[Chapter 3] The Dark Wings: On the Earth

img_9485

The Dark Wings

[Chapter 3]

On the Earth

by ayshry

Kim Taehyung or Louis Kynse Archelaus | Baek Juho as Lachlan Gent Leviathan | Ko Shinwon as Earl Rehuel Beelzebub | Kim Hyojong as Owen Jarl Asmodeus | Kim Seokjin as Carl Hansel Beelzebub

 genres AU!, Fantasy, Adventure | length 4.0k words | rating PG-15

Prev:

Prolog & IntroductionChapter 1: The Knights, Chapter 2: New Dimension

***

Langkah tiga pasang kaki yang berjejak di atas lantai porselen mengkilap terasa canggung. Setiap mata terlihat mengawasi sekitar dengan pandang penuh selidik pun raut takut yang kian mendominasi wajah. Lachlan, Earl dan Owen terpana. Ini kali pertama mereka menjejaki ruangan serba putih yang dipenuhi manusia-manusia dengan kesibukan masing-masing. Lorong yang lengang berubah kacau ketika segerombolan orang mendorong brankar dengan terburu-buru, membuat ketika pemuda itu menepi was-was.

“Kalian harus segera terbiasa dengan suasana di sini.” Tuan Kim yang memimpin jalan berujar tanpa mengalihkan pandangan. Ia tahu keadaan sedikit tak terkendali lantaran kedatangan mereka di waktu yang kurang tepat. Tetapi tak apa. Lebih cepat memang lebih baik. Untuk sekarang ia hanya perlu menjelaskan beberapa hal dasar sebelum mengajari bagaimana layaknya manusia bertingkah.

“Dan jangan lakukan apa pun! Ini perintah, mengerti?”

Ketiganya otomatis mengangguk patuh. Meski rasa penasaran kian membuncah, namun mereka tak memiliki pilihan selain menurut agar tak menjadi si pembuat masalah. Khususnya Owen yang setengah mati menahan diri agar tak menyentuh berbagai hal aneh yang baru pertama kali ia lihat.

“Ikuti aku. Kata Seokjin, Taehyung masih berada di ruang Gawat Darurat. Tepat di ujung lorong sana.”

Masih menjadi pengikut yang patuh, ketiganya benar-benar mengabaikan hal asing yang tertangkap mata pun pandangan takjub yang terarah ke mereka. Well, jika dilihat-lihat, penampilan ketiga pemuda itu sangat mencuri perhatian. Mulai dari warna rambut yang tidak seperti kebanyakan manusia di sana, warna iris yang mencolok, pun wajah mereka yang luar biasa tampannya. Jelas saja menjadi tontonan dalam waktu singkat. Bahkan bisik-bisik pun terdengar jelas, tentang mereka yang begitu menawan, tentang mereka yang sangat rupawan.

“Omong-omong, apa yang salah dengan kita?” Melihat kerumunan orang yang hanya memaku pandang pada mereka, Earl tak mampu menahan diri untuk tak mengajukan pertanyaan.

“Rasanya tidak ada yang salah,” sahut Owen.

“Hei, apa ramuanmu itu tidak bekerja, huh? Maksudku, apa mereka menatap kita seperti itu lantaran bisa melihat sayap kita?” Earl memandangi Owen sinis. Kalau-kalau tebakannya benar, maka ia akan memusnahkan Owen dengan api hitamnya saat ini juga.

“Tidak mungkin! Ramuanku tidak pernah gagal. Pasti ada alasan lain yang membuat mereka memandangi kita seperti itu.”

“O, berarti benar.”

“Apa?”

“Mereka terpesona dengan ketampananku.”

“Ck, dasar tukang tebar pesona! Manusia itu ternyata lebih bodoh dari kaum-kaum kita jika mereka menganggapmu tampan!”

“Aku memang tampan, Asmodeus. Jangan iri. Wajahmu yang sekarang sudah sangat cocok dengan penampilanmu. Jadi, syukuri saja.”

Sementara kedua pemuda itu tengah berdebat, Lach yang membisu tiba-tiba berdehem; membuat Owen maupun Earl bungkam saat itu juga. Well, Lachlan memang sengaja mengacaukan suasana, toh ia tak pernah bisa bergabung dengan keduanya dan membuat jalan cerita sendiri dengan sifat dingin yang luar biasa melekat dalam dirinya.

“Tidak bisakah kalian berdua sedikit lebih tenang?”

Suara berat yang mengalun pelan membuat keduanya benar-benar merasa tegang. Nada bicara Lachlan yang seperti ini jauh lebih seram dari yang mana pun. Jadi, lebih baik diam daripada mendapat tatapan membunuh dari si pemimpin yang tersenyum pun sangat jarang.

