[BTS FF Freelance] Skool (Luv) Affair – (Chapter 1)

cover1

“Hiiroah, Ye Rinah!”, teriakku dari ambang pintu kelas.

Mataku mencari-cari dua gadis tinggi bersurai hitam alias kedua sahabatku. Aku menyadari tatapan anak-anak termasuk dua orang yang kucari. Aku berlari menghampiri dua gadis yang duduk di barisan belakang menulis sesuatu yang kemungkinan besar laporan kimia untuk jam ke lima. “Akdnsjhyfa!”, aku berteriak tanpa satu kata, apalagi kalimat yang jelas terucap. Uh, kenapa perasaan ini sulit sekali untuk diungkapkan dengan kata-kata sih. Ugh, nafasku.

Hiiro—gadis dengan potongan rambut pendek—terlihat kawatir. Tangannya bergerak naik turun saat mengucapkan, “Oke tenang dulu Sa Young. Tarik nafas…”

Aku mengikuti arahannya. Tanganku bergerak seakan mendorong udara agar masuk ke dalam paru-paruku.

“Hembuskan.”

Seperti sebelumnya, tanganku bergerak mengikuti aliran udara yang berhembus keluar dari hidung. Fyuh. Sekarang terasa lebih baik.

“Baiklah, sekarang kau bisa mengulangi apa yang ingin kau sampaikan tadi.”, gadis lainnya—Ye Rin—mengingatkanku pada alasan kenapa aku mencari kedua orang ini.

“Ah, benar. Hiiro, Ye Rin. Kalian tidak akan percaya. Bangtan Anniversary Party akan diadakan lagi Minggu malam besok. Wow, setelah tahun kemarin mereka meniadakannya, sekarang mereka mengadakannya lagi. Ini, super duper keren.”

Aku mengatakannya. Aku mengatakannya dengan sangat keras, yeah! Mataku berbinar, harap-harap cemas menunggu reaksi mereka berdua.

Tapi tak ada. Tak ada reaksi apapun! Mereka hanya diam memandangiku. Bahkan aku hampir bisa mendengar dengan jelas isi kepala Ye Rin yang seakan berkata ‘Sudah, hanya itu saja?’. Bahkan tanggapan paling berarti dari mereka berdua hanya tepukan tangan yang terlihat tidak yakin dan minim suara dari Hiiro. Aku tak percaya ini.

Aku bahkan yakin meskipun anak-anak lain yang ada di kelas juga hanya memperhatikan tanpa suara, beberapa pasti menjerit dalam hatinya.

—Yang ternyata benar. Sesuai kata-kata gadis ini, beberapa anak yang memang penggemar Bangtan Boys berteriak dalam hati ‘Aku tahu! Aku juga tahu itu!’, dengan topeng wajah tanpa ekspresi. Sedangkan yang lain hanya memaklumi kehebohan gadis ini yang memang sudah sejak pertama masuk seperti itu.—

Dengan sedikit tak yakin aku menambahkan, “Ini pesta loh. Bangtan Boys loh.” Menyadari tak akan ada tanggapan lebih, akhirnya aku menyerah, “Oh, terserah kalian saja.”

 

SKOOL (LUV) AFAIR

A story by Ai Emu

Cast : All member of BTS, and lot of OC|Genre: Romance, Family, AU!BTS bukan nama idol grup|Rating: PG-13|Warning: all of cast will be OOC, mismatch genre, in this fic Jung Kook become 96 line (1 year below Ji Min and V)

Disclaimer : Ide, cerita, dan Original Carakter semuanya hasil imajinasi absurd saya, tetapi perlu digaris bawahi BTS bukan milik saya. Mereka idol hip hop di bawah naungan Big Hit Entertaiment yang saya pinjam sebagai karakter.

Note : Karena ini ff BTS pertama Author yang baru berani dikirim maaf bila banyak kesalahan dan cerita yang terasa membosankan (6k+ words). Sekedar info, pakaian yang dipakai BTS di capther ini kostum mereka waktu special stage Something. Maaf juga kalau berasa kurang fokus ke Bangtan. Happy Reading.

#1 Party become Bully

The Girl Point of View

Lee Sa Young

 

Mereka berdua memang tidak setia kawan. Bagaimana bisa mereka memberikan reaksi semenyebalkan itu. Oh, membayangkan wajah minim ketertarikan dan tepuk tangan tanpa suara dari Hiiro serta picingan mata dari Ye Rin yang seakan mempertanyakan kewarasanku sungguh menyayat hati. Kenapa dua orang yang kuanggap sahabat berbuat seperti itu sih?

Oh, mereka datang.

“Berhenti mengomeli orang dalam kepalamu Sa Young.”, komentar Ye Rin begitu menempati tempat duduknya. Ugh, bagaimana dia tahu? Sejelas itukah?

“Sudahlah, jangan mulai perkelahian lagi.”, Hiiro yang sekarang menggeser tempat duduknya ke mejaku menjadi penyelamatku apalagi pertanyaannya selanjutnya, “Jadi, kenapa tadi pagi kau seheboh itu Sa Young?”

Wah kau memang T.O.P. deh. “Itu dia. Kalian dingin sekali sih tadi pagi. Hiiro, kau anak baru kan jadi aku akan mengulangi informasi penting ini khusus padamu.”, meski tak kentara aku sadar Ye Rin pura-pura sibuk dengan ponsel dan sebelah tangannya menutupi telinga kiri. Biar saja, toh pada akhirnya dia pasti mendengarkanku juga.

“Jadi begini. Kau tahu kan, Bangtan Boys begitu terkenal dan mempunyai sejarah panjang dalam pembentukkannya?”

“Bukannya mereka dibentuk saat kita kelas 1 SMP ya? Apanya yang sejarah panjang.” Tuh kan, meski bersikap dingin seperti itu Ye Rin pasti akan turut berkomentar. Komentar negatif sih. Mengingat Ye Rin itu semacam tsundere. Kosa kata jepang yang berhasil kupelajari dari Hiiro dimana artinya lain di mulut lain di hati, keras di luar lembut di dalam, atau semacam itu lah. Aku bukan jenis pembelajar yang baik. Kurasa unnieku ada benarnya juga saat mengataiku dengan memori ikan mas. Julukan yang kubenci karena tidak ada manis-manisnya.

Ya! Tiga tahun itu kan waktu yang lama. Kau saja tidak pernah berhubungan dengan lelaki lebih dari setengah tahun. Rekor terlama saja hanya empat bulan, itupun putus komunikasi selama satu setengah bulan. Kalau dirangkum kau tak pernah mencapai tiga bu—Auw!” Tanganku sibuk mengelus puncak kepalaku. Mataku memelototi gadis yang masih menggenggam gulungan buku tulis pada tangan kanannya. Ye Rinah, kau kejam sekali.

