[BTS FF Freelance] Sometimes – Twoshots #2 END

sometimes-req-1

Author: Lexayoung198 | Title: SOMETIMES | Main cast: Park Jimin (BTS) & Lee Hakyung (You/OC)

Support cast: Jungkook, Jin, Taehyung, & Hoseok (BTS) + Mijoo & Sujeong (Lovelyz)

Genre: Romance | Rating: PG 15 | Length: Twoshots

poster by

Kyoung @ Poster Channel

.

.

SOMETIMES (2/2 END)

.

terkadang…

aku memikirkanmu

terkadang…

ketika melihatmu, aku rindu

terkadang…

hatiku masih berdebar karenamu

***

Malam hari tiba, saatnya acara yang diadakan di halaman penginapan. Jungkook berserta yang lainnya menunggu Jin dan Mijoo selesai memanggang daging dan sosis sebagai makanan mereka malam ini. Terdapat sebuah meja kayu panjang. Jungkook duduk di sebelah Hakyung yang berada di ujung meja sebelah kanan. Sedangkan Jimin duduk di depan Hakyung. Di sebelah Jimin tentu saja ada Sujeong. Hakyung terlihat canggung karena harus berhadapan dengan Jimin. Sementara lelaki itu hanya memasang wajah datar padanya.

“Kau sudah baikan, Sujeong?” tanya Jungkook. Ia teringat kejadian Sujeong yang hampir tenggelam.

“Iya aku sudah merasa baikan sekarang,” sahut Sujeong. “Ini semua berkat Jimin Oppa. Terima kasih sudah menolongku.” Sujeong menatap Jimin dari samping.

Hakyung tidak tahan melihat tatapan Sujeong pada Jimin yang menurutnya ada suatu perasaan tersirat dari tatapan itu. Ia langsung membuang pandangan ke arah lain.

Setelah menunggu beberapa saat, Jin dan Mijoo membawa dua piring besar yang berisi potongan daging dan sosis panggang.

Yeahh… akhirnya kita makan.” Taehyung berseru senang.

Selama makan malam tersebut, Jungkook sangat perhatian pada Hakyung dan sering mengajaknya bicara. Jungkook bahkan beberapa kali menaruh daging panggang miliknya pada piring Hakyung.

“Makan yang banyak, Noona.” Jungkook berucap seraya tersenyum.

Hakyung hanya merespon datar pada laki-laki yang lebih muda darinya itu. Karena sikap peduli Jungkook pada mantan kekasihnya, Jimin terus memperhatikan mereka berdua yang ada di hadapannya. Mengabaikan Sujeong yang mengajaknya bicara.

Selesai makan malam, acara masih berlanjut. Mereka kembali ke dalam rumah. Di tengah rumah yang terdapat tv layar datar besar, mereka berkumpul. Kegiatan mereka selanjutnya adalah berkaraoke bersama. Kebetulan di rumah itu disediakan fasilitas untuk berkaraoke.

Lagu pertama dinyanyikan Jin dan Mijoo. Mereka menyanyikannya dengan romantis membuat yang lainnya iri. Kalau lagu pertama adalah lagu romantis, lagu kedua yang dipilih Taehyung dan Hoseok adalah lagu girlband. Mereka berdua bukan hanya bernyanyi, tapi juga menari persis seperti personel girlband. Hal itu membuat yang menonton tertawa atas kelakuan Taehyung dan Hoseok. Tidak cukup hanya sekali, mereka berdua menyanyikan lagu girlband lain. Kali ini Jungkook ikut bergabung. Sama seperti mereka berdua, Jungkook tanpa malu bernyanyi dan menari layaknya member girlband, bahkan gerakan menari Jungkook terkesan lebih luwes daripada Taehyung dan Hoseok.

Semua menjadi tertawa melihat penampilan ketiganya. Kecuali Hakyung. Dia duduk di paling ujung dari sofa panjang. Wajahnya datar ketika melihat aksi konyol teman-temannya itu. Sedangkan dari tempat duduk yang berbeda, Jimin memperhatikan Hakyung. Ia melihat tidak ada raut senang di wajah Hakyung. Malah terkesan sedih di antara orang-orang yang tertawa bahagia.