“Kita akan menemui Pangeran Louis, jadi kuharap perhatikan sikap kalian. Jangan membuat keadaan semakin kacau dan—“

“Namanya Kim Taehyung, Lachlan.” Tuan Kim memotong cepat. “Bukannya sudah kubilang untuk tak menyebut perihal pangeran di hadapannya? Dia masih belum mengetahui apa-apa dan kurasa waktu juga belum tepat untuk membahas jati dirinya.”

“Maaf. Aku hanya ingin menghentikan perdebatan konyol mereka. Berisik sekali.”

Sementara Lachlan menghadiahkan tatap sinis pada Earl dan Owen, Tuan Kim kembali melanjutkan langkahnya lalu memasuki sebuah pintu; membuat ketiganya lekas mengesampingkan debat kecil yang sempat terjadi dan ikut masuk ke dalam sana.

Suasana berubah. Pintu tersebut membawa mereka ke tempat yang lebih luas dan ribut dari lorong yang mereka lalui sebelumnya. Tuan Kim tampak mempercepat langkah, lalu mulai berlari ketika mendapati sosok yang berdiri di samping ranjang.

“Kim Taehyung .…” Panggilan lirih itu membuat seorang lelaki dan perempuan yang berada di sana menoleh cepat.

“O, kau sudah datang, Ayah.” Seokjin adalah orang pertama yang menyapa, disusul Reyn yang awalnya duduk dan langsung berdiri memberi salam. “Taehyung sudah baik-baik saja. Dia sedang tertidur sekarang.” Seakan mengetahui raut cemas yang terpancar dari wajah sang ayah, Seokjin lekas menghampiri sembari mencoba menjelaskan keadaan. Sejatinya, sang ayah tahu benar apa yang terjadi, tetapi tak ada salahnya mencoba memperbaiki suasana sebelum keadaan buruk yang sudah mereka prediksikan terjadi lagi.

“Syukurlah.” Desah lega itu membuat Seokjin mengulas senyum.

“Tidak perlu cemas, Taehyung akan bangun esok hari.”

Tuan Kim mengangguk lalu mengalihkan tatap pada Reyn yang kini berdiri di samping Seokjin.

“Kau masih di sini? Hari sudah larut, kenapa tidak mengantarkan Reyn pulang, Kim Seokjin?”

“Itu … aku yang ingin lebih lama di sini, Paman. Karena, kurasa aku yang menyebabkan Taehyung menjadi seperti ini. Jadi … setidaknya aku ingin menemaninya sampai ia sadar.”

“O, tidak-tidak. Bukan kau yang menyebabkan Taehyung menjadi seperti ini. Jangan membebani dirimu dengan hal-hal yang tak masuk akal, Nak. Aku tahu kau begitu menyayangi Taehyung, jadi gadis manis sepertimu tak pantas menanggung rasa bersalah yang ia sendiri tak pernah melakukan kesalahan apa pun itu. Taehyung memang memiliki sedikit masalah kesehatan akhir-akhir ini, dan hal ini terjadi bukan karenamu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, mengerti?”

Ada kalanya Reyn merasa iri dengan keluarga kecil Kim Taehyung. Meski pemuda itu hanya memiliki seorang ayah dan seorang kakak laki-laki tanpa kehadiran sosok perempuan dengan sebutan ibu, tetapi ia seperti tak pernah kehabisan kasih sayang. Berbeda dengan Reyn yang telah kehilangan orang tuanya sejak ia berusia sembilan tahun. Jangankan kasih sayang dari orang tua, mengingat wajah mereka pun si gadis tak mampu. Tetapi, ia tetap ingin mensyukuri hidup. Lagi pula, paman Kim juga selalu memperlakukannya seperti anak perempuannya sendiri, juga kak Seokjin yang tak henti-hentinya memberikan kasih sayang layaknya seorang kakak ke adik kandungnya. Jangan lupakan juga tentang dua kakak laki-lakinya yang sejak dulu sudah menjadi sandaran pun pelindungnya. Mendapatkan kasih sayang yang tak sempat ia terima dari kedua orang tuanya melalui saudara sedarah sudah sangat ia syukuri. Terlebih, sejak ia mengenal Taehyung, kasih sayang keluarga kecil itu pun terlimpah kepadanya.

“Aku akan mengantarkan Reyn pulang.”

“Kak Seokjin ….”

Seokjin mengulas senyum. Lalu satu tepukan mendarat di pundak Reyn yang terlihat rapuh. “Waktumu sudah habis, Rey. Saatnya pulang dan beristirahat. Ayah sudah di sini, jadi aku bisa mengantarmu pulang sementara ayah menemani Taehyung.”