“Kurasa kali ini kau yang salah Sa Young.”, Hiiro memberikan tatapan memaklumi ke arah Ye Rin.

Memangnya aku benar-benar salah ya?

Aku kembali mengamati Ye Rin.

Ya mungkin sedikit. Sedikit sekali. Yah, kemungkinan itu memang ada tapi hanya sekitar nol koma nol nol satu persen. Jadi aku memberikan cengiran permintaan maaf terbaikku pada Ye Rin. Sebagai tanda memaafkanku, Ye Rin meletakkan buku tulis kembali ke meja. Waaa, Ye Rin… aku cinta padamu. Kadang aku berpikir Ye Rin itu malaikat berselubung iblis. Jenis yang sulit sekali dibuka selubungnya sampai-sampai terlupakan isinya.

Sebagai servis tambahan aku meniupkan dua ciuman penuh cinta ke arah gadis ‘pemalu’ itu. Sayang sepertinya sifat tsuntsunnya sedang kambuh sehingga ciuman terbangku ditangkisnya dengan buku yang sama yang sudah melukai kepalaku ini. “Lanjutkan saja ceritamu.”, perintahnya dengan nada ketus.

Apaan sih, padahal tadi dia yang kelihatan ogah-ogahan tapi sekarang? Hm, mungkin dia penasaran? Atau yang terburuk, dia sekarang jadi mengingat kisah menyedihkan 4 bulan dengan teman masa kecilnya. O.M.G., it’s a no no.

“Baiklah, kali ini saja aku akan menurutimu. Hm, hm, sampai dimana aku tadi?”

“Sesuatu tentang tiga tahun.”

Oh~ Hiiro~, seperti yang diharapkan. Sebagai balasan aku menembakan dua peluru cinta. Sayang, tak ada tanggapan darinya. Apa di jepang tidak ada yang melakukan love shoot? Tatapan polos menjawab semuanya. Aku akan melepaskanmu kali ini Hiiro.

“Ya seperti yang kukatakan tadi. Ini akan menjadi pesta perayaan terkeren sepanjang masa.”, oke aku sendiri merasa kalimatku kali ini berlebihan. Tapi tak apalah. Tak ada yang rugi juga. Sayangnya tak ada yang peduli untuk sekedar mengoreksi—menyedihkan, dua pendengarku ini sepertinya tidak menyimakku.

“Bukannya beberapa waktu lalu kau bilang mereka itu ‘preman’ sekolah ya?”

Ah, ternyata mereka—setidaknya Hiiro—mendengarkan. Tapi…

Aku memicingkan mataku tak suka ke arah Hiiro lalu beralih pada Ye Rin. Kenapa dari semua penjelasan yang didengarnya kemarin lalu harus perkataan Ye Rin yang diingatnya.

“Bukan preman tapi pelindung.”, koreksiku sia-sia. Dua anak itu sepertinya tak akan pernah mengakui yang satu ini. “Terserah kalian deh. Jadi, ada yang mau menemaniku datang hm?”

Aku memandangi Hiiro dengan mata penuh harap. Kalau Hiiro saja tidak bisa maka kemungkinan Ye Rin akan ikut menjadi semakin kecil. Orang yang ditatap balas meringis pertanda jawaban penolakan yang akan diberikan. “Maaf kalau hari minggu aku tidak bisa. Ada yang harus kukerjakan.”

Aku memajukan bibir sebal, “Memang apa yang mau kau kerjakan di hari libur? Ah, jangan bilang kau akan belajar seharian.” Mengingat yang sedang kita bicarakan ini penerima beasiswa dengan peringkat tinggi di sekolah maka kemungkinan membosankan itu pasti ada.

I’m not that nerd to study all day in my free time.”, gumam Hiiro dalam bahasa inggris. Atau mungkin jepang? Entahlah, yang pasti bukan dengan bahasa korea karena nilai bahasaku belum seburuk itu hingga tidak mengenali bahasa ibuku sendiri.

“Apa?”

“Intinya dia tidak akan belajar. Sudahlah, kenapa kau sengotot itu ingin tahu!”, seru Ye Rin dari tempat duduknya. Wajahnya terlihat kesal dengan jari mengetikkan huruf ganas. Kalau saja mata Ye Rin dapat memancarkan laser, pasti handphone di tangannya sudah hangus sejak tadi.

“Aku tidak ngotot.”, memelototi Ye Rin yang sedang kalap dengan handphonenya terasa tidak berarti. Aku berbalik pada Hiiro, “Maaf Hiiro.”

Hiiro tersenyum sambil mengangkat bahu. Bahasa tubuh untuk mengatakan bukan masalah besar. “Lalu kau akan ikut Ye Rin?”

Pass.”

Aku tahu itu akan terjadi. Argh, ini artinya aku akan pergi ke pesta seorang diri? “Kalian bernar-benar tidak bisa datang?”, untuk terakhir kalinya aku memastikan.

“Maaf Sa Young, minggu ini aku benar-benar tidak bisa. Aku sudah membuat janji dengan orang lain terlebih dahulu.”

Kurasa memang tidak akan ada harapan lagi dari Hiiro. Aku beralih pada Ye Rin dan hanya ditanggapi dengan, “Tetap pass.”

Oh well, kurasa sudah takdirku untuk datang ke sebuah pesta seorang diri. Mengenaskan.

.

.

.

Malam minggu. Hari H! PARTY TIME! Dan tak banyak orang yang kukenal berkeliaran di sini! Padahal aku sudah sengaja datang terlambat!

Oh, pesta tidak pernah semengintimidasi ini. Ruangan luas dengan lampu gantung dan pelayan-pelayan yang melintasi karpet merah cukup membuat perutku melilit. Musik orkesta yang menjadi latar sama sekali tidak membantu. Bahkan makin membuatku depresi.

Mataku berkeliaran tak jelas. Mencari siapa saja wajah yang dapat kukenali untuk sekedar mengobrol bersama. Sayang tidak ada satupun orang yang kukenal. Kebanyakan yang datang adalah sunbae kelas 2 dan 3. Anak-anak kelas 1 terlalu takut untuk bertarung menarik perhatian oppa-oppa Bangtan dengan para sunbae.

Apalagi yang datang ke pesta semuanya orang berada, orang yang berpengaruh kuat, gadis-gadis berkantong tebal dan tas kulit bermerk terkenal. Menegaskan ucapanku, seorang gadis bergaun merah pendek dengan belahan dada rendah keluaran terbaru dari perancang ternama melenggok cantik melewatiku begitu saja. Di seberangku, beberapa gadis berkumpul dengan tas tangan terbaru dari Burberry dan Prada bergelayut indah pada tangan mereka. Aku menghela nafas lelah, orang-orang yang sama yang dapat dihitung dengan jari. Maklum, sekolahku bukanlah sekolah khusus orang-orang berduit. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak memiliki mobil pribadi. Karena itu datang ke pesta merupakan cara PDKT paling cepat untuk dapat diingat namanya oleh oppa-oppa Bangtan. Bahkan kalau beruntung dapat ‘berkencan’ dengan salah satu oppa. Well, kalian pasti tahu siapa oppa yang kumaksud kan?