Setelah lelah bernyanyi dan menari, Jungkook menghampiri Hakyung dan duduk di sebelahnya. “Huh, Noona. Aku jadi capek.” Jungkook berkeluh.

“Makanya kau jangan terlalu bersemangat tadi,” komentar Hakyung.

Uuh, Noona. Aku benar-benar lelah,” ucap Jungkook sambil menyandarkan kepalanya di bahu perempuan yang dipanggilnya Noona itu.

Hakyung tidak merespon apa-apa. Dia dan Jungkook memang dekat. Jadi, jika Jungkook menyandar padanya seperti ini bagi Hakyung biasa saja. Akan tetapi, Jimin yang memperhatikan Hakyung sedari tadi, menatap cemburu pada mereka.

Masih dalam posisi menyandar, tangan Jungkook menjulur dan jemarinya meraih buah stroberi yang tersaji di meja. Jungkook mengambil satu lalu menawarkannya pada Hakyung. “Noona, kau mau?” tanyanya seraya menyodorkan buah tersebut langsung ke mulut Hakyung.

“Untuk kau saja.” Hakyung menepis pelan tangan Jungkook.

“Ya sudah kalau begitu.” Karena Hakyung tidak mau, Jungkook pun memakan stroberi yang diambilnya.

Seperti tidak mau jauh-jauh dari Hakyung, Jungkook masih menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Bahkan sekarang Jungkook melingkarkan tangannya pada lengan kiri Hakyung. “Noona…” ucap Jungkook.

“Ada apa? Berhenti merengek Jungkook. Kau bukan anak kecil lagi,” sahut Hakyung.

Jimin diam-diam mengepalkan tangan kanannya karena melihat Jungkook yang dekat dengan Hakyung. Tidak. Sangat dekat maksudnya. Dari sorot matanya tampak kalau Jimin tidak suka melihat kedekatan mereka.

***

Selesai acara berkaraoke itu, semuanya kini telah masuk kamar masing-masing. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Mereka bersiap tidur, termasuk Hakyung. Gadis berambut blonde itu sudah beberapa detik lalu terlelap tidur. Namun, pada pukul satu malam, Hakyung terbangun. Ia merasa sangat haus, sedangkan di kamar tidak ada air sama sekali. Terpaksa, Hakyung keluar kamar kemudian menuruni tangga menuju dapur. Belum sepenuhnya sadar ia berjalan. Sampai di dapur, Hakyung terkejut melihat ada seseorang di tempat itu yang tengah duduk sambil memainkan ponsel.

“Ya ampun,” tuturnya dengan nada kaget.

Mendengar perkataan tersebut, orang yang sedang duduk itu menoleh ke arahnya.

“Kenapa Jimin malah di sini dan belum tidur? Ah, apa dia insomnia lagi?” pikir Hakyung. Segera mengabaikan pertanyaan itu, Hakyung mengambil gelas yang ada di meja dan menuangkan air ke dalamnya. Hakyung meminum segelas air tersebut dengan beberapa kali tegukan.

Menghiraukan kehadiran Jimin, Hakyung hendak langsung pergi meninggalkan dapur. Akan tetapi, langkah Hakyung terhenti karena panggilan laki-laki tersebut.

“Hakyung…”

Yang dipanggil melirik ke arahnya, “Kenapa?”

Jimin bangkit dari duduknya dan menghampiri Hakyung. Tepat di hadapannya, Jimin menatap langsung matanya. Jarak mereka dekat sekarang. Dilihat dari dekat seperti itu membuat hal aneh terasa pada diri Hakyung. Hakyung merasakan jantungnya berdetak lebih cepat sehingga ia tidak berani membalas tatapan mantan kekasihnya itu.

“Hakyung…”

Jimin memanggil lagi. Hakyung terpaksa melihat ke arah laki-laki yang ada di hadapannya.

