[BTS FF Freelance] Hold Me Tight – (Chapter 1)

video-project-mp4_20160331_224906-2642-2

  • Tittle : Hold Me Tight( Part 1 )
  • Author : Park Hae In
  • Main Cast:
  • Park Jimin (BTS)
  • Kim Seolhyun (AOA)
  • Support Cast: Find out by your self ^_^V
  • Genre : Romance, hurt, comfort, drama/?
  • Rating: PG15
  • Length : Chapter
  • Desclaimer : they’re not mine. But the story is mine.

Happy Reading Yeoreobeun…..^^~

Hell! Suck my night!

AAKKKKHHHH BTS! BTS! BTS!!!!

Suara riuh penonton begitu memekakkan telinga. Gema music yang menggebu bersatu dengan seruan para penonton yang tak hentinya meneriakkan nama idolanya.

Gadis itu, Kim Seolhyun, kini tengah berdiri diantara ribuan bahkan jutaan penonton yang berteriak histeris. Sesekali ia menutup telinganya ketika teriakan penonton di sebelah terasa begitu menusuk gendang telinganya. Tak bisa dipungkiri gadis itu sekarang merasa bahagia. Bagaimana tidak? Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menonton secara langsung penampilan idola mereka secara langsung seperti dirinya.

“AAKKKHHHHH JEON JUNGKOOOOOK!!!”

Seolhyun ikut meneriakkan nama idolanya begitu sosoknya mengambil part dalam lagu. Matanya tak hentinya berbinar dan dia berlomcat-loncat excited.

Hingga part seorang Park Jimin masuk, seolhyun begitu focus menyaksikan konser. Meskipun bias utamanya adalah Jeon Jungkook. Tapi tetap saja. Keseluruhan member BTS adalah idolanya.

“Seolhyun-ah. Ini sudah jam berapa?” tanya Hyejeong, sahabat seolhyun yang ikut menonton konser bersamanya.

Seolhyun memperhatikan arloji kecil yang tersemat di pergelangan tangan kirinya.

“jam 10 malam unni. Waeyo?”

“ah~ aniyo… sebentar lagi konsernya selesai ya.”

“ah ne unni. Sebentar lagi. Inikan lagu terakhir..”

Seolhyun kembali focus pada BTS. Park Jimin masih bernyanyi. Ia begitu excited karena ia bisa menonton konser BTS secara live dan beruntung bisa mendapat kursi paling depan. VVIP. Berkat ayah Hyejeong yang rela membelikan tiket konser VVIP untuk anaknya dan Seolhyun.

“JIMIN-AAAAAHHHHH!!!” Teriak Seolhyun.

Mungkin sebuah keberuntungan atau apa, namun kini namja berambut oranye itu kini mengedipkan sebelah matanya pada Seolhyun, yang sontak membuat gadis itu serasa melayang.

“Seolhyun-ah~ hanya perasaanku saja atau barusan park jimin baru saja mengedip kearahmu??” ujar Hyejeong sedikit histeris.

“ Eoh unni~ nan mollayo~ ”

“ aiss.. kau beruntung.”

Tepat pukul 10.30 konser berakhir. Satu persatu penonton mulai meninggalkan Seoul Cental Park. Seolhyun dan Hyejeong berjalan beriringan menuju mobil ayah hyejeong yang sudah menunggu di sebrang.

“Seolhyun-ah. Naiklah.”

“arrasseo~”

>>>

.

.

@ BTS Dorm

Park Jimin, namja itu mengacak rambut orange-nya dengan brutal. Ia melemaskan dirinya di sofa, memandang langit-langit dorm dengan bosan. Ia baru saja menyelesaikan konsernya. Harusnya ia beristirahat sekarang, tapi kini ia malah merasa suntuk berada di dorm. Ia butuh udara segar.

Ponsel namja itu bergetar. Sebuah pesan masuk.

From : Nayeon

Oppa bagaimana konsermu? Nan beogeosippeoyo~

Jimin tersenyum sejenak melihat ponselnya. Jemarinya bergerak lincah pada layar touch screen-nya

To : nayeon

Hm… konserku lancar. Nado beogeosippeoyeo. Kau dimana? Ayo kita bertemu.