Aku kembali celingukan mencari pemilik pesta, a.k.a Bangtan Boys. Kalau sudah berhasil datang tetapi tak bertemu apa gunanya? Lagipula aku cukup percaya diri dengan gaun soft pink pendek dengan tali spageti dan sepatu keluaran Jimmy Choo tahun lalu. Belum begitu ketinggalan juga kan?

Kakiku melangkah menyebrangi lantai dansa yang kosong. Para gadis lebih menyukai berkumpul di pinggir dengan minuman di tangan. Tak satupun anak laki-laki terlihat. Yah, aku tahu ini pesta perayaan ‘berdirinya’ Bangtan Boys jadi anak laki-laki yang kumaksud sudah sangat jelas. Oh itu mereka.

Sekelompok gadis baru saja meninggalkan mereka. Popular seperti biasanya, eh?

Di dekat meja berisi pop corn dan punch berdiri segerombolan anak laki-laki dengan baju pesta yang sedikit unik. Benar sekali. Mereka menggunakan seragam. Maksudku, baju mereka memang berbeda, tetapi ada sesuatu yang sama di sana. Misalnya jas hitam dan kemeja putih, serta pola mirip kotak-kotak hitam dan putih itu. Wow, apa mereka memikirkan sendiri untuk berpakaian begitu? Itu, manis sekali. Dan sangat imut.

“Kekanakan.”

Aku tersenyum membayangkan komentar negatif yang akan dilontarkan oleh Ye Rin kalau saja aku berhasil menyeretnya malam ini.

Sadar dari lamunanku, mataku beradu dengan dua kelereng hitam yang balas menatap ke dalam mataku. Senyumku bertambah lebar membayangkan reaksi apa yang akan diberikan dua gadis yang menanggapi ceritaku tentang Bangtan Boys dengan begitu minim keantusiasan, kalau mereka mengetahui kebenarannya.

“Selamat malam oppa deul.”, sapaku kalem—bertentangan dengan degub jantung yang menggila. Ya ampun, aku baru saja bertatapan dengan Hobi oppa. Aku baru saja saling tatap dengan Hobi oppa! HOBI OPPA BARU SAJA MENATAP MATAKU!!! KAMI BARU SAJA…addjadhjh$*@ugh.

“Oh, malam Sa Youngah.”, balas Hobi oppa dengan senyum menawan yang membuatku meleleh. Kau harus bisa tetap berdiri Sa Young! Dan apa itu tadi? Dia memanggilku Sa Youngah. Sa Youngah~ Kyaaaa!

“Hei!”, V oppa mengangkat gelasnya tinggi hingga hampir menumpahkan isinya ke atas kepala Ji Min oppa. Untung saja refleks Ji Min oppa cepat. Tanpa sempat membalas salamku tangan oppa menepis tangan V oppa yang terjulur ke atas dan sedikit memaki. “Hati-hati dengan gelasnya.” Bukannya meminta maaf, V oppa malah membuat wajah lucu seperti mengejek Ji Min oppa. Khukhukhukhu, kadang aku lupa kalau mereka itu lahir pada tahun yang sama.

“Hai.”, Jinnie oppa membalas salamku dengan santai. Senyum simpul memperindah wajah tampannya. Oppa terlihat paling tampan saat berdiri tanpa melakukan apa-apa. Kau akan mengerti maksudku kalau sudah pernah melihat Jinnie oppa bergerak. “Kau datang sendirian?”

“Hm, orang yang kuajak sibuk semua.” Sebenarnya aku ingin menambahkan, “Oppa sendiri kenapa tidak bersama dengan unnie?” tapi tidak jadi. Mengingat unnieku itu tidak terlalu suka dengan pesta dan hanya akan datang kalau mendapat paksaan, alias terpaksa.

Mataku beralih kepada member lainnya. Rap Mon oppa menganggukan kepala sambil mengangkat gelas sedikit. Setelahnya melirik bingung pada dua anak seumuran yang sekarang sibuk bertarung shadow boxing dengan intens. Di belakangnya, Hobi oppa terlihat menyelamatkan semangkuk pop corn yang hampir terguling tersenggol siku V oppa. “Ya, ya, ya, ya.”, repetnya seperti seorang rapper. Aku dapat melihat sebuah senyum saat Rap Mon oppa menggeleng takjub dengan ulah membernya.

Sedangkan Jung Kook—mengikuti saran Ye Rin, aku tak akan memanggil Jung Kook dengan sebutan oppa lagi—menganggukan sedikit kepalanya tanpa senyum, membuat ekspresinya terlihat dingin. Aku sudah pernah bilang belum kalau Jung Kook—khususnya, dan semua anggota Bangtan Boys pada umumnya—memiliki dua topeng wajah yang begitu bertolak belakang. Sebutan kerennya adalah reverse charm. Suatu waktu dapat terlihat manis dan tak berbahaya, lalu di waktu lainnya terlihat sangat mengintimidasi dan sangat keren secara bersamaan.

Aku memperhatikan Jung Kook lebih seksama. Apa yang dipikirkan anak manis ini sampai lupa tersenyum saat membalas sapaan? Yah, bukannya aku sering mendapatkan balasan senyum dari Jeon Jung Kook hanya saja sejauh yang aku tahu mereka selalu terlihat manis, dan sopan. Alasan utama mengapa gadis-gadis menggilai mereka di sekolah. Topeng yang satu lagi hanya diperlihatkan saat mereka bertarung di luar sekolah—yang belakangan ini tidak pernah mereka lakukan.

Aku ingin bertanya alasannya memasang wajah seperti itu saat perayaan ulang tahun Bangtan Boys, tapi takut dikira terlalu mencampuri urusan pribadi. Selain itu ada yang lebih membuatku penasaran. Model rambut semua member terlihat berbeda, apa ini termasuk cara mereka merayakan ulang tahun berdirinya Bangtan Boys atau apa. Jadi aku menanyakannya, “Apakah Suga oppa terlambat? Aku tidak melihatnya sejak tadi.” Pertanyaan paling normal dalam pikiranku.

“Min Yoon Gi? Entahlah, aku belum bertemu dengannya sejak 2 hari lalu di cafeteria kampus.”, Jinnie oppa menelengkan kepalanya, mencoba mengingat lebih jelas kalau-kalau ada informasi yang terlewat. “Ada yang mendapat kabar darinya?”

