[Chapter 1] The Dark Wings: The Knights

img_9485

The Dark Wings

by ayshry

Kim Taehyung or Louis Kynse Archelaus | Baek Juho as Lachlan Gent Leviathan | Ko Shinwon as Earl Rehuel Beelzebub | Kim Hyojong as Owen Jarl Asmodeus | Kim Seokjin as Carl Hansel Beelzebub

 genres AU!, Fantasy, Adventure | length 3.8k words | rating PG-15

Prev:

Prolog & Introduction

.

.

Karena hidup telah memiliki takdir yang mengatur ‘segalanya’.

***

Puing-puing bangunan yang menutupi tanah menjadi tempat dimana tiga pasang kaki itu berjalan; perlahan sekali seakan setiap pijakan yang berjejak membuat seluruh tubuh terasa sakit hingga enggan untuk kembali merajut langkah. Salah satu dari tiga pemuda tersebut memimpin di depan. Pandangan diedarkan demi menelusuri jejak pemberontakan yang telah memporak-porandakan kerajaannya—kerajaan mereka.

Tak ada satu kaum mereka yang tampak, kecuali sisa abu para prajurit yang dimusnahkan secara kejam. Bukan permainan pedang atau busur panah yang membuat kerajaan mereka hancur, bukan pula ratusan kuda yang dikerahkan oleh prajurit berbekal tombak runcing; melainkan api hitam yang menakutkan. Api kebanggaan milik kaum Lucifer; ciri khas Kerajaan Dionaea bagi setiap prajurit petarung yang telah memasuki level tertinggi.

Tidak semua orang dari kaum mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan kekuatan tersebut. Hanya orang-orang terpilih saja; hanya orang-orang terkuat dari setiap keluarga bangsawan yang menjadi kepercayaan sang raja. Tetapi, tidak ada satu pun yang pernah memprediksikan bahwa kiamat akan datang cepat. Bahwa penyebab kiamat tersebut adalah salah satu dari klan-klan terpercaya. Bahwa seseorang yang selalu berada di sisi raja adalah otak dari segala kekacauan tersebut. Bahwa Barnett Sagiv adalah sang pemimpin pemberontak yang tengah merayakan kemenangan bersama para pengikutnya kini; berbual tentang membangun kerajaan dengan nuansa baru di bawah kepeminpinannya, tentu saja.

Raja yang sebelumnya telah dimusnahkan. Bersama dengan ratu, pun pengikut setia lainnya. Tak ada satu pun yang tersisa. Bahkan istana super-megah pun kini rata dengan tanah. Sungguh menyedihkan.

“Aku tak menyangkan Barnett akan segila ini.”

Suara tegas tersebut meluncur dari seorang pemuda berambut abu-abu dengan iris hijau kelam; bagai telaga di pinggiran hutan terlarang yang kedalamannya bisa membuatmu kehilangan akal sehat dan terlihat menakutkan jika diamati lamat-lamat. Sepasang sayap keemasan miliknya terlihat lusuh; tak bertenaga. Sekadar informasi, tingkatan kaum Lucifer dapat diamati dari warna sayapnya. Emas untuk prajurit petarung, perak untuk kaum bangsawan dan putih dengan ujung keabu-abuan untuk kaum biasa, juga ada putih untuk kaum pemula atau tingkatan paling awal.

Layaknya dongeng sebelum tidur yang selama ini beredar, Lucifer adalah Malaikat yang dihukum lantaran terlalu banyak menumpuk dosa. Jadi jangan kaget jika masih menjumpai makhluk bersayap putih namun memiliki simbol Luficer—berupa bintang yang dilindungi lingkaran—di pergelangan tangan, karena artinya mahkluk tersebut adalah pemula; anggap saja seperti bayi yang baru lahir dengan segala kesucian yang melingkupi dirinya sebelum terjerumus ke dunia menyesatkan yang membuatnya terjebak dalam wujud menakutkan sang Lucifer. Sayap putih tersebut nantinya akan berubah warna sesuai takdir; apakah perak ataukah emas. Sedangkan sayap mereka yang hanya berubah keabu-abuan pada ujung-ujungnya harus merasa puas dengan peran yang telah ditentukan; menjadi kaum biasa atau disebut juga sebagai mereka yang terbawah.

“Bukannya sudah kukatakan bahwa kelurga Sagiv adalah pemberontak?! Kalian tak pernah mendengarkan ucapanku dan—“

“Tak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi, Asmodeus.”

“Panggil aku dengan nama depanku saja, Tuan Beelzebub. Aku sudah mengingatkannya berkali-kali, asal kautahu. Nama keluargaku terdengar menakutkan. Aku tidak menyukainya.”

“Baiklah, Tuan Owen.”

“Tanpa tambahan Tuan, kumohon.”

“Maka berhentilah memanggilku seperti seorang bangsawan terpuji, Tuan—ah, Owen. Kau bahkan lebih terlihat seperti kaum Penyihir ketimbang kaum Lucifer.”

“Aku hanya menyukai ramuan, itu saja. Earl. Sial, namamu membuat lidahku terbelit.”

