[BTS FF Freelance] Sometimes – Twoshots #1

sometimes-req-1

Author: Lexayoung198 | Title: SOMETIMES | Main cast: Park Jimin (BTS) & Lee Hakyung (You/OC)

Support cast: Jungkook, Jin, Taehyung, & Hoseok (BTS) + Mijoo & Sujeong (Lovelyz)

Genre: Romance | Rating: PG 15 | Length: Twoshots

poster by

Kyoung @ Poster Channel

.

.

SOMETIMES (1/2)

.

terkadang…

aku memikirkanmu

terkadang…

ketika melihatmu, aku rindu

terkadang…

hatiku masih berdebar karenamu

***

Hakyung terbangun dengan sakit di kepalanya. Belum lagi pegal yang terasa di seluruh tubuhnya. Apa ini karena ia tidur di atas sofa sepanjang malam? Mungkin iya. Masih terbaring di tempat itu, Hakyung memandangi langit-langit. Ingatannya seolah membawa gadis itu pada kejadian semalam. Tidak ada hal luar biasa terjadi, selain Hakyung terlalu mabuk karena banyak minum minuman beralkohol. Untungnya tadi malam ia tidak sendiri. Ada seorang teman yang membawanya ke apartemen. Tapi apa yang dilakukan Hakyung semalam, hanya sebagai pelampiasan. Setelah tidak sengaja melihat mantan kekasihnya bersama seorang gadis yang Hakyung kenal juga. Menurut Hakyung, malam itu mereka tampak sangat dekat dan mesra.

Hakyung tidak suka situasi itu. Ia benci karena terus-terusan melihat mantan kekasihnya, Park Jimin. Hal tersebut terjadi karena mereka berdua tinggal di daerah yang sama dan kuliah di tempat yang sama pula.

“Ugh…” erangan kecil keluar dari bibir Hakyung saat ia mengangkat kepalanya. Kedua tangan menopang kedua sisi tubuhnya. Masih berada di sofa panjang, Hakyung mengedarkan pandangannya pelan-pelan.

“Apa aku tidak tidur di rumahku lagi?”

“Kau benar, Noona.” Tiba-tiba seorang laki-laki berambut cokelat yang baru berjalan dari dapur menjawab pertanyaan Hakyung.

“Ah… Jungkook. Maaf aku tidur lagi di rumahmu.”

Pemuda bernama Jungkook itu tersenyum, “Tidak apa-apa, Noona. Daripada kau tidur di lorong atau terus-terusan menekan tombol pintuku dengan password-mu.”

Ya! Apa kau menyindirku? Kemarin malam aku hanya tidak tahu kalau ternyata itu pintumu,” ucap Hakyung agak kesal.

“Ya sudah, Noona. Hmm… tapi kenapa kau mabuk? Jarang-jarang kau begitu.”

“Itu karena—”

Kalimat Hakyung terpotong saat ia melihat seorang laki-laki yang keluar dari kamar mandi. Hakyung menjadi kaget karena hal itu, tapi orang yang dilihatnya hanya menatap datar ke arahnya sekilas. Kemudian, pria itu berjalan menuju ruang tamu.

Aishh! Kenapa ada Jimin di sini?” Hakyung bertanya dengan nada kesal.

“Ini kan rumahku, Noona. Jadi wajar kalau temanku datang ke sini.” Jungkook menampakkan tampang polosnya.

Aish,” Hakyung masih berdesis kesal. Lalu, dengan perasaan marah dia kembali berbaring dan memposisikan dirinya membelakangi Jungkook.

“Noona, kau jangan tidur lagi!”

Hakyung tidak mempedulikan ucapan Jungkook. Ia menyelimuti tubuh, bahkan kepalanya juga. Jungkook mendekati Hakyung dan mengoncang-ngoncangkan bahunya. “Noona! Jangan tidur! Ini sudah siang.”

“Jangan ganggu aku, Jungkook. Aku masih mengantuk,” Hakyung bertutur tanpa membuka matanya.

Jungkook tampak kesal. “Noona! Kau boleh melanjutkan tidurmu. Tapi jangan di sini. Ini rumahku, Noona.”