“Ah, Yoon Gi hyung mengirimkan pesan padaku.”, Ji Min oppa mengatakan itu semua dalam keadaan terkunci oleh gerakan head lock yang dilakukan Hobi oppa padanya. Di sebelahnya V oppa memegangi lehernya dengan ekspresi kesakitan, sepertinya dia sudah mendapat bagiannya terlebih dahulu. “Aku sudah bertanya alasannya tidak bisa hadir tapi sampai sekarang belum ada balasan darinya.”

“Ya, setidaknya dia mengabari salah satu dari kita dan bukannya menghilang tanpa kabar seperti seseorang.”, Jinnie oppa meletakkan gelasnya seperti kehilangan minat untuk melanjutkan minum.

Yeah, bahkan seseorang itu tidak pernah kembali sampai sekarang.”, Rap Mon oppa ikut meletakkan gelasnya di ujung meja. Terlihat menghawatirkan. Tersenggol sedikit saja gelas itu bisa jatuh. Tangan baik hati Hobi oppa menyelamatkan. Gelas berpindah ke tengah, dilanjut tepukan ringan pada bahu. “Waktunya memberi sambutan, leader.”

“Sudah saatnya ya? Cepat sekali. Sampai jumpa Sa Youngah. Nikmati saja pestanya.”

Hobi oppa melambai riang. Aku membalasnya setengah hati. Ada sedikit rasa tak rela melepasnya pergi. Padahal kami akan tetap berada di satu gedung yang sama! Aku sendiri tak mengerti dengan diriku sendiri.

Aku menunduk. Menghalau perasaan tak menyenangkan yang mulai muncul. Tiba-tiba kurasakan hangat di pipiku. Wajahku menengadah. Rona menyebar. Jantungku berdetak cepat. Ini pasti mimpi kan?! Tidak mungkin. Tidak mungkin wajah Hobi oppa hanya berjarak sejengkal dariku!

Aku menutup mataku cepat. Debar jantungku makin menggila. Detik demi detik kulalui dengan harapan.

Ya, harapan yang itu!

Namun hal itu tak kunjung datang.

Aku membuka mataku. Punggung Hobi oppa tetap terlihat menawan meski dilihat dari jauh. Tangan kanannya merangkul pundak Rap Mon oppa. Ya~, mungkin perkataan Ye Rin tak sepenuhnya salah. Sebaiknya aku bangun lebih cepat. Aku mengalihkan perhatianku kepada member lainnya.

Anyeong Dongsaengah.” Jinnie oppa menarik pergi V oppa yang sedang bertengkar masalah sepele dengan Ji Min oppa.

“Seharusnya kau sadar untuk menggunakan celana panjang. Mana ada orang menggunakan jas sedangkan celananya berada di atas lutut. Bodoh.”

“Ini yang namanya fashion Ji Minnie. Belajar dulu sebelum bicara. Kau sendiri mengenakan sweater, padahal semua sudah sepakat untuk menggunakan jas kan.”

Bosan mendengar pertengkaran keduanya Rap Mon oppa menyela, “Kalian sama saja. Tidak ada yang benar.”

Mendengar keluhan dari orang yang pernah memakai kaos pink dipadu celana militer membuat keduanya protes, “Hyung! Kau yang paling parah.”

“Benar, leader kita ini bagaimana sih? Tidak bisa memadukan pakaian ya?”

Untuk pertama kalinya pada malam ini, aku melihat senyuman seorang Jeon Jung Kook. Samar aku mendengarnya bergumam, “Mereka benar-benar dalam masalah.”, dengan tawa di akhir. Saat berbalik menatapku, senyum itu masih bertahan di wajahnya. Anggukan kecil darinya sudah cukup membuatku senang.

Mereka pergi dengan keributan, meninggalkanku dengan rasa sepi. Ditinggal seorang diri membuatku mengingat dua anak menyebalkan yang sudah menolak ajakan pesta dariku. Kalau saja mereka tahu, aku benar-benar mengenal semua oppa Bangtan… Aku berusaha membayangkan wajah terkejut Ye Rin serta Hiiro, dan gagal. Sepertinya kemampuan imajinasiku masih harus ditingkatkan.

Yah, seperti kata Rap Mon oppa sebaiknya kunikmati saja pestanya. Kurasa mencicipi semua hidangan di meja penuh makanan bukan pilihan buruk. Eh?

Aku menghentikan langkahku. Tadi itu. Sunbei berbaju merah tadi. Gadis itu, tidak sedang memelototiku dengan tatapan membunuh, kan?

Aku berkedip. Berbalik memelototi sunbei itu dengan tatapan bertanya. Kontak mata terjalin sejenak, lalu dia pergi. Aku meneguk ludah kelu. Yang tadi bukan apa-apa kan? Hanya kebetulan saja kan?

 

Tapi kenapa perasaanku jadi tak enak seperti ini.

.

.

.

Di tempat lain, di waktu yang sama perayaan pembentukan Bangtan Boys.

Seorang pemuda memainkan jarinya di atas tuts piano. Melompat sembarang, mengetes keakuratan nada piano yang lama tak disentuhnya. Dia sadar, guru Yuu selaku guru musik di SMA BigHit pasti menyetemnya secara rutin, tetap saja harus dia sendiri yang mengecek nada untuk piano yang satu ini.

Jas hitam tergeletak di samping tempat duduknya. Dua jam yang lalu dia bersiap menghadiri pesta perayaan terbentuknya perkumpulan kecilnya dengan teman-temannya. Tepatnya teman-teman dari perkumpulan kecilnya. Satu jam kemudian pikirannya berubah. Dua menit sebelum pesta dimulai motornya berbelok arah. Pesan pernyataan tak dapat menghadiri pesta dikirimkan.

Ting.

Senyum puas terpasang di wajahnya. Sempurna, masih sama seperti dulu. Guru Yuu melakukan pekerjaannya dengan baik. Tangannya bergerak memainkan sebuah lagu. Jalinan nada mengalun indah dari piano coklat di pojok depan ruang musik lama. Pikirannya memutar ulang memori lama.

Matanya terpejam.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Seorang gadis menyilangkan tangannya di atas piano.

“Memainkan piano. Memangnya apa lagi?”, nada bicaranya santai. Mengalun tenang seapik permainan pianonya. Dia menikmatinya.

Gadis itu memiringkan kepala, merengut. Rambut pendek yang diikat gaya ekor kuda mengikuti gerakan kepala gadis itu. “Kau sedang mempermainkanku ya?”

Senyum kembali menghiasi wajah Min Yoon Gi. Hal yang jarang dilakukannya akhir-akhir ini. “Aku tidak bercanda. Kau melihatnya sendiri kan apa yang sedang kulakukan?”