“Bisa hentikan obrolan murahan kalian, Tuan Asmodeus—“

“Panggil aku Owen, Lach!” Demi sayap emas mereka yang berubah kusam, ingin rasanya pemuda dengan iris violet itu melenyapkan pita suaranya lantaran berani membentak klan Leviathan. “Aku terlalu kasar sepertinya. Maaf.” Maka sebelum Leviathan muda itu mengamuk, cepat-cepat ia meloloskan permohonan maaf—meski tak terdengar tulus sedikit pun.

“Baiklah, Owen dan … haruskah aku memanggilmu Earl?”

“Jika kau tidak keberatan.”

“Oke. Owen dan Earl. Nama yang bagus. Tetapi kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat perihal panggilan atau apa pun itu.”

Kedua pemuda yang sebelumnya saling mempermasalahkan panggilan satu sama lain itu memilih untuk bungkam. Tatapan masih terpaku antar keduanya meski seseorang lainnya menilik mereka secara bergantian.

“Kerajaan kita hancur dan kalian masih bisa membualkan hal-hal tak penting seperti itu?!” Ada nada mendesak yang terdengar cukup jelas—cukup untuk membuat dua pemuda itu menegak saliva dengan susah payah.

Percikan api hitam terlihat di pijakan kiri si Leviathan, membuat kedua pemuda lainnya memasang raut cemas juga sikap was-was—kalau-kalau si-pemuda-dengan-tempramen-tinggi-itu melemparkan api hitamnya tanpa pemberitahuan.

“Aku hanya ….“ Owen berusaha untuk menjelaskan namun ia sadar mulutnya sungguh lancang kini—kebiasaan memang. Sebelumnya ia bahkan berani membentak dan kini dengan entengnya menjawab perkataan Leviathan yang jika salah-salah, pemuda berambut cokelat madu itu bisa kehilangan gelar sebagai prajurit petarung atau bahkan kehilangan nyawanya dalam hitungan detik. Tapi mungkin keadaan yang sekarang membuatnya lebih aman dari perkiraan. “Maaf, aku tak akan mengulanginya lagi.” Pada akhirnya Owen memilih untuk mengalah sebelum hal buruk menimpanya.

“Aku juga …. Maaf.” Kali ini si pemilik mata hazel bersuara. Kepalanya tertunduk—entah melihat ke mana; saking tak beraninya beradu pandangan dengan penerus keluarga Leviathan yang hampir mengamuk itu.

Deru napas berat menguar bersamaan percikan api yang berangsur berkurang hingga pada akhirnya menghilang. Sementara Lachlan mulai tenang, Earl dan Owen bisa bernapas lega lantaran terhindar dari amukan pemimpin mereka.

Benar. Lachlan mendapat kepercayaan untuk menjadi pemimpin dalam misi rahasia yang ketiga prajurit petarung itu terima. Tidak sulit sebenarnya, namun terdengar rumit. Menjemput Pangeran Louis di Bumi dan membantunya merebut tahta kembali. Mudah, bukan? Kedengarannya seperti itu, tapi situasi yang dihadapi membuat misi tersebut menjadi berpuluh lipat kali rumitnya.

Berbicara mengenai misi, ketiga pemuda tersebut mendapatkannya ketika dalam usaha penyelamatan Raja Archelaus dari para pemberontak. Tetapi bukannya berhasil membawa raja ke tempat yang aman, ketiganya malah terjebak dalam situasi yang mana membuat mereka mau tak mau mendengarkan titah yang berhasil menambah syok pasca pemberontakan. Pertama, mereka datang untuk penyelamatan, bukan untuk melakukan misi rahasia lainnya. Kedua, sejak kapan Raja Archelaus memiliki seorang anak? Artinya Dionaea memiliki pangeran; yang artinya lagi pemberontakan yang terjadi adalah sebuah penghiatan besar karena pada kenyataannya kerajaan memiliki seorang penerus yang lolos dari kutukan. Ketiga, mereka harus ke Bumi; menemukan Pangeran Louis yang saat ini berwujud manusia. Pangeran kini bersama kepala keluarga Beelzebub; keluarga dari Earl yang mereka kira sudah berpulang beberapa tahun silam—meski nyatanya Earl tahu-menahu perihal hal tersebut tapi tetap saja pemuda berambut pirang itu tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.

“Kita harus mempercepat langkah.” Lachlan kembali membuka suara; kali ini terdengar lirih namun tetap dengan ciri khasnya—tegas. “Kita hanya memiliki waktu kurang dari tiga puluh hari sampai transformasi sang pangeran sempurna.”

“Aku sudah mencoba menghubungi ayah, tetapi belum mendapatkan jawaban.” Earl membiarkan tungkainya melangkah melewati Lachlan lantas berjongkok demi merasakan puing-puing bangunan yang telah menyatu dengan tanah. “Kita butuh waktu lebih lama lagi, sepertinya.”

“Untuk?” Kali ini suara Owen yang menguar.

“Mendapatkan jawaban dan menemukan cara agar bisa ke Bumi.”

“Bukannya kekuatan khusus keluarga Leviathan adalah teleportasi?”

“Maksudmu kita ke Bumi dengan wujud seperti ini? O, tak kusangka selain ceroboh kau juga bodoh, ya, Asmodeus.” Earl berujar sarkastis, membuat Owen mendesah lantas tanpa sadar mengeluarkan percikan api dari tangan kiri. “Oi, hati-hati!”