Sudah 15 menit sejak pesan terakhir yang jimin balas dari gadis bermarga ‘Im’ tersebut. Namun ia belum juga membalasnya.

Jimin menghembuskan nafasnya dengan berat, hingga J-hope datang dan melompat keatasnya, menindih tubuhnya hingga namja itu meringis.

“aish… yak! Hyung! Jangan lakukan itu lagi!” sungutnya.

“yak. Ada apa denganmu? Wajahmu terlihat tidak baik jiminie~” ujar j-hope sambil mencubit dagu jimin.

“tidak baik bagaimana? Aku tetap tampan, kau tau?”

“aish… kau terlalu menyombongkan wajahmu kau tau. Arrasseo. Waegeuraeyo?”

“aniyo… aku hanya… bosan?”

“yak. Kenapa kau tidak tidur saja? Kau pasti lelah setelah konser.”

“nde… tapi aku tidak mengantuk. Aku hanya butuh udara segar.”

“atau kau bisa menelpon nayeon. Mungkin setelah bertemu dengannya semangatmu bisa kembali.”

“hfft… sudah kulakukan. Tapi dia belum membalas pesanku. Sepertinya dia sedan sibuk.”

“ish.. hubungan kalian ini aneh sekali, asal kau tau.”

“arrayo….”

Jimin kembali merentangkan tubuhnya. Rasa suntuk itu semakin menjadi-jadi. Namja itu bangkit dari sofa dan mendorong j-hope hingga namja itu terjatuh dari sofa.

“yak! Aish… appo-yo!” sungut j-hope.

“hahahaha. Kau tidak terluka parah-kan. Haha”

Jimin bergegas mengambil hooddie abu-abunya dan masker hitam serta headset-nya. Ia memutuskan untuk mencari udara segar, melepaskan rasa lelahnya dan menikmati langit malam kota seoul.

“nan halke.” Ujarnya berpamitan pada member lainnya, yang sedang terlihat sibuk dengan dunianya masing-masing.

“eoh. Kau mau kemana jimin-ah? Kau tidak lelah setelah konser?” ujar rapmon yang tengah berbaring di sofa sambil memainkan ponselnya.

“aniyo. Aku hanya ingin mencari udara segar.”

“arrasseo. Pastikan kau tidak tertangkap oleh fans, nde.”

“hm.. arrayo.”

Jimin melangkah keluar dorm dan menutup pintu dengan rapat. Ia memasang headsetnya dan membuka ponselnya. Mencari lagu yang bagus untuk ia dengarkan.

“ah! Ini dia. Haruman~” gumamnya menemukan satu lagu yang pas. Pilihannya jatuh pada lagu grupnya, BTS, just one day.

Kakinya membawanya masuk kedalam lift. Menekan tombol bertuliskan angka satu, lantai dasar.

>>>

.

.

“Gomawo eonni-ya. Aku benar-benar berterima kasih untuk semuanya.”

“ne! cheonmaneyo seolhyun-ah~ kau yakin tidak ingin aku antarkan sampai rumah-mu?”

“aniyo… cukup sampai sini saja. Lagipula-kan rumahku tidak jauh.”

“arrasseo. Kalau begitu aku pergi ya. Sampai jumpa besok di café seolhyun-ah~”

Seolhyun melambaikan tangannya pada Hyejeong hingga mobil yeoja itu menghilang dari pandangannya. Ia tersenyum. Malam ini benar-benar malam yang tidak akan pernah ia lupakan.

Seolhyun melangkahkan kakinya melewati taman. Ia tau bahwa ada jalan yang lebih dekat untuk pulang, tapi ia memilih untuk melewati taman. Ia memilih untuk berjalan-jalan sejenak menikmati udara malam kota seoul.

Yeoja itu membuka ponselnya. Jarinya bergerak lincah menggeser layar touch screennya. Ia tersenyum lebar melihat beberapa foto dari BTS yang berhasil ia potret sewaktu di konser tadi.

