[BTS FF Freelance] Fantasy of A Liar – (Chapter 8)

foal4

Fantasy of A Liar (Chapter 8)

by zerronozelos

Main Cast :

| Han Hyun Woo (OC) | Min Yoon Gi |

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst (not sure) etc.

SchoolLife!AU

Rate : T

Length : Chaptered

A/N : Ide cerita murni dari imajinasi liar saya. Kalaupun ada kesamaan, saya jamin tidak akan seluruhnya karena ide cerita datang darimana dan siapa saja—atau kita berjodoh 😀 .

Happy Reading and leave a comment please ><

.

.

[ .. Kau tahu apa fantasi terbesar seorang pembohong? .. ]

.

.

Min Yoon Gi POV

Entah sudah berapa jam aku berputar-putar di tempat yang sama. Aku berpapasan dengan orang-orang berseragam polisi. Sekolah bodoh, bukankah sudah kubilang kalau aku akan menemukan Han Hyun Woo? Kenapa tidak ada yang percaya padaku. Hye Ri mengekor di belakang wali kelas dengan wajah khawatir. Pertanyaan besar menggantung di bahu, siapa orang yang menganggap Han Hyun Woo sebagai peran antagonis di dalam ceritanya?

Apakah dia se-terkenal itu sampai orang lain ingin menculiknya?

Atau, apakah di se-berharga itu sampai ada orang nekat menculiknya?

Entahlah. Ini aneh. Tapi aku tahu kalau dia bukan tipe-tipe orang yang mengikuti tren agar dikenal satu sekolah. Jangan tanya aku tahu darimana. Semua tanda tanya merujuk pada satu orang, Jung Ye In adalah satu-satunya orang yang pernah bertengkar dengannya—setahuku. Menuduh orang tanpa dasar memang tidak baik, meski argumen tadi belum cukup kuat tapi aku—entah mengapa—yakin sekali.

Kedua kakiku berjalan tergesa ke arah kelas Ye In. Mereka berdua memang tidak satu kelas. Tapi tepat sebelum itu aku melihatnya di ujung koridor. Perasaan marah menyelimuti hatiku. Kurang ajar, dimana dia menyembunyikan Hyun Woo? Dengan santai dia berada di sini bersama teman-teman busuknya itu. Gadis rendahan.

“Yoon Gi!!”

Suara Hye Ri mengagetkanku. Dia mendekat lalu tersenyum.

“Ketemu.”

“Apa maksudmu?”

“Han Hyun Woo.”

Lantas aku pun berlari tanpa memikirkan yang lain. Hye Ri terkekeh lalu menyusulku. Benar juga, dimana Hyun Woo?

“Hyun Woo, dimana dia?”

“Depan ruang guru.”

“Terima kasih.”

“Apa?”

“Terima kasih.”

“Astaga. Jadi kau bisa berterima kasih juga.”

“Terserah kau saja.”

Aku mempercepat lariku. Ada rasa yang meledak-ledak di dalam hati. Antara senang dan ketakutan. Senang karena akhirnya dia bisa ditemukan. Ketakutan karena bisa saja penculik itu melakukan kekerasan kepadanya.

Sosok itu tampak di depan ruang guru. Tersenyum seperti biasa ke arah wali kelas. Ekspresi wali kelas bahkan tidak lebih baik dari ekspresi wajahnya. Kemana ketakutan itu? Seakan-akan tidak ada yang terjadi, Hyun Woo tersenyum lebar. Apakah dia memilih untuk menyembunyikan ketakutannya?

“Han Hyun Woo.” Suaraku tercekat.

Jarak beberapa meter memisahkan kami.

“Oh, Yoon Gi?” Hyun Woo menoleh.

Kaki tidak lecet, baik-baik saja. Rok—tidak ada tanda-tanda robek. Kemeja terlihat kusut. Wajah bahagia tanpa tatapan sayu. Dan jangan lupakan rambut yang acak-acakan seperti gelandangan baru ditemukan. Tapi ada yang terasa salah. Wali kelas masuk ke ruang guru, meninggalkan kami berdua.

Tanganku mencoba meraih pergelangan tangannya.

“Apa yang kau lakukan?” Hyun Woo mencoba menahan.

“Penculik itu mengikatmu, apa aku benar?” Tanyaku memburu.

“Ya. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan.” Dia menarik tangannya.

“Kau itu diculik di lingkungan sekolah. Itu adalah masalahnya.”

“…”

“Katakan padaku, siapa yang melakukan hal ini padamu?”

“A-aku tak melihat rupanya.”

“Kau yakin? Kau hanya tidak ingin aku melihat penculik itu, ‘kan?”

“Berjanjilah kalau kau tidak akan melakukan apapun padanya.”

Hyun Woo menatap berharap. Dia memegangi ujung kemejaku.

Apa salahnya mengatakan nama orang sialan itu? Kenapa kau harus memohon-mohon seperti ini?! Tinggal katakan penculiknya adalah Jung Ye Ri dan semua akan selesai. Tidak perlu diperpanjang lagi, mari persingkat masalah. Aku akan memanggil pengacara paling tersohor kalau perlu untuk membuatnya skakmat di pengadilan, tak akan kubiarkan orang itu pergi meninggalkan jeruji besi. Lihat saja.

Seketika rahangku mengeras.

“Mari ikut saya, Sonsaengnim.”

Seorang lelaki berseragam polisi tampak mempersilakan wali kelas untuk berjalan terlebih dahulu, tangannya memegangi borgol. Aku menggeram tertahan, semua darah terkumpul di ujung tangan. Orang itu keluar dengan kepala tertutup. Oh, tidak, ini tidak adil. Aku harus melihat siapa penculiknya sebelum dia pergi.

—Tapi penculik itu bukan Jung Ye In. Dia seorang siswa.

“Apa?” Aku terkejut lalu menatap Hyun Woo.

Hyun Woo hanya mengangguk-angguk.

Apa?!! Yang benar saja!

“Hei, kau!!!”

Tidak sabar, aku pun menarik kerah siswa itu. Kedua manik matanya menatapku sendu. Tidak bisa, tanganku tidak mau bergerak untuk sekedar melayangkan satu tonjokan. Padahal aku kesal setengah mati. Hyun Woo mencoba menahan.

“Min Yoon Gi, kembali ke kelas! Kau tidak boleh memulai perkelahian di sini.”

Wali kelas mengomel. Dan mereka pun pergi meninggalkanku bersama Hyun Woo. Mengherankan. Siapa itu? Aku kenal tatapannya tapi aku tidak ingat sama sekali.

“Katakan padaku siapa dia.”

“Tenanglah. Tidak ada yang perlu dipertanyakan.”

“Katakan saja!”

“Dasar keras kepala, aku bilang tidak ada yang perlu dipermasalahkan, ‘kan!”