Mendengar ucapan itu, Hakyung langsung bangun dan menatap Jungkook dengan sorot mata yang tajam hingga membuat Jungkook bergidik ngeri.

Pemuda berusia 20 tahun itu memasang senyumnya dan ikut duduk di sebelah Hakyung. “Maksudku bukan mengusirmu, Noona.” Jungkook menebak pikiran Hakyung. “Tentu saja kau boleh tidur di sini, tapi masalahnya aku mau pergi.”

“Pergi? Ke mana?”

“Aku dan teman-temanku yang lain mau pergi ke pantai. Kami mau menghabiskan waktu akhir pekan di sana.”

“Oh,” balas Hakyung, tidak tertarik.

“Noona! Kau juga bisa ikut. Ayo ikut saja Noona. Kau dan teman-temanku juga saling kenal kan.”

Hakyung beranjak. “Tidak,” jawabnya singkat.

“Ayolah, Noona! Jimin Hyung juga ikut.” Jungkook sedikit menggoda Hakyung.

Ya! Kenapa kau malah bawa-bawa dia.”

“Aku bercanda, Noona.” Jungkook tersenyum lebar. “Ayolah, Noona. Kau ikut saja daripada kau hanya tidur seharian. Lebih baik ikut bersamaku bermain di pantai.”

“Tidak mau. Kau saja yang pergi.” Hakyung menolak lagi.

Sementara Jungkook tidak menyerah, “Masa kau tidak ikut, Noona. Ayolah. Pasti menyenangkan di sana.”

“Kau berisik sekali Jeon Jungkook.”

Dengan kedua tangan seperti orang memohon, Jungkook merajuk. “Ya, ya, ya… Noona. Ayo ikut.”

Hakyung tampak berpikir, sepertinya dia berubah pikiran.

***

Di depan gedung apartemen, tiga orang sedang menunggu. Hakyung berdiri di sebelah Jungkook. Sementara, Jimin berdiri di sisi lainnya. Setelah lama membujuk, Hakyung akhirnya mau ikut.

Hanya ada percakapan antara Jungkook dan Hakyung atau Jungkook dan Jimin. Jangan harapkan pembicaran terjadi antara Hakyung dan Jimin. Itu sudah berlangsung cukup lama sejak mereka putus.

“Mana temanmu? Katanya mereka mau datang.”

“Sabar, Noona. Sebentar lagi,” jawab Jungkook pada Hakyung.

“Jungkook, apa tidak ada yang tertinggal?” tanya Jimin.

“Iya, Hyung. Aku sudah mengeceknya tadi.”

Tidak lama kemudian sebuah mobil hitam masuk ke halaman gedung apartemen. Mobil itu terhenti di dekat ketiganya berdiri. Kemudian, turun dua orang dari kendaraan itu. Hakyung kenal mereka, Jin dan Mijoo. Keduanya menjalin hubungan sudah hampir setahun.

Jin dan Mijoo menghampiri Jungkook, Hakyung, dan Jimin sembari tersenyum.

“Maaf kami telat sedikit,” tutur Jin.

“Tidak apa-apa, Hyung,” sahut Jungkook.

“Halo Hakyung. Sudah lama tidak bertemu.” Mijoo menyapa ramah.

Hakyung membalasnya dengan senyuman saja.

“Oh! Hakyung! Aku kira kau tidak akan ikut.” Jin juga ikut berbicara pada Hakyung. “Apa karena ada Jimin?” lanjutnya.

Jungkook langsung menyenggol tangan Jin dan menatapnya, seolah dari sorot matanya mengatakan kalau ia tidak boleh bertanya seperti itu.

“Aku kan dekat dengan Hakyung Noona. Makanya aku mengajaknya juga.” Jungkook mengalihkan jawaban.

Hakyung hanya diam mendengarnya. Semua orang tahu kalau dulu ia dan Jimin berpacaran. Mereka selalu menampilkan sisi yang manis dan romantis ke semua orang yang melihat. Tapi sekarang, keadaannya berbeda.

