pinky pinky dibsi lala pooh itu pembunuh gila?? Ga waras??? Luarbiasaaaah

    Ini ffnya kereeeeen bgt.. tebakanku salah semua wkwkkwkwkw maaf ya jungkook,hoseok,hayoon aku mencurigai kalian, tp aku jga punya firasat sama seokjin tp tp ga terlalu wkwkwk

    Kereen bgt sumpaaah hahaha ini ff trap banget wkwkwkwkkw baiklah kamu author favorite saya selanjutnya hahahahaha

    Btw sekali2 mampir lah ke wordpress ku wkwkwkwkwk meskipun ff nya abal2 dan ga bagus seperti ff ini hahaha

    Like

  10. YAH.. KIM SEOKJIN!!
    kenapa?? kenapa hah?!
    eksperimen apanya coba, bilang aja kalau itu hobi..

    hayoon punya banyak alasan buat balas dendam ya? kalau gitu aku juga punya alasan itu kan…

    mengejutkan, makasih ya kak udah kasih kode tipu-tipu macem kemarin,, sedihnya aku yang terlalu menyayangimu kim seokjin..

    Liked by 1 person

  11. cgjin

    LAH KAK AKU DITIPU BENERAN!

    KIM SEOKJIN MATILAH SANA DASAR MENYEBALKAN!! :’v

    Semangat buat projek yang lainnya kak~ ini ff beneran wow kak, suka cara membunuhnya! Ngemeng2 aku juga psikopat tapi tingkat rendah… Dan ff gini yang kucari dari dulu… Really love this fic!

    Liked by 1 person

  12. billa

    Aih ku tlh dibohongi oleh mu thor, brarti dugaan pertama gua bener dong ya.. duh jadi gaenak sama jungkook and hayong yg gua tuduh wkwk. Kern lah bsk” buat ff model beginih lg thor hehe
    Duh maaf f baru bisa komen pdhl semalem udh tinggal kirim komentar eh tau” kuota abis wkwk

    Liked by 1 person

  13. LAH KAMPRET TERNYATA KIMSUKJIN WTFFFFFFFFF PIN KAMU MAU TAK BUNUH JUGA???? /lempar meja/ bye lah tak kira kamu beneran bikin authornya yg bunuh mereka ternyata kimsukjin bye lah pin kzl sama kamu /ga/

    Liked by 1 person

  14. Tiaraa

    Waaah keren sumpah thor ceritanya.. Sampe gemetaran saking tegangnya.. Gila sadis. Mulut juga sampe ikutan nganga dtiap pembunuhannya.. Sempet kpikiran jga sih klo jin pelakunya soalnya berhubungan dg adonan.. wah pokonya keren keren keren!!
    Tapi ada satu yg masih ganjel thor, pas tae pergi ke rumah jk bukannya jin lg sama detektif kang ya yg di ambulans itu? trs bgmna ceritanya dia udh nyekap tae?
    Udah sih thor tu aja, mf komen nya panjang bgt.. Fighting buat bikin ff selanjuttnya!! 👍

    Liked by 2 people

  15. Aku tidak tau ingin berkata apa.. Aku syub begitu lihat “end” dan tambah syub syub lagi ketika yang ngebunuh adalah KIM SEOKJIN..
    Aku tertipu (?) 😂
    Aku.. Pokoknya ini asdfkjfkfkfkddldkfmllll tidak bisa berkata. Speechless ahhh entahlah ..mulai ngelantur jadi aku sudahi saja. Last, the best lah pokoknya. Thank you kak 👍👍👍

    Liked by 1 person

  16. hasa

    Wah ternyata kim seokjin pembunuhnya..
    Aku tertipu dengan semua triknya, memang sih awal kira jin oppa yang bunuh karena berkaitan dengan garam .. tapi gak muncul kecurigaan dan tak disangka sangka dialah sang pembunuh..
    Jadi syedih😢😢..
    Waaw ff seru banget, aku sampe nunggu kapan dipost eh akhirnya udah dan finaly ceritanya sukses buat aku tercengang haha.. maaf kepanjangan hehe pokonya sukses buat project ffnya… 👏👏👏👏👍👍
    Di tunggu ff selanjutnya…😄😄 daebak

    Liked by 2 people

  17. OKE.FINE! BUKAN HAYOON TAPI JUSTRU SEOKJIN. (ingin mengumpat dalam 75 bahasa)
    hfdgjsadajfdbdkjsekbfuh

    Sudahlah sudahi ini saja!!! 😤 eh, emang udah kelar kok yaa wkwkwk
    bang jin mau kamu kemanain ay? lempar ke rumahku aja sini. Garem banyak loh hahaha

    Anw, congrats udah bikin aku wkvbcyfts KENAPA SEOKJIN BUKAN HAYOON?
    /eh dibahas lagi 😁

    De last, semangat buat next project!!!