Kami beradu argumen. Kenapa? Kenapa tidak kau katakan saja siapa dia? Kenapa harus disembunyikan? Apakah kau takut? Apakah kau khawatir penculik itu akan memutilasimu? Mengapa aku tak boleh tahu? Dan mengapa aku sangat temperamental soal hal ini?

“Kita bicarakan baik-baik di ruang kesehatan. Aku harus tiduran sebentar.” Hyun Woo memijit pelipis.

“Berjanjilah kau akan mengatakan yang sebenarnya.”

“Ya.”

***

Hyun Woo menarik selimut kemudian berbaring, dia menghembuskan napas panjang. Aku tahu hari ini adalah hari paling berat baginya. Tanganku menarik kursi ke samping tempat tidur. Hyun Woo terkejut lalu memejamkan mata. Masih sempat untuk malu juga ternyata.

“Jangan menatapku.” Dia merentangkan tangannya di depan wajahku.

“Kenapa? Kau takut akan meleleh?”

“Apa-apaan kau ini.”

“Kau bilang akan mengatakannya padaku.”

“Sumbu kesabaranmu memang pendek sekali.”

Dia bangkit lalu bersandar ke dinding, tangannya membetulkan selimut.

“Baiklah, kita mulai dari mana?”

“Siapa penculik itu?”

“Kim Tae Hyung.”

Pantas tatapannya tidak aneh. Tsk. Dugaanku meleset, tapi bukannya aku tidak pernah menduga kalau dia adalah si penculik.

“Kukira kau akan memukulnya tadi.” Hyun Woo menghela napas lega.

“Apa maksudmu? Aku memang akan memukulnya tadi. Kalau saja wali kelas tidak menghentikanku, dia sudah babak belur.” Aku terlihat berapi-api.

“Dasar gila.”

Dia menyahut lalu terkekeh. Kau itu yang gila, kenapa terkekeh? Tidak ada yang lucu. Hyun Woo mungkin memang butuh istirahat, tapi dia tak akan bisa tidur selama aku masih duduk di sampingnya. Mungkin khawatir aku akan melakukan hal-hal yang aneh padanya, bisa saja Hyun Woo trauma soal kejadian hari ini. Aku tidak mau membuatnya tambah gila.

“Selama ini dia selalu berada di dekatku, aku tak habis pikir kenapa dia menculikku.” Tangan Hyun Woo memilin-milin ujung selimut, bibirnya membentuk kurva.

“…”

“Kupikir suatu hari nanti aku dapat menjadikan Tae Hyung sebagai penggantimu, itu karena Tae Hyung selalu ada bersamaku.”

Tunggu, jadi selama ini aku ada dimana? Di tong sampah?! Dan lagi, penggantiku?! Jangan harap ada orang yang setara denganku.

“Entahlah. Kepalaku pusing sekali.”

“Hei .. kau belum selesai cerita.”

“Bisakah kau berhenti menuntut? Aku tidak bisa bercerita sekarang. Biarkan aku istirahat.” Sikapnya persis anak balita ngambek. Kalau sudah seperti ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mau memaksa juga rasanya tidak mungkin, dia pasti lelah jiwa dan raga. Apakah Hyun Woo tidak merasa tertekan saat diculik? Kenapa aku khawatir sekali? Tentu dia tidak akan tertekan. Cuma dia orang yang susah diancam. Jung Ye In bahkan saat itu membawa gengnya untuk mengancam anak ini, tapi apa yang ia dapat? Cemoohan rendah dari Hyun Woo.

Han Hyun Woo tidak takut pada siapapun.

—Kecuali pada ibunya.

“Ah .. aku lelah sekali.” Hyun Woo menghembuskan napas berat.

“Kau ingin aku memijatmu?”

“Apa? Tidak, tidak perlu. Aku hanya mengeluh.”

“Kau tahu .. ini pertama kalinya aku menawarkan bantuan secara cuma-cuma  kepada seseorang dan kau malah menolaknya.”

“Tapi aku sungguh-sungguh tidak memerlukannya.”

“Hei. Ini pijat plus-plus, kau tidak mau?”

“Tidak. Terima kasih—dasar mesum.”

Aku terkekeh, marahnya dikuadratkan. Secara tidak langsung aku menghibur diri sendiri setelah setengah mati ketakutan. Ketakutan akan kembali ditinggalkan. Memori buruk menyerang otak, hati pun kembali mengingat masa lalu. Dua tahun yang lalu anak ingusan sepertiku jatuh cinta dan dicampakkan dalam tahun yang sama. Gadis itu pergi meninggalkanku selama-lamanya, mengukir luka nyeri di dalam hati, menyayat sisa otakku. Dan aku pun jadi separuh gila. Aku belum siap untuk ditinggalkan. Padahal aku sendiri tidak mengerti mengapa dunia seakan runtuh saat itu.

Cinta pertama yang bodoh dan polos. Yang menjadi motivasi pertama dalam hidupku.

Tapi sekarang .. aku menemukan dunia lagi. Dia di sini. Terbaring dengan wajah kusut dan lelah. Tegar menghadapi segala kenyataan dimana menyatakan cinta tak semudah membalik terlapak tangan. Untuk waktu yang lama dia telah menunggu seseorang sepertiku menerimanya. Dan untuk waktu yang lama dia telah berpikir untuk berhenti menunggu dan menyerah.

“Yoon Gi?” Hyun Woo menatapku bingung.

“Ya?”

“Tanganmu ..”

“Kenapa?”

Tanpa sadar tanganku telah tertaut dalam setiap sela jarinya. Hyun Woo menatapku kebingungan. Aku sendiri juga tidak tahu sejak kapan tanganku bergerak menyusuri tangannya. Tangan Hyun Woo bergerak melepaskan tautan—

“Sebentar saja.” Tiba-tiba aku menyalak.

“A-apa?” Hyun Woo tergagap.

“Biarkan semuanya seperti ini .. sebentar saja.”

Dia menatapku bingung sekaligus malu.

“Baiklah.”

Kami saling menggenggam tangan. Berbagi kalor dan aliran listrik. Suasana sekitar terasa canggung. Hyun Woo kembali memilin selimut, tidak tahu harus bicara apa. Memang seharusnya laki-laki yang bicara duluan, kan. Tapi aku memilih diam, aku hanya tidak ingin mengganggu suasana yang sedang terbangun, pantang menginterupsi.

“M-mau sampai kapan ..” Dia membuang pandangan.

“Sampai kau tertidur ..” Jawabku enteng.

“Tapi .. aku tidak akan bisa tidur.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa menjawab seperti itu?”

“Hanya ingin memastikan kalau kau tak akan bisa tidur.”

Senyuman lolos dari bibirku. Hyun Woo hanya menunduk malu.

“Ah, aku tidak bisa melihatmu.” Hyun Woo menutupi kedua matanya dengan tangan yang lain.

“Itu lebih baik.”

“Kenapa?”

“Karena aku bisa menatapmu tanpa rasa ragu.”

Jujur saja aku hampir terbahak, aku bukan tipe-tipe perayu gombal semacam itu. Tapi Han Hyun Woo berhasil merubahku dalam hitungan waktu.