“Earl benar. Pergi ke Bumi bukan perkara sulit, tetapi segalanya harus direncakan sebelum kita membuat ulah di tempat para manusia itu bernapas.”

“Jika itu masalahnya, aku memiliki sebuah solusi.” Owen mendengus; seolah ingin mengatakan bahwa ia tahu segalanya; ia bisa mengatasi segalanya. “Ramuan. Aku bisa membuat ramuan yang akan membuat sayap kita hilang—ah, tersembunyi maksudnya. Mereka yang bukan dari kaum kita takkan bisa melihatnya.”

“Sungguh?” Nada tak percaya iu terdengar kental sekali dari ucapan Earl barusan, membuat Owen mencibir sembari melayangkan tatapan menantang pada pemuda pirang itu. “Memangnya ada ramuan seperti itu?”

“Kau terlalu meremehkanku, Earl! Beri aku waktu lima hari—“

“Tiga hari.” Lachlan memotong dengan cepat, membuat Owen bungkam sejenak lantas mengangguk dengan patuh.

“Baiklah. Tiga hari dan aku membutuhkan bantuan kalian untuk mencari beberapa bahan yang kubutuhkan.”

“Tidak masalah. Kita memang harus saling bekerja sama. Bukan begitu, Earl?”

“O-oh, tentu saja!” Jika bukan karena Lachlan yang berbicara, mungkin Earl akan memilih untuk memberikan penolakan dengan cara paling kejam yang ada. “Jadi … apa yang harus kulakukan?”

***

“Kim Taehyung, kau melupakan syalmu!”

Kepala Seokjin menyembul dari sebalik pintu lantas sebelah tangannya melambai-lambaikan syal rajut berwarna cokelat muda ke arah sang adik yang baru saja melangkahkan kaki melewati pagar kediaman mereka. Taehyung berbalik lalu melempar senyum khasnya.

“O, maaf.” Taehyung kini telah berada di hadapan kakaknya dan meraih syal tersebut. Seokjin membantu melilitkan benda tersebut di leher adikknya; membuat Taehyung menilik sekitar takut-takut ada yang melihatnya. Hei, Taehyung itu pemuda berusia 21 tahun—yang akan berulang tahun ke 22 beberapa hari lagi—dan jika ada yang melihatnya masih dipakaikan syal oleh kakaknya, maka itu bisa termasuk salah satu dari sekian banyak aib yang ia miliki. “Aku bisa sendiri.”

Seokjin tertawa lalu membiarkan Taehyung sibuk dengan syalnya. Sudah menjadi kebiasaan memang, ia yang sangat peduli dengan sang adik dan mereka yang luar biasa akrabnya. Mungkin yang tidak tahu-menahu perihal hubungan sebagai kakak-adik, bisa saja mengira mereka sepasang kekasih saking dekatnya. Well, itu terdengar sedikit menjijikkan memang, tapi sungguh, Seokjin dan Taehyung memiliki hubungan yang benar-benar erat.

Sedari kecil, keduanya hanya dibesarkan oleh sang ayah, Tuan Kim. Tanpa kasih sayang dari seorang ibu, membuat mereka tumbuh saling mengasihi satu sama lain. Terutama Seokjin yang merasa memiliki tanggungjawab lebih atas adiknya. Seokjin itu tipe kakak yang sangat baik, Taehyung saja sering merasa kesal karena ia selalu diperlakukan dengan baik oleh si kakak. Padahal, sesekali ia ingin merasakan seperti apa perkelahian antarsaudara, seperti apa sensasinya beradu tinju dengan sang kakak, seperti apa rasanya saling lempar tatap tajam atau bahkan makian, seperti apa hidupnya jika saling mendiamkan satu sama lain sampai ada yang mau mengalah lalu meminta maaf dan kembali beradu tinju. Taehyung tak pernah mengalami salah satu dari hal tersebut. Sang kakak terlalu baik untuk dia musuhi. Sekadar memicu perkelahian pun Taehyung enggan, takut-takut ia malah menyakiti dan membuat hubungan mereka memburuk dan tak pernah akur lagi. Sungguh mengerikan. Dan artinya Taehyung akan kehilangan perhatian serta kasih sayang dari pemuda berambut baby pink tersebut.

O, omong-omong soal warna rambut, sejujurnya Taehyung tak begitu mengerti dengan kakaknya tersebut. Bukan. Seokjin bukan pemuda yang suka bergonta-ganti warna rambut, tetapi yang mencengangkan itu adalah bahwa rambut asli Kim Seokjin memang berwarna baby pink. Taehyung syok, tentu saja. Di tambah lagi mata sang kakak yang berwarna biru terang; seperti orang barat kebanyakan padahal setahunya tak ada darah orang kulit putih yang mengalir di tubuh mereka—kecuali Seokjin dan ia berbeda ibu—tapi tetap saja mustahil. Taehyung tak banyak bertanya meski ia penasaran. Mungkin Seokjin terlihat tidak normal untuk ukuran orang Asia, tapi Taehyung tak terlalu ambil pusing. Lagi pula saat ini orang-orang sedang sibuk dengan tren warna rambut yang berani juga softlens yang sudah seperti makanan sehari-hari. Orang-orang bisa saja berpikir Seokjin termasuk mereka yang selalu mengikuti perkembangan mode dengan sangat baik.