“Aku tidak bisa tidur,” ucap Jimin kemudian.

Hakyung terdiam mendengarnya. Sudah lama ia tidak mendengar Jimin mengatakan hal itu lagi. Biasanya saat mereka masih bersama, ketika Jimin tidak bisa tidur seperti saat ini. Jimin akan datang ke rumah Hakyung. Di sana Jimin berbaring di pangkuan Hakyung dan gadis itu akan mengelus-ngelus kepalanya sampai membuat Jimin tertidur.

“Kalau begitu paksakan tidur saja,” sahut Hakyung. Ia pun berniat pergi dari tempat itu. Namun, baru satu langkah pergi, Hakyung berhenti dan sangat terkejut. Bukan karena panggilan Jimin, tetapi karena semua lampu rumah tiba-tiba mati dan keadaan menjadi gelap.

Hanya bisa melihat samar-samar. Hakyung sangat tidak suka keadaan ini. Ia benci gelap. Lebih tepatnya ia takut, seperti saat ini. Hakyung tidak bisa melangkahkan kakinya sedikit pun. Bibir bawah digigitnya pelan dan kedua matanya dipejamkan. Hakyung benar-benar takut. Jimin tahu semua tentang Hakyung, termasuk ia yang takut gelap. Segera Jimin memegang tangan kiri Hakyung dan mendekat padanya.

“Tidak apa-apa. Sebentar lagi juga menyala.” Jimin mencoba menenangkan. Ia menyalakan ponselnya. Dan cahaya dari layar benda itu memberi penerangan walaupun sedikit.

“Hakyung kau baik-baik saja?” Jimin melihat Hakyung diam dan menundukkan kepalanya.

“Aku takut…” ucapnya pelan.

Jimin langsung memeluk Hakyung, “Tenanglah. Aku di sini.”

“Aku benci gelap.”

Jimin melepaskan pelukannya. “Kau diam di sini. Aku akan segera kembali. Aku akan mengecek listriknya sebentar.”

Hakyung memegang tangan Jimin, mencegahnya pergi. “Jimin, aku takut. Jangan pergi.”

Jimin menatap wajah Hakyung yang memang terlihat ketakutan. Ia mengurungkan niatnya karena permintaan Hakyung. Keduanya masih berdiri di sana dan Hakyung masih memegang lengan Jimin begitu erat. Ini adalah momen pertama kali mereka berdekatan semenjak keduanya putus.

“Kurasa listriknya tidak akan menyala kembali dalam waktu sebentar. Sebaiknya kau tidur saja, aku akan antar ke kamarmu.”

“Aku… tidak bisa tidur kalau gelap begini.”

Jimin mengelus rambut Hakyung dan mendekatkan wajahnya. “Aku akan menemanimu sampai kau tidur.”

Perlakuan Jimin yang perhatian padanya sudah lama tidak dirasakan Hakyung lagi. Saat ini, ketika Jimin berkata seperti itu, membuat perasaannya semakin timbul kembali. Hakyung merindukan Jimin. Ia mengakui hal tersebut.

Hakyung mengangguk pelan atas usulan Jimin.

Dengan cahaya dari ponselnya, Jimin bersama dengan Hakyung yang berjalan di sampingnya. Tangan kanannya merangkul bahu Hakyung, sedangkan tangan kirinya memegang ponsel. Agak ragu, tapi Hakyung akhirnya melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Jimin. Memegangnya sangat erat. Hakyung juga merasakan lagi detak jantungnya yang berdebar lebih cepat.

Mereka berdua berjalan pelan dan hati-hati menaiki anak-anak tangga hingga sampai di lantai atas. Langkah Hakyung berhenti saat akan berbelok ke arah kamarnya. Timbul pertanyaan Jimin karena sikap Hakyung itu. “Ada apa?”

“Hmm… lebih baik ke kamarmu saja. Kalau Mijoo atau Sujeong tahu kau masuk kamar kami, pasti akan jadi pembicaraan. Kau tahu maksudku kan.”