“Tapi bukan ini yang kumaksud. Dan kau sangat mengerti maksudku.”, gadis di hadapannya memicingkan mata. Menatap lurus padanya, menyampaikan keteguhan tak tergoyahkan.

“Memangnya apa yang kau maksud?”, kali ini suaranya terdengar lebih tegas.

“Min Yoon Gi.”

“Apa?”

“Lupakan.”

Matanya berkedip dua kali. Tangannya berhenti bergerak, memutus nada pada bagian tanggung. Handphone dalam sakunya bergetar, sebuah pesan baru saja masuk. Awas saja kalau yang mengirim pesan ini adalah Park Ji Min. Lagi. Sudah belasan pesan diterimanya dari ID Ji Min sejak satu jam yang lalu. 5 detik setelah laporan terkirim pesan darinya dan tak berhenti sampai 30 menit kemudian. Dikira pengirim sudah bosan tak mendapat balasan, ternyata… Kalau sampai pengirim pesan ini benar Park Ji Min maka—

Sumpah serapah dan ide penyiksaan tak sempat terucap. Prasangka salah. Alih-alih nama Ji Min yang muncul, pada layar handphonenya terpampang nama orang lain.

From : Ji Hyo

Aku sudah sampai. Lagi-lagi kau benar. Tempat ini benar-benar keren saat malam. Aku lampirkan foto untukmu. Kalau-kalau kau ingin membandingkannya dengan apa yang kau ingat.

[picture34.jpg]

Yoon Gi membuka file foto yang diterimanya. Gambar pemandangan malam kota Seol, dengan kerlip jingga dan biru menghiasi malam yang gelap. Dia tahu, gambar seperti ini hanya bisa diambil dari atas menara—tanpa menyebutkan nama, semua orang pasti tahu tempat ini—yang biasa digunakan untuk memasang gembok cinta. Namun bukan itu alasan si pengirim mendatangi tempat itu. Yoon Gi tahu persis.

Lagi-lagi dia tersenyum melihat ID si pengirim. Tangannya bergerak cepat untuk membalas pesannya. Diketiknya…

To : Ji Hyo

Kau benar. Tempat itu masih sama. Kurasa Seol tidak berubah sebanyak itu dalam 3 tahun. Kutunggu kabar selanjutnya.

Baru 5 detik pesan terkirim, handphonenya kembali berbunyi. Senyum kembali menghiasi wajahnya saat balasan datang dari ID yang sama.

Yup. Serahkan padaku.

See u soon.

.

.

.

Senin pagi bukan jenis pagi yang kusuka tapi hari ini pengecualian. Aku harus segera berangkat dan memborbardir dua anak yang menolak ajakanku dengan cerita yang tak mau didengar mereka—aku tak tahu dengan Hiiro, yang pasti Ye Rin akan sebal mendengarnya. Membayangkannya saja sudah membuatku senang seperti ini, hi hi hi.

Dengan perasaan bahagia aku melangkahkan kaki ke dalam kelas. Melakukan kebiasaanku untuk berseru, “Pagi semua!”, pada seisi kelas.

Eh? Hm? Ini hanya perasaanku atau semua anak tiba-tiba berhenti bicara.

Aku memandangi kelas yang mendadak diam.

Wae de? Ada apa dengan semua orang?

Masih dengan pertanyaan serupa menggelayuti pikiranku, aku berjalan perlahan ke tempat dudukku. Mereka semua masih diam meskipun secara terang-terangan aku memperhatikan mereka. Beberapa anak yang tak sengaja membuat kontak mata denganku menglihkan perhatian, sisanya balas menatap penuh simpati. Tetapi bukan hanya itu. Ada sesuatu yang lain dari tatapan mereka. Sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang. Rasa dingin yang menyelimuti kelas sejak suara menghilang dari ruangan.

Kakiku berhenti melangkah dihadapkan pada ruang kosong yang ganjil pada deretan meja dan kursi. Seketika semuanya menjadi masuk akal. Alasan dari keheningan ini. Sikap semua anak. Sial, ini pasti akibat datang ke pesta kemarin.

Tanpa mempedulikan berpuluh pasang mata yang mengikuti, aku meninggalkan kelas. Dengan sedikit tergesa mencari keberadaan barang milikku—meski secara teknis itu milik sekolah tapi, itu tempatku! Ya ampun, aku tak pernah berpikir hari seperti ini akan datang—maksudku benar-benar datang. Bukannya tak pernah kupikirkan, hanya saja selama ini tak ada yang mau repot-repot melakukan ini padaku karena mereka tidak pernah menganggapku sebagai sebuah ancaman. Apa ini artinya aku bertambah cantik sampai mereka harus melakukan ini?

Aku berlari menuruni tangga, menyusuri lorong yang makin ramai, hingga memasuki gedung lain tanpa membuahkan hasil. Gedung utama makin ramai seiring berjalannya waktu. Beberapa anak yang tak kukenal—jujur meskipun aku bukan anak yang tertutup tapi perlu diketahui aku juga bukanlah tipe yang mudah bergaul, jadi tidak kenal anak-anak dari jurusan lain bukanlah sebuah dosa kan—mulai memperhatikan. Sial, dimana sih sebenarnya mereka menyembunyikannya? Apa mungkin…

Aku menggeleng, membantah pikiran yang terlalu berlebihan. Bagaimanapun juga masih ada guru di sekolah ini kan. Jadi tidak mungkin mereka berbuat yang terlalu ekstrim kan. Ha ha ha ha.

Ha.

Hatiku mencelos. Bagaimana mungkin… yang ada di tengah lobi itu… yang sedang dipelototi oleh puluhan siswa itu… Tidak. Mungkin.

Tanpa berpikir lagi aku berlari. Menerobos lingkar manusia yang mulai terbentuk. Menghampiri benda yang kucari. Mengabaikan banyaknya tatapan yang ditujukan padaku. Menyelamatkan meja malangku. Meja yang seharusnya menyimpan kenangan indah selama melamunkan Hobi oppa di saat jam pelajaran sejarah, kali ini membuatku mual. Bau busuk yang tajam tak menyurutkan siswa lainnya untuk tetap mengerumuni benda malang itu. Buku catatanku yang tertinggal, menelungkup di atasnya. Cairan menjijikan dan berbagai tulisan yang sama menjijikannya memenuhi meja dan buku yang rusak. Ugh, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di kerongkonganku. Pedih.

Bisik-bisik menjadi tanda orang-orang menyadari keberadaanku. Anak-anak menyingkir. Memberiku ruang untuk membawa kembali mejaku ke tempatnya semula. Itu lebih baik.

Menebalkan muka, aku membawa mejaku ke halaman belakang. Dalam perjalanan beberapa guru memalingkan muka. Membuatku sadar, tidak ada yang akan membantuku sekarang.

