[BTS FF Freelance] Blood, Sweat and Tears – (Chapter 1)

bst_cover

Blood, Sweat & Tears

Chapter 1

Story by @siken11

Genre : Romanc, Mistery, Comedy || Rating : PG – 17 || Lenght : Chapter || Main cast : Park Jimin – Lee Haera a.k.a Acelyne hwang || Other Cast : Find Yourself || Disclaimer @ BTS SuperJunior and other

Credit Poster : by author

~

‘Jangan hanya melihat buku dari sampulnya, kau harus membaca buku itu dengan teliti agar tahu isinya. Begitupun dengan diriku, aku adalah mawar yang memiliki duri tajam’

~

Semua tokoh di ff ini milik Tuhan dan karakter fiktifnya adalah khayalan author semata. Dan maaf jika ada kesamaan tokoh. Cerita ini murni milik author

~

Seorang pria muda berumur duapuluh tujuh tahun itu tengah tersenyum miring di hadapan seorang pria paruh baya yang menatapnya gelisah. Pria muda yang duduk di balik meja bertuliskan direktur itu, adalah park jimin. Pengusaha muda terkaya di korea selatan.

Masih muda, tampan, dan cerdas. Dia adalah putra tunggal dari pasangan park jungsoo dan jung suhee, sekaligus satu-satunya pewaris dari Parity Enterprise.

Sayangnya tuan park senior dan nyonya park telah tiada karena kecelakaan pesawat lima tahun lalu. Pesawat pribadi yang akan membawa mereka berlibur ke Paris itu tiba-tiba hilang kendali dan jatuh. Kejadian itu membuat jimin sangat terpukul. Dan di tambah dengan beban yang harus ia tanggung, yaitu menggantikan sang ayah di usianya yang masih muda.

Tidak ada yang tidak mengenal keluarga yang menjunjung tinggi keadilan itu. keluarga park biasa di sebut juga sebagai The Balance Of  Entity. Mereka memiliki banyak koneksi baik di sisi hitam maupun putih. Di bandingkan keluarga kerajaan atau bahkan presiden sekalipun, Keluarga park jauh lebih terkenal dan di segani. Meskipun pria ini lebih tua. Namun tetap saja jimin lebih berkuasa.

Karena tidak segera mengatakan sesuatu, akhirnya jimin berinisiatif untuk berbicara lebih dulu.

“Jadi, tuan lee? Apa yang bisa aku lakukan untukmu?” jimin berusaha menahan tawa ketika melihat lee hyukjae pria paruh baya itu mulai berkeringat dingin.

“Ak-aku, ah, maafkan aku tuan muda. Maksud kedatanganku adalah untuk meminta pin-jaman” ucap hyukjae dengan kata terakhir yang tidak begitu terdengar.

“Hahaha, jadi berapa yang kau butuhkan?” kemudian hyukjae mengucapkan sejumlah uang yang bisa dibilang tidak sedikit. Jimin hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

“Tentu berapapun yang kau inginkan, akan aku berikan. Tapi-“ jimin menggantungkan kalimatnya.

“Apa yang tuan muda inginkan sebagai balasannya” jimin tersenyum menang dalam hati, tikus sudah masuk perangkap sekarang.

“Tentu saja, sesuatu yang sangat berharga melebihi nyawamu tuan lee”

><

Jimin tidak berhenti mondar-mandir di dalam ruang kerja yang berada di mansionnya. Setelah perjanjiannya kemarin dengan lee hyukjae dan mendapat kesepakatan bersama. Ia tidak bisa tidur nyenyak karena gelisah.

Kegiatannya terhenti ketika pintu ruang kerjanya diketuk dari luar. “Masuk!”

“Dia sudah tiba Sir” jimin menganggukkan kepalanya menatap jungkook sang sekretaris pribadinya, atau sebut saja ia tangan kanan jimin.

Jungkook dua tahun lebih muda dari jimin. Namun pembawaannya yang perfeksionis dan selalu bersikap dingin, Membuatnya terlihat kaku. Namun bagi para gadis itu adalah aura misterius.