Jimin mengerti ucapan Hakyung. Gadis berambut blonde itu tidak mau kalau dirinya disangka melakukan ‘sesuatu’ bila ia masuk ke kamar Hakyung.

“Baiklah. Kalau begitu tidak apa kan kau tidur di kamarku?” tanya Jimin.

Hakyung mengiyakan.

Perlahan mereka berjalan dan masuk ke kamar yang Jimin, Jungkook, dan Jin tempati. Tampak kalau Jungkook dan Jin sudah terlelap. Jimin menuntun Hakyung ke tempat tidurnya. Jangan berpikir macam-macam karena tidak ada hal seperti itu terbersit di benak Jimin. Meskipun dulu mereka sering tidur satu ranjang, tapi Jimin dan Hakyung tidak melakukan apa-apa, kecuali tidur. Sama seperti sekarang.

“Tidurlah,” ucap Jimin yang duduk di tepi tempat tidur. Sedangkan Hakyung sudah berbaring. Jimin menyelimutinya. Laki-laki berambut abu-abu itu sama sekali tidak canggung atas situasi kedekatannya dengan Hakyung sekarang. Berbeda dengan Hakyung yang sejak dari dapur tadi merasakan kecanggungan yang sangat di dalam dirinya.

“Jimin… aku takut. Berbaring juga di sini. Ketakutanku akan sedikit hilang jika kau begitu. Kurasa.” Hakyung berucap agak ragu.

Tanpa membalas perkataan Hakyung, Jimin merebahkan dirinya di samping Hakyung. Tempat tidur itu diperuntukan untuk ditempati satu orang. Jadi, Jimin harus memposisikan dirinya sangat dekat dengan Hakyung. Keduanya berbaring dengan berhadapan satu sama lain.

“Tanganmu” tutur Hakyung pelan.

Seakan memahami perkataan Hakyung, Jimin mendekatkan telapak tangannya. Kemudian, karena ragu. Perlahan tangan Hakyung menggenggam telapak tangan Jimin dan memejamkan matanya. Hakyung merasa kalau ia memegang tangan Jimin maka ketakutannya sekarang akan menghilang.

Jimin pun membalas gengaman tangan Hakyung dengan erat. Sambil menatap wajah Hakyung yang terpejam. Hal itu membuatnya tenang.

“Tidurlah, Hakyung. Aku selalu di sini.” Jimin bergumam pelan.

***

Sinar matahari sudah menembus celah-celah jendela. Jin membuka matanya perlahan. Hawa mengantuk masih dirasakannya. Ia segera memejamkan matanya kembali. Tapi, teringat kalau hari ini masih ada acara yang akan dihabiskan bersama teman-temannya sebelum pulang. Jin pun bangkit dari tidurnya. Ia sedikit mengacak-ngacak rambutnya, lalu melihat ke arah Jungkook yang masih tertidur.

“Jungkook! Bangun! Sudah pagi,” ucapnya sambil menguncang-guncangkan tubuh pemuda itu.

“Sebentar lagi, Hyung.” Jungkook menyahut tanpa membuka matanya.

Hanya decakan kesal keluar dari bibir Jin, sebelum ia melihat ke arah tempat tidur Jimin. Kedua mata Jin melebar melihat siapa yang berada di tempat tidur temannya itu. Bahkan Jin mengucek-ngucek matanya beberapa kali, memastikan kalau ia tidak salah melihat.

Lalu, Jin menghampiri tempat tidur Jimin. “Hakyung? Kenapa dia tidur di sini?”

Tidak lama setelah melontarkan pertanyaan itu, Jimin datang. Ia membalas datar pada tatapan Jin yang terheran ke arahnya. Jimin mendekati Hakyung yang masih tidur. Ia menyentuh bahu Hakyung dan membangunkannya.

“Hakyung, sudah pagi. Bangunlah.”

Orang yang dibangunakan Jimin perlahan membuka matanya. Dia melihat Jimin yang berada di dekatnya, kemudian beralih melihat Jin yang terheran. Menyadari hal itu, Hakyung buru-buru bangun dan berkata, “Ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Hakyung berucap pada Jin. “Aku hanya ketiduran di sini,” ucapnya lagi. Hakyung segera turun dari tempat tidur dan berjalan tergesa-gesa keluar dari kamar yang ditempati tiga laki-laki tersebut.