“aish… what a great photo, seolhyun-ah~” ujarnya pada dirinya sendiri.

>>>

.

.

=Jimin’s POV=

Setelah berjalan 10 menit, aku jadi merasa sedikit lelah. Kota seoul masih sangat ramai meskipun sudah cukup larut. Lagu dari grup kami yang berjudul ‘miss right’ kini terputar di ponselku. Aku berjalan menyebrangi zebra cross sambil menundukkan kepalaku. Mungkin sekarang aku terlihat aneh dengan masker hitam yang kukenakan dan hooddie yang menutupi kepalaku, tapi jika aku ingin selamat, tentu aku harus mengenakan semua ini.

Aku masih menundukkan kepalaku, membiarkan kaki-ku ini membawaku menyebrangi jalan. Tapi siapa sangka aku malah tidak melihat kedepan dan tidak sengaja menabrak seseorang hingga hooddie-ku terlepas dari kepalaku dan mengekspos rambut orange-ku ini.

“ah! Bukan-kah kau jimin oppa?! park jimin dari BTS?!!!”

Siapa sangka gadis yang kutabrak itu mengenali-ku dan berteriak histeris di telingaku. Sangat berisik! Entah berkat teriakannya atau karena rambut orange-nya yang terlihat beda sendiri dari orang lain, begitu aku melihat kebelakang, aku melihat segerombol orang berbondong-bondong berlari kearahku.

Tanpa basa-basi, aku langsung melesat menghindar dari kerumunan masa yang – aku yakin – masih mengejarku.

“aish jinjja!…”

>>>

.

.

=Author’s POV=

Seolhyun tidak berhenti memandangi ponselnya. Matanya berbinar melihat setiap foto BTS di ponselnya. Saking terpesonanya, ia sampai tidak melihat jalan. Entah apakah ia dijalan yang benar? Atukah ia tidak menginjak sesuatu? Ia tidak peduli. Ia hanya ingin melihat wajah idolanya sekarang.

BRUK!

“aish… jinjja…”

Tanpa sengaja gadis itu menabrak seseorang. Ia mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit setelah membentur kepala orang tersebut. Ia melihat kedepan dan mendapati orang ia tabrak tengah terduduk sambil mengusap-usap kepalanya. Seorang namja.

Tapi seolhyun tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas karena namja itu memakai masker hitam yang menutupi setengah wajahnya. Bahkan warna rambut namja itu tidak terlalu jelas karena pencahayaan di taman tersebut tidak terlalu terang. Ia hanya melihat sekilas rambut namja itu seperti berwarna…. Orange?

“aish… berhati-hatilah jika berjalan, nona!”

Seolhyun tidak menggubris sergahan namja itu. Ia sibuk mencari ponselnya yang tersungkur ke tanah ketika ia terjatuh.

“aish… bisakah kau membantuku mencari ponselku? Aku tidak bisa menemukannya.” Ujar seolhyun.

Setelah seolhyun menyebut kata ‘ponsel’ namja itu ikut sibuk mencari sesuatu di tanah yang berumput itu.

“ah! Aku menemukannya.” Gumam namja itu.

“eoh. Kau menemukan ponselku?” tanya seolhyun.

“aniyo. Ponselku.” Ujar namja itu sambil menunjukkan ponsel hitam ditangannya.

“yak! Tapi itu ponselku!”

“mwo? Aniyo! Ini ponselku! Aku mengenali bentuk ponselku dengan jelas, nona. Mengerti?”

“yak! Tapi itu benar-benar ponselku! Persis seperti ponselku!”

Namja itu kembali mengalihkan pandangannya pada tanah berumput itu. Matanya menangkap sosok ponsel gadis yang bertabrakan dengannya.

“eoh. Mungkin itu ponselmu.” Ujarnya menunjuk pada ponsel yang tergeletak tepat beberapa senti dari tempat mereka duduk.