Setelah menormalkan detak jantungnya yang tidak karuan, jimin bergegas ke lantai dasar untuk melihat tamu yang sudah di tunggunya sejak satu tahun lalu.

Ketika ia sampai di undakan tangga terakhir, jimin berhenti terdiam dan mengernyitkan dahinya menatap kim seokjin. Pengasuhnya sejak kecil yang sekaligus chef di mansionnya tengah menangis terharu seraya memeluk seorang gadis.

Sedangkan gadis itu hanya diam namun terlihat jelas jika ia terkejut. Dengan pelan jimin berdehem membuat jin menatapnya sinis kemudian ia melenggang pergi tanpa megatakan apapun.

Gadis itu menatap jimin dengan intens, dan membuat yang di tatap menatap dingin padanya.

“Apa itu salah satu tata krama untuk menyambut tamu di mansion ini?” gadis itu berucap tanpa berpikir, sepertinya. membuat jimin terperanggah tidak percaya akan sikap gadis ini yang cukup berani.

‘Mereka sangat mirip dan tidak ada celah sedikitpun dari wajah bahkan tubuhnya’ batin jimin.

Gadis itu adalah lee haera putri dari lee hyukjae. Mengapa ia bisa sampai disini, semua karena ayahnya yang suka berjudi itu menyerahkan haera sebagai ganti dari uang pinjamannya. Haera tidak habis pikir, sebenarnya dimana ayahnya menggadaikan otaknya hanya demi untuk berjudi.

Haera mengembungkan pipinya dengan malas. Jimin hanya diam tidak menanggapi ucapannya. “Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?”

Mendengar suara haera yang sedikit keras, membuat lamunan jimin terpecah. Jimin kembali menatap haera dingin. “Aku baru beberapa hari yang lalu memecat semua pegawaiku terkecuali jin hyung yang baru saja kau buat menangis. Jadi aku membutuhkan seseorang untuk membantunya mengurusi mansionku”

Haera tertawa mengejek, “Kau memecat semua pegawaimu? Kau memiliki banyak uang, kau bisa mencari pegawai lagi yang lebih banyak. Tanpa uangpun aku yakin para gadis di seluruh korea ini mau menjadi pembantumu, kenapa harus aku?”

Jimin menatap tajam haera, membuat nyali gadis itu menciut. Degan cepat jimin menghimpit tubuh haera ke arah dinding di belakang tubuh haera.

‘Tidak, aku salah. Warna mata mereka berbeda. Gadis ini memiliki warna mata blue saphire sedangkan ia memiliki warna mata blue ocean’ batin jimin ketika menatap mata haera dengan sangat dekat.

“Karena ayahmu yang berhutang padaku!” jimin tidak membentak namun suara dinginya sarat akan kemurkaan.

“Jadi berapa banyak pria brengsek itu berhutang padamu? Aku akan melunasinya!”

Jimin berdecak kesal dan menjauhkan wajahnya dari haera. “Kau benar-benar gadis keras kepala! Meskipun kau membayar dengan gaji kerja partimemu sampai kiamatpun tidak akan bisa melunasinya, lee haera!”

Gadis itu menggerutu pelan, terlihat bibir mungilnya yang berkomat-kamit seraya menatap berang pada jimin yang membelakanginya dan berjalan menjauh darinya. Dengan kesal haera menghentak-hentakkan kakinya kelantai.

><

Paginya jimin di suguhi sebuah pemandangan yang cukup menakjubkan. ia melihat haera yang sudah rapi dengan baju maidnya, tengah menyiapkan sarapan untuknya. Ia pikir gadis itu akan mengeluh dan menolak untuk melakukan semua ini melihat tingkahnya kemarin. Namun nyatanya, gadis itu bekerja dengan ekspresi serius.

“Aku hampir lupa, ada satu ruangan yang tidak boleh kau dekati. Yaitu ruang kerja jimin. Bahkan memandangnya saja tidak boleh! Kau paham?” jin memberikan arahan pada haera yang mencoba fokus.

