[BTS FF Freelance] Foolish – (Vignette)

picsart2016-22-11-00-32-132

Foolish

a fic by Orchidious

Min Yoogi (BTS) with Jung Nahyun (OC)

Vignette | AU, Hurt/Comfort, School-life | T

Just own the plot and some OCs

“Aku tahu apa yang pernah seseorang katakan padaku itu memang benar.”

:::

 

Aku tidak suka bercerita panjang lebar tapi kali ini aku membuat pengecualian. Kuharap siapapun yang sedang merasakan hal yang sama denganku dapat membaca secuil kisah tak menarik ini. Bukannya pesimis, tapi aku yakin, kau akan menganggap remeh dan sepele masalah yang kualami.

Semuanya bermula ketika aku pindah sekolah, empat bulan lalu.

Memasuki kelas yang baru, bertemu orang-orang baru, teman baru dan juga guru baru. Semuanya terasa berbeda dan aku cukup membenci surat yang diberikan kantor ayahku; benda yang membuatku terpaksa meninggalkan sekolah lama yang lebih kusukai ketimbang sekolahku sekarang. Aku mengatakan cukup, karena sebenarnya aku juga tidak benar-benar membenci perpindahan ini. Semua karena gadis itu.

“Jung Nahyun. Jangan sungkan untuk memanggilku jika perlu bantuan. Senang berkenalan denganmu.”

Ah, dia.

Nahyun, sekretaris kelas yang cantik dan memiliki rambut berwarna kecoklatan sepanjang punggung. Perkenalan kami tidak disengaja. Aku bahkan hanya membalasnya dengan menyebutkan namaku saja. Padahal ia baik, tapi aku yang memang introvert, tidak ingin berkenalan terlalu jauh dengannya.

“Min Yoongi.”

Jadi itu yang kuucapkan sebagai balasan dan ia memberiku senyum ramah yang terlihat lumayan manis. Yah, semua yang ada dalam dirinya pada dasarnya memiliki keistimewaan tersendiri. Tulisannya rapi—itulah mengapa ia ditunjuk menjadi sekretaris kelas—murah senyum, ramah dan dari yang kucuri dengar, ia seorang violinist yang sering tampil di beberapa acara. Oh, jangan lupakan juga paras cantiknya yang sepadan dengan suara merdunya ketika aku tak sengaja menangkap basah dirinya tengah bermain piano sambil menyenandungkan sebait lagu. Tentu saja bukan karena aku memata-matainya. Piano adalah teman terbaikku, setidaknya begitu jika di rumah. Dan aku tak mungkin tidak membiarkan diriku bermain sebentar saat pulang sekolah. Ketika itulah, aku melihatnya dari balik kaca jendela selama satu setengah menit sebelum akhirnya memilih untuk pergi. Bisa saja ketahuan dan itu memalukan.

Lalu di hari lainnya, giliran ia yang menangkap basah diriku.

“Kau bisa bermain piano juga, Yoongi? Wah, tidak disangka ternyata kau punya bakat yang tersembunyi.” Nahyun lalu terkikik setelah menyelesaikan ucapannya dan aku diam saja. Ia mendekati piano hitam yang ada di depanku lalu berdiri di sampingnya. Kemudian ia menatapku seolah ingin permainan singkatku kembali dilanjutkan.

“Coba mainkan lagi,” ujarnya. Aku menurut saja, kendati sebenarnya malas sekali. Lebih suka jika bermain tanpa sepengetahuan orang lain. Tolong ingat kalau aku tidak terlalu suka bersosialisasi dengan orang lain, kecuali jika memang perlu.

Alunan nada dari tuts-tuts piano mengalir merdu di ruang musik yang hanya diisi oleh kami berdua. Setelah menghabiskan waktu selama sekitar dua puluh menit untuk bercakap-cakap soal bakat kami berdua, Nahyun akhirnya undur diri.

“Senang bisa mengobrol denganmu. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi.”

Nahyun melambaikan tangannya ketika kami berpisah di gerbang sekolah. Aku memandangnya lekat dan kemudian kikuk sendiri ketika ia tiba-tiba berbalik dan berbicara dengan suara keras.

“Kelompok pelajaran sastraku masih kurang satu orang lagi. Bergabunglah!”

“Ya.”

Suaraku mungkin tak dapat didengar olehnya namun ia tetap menyunggingkan senyum lebar sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya kembali. Dan semenjak itu, pemikiranku tentang Nahyun sedikit berubah. Kurasa ia orang yang menyenangkan. Yah, aku tahu itu. Tentu karena kami sama-sama tertarik dengan musik dan memang memiliki bakat alami dalam hal tersebut. Sudah menjelaskan mengapa aku bisa mengobrol dengannya tanpa canggung tadi. Semua karena kesamaan kami.

 

:::

 

Setelah kejadian itu, Nahyun jadi sering datang ke kursiku di barisan belakang. Aku duduk seorang diri, jadi ia bisa leluasa mengambil tempat di sampingku dan mengajakku berbicara banyak hal. Mulai dari kedua adiknya, keinginan besarnya untuk menjadi violinist profesional dan berkunjung ke Paris serta usaha anehnya untuk memasukkan diriku di setiap kelompok belajar yang kekurangan anggota—karena aku nyaris selalu tak mendapat kelompok sehingga harus mengerjakan tugas sendiri.

“Sepertinya sikap tidak suka bergaul yang kumiliki membuatmu repot. Maksudku, harusnya aku bisa melakukannya sendiri,” kataku saat kami sedang mengerjakan soal latihan fisika di jam istirahat beberapa waktu lalu. Ia masih berkutat dengan pensilnya dan belum menoleh. Aku menunggu ia membalas.