    Liked by 1 person

  18. SEOKJIN TERNYATA! DIKIRA JJK ATO HAYOON, TAPI MALAH SEOKJIN!

    Aku melongo waktu baca bagian Seokjin ngaku. Akhh, kasian Jungkook.
    Joha! Aku suka banget sama ini [walaupun ratingnya gak cocok buat aku] Aku suka ff yang ‘berdarah-darah’ (ampun, psiko skali ni anak)
    Tapi kak, aku rada gak ngeh waktu Seokjin ngebunuh Namjoon. Bukannya Tae sama Hoseok pergi duluan, terus JJK pergi, kok Seokjin bisa nyamper duluan?
    Terus mobilnya? berhenti di tengah jalan? ditinggalin di tengah jalan gitu? (malah mkirin mobilnya)

    Semangat kak buat ff selanjutnya!

    Liked by 1 person

    1. Nah nah haha soal seokjin yg nyampe duluan itu ada disinggung dibagian dia bunuh namjoon hayoon itu, dia lari lewat jalan pintas yg ga makan banyak waktu (emang udah direncanain sejak awal) terus mobilnya, kan di chap sebelumnya dia sempet nabrak tuh, nah dia sengaja, posisinya juga deket jalan pintas yg dia tau (jalan pintas yg cuma bisa dilalui dengan jalan kaki) terus jalanan kan lagi macet banget itu, makanya jin bisa nyampe duluan dan bawa kabur namjoon hayoon terus yagitu ehe masih bingung ga sih? Semoga engga ya ehe ehe

      Thanks banget udah ngikutin ini fic sampe akhir ya kak! Sampe ketemu di proyek berikutnya♥️

      Liked by 1 person

  19. RiskaRii

    aku tertipu, aku terjebak, aku terperangkap muslihatmu.. *nyanyi
    aaakkk author… aku tertipu.. aku kira pembunuhnya si hayoon, dan aku juga sempet curiga sama si jungkook. huhu maafkan aku karna mencurigai kalian 😦
    huwaaa ternyata yang psiko si seokjin 😦 kenapa aku ga kepikiran yak? awalnya waktu yoongi meninggal aku sempet curiga sama Jin, soalnya dia terampil(?) dalam hal adonan(?). tapi lama2 aku malah curiga sama JK soalnya tingkahnya mencurigakan, dan terakhir aku curiga sama hayoon, dia juga mencurigakan. tapi ternyata aku curiga sama orang yg salah 😦 dan btw itu Wonwoo nya kasihan, pacarnya meninggal, yeoja yg suka sama dia meninggal, dan dia nya juga meninggal 😥

    oh author.. sungguh ini ff bagus pake banget, keren, perfect, spektakuler, lain daripada yang lain, dan aku sukaa banget. ga nyesel deh baca, ngikutin, dan nungguin FF ini 🙂
    nanti bikin ff yg kayak gini lagi yak? haha
    semangat nulisnya author ^^ kutunggu karya2 mu yg selanjutnya ^^

    Liked by 1 person

    1. Asik ada yg nyanyi asik /goyang dulu/

      Huhu aku sampe bingung kudu balesin komenan ini begimana TAPI AKU MAU NGUCAPIN MAKASIH BANGET BIKOS UDAH NGIKUTIN INI FIC SAMPE AKHIR /edisi ga nyante/

      Terus soal wonwoo yg kasihan itu….iyaya, kok aku baru sadar sih /plak

      Aah big thanks deh ya, sampe ketemu di proyek berikutnya!♥️

      Like

      1. RiskaRii

        tapi itu nasibnya si detective begimana? dia dibunuh juga? haha
        kan waktu nelpon(?) gitu dia bilang katanya udah tau siapa pembunuhnya, nah sbenernya yg dia curigain tuh sapa? Jin? Jeka? apa hayoon? keknya sih itu detective nya ketipu juga sama kayak aku haha /nyari temen/

        Liked by 1 person

      2. Yup, detektifnya dibunuh seokjin juga. Dan alasan si detektif gamau ninggalin seokjin karena dia curiga sama seokjin terus habis nelepon itu seokjin ngerasa dia terancam ya gitu jadinya seokjin bunuh deh ehe bikos terlalu panjang jadi ga dimasukin di cerita /digiles 😂😂😂

        Btw thanks sudah ngikutin sampe akhir ya kak!♥️

        Like

  20. Vyoong

    Kim Seokjin sekyahhhh😤😤😤😤😤 Ternyata emang bener dugaan awalku -,- Akhirnya pembunuh sebenarnya gak pernah ketangkep ╥﹏╥ keren banget cara bunuhnya sangat berkelas 😂😂😂😂jin disini jadi genius jjang jjang man bbong bbong😂😂😂 Terkutuklah engkau wahai Kim Seokjin! 😂😂😂😂

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s