Terlihat jika gadis itu tersentak, “Baiklah, ruang kerja terlarang. Mengerti!”

Jimin akhirnya kembali melangkahkan kakinya ke kursi utama di meja makan. Melihat jimin datang jin segera membungkuk memberi hormat, dengan satu tangan yang mendorong kepala haera agar juga memberi hormat. Karena gadis itu tidak sadar dan hanya menatapi jimin.

Setelah sarapan selesai jungkook segera menghampiri jimin. “Sir, Mobil sudah siap. Apa kita akan pergi sekarang?”

Jimin menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan ke arah ruang tengah untuk mengambil jasnya. “Dimana gadis itu?”

Mengerti siapa yang dimaksud jimin, jungkook segera memperlihatkan dimana haera dengan jari telunjuknya mengarah ke halaman belakang. “Dia tengah mencoba menanam kembali mawar-mawar di halaman belakang. Apakah tidak apa sir?”

Awalnya jimin tertegun dan terkejut, namun dengan segera ia menguasai keterkejutannya. “Biarkan saja, selama ia tidak membakar mansionku!”

Jungkook menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti langkah jimin menuju halaman depan yang segera menaiki lamborghininya, dengan jungkook sebagai sopirnya.

Dibandingkan sekretaris sebenarnya jungkook sudah di anggap sebagai sahabat dan adik bagi jimin. Karena hanya jungkooklah yang mengerti  apa saja kebutuhan jimin dalam berbisnis.

“Jadi sir, apa rencana anda setelah kedatangan nona haera?” jungkook melirik sekilas pada jimin untuk memastikan jika jimin tidak tersinggung akan ucapannya.

“Kau akan tahu nanti, lakukan saja yang aku perintahkan” mendengar nada datar dari jimin, jungkook hanya menjawab dengan anggukan kepala. Entah dilihat oleh tuan mudanya itu atau tidak.

Jungkook tahu jika jimin tengah memikirkan sesuatu meskipun ia tidak tahu apa yang tengah majikannya itu pikirkan. Namun kemungkinan besar masih menyangkut gadis itu.

><

Jimin keluar dari mobilnya yang diikuti oleh jungkook, dengan langkah pasti mereka memasuki sebuah club ternama di daerah suwon, dekat seoul. Para penjaga di depan pintu menunduk memberi hormat pada jimin yang berlalu begitu saja untuk masuk ke dalam Pardon Club. Semua orang mengenal siapa jimin, itulah mengapa para penjaga tidak memeriksa jimin ketika akan masuk ke dalam club.

Disini yang dimaksud mengenal bukan sebagai orang tersohor, melainkan karena jimin adalah teman baik dari bos mereka. Kim taehyung, pemilik club yang amat terkenal yang memiliki segudang cabangnya. Jimin the balance of  entity tengah mengunjungi salah satu temannya dari sisi hitam.

Di depan taehyung mempersembahkan hiburan, musik hingar bingar dan minuman yang legal. Namun di belakang, taehyung adalah seorang mafia. Ia menjajakan beberapa wanita malam, menjalankan tempat perjudian ilegal dan narkoba. Mungkin orang yang mendengar hal ini akan mengira jika taehyung adalah pria berumur yang memiliki tubuh bulat dan juga kepala yang sudah agak botak.

Tapi nyatanya dia termasuk dalam jejeran pria-pria tampan di korea, mungkin melebihi aktor-aktor terkenal. Dengan umur yang sama dengan jimin, bertubuh tinggi tegap.

“Hei dude, aku sudah menanti kedatanganmu” taehyung menghampiri jimin dan kemudian memeluknya.

Sedangkan jimin dengan malas ia menyentakkan tubuh taehyung namun tidak keras. “Kau membuatku mual”

Ucapan jimin di hadiahi tawa oleh taehyung. setelah salam sapa singkat mereka akhirnya duduk di sudut club yang sudah sepi.

Setelah taehyung menyuruh pegawainya yang tengah bersih-bersih karena semalam club di gunakan untuk berpesta, mereka semua keluar. Sebenarnya jimin juga menyuruh jungkook keluar namun pria menawan itu hanya menjauh sedikit dari tempat duduk mereka.

