[BTS FF Freelance] Bittersweet and Crazy (Prologue)

bittersweet-crazy-cover

Title : Bittersweet and Crazy

Author : Hida Kim

Genre : Romance, Friendship, Work Life

Rating : PG-15

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni milik author, jadi jika ada kesamaan nama ataupun tempat dengan cerita lain, maka hal itu diluar kesengajaan. Author juga akan sangat menghargai komentar dari para pembaca, so don’t be silent reader please^^

Casts :

Park Ha Na

28 years old

Aera Group CEO

The only heir of Aera Group

Cold-Appearance, Work-aholic, Stubborn but warmhearted, Independent, Modest

Engaged to Jeon Jung Kook

Kim Tae Hyung

28 years old

New Rising Actor

Gentle, Caring, Loyal, Sociable, Hard-working, Calm

Still stucked on a girl from his past

Jeon Jung Kook

28 years old

Zeus Multinational Company’s President

The only heir of Zeus Multinational Group (One of the biggest company in Asia)

Arrogant, Rude most of the time, Playboy, Very Wealthy

Engaged to Park Ha Na

Supporting Casts :

Park Min Young

28 years old

Production Team Head of Aera Broadcast Station

Bubbly, Easily fall in love, Straightforward, Ambitious

Park Ha Na’s Bestfriend

Has one-sided Love with Jung Ho Seok

Jung Ho Seok

31 years old

Park Hana’s Head of Secretary

Kindhearted, Hard-working, Patient, Sincere

Park Ji Min

28 years old

Freelance Photografer

Flirty, Kind, Caring, Friendly

Park Ha Na’s bestfriend, since childhood

Park Min Young’s Ex-boyfriend

Kim Nam Joon

29 years old

Bar Owner and Bartender

Kind, Mature, Generous, Romantic, Sympathetic

Loves to give relationship advices, but broken-hearted all the time

Kim Seok Jin

29 years old

Model & Actor

Humble, Funny, Self-confident, Sociable

Park Ha Na’s Ex-Boyfriend

Min Yoon Gi

30 years old

Mezzo Bar’s Manager (Kim Nam Joon’s Bar)

Quite, Calm, Doesn’t talk too much

Kim Nam Joon’s Cousin

Prologue

(BGM : Bruno Mars – All About You)

You were never supposed to mean this much to me; I was never supposed to fall so hard. But you know what? I did and that’s the truth, that’s what keeps me holding on because it hurts like hell to let you go.”

“Park Min Young, di mana kau?” Gadis itu berjalan cepat menyusuri lorong luas dengan cahaya yang menyakitkan mata. Coffee carrier bag berisikan dua gelas kopi ia tenteng dengan tangan kanannya.

Di shooting area no. 5, kenapa?” Temannya menjawab dari seberang sana, dengan nada yang cukup keras karena suasana bising di sekitarnya.

“Aku ingin minum kopi denganmu. Ck, ini waktu makan siang, kenapa kau masih saja bekerja?” Ia melewati pintu kaca otomatis, yang menghubungkan lorong tadi dengan ruangan luas berdindingkan kaca di bagian depannya. Suasana ramai menyambutnya seketika, dengan beberapa orang berpakaian kerja yang lalu lalang di sana.

Bukankah sudah kukatakan berulang kali jika waktu shooting tidak memperdulikan jam makan siang?” Dengusan pelan dari Min Young terdengar dari speaker ponselnya.

“Hmm, benarkah? Ya sudah, kututup.” Gadis itu lantas berhenti di depan board berwarna putih yang berukuran cukup besar. Denah gedung itu tergambarkan jelas di sana. Tatapannya naik turun ke setiap lantai, hingga menemukan ruangan yang ia cari berada beberapa lantai di atasnya.

