[BTS FF FREELANCE] My Wife’s Amnesia? – (Chapter 4)

picsart_07-07-10-39-54-1

PART 4

TITLE: My Wife’s Amnesia?

CAST: Kim Taehyung || Cho Mijoo (OC)/You || Park Jimin || Others!

GENRE: Romance, Marriage life, School life

AUTHOR: MyB (FB: Melia febryanti, IG: @ebyra.mf)

 

***

 

“Aigoo.. Tampan sekali.” Gumam Mijoo terpukau.

 

“Ye?” Ucap seseorang itu terkejut.

 

Mijoo mendadak malu dan pipinya bersemu merah. Jujur saja ia mengatakannya secara tidak sengaja. Seseorang itu mengibas-ngibas tangannya di depan wajah Mijoo karena gadis itu kelihatan bengong.

 

“Ah, b-bukan apa-apa. Aku.. aku tidak apa-apa.” Ungkap Mijoo seraya tertawa kikuk.

 

Seseorang itu hanya tersenyum lembut, membuat Mijoo terpukau lagi. Kemudian ia sedikit mencodongkan wajahnya.

 

“Kau Mijoo ‘kan? Masih ingat aku?” Tanya seseorang itu menatap Mijoo lekat.

 

Mijoo sedikit menjauhkan wajahnya, terlampau malu dilihat seseorang itu. Mijoo melirik nametag yang digunakan lelaki itu. Mijoo masih mengenal lelaki ini walau sedikit samar.

 

“Kau.. Park Jimin.” Ucap Mijoo hati-hati.

 

Jimin tersenyum lebar dan menatap Mijoo lebih dekat, dekat, dan begitu dekat sampai mata Jimin mengunci mata gadis didepannya. Kalau saja Mijoo tidak menyeimbangkan tubuhnya dengan baik, ia bisa saja terjatuh.

 

Jimin masih ingat bagaimana perkenalannya dengan gadis didepannya ini, tepatnya saat Mijoo tengah membuka lokernya.

 

~FLASHBACK ON~

 

“Park Jimin? Nugu?” Mijoo melihat nama Park Jimin yang melekat di coklat yang baru di temukannya di loker.

 

“Itu aku.” Sahut seseorang.

 

Mijoo segera menoleh ke samping kirinya. Ia menemukan seorang lelaki berambut hitam yang tengah tersenyum miring padanya.

 

“O.. Kenapa kau menaruh ini di lokerku?” Tanya Mijoo sembari memperlihatkan coklat itu.

 

“Yaa, kau tidak mengenaliku ‘kan? Aku ini anak baru. Baru saja, beberapa menit yang lalu.” Ujar Jimin sembari mendekat.

 

Mijoo mundur beberapa langkah dengan gugup. Namun, sebanyak apapun dia mundur, Jimin terus mengikutinya sampai punggung Mijoo menyentuh dinding dan Jimin mengunci tubuhnya dengan sebelah tangan.

 

“K-kalau kau ingin berteman denganku, tidak perlu sampai memberiku coklat. A-aku bukan orang yang suka meremehkan orang lain. A-atau, kau tidak memiliki teman ya?” Mijoo tidak mengerti kenapa ia bisa bicara terbelit-belit seperti itu. Yang jelas ia merasa tak nyaman dan berusaha menghindar dari Jimin.

 

Jimin tertawa kecil, “Aku tidak seperti itu, nona. Aku hanya berbaik hati.” Jawabnya sembari mengedipkan sebelah matanya.

 

“Ta-tapi jangan berlebihan.” Mijoo membuang coklat itu pada Jimin lalu kabur.

 

~FLASHBACK OFF~

 

Jimin tertawa kecil karena mengingat perlakuan Mijoo padanya. Jujur saja gadis itu sangat lucu dan Jimin tidak akan lupa hal itu.

 

“Huh? Mana jepit rambutku?” Mijoo menyentuh rambutnya yang sudah tak terjepit lagi dan mencari-cari jepit rambut biru itu.

 

Saat Mijoo melihat jepit rambut itu dilantai, ia segera meraihnya, bertepatan dengan itu pula, Jimin juga melihatnya dan meraihnya. Tangan mereka saling bersentuhan.

 

Mereka saling bertatapan dalam diam. Jantung Mijoo berdetak cepat. Ada apa denganku? Batinnya bingung.

 

.

.

.

 

“Whoaa.. Taehyung Oppa!”

 

“Kau mau kemana?”

 

“Taehyung Oppa sangat dingin tapi aku menyukainya.”

 

“Kyaa!! Taehyung Oppa kau tampan sekali!”

 

“Cukup!!”

 

Taehyung terlampau kesal dengan dua gadis yang saat ini mengikutinya di lorong sekolah. Taehyung hanya ingin tenang, tapi sebagai flower boy, ia tidak bisa tanpa diikuti gadis-gadis yang menyukainya. Terkadang hal itu membuat Taehyung jengkel, karena yang hanya bisa mengunci tatapannya hanya Mijoo seorang. Istrinya yang tengah amnesia.