“Kau tahu lee hyukjae?”

“Hell yeah, pria brengsek itu, penghutang setiaku. Aku dengar kau memberikan pinjaman padanya untuk membayar hutang-hutangnya?”

Jimin mneganggukkan kepalanya, “Aku ingin kau mengawasinya, aku takut dia membuat ulah”

Taehyung mengernyitkan dahinya, dia yakin tidak hanya itu yang diinginkan oleh jimin. “Astaga, katakan saja apa yang kau inginkan. Aku tahu bukan itu yang kau mau” jimin menyeringai seraya menatap taehyung, membuat yang di tatap bergidik ngeri.

“Aku butuh bantuanmu” jimin melipat tangannya di dada seraya menyandarkan punggungnya ke sofa yang ia duduki.

Sedangkan taehyung menghembuskan nafasnya dengan resah, “Aku yakin ini masih ada sangkut pautnya dengan kematian lee eunhi” Hanya anggukan kepala yang jimin berikan pada taehyung. “Jika kau bukan temanku, aku tidak sudi mengurusi orang mati”

Taehyung merutuki mulutnya yang suka sekali berbicara tanpa di saring itu, dengan segera ia menatap jimin dengan pandangan memohon ampun karena mendapat tatapan membunuh darinya.

><

Haera tersenyum sumringah menatap hasil kerja kerasnya. Seharian ia membersihkan dan menanam kembali bunga mawar yang berada di halaman belakang mansion jimin. Sejak awal melihatnya ia sangat tertarik dengan lahan kecil tandus itu.

Dan sekarang sudah jauh lebih baik, kalaupun jimin nanti memarahinya itu tidak masalah, haera hanya perlu mendengarkan ocehan jimin.

“Akhirnya bisa hidup, aku berusaha menanamnya kembali dan merawatnya namun tidak bisa. Mungkin memang takdirmu” haera membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara jin yang berada di belakangnya.

Haera mengernyitkan dahinya bingung, “Benarkah, mungkin oppa saja salah dalam merawatnya”

Jin terkekeh pelan, seraya mengusap kepala haera. Sejak pagi jin mengomel dan menyuruh haera ini itu dengan cepat. Melihat jin berubah baik seperti ini membuatnya sedikit aneh.

“Jika sudah selesai” haera menatap jin dengan pandangan polos, “Cepat selesaikan mencuci bajumu!”

Haera tersentak terkejut dengan ucapan jin yang sarat akan perintah itu. dan benarkan pria ini berubah-ubah. dengan cepat ia membalikkan tubuhnya berjalan cepat kembali ke dalam rumah. Sebenarnya jin hanya bercanda, ia suka melihat raut wajah gadis itu yang lucu. Hal itu membuat rasa lelahnya hilang.

“Eunhi, terima kasih telah membuat adikmu datang kemari” jin bergumam pelan seraya menatap bunga mawar yang tadi di tanam oleh haera.

><

Setelah pertemuannya dengan taehyung, mereka –jimin dan jungkook- pergi ke daerah songnam. Dalam perjalanan jimin diam merenung menatap kosong ke luar jendela. Dan jungkook fokus mengemudi.

Jimin memikirkan perasaannya ketika awal bertemu dengan haera, jujur saja jantungnya berdegup kencang ketika melihat gadis itu. selama satu tahun ia mencari keberadaan gadis itu, dan baru sekarang ia berhasil menemukannya.

Semua ini berkat ayah tiri haera yang suka berjudi itu. mengenai hal itu, ia tidak tahu apakah haera mengetahui jika hyukjae ayah tirinya? Atau gadis itu juga tidak tahu jika ia memiliki seorang saudara kembar. Jimin meringis dalam hati mengingat lee eunhi saudara kembar haera.

Mereka berdua dulunya tinggal di panti asuhan, namun mereka terpisah ketika umur lima tahun. Itu yang dikatakan oleh eunhi. Haera lebih dulu di adopsi, kemudian baru eunhi. Eunhi, ia di adopsi oleh lee donghae beserta istrinya lee hana. Pengusaha kaya yang cukup tersohor di bidang constructions.