“Temperatur sudah mulai turun seiring jalanan yang membeku. Kau tidak boleh kedinginan, mengerti?”

“Aku bukan anak kecil lagi, Kim Seokjin.” Ada nada kesal yang terselip diperkataan Taehyung barusan, namun kiranya sang kakak tak terlalu acuh.

“Aku tahu. Tapi kau masih sama cerobohnya seperti bocah berusia lima tahun.” Seokjin terkekeh. “Jangan pulang malam-malam, jangan berkeliaran di tempat yang—“

“Kak Seokjin!” Taehyung memotong cepat dengan sedikit bentakan. Alih-alih marah, Seokjin malah menambah volume tawanya yang membuat Taehyung memberengut.

“Sudah, pergi sana. Hati-hati di jalan dan selamat bersenang-senang dengan kelasmu, Bayiku.”

“Astaga, sepertinya kau minta ditinju ya, Kak?”

Mengusak rambut Taehyung dengan gemas, Seokjin lantas berbalik lalu berjalan kembali ke dalam rumah. Meninggalkan Taehyung yang terdiam di tempat dengan ekspresi yang luar biasa kesal. Well, terkadang Seokjin memang terlalu menyebalkan dan Taehyung tak bisa berbuat banyak karena terkadang sikap menyebalkan itulah yang membuat Taehyung merindukan pemuda Kim tersebut.

“AKU AKAN PULANG TERLAMBAT! O, JANGAN LUPAKAN PULA TENTANG AKU YANG TELAH MEMILIKI KEKASIH DAN AKAN BERKENCAN MALAM INI, JADI BERHENTI MEMPERLAKUKANKU SEPERTI SEORANG BAYI, KIM SEOKJIN!”

***

Hari masih terang namun wajah Taehyung dirundung mendung sejak tadi. Entah apa penyebabnya, namun si pemuda telah uring-uringan sejak tiba di kampus. Mungkin lantaran sikap sang kakak yang kelewat baik atau lantaran kelas Pak Lee yang dibatalkan tiba-tiba—kelas yang libur tidak buruk, sih, mungkin Taehyung terlalu lelah menghabiskan waktu berharganya untuk ke kampus dan berakhir terdampar di kafetaria bersama Park Jimin—karibnya.

Menyeruput es jeruknya malas-malasan, Taehyung kini meletakkan kepalanya di atas meja lantas memejamkan mata; membuat Jimin dengan usil menjawil hidungnya.

“Kau sedang ‘dapat’?” Jimin terkikik, sedang Taehyung acuh tak acuh dan kembali menutup matanya. “Bukannya kau selalu menyukai pembatalan kelas, huh? Ada apa denganmu hari ini, tidak seperti biasanya.”

“Aku sakit.”

“Ya?” Refleks, Jimin meletakkan punggung tangannya ke kening Taehyung demi memeriksa suhu tubuh sang kawan. Tak terlalu panas atau pun dingin. Jimin tahu Taehyung hanya sembarang berujar tadi. “Ck, kukira kau benar-benar sakit.”

“Aku tidak bohong. Tapi aku tak tahu bagaimana menjelaskannya.” Masih dengan mata tertutup, Taehyung menggerakkan bibirnya demi menelurkan kata-kata. “Ada beberapa hal aneh yang kurasakan pada tubuhku akhir-akhir ini dan demi apa pun aku merasa sangat tak nyaman. Kurasa ada yang salah dengan tubuhku atau salah satu organ vital di dalam balutan dagingku.”

“Kenapa kata-katamu terdengar menjijikkan seperti itu?” Jimin mendengus. Kemudian ia meraih gelas berisi jus jeruk milikknya yang tinggal setengah dan menenggaknya hingga tandas. “Kau sudah bercerita pada ibumu?” Jimin terkikik. Ibu yang dia maksud tentu saja bukan dalam artian yang sebenarnya dan Taehyung benar-benar mengetahui maksud dari perkataan karibnya itu.

“Sejak kapan aku memiliki ibu?” Taehyung mencoba mengabaikan, berpura-pura tak mengerti dan berkata dengan nada kesal.

“Kak Seokjin maksudku. Kautahu itu.”

“Tentu saja aku tahu. Tapi aku sedang tidak ingin menanggapi candaan konyolmu itu, Pendek.”

Mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, Jimin baru saja akan memukul puncak kepala Taehyung dengan benda tersebut namun ia urung lantaran Taehyung lebih dahulu mengangkat kepala dan menatapnya.

“K-kenapa? Ada apa?” Jimin terkejut. Bukan hanya karena gerakan tiba-tiba yang dilakukan sang karib, tetapi juga dengan pandangan yang diarahkan padanya. Terlihat menyeramkan dan tidak seperti biasanya.

“Jam berapa sekarang?”

“Hei, kau ‘kan memiliki jam tangan, Bodoh!”

“Oh! Sial.” Melirik jam di pergelangan tangannya, Taehyung tergesa-gesa bangkit lalu menyambar ransel yang tergeletak di sebelahnya. Jimin yang penasaran ikut-ikutan berdiri lalu dengan pandangan penuh tanya pemuda itu mengekor Taehyung yang sudah terlebih dahulu merajut langkah.

