[BTS FF Freelance ] Spiral Parade (Chapter 3)

dfghj

Title: Spiral Parade (chapter 3)
Scriptwriter: Fuseliar
Main Cast: All Member BTS
Support Cast: All Member BTS + OC
Genre: dark, horror, school life, dystopia AU
Duration: chaptered

Disclaimer : ini hanya cerita fanfic doank…. mohon dimaklumi bahwa member BTS punya yang Maha Kuasa. Dan ini fanfic punya saya…

Summary :

Ruang staff dan ruang guru sebenarnya tidak terlalu jauh … – … merasakan gelap dan ketakutan yang besar – Sejak hari itu, hanya ada 7 orang yang berhasil bertahan di sekolah – Air muka Namjoon begitu serius hingga membuatnya takut dan khawatir – “… aku buat kau kehilangan akalmu” – “hyung, boleh aku bertanya sesuatu?” – “… keluar barikade?” – Bisa bertahan saja sudah cukup – dan kakaknya tertawa sambil menutupi gigi-giginya yang rapih – dan kakaknya menarik tangannya – “gini ini, terasa damai dan tenang banget rasanya.”

.

.

.

Yoongi melirik jam tangannya sejenak setelah ia menyelesaikan paper bahasa inggrisnya. Jam 16.10, ia tidak menyadari betapa lamanya ia mengerjakan tugas itu sendirian di kelas yang sepi. Ia menghela nafasnya sejenak lalu mulai membaca lagi papernya. Ia menyandarkan punggungnya dan melirik ke luar jendela. Langit mulai redup dan sinar matahari tidak menyengat lagi. Selesai membaca papernya ia membereskan barang-barangnya dan keluar. Yoongi tidak terlalu keberatan sebenarnya jika harus menerima pelajaran tambahan tapi ia tidak suka dengan tugas tambahan di akhir hari sebelum liburan musim panas.

Menyusuri koridor sekolah sambil berat hati membuat ruangan yang dekat menjadi begitu yang dipikirkan Yoongi. Ruang staff dan ruang guru sebenarnya tidak terlalu jauh dari kelasnya. Tapi itu terasa begitu jauh. Setelah melalu perjalanan yang melelahkan bagi Yoongi, ia sampai di depan pintu ruang staff. Ia mengetuk pintunya tapi tidak ada jawaban. Ia mengetuknya lagi, lagi dan lagi. Yoongi mendengus keras dan berniat mengetuknya lagi.

“BRAK!” Yoongi mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu itu. Suara gebrakan, pukulan, dobrakan pintu yang tertutup membuatnya terdiam di depan pintu. Tiba-tiba pintu itu terbuka. Tangan-tangan hitam dan taring-taring ganas meraihnya dan memakannya hingga ia hanya bisa merasakan gelap dan ketakutan yang besar dari dirinya. Apakah ini kenyataan?

“hei Yoongi, jangan ngelamun terus entar kesurupan lho” Yoongi terbangun dari lamunannya. Saat ia menoleh, Namjoon sudah di depannya sambil membawa dua gelas cangkir di tangannya.

“kamu butuh kafein Yoon” katanya sambil mengulum senyum lebar

“panggil aku hyung! Dasar dongsaeng durhaka” balas Yoongi ketus sambil menerima cangkir kopi dari Namjoon.

.

.

.

(Endless Summer Night)

.

.

.

Sejak hari itu, hanya ada 7 orang yang berhasil bertahan di sekolah. Mereka membuat blokade-blokade dari meja dan kursi yang kemudian diikat dengan tali. mereka memblokade sebagian lantai 2 sehingga para pemangsa tidak bisa naik ke lantai 3 dan 4.

“Hoseok, udah siap?” tanya Namjoon yang mulai mengecek kapak yang dibawanya. Hoseok menali tali sepatunya kemudian mengambil linggis yang ada di sebelahnya.

“hei, kenapa aku yang harus ikut kamu sih?” tanyanya dengan nada risih.

“soalnya kamu yang paling penakut. Jadi kamu perlu belajar berani” jawab Namjoon enteng. Hoseok mendengus keras dari hidungnya dan menyusul Namjoon.