Dimasukinya lift terdekat, yang saat itu cukup ramai, yang membawanya ke lantai 6. Gadis itu lantas berjalan menyusuri lorong yang cukup sepi, dan berhenti tepat di depan pintu besar dengan papan bertuliskan Shooting Room 5 tergantung di sana. Ia berjalan masuk, dan disambut oleh orang-orang yang tengah mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.

Ruangan itu berukuran cukup besar, yang di dalamnya berdiri beberapa setting untuk keperluan shooting di sana. Kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, toilet, hingga ruang kerja buatan yang didirikan hanya untuk satu season drama. Pekerjaan yang cukup memuaskan dari tim kreatif stasiun TV itu.

Ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok temannya yang beberapa waktu lalu ia ajak berbicara di telepon. Tatapannya terhenti pada gadis bertubuh mungil dengan terusan kerja berwarna merah hati. Rambut coklatnya digelung ke atas, sementara tangannya sibuk membolak-balik setumpuk kertas yang nampak seperti laporan kerja.

Ia hendak melangkah ketika seseorang menyadari kehadirannya, “Direktur Park? Apa yang membawa Anda kemari?” Lelaki berkacamata dengan kemeja hitam dan celana khaki itu membungkuk dalam-dalam di depannya. Di lehernya terkalungkan name tag yang merupakan identitas pekerja di stasiun TV itu.

“Aku hanya ingin menemui temanku. Bukankah kau kepala tim kreatif di sini?” Ia menganggukan kepalanya singkat.

“A-ah, iya. Saya merasa terhormat Anda mengenali saya.” Ia membungkuk sekali lagi, bahkan lebih dalam, hingga hidungnya hampir menyentuh lututnya.

“Tentu saja aku mengenali pekerjaku, bagaimana tidak.” Gadis itu tersenyum singkat, “Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu.”

N-ne.” Ia membungkuk untuk yang ketiga kalinya, lantas pergi dan menghilang di ujung ruangan.

Gadis itu lantas berjalan menghampiri temannya, yang masih membolak-balik tumpukan kertas yang ia pegang.

“Min Young.” Ia berkata tepat di telinga temannya, karena gadis itu tak menyadari kehadirannya meski ia telah berdiri di sampingnya.

Min Young lantas terperanjat, “Hey! Park Ha Na, apa yang kau lakukan di sini?”

“Sudah kukatakan sepuluh menit yang lalu bahwa aku ingin minum kopi denganmu.” Ia mengangkat coffee carrier bag berisikan dua gelas kopi yang sedari tadi ia bawa, menunjukkannya pada temannya itu.

“Aish, kau hanya berkata seperti itu di telepon, jadi tak mungkin terlintas di benakku kau akan benar-benar datang ke sini.” Dilepaskannya ikatan rambutnya, membuat helaian coklat itu jatuh dengan sempurna di pundaknya.

Well, karena aku sudah di sini saat kita berbicara di telepon tadi, jadi mau bagaimana lagi.” Ha Na tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi, lantas diberikannya satu gelas kopi itu kepada Min Young, “Latte untukmu, dan untukku—”

Macchiato.” Min Young menyahut sebelum gadis di depannya itu sempat menyelesaikan perkataannya, “Kau benar-benar terobsesi pada jenis kopi yang satu itu.”

Who isn’t?” Ia tersenyum semakin lebar sementara Min Young hanya berdecak.

“Karena aku harus tetap mengawasi shooting ini, jadi kita minum di sini saja, okay?”

Alright.”

Mereka berdua duduk di bangku panjang di sudut ruangan, di balik deretan lampu yang digunakan untuk keperluan shooting. Dari sana, Ha Na bisa melihat jelas beberapa aktor yang sedang rehearsal untuk beberapa adegan yang akan diambil. Gadis itu terkesiap, ketika tatapannya tertuju pada salah seorang aktor dengan wajah luar biasa tampan dan kulit emas kecoklatan. Kemeja biru tua membalut tubuhnya yang tidak terlalu kurus namun tidak pula gemuk. Aktor itu tersenyum hangat, mempraktekkan adegan yang beberapa menit lagi akan ditangkap oleh kamera.

