[BTS FF Freelance] Blood, Sweat and Tears – (Chapter 2)

bst-cover

Blood, Sweat & Tears

Chapter 2

Story by @siken11

Genre : Romanc, Mistery, Comedy || Rating : PG – 17 || Lenght : Chapter || Main cast : Park Jimin – Lee Haera a.k.a Acelyne hwang || Other Cast : Find Yourself || Disclaimer @ BTS SuperJunior and other

Credit Poster : by author

~

‘Jangan hanya melihat buku dari sampulnya, kau harus membaca buku itu dengan teliti agar tahu isinya. Begitupun dengan diriku, aku adalah mawar yang memiliki duri tajam’

~

Semua tokoh di ff ini milik Tuhan dan karakter fiktifnya adalah khayalan author semata. Dan maaf jika ada kesamaan tokoh. Cerita ini murni milik author.

FF ini pernah di post di blog pribadi author. ( http://www.bangjung.wordpress.com )

 

Begitu selesai menemui hoseok jimin memutuskan untuk kembali pulang saja dan tidak pergi ke kantor. Ia cukup lelah hari ini, ia ingin berendam membersihkan badannya yang sudah lengket dan berpeluh. begitu banyak masalah yang harus ia hadapi, dan harus menyusun kepingan-kepingan puzzle, yang baru ia temukan beberapa.

Kakinya melangkah dengan pelan ke arah kamarnya yang berada di lantai dua. Jimin membeku di depan pintu kamarnya yang terbuka. Jimin menatap dengan lekat tubuh mungil haera yang tengah merapikan tempat tidurnya Sesekali ia mengkerutkan dahinya dan tersenyum samar, ketika mendengar bibir tipis itu bersenandung kecil.

Jimin tidak tahu pasti apa yang dinyanyikan gadis itu, begitu menikmati apa yang dilihat dan didengarnya hingga tanpa sadar jimin sudah bersandar disana.

“Astaga!” pekik haera ketika membalikkan tubuhnya. “Se-sejak, sejak ka-kapan? Anda disana sir?”

Haera meremas gaun maidnya di kedua sisi tangannya, ia sangat gugup jika berhadapan dengan jimin seperti ini. aura mengintimidasi pria itu begitu kuat. Hingga rasanya sesak sekali, hanya untuk sekedar bernafas.

‘Tap.. Tap.. Tap..’

Jimin tidak menggubris pertanyaan haera, ia berjalan kearah gadis itu tanpa melepaskan tatapan tajamnya. Sedangkan gadis itu hanya bisa menahan nafas dan membeku tidak bisa bergerak, seolah otaknya tidak berfungsi.

“Bernafas haera, atau kau mati!” jimin terkekeh tepat di depan wajah haera, gadis itu benar-benar merasa malu. Ia tengah dipermainkan sekarang. jimin semakin terkekeh melihat rona merah di pipi haera.

“A-a-aku, aku akan mengambil pakaian kotor dan segera membawanya turun” tanpa berpikir panjang haera segera membalikkan tubuhnya.

‘Dakkk’

“Ahhhhhh!” saking gugupnya haera lupa jika di belakangnya ada ranjang tidur milik jimin, ia terduduk di ranjang memegangi tulang keringnya yang terasa panas setelah terantuk cukup keras dengan pinggiran kayu ranjang jimin.

Dengan cepat jimin mendekat pada haera dan berlutut di depan gadis itu. “Kau tidak apa-apa? Ceroboh sekali!”

Haera meringis ketika tangan jimin menyentuh luka lebamnya. Jimin kembali berdiri dan berjalan ke arah laci di dekat tempat tidur. Ia membawa kotak obat dan kembali berlutut di hadapan haera. Dengan hati-hati jimin memberikan salep pada kaki haera, sedangkan gadis itu hanya diam tidak berhenti memandangi wajah jimin.

“Aku tahu, aku sangat tampan!” ujar jimin tanpa menoleh sedikitpun kearah haera.

Haera segera mengalihkan tatapannya. “Percaya diri sekali!”

Begitu jimin selesai haera segera berdiri dengan menahan perih di kakinya. Ia hendak melangkahkan kakinya mengambil sekeranjang pakaian kotor jimin di dekat almari.

Belum sempat ia melangkah jimin sudah menarik kembali tubuhnya agar terduduk di pinggir ranjang. “Biarkan salepnya mengering, jangan bertingah seolah kau tidak sakit!”