“emangnya aku enggak jadi bebanmu nanti? Kan katamu kalo aku di film horor, aku bakal jadi orang yang mati pertama karena terlalu penakut” Namjoon tersenyum tanpa menoleh kearah Hoseok.

“makanya aku pengen kamu berani dan ambil pelajaran yang enggak akan pernah kamu lupakan seumur hidup.” Hoseok mengernyit bingung sambil memegang erat-erat linggisnya

“hah? Emang bisa?”

“ini sama kayak waktu pertama kali kamu ikut kompetisi catur kilat dulu. Lagian Hoseok, gimanapun kamu harus menghilangkan rasa takutmu disaat dan keadaan seperti ini”

“lebih baik aku dimakan zombie Joon” Namjoon berhenti melangkah dan menatap Hoseok lekat-lekat. Hoseok hanya diam dan menelan ludahnya. Air muka Namjoon begitu serius hingga membuatnya takut dan khawatir tentang apa yang akan ia hadapi nanti.

“aku akan membuatmu menanggung dosa terberat sebagai seorang penakut dimasa lalu dan membuatmu kacau. Tak akan kubiarkan kau kembali kepada dirimu yang dulu. Aku akan buat kau menjadi gila, aku buat kau kehilangan akalmu” warna ketakutan muncul di mata Hoseok. Namjoon menanggapinya dengan senyum yang lebar memperlihatkan lesung pipitnya

“aku bercanda Hoseok” katanya. Hoseok cepat-cepat bernafas lega dan menundukkan kepalanya.

“bercandamu keterlaluan Joon!”

.

.

.

“hyung, boleh aku bertanya sesuatu?” Jimin membuka pembicaraan.

“hmn?”hyung di sebelahnya menanggapinya santai.

“kenapa hyung tega membunuh Namjoon hyung?”

“oh, itu karena dia benar-benar menyebalkan. Dia harus diberi pelajaran”

“kalo kamu gimana? Perasaanmu waktu membunuh Kim Taehyung? Lega?”

“sedikit, dia itu sudah gila. Membuat percobaan bodohnya itu. Tapi sekarang aku sudah tenang. Dia tidak akan berbuat onar lagi.”  

Terlihat di depan sebuah barikade masih berdiri kokoh. Mereka mulai memanjat barikade dan melewatinya.

“Kapan kamu terakhir kali keluar barikade?” tanya hyung disebelahnya.

“hmn, sekitar 2 minggu yang lalu” mereka berjalan menyusuri koridor sekolah

“hooh, lumayan ya?”

“kalo hyung?”

“sekitar 3 hari yang lalu. Kamu bawak bola ping pong kan?”

“iya hyung.” Tiba-tiba hyungnya berhenti berjalan. Tampak di ujung koridor seseorang yang berjalan sempoyongan ke arah mereka.

“Hoseok hyung… bagaimana?” tanya Jimin mulai ragu. Hoseok menurunkan linggis yang di bawanya dari pundaknya. Ujung bengkoknya hampir bersentuhan dengan lantai. Jari-jarinya mengepal kuat memegangi linggisnya. Ia melangkah maju.

“oi, Jimin. Jangan bercanda. Membunuh temenmu aja sanggup masa bunuh barang beginian aja gak bisa?” jimin menggigit bibirnya sambil memegangi kapak di tangannya. Hoseok mendekati ‘barang itu’ dan menyapanya dengan linggis di tangannya hingga ‘barang itu’ tak lagi bergerak.

.

.

.

Kepala dan leher adalah kelemahan utamanya. Hancurkan kepalanya atau putuskan lehernya, dan lari jika terlalu banyak. Tidak panik tapi cepat bergerak, segera berlindung atau lari selamatkan hidupmu. Jika kau cukup gila untuk membunuh semuanya, lakukanlah.

Aku tidak gila.

Jangan samakan aku dengan Hoseok hyung.

Aku masih waras dan aku tau benar kalau sudah tidak ada harapan untuk kami. Bisa bertahan saja sudah cukup.

“oi, Jiminnie!” aku berjalan menghampiri Hoseok hyung yang sedang asyik menggerayahi barang yang baru ia temui dengan sepatunya.

“lihat, dia cantik lhoh, coba injek, gede lhoh” aku lirik barang baru Hoseok hyung. Seorang wanita yang baru saja ia pecahkan kepalanya dengan linggis yang dibawanya.