“Ayo kita pergi,” ajak Jin.

“Tunggu dulu. Yang lain belum datang,” sergah Jungkook.

Sesaat kemudian, datang tiga orang yang berjalan ke arah mereka berkumpul. Taehyung, Hoseok, dan Sujeong. Hakyung menyembunyikan kekagetannya saat mengetahui kalau Sujeong juga ikut dalam liburan ini. Sujeong adalah gadis yang dilihat Hakyung bersama Jimin semalam.

“Maaf ya kami terlambat.” Taehyung tersenyum tanpa dosa.

“Makanya kau jangan bangun kesiangan, Taehyung,” sindir Hoseok.

Sedangkan Sujeong menghampiri Jimin. “Oppa! Jadi kau benar-benar ikut.” Sujeong tersenyum pada lelaki berambut abu-abu itu.

Jimin mengangguk.

“Aku jadi senang,” ucap Sujeong lagi.

Dan percakapan kecil mereka berhasil membuat suasana hati Hakyung jadi tidak baik. Ia berpikir kalau seharusnya ia tidak mengiyakan ajakan Jungkook.

“Sudah ayo kita pergi.” Jin mengajak teman-temannya untuk segera naik mobil.

Jin sendiri menjadi supir mereka. Ia duduk di depan kemudi bersama Mijoo yang duduk di jok depan. Hoseok, Jimin, dan Sujeong duduk di bagian paling belakang. Taehyung, Jungkook, dan Hakyung duduk di bagian tengah.

“Teman-teman! Kita berangkat sekarang,” tutur Jin bersemangat. Ia pun mulai melajukan mobilnya. Sementara yang lain bersorak senang, kecuali Hakyung yang memilih bungkam.

Waktu yang ditempuh untuk sampai tujuan mereka adalah sekitar empat jam. Di sepanjang perjalanan, Hakyung harus bersabar. Jungkook, Hoseok, dan Taehyung yang berperilaku tidak jelas dan heboh sendiri. Jin dan Mijoo yang saling berbicara dan bersikap mesra satu sama lain. Belum lagi Sujeong yang terus berdekatan dengan Jimin, mulai dari menawarinya makanan atau menanyakan apa pun pada mantan kekasihnya itu. Rasanya Hakyung ingin melarikan diri dari dalam mobil. Pergi sejauh mungkin dari mereka. Namun, tidak bisa. Hakyung memilih memasang earphone pada telinganya, lalu menyandarkan kepala sambil melihat pemandangan dari jendela kaca mobil.

***

“Teman-teman! Ayo turun. Kita sudah sampai.” Jin mematikan mesin mobil dan turun dari kendaraan itu. Ia juga membuka pintu mobil untuk kekasihnya. Sementara itu, Hakyung bersiap turun. Namun, tidak sengaja ia melihat ke jok belakang yang ditempati Jimin, Sujeong, dan Hoseok. Hakyung tertegun saat mellihat Jimin sedang membangunkan Sujeong yang tertidur dengan posisi kepala yang menyandar pada bahu Jimin.

“Sujeong, bangunlah. Kita sudah sampai.” Jimin menepuk-nepuk pundak gadis yang ada di sebelahnya itu.

“Noona, ayo turun.”

Perkataan Jungkook menyadarkan Hakyung. Dia bergegas turun. Setelah berada di luar mobil, Hakyung terdiam. Namun, di dalam hatinya ia berkata, “Mereka membuatku kesal. Tapi tunggu, kenapa aku mesti kesal? Jimin bukan lagi pacarku. Jadi, aku tidak perlu cemburu.

Di tempat Hakyung berdiri, terdapat sebuah rumah berlantai dua yang cukup besar.

“Wow… rumahnya bagus. Apa kalian menyewa ini juga?” Sujeong bertanya setelah turun dari mobil.

“Tentu saja kami tidak mengeluarkan uang untuk ini,” sahut Taehyung.

“Keluarga Jin Hyung sangat kaya. Mereka bahkan punya rumah seperti ini di beberapa tempat,” tambah Hoseok.