Perhatian Ha Na terpaku pada lelaki itu, terlebih karena dari sudut pandang si aktor, Ha Na tak terlihat dibalik sorotan lampu yang menyinarinya.

“Jadi kapan upacara pelantikanmu menjadi Presdir akan dilaksanakan?” Ucapan Min Young mengalihkan perhatian Ha Na.

Disesapnya Macchiato-nya, yang seketika membuat lidahnya merasakan rasa pahit dengan manis yang samar, “Bulan depan. Jika kau ingin datang, aku akan memintakan undangan untukmu.”

“Tidak terimakasih, aku sibuk bulan depan.”

“Ck, tak usah pura-pura sibuk, Park Min Young.” Ditatapnya kembali aktor yang sedari tadi mendapatkan perhatiannya, yang saat ini tengah berbicara dengan sang sutradara.

“Haha, aku hanya tidak suka menghadiri acara yang terlalu resmi seperti itu. Lagipula kita akan merayakannya sendiri setelahnya, bersama yang lain.” Ujarnya, “Jadi kau akan benar-benar menggantikan ayahmu mulai bulan depan?”

“Hmm, kurang lebih seperti itu.” Ha Na kembali menyesap macchiato-nya, ketika ponselnya bergetar dan menunjukkan panggilan masuk. Nama sekretarisnya pun muncul di sana.

Direktur Park, Anda di mana? Ini sudah hampir pukul satu, sebentar lagi rapat direksi akan dimulai.” Suara lelaki itu terdengar dari seberang sana, dengan nada yang menurut Ha Na menggelikan.

“Tentu aku sedang istirahat.” Gadis itu menghela nafas, “Tenang saja, aku tak akan terlambat. Lagipula mereka tak akan memulai tanpaku.”

Ha Na menutup panggilan itu tanpa menunggu sekretarisnya untuk berceloteh lagi.

“Ho Seok Oppa?” Min Young bersuara.

“Hmm. Aku harus kembali ke kantor sekarang, atau usianya akan berkurang dua tahun jika aku terlambat.” Ha Na terkekeh.

Min Young berdecak, “ Berhenti membuatnya pusing, Park Ha Na.”

“Kau selalu membelanya hanya karena kau menyukainya, kan?” Ha Na beranjak dari duduknya, dilemparkannya gelas kopinya yang hampir kosong di tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sekilas ia dapat melihat pipi temannya bersemu merah.

“Aku membelanya karena kau yang kelewatan.”  Min Young ikut berdiri.

Whatever, sudah aku pergi dulu.” Dilihatnya sekilas aktor itu yang kini tengah melakukan adegan yang tadi sempat ia latih. Senyum hangat masih terpeta jelas di wajah tampannya.

Ne.” Ujar Min Young.

Ha Na tersenyum singkat, lalu melangkah pergi.

“Ini sudah ketiga kalinya kau datang ke sini. Sebenarnya apa yang kau cari? Kau ke sini bukan hanya untuk menemuiku kan?” Min Young menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya, menatap Ha Na dengan pandangan menyelidik. Sementara yang ditanya, hanya tersenyum.

Mereka berdua kembali duduk di tempat yang sama, untuk ketiga kalinya dalam seminggu.

“Kelakuanmu ini mencurigakan. Katakan padaku, siapa yang kau kagumi di sini? Dari beberapa aktor yang ada di drama ini, siapa yang kau sukai?”

“Aku tak mengerti apa maksudmu.” Ha Na menjawab dengan ekspresi yang tak terbaca.

“Kita bersahabat sudah lebih dari sepuluh tahun, Park Ha Na. Aku tahu bagaimana kelakuanmu jika sedang tertarik dengan lelaki.” Min Young memicingkan mata, “Hmm, lemme see.”