“Oi, kau mau ke mana?” Jimin bertanya namun diabaikan oleh pemuda Kim hingga kedua sahabat itu keluar dari kafetaria dan Taehyung berbalik tiba-tiba. Hampir saja mereka bertabrakan dan saling berbagi ciuman jika Jimin tak memiliki refleks menghindar yang bagus. “Sialan.”

“Kenapa mengikutiku?”

“Kau mengabaikanku.”

“Lantas?”

“Setidaknya jawab dulu pertanyaanku sebelum kau pergi, Bung! Tega sekali meninggalkan karibmu ini sendirian di kafetaria.”

“Memangnya kau bertanya apa tadi?”

“Kim Taehyung sialan! Lupakan saja, aku pulang.”

“O, baiklah. Hati-hati di jalan! Ah, aku memiliki janji dengan Reyn dan hampir melupakannya, jadi aku tak bisa mengantarmu pulang ya, Pendek.”

“Terserah kau saja. Lagi pula aku tidak peduli. Pergi sana!” Jimin berbalik, melangkah berlawanan arah dengan Taehyung. Ia bersungut-sungut. Sudah hapal dengan kekonyolan sang karib tapi tetap saja ia tak bisa mengatasi rasa sebalnya jika Taehyung sudah berulah seperti barusan. Dosa apa sampai seorang Jimin yang suci bisa berteman dengan Taehyung yang tak waras? Setan memang.

“Hati-hati, Bro!”

Jimin mengangkat tangannya lantas melambai tanpa membalikkan badan. Ia terlalu kesal rupanya. Lalu Taehyung terkikik geli sampai ia menyadari bahwa waktu yang dijanjikan dengan sang kekasih hampir terlewati. Mengerahkan kekuatan yang ia miliki untuk berlari secepat yang ia mampu, tujuan Taehyung kini adalah gerai kopi langganan mereka; tempat dimana Reyn telah menunggu—ia rasa. Sebaiknya, pemuda Kim tersebut tiba sebelum sang gadis menunggu terlalu lama yang dapat memicu amarahnya. Salah-salah, Reyn bisa saja menjambak rambut Taehyung hingga botak. O, Reyn itu galak—sangat galak. Tapi untungnya, Taehyung tetap sayang.

***

Babe—“

“Kau terlambat. Dua puluh dua menit.”

Sial.

Taehyung menyengir lantas mendaratkan bokongnya di kursi seberang sang gadis. Meletakkan kedua tangannya ke atas meja, Taehyung lantas memangku wajah; membuat beberapa ekspresi imut—namun malah terlihat menggelikan—agar si gadis reda amarahnya.

“Aku tidak mempan dengan hal-hal seperti itu, Kim Taehyung.”

“Oke, aku terlambat. Aku salah. Maaf. Jadi … mau pesan apa, Sayang?” Kerlingan menjadi akhir dari kalimat tersebut. Alih-alih tersanjung, Reyn justru melayangkan tatapan tajam yang membuat Taehyung bungkam saat itu juga.

“Kau tak lihat dua gelas kopi yang sudah kuhabiskan sembari menunggumu, huh?”

“Kau sedang PMS?”

Kali ini sling bag milk Reyn melayang dan mendarat tepat di kepala Taehyung. O Tuhan, salah apa ia sampai harus jatuh hati pada pemuda setengah gila itu? Lalu, sebelum Taehyung sempat meringis kesakitan—atau melancarkan protes—Reyn bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.

“Hei, tunggu—“

Reyn berbalik bukan karena Taehyung yang mencoba mencegah pergerakannya barusan, tetapi lebih karena ucapan yang terpotong dan disusul suara ‘bruk’ dengan cukup keras; cukup membuatnya penasaran lantas mengurungkan niat untuk kabur dari sana.

Pekikan menguar ketika ia mendapati Taehyung terkulai di lantai. Reyn cemas, tentu saja. Lekas ia mendekat dan membiarkan seisi gerai melayangkan pandangan kepada mereka. “Oi, Kim Taehyung!” Mengguncang tubuh tersebut kuat-kuat, namun tak ada respon yang didapat. Tubuh itu tetap saja berdiam di lantai hingga orang-orang datang mengerumuni mereka.

Ketika Reyn tak tahu harus berbuat apa lagi, orang-orang di sana mulai ribut dan berteriak satu sama lain untuk memanggil bala bantuan. Seseorang mendekat, mencoba memeriksa keadaan Taehyung yang tak sadarkan diri tersebut. Tak ada yang salah rasanya, kecuali gebukan di kepala yang—kemungkinan besar—menjadi penyebab utama si pemuda pingsan. Rasa-rasanya Reyn tidak memukul terlalu kuat, dan tasnya juga tak berisi benda-benda aneh seperti bongkahan batu atau sejenisnya. Namun, fakta bahwa Kim Taehyung jatuh pingsan setelah mendapat pukulan darinya membuat tingkat kecemasan gadis Park itu menjadi berpuluh-puluh kali lipat. Reyn benar-benar merasa bersalah.

“SIAPA PUN, TOLONG TELEPON AMBULANS!”