Haera mencibir kesal pada jimin.

“Aku ingin bertanya” haera menolehkan pandangannya kearah jimin mendengar ucapan lirih jimin. “Kau? Apakah kau tahu jika hyukjae-, maksudku tuan lee bukan ayahmu?”

Jimin menatap lekat haera, jujur saja ia takut jika gadis itu tersinggung atau belum tahu dan shock. Namun jimin cukup terkejut ketika melihat haera menganggukkan kepalanya pelan.

“Aku tahu sejak umurku sepuluh tahun, awalnya aku terkejut tapi mereka meyakinkanku jika mereka sangat menyayangiku. Hingga semua berubah ketika ayah bilang ia bangkrut dan ibu mulai sakit-sakitan. Setelah ibu meninggal, ayah semakin menjadi buruk, berjudi dan mabuk. Aku bersyukur ibu mendidikku menjadi anak yang mandiri”

Jimin tertegun ketika mendapati haera yang tersenyum hangat padanya, disaat hidupnya sulit gadis itu bahkan masih bisa tersenyum.

“Eiii, tidak perlu merasa kasihan padaku! Aku tidak suka di kasihani, bekerja menjadi pembantumu tidaklah buruk” haera berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar jimin, setelah mengambil keranjang pakaian kotor.

Tubuh haera tersentak ketika jimin tiba-tiba membalikkan tubuhnya dengan paksa. Menarik keranjang yang haera bawa dan membuangnya entah kemana.

‘Cupppp’

Mata haera membulat dengan sempurna ketika merasakan bibir jimin menyentuh bibirnya. Oh ya tuhan, dan ini ciuman pertamanya. Melihat jimin memejamkan mata, haera ikut terlarut memejamkan mata seraya mencengkram bahu jimin.

“Haeraaaaaaa! Dimana kau!”

Dengan kasar haera mendorong bahu jimin, ketika mendengar teriakan nyaring seokjin dari lantai satu. Butuh beberapa detik untuk jimin sadar akan apa yang barusan terjadi, dan ketika ia sadar haera sudah turun ke bawah seraya membawa keranjangnya.

“Apa yang aku lakukan” lirih jimin yang berbicara pada dirinya sendiri. “Manis”

Jimin tersenyum miring dan kemudian berbalik arah masuk kedalam kamar. Entahlah bagaimana hal itu bisa terjadi, yang ia ingat hanya senyum hangat gadis itu lalu tubuhnya dengan sendirinya melakukan hal itu. sepertinya tubuhnya sangat tahu jika gadis itu sangat manis. Bahkan ia melupakan kembali pertanyaannya mengenai eunhi pada haera. sepertinya  kepala jimin perlu di benturkan ke dinding.

 

><

 

Setelah kejadian semalam, sangat kentara jika haera tengah menjaga jarak dengan jimin. Ia berusaha menghindari menatap mata jimin, jangankan menatap jika kebetulan mereka berada dalam satu ruang haera akan mencari berbagai alasan untuk segera pergi.

Seokjin bahkan mengkerutkan dahinya bingung melihat tingkah gelisah haera jika ada jimin di sekitarnya. Jadi ia memutuskan untuk membuat sedikit keusilan.

“Haera, bisa tolong antarkan dasi ini ke kamar jimin. Dia akan memakainya, aku harus mengurus pengiriman paket diluar” tanpa menunggu jawaban dari haera seokjin segera pergi meninggalkan haera yang masih menatapnya bingung.

Haera menatap dasi kantor yang sudah beralih di tangannya. Dengan susah payah ia menelan ludahnya. Seokjin tahu benar jika ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu jimin.

Dengan segala keberaniannya haera segera bergegas pergi ke kamar jimin dan meletakkan dasinya disana lalu keluar dengan cepat.

Sialnya, itu hanya angan-angan. Jimin menggenggam tangan haera ketika gadis itu akan keluar. “Kau yang membawanya, jadi kau juga yang harus memakaikannya!”

Haera yakin jimin tidak akan melepaskannya sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Dengan pelan dan takut haera mendekati jimin dan mulai menyimpulkan dasi yang kini sudah melingkari leher jimin.

Jimin dapat merasakan jantungnya berdetak dengan cepat, ia tahu dan sangat yakin hatinya mulai merasakan sesuatu sejak gadis ini menginjakkan kakinya di mansionnya.