Seolhyun sigap mengambil ponsel tersebut dan mengusap-usap layarnya… tanpa mengaktifkan ponsel itu kembali. catat itu! ‘tanpa mengaktifkannya kembali.’

“ah… jinjja! Ponsel kesayanganku.” Ujar seolhyun sambil memeluk ponselnya.

“arrasseo. Aku rasa urusan kita sudah selesai. Kau tidak terluka kan?” ujar namja itu pada seolhyun.

Seolhyun tidak bergeming. Matanya terpaku pada rambut orange namja itu. Ia seperti mengenali rambut namja itu. Namun ia juga tidak yakin melihatnya dimana.

>>>

.

.

=Jimin’s POV=

Aish jinjja! Kenapa gadis ini tidak bergeming? Apa jangan-jangan ia juga mengenaliku? Aish… benar-benar menyebalkan!

Aku melihat kebelakang dan kerumunan fans itu masih mengejarku dan semakin dekat. aku mengacak rambutku brutal. Benar-benar membuat stress!

“JIMIN OPPAAAAAAAAAAAAA!!!!”

Teriakan kerumunan itu semakin membuatku frustasi. Mereka semakin dekat! aku memakai hooddie-ku kembali dan spontan – tanpa aku sadari – aku menarik tangan yeoja itu dan membawanya ikut berlari bersamaku. Mungkin tindakanku terlihat bodoh dengan membawa yeoja ini – maksudku, akan ada berita tentangku lagi yang mungkin menyangkut pautkanku dengan yeoja ini – tapi yasudahlah. Sudah terlanjur.

>>>

.

.

=Seolhyun’s POV=

Aku tersadar begitu namja itu menarik tanganku dan membawaku berlari. Langkahnya tergesa-gesa seperti orang yang sedang menghindar dari sesuatu, meskipun aku tidak tau ia menghindar dari apa.

Tanpa usaha untuk meloloskan diri darinya, aku hanya membiarkannya membawaku entah kemana. Aku hanya mengikuti langkahnya membawaku. Meskipun aku berusaha, akhirnya juga akan sia-sia. Tenaganya lebih besar dariku. Bisa kurasakan dari cengkramannya yang kuat di pergelanganku.

Aku tau seharusnya aku berteriak histeris meminta pertolongan. Hey, siapa yang bisa mengira jika namja ini adalah orang jahat, bukan? Tapi entah kenapa mulutku bungkam saja sejak tadi. Aku hanya merasa… mengenali namja ini? entahlah.

Namja itu membawaku bersembunyi di balik sebuah papan reklame besar yang terletak di pinggir jalan. Sebuah papan reklame yang memasang gambar member BTS. Aku memandang namja di sampingku itu dengan lekat, mencoba mengenali wajahnya. Namun usahaku gagal, masker hitam itu menghalangiku untuk melihat wajahnya lebih jelas.

Namja itu terlihat lelah. Nafasnya naik-turun tak beraturan. Sesekali ia menunduk dan mencoba mengatur nafasnya.

“hm… jogiyo… sebenarnya kau ini siapa?” tanyaku pada namja itu.

“kau… tidak mengenaliku?”

Aku menggeleng bingung dengan pertanyaannya. Mengenalinya? Memang dia siapa hingga aku harus mengenalinya?

“arrasseo.” Ujarnya lagi tanpa menghiraukan ekspresi bingung-ku.

Hingga detik berikutnya hanya hening yang terasa ditengah – tengah kami.

>>>

.

.

=Author’s POV=

Jimin dan Seolhyun duduk melantai di balik reklame tersebut. Mereka berdua merasa merasa sangat lelah setelah aksi kejar-kejaran tersebut. Jimin yang merasa frustasi karena gagal menikmati udara malam kota seoul, dan seolhyun yang masih berusaha memahami tentang apa yang baru saja terjadi pada dirinya.

Gerombolan fans – gila – yang mengejar jimin tadi sudah lewat, namun suasana di luar masih sangat ramai. Besar kemungkinan ia akan kembali menjadi sasaran gerombolan fans gila lainnya.

“jogiyo… ahjussi. Sebenarnya kau ini siapa?” tanya seolhyun memecah keheningan.