Eunhi adalah kekasih jimin, mereka bertemu ketika usia jimin duapuluh tahun di universitas. dan satu tahun lalu mereka hampir menikah. Sebelum insiden bunuh diri itu. ya, gadis itu bunuh diri tanpa sebab. Mereka tidak bertengkar sama sekali. Eunhi bunuh diri dengan menembakkan diri dengan pistol, setelah lebih dahulu membunuh tuan lee donghae serta istrinya.

Sebelum insiden itu eunhi memberitahukan jimin mengenai keberadaan haera, dan tentu saja jimin sangat terkejut. Eunhi ingin jimin menjaga haera, apapun yang terjadi. eunhi tidak mengatakan apapun, gadis itu hanya mengatakan jimin harus mencarinya di alamat yang telah eunhi tuliskan. setelah insiden itu jimin segera mencari haera, sialnya ternyata gadis itu telah pindah.

Membuatnya semakin frustasi harus mencari gadis itu selama satu tahun. Tapi ia tidak menyerah demi janjinya kepada eunhi yang sudah tiada.

“Sir! Kita telah sampai” jimin tersentak ketika jungkook memanggilnya dengan agak keras.

“Maafkan aku” dengan segera jimin keluar dari mobil yang pintunya telah di buka oleh jungkook.

Jimin menatap bangunan bertuliskan ‘Attorney Office Distric of Songnam’ seraya tersenyum miring. Kemudian kembali melangkahkan kakinya yang diikuti jungkook dari belakang. Jimin mengunjungi salah satu temannya dari sisi putih.

Jimin harus menyeimbangkan sisi hitam dan terang. Hidup di dunia abu-abu yang sudah turun-temurun dari nenek buyutnya, membuat keluarga park memiliki berbagai koneksi yang sangat luas di dunia penjahat maupun dunia pemerintah.

Sebenarnya temannya ini tahu jika jimin mengenal hampir seluruh mafia-mafia high class yang tersebar di korea. dan temannya itu adalah jung hoseok, seorang jaksa yang dulunya adalah seorang detective.

Sampai di depan ruangan milik temannya jimin di sambut sang sekretaris, ia masuk begitu saja dan meninggalkan jungkook di luar, atas permintaan jungkook sendiri. mungkin saja pria itu tengah mencoba mendekati sekretaris cantik tadi.

“Demi tuhan, sialan kau park jimin!” pria yang duduk di balik meja bertuliskan jaksa itu menatap tajam jimin.

Karena sibuk dengan berkas yang ia tangani hingga tidak sadar akan kedatangan jimin, yang sudah berdiri tepat di sampingnya. Jimin hanya mengendikkan bahunya acuh, lalu berjalan untuk duduk di depan hoseok.

“Aku memberikan kejutan untukmu hyung, dan aku berhasil” jimin terseyum bangga, hingga mata sipitnya tidak terlihat.

“Brengsek! Apa yang membuat mu kesini, huh?” hoseok merapikan berkas yang membuatnya fokus tadi, dengan jimin yang mejulurkan lehernya untuk mengintip berkas itu.

“Aku merindukanmu hyung, dan kebetulan lewat saja. Kasus baru, ya?” hoseok mendengus manatap jimin jengah.

“Katakan saja apa yang kau inginkan, tidak mungkin kau datang dengan percuma kesini! Cepat, atau aku akan menendang bokong sexymu!”

Jimin terbahak mendengar ucapan hoseok yang tidak main-main itu. “Baiklah, baik. Aku akan memberikan informasi dengan Cuma-Cuma jika itu menyangkut salah satu teman dari sisi hitamku. Dan sebagai balasannya kau juga memberiku informasi”

“Kau yakin? Kau tidak takut menjadi incaran mereka, karena telah menjadi sumber informasiku?”

“Apa ada yang berani pada park jimin?” Hoseok berdecak sebal melihat kesombongan jimin.