“Tak bisakah aku di sini lebih lama lagi?”

Memberikan gelengan sebagai jawaban dari permintaan Reyn barusan, Seokjin lalu berujar, “Besok, pagi-pagi sekali aku akan menjemputmu. Aku janji.”

Desah pasrah tak mampu lagi Reyn tahan. Jika seorang Seokjin sudah menyinggung perihal janji, maka ia takkan bisa memberikan penawaran lainnya. Mengalah adalah jawaban yang tepat, dan Reyn mau tak mau harus menjadi gadis penurut malam ini. Setidaknya ia sudah tahu bahwa Taehyung baik-baik saja dan esok hari ia bisa kembali mengunjungi sang pemuda.

Ketika Seokjin meraih pergelangan Reyn dan hendak membawa sang gadis pergi dari sana, tanpa sengaja ia memaku tatap pada tiga pemuda yang sedari tadi tak ia sadari eksistensinya. Seakan ketiganya tak pernah berada di antara mereka, seperti makhluk tak kasatmata yang pada akhirnya bisa membuka suara dan menebar sapa.

“Carl—ah maksudku … hei, siapa tadi nama kakakku?” Mengulas senyum canggung, Earl yang niat awalnya ingin menyapa sang kakak kini malah berbisik pada Owen yang berada di sebelahnya.

“Entahlah. Aku lupa. Namanya terlalu sulit, seingatku.”

“Seokjin. Namanya Kim Seokjin.” Suara lirih lainnya yang terlibat, membuat Owen dan Earl sedikit terlonjak. Sejak kapan si dingin Lach bergabung dalam bisik-bisik tak penting tersebut? “Kenapa kalian payah sekali dalam hal ingat-mengingat, huh?”

Seokjin bergeming. Kini ia menatap sang ayah dengan wajah kebingungan, mencoba meminta penjelasan atas apa yang tengah ia lihat kini.

Melihat Seokjin memasang raut penuh pertanyaan, Tuan Kim berdehem. Jujur saja, ia belum pernah menceritakan perihal tersebut kepada Seokjin, dan rasanya waktu terlalu menghimpit untuk dia bisa menjabarkan segala sesuatunya dari awal. Jadi, sebelum keadaan menjadi semakin kacau, ia pun berinisiatif untuk memperkenalkan ketiga pemuda di sana secara formal (mengingat keberadaan Reyn, jadi Tuan Kim tak bisa menjelaskan keadaan yang sesungguhnya pada Seokjin).

“Oh, aku melupakan sesuatu. Karena terlalu khawatir pada keadaan Taehyung, aku jadi tak sempat memberitahukan kepadamu bahwa anak-anak dari kerabat jauhku berkunjung. Kau mengenalnya, ‘kan, Seokjin-a? Pemuda berambut pirang itu Earl, teman bermainmu sewaktu kecil. Dua orang lainnya adalah Owen dan Lachlan. Mereka sepupumu.” Mencoba memperjelas setiap kata yang menguar dari bibirnya, Tuan Kim seakan ingin membuat Reyn tak melontarkan pertanyaan lain perihal tiga pemuda asing dengan penampilan mencolok tersebut.

“O-oh, Earl! Kau … sudah tumbuh besar, huh?” Melontarkan kalimat dengan nada canggung, Seokjin memaksa diri untuk memangkas jarak lalu memeluk pemuda berambut pirang itu erat-erat. “Hei kau, Bajingan Kecil, kenapa tak mengabariku jika akan ke sini, huh?” Berbisik lirih, Seokjin tak menyangka ia bisa bertemu dengan adiknya setelah sekian lama meninggalkan Dionaea.

“Aku merindukanmu, Carl ….”

“Kau hanya boleh memanggil nama asliku jika tidak ada manusia lain di sekitar, mengerti?”

Tawa Seokjin menguar lantas ia melepaskan pelukan. Sejatinya, rasa rindu masih tertumpuk, namun ia tak bisa mengabaikan keadaan Reyn dan harus merelakan momen pertemuan itu berakhir dengan sangat cepat.

“Earl, sepertinya aku harus pergi dulu, aku harus mengantarkan Reyn pulang. O, apa aku sudah mengatakan padamu jika gadis ini kekasihnya Taehyung, hm? Baik-baiklah padanya, mengerti?”

“Tentu saja.”

“Dan Rey, mereka ini sepupuku—sepupu Taehyung juga pastinya. Kau sudah mendengar nama mereka dari ayah, bukan? Terdengar aneh, ya? Haha, mereka semua keturunan orang kulit putih, jadi jangan heran jika penampilan dan nama mereka sedikit berbeda.”