Selepas perginya Hakyung, Jin bertanya. “Kenapa dia bisa tidur di sini? Apa yang kalian lakukan? Ah, kalian putus hanya pura-pura kan? Ternyata kalian masih berhubungan. Bahkan aku yakin tadi malam kalian tidur bersama di sini.”

“Kau ini bicara apa, Hyung? Tadi malam listrik tiba-tiba mati. Hakyung takut makanya aku membawanya ke sini,” jelas Jimin.

“Tunggu dulu. Bagaimana bisa kalian bertemu tadi malam?” Jin masih ingin tahu. Tapi, Jimin malas untuk menjelaskan panjang lebar pada hyung-nya itu. Jimin pergi dari kamar tanpa menjawab pertanyaan dari Jin.

Ya! Kau mau ke mana Jimin? Jelaskan dulu,” ucap Jin ketika Jimin malah pergi.

“Ada apa sih, Hyung? Kenapa berteriak pagi-pagi begini,” tanya Jungkook. Ternyata ia sudah bangun.

Jin tampak berpikir, lalu menghampiri Jungkook yang masih berada di tempat tidur. “Bagaimana kalau kita membuat sebuah rencana?”

“Rencana?” Jungkook tidak paham.

“Untuk Jimin dan Hakyung.”

***

Acara pagi ini setelah mereka sudah bersiap semua adalah bersepeda bersama dan mengunjungi beberapa tempat penjualan cinderamata. Mereka berkumpul di depan penginapan. Jin sudah menyiapkan beberapa sepeda yang bisa digunakan teman-temannya.

“Jimin Oppa mana?” Sujeong bertanya karena tidak melihat Jimin di sana.

“Oh, Jimin Hyung katanya akan menyusul nanti,” jawab Jungkook.

Sujeong bertanya lagi, “Kenapa Jimin Oppa tidak pergi bersama?”

“Dia akan tidur sebentar karena semalam Jimin Hyung tidak bisa tidur,” jelas Jungkook.

“Kalau begitu aku juga akan pergi nanti bersama Jimin Oppa saja.”

Mijoo mencegah Sujeong yang akan kembali masuk penginapan. “Jangan, Sujeong. Lebih baik kau ikut bersama kami sekarang. Udaranya terasa lebih segar sekarang.” Mijoo pun menarik Sujeong agar menaiki sepedanya.

“Kalau begitu ayo kita pergi,” ajak Taehyung.

Kecuali Jimin, mereka berangkat. Taehyung dan Hoseok lebih dulu pergi. Disusul Sujeong dan Mijoo. Meskipun sebenarnya, Sujeong tidak setuju. Saat Jin akan berangkat, tiba-tiba ia berkata, “Aku lupa membawa kamera,” ucapnya pada Hakyung dan Jungkook yang berada di belakangnya.

“Kalau begitu biar aku dan Hakyung Noona saja yang mengambilnya, Hyung.”

“Benar? Apa aku tidak merepotkan?”

“Tidak apa-apa biar aku dan Jungkook yang membawanya,” tambah Hakyung.

“Kalau begitu aku duluan.” Jin pun mengayuh sepedanya dan pergi menyusul yang lain.

Sementara Jungkook dan Hakyung masuk kembali ke penginapan. Saat akan menaiki tangga, Jungkook berhenti karena teringat sesuatu. “Oh, Noona aku mau ke dapur mengambil minum dulu. Kau bisakan mengambil kameranya sendiri? Kameranya ada di kamar Jin Hyung.”