“hyung, kita butuh kunci bis sekolah” kataku mulai mengingatkan. Hoseok hyung berhenti memainkan mayat di depannya.

“hoooh, aku penasaran kenapa kamu enggak tergoda?” aku menghela nafasku. Aku bukan necrophilia tauk!

“bukan seleraku yang beginian” Hoseok hyung tertawa. Ia menepuk pundakku sejenak. Ia kemudian kembali berjalan menyusuri koridor sekolah. Ruang wakil kepala sekolah cukup jauh di luar barikade, dan lagi tempat itu dekat dengan lab kimia.

Saat kami sampai di depan ruang kepala sekolah, Hoseok hyung mengintip sejenak ruangan itu.

“ada 3 di dalem. Mau nyobak hancurin salah satunya?” tawarnya.

“enggak, aku tunggu di luar aja.” Aku alihkan pandanganku. Hoseok hyung hanya diam dan masuk ke dalam ruangan itu. Bukan gayaku untuk maju seperti itu. Mulai terdengar suara – suara gaduh dari dalam. Aku tidak gila.

Graaakdak

“oi, udah beres nih” Hoseok hyung keluar berjalan melewati pintu. Kemejanya di penuhi bercak-bercak darah disana sini. Seperti psikopat yang baru saja membedah mayat dengan sadis. Lucunya, aku tidak bisa membantah kalau mungkin Hoseok hyung membunuh orang. Ia memberiku kunci bis sekolah. Aku menerimanya dan memasukkannya kedalam saku celanaku.

“sekarang tinggal nulis proposalnya buat karya wisata”

.

.

.

Yoongi melirik jam tangannya sejenak setelah ia menyelesaikan paper bahasa inggrisnya. Jam 16.10, ia tidak menyadari betapa lamanya ia mengerjakan tugas itu sendirian di kelas yang sepi. Ia menghela nafasnya sejenak lalu mulai membaca lagi papernya. Ia menyandarkan punggungnya dan melirik ke luar jendela. Langit mulai redup dan sinar matahari tidak menyengat lagi. Selesai membaca papernya ia membereskan barang-barangnya dan keluar. Ia menyusuri koridor sekolah yang sepi hingga ia berhenti di depan sebuah pintu. Ia menarik nafasnya dalam dalam dan membuka pintu itu.

Seseorang menoleh kearahnya, tepat di hadapannya. Ia duduk di depan mejanya dan tersenyum ramah kearahnya.

“ah! Yoon, udah selesai papernya?” tanyanya. Yoongi masuk dan menutup pintunya. Ia berjalan mendekatinya dan menyodorkan papernya. Ia tersenyum menerima paper itu.

“aku harap kamu berjuang lebih keras lagi buat belajar bahasa inggris. Min Genius~” Yoongi mengalihkan pandangannya.

“terima kasih pujiannya…” gumam Yoongi. Orang di depannya hanya bisa menghela nafasnya dan tetap mempertahankan senyumnya.

“oh ayolah, setidaknya beri aku terima kasih karena sudah memujimu Yoon. Kau ini benar-benar kejam kepada kakak perempuanmu sendiri” pipi Yoongi menggembung.

“ara-ara, lihat pipimu yang gede kayak bakpao tuh~” Yoongi mendengus keras.

“ayolah! Jangan menggodaku terus! Aku ini muridmu!” protes Yoongi, dan kakaknya tertawa sambil menutupi gigi-giginya yang rapih.

“nne ne, adekku yang imut-imut ini protes gara-gara dibilang pipinya kayak bakpao”

Gradak!

Mereka menoleh ke arah pintu yang dibuka. Namjoon berada di sana.

“Hyung! Ayo pergi dari sana!” teriak Namjoon. Kakak beradik ini memandangi Namjoon dengan tanda tanya.

Brak!

BRAK!

BRAK!

Tangan-tangan berdarah memenuhi jendela-jendela, mereka memukul dan menggebrak kaca-kaca.