“Hai, senang bertemu dengan kalian.” Reyn menyapa, mengulas senyum dengan wajah letih bukan sesuatu yang mudah. Tetapi ia tak ingin memperlihatkan kesan pertama yang buruk, jadi sebisanya ia ingin bersikap ramah dan berharap bisa menjalin pertemanan dengan tiga pemuda tersebut. “Aku tinggal tepat di sebelah rumah Taehyung, omong-omong. Kuharap kita bisa berteman baik selama kalian berada di sini dan … tolong jaga Taehyung, aku harus pulang. Kak Seokjin tak memperbolehkanku menginap, jadi—“

“Tenang saja, Taehyung aman bersama kami.” Owen yang sejak tadi terdiam, mulai membuka suara. Meski ada rasa canggung yang mendera, ia tetap bertindak sesuai dengan naluri. Berpolah layaknya obat penenang tidak terlalu sulit baginya. Lantaran ia yang sesungguhnya memang kerap menebar senyum pun membawa rasa tenang.

“Ayo kita pulang, Park Reyn.”

“O-oh, baiklah, Kak.”

Meski ada rasa tidak enak karena harus meninggalkan Taehyung di rumah sakit, nyatanya Reyn tak mampu melakukan apa pun jikalau ia bersikeras untuk tetap tinggal. Tak apa. Setidaknya Taehyung tak sendirian di sana. Ia bahkan kedatangan sepupu dari belahan Bumi yang berbeda. Well, keraguan memang sulit untuk dimusnahkan, tetapi Reyn tahu Taehyung akan bangun dan dia bisa kembali memaki pemuda itu ketika esok hari datang.

Cepat bangun, Kim Taehyung …. Kumohon.

***

Seokjin baru saja menjejakkan kaki di perkarangan rumah sakit ketika ponselnya berbunyi. Sang ayah menelepon, mengabari bahwa Taehyung telah dipindahkan ke ruang rawat. Desah napas lega menguar lantas Seokjin mempercepat langkah. Ada banyak hal yang perlu ia tanyakan kepada sang ayah perihal kedatangan tiga prajurit petarung itu ke Bumi. Ini hal yang sangat langka. Tak ada Lucifer lainnya yang pernah mengunjungi mereka. Setahu Seokjin, datang ke Bumi adalah hal yang mustahi karena kaumnya bisa saja menyebabkan kekacauan di mana-mana. Terlebih, para manusia akan terheran-heran dengan wujud sempurna sang Lucifer.

Sekadar informasi, Lucifer yang turun ke Bumi akan mengalami perubahan dalam bentuk fisik yang luar biasa. Mereka akan tampak sangat menawan. Mengalihkan padangan dunia kepada mereka pun adalah hal yang sangat mudah. Oleh karena itu, kunjungan ke Bumi sangat dilarang. Jika benar-benar harus melakukannya, mereka akan dihadapkan dengan penjaga pintu dimensi yang akan memberikan dua pilihan sulit. Pertama; merubah wujud menjadi manusia sejati dan tak pernah bisa kembali ke wujud Lucifer. Kedua; kehilangan seluruh kekuatan dan hanya memiliki waktu kurang dari empat puluh lima hari untuk tetap hidup, dan ketika hari ke empat puluh lima berlalu maka mereka akan berubah menjadi debu dengan sendirinya. Tak ada pilihan yang menguntungkan memang, dan tak satu pun Lucifer yang pernah merelakan segala sesuatu milik mereka demi pergi ke Bumi. Terlalu gagabah dan tidak ada manfaatnya sama sekali.

Jika dipikir lagi, tak ada alasan untuk ketiga pemuda itu ke Bumi kecuali dalam rangka membawa pulang Pangeran Louis yang tinggal menghitung hari sampai tranformasinya sempurna. Tetapi bukannya dahulu raja pernah menitahkan untuk membawa pulang sang pangeran jika beliau telah tiada?

Seokjin mulai merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi di Dionaea. Hingga pemuda itu tiba di ruangan tempat Taehyung di rawat, napasnya yang tersengal-sengal lantaran berlari menaiki anak tangga menuju lantai lima membuatnya terlihat sangat menyedihkan.

“Aku butuh penjelasan.” Disela pengambilan napas yang dilakukan susah-payah, Seokjin berujar. Tungkainya ia seret memasuki ruangan lantas pandangan ia arahkan kepada sang ayah yang tengah memegangi tangan Taehyung erat-erat.

“Carl!”

Pandangan Seokjin kini teralihkan pada pemuda dengan manik violet yang berada di sudut ruangan.

“Aku tak tahu kita bisa bertemu lagi dan—“

“Earl, kurasa kau memiliki sesuatu yang harus kau katakan, bukan?”