Hakyung mengiyakan. Ia menaiki tangga untuk sampai ke lantai atas. Di belakangnya, Jungkook diam-diam mengikuti Hakyung menaiki tangga. Ia bukan ke dapur seperti apa yang dikatanya pada Hakyung tadi. Sampai di kamar tersebut, Hakyung membuka dan masuk ke sana. Tidak ada siapa-siapa karena Jimin sedang berada di kamar mandi saat ini. Segera setelah Hakyung masuk, Jungkook mengunci kamar itu dari luar. Inilah yang direncanakan Jungkook dan Jin tadi pagi. Jungkook tersenyum puas setelah berhasil mengunci pintu tersebut.

Di dalam kamar, Hakyung mencari benda yang disebutkan Jin. Dia mulai membuka laci-laci dan mencari benda tersebut di sekitar tempat tidur. Di saat bersamaan, Jimin keluar dari kamar mandi. Hakyung memunggunginya sehingga tidak tahu akan keberadaan Jimin. Sementara itu, Jimin terheran karena Hakyung berada di kamarnya apalagi seperti sedang mencari sesuatu.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Pertanyaan Jimin sontak membuat Hakyung terkaget. Dia menoleh ke belakang. Hakyung semakin terkaget karena mendapati Jimin bertelanjang dada. Hakyung buru-buru melihat ke arah lain. Ia malu melihat Jimin seperti itu.

“Kenapa?” tanya Jimin lagi sambil menghampiri Hakyung.

Ya! Apa kau tidak malu? Cepat pakai bajumu!”

Jimin berdecak dan meraih kaos yang ada di atas tempat tidurnya. “Dulu juga kau sering melihatnya,” gumam Jimin seraya memakai kaos putih miliknya.

Hakyung tidak mempedulikan ucapan Jimin. Dia kembali pada tujuannya masuk ke kamar ini.

“Kau sedang mencari apa?” Jimin bertanya lagi.

Tanpa melihat pada Jimin, Hakyung menjawab, “Kamera. Jin Oppa lupa membawa kameranya. Jadi, aku disuruh mengambilnya.”

“Bukankah tadi Jin Hyung sudah membawanya?”

“Apa?” Hakyung menoleh pada Jimin.

“Tadi Jin Hyung sudah membawa kameranya. Aku melihat dia memasukkan kamera ke dalam tasnya,” jelas Jimin.

Kening Hakyung berkerut, “Apa maksudnya? Apa Jin Oppa membohongiku?” pikirnya.

“Ya sudah kalau begitu.” Hakyung berjalan ke arah pintu. Dia hendak keluar, tapi saat memegang gagang pintu, Hakyung tidak bisa membukanya. Hakyung melakukannya beberapa kali, tapi pintu tetap saja tidak terbuka.

Melihat itu, Jimin menghampiri Hakyung yang berada di depan pintu. “Kenapa?”

“Aku mencoba membukanya, tapi tidak bisa.”

Jimin memegang gagang pintu dan mencoba membuka pintu, bahkan ia mendorong-dorong pintu. Namun, tetap tidak bisa dibuka. “Aku rasa pintunya dikunci dari luar.”

“Apa?” Hakyung tidak percaya.

“Ya, pintunya terkunci,” ucap Jimin lagi.

“Bagaimana ini? Apa Jungkook yang menguncinya?” Hakyung bergumam sendiri. Kemudian, dia mengambil ponsel dari saku celananya dan menelepon Jungkook. Hakyung menunggu Jungkook mengangkatnya. Beberapa kali Hakyung menelepon Jungkook. Namun, lagi-lagi pemuda itu tidak menjawab teleponnya. Hakyung menghela nafasnya. Ia bingung kalau keadaan seperti ini. Terjebak bersama Jimin lagi, setelah tadi malam.

Hmm… Jungkook tidak menjawab teleponku. Bisakah kau meneleponnya atau yang lain supaya mereka tahu kalau kita terkunci di sini.”

Jimin tidak menanggapi ucapan Hakyung. Laki-laki itu hanya menatapnya. “Kalau kau tidak memberitahu mereka, kita akan di sini terus.” Hakyung berkata lagi. Kali ini Jimin berjalan ke tempat tidurnya, di mana ponselnya tergeletak.