“AYO CEPAT SEBELUM MEREKA MEMAKAN KITA!” teriak Namjoon lagi. Belum sempat semuanya terproses di otak Yoongi, dan kakaknya menarik tangannya. Ia berlari mengikuti Namjoon dan kakaknya. Mereka berlari menyusuri tangga-tangga hingga menemui sebuah pintu. Namjoon membukanya dan membiarkan Yoongi dan kakaknya melewati pintu itu, kemudian ia menutup pintunya. Taehyung, Jimin dan Jungkook segera menghalangi pintu itu dengan loker-loker tak terpakai di dekat sana.

“apa apaan itu semua?!”

“zombie! Mereka semua menjadi zombie!”

.

.

.

Yoongi dan Namjoon berdiri bersebelahan. Ada secangkir kopi di tangan mereka. Angin sepoi-sepoi di atap sekolah mendampingi mereka. Suara daun-daun di rumah kaca terdengar samar di telinga mereka. Begitu damai dan tenang. Damai dan tenang.

“gini ini, terasa damai dan tenang banget rasanya.” Namjoon berceloteh sambil merasakan angin menerpa wajahnnya.

“yap, kontras banget sama pemandangan di bawah.”

“berhentilah melihat ke bawah hyung, lihat ke atas cobak. Ada awan bentuk kelinci lhoh” Yoongi tidak merubah pandangannya dan terus melihat ke bawah. Ia menyesap kopinnya.

“hyung, aku minta maaf.” Yoongi tidak menanggapinya dan hanya diam memperhatikan lapangan di bawah.

“maafkan aku. Maafkan aku melakukan kesalahan yang fatal sampai Min Songsaengnim jadi korban.” Yoongi menghela nafasnya.

“kamu enggak perlu minta maaf Joon, kamu enggak salah. Udah waktunya aja dia mati.” Yoongi menggenggam erat cangkirnya dan menunduk.

“dia kakak yang baik, begitu baik hingga aku tidak rela ia menjadi korban. Cuman itu aja Joon. Kamu enggak perlu menyalahkan dirimu sendiri ato minta maaf. Lagian sudah tugas seorang guru buat melindungi muridnya. Kalian enggak salah kok.”

.

.

.

Jimin dan Hoseok baru saja melewati barikade dan memasuki zona aman. Mereka berjalan melewati beberapa pintu hingga mereka berhenti di sebuah pintu yang terbuka.

“Hyung, ngapain berhenti di tengah jalan?” tanpa menjawab, Hoseok memasuki ruangan itu. Mataya memindai seluruh tempat dan menemukan sebuah map rapih di sebuah meja yang tertata rapi dari meja-meja yang lain. Hoseok mendekati meja itu dan membuka map itu. Ia membaca isinya kemudian menutupnya, dan ia menoleh ke arah Jimin.

“hei Chim, Yoongi hyung kemana ya?”

.

.

.

Author’s note:

Bingung? Ah ini alurnya maju mundur jadi ya gitulah… ehehehe… maafkan kalo pembawaanya FF ini agak kacau… tapi emang kacau sih…

Fuse~

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance ] Spiral Parade (Chapter 3)

  1. AANNOONN

    Njir..
    SUMPAHHH SAYA BINGUUNGG MIIINN!!
    AAAKKK ini bikin sy frustasi! 😖
    Jujur, sy suka sm ff ini, genrenya sy suka banget. Idenya kerenlah. Ga ada yg salah sm ff ini.. Cumaaannnn sy tuh ngga paham2 cobaaa 😫😫😫
    Jadi intinya yang mati siapa disini? Siapa yg jadi zombie? Siapa yg masi idup? Apa hobie dkk itu aselinya zombie gt? Trus adegan yg yoongi nganterin paper ke kakaknya trus dikejar2 sm tae jimin kookie wktu ntu sebenarnya si yoongi ma joon masi jd manusia dan brakhir mati jg gt??
    Trus kalo hobie dkk adl zombie, kenapa dia keluar dr barikade trus berencana buat nyerang “orang lain”? Bukannya di luar barikade itu justru ada lebih banyak “orang” yg kena apalah itu td yg nyebabin mereka jd kanibal? Jd kek zombie saling bunuh gt? Aaakk sumpah sy binguuuungggg,, padhal sy suka bgt sm iniiii 😫 tolong dong siapapun beri sy pencerahaann 😭😭😭

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s