Andaikan waktu bisa dihentikan saat momen ini saja.

Aku pasti rela membuang separuh masa hidupku nanti.

Author POV

“Aku pulang.”

Pintu ditutup pelan. Hyun Woo langsung mendapat pelukan dari ibunya, bahkan juga adiknya yang sering tidak peduli.

“Astaga, kau baik-baik saja, kan? Kau terluka?” Ibu Hyun Woo mengecek setiap inci badan anaknya.

“Aku tidak apa-apa, Eomma.” Hyun Woo tersenyum menenangkan.

Eonni, kupikir kau akan mati.” Hyun Jae merengek.

“Dasar, adik sialan. Aku tidak akan mati semudah itu, Bodoh.” Hyun Woo menggerutu sambil memukul kepala adiknya.

Itu sebuah harapan atau apa?!

“Sekarang kau istirahat. Besok tidak usah berangkat, Eomma akan menghubungi wali kelasmu.”

“Tidak, Eomma. Aku akan berangkat sekolah, aku baik-baik saja.”

Memang sulit kalau Ibu Hyun Woo sudah khawatir, susah meyakinkan kalau Hyun Woo baik-baik saja. Akhirnya Hyun Woo bisa meyakinkan Hyun Jae dan ibunya, dia segera menuju kamar. Ingin berbaring dan menutup mata. Hyun Woo sama sekali tidak bisa tidur tadi, mana mungkin dia bisa tidur kalau Yoon Gi memegang tangannya seperti itu?! Bahkan Hyun Woo hampir pingsan dikarenakan unsur tidak percaya. Jangan-jangan semua  yang terjadi hari ini adalah mimpi? Hyun Woo menampar pipinya sendiri lalu mengaduh kesakitan.

Nyata. Aktual. Faktual.

—Sebenarnya tidak se-hiperbola itu. Tapi ini nyata. Sudah berapa lama dia berharap kalau suatu saat Yoon Gi akan memegang tangannya? Bahkan harapan itu ada dalam setiap doanya.

“Astaga ..”

Dia masih belum percaya. Hyun Woo menatap tangan kanannya hingga ia meneteskan air mata—karena tidak berkedip sama sekali.

“Jangan sampai tangan ini terkena apapun, aku tidak boleh membasuh tangan ini.”

Hyun Woo pun terserang kewarasannya.

DDRRTT …

Satu pesan masuk. Hyun Woo mengambil ponsel dari saku menggunakan tangan kiri, masih kukuh kalau tangan kanannya sangat berharga.

“Sudah tidur? Dari .. dari Yoon Gi?!! Ah, mimpi indah macam apa ini??!!!”

Hyun Woo melompat-lompat di tempat tidur hingga menimbulkan suara per yang hampir putus.

“Hyun Woo-ya, kau tidak apa-apa?”

Terdengar ketukan pintu dan suara ibunya yang khawatir.

“Akh .. t-tidak apa-apa, Eomma. Aku hanya mengecek kualitas tempat tidurku yang katanya bergaransi.”

“Baiklah.”

Suara langkah menjauh. Hyun Woo menggigit bantal lalu berteriak tertahan. Tingkahnya sudah menyerupai hewan liar yang kabur dari kandang. Gigit bantal sana-sini. Bantal tak berdosa pun jadi korban, dipukulkan kuat-kuat ke arah tembok sampai hampir meledak. Hyun Woo sendiri rasanya tidak percaya sampai hampir gila. Ia menjambak rambutnya sendiri.

DDRRTT …

“Astaga, astaga .. aku mimpi apa sekarang?!”

Hyun Woo melemparkan dirinya ke tempat tidur. Senyum-senyum tidak waras. Tiba-tiba dia teringat kejadian siang tadi. Penculik yang mampu membuatnya merasa kasihan. Kasihan dengan nasib penculik itu.

—Kasihan dengan Tae Hyung.

Bahkan Tae Hyung sendiri merasa keadaannya menyedihkan.

Setelah membuka penutup mata Hyun Woo, Tae Hyung hanya terdiam menatapnya. Hening tak bersuara. Dia bungkam. Sedangkan Hyun Woo tidak bisa menyembunyikan ekspresi yang ia munculkan. Seolah terkejut itu spontanitas dan tidak bisa ditahan.

”Maafkan aku”.

Tae Hyung berkata seperti itu sambil memijit pelipis. Hyun Woo sendiri bingung harus merespon bagaimana. Penutup mata dan tali telah dilepas, tunggu apa lagi? Seharusnya Hyun Woo melarikan diri. Tapi dia hanya diam tak bersuara. Tae Hyung membuka kancing kemeja sekolahnya satu-persatu—membuat Hyun Woo kelabakan. Mana mungkin ada laki-laki yang mau memperkosa Hyun Woo? Dada saja sedatar papan.

“K-kau mau apa?” Hyun Woo tergagap.

Kancing kemeja pun terlepas, Tae Hyung melebarkan kemeja dan memperlihatkan tubuh bagian atasnya.

“Aku menderita fetihisme transfetik.”

Jelas-jelas itu adalah bra yang dipakai para perempuan. Hyun Woo terkejut bukan main saat melihat Tae Hyung memakainya.

“Ini seperti gangguan kejiwaan. Aku memakai rok dan baju milik Noona ku ketika umur enam tahun. Dan itu berlanjut sampai sekarang, namun di sekolah aku memakai dalaman perempuan dibalik pakaian konvensional agar tidak ada orang yang tahu. Aku sadar bahwa aku laki-laki, tapi aku tidak yakin bisa mengatasi gangguan ini.”

“…”

“Aku berusaha bersikap normal layaknya seorang laki-laki sejati. Tapi semuanya terlalu sulit sampai ingin mati rasanya. Aku stress karena tuntutan itu. Aku tidak bisa hidup di bawah tekanan yang rasanya terus mencekik leher. Aku bahkan mencoba mendekatimu dan berusaha untuk menghapus perasaanku terhadap Min Yoon Gi.”

“Kau—“

Ya. Aku menyukai Min Yoon Gi.”

Rasanya seperti ada petir yang menyambar hati Hyun Woo. Jadi ternyata seperti ini. Hyun Woo tidak merasa jengkel atau emosi. Tidak pula sakit hati. Hyun Woo mencoba memahami usaha Tae Hyung agar bisa hidup normal layaknya remaja laki-laki biasa.

“Perasaanku murni, aku benar-benar menyukainya. Tidak pernah timbul nafsu atau apapun itu dari dalam diriku. Aku hanya menyukai Yoon Gi.” Tae Hyung tersenyum pahit.

“Kenapa .. kau tidak mengatakan perasaanmu?” Hyun Woo menghela napas.

“Dan membuatnya merasa jijik padaku? Lebih baik dia tidak mengenalku sama sekali.”

“Ah, maafkan aku ..”

“Jaga dia untukku.”