.

.

.

Bel sudah berbunyi sejak kapan lalu, tapi aku masih berdiam di sini. Tanah di sekitarku becek. Meja bermasalah itu sudah bersih, buku rusak itu sudah menghilang, tapi aku masih tak bisa pergi.

Aku tahu, hanya ada dua jenis siswa penting di sekolah ini. Penyumbang dana dan penyumbang piala. Di saat anak-anak pintar mengharumkan nama sekolah, anak-anak berkantong tebal merenovasi sekolah hingga sebesar sekarang. Sisanya jenis yang paling banyak jumlahnya. Jenis yang tidak menyumbangkan dana maupun piala. Jenis yang menutupi kekurangan jumlah, anak-anak beruntung. Siswa yang diterima di menit-menit terakhir untuk mengisi kekurangan.

Selama ini aku menganggap diriku termasuk jenis yang terakhir. Jenis yang tidak akan dilirik kecuali melakukan kesalahan besar. Dan kesalahan terbesar yang bisa kuingat hanyalah masalah kemarin!

Aku membenamkan wajahku di antara lutut. Aku tak tahu hal semacam ini akan sebegini menakutkan. Bahkan mereka baru melakukan sesuatu pada mejaku. Mereka hanya menyingkirkan mejaku. Pesan yang sudah sangat jelas.

Mereka bisa menyingkirkanku dengan mudah.

Aku menggigit bibirku. Menahan isakan dan gemetar yang tak kunjung berhenti. Kukira aku pemberani. Kukira aku kuat. Tapi tidak. Mengingat tatapan dingin siswa-siswa di sepanjang koridor, juga sikap acuh dari guru dan teman sekelasku membuatku menggigil. Aku mengacaukan hidupku sendiri. Aku sendiri yang mengacaukan harapan terakhirku. Kalau sampai orang-orang itu berhasil menyingkirkanku…

Aku akan benar-benar kehilangan tempatku.

.

.

.

“Ah hyung, lepas.”

“Oh, ayolah Jiminah~.”, pinta anak laki-laki yang lebih tua sambil memeluk orang yang dimintai tolong dari belakang.

Hyung.”

“Ya, ya. Jiminah oke~?”

“Lepas.”, nada suara Ji Min semakin datar seiring waktu berlalu dan pelukan itu tak kunjung usai.

Menyadari amarah yang mulai tersulut, lelaki itu melepaskan pelukannya. Jung Ho Seok memajukan bibir, membuat ekspresi sebal yang terlihat imut untuk anak perempuan tetapi membuat anak laki-laki ingin memukulnya. Tak ayalnya dengan Ji Min. Anak lelaki itu sudah mengepalkan tangan, meredam keinginan untuk menyadarkan hyungnya. Seandainya saja orang dihadapannya ini tidak lebih tua.

Hyung, jangan diteruskan.”

Menyadari perubahan sikap Ji Min, Ho Seok menghentikan aegyo gagalnya. “Kalau begitu kau harus membantuku.”

“Kenapa harus aku?”, Ji Min menghempaskan dirinya ke sofa. Frustasi mendengar permintaan tolong yang tak masuk akal menurutnya.

Ho Seok tersenyum. Cengiran jahil menggantikan senyumnya saat berkata, “Karena kau, Park Ji Min, adalah official playboy Bangtan Boys.”

“Yang sebenarnya salah!”, bantah Ji Min keras. Dia menggacak rambutnya sebal, “Kenapa sih semua orang menganggapku seperti itu? Yang seharusnya mendapat julukan itu adalah V.”

Ho Seok ikut mendudukan diri di sebelah Ji Min. “Yah kalian berdua sama saja. Kau maupun V tidak ada bedanya.”

“Kalau begitu hyung bisa minta tolong pada V.”

“Masalahnya V punya preverensi sendiri untuk pilihannya”

“Sedangkan aku tidak?”

“Ya, tidak begitu juga. Kau kan pria baik hati Park Ji Min.”

“Itu tidak lantas membuatku menjadi seorang playboy kan?”, ujarnya frustasi. Tangannya mengusap wajah jengah. “Lagipula pria baik hatinya itu kan kau sendiri hyung. Apa susahnya sih menolak seorang wanita?”

“Kalau memang semudah itu aku tidak akan minta bantuanmu. Gadis kali ini terlalu sulit, aku bahkan pernah memergokinya memotret pakaian olah raga yang habis kupakai. Bayangkan, pakaian penuh keringat bau seperti itu saja dicarinya—tapi mungkin bajuku pengecualian, bisa jadi sebenarnya bajuku sangat wangi seharum padang mawar. Oke, lupakan yang barusan. Sebenarnya beberapa kali aku mendapatinya memandangiku dengan wajah yang err… yah begitu, lalu dia memalingkan wajahnya begitu aku berbalik—kaya aku nggak tahu saja sudah dipelototi sejelas itu. Yang lebih parah, aku tidak bisa menolaknya karena dia belum mengatakan apa-apa. Karena itu Ji Minah tolong bantu aku. Kau kan pintar menarik hati wanita-wanita seperti itu.”

What? Hyung, kau sedang bercanda kan? Kenapa aku harus mengurusi gadis aneh macam itu.”, Ji Min mendecak sebal. Dimitai tolong menggoda seorang gadis saja sudah cukup aneh, ditambah—oh, Ji Min sama sekali tak ingin mengatakannya. Tapi, “Jangan bilang kalau sebenarnya cewek mesum itu adalah penguntit. Aku bisa mengerti kalau hyung tidak ingin berurusan dengannya.”

“Kalau yang itu aku tak tahu. Kurasa belum separah itu sampai menjadi penguntit. Aku masih merasa aman dalam perjalanan pulang. Ooh. Bahkan sebelum dikuntit aku sudah punya firasat buruk seperti ini. Jadi tolong lah, ya Ji Minie. Kau bisa menjadikannya apa itu sebutannya? Jin hyung pernah mengatakannya kan, hmm. Ah, mainan. Kau bisa menjadikannya mainan barumu.”

Menyerah. Ji Min hanya memandangi hyungnya dengan tatapan malas. “Aku tak pernah menyebut mereka sebagai mainan hyung. Kalian saja yang seenaknya menyimpulkan banyak hal. Dan untuk yang satu ini aku benar-benar tidak bisa. Aku tak mau mempunyai julukan aneh atau lebih parahnya lagi hubungan aneh saat akhirnya aku bisa berhubungan dengan sahabatku lagi.”

“Oh, anak yang kau ceritakan dulu itu ya. Hm, ini sulit. Tapi kumohon. Kali ini saja. Aku tak pernah memohon seperti ini kan.”