“Dionaea telah diserang. Raja berpulang dan sebagian besar kaum kita telah dimusnahkan.” Lachlan membuka suara. Berdiri dari duduknya, ia lantas menyeret tungkai mendekati Seokjin yang masih berada di ambang pintu. “Sebaiknya kau masuk dulu, Carl. Tidak baik jika ada manusia yang mendengar cerita ini. Kau—“

“Lalu … apa yang kalian lakukan di sini? Bukannya seorang prajurit petarung harus merelakan nyawa demi keselamatan raja? Kenapa kalian bisa berada di sini?!”

“Raja memberikan kami misi khusus.”

“Misi? Apa ini semua ada hubungannya dengan pangeran?”

“Tentu saja. Kami harus memastikan bahwa pangeran baik-baik saja dan membantunya merebut tahta kembali.”

“Kau bilang Dionaea di serang. Siapa? Siapa keparat yang telah menghancurkan kerajaan, huh?”

“Barnett Sagiv dan Titus Teodoric.” Kali ini Owen yang menjawab. “Orang kepercayaan raja yang telah berkhianat. Kami tak bisa melakukan apa-apa selain bersembunyi demi menyelamatkan diri sendiri. Sebut saja kami pengecut, tapi perintah raja adalah segalanya.”

“Lalu … bagaimana caranya kalian bisa sampai di sini?”

“Aku menghubungi ayah. Lewat telepati.” Earl kembali bersuara. “Tapi sepertinya kami datang di saat yang sedikit tidak tepat.”

“Melewati portal pembatas dimensi? Kalian … memilih untuk mengubah wujud menjadi manusia sejati?”

“Tentu saja tidak. Aku membuat ramuan untuk menghilangkan sayap dari pandangan manusia dan Lachlan membawa kami ke sini dengan berteleportasi.”

“Berarti kau dari keluarga Leviathan?” Seokjin mengalihkan tatap pada Lachlan yang langsung dibalas anggukan oleh pemuda itu.

“Dan aku seorang Asmodeus,” sahut Owen.

“Kau … Lucifer yang lebih terlihat seperti Penyihir, huh? Sang peramu jenius?”

“Aku merasa tersanjung dengan julukanmu itu, Carl.”

“Panggil aku Seokjin. Lebih terdengar normal.”

“Baiklah.” Owen tersenyum. Membiasakan diri dengan nama asing itu tidaklah sulit, tetapi kebiasaan bukanlah hal mudah untuk diubah. Semoga saja ia tak memanggil pemuda berambut baby pink itu dengan nama Lucifer-nya ketika berada di sekumpulan manusia nantinya.

“Kenapa kau tak menceritakan hal ini kepadaku, Yah?” Seokjin kini membiarkan tungkainya mendekati sang ayah yang sedari tadi bungkam. Bukannya apa-apa, ia hanya merasa sedikit dikhianati lantaran mengetahui berita mengejutkan tersebut sangat terlambat. Bisanya, sang ayah tak pernah menyembunyikan apa pun padanya, bahkan berita tentang kematian ratu beberapa tahun silam, sang ayah tetap memberitahunya. Tidak seperti kali ini. Ia merasa dibohongi dan jujur saja, ia tak suka. Meski sekarang ia bukanlah kaum Lucifer yang sempurna, separuh tubuhnya masih bersama wujud lamanya. Ia masih memiliki kekuatan yang tak bisa dimiliki seorang manusia. Singkatnya, di dalam tubuhnya masih mengalir darah Lucifer yang tak mungkin bisa dimusnahkan.

“Maafkan aku. Kurasa … aku terlalu fokus pada keadaan Taehyung akhir-akhir ini dan sedikit mengabaikanmu. Lagi pula, Earl baru bisa menghubungiku beberapa hari yang lalu dan aku cepat-cepat menyuruhnya ke sini. Tetapi perubahan yang terjadi pada Taehyung lebih cepat dari yang kuperkirakan. Ketika kau menghubungiku dan mengabari bahwa Taehyung berada di rumah sakit, aku sedang menunggu mereka tiba di sini.”

“Bertelepati dengan menembus beberapa dimensi bukan hal yang mudah ternyata. Aku bahkan hampir kehilangan nyawa saat mencoba menunggu balasan dari ayah,” ujar Earl. “Aku tahu kau sedikit merasa kesal, tetapi bukannya yang penting itu adalah keadaan sekarang? Setidaknya kami sudah tiba dan pangeran akan baik-baik saja.”

“Kau benar. Untuk saat ini keadaan Taehyung akan baik-baik saja. Tetapi aku tak bisa menjamin bagaimana ia nantinya. Transformasi itu akan memiliki dampak yang buruk bagi tubuh manusianya. Jika aku bisa berada di dekatnya terus-menerus, mungkin aku bisa meminimalisir rasa sakit yang mendera.”