Mendadak suara Tae Hyung menjadi parau. Hyun Woo mengernyitkan dahi. Menjaga? Min Yoon Gi sudah besar, tidak mungkin harus dijaga.

“Aku hanya ingin sembuh dari gangguan mentalku. Maafkan aku karena sudah menculik dan menyekapmu. Ini semua karena keinginan egois dari hatiku.”

“Tidak, aku baik-baik saja.”

“Aku akan mengantarmu ke wali kelas.”

“Kau bisa ketahuan.”

“Semuanya memang salahku. Dan salahku juga kalau Yoon Gi membenciku nanti.”

“Tidak. Dia .. tidak akan membencimu.”

Hyun Woo menarik selimut. Bahkan seorang laki-laki saja bisa jatuh hati kepada Min Yoon Gi, apa lagi para perempuan. Tae Hyung bercerita tentang masa sulitnya. Ternyata ada orang yang lebih susah mengungkapkan kata ‘suka’ daripada Hyun Woo. Hyun Woo mungkin hanya terganjal perasaan, tetapi orang seperti Tae Hyung terganjal banyak masalah.

“Kuharap Tae Hyung sekarang baik-baik saja.”

***

Setelah terdengar bel pulang, Hyun Woo cepat-cepat pergi ke ruang guru bersama Hye Ri. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menanyakan keadaan Tae Hyung.

Ssaem.”

“Ada apa, Hyun Woo-ya?”

Wali kelas mereka mengerutkan dahi.

“Kami ingin bertanya soal keadaan Tae Hyung.” Hyun Woo menjawab mantab.

“Oh, semalam dia sudah dipulangkan kembali ke orang tuanya. Kami, para guru, baru saja mengadakan rapat untuk membahas masalah yang terjadi padamu. Mungkin Tae Hyung akan diskor akibat perbuatannnya.”

“Tapi dia tidak akan dipenjara, ‘kan, Ssaem?”

“Apakah kau ingin ia dipenjara?”

“Tentu saja tidak. Aku baik-baik saja, Ssaem. Kami berteman baik.”

“Kalau kau memang merasa dirugikan, maka masalah ini akan dibawa ke hukum. Tapi, kalau kau memang merasa tidak apa-apa, maka semuanya diselesaikan secara kekeluargaan. Dan Tae Hyung akan tetap mendapat sanksi atas perbuatannya.”

“Aku .. baik-baik saja, Ssaem.”

Wali kelas tersenyum melihat mata Hyun Woo yang berbinar-binar, Beliau mengiyakan dan menyuruh mereka untuk segera pulang. Setelah berterima kasih, Hyun Woo dan Hye Ri pun keluar dari ruang guru.  Hye Ri membuka pintu.

“Astaga!”

Dia memekik cukup keras saat mendapati Yoon Gi bersandar di samping pintu. Menunggu untuk menyergap Hyun Woo. Hyun Woo mengernyitkan dahi, menggeleng dan membatin bahwa lelaki kaku sepertinya bisa melakukan hal yang memalukan. Yoon Gi berkacak pinggang lalu menatap Hyun Woo dengan tatapan membunuh. Hye Ri seketika itu juga berpamitan. Tidak mau mengganggu prahara rumah tangga orang lain.

“Kau meminta pengampunan untuk Kim Tae Hyung?” Selidik Yoon Gi.

“Ya, begitulah.” Hyun Woo berjalan meninggalkan Yoon Gi.

“Atas dasar apa kau mengampuni dia?” Yoon Gi mencoba mengejar.

“Atas dasar rasa kemanusiaan.” —Lagi-lagi Hyun Woo menjawab sekenanya.

“Tidak, tidak bisa. Kenapa kau melepaskan seorang penculik seperti dia?”

“Karena aku tahu perasaannya.”

“Kau .. menyukai Tae Hyung.”

Langkah Yoon Gi terhenti. Kedua matanya memancarkan ketidakpercayaan sekaligus kekecewaan mendalam. Kim Tae Hyung ternyata sudah mendahului Yoon Gi. Oh, tidak, ini semua karena dia terlalu memikirkan harus bagaimana dan harus bersikap seperti apa kepada Hyun Woo. Min Yoon Gi masih dalam tahap mencari dan meyakinkan diri sendiri soal perasaannya kepada Hyun Woo. Tapi, Tae Hyung sudah mendahului dan membuat Hyun Woo jatuh hati.

—Yoon Gi terlambat.

“Kau mabuk? Kepalamu terbentur sesuatu? Bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu.” Hyun Woo menghampiri Yoon Gi.

“…”

“Lagi pula, meskipun aku menyukai dia, kami tidak akan pernah bisa bersatu” —karena dia menyukaimu Hyun Woo meneruskan dalam hati.

“Jadi kau benar-benar menyukai Tae Hyung?”

“Entahlah. Aku ingin pulang. Sedang tidak ingin membicarakan perasaan. Yang ada nanti aku ditolak lagi.”

Sindiran menancap di ulu hati Yoon Gi. Hyun Woo berjalan pergi. Pasti ini semua karena kesalahannya yang mempermalukan pengakuan perasaan Hyun Woo waktu itu. Kalau tahu semua akan jadi serumit sekarang, Yoon Gi pasti tidak mau main-main. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Yang harus ia lakukan sekarang adalah bagaimana caranya agar Hyun Woo tidak menyerah untuk menyukai Yoon Gi. Agar Hyun Woo tidak mencoba melupakannya.

“Han Hyun Woo.”

Sejarah penting pun tertulis, seorang Min Yoon Gi mencoba mengejar perempuan. Padahal egonya setinggi langit ketujuh—seketika runtuh akibat ditinggalkan Hyun Woo.

“Apa?” Hyun Woo menoleh.

“Ayo, pulang bersama.”

“Kepalamu itu terbentur apa lagi? Astaga.”

“Ini serius. Kepalaku normal tidak terbentur apa-apa. Aku .. ingin pulang bersamamu.”

Hyun Woo membelalak. Tidak percaya. Sama sekali tidak percaya. Apa yang ia alami benar-benar mirip dengan skenario drama korea yang semalam ia tonton. Tokoh utama pria mengajak tokoh utama wanita untuk pulang bersama. Dan pada akhirnya mereka pulang bersama sambil berpegangan tangan.

Jujur saja, melodrama picisan memang seperti itu.

“Bagaimana?” Yoon Gi menunggu kepastian.

“Tak apa, asalkan kau mentraktirku di perjalanan nanti.” Hyun Woo terkekeh.

“Kau memalak laki-laki?”

“Apa boleh buat, jumlah uang sakuku miris dan perutku lapar. Jadi kau setuju tidak?”

Deal.”

Dan sejarah lainnya telah tertulis. Min Yoon Gi rela dipalak hanya untuk pulang bersama seorang perempuan. Mereka berdua berjalan beriringan—tanpa berpegangan tangan.

Sesampainya di gerbang sekolah, Hyun Woo melihat seorang pria berumur empat puluh tahunan tersenyum. Dia menahan Yoon Gi.