***

Gumpalan tanah yang tertumpuk menjadi bantalan. Earl tertidur di sana, sangat pulas sampai-sampai semut yang berjalan pun tak berani menyeberang di atas tubuhnya. Sebelumnya, Earl pernah berpesan jika ia tak boleh diganggu ketika tidur. Bukannya apa-apa, katanya, terkadang tidur adalah waktu dimana ia bisa menyeberang dimensi, yang artinya ketika matanya terpejam maka jiwanya bebas berkelana ke mana pun. Si Beelzebub muda itu bisa saja terhubung dengan sang ayah atau setidaknya mendengar jawaban dari pesan-pesan yang telah ia kirimkan sejak beberapa waktu silam. Makanya, meski terkadang Owen membutuhkan bantuan atau kesal lantaran Earl yang selalu saja tidur, ia tetap tak berani menganggunya apalagi sampai membangukan. Kecuali waktu-waktu dimana Earl terlihat kesakitan, tandanya ia terlalu jauh bermain dari raganya dan saat-saat seperti itu sangat diperbolehkan untuk mengguncang tubuhnya kuat-kuat sampai ia terjaga. Dan Owen selalu menantikan hal tersebut, sekadar untuk mengisi kekosongan atau melampiaskan kekesalan yang telah memuncak.

Di sudut lain, Owen masih sibuk di depan tungku besar yang berada di atas api yang membara. Berkali-kali Owen mendapat cibiran dari Earl yang mempermasalahkan caranya membuat ramuan. Tetapi si Asmodeus mengabaikan, karena baginya itu adalah cara yang sebenarnya. Tak apa terlihat kuno asal hasilnya memuaskan. Lagi pula dengan cara kuno—seperti yang disebut-sebut oleh Earl—itu selalu menghasilkan keberhasilan yang mutlak. Sesuatu yang bisa membuat Owen bangga dengan dirinya, dengan keterampilan lain yang tak semua orang dari kaumnya bisa menguasai. Bahkan dalam keluarganya, hanya ia yang tahu-menahu bagaimana memanfaatkan hasil alam yang ada dan dijadikan ramuan yang berguna.

Sementara kedua pemuda itu tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing, Lachlan tak terlihat sejauh mata memandang. Sepertinya pemuda itu tengah pergi mengintai, atau bisa saja sekadar berjalan-jalan demi menghirup udara segar—meski seharusnya keluar dari persembunyian sangat dilarang karena pemberontak masih mengincar beberapa orang yang berhasil kabur termasuk mereka bertiga. Lachlan memang memiliki kekuatan di atas rata-rata, tetapi itu tak menjamin ia bisa bertahan jika diserang beberapa orang sekaligus. Tetapi setidaknya, Lachlan tidak sebodoh itu. Ia pasti akan kabur jika melihat gerombolan pemberontak sebelum tertangkap—meski ia harus menjadi pengecut sekali pun.

Omong-omong soal pengecut, sesungguhnya ketiga prajurit petarung itu sudah menanamkan dalam pikiran masing-masing bahwa mereka layak disebut seperti itu. Bagaimana tidak? Di saat prajurit lainnya bertarung melawan pemberontak, ketiga pemuda itu justru bersembunyi seperti tikus kecil  di dalam selokan gelap nan menjijikkan demi menyelamatkan diri. Memang hal tersebut bukan kehendak mereka, tetapi tetap saja itu adalah hal paling memalukan bagi pemilik gelar prajurit petarung, terlebih mereka sudah termasuk dalam level tertinggi. Jika bukan karena perintah dari Raja Archelaus, mungkin ketiganya akan segera menyerbu ke medan pertempuran dan lenyap bersama prajurit yang lainnya atau justru dapat mempertahankan Dionaea—meski kemungkinanya sangat kecil. Well, misi rahasia lebih berarti dari segalanya. Jika mereka tak mampu mempertahankan Dionaea sebelumnya, maka mereka harus mampu membuat sang pangeran merebut tahtanya kembali dan membangun Dionaea seperti sedia kala.

“Butuh berapa lama lagi sampai ramuannya selesai?” Lachlan muncul tiba-tiba, sempat membuat Owen yang masih fokus pada periuk raksasa tersentak lantaran kaget. “O, maaf.” Lachlan sepertinya sadar bahwa kedatangannya memberikan efek kejut pada si pemuda.

“Tidak lama lagi,” jawab Owen usai ia menenangkan diri. Jujur saja, suara bas milik Lachlan terkadang terdengar menakutkan, jadi jangan heran kalau ia—atau pun Earl—terkejut jika mendengarnya tiba-tiba. “Tinggal menunggu balasan pesan dari Tuan Beelzebub dan kita … sebentar, kurasa ada sesuatu yang terjadi pada Earl.”

Owen meninggalkan periuknya lantas mendekati Earl yang masih terlelap namun raut wajahnya terlihat berbeda.

“Kau baik-baik saja?” Owen mengguncang tubuh itu perlahan namun tak terjadi apa-apa selain erangan yang semakin mengeras.

Lachlan bergabung. Ikut mengguncang tubuh itu bahkan memanggil-manggil nama Earl. Namun tidak terjadi apa-apa. Erangan yang terdengar samar-samar kini berubah menjadi lolongan kesakitan, membuat kedua pemuda itu saling melempar pandang lalu kembali berusaha membuat si Beelzebub muda tersadar.