“Kenapa kau tidak bisa? Maksudku … bukannya di sini kau berperan sebagai kakaknya? Kurasa berdekatan sebagai seorang adik-kakak itu bukan hal yang aneh. Benar, bukan?” Owen mengutarakan pendapat, lantas Seokjin tersenyum ke arahnya.

“Ada banyak hal yang belum kau ketahui tentang Bumi, Owen. Manusia di sini memiliki kehidupannya sendiri. Aku tak mungkin bisa bersama Taehyung setiap saat, dia harus menjalani hidupnya. Dia memiliki kegiatan di luar rumah. Menimba ilmu, bertemu teman-temannya, menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, juga menimati hidup layaknya manusia. Dan akan terlihat aneh jika aku memaksa berada di dekatnya terus-menerus.”

“Mereka masih memerlukan bantuan untuk bisa beradaptasi di sini, Seokjin-a. Kuharap kau bisa membantu mereka.”

“Tentu saja, Yah. Dan … Earl, maaf karena tak menyambutmu dengan layak.” Seokjin tersenyum. Memberikan sugesti pada diri sendiri untuk sedikit melupakan kekesalan pun masalah yang sedang terjadi di tempat asalnya, ia baru sadar jika rasa rindu yang menumpuk tak dapat dibendung lagi.

“Keadaan tak berpihak padaku, sepertinya.” Earl tertawa, disusul Seokjin yang kini mengacak surainya hingga berantakan.

“Bagaimana hidupmu sebagai prajurit petarung, huh? Kau menyukainya?”

“Begitulah. Yeah, memang tak semenyenangkan yang kukira, tapi lumayan. Aku juga cukup terkenal dengan paras menawan ini.”

“Ck, dasar tukang tebar pesona!” Decakan Owen membuat Seokjin menambah volume tawanya. “Karena Earl memanggilmu kakak, aku dan Lach harus memanggilmu seperti itu juga, bukan?”

“Aku?” Lachlan tampak terkejut. Memanggil seseorang dengan sebutan kakak belum pernah ia lakukan sebelumnya. Lagi pula mereka tak dalam hubungan yang mengharuskan adanya panggilan tersebut.

“Bukannya kita—kau, aku dan Earl—adalah sepupu? Jadi, tak ada salahnya mencoba memanggil Seokjin dengan sebutan kakak, bukan? Hei, hal itu takkan merugikanmu, Lach.”

“Tapi, aku—“

“Sepertinya harga diri seorang pemimpin akan terluka hanya dengan memanggil seseorang seakrab itu.” Earl berceletuk, membuat Lachlan menaruh tatap padanya.

“O, jadi kau pemimpinnya, Lach?”

“Iya … hm, Kak?”

Haha, santai saja. Aku tak terlalu mementingkan panggilan, asal kau tidak menyinggung nama Lucifer-ku di hadapan Taehyung dan manusia lainnya.”

“Aku akan mencobanya. Memanggilmu dengan sebutan kakak. Tapi—“

“O, seorang Leviathan ternyata mengetahui bagaimana caranya mengalah, huh?” Owen mencibir. Mengabaikan tatap tajam yang Lach layangkan kini, pemuda Asmodeus itu tentu saja sadar jika sang pemimpin takkan bisa menggunakan kekuatannya secara sembarang. Jadi intinya ia selamat. Sebanyak apa pun ia mencibir atau mengutarakan ketidaksukaan pada Lachlan, ia takkan mendapat luka barang sedikit pun. “Kenapa tak mengesampingkan sifat eogis sejak awal, sih? Dasar menyebalkan.”

“Kau bilang apa, Asmodeus?”

Kikik penuh kemenangan mengudara. Owen bukannya menjawab pertanyaan sang pemimpin dengan kata-kata, melainkan dengan tawa yang terdengar menyebalkan. Sekon berikutnya, ketika Lachlan hendak melontarkan kata-kata, Earl terlebih dahulu memotong.

“O, berarti sekarang kita bebas mengutarakan pendapat, huh? Kau tak bisa menggunakan kekuatanmu di sini, Lach. Lagi pula kau tak mau mencelakai Pangeran Louis, bukan? Jadi, cobalah kendalikan dirimu dan bertingkah sebaik-baiknya. Ingat, sekarang kau manusia, bukan Lucifer. Dan tak ada seorang manusia yang selalu memasang raut mengerikan sepertimu, tahu!”

***

“Kak Seokjin ….”

Lirihan tersebut membuat Seokjin membuka mata terpaksa. Masih dalam keadaaan mengantuk luar biasa, pemuda tersebut menyadari tangan yang tergenggam bergerak-gerak. Sekon berikutnya, otaknya berhasil mengantarkan kesadaran yang membuatnya terjaga dan bangun cepat-cepat.