Sujeong mengangguk-ngangguk takjub. Jimin sendiri diam-diam memperhatikan Hakyung yang berdiri di sebelah Jungkook. Tampak tidak ada kegembiraan pada wajah mantan kekasihnya itu.

“Ayo masuk. Bawa barang-barang kalian juga.” Jin memasuki rumah itu setelah menekan password yang ada di bawah gagang pintu. Dia membantu Mijoo dengan membawakan sebuah tasnya. Taehyung dan Hoseok mengekori mereka. Selanjutnya Jimin dan Sujeong berjalan di belakang Taehyung dan Hoseok. Sedangkan Jungkook dan Hakyung masih berdiri di luar.

“Noona, ayo kita masuk,” ajak Jungkook.

Hakyung pun berjalan masuk ke dalam rumah itu, namun tanpa berkata apapun pada Jungkook. Bahkan menoleh pun tidak. Hal itu membuat Jungkook terheran.

“Noona tunggu aku!”

***

Di ruang tengah semuanya berkumpul. Jin sengaja mengumpulkan semuanya sebelum masuk ke kamar masing-masing.

“Aku ingin mengatakan kalau kamar ada di lantai atas dan jumlahnya hanya ada tiga. Tapi kalian tenang saja, kamarnya cukup luas untuk ditempati dua sampai tiga orang. Jadi, kita langsung bagi saja. Mijoo, Sujeong, dan Hakyung di kamar pertama. Taehyung dan Hoseok di kamar kedua. Terakhir, aku, Jimin, dan Jungkook di kamar ketiga,” jelas Jin. “Tapi sebelum kalian ke kamar masing-masing. Aku ingin mengingatkan kalau hanya terdapat beberapa persediaan makanan di rumah ini. Jadi, harus ada yang pergi belanja. Siapa yang mau?”

“Kau saja, Hyung,” usul tiba-tiba Taehyung.

Jin langsung memberikan tatapan tajam. “Enak saja, aku sudah capek menyetir. Kau tahu itu.” Tolak Jin. “Baiklah kalau begitu kau saja Taehyung dan juga teman sekamarmu.”

Perintah dari hyung mereka itu mendapat respon keluhan dari keduanya. “Yah, Hyung…”

“Sudah kalian lakukan saja,” ucap Jin lagi.

Setelah diberikan uang dan diberikan kunci mobil serta catatan belanjaan, Taehyung dan Hoseok pun pergi.

Sepeninggal keduanya, Jungkook dan yang lainnya mendapat waktu senggang karena mereka menunggu Taehyung dan Hoseok kembali. Acara selanjutnya, mereka akan pergi ke pantai bersama-sama.

Jin dan Mijoo terlihat asyik berdua. Mengabaikan orang lain yang memperhatikan mereka. Jin duduk di sebelah Mijoo dan merangkulnya. Sementara tangannya yang lain menunjukkan layar ponsel pada kekasihnya itu. Tidak lama kemudian kedua saling tertawa. Entah apa yang ditonton mereka, yang pasti itu adalah tayangan lucu.

Aih mereka. Malah berpacaran di depan kita.” Jungkook berkomentar. Kemudian, menoleh pada Hakyung yang berada di sebelahnya. “Noona, ayo kita jalan-jalan keluar saja.”

“Tidak. Aku ingin tidur saja, Jungkook.” Hakyung meninggalkan Jungkook dan berjalan menuju tangga.

Jimin yang sedang duduk di sofa bersama Sujeong memperhatikan Hakyung yang menaiki anak tangga. Sujeong mengajak Jimin untuk pergi jalan-jalan bersamanya sambil menunggu kedatangan Taehyung dan Hoseok.

“Oppa, aku bosan diam saja di sini. Ayo kita berjalan-jalan keluar. Bagaimana?”

Jimin menoleh, ia tidak sepemikiran dengan Sujeong. “Sepanjang perjalanan ke sini aku tidak bisa tidur di mobil. Jadi, sekarang aku mau istirahat saja di kamar.” Jimin menolak permintaan Sujeong dengan halus. Akan tetapi, tetap saja Sujeong merasa sangat kecewa atas respon Jimin.