Min Young melemparkan pandangannya ke arah setting ruang tamu tak jauh dari tempat mereka duduk. Di dalamnya terdapat dua aktor pria dan satu wanita, beserta tambahan sang sutradara yang tengah mengarahkan mereka, serta beberapa kru pencahayaan yang merupakan bawahannya.

“Apakah Kim Taehyung?”

Air muka gadis itu berubah untuk sepersekian detik, bereaksi atas nama yang baru saja sahabatnya katakan.

“Dia memang sedang naik daun sekarang. Jadi benar, kan? Kau ini penggemarnya atau bagaimana?” Min Young kembali menatap sahabatnya sembari membenarkan lipatan lengan kemejanya.

“Aku masih tak mengerti maksudmu.” Tatapan Ha Na, seperti biasanya, tertuju pada aktor dengan senyum hangat itu. Namun kali ini, senyum hangatnya tak terpeta di wajahnya, karena adegan sedih yang harus ia peragakan. Alis matanya bertaut, membaca setumpuk tebal naskah yang dipegangnya.

Whatever, I’m so done with you.” Min Young menggerutu pelan, lantas bangkit untuk menghampiri salah satu bawahannya, meninggalkan sahabatnya yang hanya tersenyum melihat wajah gadis itu yang tertekuk karena perkataannya.

Ia tetap dalam posisinya, dengan tatapan yang kembali terpaku pada sosok hangat itu. Sosok yang rasanya pernah mengisi mimpinya di malam hari. Sosok yang terasa jauh namun dekat.

Break!” Sang sutradara berseru, menandai waktu shooting yang telah selesai siang itu.

Ha Na terkesiap ketika lampu yang menyorot para aktor padam. Di saat yang bersamaan, matanya bertatapan dengan iris hitam itu, yang terasa hangat dan tidak asing. Selama beberapa detik, mata gadis itu terpaku, tak bisa lepas dari cengkraman si iris hitam. Dunia yang ada di sekitarnya saat itu terasa berhenti, dan seketika ia merasakan deja vu. Memori yang tidak asing segera masuk dalam ingatannya, yang membuat batinnya merasakan berbagai macam perasaan yang bercampur aduk.

“Hey.” Suara Min Young membawa Ha Na kembali ke tempatnya.

“Aku pergi dulu.” Lantas dengan tergesa-gesa, ia bangkit dari duduknya, tanpa menoleh ke arah temannya, dan berjalan cepat ke arah pintu keluar yang entah mengapa terasa lebih jauh dari sebelumnya. Gadis itu hampir melewati pintu kaca yang terbuka, ketika suara lelaki yang terasa tak asing menyerukan namanya.

“Ha Na?” Nada suara yang dalam itu, membuat Ha Na berhenti dan terpaku di tempatnya berdiri, “Kau Park Ha Na, benar kan?”

Beberapa orang yang berjalan melewatinya tak dihiraukan. Kini yang ada di pikiran gadis itu hanyalah pertimbangan untuk segera pergi dari sana, atau berbalik dan menatap iris hitam itu, sekali lagi.

Setelah beberapa saat berlalu, gadis itu pun menarik nafas dalam, dan memutar tubuhnya. Lelaki dengan senyum hangat yang ia perhatikan beberapa hari ini, berdiri di sana. Ekspresi wajahnya tidak terbaca. Ha Na menatapnya, tepat di manik mata, lantas tersenyum.

“Benar, ini aku Park Ha Na.” Ia menghela nafasnya dengan cepat, “Bagaimana kabarmu, Kim Tae Hyung?”

Advertisements

6 thoughts on “[BTS FF Freelance] Bittersweet and Crazy (Prologue)

  1. Ceritanya bagus author. Aku suka gaya tulisanmu, huhuhuhu, benar-benar mantap. Lanjut, walau aku belum berasa feel-nya di sini. Mungkin di chap selanjutnya. Aku harap ini fic yang complicated, hehehehe, suka, apalagi genre-nya buka school life.

    Mampir juga ya.
    Please, klik me ^.^

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s