Jimin duduk di tepi tempat tidurnya, lalu dari jarak cukup jauh dia menyodorkan ponselnya pada Hakyung. “Kau saja yang menelepon. Aku tidak mau.”

Hakyung tidak mengerti dengan pikiran Jimin sekarang. Terpaksa, dia menghampiri Jimin dan mengambil ponselnya. Hakyung tertegun karena harus memasukkan passcode pada layar ponsel Jimin.

Seakan tahu yang dipikirkan Hakyung, Jimin langsung berkata, “Passcode-nya masih yang dulu.”

Hakyung sejenak terdiam mendengarnya lalu memasukkan angka-angka yang ia tahu itu adalah tanggal saat dia dan Jimin jadian. Hakyung semakin tertegun ketika melihat fotonya bersama Jimin yang menjadi wallpaper ponsel Jimin. Itu adalah foto ketika keduanya masih bersama dan Jimin tidak pernah menggantinya sejak dulu.

Sekarang Hakyung mencari nomor kontak Jungkook masih dari ponsel Jimin. Jarinya berhenti karena mendapati nama kontaknya di ponsel Jimin yang belum diubahnya. ‘Hakyung-ku’

Hakyung tidak meneruskan niatnya untuk menelepon Jungkook. Dia justru keluar dari daftar kontak lalu melihat ke bagian galeri di ponsel Jimin. Ternyata benar dugaannya, galeri ponsel Jimin masih dipenuhi oleh foto-fotonya dan foto dirinya bersama Jimin. Hakyung melirik Jimin yang sedang memperhatikannya. Ia langsung mengembalikan ponsel pada mantan kekasihnya itu.

“Kau tidak jadi menelepon?” tanya Jimin saat menerima ponselnya.

“Aku harus pergi,” ucap Hakyung, tidak menjawab pertanyaan Jimin. Pikirannya saat ini adalah tentang Jimin yang ternyata masih menyimpan foto-fotonya serta nama kontaknya di ponsel Jimin yang tidak diubah. Hakyung berkesimpulan kalau Jimin belum melupakannya, bahkan mungkin perasaan Jimin tetap seperti dulu, masih mencintainya.

Jimin memegang lengan Hakyung, mencegahnya pergi walaupun sebenarnya Hakyung tidak bisa pergi dari tempat itu karena pintu kamar yang dikunci dari luar.

“Kita harus bicara,” Jimin bangkit dari duduknya.

Hakyung membungkam. Dia tidak merespon.

“Kita harus bicara,” ucap Jimin lagi. Dia membalikkan posisi Hakyung agar berhadapan dengannya. “Ini semua kesalahpahaman yang terjadi. Aku tidak membohongimu, Hakyung. Waktu itu—”

“Aku tahu,” Hakyung memotong perkataan Jimin. “Kau tidak perlu menjelaskannya. Aku mengerti.”

“Hakyung…”

“Tapi, sekarang kita tidak bisa bersama lagi. Sudah ada Sujeong di sisimu. Dia juga sepertinya sangat menyukaimu.” Ada sedikit nada sedih pada ucapan Hakyung. “Aku baik-baik saja. Jangan memikirkan diriku. Lupakan apa yang terjadi di sini dan sebaiknya kita tidak bertemu lagi.”

“Syukurlah kalau kau baik-baik saja.” Jimin menatap dalam Hakyung. “Tapi… aku yang tidak sekarang.”

Perkataan Jimin itu membuat Hakyung terdiam.

“Aku tidak bisa bersama dengan perempuan yang aku cintai dan sekarang… dia menyuruhku agar tidak bertemu lagi.” Kedua mata Jimin berkaca-kaca. Jimin menghela nafasnya panjang. Melepaskan rasa yang sangat sulit untuk dilenyapkan. Tapi menurutnya, ia harus melakukannya. Ya, demi Hakyung. “Baiklah. Jika itu maumu. Aku akan menghilang dari hidupmu. Maaf karena aku tidak bisa memberimu kebahagiaan dan… selamat tinggal.”