“EARL!” Owen bahkan memekik. Guncangan pun semakin kencang, bahkan ia sampai-sampai merasa lelah. “BANGUN SIALAN! KAU MEMBUATKU CEMAS!”

Seluruh wajah Earl tampak berkedut-kedut. Keningnya berkerut, matanya terlihat memejam kuat-kuat. Lolongan masih terdengar, lalu tubuh besar itu mulai kejang-kejang. Owen dan Lachlan dilanda panik yang luar biasa. Mereka tak menyangka keadaan bisa seburuk ini. Bahkan tak ada cara yang terpikirkan lagi, sampai—

“EARL REHUEL BEELZEBUB! BANGUN ATAU KUBUNUH KAU, SIALAN!” Suara Lachlan terdengar menggelegar, bahkan memberikan efek getaran pada tanah yang keras. Owen sempat terpanah, ia tak pernah melihat Lachlan seperti ini dan sepertinya cukup sekali ini saja ia melihat sisi mengerikan lain dari si Leviathan tersebut.

Ajaibnya, tubuh Earl langsung terlonjak dan si pemuda kini membuka matanya lebar-lebar. Peluh membasahi tubuhnya, ia terlihat kacau—sangat kacau. Mencoba mengendalikan jiwa yang hampir tersesat dan kehilangan raga, Earl memandangi Owen dan Lachlan secara bergantian. Lalu bibirnya mulai bergerak, membentuk beberapa kalimat lirih namun terdengar cukup jelas.

“Ayah menjawab pesanku. Jika ramuannya sudah selesai, kita bisa pergi ke sana. Ayah akan mengirimkan sinyal yang membawa kita langsung ke tempatnya. Tapi … sesuatu terjadi di Bumi. Pangeran Louis sedang dalam kondisi yang tidak bagus lantaran proses tranformasi yang mulai terjadi. Tubuh manusianya tidak bisa menerima dengan baik dan memberikan efek yang tak pernah diperkirakan. Jika tubuh itu tak bisa bertahan … maka pangeran akan mati.”

.

.

-TBC.

Hi, chapter 1 in here! 

Well, karena ini genrenya fantasi dan banyak hal yang mungkin membingungkan, maka aku akan membuka sesi tanya-jawab yang akan dijawab disetiap akhir cerita selanjutnya. Jadi, silakan tinggalkan komentar dan tanyakan apa saja yang membuat kalian penasaran (selama tidak mengandung spoiler, ya!).

Please feel free for leave your comment! ❤

-mbaay.

Advertisements

22 thoughts on “[Chapter 1] The Dark Wings: The Knights

  1. KAAY, SUMPAH YA AKU PENGEN NANGIS BACANYA.

    WHY EARL SAMA OWEN LUCU BANGET DISINI DAN JANGAN LUPAKAN LACHLAN YANG KELEWAT GANTENG. DAN ITU YARABBI KESIAN TAEHYUNGNYA, MAS JANGAN BIKIN MBA REYN MERASA BERSALAH GITCHU~

    sumpah aku suka, enak banget baca nya hawhawhaw, POKOKNYA INI DITUNGGU BANGET CHAP SELANJUTNYA, SEMANGAT KAAY, COGAN – COGAN INI MENANTIMU /ga

    IHIHIHIHI ❤

    Like

  2. waaaaaaaaah /? kereeen
    pokoknya aku suka banget sama ceritanya, karena diriku memang suka genre fantasy, kreatif banget, bagus alurnya, bahasanya juga bagus, pokoknya suka dah sama ffnya ♡
    penempatan tokoh taehyungnya aku suka ♡

    dari prolog udah nunggu2 part 1 nya, dan setelah part 1 nya nunggu2 juga part selanjutnya /eaaa/?

    ditunggu ya kak kisah selanjutnya ^^

    Like

  3. Lagi iseng-iseng nyari fanfic bts dan nyasar dimari, kesan pertama baca ff ini ‘WHOAAA TEMANYA LUCIFER!! ‘dan aku baca sampe bawah ternyat gak mengecewakan! meskipun ada typo dikit tapi ga mengganggu sedikitpun, malah aku baru ngeh waktu baca ulang yang kedua kali. poinnya, ini dabest! aku juga bakal sering-sering mampir ke sini besok besok.

    Lanjut teroooos kak^^
    Btw, aku ruru 98Liner /masih muda ya/ 😂😂😂

    Like

  4. sik… sik.. itu si Tae sebenernya lucifer tulen apa setengah manusia ya?? 😌

    buat next chapter, tolong kasih bonus pict kak jin yang punya rambut baby pink sama mata biru ya, kak,, itu sukses buat aku kepo.. 😣

    SEMANGAT buat next chapter kak..!!