“Taehyung-a, kau sudah bangun?”

Senyum tipis menghiasi wajah pucat si pemuda. “Apa yang terjadi padaku?”

“Kau pingsan semalam, akibat kelelahan. Jadi sekarang, kau berada di rumah sakit.”

“Apa aku seburuk itu?”

“Ck, dasar lemah! Mana ada laki-laki yang langsung tak sadarkan diri cuma gara-gara kelelahan. Kau hampir membuat jantungku meledak, asal kautahu!”

“Kalau benar-benar meledak pasti lucu sekali, ya, Kak?” Kekehan lembut lolos dari bibir Taehyung, membuat Seokjin berdecak lantas menoyor kening sang pemuda pelan.

“Kau masih bisa melucu, huh? Sialan!”

Mencoba mengubah posisinya menjadi duduk, Taehyung mendapat bantuan dari Seokjin untuk mempermudah gerakanya. Pandangan yang sempat samar kini telah membaik sepenuhnya. Lalu pemandangan kamar yang penuh sesak membuatnya mengerutkan kening lantas menatap sang kakak dengan tujuan untuk mendapat jawaban atas pertanyaan yang menggunung di pikiran.

“Oh, mereka? Anak-anak dari kerabat jauh ayah. Mereka baru tiba semalam. Kata ayah, keluarga mereka sedang ada sedikit masalah, jadi mereka mengirim anak-anaknya ke sini. Hitung-hitung sebagai liburan dan kau juga bisa mendapat teman baru.”

“Aku bukan anak kecil, tahu! Kata-katamu itu terdengar seperti aku tak memiliki banyak teman saja. Menyebalkan.”

Haha, aku tak bermaksud seperti itu. Tapi kurasa … mereka akan sedikit bertingkah aneh.”

“Wah, sepertinya aku akan sangat cocok bergaul dengan mereka.”

Yeah. Kalian memiliki sifat yang tak jauh berbeda. Pengacau dan ceroboh yang payah. Apalagi Earl si pirang dan Owen yang berambut cokelat madu itu memang suka membual. Tapi Lachlan, kurasa kau akan sedikit kesusahan untuk membiasakan diri dengannya. Dia itu sangat dingin dan irit bicara.”

“Omong-omong, mereka memiliki warna rambut yang berbeda. Sepertimu. Apa mereka juga memiliki iris yang tak biasa, Kak?”

“Ah? O-oh, kalau itu—“

“Cih, kenapa tak adil sekali, sih! Hanya aku yang memiliki warna rambut dan iris seperti kebanyakan orang lainnya. Kenapa kalian berbeda sekali, huh? Jangan-jangan aku ini … anak angkat.”

“Bodoh! Jangan mengatakan hal konyol seperti itu.” Satu jitakan mendarat di puncak kepala Taehyung, membuat pemuda itu meringis kuat; mengakibatkan tiga pemuda yang masih pulas tadinya mulai bergerak dan terjaga.

“Apa yang kau lakukan pada seorang pasien lemah sepertiku, huh?” Memasang raut memelas, Taehyung kini mengusap-usap puncak kepalanya yang terasa sakit. “Akan kuadukan kau pada dokterku!”

“Ck, dasar bocah!” Seokjin tertawa. “Dalam keadaan seperti ini pun kau masih memiliki selera humor yang sangat buruk, ya, Kim Taehyung.”

“Kau yang mengajariku. Aku hanya mengikuti apa yang selalu kau lakukan.”

“Hei, aku tak seburuk itu!”

“Ya. Karena kau lebih buruk dariku!” Kini tawa Taehyung menguar keras. Mengabaikan tatap sebal yang Seokjin arahkan, ia bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa kram lantaran tertawa terlalu keras. Ketika ia hendak melontarkan canda lagi, sudut matanya tanpa sengaja melihat tiga pemuda yang telah memaku tatap padanya. Membuatnya mengukir senyum riang lalu mulai menyapa. “O, kalian sudah bangun?”

Ketiga pemuda tersebut saling pandang. Seolah mempertanyakan harus bersikap bagaimana pada sang pangeran. Seokjin yang memerhatikan merasa was-was. Ia sudah mengingatkan ketiganya untuk bersikap santai, tapi sejatinya ia tahu ketiganya takkan bisa melakukan hal tersebut begitu saja. Terlebih karena mereka sudah terbiasa dengan peraturan kerajaan yang ketat.

“A-ah, iya ….” Jawaban canggung tersebut menguar dari bibir Owen. “Kau … sudah merasa baikan, Kim Taehyung?” Mencoba menyebut nama manusia milik sang pangeran, Owen merasa lega karena ia bisa melafalkannya dengan benar. Setidaknya, embel-embel pangeran tak turut terucap.