“Tunggu di sini sebentar.”

Yoon Gi menurut saja lalu menatap pria itu dengan penuh selidik. Tapi pekikan Hyun Woo sukses membuatnya lega.

Appa!”

“Hyun Woo-ya.”

Ternyata beliau adalah ayah Hyun Woo.

“Apa yang Appa lakukan di sini?” Hyun Woo menerima bungkusan dari ayahnya.

“Untuk melihat sudah seberapa besar anak pertamaku.” Ayahnya tersenyum.

“Dimana Ro Won dan Ahjumma?”

Tiba-tiba seorang anak kecil menubruk kaki Hyun Woo dan tertawa-tawa. Hyun Woo tanpa ragu menggendong anak kecil itu lalu mencium pipinya. Ro Won tertawa geli. Datanglah seorang wanita berumur tiga puluhan.

“Hyun Woo-ya. Kau sudah besar.” Sapa wanita itu.

Ahjumma. Lama tidak bertemu. Apa ini? Ahjumma juga memberikanku sesuatu? Terima kasih.”

“Kau harus makan yang banyak, lihatlah tubuhmu ini.”

“Aku akan makan semuanya dan tumbuh besar.”

Yoon Gi tersenyum diam-diam. Terkadang ia merindukan masa kecil dimana ayah dan ibunya berkumpul bersama. Bermain bertiga. Tapi sejak sepuluh tahun yang lalu mereka sibuk bekerja. Mencari uang untuk dirinya. Membangun masa depan yang jelas untuk Yoon Gi. Mereka tidak mengeluh lelah. Dan Yoon Gi mencoba mengerti akan hal itu. Jadi dia mencari kegiatan lain.

Yoon Gi tahu kalau mereka mencari uang untuk dirinya. Namun ia juga tak bisa memungkiri bahwa rumah mereka terlalu sepi untuk dirinya sendiri. Keluarga seperti sebuah korek api di musim dingin, kecil namun menghangatkan.

“Yoon Gi.” Hyun Woo menekan lengannya.

“Sudah selesai?” Yoon Gi sedikit terkejut.

“Mereka sudah pulang. Appa, Ahjumma dan Ro Won.”

Ahjumma?”

“Dia istri baru Appa.”

“Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa.”

Mereka berdua menyusuri trotoar. Masih belum berminat untuk berhenti di halte dan menunggu bus. Karena Yoon Gi tahu arah mereka berbeda jadi busnya pun bakal berbeda.

“Orang tuaku berpisah sejak tujuh tahun yang lalu. Aku dan adikku diasuh oleh Eomma. Sedangkan Appa menikah lagi dan punya anak bernama Choi Ro Won. Kau tahu anak kecil tadi.” Mulai Hyun Woo.

“…”

“Saat aku tahu dia menikah lagi, aku syok. Kenapa Appa se-begitu cepatnya melupakan Eomma? Mulanya semua terasa tidak wajar, namun perlahan aku bisa menerima dan bersikap kalau itu wajar. Setiap manusia mungkin jatuh cinta lagi meski sudah terikat pernikahan.”

“Kau membenci ayahmu?”

“Pada awalnya, tapi aku mencoba menerima. Mungkin terdengar sulit dan mustahil, namun aku percaya aku bisa menerima.”

“Meski ayahmu melupakan ibumu?”

“Ya ..”

Lagi-lagi Yoon Gi berhenti sembarangan.  Dia menatap Hyun Woo, antara kagum dan tak percaya. Keluarganya hancur oleh sebuah perceraian, tapi bagaimana mungkin masih tetap berhubungan? Bahkan ayahnya sudah mempunyai istri baru, Hyun Woo masih bisa menerima. Yoon Gi membayangkan kalau ia menjadi Hyun Woo. Sudah pasti ia bakal depresi berat lalu bunuh diri.

Min Yoon Gi pastilah seorang pengecut.

Bertekad bunuh diri hanya karena ditinggalkan orang yang ia cintai.

Terdengar sangat tidak manly.

“Jangan melamun.”

“Ah, tidak. Jadi aku harus mentraktirmu?”

“Kurasa tidak perlu, aku sudah mendapatkan makanan dari Appa.”

“Memang boleh dibatalkan begitu saja?”

“Bukankah harusnya kau senang?”

“Entahlah.”

Yang ada malah sebal. Yoon Gi sudah menyiapkan kartunya untuk digesek, tapi Hyun Woo malah membatalkan secara sepihak. Kalau dipikir-pikir, andaikan dia jadi mentraktir Hyun Woo maka mereka akan makan bersama di luar untuk pertama kalinya. Bisakah yang seperti itu disebut kencan? Yang benar, hubungan saja tidak punya.

“Bagaimana kalau kita ke Namsan Tower?”

Han Hyun Woo POV

Apa?!

Aku tidak salah dengar, ‘kan? Barusan Yoon Gi menawariku untuk pergi ke Namsan Tower. Aku masih saja percaya kalau kepalanya terbentur sesuatu sebelum bertemu denganku. Ini aneh. Namsan Tower itu legendaris—bagi orang yang punya hubungan. Dan sekarang dia mengajakku ke sana tanpa suatu hubungan apapun. Tampaknya ada nama yang cocok untuk hubungan kami, yaitu ‘teman tapi dulunya musuh’. Konyol. Jangan-jangan dia mau mempermainkanku lagi? Astaga, hampir saja aku terlena. Aku harus pasang perisai hati.

“Apa-apaan ini? Kau ingin mempermainkanku lagi?”

“Apakah aku terlihat ingin mempermainkanmu?”

Yoon Gi balik tanya lalu menunjuk wajahnya yang datar. Aku meneliti setiap gurat wajahnya, apakah ada tanda-tanda kebohongan atau apapun itu yang bersifat negatif. Nihil. Dan Yoon Gi terlihat puas.

“Tidak. Tunggu, aku masih harus meneliti lagi.” Tanganku menahannya.

“Terserah kau.”

Oh, ayolah. Setidaknya aku harus melihat satu saja tanda kebohongan, agar aku bisa menolak ajakan Yoon Gi. Bagaimanapun juga, siapa yang kuasa menolak ajakan seorang primadona sekolah seperti dia. Yoon Gi adalah idola, idola siswi satu sekolah. Aku juga siswi, itu berarti dia adalah idolaku juga. Sayangnya dia membuatku patah hati berulang kali sehingga apaun yang Yoon Gi lakukan padaku mau tak mau harus dicurigai.

Ingatlah, Han Hyun Woo, dialah orang yang mempermalukan perasaanmu.

“Kau masih belum percaya?” Tiba-tiba tangan Yoon Gi terangkat, hendak beraksi.

“Baiklah! Aku percaya. Tapi kita ganti destinasinya.”

“Dimana?”

“Bagaimana kalau Sungai Han?”

Goal.”

“Hah?”

“Kau sendiri yang menawari, ‘kan. Kenapa terkejut?”