Bersamaan dengan selesainya ucapan Jimin, pintu kamar dibuka. “Maaf, apa aku mengunci kalian terlalu lama?” Di depan pintu Jungkook berdiri sembari tersenyum lebar. Jungkook mengira kalau rencananya berhasil untuk mempersatukan Jimin dan Hakyung.

Jimin menatap Hakyung sebentar. Kemudian, berjalan meninggalkannya. Jimin keluar kamar tanpa mengucapkan apapun pada Jungkook, bahkan meliriknya pun tidak. Jungkook jadi bertanya-tanya atas apa yang sebenarnya terjadi di dalam tadi.

Sementara Hakyung masih berdiri. Air mata mulai keluar. Hakyung tidak bisa menepis kesedihannya lagi. Dia tidak sungguh-sungguh mengatakan hal itu pada Jimin. Meminta Jimin untuk melupakannya. Dalam hati Hakyung, ia tidak menginginkan itu. Tapi sekarang Jimin sudah pergi.

“Apa Jimin benar-benar akan menghilang dari hidupku sekarang?” tanya Hakyung pada dirinya sendiri. “Tidak. Ini tidak boleh terjadi.”

Segera Hakyung keluar dari kamar. Dia juga mengabaikan Jungkook.

“Noona ada apa?”

Hakyung tidak menjawab. Langkah kakinya dipercepat dan ketika menuruni tangga pun, Hakyung mempercepat langkahnya. Kedua matanya mencari sosok Jimin, namun tidak ada. Hakyung keluar dari penginapan dan mencari Jimin. Namun, tidak ditemukannya. “Di mana dia?”

“Jimin! Park Jimin!” Hakyung berteriak sambil berlari tetap mencari laki-laki itu.

Sedikit putus asa, Hakyung belum menemukannya. Kedua matanya terus mencari dan tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki tengah berjalan memunggunginya. Cukup jauh jaraknya. Hakyung segera berlari. “Jimin! Tunggu!”

Orang yang dipanggilnya itu berhenti dan berbalik. Terkejut melihat Hakyung berlari ke arahnya. Dengan nafas tersengal-sengal, Hakyung akhirnya bisa meraih tangan Jimin. “Ja.. jangan… pergi,” ucapnya. “Aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Aku tidak mau lagi kehilanganmu, Jimin.”

Tidak berkata apa-apa, Jimin langsung memeluk Hakyung. Memeluknya erat, seperti menyalurkan perasaannya yang begitu dalam pada Hakyung. “Aku tidak akan pergi. Aku akan selalu bersamamu. Aku masih mencintaimu, Hakyung.” Jimin mempererat pelukannya dan Hakyung juga membalasnya.

“Aku sangat merindukanmu.”

Jimin mengelus rambut Hakyung lembut, “Aku juga.”

Kemudian, Jimin melepaskan pelukannya dan menatap lekat perempuan yang ada di depannya. “Bisakah kita seperti dulu lagi?”

***

TAMAT

.

.

.

Kuharap kalian suka Jimin yang aku pasangkan sama si OC ini. Ini adalah FF pertama yang selesai. Jadi, masih banyak kekurangan dari segi penulisan dan cerita. Aku harap kalian ga kecewa dan walaupun ending-nya mengantung, tapi aku yakin kalian bisa tebak sendiri adegan selanjutnya. Makasih buat yang mau membaca dan aku tunggu sarannya. ☺

Mind to review?

Advertisements

6 thoughts on “[BTS FF Freelance] Sometimes – Twoshots #2 END

  1. gel03✨

    Ahhh terlalu mendalami sampek nangisss huhhhuuuT.T pdhal bukan aku juga yg dipeluk2(?) HAHAHA . Btw ini bagus thor feelnya dapet looh, aku suka aku suka jimin hihi. Next story jimin juga ya jadi cogannyaaa;)♥

    Like

  2. RiskaRii

    rasanya pengen memposisikan diri sbg hakyung. haha
    aku suka karakternya jimin disini, kalem2 gimana gitu haha

    aku suka sama FF nya, aku tunggu ff yg selanjutnya. semangat author ^^

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s