Melihat tatapan sarat akan permintaan tolong meluluhkan hati Ji Min. Tetapi dibandingkan dengan permasalahan hyungnya, hubungannya dengan sang sahabat sudah seperti telur diujung tanduk. Pesan darinya semalam belum dibalas hingga saat ini. Hal itu yang membuatnya frustasi sejak tadi. Moodnya makin memburuk saat hyung yang periang ini memilih mengusik penantian Ji Min dengan permintaan yang absurd. Aegyo tadi benar-benar tembakan telak. Matanya kembali memandang sepasang mata yang balik menyampaikan permintaan tolong yang begitu mendesak. Hatinya kembali goyah.

“Ah, kenapa kau seperti ini padaku hyung. Kau dan V sama saja. Karena kalian berdua selalu melemparkan masalah wanita kepadaku, kan orang-orang jadi menjulukiku playboy. Padahal tidak. Aku bahkan tak tahu apakah anak itu sudah mengetahuinya atau belum.”

Ho Seok tersenyum mendengar keluhan Ji Min, “Sebenarnya aku berani taruhan kalau sahabatmu itu sudah mendengar julukan playboymu. Ayolah, siapa makhluk hidup di SMA Bighit yang belum mengetahuinya?” Ho Seok menatap Ji Min lama. Air mukanya berubah. Wajah depresi yang memelas balik menatapnya. Belum pernah dilihatnya anak laki-laki yang hanya berjarak 1 tahun darinya itu sememalas ini. Mungkin kali ini memang tak bisa diapa-apakan. Mengingat ceritanya dulu tentang sahabatnya mengindikasikan kalau sahabatnya ini ‘spesial’. “Baiklah kalau begitu. Setidaknya beri aku saran. Aku sudah cukup pusing setiap memikirkan kemungkinan dia muncul di depan kelasku. Jangan sampai dia benar-benar menjadi stalkerku dan menguntitku sampai ke rumah.”

“Uhm, kurasa akan lebih mudah kalau hyung mengajaknya pergi berdua lalu desak sampai dia mengungkapkan perasaannya. Dengan begitu hyung bisa menolaknya dengan lebih mudah.”

“Gampang saja kau bicara seperti itu.” Satu jitakan berhasil mendarat di kepala Ji Min. “Oke, anggap saja aku sudah berhasil membuatnya mengaku. Lalu apa yang harus kukatakan untuk menolaknya?”

“Mudah saja. Katakan,” Ji Min menegakkan duduknya, memandang Ho Seok intens. “Bolehkah aku berkata jujur? Aku tak merasakan apapun saat melihatmu.”

Ho Seok mendengus, “Yang begitu kau bilang bukan playboy?” Park Ji Min memang ahlinya berbohong. “Tapi, apa itu tak terlalu kejam?”

“Kurasa jawaban langsung dan tegas seperti itu lebih baik untuk menghadapi gadis macam yang hyung ceritakan.”, di sela-sela ceramah matanya masih memandangi handphone yang tak kunjung berbunyi. “Hyung sendiri akan memberikan jawaban seperti apa?”

Jung Ho Seok berdeham. Kentara sekali sudah memikirkan jawaban yang dirasanya merupakan jawaban terbaik penolakan kaum pria. “Maaf, kau terlalu baik untukku.”, ucapnya penuh penghayatan.

Ji Min memandang Ho Seok datar.

“Kenapa?”, tanya Ho Seok defensive.

Dia menghela nafas lalu menatap hyungnya seakan mengatakan ‘seharusnya aku tahu hyung itu orang yang seperti apa’. “Hyung, kau tidak sedang mencontoh tokoh badboy dari drama yang kau tonton kan?”

“Kenapa memang? Itu efektif kan. Dia tidak akan mendekatiku lagi dan aku tidak perlu menyakiti perasaannya.”, ucap Ho Seok secara tidak langsung membenarkan pernyataan Ji Min sekaligus membeberkan hobi terbarunya menonton drama sekolah yang tokoh utamanya seorang badboy.

“Justru sebaliknya. Kurasa dia akan semakin menempel padamu. Lagi pula hyung, kau kan bisa merobohkan pria dewasa dengan sekali pukul, masa dengan anak perempuan saja tidak berani.”

“Kalau kau hidup sepanjang waktu dengan seorang kakak perempuan kau pasti mengerti perasaanku. Hm, tapi terimakasih sarannya. Kuharap bukan hasil terburuk yang muncul.”

“Semangat hyung.”, Ji Min menepuk bahu Ho Seok menyalurkan energy. “Maaf aku tak bisa membantu kali ini. Hm, tapi kurasa ini pertama kalinya masalah semacam ini mengganggumu. Biasanya San Hwa nonna akan menangani orang-orang yang dekat denganmu hyung. Apa dia tak bisa menangani fansmu yang semakin banyak? Popularitasmu tiba-tiba meroket, hm?” Ji Min menaik turunkan alisnya jail. Sepertinya moodnya sudah membaik. Mata sipitnya melengkung membentuk bulan sabit karena senyum mencurigakan yang ditujukan untuk Ho Seok.

“Kupikir juga begitu.”, Ho Seok membalas mengusap-usap dagunya bangga. “Tapi tidak. Kurasa kejadian kali ini karena makin banyak anak yang tak mengenal Hye Jin.”, jemarinya menyusuri pot-pot kaktus kecil, sudut hijau yang berhasil diselundupkannya di tengah ruangan gelap bernuansa hitam, putih, dan merah. “Dan untuk masalah San Hwa, aku juga bingung. Awalnya dia ‘menegur’ anak itu setiap mereka bertemu di depan kelasku. Tapi akhir-akhir ini dia tidak pernah muncul. Kurasa sejak pesta dua hari lalu aku tak melihatnya, karena itu aku minta bantuanmu.”

“Aneh, bukannya nonna itu fans nomor satumu hyung? Tidak mungkin dia meninggalkanmu selama beberapa hari tanpa bertemu.”

Ho Seok memasang wajah aneh mendengar kata fans nomor satu. Tidak. San Hwa bukanlah gadis jelek. Memang dia tak secantik Yoon Ha sahabatnya, tapi San Hwa tidaklah seburuk itu. Penampilannya. Untuk masalah perilaku, Ho Seok sudah mendengar terlalu banyak rumor tak menyenangkan tentang gadis yang mengecat rambutnya dengan warna apricot itu. Mulai dari sogokan masuk sekolah, sampai ketua genk penindas. Ho Seok memang bukan seorang siswa berbudi teladan, tapi penindasan bukan hal yang disukainya.

“Itulah, aku jadi kawatir padanya. Gadis-gadis di kelasku bilang seorang siswa tingkat satu sedang jadi target penindasan. Kuharap itu hanya rumor dan tak ada kaitannya dengan dia maupun San Hwa. Setelah meninggalkannya di pesta kemarin aku melihat San Hwa menatap ke arahnya terus.”