Jungkook melihat Sujeong yang kini duduk sendiri karena Jimin sudah berjalan menuju lantai atas. Ia menghampiri gadis berponi itu. “Bagaimana kalau pergi bersamaku saja?” tawar Jungkook.

“Tidak. Aku malas,” jawab Sujeong.

Di lantai atas, Hakyung sudah menutup pintu kamarnya yang bersamaan dengan sampainya Jimin di lantai tersebut. Tanpa ada yang melihat, bukannya Jimin masuk ke kamarnya. Ia malah berjalan ke kamar yang Hakyung tempati. Lalu, membuka pintu tersebut. Awalnya sempat ragu, tapi Jimin meneruskan niatnya untuk masuk ke dalam kamar itu.

Seperti perkiraannya. Hakyung yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya terlonjak kaget saat melihat Jimin masuk. Terlebih langkah Jimin terarah padanya.

“Apa yang kau lakukan? Ini bukan kamarmu.” Hakyung bicara tanpa menatap Jimin.

“Ayo bicara.” Jimin menarik lengan Hakyung hingga membuatnya berdiri.

Namun, gadis itu tidak mau. Dia buru-buru melepaskan tangannya dari Jimin. “Tidak ada yang harus dibicarakan.”

“Ayo bicara.” Jimin mengulangi perkataannya.

“Tidak mau. Aku ingin tidur. Lebih baik kau keluar.”

“Lee Hakyung!”

“Apa lagi?” Kali ini Hakyung melihat ke arah lawan bicaranya.

Tapi Jimin jadi diam. Ada kata-kata yang tersendat di kerongkongannya. Dari bibirnya hanya keluar ucapan tanpa suara. Kedua netranya menatap lekat wajah gadis yang ada di hadapannya itu. Sebelum sesaat kemudian, datang seseorang yang mengganggu momen mereka.

“Oppa… Kenapa kau ada di sini?”

Jimin dan Hakyung sama-sama menoleh ke arah pintu kamar. Rupanya Sujeong yang datang dan melihat mereka dengan penuh keingintahuan.  

“Bukan apa-apa.” Jimin merespon tenang. Ia sempat menatap Hakyung sebentar sebelum akhirnya pergi dari kamar itu. Sujeong yang masih berada di muka pintu, menatap heran Jimin yang memunggunginya karena lelaki itu sekarang sedang berjalan menuju kamarnya.

“Bisa kau tutup pintunya? Aku mau tidur sekarang.” Hakyung berbicara pada Sujeong. Gadis itu mengangguk dan menutup pintunya dari luar.

Hakyung berbaring di salah satu tempat tidur. Ia mencoba memejamkan matanya dan tidur walaupun saat ini ada yang dipikirkannya. “Park Jimin bodoh! Aku membencinya,” ucapnya dalam benak.

***

Langit yang cerah. Gumpalan awan putih tersebar menghiasi langit biru itu. Sepanjang matanya menerawang jauh ke hamparan laut, Hakyung tertegun. Ada senyum tipis terulas sebentar di wajahnya. Debur ombak adalah musik alam yang dtangkap oleh pendengaran gadis berambut blonde itu. Hakyung menikmati apa yang ada di hadapannya sekarang. Gadis itu tidak berniat untuk berbasah-basahan seperti yang dilakukan Taehyung dan Hoseok. Mereka berdua langsung berlari penuh semangat masuk ke dalam air. Tanpa melepas kaosnya, Taehyung dan Hoseok berenang dan menunggu terjangan ombak yang akan mengenai tubuh mereka.

Jin dan Mijoo bermain kejar-kejaran di sepanjang sisi pantai. Sambil sekali-kali berhenti dan saling mencipratkan air laut. “Benar-benar pasangan yang sedang bahagia,” pikir Hakyung ketika melihat mereka berdua.

Sementara itu, Jungkook berada di sebelah Hakyung. Ia meregangkan tangannya ke atas tinggi-tinggi. Sambil menghirup udara di sana. “Menyenangkan sekali,” komentarnya. “Noona, ayo kita berenang juga.”