“Kupikir kau akan menolak dan aku bakal pulang dengan selamat.”

Tiba-tiba Yoon Gi menarik lenganku dan mendekatkan wajahnya.

“Aku akan membuatmu merasa aman.”

“T-tidak perlu. Aku seratus persen percaya padamu, sungguh.”

“Kau sendiri yang membuatku serasa ancaman bagimu.”

“Karena kau memang patut diwaspadai.”

Yoon Gi menarikku menuju halte. Dua menit menunggu dan ada bus datang, tanpa tedeng aling-aling kami masuk. Aku sendiri memastikan nomor bus agar tidak keliru karena saking tergesa-gesanya Yoon Gi menarik tanganku. Bisa saja dia tidak melihat nomor bus dan tujuannya. Bakal kacau kalau memang seperti itu kejadiannya. Kami duduk di sudut bus.

Diam.

Sampai lima menit lamanya.

Dan aku pun bingung harus berbuat apa. Dia tidak mengucapkan apapun sejak awal perjalanan. Aku ingin sekali bicara meski tidak penting, namun ingat kalau perempuan tabu dalam memulai segala sesuatu. Bagaimana caranya membunuh suasana yang dingin ini? Bermain ponsel buka solusi. Lalu bagaimana jika acara diam-diaman ini berlanjut hingga di Sungai Han. Tidak mau. Aku bisa sinting karena tidak mengucapkan sepatah kata.

“Oh, pizza! Ah, aku ingin makan pizza.”

Han Hyun Woo bodoh. Padahal tadi aku menolak tawaran Yoon Gi. Dan apa sekarang? Aku pura-pura ingin pizza.

“Kenapa kau bersikeras sekali untuk memulai obrolan?” Yoon Gi menoleh ke arahku.

“Entahlah. Kupikir karena aku tidak suka berhenti bicara.” Dan aku pun jadi salah tingkah.

“Apa yang akan kita lakukan nanti di Sungai Han?”

“Makan.”

“Apakah di otakmu itu tidak ada hal selain makanan?”

“Aku lapar. Sebentar, biar kulihat apa isi bungkusan ini.”

Kira-kira apa isi bungkusan yang dibawakan Appa?

Tanganku sibuk membuka bungkusan yang berlapis-lapis. Ah, ternyata kotak bekal. Aku mengangkat dan melihat isi kotak tersebut. Yoon Gi mengernyitkan dahi, mungkin kecewa dengan isinya. Tapi, nasi kepal adalah surga duniaku. Aku benar-benar sedang ingin makan nasi kepal dan ramyun. Kami harus mampir ke supermarket dulu sebelumnya. Makan bersama di pinggiran Sungai Han memang yang terbaik. Apalagi kalau kau bersama seseorang yang kau sukai.

—Meski hubungannya masih sebatas teman.

“Kau tidak suka?” Tanyaku.

“Kupikir ayahmu membawakan sesuatu yang mahal, ternyata hanya nasi kepal. Kau pasti tidak akan kenyang, tahu begitu tadi aku mentraktirmu.” Yoon Gi terlihat kecewa.

“Memang tidak kenyang, tapi jangan remehkan rasa nasi kepal ayahku. Ini enak sekali. Dan kita harus beli ramyun juga.”

“Ramyun?”

“Tentu saja.”

Akhirnya aku bisa tersenyum senang. Memang makanan cepat membuatku bahagia dan melupakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Yoon Gi menggeleng heran, pasti sedang membatin. Terserah dia mau memaki apa di dalam hati, yang penting di Sungai Han nanti aku bisa kenyang. Semoga saja hari ini tidak terlalu ramai dan kami bisa duduk dengan nyaman.

Sesampainya di halte, kami berdua turun. Sesuai perkataanku tadi, kami harus membeli dan makan ramyun. Aku mengambil dua buah ramyun lalu segera menuju kasir. Di sana Yoon Gi sudah menunggu sambil menggenggam kartunya.

“Kau hanya beli itu saja?” Tanya dia agak kaget.

“Aku bilang akan makan ramyun. Ini ramyun, ‘kan?” Tanyaku memastikan, siapa tahu ini nasi.

“Ya. Bagaimana kalau ambil makanan kecil lainnya?”

“Baiklah. Tunggu aku.”

Es krim, keripik kentang, permen, dan susu. Kebaikan orang memang tidak boleh disia-siakan. Aku membawa beberapa makanan dan susu lalu menaruh di meja kasir. Lagi-lagi Yoon Gi menatapku heran.

“Ini sudah cukup. Perut kita bisa meledak nanti.”

Akhirnya dia menggesek kartu dan membawakan belanjaan kami. Serasa piknik—atau kencan. Jangan-jangan hanya aku yang merasa kalau kami sedang kencan. Ah, kapan hal itu benar-benar terjadi? Rasanya aku bisa menunggu. Kadang aku merasa bisa mempertahankan perasaan ini, tapi kalau dipikir-pikir menggunakan akal sehat aku terlihat sangat bodoh karena menunggu sesuatu yang tidak pasti.

Perasaan manusia itu berubah-ubah.

Jadi susah sekali memastikan sesuatu hal.

“Duduk di sini?” Tanya Yoon Gi.

“Ya.”

Kami meletakkan bungkusan yang masing-masing dibawa. Aku mengeluarkan kotak bekal berisi nasi kepal. Sedangkan Yoon Gi mengeluarkan ramyun dan susu. Semoga saja belum lembek karena jarak supermarket agak lumayan juga dari Sungai Han. Aku memisahkan sumpit lalu memberikannya kepada Yoon Gi. Dia menerima lalu terdiam.

“Ada apa?” Aku memisahkan sumpit untuk diriku sendiri.

“Apakah kita terlihat seperti pasangan yang baru menikah?”

“Kau ini bicara apa? Kita masih memakai seragam, mana mungkin dikira seperti itu.”

“Apakah nasi kepal  ini boleh dimakan?”

Appa memberikannya bukan hanya untuk dilihat.”

Dia memotong setengah nasi kepal berbentuk segitiga lalu menyumpitnya. Yoon Gi meneliti apa isi dari nasi kepal itu. Kalau aku sendiri sudah hapal apa isinya jadi tanpa ragu aku pun langsung memakannya.

“Itu campuran tuna dan kimchi.”

Aku seolah menjawab rasa penasaran dari tatapannya. Yoon Gi mengangguk lalu memakan nasi kepal itu. Ah, ramyun tidak boleh dimakan nanti-nanti, tidak enak kalau dingin. Aku memasukkan separuh nasi kepal ke cup ramyunku lalu mencampurnya dengan sendok. Dan lagi-lagi Yoon Gi menatap heran. Dia tidak pernah makan-makanan supermarket selama hidupnya? Bukankah seperti ini caranya makan ramyun dengan nasi? Kenapa harus heran begitu?