Ji Min memaki pelan mengingat kepergian mereka saat di pesta kemarin sebenarnya untuk mengalihkan perhatian San Hwa dari adik Yoon Ha nonna. “Uh, kuharap bukan itu yang terjadi.” Mengingat San Hwa adalah penyumbang dana terbesar saat ini sehingga beberapa guru dan pastinya murid-murid tanpa kuasa akan menutup mata dan memalingkan muka dari penindasan kali ini. “Lagipula tidak akan ada yang berani macam-macam dengan adik Yoon Ha nunna kan?”

Ho Seok tersenyum simpul. “Yeah, kau benar. Kalau ada yang tahu dia adik Yoon Ha.”

.

.

.

Langkah kaki gadis itu menghentak. Orang yang dicarinya hilang, handphone jadul di tangannya tak bisa mengirim pesan dari semalam. Argh! Tambahkan satu masalah lagi maka Ye Rin siap meledak. Mengomeli siapa saja yang berani menambah beban pikirannya.

Gerak gadis itu melambat. Di tatapnya kelas kosong yang tidak sepenuhnya kosong. Uh, berbelit. Saat ini fokusnya tertuju pada gadis lainnya yang masih berdiam di tempat duduknya dengan tangan menggenggam handphone seperti dirinya, pandangannya tertuju pada ruang kosong yang seharusnya menjadi tempat duduk sahabatnya.

“Masih belum pulang Hiiro?”, Ye Rin kembali mendudukan diri di meja depan Hiiro.

Hiiro mengalihkan pandangannya dengan sedikit terkejut. “Hm.”, jawabnya singkat dengan senyuman canggung. Sudah dua hari ini dirinya dan Ye Rin tidak berbicara seperti biasanya.

Dua hari sejak meja dan kursi Sa Young menghilang, anak-anak di kelas menghindari topik bahkan menghindari nama Sa Young disebutkan. Hiiro menyadarinya. Guru-guru—sudah tiga guru yang melewatkan nama Sa Young saat mengabsen—menutup mata dari kejadian yang jelas-jelas terjadi di dalam kelasnya.

Dia masih ingat bagaimana rupa sahabatnya saat masuk membawa meja yang hilang pada siang hari. Senyuman palsu yang terpaksa diberikan. Bagaimana guru yang saat itu mengajar mengabaikan wajah kusut dan kenyataan salah satu muridnya datang terlambat tanpa pemberitahuan jelas. Sungguh, jika bukan karena hal semacam ini pernah terjadi di sekolahnya yang lama—di Jepang—Hiiro pasti sudah menyerukan protes—yang pasti akan diabaikan—pada seisi kelas. Hal sia-sia yang pernah dilaluinya dulu, dan tak akan diulanginya lagi. Gadis itu sudah memikirkan jalan lain untuk menyelamatkan sahabatnya ini.

“Hiiroyah. Apa kau pikir kita sahabat yang tak berguna?”

Pertanyaan Ye Rin membuyarkan lamunannya. Hiiro menatap Ye Rin tak mengerti arah pertanyaannya.

Ye Rin balas menatap dengan wajah cemas, “Aku tak berhasil menemukannya. Setelah keluar dari kelas dan menuruni tangga, aku kehilangan jejak Sa Young. Aku tak berhasil berbicara dengannya.”

‘Ah, ternyata itu.’, wajah Hiiro kentara sekali mengatakan kalimat itu keras-keras. Hal lain yang dipelajarinya dari kasus tak menyenangkan di sekolahnya dulu adalah komunikasi. Seberat apapun perlakuan dari penindas, jika korban penindasan membicarakan masalahnya dengan seseorang maka hal itu dapat diselesaikan—setidaknya Hiiro akan dengan senang hati membantu memikirkan jalan keluar bersama. Masalahnya, seperti korban di sekolahlamanya, Sa Young memilih mengasingkan diri daripada menceritakan keadaannya. Sejak dua hari lalu hingga sekarang, Hiiro dan Ye Rin belum berhasil melakukan pembicaraan serius dengan Sa Young. Gadis itu hilang sejak pagi hari, datang saat siang dan menghilang lagi saat pulang. Bahkan untuk sekedar mengobrol di kelas saja mereka tak bisa. Entah kenapa Sa Young terkesan mengindari mereka dan memilih menghilangkaan diri.

“Ye Rinah, menurutmu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Sa Young?”

“Hm, entah. Saat ini aku meraasa tak berguna.”

“Sebenarnya Ye Rin, aku punya rencana, tapi tak tahu apa ini akan berhasil atau tidak.”

Mata Ye Rin menyelidik. Kalau ada hal yang bisa dibanggakan dari sahabatnya ini maka hal itu adalah otak jenius. Sebagai penerima beasiswa dan anggota klub kendo sekolahnya Ye Rin sadar kerja keras saja tidak akan berhasil, butuh bakat alami atau setidaknya otak jenius untuk bertahan di peringkat satu. Benar, anak pindahan dari jepang ini peringkat satu di tingkatannya sedangkan Ye Rin sendiri sebagai warga Negara korea asli hanya menduduki peringkat 10. Tidak adil kan? Tak bisa komplen dan tak ingin juga. Setidaknya peringkatnya lebih tinggi dari Sa Young yang berada di sekitar angka seratus.

Ha. Memikirkan Sa Young membuat sakit hatinya. Mereka memang baru dekat setelah masuk ke kelas yang sama, tapi memikirkan dirinya yang tak bisa melakukan apa-apa saat sahabatnya itu terlihat begitu membutuhkan bantuan tidaklah menyenangkan.

“Apa rencanamu?”

Hiiro tersenyum. Otaknya memikirkan pro dan kontra, apakah memberi tahu Ye Rin merupakan langkah yang baik. Masalahnya, tindakan yang akan diambilnya kali ini bisa jadi melibatkan penyalah gunaan properti sekolah, mengganggu privasi publik, dan kemungkinan besar melanggar peraturan sekolah.

.

.

.

To : OOO

Apa kau tahu tempat mendapatkan kamera kecil yang bisa diselundupkan? Gambar dari kamera seperti itu masih bisa dicetak kan? Terima kasih sebelumnya untuk bantuannya.

.

.

TBC

.

.

~Next chapter #2 Kim Family~

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Skool (Luv) Affair – (Chapter 1)

  1. Holl bagus nih ceritanya.. tapi saya masih bingung siapa yang berbicara dan siapa yang diajak bicara dan alurnya juga masih kurang jelas.. tapi saya mengerti dari cerita ff ini..
    Ditunggu chapter selanjutnya author..
    화이팅 Author..💪💪💕💕

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s