Hakyung menggelengkan kepalanya. “Tidak mau. Aku malas basah.” Aku menolak ajakan Jungkook karena ia tidak ingin apa yang dipakainya saat ini, kaos putih lengan pendek dan celana pendek berwarna merahnya terkena air.

“Yah Noona! Kau tidak asyik sekali. Buat apa jauh-jauh ke pantai kalau tidak berenang.” Jungkook berkomentar lagi. Tapi, yang mendengar komentar hanya diam.

“Ya sudah. Aku mau menyusul mereka.” Jungkook pun setengah berlari menghampiri Taehyung dan Hoseok yang sudah berada di dalam air.

Dari kejauhan, Hakyung mengamati Jungkook yang tertawa lepas dan terlihat sangat bahagia. Terdengar sebuah percakapan yang berasal tidak jauh dari tempat Hakyung berdiri. Gadis itu menoleh ke arah kanan. Kedua matanya langsung menangkap sosok Jimin dan tentu saja ada Sujeong di dekatnya.

“Oppa, aku takut…” Sujeong berucap manja.

“Takut? Apa maksudmu?” tanya Jimin.

“Sebenarnya aku takut kalau berenang di laut. Aku pernah terseret ombak dan hampir tenggelam.”

“Ya sudah kau tidak usah berenang saja.”

“Tapi aku ingin berenang, Oppa. Apalagi kalau bersama Oppa. Pasti aku tidak takut.” Sujeong berkata seraya menatap Jimin.

“Hmm… aku ingin duduk-duduk dulu di sini.” Jimin menurunkan tubuhnya dan mengambil posisi duduk di atas pasir pantai dan melentangkan kedua kakinya. Kedua tangannya bertumpu di kedua sisi tubuhnya. Kaosnya yang tanpa lengan memperlihatkan otot lengannya yang membuat Sujeong terkagum.

“Aku juga ingin di sini dulu.” Sujeong memposisikan dirinya di sebelah Jimin. Dia bermain dengan pasir pantai dan membentuk sesuatu. Hal itu dilakukan Sujeong untuk menepis kecanggungan.

Secara tidak sengaja, Jimin yang sedang mengamati sekitar, bertemu pandangan dengan Hakyung yang tertangkap sedang melihat ke arahnya. Namun, Hakyung buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Jimin melihat padanya. Kemudian, Hakyung berjalan dari tempatnya berdiri. Dia menjauh dari Jimin dan Sujeong agar membuat Hakyung tidak melihat mereka berdua. Sedangkan Jimin penasaran ke mana arah Hakyung pergi. Pria berambut abu-abu itu sebenarnya ingin menghampiri Hakyung, tapi Jimin tahu kalau Hakyung akan menghindarinya.

“Sujeong! Jimin! Ayo ikutan!” Taehyung berseru agar kedua temannya itu bergabung untuk bermain saling melempar bola di dalam air. “Ini menyenangkan!” Taehyung berseru lagi dan melempar sekuat tenaga bola yang dipegangnya ke arah wajah Hoseok. Hingga membuat wajah Hoseok memerah dan ia pun terdorong. Taehyung dan Jungkook tertawa melihat Hoseok.

“Oppa, aku mau ikutan.” Sujeong langsung berlari ke dalam air tanpa mendengarkan kata-kata Jimin.

“Ah… kenapa Sujeong malah ikutan. Bukannya dia takut laut,” ucap Jimin.

Di tempat lain yang cukup jauh dari mereka, Hakyung duduk di atas batu-batu yang kebetulan ada di dekat bibir pantai. Dari sana dia melihat Jungkook dan teman-temannya bermain melempar bola. Tawa dan wajah senang tampak dari wajah mereka. Sujeong juga ikut bergabung. Dia amat senang melempar bola ke arah Jungkook hingga mengenainya.

Kesenangan dirasakan mereka, berbeda dengan Hakyung. Entah perasaan apa yang tepat menggambarkan dirinya sekarang. Hakyung hanya memperhatikan ombak yang terus datang ke arahnya dan bahkan sampai menciprati kakinya.