 

Dua gadis itu masih mengikutinya, Choi Hyesun dan Jeon Mira.

 

“Taehyung Oppa, kudengar kau putus dengan Mijoo. Benarkah?” Tanya Hyesun tiba-tiba.

 

Taehyung langsung menghentikan langkahnya dan menoleh terkejut.

 

“Mwo?” Ucapnya kaget.

 

“Kalau benar begitu, berarti aku punya kesempatan. Whoaa..” Ujar Hyesun girang.

 

Taehyung kembali melanjutkan perjalanannya, “Itu tidak benar. Jangan menebar gosip.” Katanya dingin.

 

Hyesun menyamakan langkah kakinya dengan Taehyung, “Mijoo yang mengatakannya. Apakah itu masih gosip?” Tanyanya menantang.

 

Taehyung sedikit tertegun. Rasanya sesak mendengar itu, mendengar Mijoo mengatakan itu, namun Taehyung diam saja meninggalkan Hyesun yang mematung ditempatnya karena lelah mengikuti Taehyung.

 

Taehyung hanya ingin tenang. Hanya itu saja. Namun bagaimana ia bisa tenang? Baru saja ia mendapat pengakuan menyakitkan itu, dan sekarang ia malah menemukan pemandangan yang amat sangat dibencinya. Langkahnya langsung terhenti.

 

Di depannya, Jimin tengah memasangkan jepit rambut di poni Mijoo. Taehyung mengepal kedua tangannya erat. Melihat Mijoo tersenyum lembut pada Jimin, senyum yang dulunya hanya ditujukan padanya, sekarang malah ditujukan kepada orang lain. Ia tidak terima hal itu. Mijoo hanya miliknya dan tidak boleh dimiliki orang lain.

 

Taehyung berjalan cepat dan segera menarik kerah seragam Jimin dan meninju pipi lelaki itu. Jimin terjatuh ke lantai. Hal itu membuat siswa-siswi yang lewat di lorong itu mengerumuni dan melihat mereka.

 

“Yak! Apa yang kau lakukan?!” Pekik Mijoo kaget. Ia mendekati Jimin dan tampak begitu khawatir.

 

“Joo, jangan membantunya!” Seru Taehyung menunjuk Jimin dengan murka.

 

Mijoo tidak mengindahkan perkataan Taehyung. Ia tetap membantu Jimin berdiri dan menyentuh pipi lelaki itu yang membiru.

 

Taehyung menarik tangan Mijoo secara paksa agar menjauh dari Jimin.

 

“Ikut aku!” Perintah Taehyung tegas.

 

Mijoo berontak minta tangannya dilepaskan. “Lepas! Kau sudah menyakiti Jimin! Minta maaflah padanya!” Seru Mijoo seraya menarik tangannya kuat.

 

Taehyung melepas genggamannya dan menatap Mijoo nanar. Mijoo berbalik dan menghampiri Jimin yang tengah mengaduh kesakitan. Walau tidak ada perlawanan, Jimin menatap Taehyung penuh benci. Jimin tahu Mijoo adalah kekasih Taehyung, tapi Jimin tidak tahu kenapa Mijoo lebih peduli padanya.

 

“Joo,” Panggil Taehyung lirih.

 

Mijoo menoleh, “Apa lagi? Cepat minta maaf!” Bentaknya.

 

Taehyung menghela nafas singkat dan menengadahkan wajahnya ke atas. Seorang lelaki itu harus kuat. Taehyung tidak ingin menangis, tapi bulir bening itu terus mendesak untuk keluar dari pelupuk matanya. Terlalu malu menangis di depan banyak orang, Taehyung berbalik, membelah kerumunan orang itu dan segera pergi.

 

Kerumunan orang itu berangsur-angsur bubar setelah mereka berhasil memfoto dan merekam kejadian di depan mereka. Semua itu menjadi bahan tontonan yang seru bagi mereka.

 

“Huh! Gara-gara dia kau jadi terluka seperti ini.” Gerutu Mijoo seraya merogoh sesuatu di saku jas seragamnya.

 

Mijoo mengeluarkan sebuah plester dan menempelkannya di pipi Jimin yang terluka.

 

“Maaf, aku hanya punya plester untuk menyembuhkan lukamu.” Ucap Mijoo.

 

Jimin menyentuh pipinya yang di plester lalu menatap Mijoo tak percaya.

 

“Apakah ini mimpi?” Gumam Jimin.

 

“Apa maksudmu?” Tanya Mijoo tak paham.

 

Jimin segera menggeleng keras, “Anio. Gwaenchana.” Tukasnya.

 

Mijoo dan Jimin sama-sama terdiam. Namun dengan cepat Jimin memecah keheningan agar tak canggung..

 

“Emm.. Sore ini, apa kau punya waktu?” Tanya Jimin hati-hati.

 

Mijoo terhenyak, “Eoh, w-wae?” Tanyanya balik.