‘Cuppp’

Setelah selesai menyimpulkan dasinya, jimin segera menarik tubuh haera dan mengecup bibir gadis itu. kemudian bergumam tepat di telinga gadis itu. “Dengar Haera, kau milikku. Dan itu mutlak!”

Gadis itu hanya terdiam dengan tubuh yang sudah bergetar, ia menatap mata jimin intens. Haera sendiri juga merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Sejak ia menegtahui mengenai jimin, ada perasaan yang mendebarkan di hatinya.

 

><

 

Jimin yang kini telah berada di kantor mendapatkan kabar dari taehyung mengenai ayah tiri haera. dengan segera ia menyelesaikan semua pekerjaannya di kantor dan segera bergegas menemui taehyung.

“Aku tidak tahu kau datang secepat ini, sepertinya kau begitu tertarik pada paman lee ini” taehyung terkekeh pelan ketika mendapati sorot tajam milik jimin. Sebenarnya jimin merasa geli ketika tahyung memanggil hyukjae paman lee.

Jimin masih menatap tajam pada taehyung, melalui tatapannya jimin meminta agar taehyung segera membereskan kekacuan yang ia buat.

Kekacuan yang dimaksud disini adalah, taehyung yang tengah memberikan pelajaran pada salah satu pelanggannya yang tidak memenuhi tenggat waktu pembayaran hutang. Pria itu diikat di kursi dan kemudian ia di guyur dengan air dingin. Taehyung hanya duduk mengawasi anak buahnya yang memukuli pria itu hingga babak belur.

“Baiklah, baik. Cepat singkirkan lalat ini. Buang saja ke sungai han kalau perlu!” jimin bergidik mendengar nada dingin taehyung yang dengan mudahnya menyingkirkan seseorang yang mengganggunya. “Kembali ke topik utama!”

“Apa yang sudah kau dapatkan?”

Taehyung duduk di sofa di tengah ruang yang diikuti oleh jimin. “Aku akan memberitahumu sesuatu yang bagiku juga sulit dipercaya. Aku mendapatkan informasi jika paman lee hyukjae sekarang ikut bergabung dengan organisasi klan chance. Dan satu lagi, ternyata paman lee hyukjae dan paman lee donghae adalah saudara sepupu. Yang aku dengar paman hyukjae yang tengah mengalami kebangkrutan dan paman donghae tidak mau membantu”

“Apa!” Jimin tidak dapat mengendalikan keterkejutannya. “A-a-apa maksudmu? Katakan jika itu hanya lelucon?!”

Taehyung mengendikkan bahunya acuh, “Jika aku berani, aku ingin sekali menipumu dan mengambil kekayaanmu. Sayangnya aku masih ingin hidup menikmati yang aku miliki”

“Tapi untuk apa ia kesana? Dan kenapa eunhi tidak pernah memberitahuku mengenai keluarganya”

“Mereka sudah lama tidak berkomunikasi, bisa di bilang mereka pernah terlibat pertengkaran hingga membuat saling tidak mau mengakui darah lee di tubuh mereka. Aku masih belum tahu pasti, anak buahku sedang berusaha lagi sekarang. yang baru aku tahu ia mencari perlindungan”

Jimin mengusap rambutnya kasar kenapa semua jadi serumit ini. dan apa yang dipikirkan pak tua itu, bergabung dengan klan chance. klan chance adalah salah satu kelompok mafia yang kuat, mereka terkenal sangat sadis. Namun yang ia tahu beberapa tahun ini mereka sudah lama tidak ada kabar, dan tiba-tiba muncul begitu saja. Bukankah ini sesuatu yang membingungkan.

Suara dering ponsel jimin membuyarkan pemikiran kalut jimin. Melihat nama hoseok tertera di layar dengan segera jimin mengangkat telfon tersebut.

“Apa aku sudah bisa mendapatkan imbalanku?”

“Brengsek kau jim! Kau tahu berapa banyak orang yang harus kuhubungi dan kubungkam untuk mendapatkan informasi ini! demi tuhan ini mengejutkan jim”

Taehyung menatapi jimin curiga, ia menyandarkan tubuhnya ke sofa menunggu  jimin menyelesaikan obrolannya.

“Apa yang salah!” taehyung ikut berjengit dan waspada ketika mendapati jimin memasang wajah serius.