“Kau pernah makan-makanan seperti ini tidak sebelumnya? Kenapa heran sekali melihat aku mencampurkan nasi kepal ke ramyun?” Tanyaku sambil meletakkan cup ramyun.

“Nasi kepalnya enak, tapi apakah enak kalau dicampur dengan ramyun?” Dia bertanya seperti anak kecil.

Ya, aku bertanya-tanya kau selama ini melakukan apa.”

Tanpa ragu aku memasukkan setengah nasi kepal lainnya ke cup ramyun Yoon Gi, sendok di tangan Yoon Gi pun kurebut untuk mengaduk-aduk nasi.

“Kau pasti hidup di dalam istana dan makan-makanan yang bergizi. Orang tuamu tidak membiarkan kau memakan makanan instan seperti ini. Aku tahu kalau makanan instan tidak baik, tapi apa salahnya mencoba sesekali. Kau tahu, makanan instan itu mewarnai hidup.”

Aku mengomel sambil mengaduk-aduk agar tercampur rata. Yoon Gi menunggu dengan sumpit di mulut. Jujur saja, ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang yang tidak tahu cara makan enak. Kedua orang tua Yoon Gi pasti menyediakan seorang chef bintang lima di rumahnya, jadi dia tidak akan kelaparan miris sepertiku.

“Makanlah, setelah ini kita makan es krimnya agar tidak mencair.” Aku memberikan ramyun Yoon Gi.

“Es krimnya pasti sudah mencair setelah kita selesai makan.” Yoon Gi menyendok nasi.

“Lebih baik es krimku mencair daripada ramyunnya dingin.”

“Memang tidak enak?”

“Ramyun lembek dan dingin sama sekali tidak enak.”

“Apakah kau cuma bisa mencampur makan makanan instan seperti ini?”

“Aku ahlinya dalam mencampur makanan instan.”

“Kau bukan calon istri yang baik.”

“Aku hanya bisa membuat kimchi dan menanak nasi, apa boleh buat.”

“Baiklah, membuat kimchi dan menanak nasi pun sudah cukup untukku.”

“Hah? Apa maksud perkataanmu itu?!”

“Setidaknya besok aku tidak akan terkena kanker karena terlalu banyak makan makanan instan kalau kau bisa menanak nasi dan membuat kimchi.”

“Aku tidak bilang mau jadi istrimu.”

“Memang tidak bilang.”

Min Yoon Gi mulai lagi. Menggoda dan membuatku kesal. Cepat-cepat aku menghabiskan sisa nasi yang tersisa dan minum susu. Es krim memang tidak boleh dibiarkan mencair. Aku membuka brutal bungkus es krim, lalu membuat gigitan pertama. Sore yang berawan, cocok sekali untuk melihat pemandangan Sungai Han. Es krimnya memang sudah mulai lumer, tapi masih bisa digigit.

Kami berdua pergi tanpa ada rencana. Dan, saat ini adalah kami berdua. Bukan hanya aku ataupun Yoon Gi. Tapi kami berdua. Sesuatu yang kuimpikan sejak lama akhirnya menjadi kenyataan, meski perasaanku sekarang sudah tidak utuh. Aku mengeluarkan ponsel lalu mengambil gambar keadaan sekitar. Lalu diam-diam mengambil gambar Yoon Gi sedang makan ramyun dengan lahap. Hampir saja aku terkikik geli.

“Jangan ambil gambar seseorang diam-diam, kau bisa kena hak cipta.” Yoon Gi menyendok tanpa menoleh.

“A-apa? Aku tidak mengambil gambar apa-apa.” Aku menolak tuduhan.

“Kau mau berfoto setelah ini?”

Yoon Gi meletakkan cup ramyun yang sudah kosong lalu meneguk susu. Aku membelalak, ingin segera mengiyakan tapi mencoba untuk mempertahankan harga diri. Tentu saja aku mau. Mau sekali. Siapa tahu ini kesempatan sekali seumur hidup. Dia memakan es krim lalu bangkit.

“Ayo.” Yoon Gi mengulurkan tangan.

“Huh?” Aku pura-pura tak mengerti.

“Jangan pura-pura bodoh.”

Tangan Yoon Gi menarik lenganku. Aku dipaksa berdiri lalu mengikuti langkahnya yang tergesa. Lagi pula kita bukan pencuri, tapi kenapa seakan-akan sedang dikejar polisi? Kami berdua pergi menuju tukang foto yang membawa kamera polaroid. Dunia semakin modern saja. Aku menduga kalau Yoon Gi punya satu di rumah tapi tidak di bawa. Tapi tampaknya dia bukan tipe-tipe orang gemar mengambil wajah sendiri.

“Baiklah agak mendekat.”

Tukang foto itu mengarahkan kami. Aku pada awalnya baik-baik saja, tapi instruksi untuk saling mendekatkan diri membuatku tertekan dan gugup. Bagaimana kalau fotonya dibuat landscape? Pemandangan Sungai Han juga perlu kelihatan. Tidak mungkin kalau penuh dengan wajah kami. Yoon Gi tanpa ragu mendekatkan badan.

“T-tunggu.” Aku menahannya agar tidak terlalu dekat.

“Tukang foto itu memerintah untuk agak mendekat.” Protes Yoon Gi.

“Bagaimana kalau fotonya dibuat landscape? Kurasa pemandangan di belakang juga perlu terlihat.” Aku bertanya kepada tukang foto.

“Ah, iya, benar juga. Kalau begitu tidak perlu terlalu dekat juga tidak apa-apa.” Tukang foto itu mulai membidik.

“Apa? Ahjussi, kau menyuruh kami untuk foto berjauhan?”

Tiba-tiba Yoon Gi protes layaknya anak kecil tidak mau dipisahkan dari ibunya. Aku menyodok perutnya.

“Sudahlah. Ahjussi itu hanya bilang kalau tidak perlu terlalu dekat juga tidak apa-apa.”

“Apakah aku terlihat ingin difoto menjauhimu?”

“Astaga. Bicara apa kau ini? Sudahlah.”

Ternyata tanpa kami sadari tukang foto itu sudah mengambil gambar beberapa kali. Sungguh tidak ada pose yang bagus sama sekali.

“Kalian bisa berpose layaknya pasangan kekasih. Kalian pacaran, ‘kan?”

Aku membeku di tempat. Bingung harus menjawab apa, padahal jelas-jelas hubungan kami adalah pertemanan. Yoon Gi menjawab cepat.

“Hampir.”

“Hampir? Baiklah.” Tukang foto itu sedikit kebingungan tapi tetap mencoba membidik.

Ahjussi, tolong ambil foto untuk yang terakhir kalinya, kau harus cepat dan hasilnya harus baik. Aku akan membuat pose.”

Senyuman aneh terbit di bibir Yoon Gi. Aneh sekali. Sangat aneh.

“Han Hyun Woo, lihat aku.” Dia memegang bahuku.

“B-baiklah, tapi kau tidak perlu memegangi bahuku.” Aku mencoba menyingkirkan tangannya karena risih dan malu.