    Like

  5. Ini ff yg aku tunggu2 bahasanya keren dan ceritanya kreatif bgt, meskipun ada beberapa typo hehe

    Rada bingung *wajar aja sih karena ff ini ga tiap minggu juga dipublish jd karakternya rada2 lupa sama yg udh dibaca dibagian prolog,hasilnya harus baca lagi siapa itu earl, dkk hahaha

    Sejauh ini aku ga sabar buat lanjutannya 🙂 btw author punya blog sendiri? Kalo ada boleh dibales komen ini hehe mau mampir2 gitu

    Liked by 1 person

    1. Typonya minta ditabok ya kak /plak/

      well aku usahain update ini fic tiap hari minggu kak, semoga ga ngaret dan tida ada halangan ehe ehe

      yuk kak hapalin dulu muka + namanya biar ga rempong mainan ke prolog mulu /ditabok/ entar diusahain tiap chapter ditinggalin deh foto merekanya /gagitu ay/

      blog pribadi? ada dong! nih mba http://yayaay.wordpress.com tapi ya gitu isinya kebanyakan reblog sama hal yg tida berfaedah ehe

      thanks ya kak!<3

      Like

  6. Kak… Aku ngakak saat typo kelapa. Bhak, kelapa. Ya, kelapa berambut baby pink dan wajah tampan. Wkwkwk

    Entah kenapa aku penasaran banget sama ff ini. Tolong buatlah Reyn dan Taehyung bersatu di Kerajaan Dionaea… Kasian mereka nanti bhakkk /ok ini aneh/

    Ditunggu dengan sangat, kak mbaay!!

    Liked by 1 person

    1. MAAFKAN ATAS KETYPOAN YANG SAMPE BIKIN KAMU NGAKAK KAK /sungkem/ btw itu udah aku edit waks

      Asik ada yg pengen reyn dan kimtete bersatu asik haha
      Lastly, thanks sudah mampir dan meninggalkan jejak ya, love u ❤

      Like

  7. Oke ay aku mau sungkem dulu bikos baru nongol sekarang ㅠㅠ padahal udah baca dari kemarin kemarin ㅋㅋㅋ but, u know me so well lah yaa wkwkwk

    back to story. Momen taejin bikin ngiri yeee benerbener eomma jin emang siip dan taehyunf ngga usah sok nolak gitu deh 😝

    Paling suka waktu momen earl sama owen sama siapa itu yg teriak kenceng menggelegar bikin gempar hahaha harusnya sedih tapi jadi ngakak, but its so refreshing donk ya malahan.

    taehyung bisa mati? wah, masa blm apa apa mau mati.. ngga donk ya pasti. Anw, aku kaget pas taehyung pingsan, berasa pengin lari masuk layar hape terus nolongin dy 😁😁

    udah ah, komenku receh dan kepanjangan entar 😁 lastly, jangan lupa beta. Keep writing!!! 😉😉

    Liked by 1 person

    1. APA KAMU APA KENAPA NONGOL DI SINI JUGA APAAN DAH /lempar meja/ /edisi rusuh/

      Emak jin emang gabisa dibuang gitu aja sih sifat keibuannya waks jadi ya kebawa aja pas nulis dan kebetulan emang cocok banget sama perannya dia haha
      Terus earl dan 0wen, well, kamu tau mereka mba tau banget kan /ga/ mayan sih masih nyerempet sifat asli mereka yang rada somplak dan ngeselin gitu terus si lach itu ya begitu haha kukira juho aslinya emang kaga bisa lawaq tetapi baru baru ini daku menemukan foto dengan tinggat keimutan tertinggi yg bikin aku syok jadinya ya ya ya aku sempet gabisa bayangi lach jadi sosok dingin lagi di sini OTOKE???
      Pehlis deh ya mba, taehyung pingsan udah ada reyn yg ngurusin, gosah kegenitan kamu mau ikut-ikutan jadi penyelamat kimtete musnah sana /lempar meja pt.2/

      BETA YA? BETA? HAHA KAMU AJA YG BETAIN SINI MBA AKU PUYENG BACA ULANG JADI BODO AMAT ADA KELAPA NYANGKUT /plak/
      nah kah nah kan komenan kita paling panjang ini mba /plak/ wis dah
      makasih dan sampai bertemu di chatroom /GA/ muah ❤

      Liked by 1 person

  8. Aku suka sama suasananya yang beda banget waktu scene earl dan kawan-kawan, sama scenenya kehidupan manusianya taehyung. Taehyung-nya yang hidup kaya manusia kebanyakan dan ngga tahu-menahu dia itu pangeran. Pengen tahu gimana reaksinya taehyung pas disamperin sama earl dkk.
    Keren lah, semuanya keren, cuma ada beberapa typo yang ngga ngeganggu sama sekali 😀
    Oh ya, belom kenalan ya, pat disini, 99 liner~ Keep writing!

    Liked by 1 person

    1. Halo pat! Mbaay 95Liner~ udah tua emang /pfft/

      Typonya udah diperbaiki (yg keliatan sih haha) dan semoga nantinya bisa terbebas dari typo bikos typo is ma best shitty friend waks

      btw makasih udah mampir dan ninggalin jejak ya, pat! ❤

      Liked by 1 person

  9. Wowwww,, Kerennnnn…

    Tapi nanti hubungannya Taehyunh sama Reyn gimana cobaaa… 😌😌,, Reyn kan kasihann. T.T

    Geli banget waktu Jin sama Taehyung,, imut bangettt.

    Kak semangat ya, aku tunggu kelanjutannya ^____^

    Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s