“Akan lebih baik jika kau mengirim seseorang untuk mengambil berkas ini langsung dariku. entah mengapa aku merasa jika kau tengah diawasi sekarang”

“Baiklah hyung, terima kasih atas bantuanmu. Akan kuberi kabar nanti”

Jimin kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Jung hoseok”

Tanpa menunggu taehyung bertanya ia tahu jika sejak tadi pria itu tengah menatapnya curiga. Dan ketika mendengar nama itu taehyung langsung mendelik, bibirnya berubah segaris tipis.

Mereka berdua –taehyung dan hoseok- memiliki kenangan yang tidak bagus, mereka bertemu dengan cara menegangkan. Waktu itu ketika hoseok masih menjadi detective, dan ia tengah menyelidiki bisnis haram taehyung.

“Wow jadi kau juga meminta bantuan darinya? Sebenarnya apa yang otak sexymu pikirkan, astaga!” taehyung meremasi rambutnya frustasi.

“Aku yakin ada yang tidak beres dengan semua ini, dan aku sangat yakin jika semua masalah ini saling berkaitan!” jimin menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu pada pahanya.

“Jika bukan karena dirimu, aku pasti sudah membuat paman lee itu tenggelam di sungai han!”

Jimin menundukkan kepalanya dalam. “Hoseok hyung bilang, berkas itu sangat penting. Tidak mungkin di kirim melalui email apalagi pos. Harus ada seseorang yang aku percaya untuk mengambilnya atau-”

Taehyung memukul lengan sofa kemudian mengumpat dengan bahasa aliennya. Ketika menatap mata jimin setelah mendongakkan kepalanya. Jimin memperlihatkan seringaian yang penuh dengan akal busuk, hingga membuat taehyung mengumpat frustasi.

“… atau?” setelah sedikit tenang taehyung ikut berucap menirukan jimin. “Apa yang ada di kepalamu itu park jimin, sialan!”

Jimin tersenyum menyeringai, dan itu semakin membuat taehyung mengerang dan kembali mengumpati jimin dengan bahasa aliennya.

“Bawa saja sekalian dengan yang menemukan berkasnya, aku benar kan?”

Oh demi tuhan, ingatkan taehyung untuk menendang pantat sexy jimin. Kenapa ia bisa berteman baik dengan park jimin. Apa yang direncanakan tuhan untuk kim taehyung dengan mempertemukannya dengan jimin, hingga mereka menjadi teman seperti sekarang.

 

><

 

Jungkook pergi ke taman kota karena disuruh jimin, disana jungkook menunggu seseorang yang merupakan anak buah taehyung. setelah beberapa saat muncul seseorang memakai pakaian serba hitam, berjalan ke arahnya dengan membawa amplop. setelah menukar berkas dengan amplop uang, jungkook segera kembali ke kantor.

Sedangkan hoseok yang baru saja tiba di kantor jimin masih dengan wajah cemberutnya. “Sudah aku katakan untuk menyuruh seseorang!”

“Sudah ku lakukan hyung” jimin mnejawab dengan enteng.

“Dan seseorang yang kau maksudkan itu aku! Dasar idiot!”

Jimin tertawa terbahak, jangan salahkan jimin. Ia juga berusaha untuk membujuk hoseok dengan segala cara. Bahkan jimin nyaris putus asa.

Begitu jungkook datang, mereka segera pulang ke mansion jimin. Untuk membicarakan lebih lanjut mengenai berkas-baerkas ini.

Sampai di mansion taehyung sudah menunggu di ruang tengah menikmati secangkir teh. Seraya membaca koran. Lihat kelakuannya sudah seperti tuan rumah, batin jimin.

Ada haera yang tengah menata beberapa kue dan teko di meja. Setelah melihat kedatangan jimin haera segera bergegas kembali ke dapur.

“Rasanya tidak asing” hoseok berucap santai berjalan ke arah sofa, namun kemudian kembali melangkah mundur melihat ke arah dapur. “Demi tuhan park jimin, apa aku melihat hantu!”

Jungkook segera menarik hoseok agar segera duduk dan menjawab pertanyaan hoseok. “Bukan, dia kembaran hantu yang kau maksudkan hyung”

Jimin memberikan lirikan mata agar hoseok segera diam ketika haera kembali ke ruang tengah membawakan cupcake pesanan taehyung. sebelum haera berhasil melangkahkan kakinya, taehyung segera merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

“Jika saja kau tidak memiliki cap dari park, oppa pasti sudah menjagamu seumur hidup” jimin segera menarik kerah taehyung agar melepaskan pelukannya.

Haera berlari kecil meninggalkan pria-pria aneh itu. dengan semua pasang mata yang menatap taehyung dengan pandangan berbeda-beda. “Apa? Kita berkumpul disini karena gadis itu juga, ingat!”