“Tentu saja. Hehe. Maaf karena sudah membuat kalian menungguiku di sini, bukannya beristirahat dengan nyaman di rumah.”

“Tidak masalah, Pang—ah, maksudku, Kim Taehyung. Kita mungkin belum pernah bertemu, tapi kak Seokjin sudah menceritakan banyak hal tentangmu.” Kali ini Earl dengan kecanggungan yang sulit dimusnahkan mencoba untuk berbicara.

“Dia tidak menceritakan hal-hal aneh tentangku, ‘kan?”

“Tidak. Tak ada satu pun yang akan berani membicarakan hal aneh apa pun tentangmu … hm, Taehyung. Dan, senang bertemu denganmu. Nama saya Lachlan, dan mulai sekarang saya akan mempertaruhkan nyawa—

“OI, LACH!” Memotong perkataan sang pemimpin cepat-cepat, Seokjin melotot. Dasar gila. Bisa-bisanya ia menyinggung soal nyawa di hadapan Taehyung. Bisa-bisa Taehyung akan menaruh curiga dan kedok mereka akan terbongkar cepat. “Bukannya kau harus pergi? Ah, mencari sarapan?”

“Dia lucu.”

“Ya? Kau bilang apa, Taehyung-a?”

Taehyung tertawa. “Aku baik-baik saja, Lach. Jadi, kau tak perlu sampai mempertaruhkan nyawamu. Haha, ternyata leluconmu lumayan juga.”

“O-oh? Iya. Leluconku lumayan, hehe.” Tawa canggung itu seketika mengubah suasana menjadi lebih tegang.

Tak ingin memperburuk keadaan, Earl mencoba membuka pembicaraan dengan memperkenalkan diri, toh mereka belum berkenalan dengan pantas, bukan?

“Taehyung-a, aku Earl. Kuharap kita bisa berteman dengan baik.”

“Wow, kau memiliki mata yang indah, Earl!”

“Dan aku Owen. Senang bertemu denganmu.”

Menghembuskan napas lega, Seokjin yang masih merasa sebal lantaran perkataan Lach yang tak terkontrol lekas mengubah ekspresinya agar lebih terlihat santai. Well, kesalahan seperti itu memang sudah ia waspadai, dan ia tahu jika hal tersebut akan kembali terulang suatu saat nanti. Jadi, mulai sekarang akan banyak hal tak terduga yang harus bisa ia kendalikan. Setidaknya sampai Taehyung benar-benar siap untuk mengetahui jati dirinya.

“O, karena kalian sudah saling mengenal satu sama lain, jadi kuharap kalian bisa berteman dengan baik. Dan kau, Kim Taehyung … jangan membuatku khawatir lagi! Jika ada sesuatu yang salah atau kau merasa sakit cepat katakan padaku, mengerti?”

“Kalian lihat? Kak Seokjin itu selalu bertingkah menyebalkan.”

“Kim Taehyung!”

Haha, oke-oke. Aku mengerti. Jadi … bisa kau belikan sesuatu untukku? Aku lapar, Kak.”

-TBC.

Halo, ehe, updatenya telat dua minggu ya hehe, maaf. Bikos ada beberapa hal pribadi yang tak bisa disebutkan, jadi fic ini sempat tertunda. Semoga masih ingat dengan cerita sebelumnya dan happy reading, guys! Feel free for leave you review

-mbaay.

Advertisements

9 thoughts on “[Chapter 3] The Dark Wings: On the Earth

  1. Pingback: [Chapter 5] The Dark Wings: The War on Pain – BTS Fanfiction Indonesia

  2. Pingback: [Chapter 4] The Dark Wings: The Secret – BTS Fanfiction Indonesia

  3. akhirnyaaaa yaa mereka saling bertemuuuu… meski aku berharap mereka bakal koplak bgt bikos heran sama benda2 yg ada di rs, tapi ternyata mereka bisa dgn baik ngontrol kekepoannya… tapi tapi tetep suka kok bikos Lach ucuuul, sikap canggungnya justru jd hiburan tersendiri di sini.
    oke, tinggal nunggu gmn entar taehyung bakal tau jati dirinya. i cant waiiit. update yg rajin yaaa authornim 😘 keep writing and fighting!!!!

    Like

  4. chintyarosita

    Yey. 🙌🙌🙌, akhirnya apdet..

    Lachlan lucuu.. Seokjinnieeeee.. !!! Kamu kakak yang pengertian..

    Kak kenapa lama sekali updatenya.. Aku disini menunggumu

    Semangat ya kak. ^^

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s