“Harusnya aku tidak datang ke sini.” Hakyung bergumam sendiri.

Lamunan Hakyung terpecah karena mendengar suara teriak minta tolong. Ia langsung berdiri dan melihat dari mana suara itu. Ternyata, Sujeong yang berteriak. Dia berada di area laut yang cukup dalam karena mengambil bola yang dilemparkan Hoseok terlalu jauh. Sujeong yang panik karena terbawa ombak membuatnya tidak bisa menggerakkan kaki dan tangannya untuk berenang.

Orang-orang langsung terkaget melihat kejadian itu. Jin dan Mijoo yang berada cukup jauh dari kejadian itu langsung berlari menghampiri. Begitu juga Hakyung, meskipun ia tidak suka Sujeong, tapi kalau keadaannya seperti itu tetap saja ia merasa harus membantunya. Hakyung berjalan tergesa-gesa menghampiri. Akan tetapi, tiba-tiba saat sudah cukup dekat, langkah Hakyung terhenti. Ia melihat Jimin berlari masuk ke dalam air dan dengan cepat berenang ke arah Sujeong. Hoseok, Taehyung, dan Jungkook yang hendak menolong Sujeong jadi tertahan karena melihat aksi Jimin yang sudah mendahului mereka.

Jimin sampai pada Sujeong lalu membawanya dengan menarik tubuh Sujeong. Jimin terus berenang sambil satu tangannya memegangi Sujeong. Jungkook yang berenang ke arahnya, membantu Jimin membawa Sujeong. Hampir sampai di bibir pantai. Jimin membopong tubuh Sujeong menjauh dari laut. Dibaringkannya Sujeong, namun gadis itu dalam keadaan tidak sadar. Kecuali Hakyung, semuanya sudah berada di dekat Sujeong dan Jimin yang berada di sampingnya. Jimin menepuk-nepuk kedua pipi Sujeong. “Sujeong sadarlah… bangun…” ucap Jimin.

“Bagaimana ini? Bagaimana bisa Sujeong hampir tenggelam tadi?” ucap Mijoo khawatir.

“Sadarlah Sujeong…” Jimin kembali menepuk-nepuk wajah Sujeong dengan cemas.

Tanpa instruksi dari siapapun Jimin pun memberikan nafas buatan pada Sujeong. Sekitar tiga kali Jimin melakukannya. Beberapa saat kemudian, Sujeong terbatuk-batuk dan air keluar dari mulutnya.

“Syukurlah, Sujeong…” Mijoo dan yang lainnya kini merasa lega.

Jimin membantu mendudukkan Sujeong. “Kau tidak apa-apa?” tanya Jimin.

Sujeong mengangguk lemah.

“Sebaiknya kita kembali ke penginapan.” Jin berusul.

“Iya itu benar. Aku setuju. Kasihan Sujeong,” sahut Hoseok.

“Naiklah ke punggungku,” Jimin menawarkan diri untuk mengendong Sujeong. Dibantu yang lain, Sujeong naik ke punggung Jimin lalu membawanya berjalan pulang. Diikuti yang lainnya di belakang. Sementara itu, Jungkook menoleh pada Hakyung yang sedang berdiri tidak jauh dari perkumpulan tadi. Jungkook menghampiri Hakyung dan setelah berada di hadapannya, Jungkook memperhatikan Hakyung yang terus melihat Jimin dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan menurut Jungkook.

“Noona? Kau baik-baik saja?”

Hakyung melirik Jungkook, “Aku baik-baik saja,” ucapnya pelan. “Ayo pergi.” Hakyung berjalan meninggalkan tempat itu.

“Baik-baik apanya? Jelas-jelas terlihat kalau Hakyung Noona sedang tidak baik-baik saja saat ini,” komentar Jungkook. “Noona! Tunggu aku!” Jungkook pun menyusul Hakyung yang sudah jauh beberapa langkah darinya.

***

tbc

Mind to review?

Ini adalah ff pertamaku. Maaf kalau ada yang kurang sesuai. Tinggalkan jejak ya ^^

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF Freelance] Sometimes – Twoshots #1

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s