Taehyung segera kembali duduk diam setelah mendapat tatapan tajam membunuh jimin. Karena jimin masih belum yakin untuk membawa haera dalam percakapan ini.

Hoseok, pria yang tidak kalah gagah dan tampan dari taehyung itu. memiliki pipi tirus dan berkulit putih, matanya tidak henti menatap intens pada taehyung sekarang. hoseok masih ingat dengan jelas, kenangannya bersama taehyung di kantor kejaksaan.

Ia bersusah payah mengumpulkan bukti dan menangkap salah satu anak buah yang taehyung suruh untuk membawa heroin ke perbatasan seoul, namun semua itu hancur ketika orang yang ia tangkap tidak mengakui jika ia orang suruhan dari kim taehyung.

Dan taehyung dengan tenang duduk santai di sofa tunggal, tengah menikmati cupcake yang di bawa oleh haera tadi.

“Sekarang waktunya kita untuk membuka kedua amplop ini!” ucap jimin agak keras agar hoseok mengalihkan pandangannya dari taehyung.

“Aku yang akan membuka hasil otopsinya” ucap hoseok setelah menarik amplop berisi hasil otopsi.

“Aku yang akan membuka amplop informasi hyukjae” ucap jungkook, dan jimin membantu jungkook.

Sedangkan taehyung masih asik memakan cupcake dan juga beberapa jenis kue lainnya yang berada di meja. Bahkan ia tidak mau ikut pusing mengenai berkas-berkas itu.

Jimin membulatkan matanya, bahkan jungkook beberapa kali membolak-balikkan kertas yang tengah ia pegang karena masih tidak percaya.

“Memang benar jika hyukjae saudara sepupu donghae. Dan beberapa hari sebelum kematian keluarga donghae ia sempat berkunjung ke rumah mereka” ucap taehyung sedangkan pandangannya menatap tangannya yang memotong cupcake, dengan santai ia mengatakan hal itu tanpa melihat ekspresi tiga pria di sekitarnya yang menatapnya tajam.

“Dan sekarang ia benar-benar ikut dalam organisasi klan chance” tambah jungkook dengan masih membolak-balikkan kertasnya. Jungkook menyodorkan kertas yang ia pegang pada jimin. “Lihat hyung di hari bunuh diri eunhi nona, hyukjae terlihat di persimpangan jalan dekat rumah keluarga lee”

Dalam keadaan mengurus kasus seperti ini. jungkook akan beralih menjadi adik pendukung nomor satu untuk jimin. Lain jika ia tengah berada di luar atau di kantor ia akan menunjukkan kewibawaannya di hadapan orang lain.

Hoseok masih menatap dengan teliti setiap kalimat yang ada dalam berkas di tangannya. “Disini di tulis penyelidikan dihentikan atas permintaan keluarga”

Semua pasang mata kini menatap intens pada hoseok, menanti kalimat selanjutnya. Raut wajah hoseok semakin menegang ketika membaca lebih detail. “Memang benar jika yang memegang pistol adalah eunhi, namun ditemukan sidik jari lain dipistol tersebut. Dan satu lagi ada saksi mata mengatakan jika ia melihat seseorang menyuruh eunhi untuk melakukan semua itu. dan saksi bilang jika orang itu terlihat seperti-. Jim ini-“

Jimin dengan kasar merampas berkas yang tengah di pegang oleh hoseok. jimin berulang kali membolak-balikkan kertas-kertas itu. berkas ini sungguh mengejutkan.

Dan semakin mengejutkan pria-pria tampan yang tengah bersitegang itu ketika mendengar suara gelas pecah membuat semua pasang mata disana menatap ke arah asal suara.

Haera menjatuhkan gelas tehnya, ia menatap semua pria yang ada disana dengan pandangan sulit diartikan. Dengan segera haera berlari kecil ke arah kamarnya.

‘Plaakkk’

Taehyung memukul kepala jimin agar segera tersadar, tanpa berucap apapun jimin segera berlari mengejar haera. semua yang berada diruang tengah itu menggelengkan kepalanya, bagaimana mungkin seorang park jimin begitu lamban.

“Demi tuhan, park jimin. Pantas saja selama satu tahun ia menolak semua gadis yang aku tawarkan. Ternyata dia masih memiliki simpanan yang sama persis dengan yang asli” taehyung menggelengkan kepalanya.