“Jangan bergerak atau semuanya bakal kacau.”

“Baiklah.”

Wajah Yoon Gi turun secepat aku melihat tatapan matanya. Dia menatap sambil menggigit es krim di tanganku. Membuat darah berdesir cepat dan jantung berdegup kencang. Terdengar suara kamera mengambil gambar.

Min Yoon Gi sinting.

“Astaga, kudoakan kalian segera pacaran. Hasil fotonya bagus sekali.”

Kata-kata tukang foto itu seakan lewat begitu saja. Yoon Gi memakan jatah es krimku dengan tenang lalu menghampiri tukang foto, dia menggesek kartunya lagi dan membawa sejumlah foto. Aku terdiam menatap es krimku yang tinggal separuh. Tadi ada bekas gigitan Yoon Gi di sini. Apakah aku harus mengawetkan es krim ini dan membingkainya di kamar? Aku berharap es krim bisa jadi fosil, sayang es krim bukan mahluk hidup.

“Foto yang posenya benar hanya foto terakhir. Ahjussi itu benar-benar.” Yoon Gi menggerutu setelah mengecek hasil fotonya.

“Bisakah aku dapat satu?”

“Tentu saja. Ini adalah foto kita bersama. Kenapa kau ragu-ragu begitu?”

“Aku pilih ini.”

Dari sekian foto, aku memilih sebuah foto yang sama sekali tidak berpose. Hanya menunjukkan bagaimana cara kami berargumen. Itu saja sudah cukup untuk mewakili acara kami hari ini. Yoon Gi memasukkan foto yang tersisa ke tasnya.

“Kupikir aku harus membingkainya.” Aku menggumam.

“Aku pun juga.”

Aku menoleh, Yoon Gi hanya tersenyum. Tapi .. entah mengapa terasa berbeda. Aku mengambil ponsel.

“Tetap tersenyum seperti itu, aku akan mengambil gambarmu.”

“…”

Yoon Gi tersenyum.

—Sungguh semanis gula yang legit.

“Bagaimana?” Tanya Yoon Gi memastikan.

Aku mengacungkan ibu jari. Tanda kalau tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“Apakah cukup tampan sampai membuatmu menyukaiku lagi?”

Ah, kupikir sekarang belum saatnya melupakanmu. Aku semakin jatuh kepada pesona Min Yoon Gi yang asli. Memang sampai kapanpun rasanya dia tidak bisa tergantikan. Memoriku menempatkan dia di tempat yang khusus. Kalau memang kami tidak cocok dan dia tidak menyukaiku, aku hanya akan terus menyukainya seorang diri. Aku terkekeh lalu berujar.

“Memangnya kapan aku pernah menyerah untuk menyukaimu?’

.

.

.

TBC

Maaf sekali akhir-akhir ini saya terlambat update. Tahun ini adalah tahun paling sibuk sekaligus tahun terakhir di SMA, jadi saya sering lupa untuk menuliskan cerita. Maaf juga kalau chapter ini kurang membuat pembaca puas karena saya juga sedang krisis ide. Untuk para penggemar Kim Tae Hyung, saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya, ini adalah fiktif belaka jadi jangan dianggap serius. Sekian dan sampai jumpa di Fantasy of A Liar Chapter 9 😀

Advertisements

21 thoughts on “[BTS FF Freelance] Fantasy of A Liar – (Chapter 8)

  1. mana lanjutannya thorrr
    tau gak sih hatiku menggebu gebu waktu baca ini eh…pengen baca part selanjutnya ternyata belum ada
    buruan ya thor gak sabar ni😁😁😁

    Like

  2. Author mahhh taehyung aku kenapa jadi gitu?!!! Kagettt saya wkwkwk😂😂 gesrek emang taetae aku… btw mas suga gemes deh tarik ulur mulu wkwkkw… aku doakan mas suga cepet pacaran sama hyun woo wkwkkw… thor lama banget update :'(( kan kangen wkwk

    Like

  3. Annyeong haseyo thor hyejung 97line imnida. Maaf baru comment d chapt yg ini hehe
    Aaahhh suka banget sama ff ini thor, alurnya, penokohannya, diksinya nae style bangett hehe dtunggu chapt selanjutnya.soon yaa hehe^^♡

    Like

  4. suka sama ff ini, alur ceritanya sama penokohonannya juga keren, maaf baru komen di chapter ini, aku reader baru di sini, salam kenal ✌😊

    Like

  5. Maaf im a newbie, bukan nya mau jd siders tapi hanyut sama ceritanya
    Keren bgt, konflik nya ga klise
    Apalagi soal taehyung di chapt sebelumnya
    Bener” kreatif, keep writing 🙂

    Like

  6. Akhirnya ff yang aku tunggu” keluar juga.. BAGUS THORRRRR ㅠㅡㅠ terus berkarya. Dipercepat chapter 9nya. Aku tunggu kokk, segera ya thor seru banget abisnya. Aku suka bahasanya trs sikapnya yoongi author bener” buat nonjol aku sukaa hehe. Makin jatuh cinta sm yoongii nehh. Makasih thor di malam natal aku baca ini menghibur hati banget! Selamat natal dan tahun baru thorrr

    Like

  7. halo salam kenal, aku pembaca newbie d post ini maaf sebelumnya kalo sebenernya aku siders, tpi setelah baca ff ini rasanya kurang sopan kalo g ninggalin jejek ^_^, ceritanya sungguh menarik, bisa banget bikin orang penasara sepuluh jempol buat author. terus bikin cerita yg menarik di tunggu ceritanya fighting \(^_^)/

    Like

  8. Aaaaaa!!!! DAEBAK…..!!!!👏YOON GI-CHINGU’YA….OMO…..aku sampai hampir kehabisan kata kata….Karakter yang dimiliki oleh NAMJA-CHINGU(YOONGI)ku AAAAA!!!!DAEBAK…..karakter yang dimiliki oleh HYUN WOO GK tau kenapa bisa sama kaya karakter aku…..beneran lho……Ehem aku tunggu lanjutan prt 9 dan seterusnya Aku gk nerima penolakan….karena ceritanya keren banget….kalo ada acara yg ngedukung cerita bagus aku dukung cerita ini 100℅……lanjut ya thor….FIGTHING………Aaaa YOON GI OPPA…..!!!!😽

    Like

  9. Kena diabetes thor hbs baca chapter ini..so sweet nya yoongi ga karuan >< cool cuek tp so sweet bkin meleleh hahaha smagat thor ff nya dan sma nyaa ^^

    Like

  10. Ugh min yoon gi cuma bilang “aku menyukaimu hyun woo” kayaknya susah banget dah, gemes jadinya
    Btw semangat untuk tahun terakhir di SMA nya thor

    Like

  11. Yaampun yoongi so sweet banget….ahh keren keren lah pokonya makin penasaran sama cerita selanjutnya, dan thor ntar tae nya tolong di sembuhin ya hehe

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s