“Sepakat!” hoseok kembali membuka berkas yang tadi ia rapikan . “Apa yang kau ketahui mengenai kim heechul?”

Jimin mengernyitkan dahinya. “Jadi mengenai pak tua itu? memang masalah apa lagi sekarang?”

“Salah satu agenku, berhasil membawa kami menyusup ke pertemuan rahasianya, disana mereka akan membahas peredaran heroin dan penyeludupan imigran gelap. Brengseknya, pak tua itu hanya duduk manis ketika penyergapan dilakukan”

Hoseok mengusap kasar rambutnya, dan jimin tertawa melihat kefrustasian temannya itu. “Itu tandanya mereka sudah tahu jika ada penyusup hyung, kau pikir kau sedang berurusan dengan siapa. Pak tua itu bos dari semua bos mafia di korea. dan pak tua itu secepat ular yang siap kapanpun menggigit mangsanya jika ada kesempatan”

“Jadi itu hanya, sebuah pesta biasa? Mereka mengecoh kita semua agar tidak melihat kegiatan yang sebenarnya?” jimin menganggukkan kepalanya pelan. “Lalu seperti apa sebenarnya?”

Jimin mengetuk dagunya pelan, “Aku yakin jika pertemuan itu tetap terlaksana tanpa pak tua itu disana. Kemungkinan di suatu tempat yang baru mereka buat”

Hoseok menyimak dengan seksama setiap kalimat yang di ucapkan oleh jimin. “Terakhir yang aku tahu mereka tengah membahas pembuatan senjata ilegal, mereka mengembangkannya di bawah tanah. Aku sempat di undang dan pak tua itu berusaha mendapat suntikan dana dariku. aku tidak yakin, bukankah mansion lebih nyaman dari pada harus tidur dengan tikus got? Kenapa pula mereka harus pindah kesana”

Hoseok membulatkan matanya, ia kemudian mengetik sesuatu di komputer yang berada di hadapannya. Dengan seksama hoseok melihat file yang terpampang di layar monitor, dan mengerang keras setelah melihat file-file yang ia dapatkan dari agennya. “Astaga, demi tuhan!”

Jimin tersenyum sumringah, ia mengedipkan matanya sebelah pada hoseok “Baik, sekarang giliranku!”

“Kau ingin informasi apa? Kau bahkan lebih tahu dariku!”

Jimin menatap hoseok dengan tajam, dan hoseok tahu jika jimin tidak sedang main-main. “Berikan semua infornmasi penyelidikan. Kasus bunuh diri keluar lee donghae!”

>TBC<

Oke ini ff baru saya, semoga suka ya. Disini semua member bts ada. Tapi munculnya berurutan hahaha.. saya mohon apresiasinya, berikan saya komentar maupun kritikan supaya saya bisa memperbaiki tulisan saya. terima kasih.

Advertisements

5 thoughts on “[BTS FF Freelance] Blood, Sweat and Tears – (Chapter 1)

  1. Bakalan bingung nih… Ceritanya seru!!

    Tapi, judul ffmu sama dengan judul ff Hye. Bukan bermaksud untuk mengatakan author plagiat tapi nanti jadi bingung karena judul ff kita 11/12.
    Jadi, Hye juga mau kasi saran, penulisan nama itu harus huruf kapital pada kata pertama, seperti Park Jimin.

    Judulnya pake ‘and’ atau ‘&’? Kalo Hye sih pake ‘And’, jadi lebih mudah dibedakan… Maafkan Hye bila kata2 Hye terlalu kasar ya thorr!!

    LAGIPULA, AKU SUKA FF INI!! DITUNGGU KELANJUTANNYA THOR :3

    Liked by 1 person

    1. Hahaha iiya gak papa .. Awalnya aku juga terkejut waktu cek jadwal.. Maaf ya aku bner2 gak tahu. Tp terbukti kan ceritanya beda.. Dan ff saya ini udah lama klo tidak percaya bisa di cek diblog saya karena sudah sampai beberapa chapter 🙂 akan saya sempatkan untuk membaca ff kmu sekali lagi maaf 🙂

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s