 

Jimin menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. “Begini.. Jika kau ada waktu, aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke sungai han. Eotte?” Tanyanya.

 

Mijoo tersenyum sumringah, “Tentu. Aku bisa. Aku juga sudah lama tidak jalan-jalan.” Katanya.

 

“Benarkah? Kalau begitu aku akan menjemputmu ke rumah.” Ujar Jimin antusias.

 

Mijoo segera menggeleng cepat, “Anio! Jangan menjemputku ke rumah. A-aku bisa naik bus untuk  kesana.” Akan bahaya jika Jimin menjemputnya ke apartemen.

 

“Aniii.. Aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis pergi sendirian. Biarkan aku menjemputmu.” Ucap Jimin bersikeras.

 

Mijoo menautkan jari-jarinya, memutar otak untuk mencari alasan, “Begini saja, jemput aku di halte bus sekolah, nanti aku akan menelfonmu.” Ujarnya.

 

Jimin mengangguk pasrah, “Baiklah kalau begitu.”

 

Mijoo sedikit lega karena Jimin mau menerima usulannya. Akan bahaya jika Jimin tahu Mijoo tinggal di apartemen, dan seruangan dengan Taehyung.

 

SKIP

 

Mijoo terduduk di tempat hias dan sudah bersiap-siap. Rambutnya yang panjang diikat satu dan poni nya di jepit ke atas. Ia memakai kaos pink berlengan pendek dan tas selempang berwarna putih. Tampak cantik dan casual. Mijoo tersenyum memandang penampilannya di cermin.

 

“Heh.. mau kemana?” Tanya seseorang di ambang pintu.

 

Senyum Mijoo langsung hilang setelah menatap orang itu. Ia bangkit dari duduk tempat hias dan berjalan mendekati Taehyung.

 

“Bukan urusanmu! Minggir aku mau lewat!” Jawab Mijoo ketus seraya menggeser tubuh Taehyung tapi ia tak memberi celah untuk Mijoo.

 

“Tentu ini urusanku. Kau tinggal bersamaku dan aku harus tahu, nona.” Tegas Taehyung sembari menggenggam pergelangan tangan Mijoo.

 

“Jangan pegang aku! Lepas!” Berontak Mijoo.

 

“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau memberitahuku.” Paksa Taehyung.

 

Mijoo memasang wajah memelas, “Kumohon lepaskan aku.” Pintanya merengek.

 

Taehyung menggeleng pasti, “Puppy eyes mu tidak akan meluluhkanku.” Katanya.

 

“Dasar menyebalkan.” Desis Mijoo.

 

Sesuatu bergetar dibalik saku celana Taehyung. Ia merogoh saku celananya dan menemukan ponselnya terdapat satu panggilan. Panggilan dari ibunya. Taehyung langsung panik. Ibunya menelfon disaat yang tidak tepat.

 

Taehyung membiarkan ponselnya terus bergetar. Ia ragu antara ingin mengangkat atau tidak. Ia takut jika ibunya menanyakan Mijoo. Entah harus memulai kebohongan darimana..

 

Disaat seperti itu Taehyung tidak fokus pada Mijoo. Mijoo mengambil kesempatan untuk melepaskan diri. Gadis itu segera berlari menuju pintu keluar.

 

“Yak! Jangan lari!” Taehyung segera mengejar Mijoo.

 

Mijoo lari sangat cepat. Taehyung sampai tidak sanggup mengejarnya. Karena berlari dengan high heels, tanpa sengaja Mijoo terpeleset dan jatuh. Ia menyentuh kakinya yang sakit.

 

“Akh! Appayo.” Keluhnya sampai mengeluarkan airmata. Mijoo bangun dan memaksakan diri berlari dengan kaki pincang. Sebelumnya ia sudah melepas kedua high heelsnya.

 

Taehyung berhenti berlari dengan nafas terengah-engah. Ia kehilangan jejak Mijoo. Mijoo terlalu cepat melebihi kecepatan berlarinya.

 

“Aigoo.. Kemana dia?” Gumam Taehyung frustrasi.

 

Ponsel Taehyung kembali bergetar dari sakunya. Taehyung segera mengambil ponselnya dan menemukan panggilan dari ibunya lagi. Mau tidak mau Taehyung mengangkatnya.

 

“Yeobbosseo?” Sapa Taehyung takut-takut.

 

“Ne, yeobbosseo. Akhirnya kau mengangkatnya juga, nak. Ada dimana kau sekarang?”

 

“Aku di apartemen. Waeyo Eomma?” Jawab Taehyung berbohong.

 

“Oh begitu. Eomma hanya ingin memberitahu, besok eomma akan ke apartemen. Sekalian Eomma akan membawa Mijoo ke dokter kandungan. Sekarang kehamilannya sudah kedua minggu ‘kan?”

 

Taehyung menelan salivanya sulit, hampir saja ponselnya jatuh dari genggaman.

 

Ini.. Benar-benar gawat! Batinnya panik.

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

TBC

4 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] My Wife’s Amnesia? – (Chapter 4)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s