“aku? kau tidak perlu tau siapa aku. dan jangan memanggilku ahjussi. Aku tidak setua itu.”

“yak~ tapi kau membawaku berlari sejauh ini. kau tau tadi aku ingin pulang, tapi kau malah membawaku seperti ini. aku bahkan tidak tau didaerah mana kita sekarang.”

“ish… sudahlah diam saja.”

Seolhyun semakin merasa jengkel. Sifat namja ini diluar dugaannya. Ia hanya meminta penjelasan tentang situasi yang terjadi namun namja itu malah tidak menggubrisnya.

Jimin menyembulkan kepalanya keluar untuk melihat keadaan. Sudah mulai tenang. Ia bisa bernafas lega sekarang. Ya setidaknya untuk saat ini.

“keluarlah. Diluar sudah tenang.”

Tanpa basa-basi, seolhyun mengikuti jimin dan keluar dari ‘persembunyian’ mereka. Jimin berdiri di pinggir trotoar seperti mencari sesuatu.

“yak. Apa yang kau cari?” tanya seolhyun melihat gerak-gerik jimin.

“taxi untukmu.”

Jimin melambaikan tangannya pada taxi yang lewat. Hingga taxi tersebut sampai didepannya, ia memanggil seolhyun mendekatinya.

“yak nona. Kemarilah.” Ujarnya pada seolhyun.

“mwo?”

Jimin membukakan pintu taxi untuk seolhyun dan menggiring yeoja itu masuk kedalamnya. Hingga dirasa yeoja itu sudah duduk dengan aman, Jimin menutup pintu taxi, membuat seolhyun semakin dipenuhi rasa ingin tau.

“ahjussi. Tolong antarkan gadis ini pulang dengan selamat, nde.” Ujar jimin sambil menyerahkan beberapa lembar uang pas kepada supir taxi tersebut.

“arrasseo tuan.”

Pandangan Jimin kembali teralih pada Seolhyun yang masih menatapnya dengan bingung.

“hei nona. Terima kasih untuk malam ini. Dan maaf jika aku merepotkanmu.” Ujar jimin.

“y-yak. Tapi kau mau kemana?”

“tentu saja aku ingin pulang.”

“tapi… kau ini siapa?”

Jimin tertawa kecil. Tawa yang terdengar khas ditelinga seolhyun. Ia benar-benar penasaran siapa namja itu sebenarnya. Satu malam ini terasa aneh baginya.

“yak… sudah kubilang kau tidak perlu tau. Kembalilah saja kerumahmu dengan selamat. Annyeong.”

Jimin melambaikan tangannya tangannya pada Seolhyun sekilas dan melangkah meninggalkan taxi yeoja itu. Seolhyun menatap punggung jimin yang semakin menjauh. Aneh… benar-benar aneh.

“nona. Kemana tujuanmu?”

Suara supir taxi itu membuyarkan lamunan seolhyun. Ia melihat ke supir taxi sejenak. Tapi begitu ia melihat kearah jimin pergi tadi, ia sudah tidak menemukan sosok namja ‘misterius’ itu lagi.

“ah… iya.” Ujarnya menyebutkan alamat rumahnya pada supir taxi tersebut.

Sepanjang perjalanan, seolhyun tak hentinya memikirkan namja misterius itu – jimin – yang benar-benar ingin ia kenali sosoknya. Bukan karena suatu alasan khusus, ia hanya penasaran dengan namja itu. Seorang namja berambut orange yang menabraknya dan dengan tiba-tiba membawanya kabur menghindari segerombolan orang yang bahkan ia tidak tau kenapa mereka mengejar namja itu.

Seolhyun menyandarkan dagu-nya di jendela taxi yang terbuka lebar. Hari benar-benar sudah larut. Tapi pikirannya tak lepas dari namja itu.

“namja aneh.”

>>>

.

.

=TO BE CONTINUED=

Advertisements

5 thoughts on “[BTS FF Freelance] Hold Me Tight – (Chapter 1)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s