Hoseok kembali berkutat dengan beberapa berkas yang tadi di tangani jungkook dan jimin. “Aku tidak ingin membayangkan berbagai gadis macam apa yang pernah kau kenalkan pada jimin”

Jungkook ikut bersantai seperti taehyung, memakan beberapa cake yang tersedia di meja. Dengan mulut yang mengunyah cake jungkook menimpali ucapan hoseok. “Haera nona itu terlalu polos untuk seorang park jimin”

“Wow. Dimana kau meninggalkan topeng berwibawamu itu, dude?” taehyung tertawa melihat sifat asli jungkook.

“Aku sudah tahu seperti apa sifat bocah ingusan ini, setelah datang dari kantorku” hoseok menimpali ucapan taehyung, namun tatapannya masih tetap fokus pada berkas di tangannya. “Dia tipe diam-diam menghanyutkan, sangat pemilih dan berhati-hati. dan dia berhasil mendekati sekretarisku!”

Taehyung menganga lebar, dia menatap takjub pada jungkook. “Jadi seperti itu ternyata. Itulah kenapa aku selalu menyediakan berbagai macam wanita dengan latar berbeda. Kau ingin mencoba wanita-wanitaku mr.jeon?”

“Tidak, mereka semua bekas. Aku memiliki standard” taehyung dan jungkook tergelak bersama. Dan itu membuat hoseok mengumpat dalam hati.

“Jadi kau sudah mengakui bahwa benar, kau memang membuka prostitusi di klubmu?!” hoseok melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar pada sofa menatap intens taehyung.

Jungkook menatap jengah pada dua pria yang berada disamping kanan dan kirinya ini. ia tahu ke arah mana pembicaraan ini sekarang.

“Dengar ya, Mr.jung!” taehyung menunjuk hoseok dengan garpu yang tertempeli cake yang belum sempat ia masukkan kedalam mulutnya. “Kau bukan detective lagi sekarang, kau disini untuk membantu jimin dan ambisinya mengenai teori kematian tunangannya”

Taehyung kembali duduk tenang dan memasukkan potongan cake di garpunya kedalam mulut. “Meskipun begitu kau tetap jung hoseok yang berusaha memasukkanku kedalam penjara. Aku yakin, jika bukan karena jimin. Kau pasti sudah menelfon markas kepolisian utama seoul sekarang lalu mendatangi klubku seperti dulu!”

Hoseok memejamkan matanya, namun seringai di wajah putih mulusnya sangat terlihat. Bahkan jungkook bergidik ngeri. “Aku tidak akan mengulang kebodohanku untuk kedua kalinya. Mr.kim!”

Taehyung mendengus kesal. beberapa saat hening menyelimuti mereka. Jika dipikir ulang, yang dikatakan taehyung benar jika mereka semua berkumpul disini karena jimin. Siapa yang tahu, bisa saja taehyung dan hoseok berbaikan dan menjadi teman minum teh, mungkin. Jika itu terjadi betapa berharganya jasa jimin yang berhasil menyatukan sisi hitam dan putih di korea.

 

-TBC-

 

Author meminta maaf sebelumnya, ada ff yang sama dengan saya tapi hanya namanya dan satu nama tokoh tapi beda marga. Disini menjadi tokoh utama dan disana menjadi cameo. Sekali lagi saya meminta maaf. Ini benar-benar diluar kendali, dan saya bersyukur ternyata tidak ada kesamaan sama sekali dalam cerita. Dan sekali lagi saya berterima kasih atas coment readers yang menyenangkan.

Haduuuhhh gimana ya perasaan haera sekarang, cogan-cogan mulai berkumpul yes, hahahaha… udah pada tahukan seperti apa sifat jungkook yang sebenarnya, abangku yang satu itu diam-diam menghanyutkan.

 

Advertisements

7 thoughts on “[BTS FF Freelance] Blood, Sweat and Tears – (Chapter 2)

  1. hyejung

    Finally diupdate ya eon!! Seruu bangettt dan banyakin haera jimin moment dan adegan romance ala 17+ #eh hehehe
    Ditunggu chapt 3 eon ppalli juseyooo^^

    Like

  2. cgjin

    Akhirnya diapdet juga thor huaaa!!

    Kalo aku jadi Haera bisa mimisan mendadak tuh melihat pria2 tampan berkumpul eakkk #plak

    Hwaiting, thorr!! Ditunggu ssangat kelanjutannyaaa

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s