“Sudah kubilang ini bukan apa-apa, Yoongi-ah. Aku senang, kok, membantu teman baru untuk beradaptasi; seperti kamu. Sama sekali tidak repot, malah. Jadi jangan menganggap dirimu merepotkan karena itu wajar-wajar saja,” sahut Nahyun sambil menatap tepat ke mataku. Detik itu juga, bagian dalam dadaku bergejolak aneh. Entah apa artinya, tapi aku abai. Aku memandangnya lega.

“Meski aku tidak suka ber—“

“Aku tahu hal itu, makanya aku membantumu. Jangan khawatir. Kalau kau merasa tidak suka bergaul terlalu jauh dengan yang lain, kau bisa melakukannya denganku. Yah, walau mungkin saja kau tidak mau, sih.”

Aku menggeleng cepat. Hei, ada apa denganku?

“Tidak. Aku senang mengobrol denganmu.”

Sahutan itu meluncur begitu saja dari bibirku tanpa sempat kupikir mengapa aku mengatakannya. Sulit dipercaya. Seperti yang kubilang di awal, aku sebenarnya lumayan sulit berinteraksi dengan orang-orang, termasuk Nahyun. Bahkan ia yang menyapaku lebih dulu. Tapi, kenapa sekarang aku mulai terbiasa dengannya?

Aku kemudian memikirkan hal ini hampir setiap saat.

 

:::

 

Seseorang pernah berkata begini padaku.

“Kau pasti memiliki seorang gadis yang setiap ia dekat dengan laki-laki lain, maka kau ingin sekali berkata bahwa kau tidak menyukainya. Tapi kau tidak bisa, benar?”

Itu benar.

 

Karena kini aku merasakannya.

 

Aku semakin dekat dengan Nahyun. Tidak benar-benar dekat, maksudnya. Aku dan dia hanya lebih sering berbicara dan bertukar sapa, kadang-kadang juga menghabiskan waktu bersama di ruang musik. Namun, hubungan kami masih tetap seperti ini. Tidak berubah. Masih layaknya anak baru dan anak lama yang ada di tahap perkenalan. Kami tidak berbicara setiap waktu. Ia juga punya teman-teman wanitanya sendiri, juga anak laki-laki lain yang suka mengerubunginya dengan dalih urusan administrasi kelas. Hell, kenapa aku tidak suka melihatnya dikelilingi banyak lelaki seperti itu?

Jawabannya hanya satu.

Sempat suatu hari, sekolah mendadak menyuruhku mengikuti lomba bermain piano di tingkat kota untuk menggantikan anak kelas dua yang tiba-tiba mengalami kecelakaan seminggu sebelum lomba diadakan. Padahal ia sudah berlatih keras, namun sayangnya ia harus berdiam di rumah sakit dan merelakan diriku menggantikannya sebagai perwakilan sekolah. Ini semua karena Nahyun. Ia yang memberi tahu guru soal bakatku dan mau tidak mau aku harus menerima perintah sekolah ini. Hitung-hitung mencetak prestasi dan mengharumkan nama sekolah.

Karenanya, aku harus sering berlatih tiap pulang sekolah. Kadang-kadang, Nahyun menemaniku sambil mengiringi dengan permainan violin-nya yang mengangumkan. Aku suka caranya menggesek biola sambil memejamkan mata seolah dirinya terhanyut oleh nada-nada yang dialunkan. Ia benar-benar terlihat seperti musisi muda yang berbakat. Well, itu memang benar.

“Semangat untuk lombanya nanti sore, ya! Fighting!”

Nahyun mungkin hanya mengatakan kalimat penyemangat itu sambil mengepalkan tangan lantas menepuk bahuku kencang. Ia tersenyum lebar sebelum kemudian berjalan menjauhiku dan ruang musik. Ia tidak akan datang untuk melihat lombaku karena ada urusan keluarga. Tapi, mengapa aku senang sekali mendapat dukungan darinya?

Nahyun bukan sekali ini saja membuatku bingung.

Tiap kali ia mengucapkan sesuatu dengan konteks diriku, pasti aku akan merasakan kelegaan yang luar biasa. Juga gejolak aneh dan rasa nyaman setiap ia berada di dekatku. Kurasa inilah alasan mengapa aku tidak suka setiap melihat dirinya dekat dengan laki-laki lain. Tambahkan bagaimana rupa kesalku saat dia berjalan pulang bersama seorang lelaki yang dirumorkan sedang dekat dengannya akhir-akhir ini. Lupakan soal diriku. Aku tidak benar-benar dekat dengannya, ingat?

Meskipun begitu, aku nyaman bersamanya. Aku suka caranya berbicara padaku seolah-olah kami sudah dekat sejak dulu, nyaris tanpa canggung. Aku senang tiap kali ia menatapku tepat di mataku.

Namun.

Aku tidak suka setiap lelaki yang mendekati dirinya. Aku benci melihatnya menatap lelaki itu dengan tatapan yang berbeda. Aku muak melihatnya memberi senyum ramah pada orang lain.

 

Jadi sekarang aku tahu apa yang pernah seseorang katakan padaku itu memang benar adanya.

Lalu, mengapa aku masih tetap diam saja?

 

“Hei, Yoongi. Tidak mau mengajak Nahyun kencan akhir pekan ini?”

Aku menggeleng. Suara hatiku memang jelek, bayangkan saja kau sedang mendengar suara laki-laki paling buruk yang pernah ada—itu karena suaraku lebih bagus darinya. Dan keputusanku sudah bulat sekarang.

 

Karena pada akhirnya aku sadar kalau aku hanya merasa nyaman dengannya tanpa mampu untuk mengungkapkan.

 

Bodoh, ya?

 

fin

 

(1) Makasih buat adikku, yang kalimatnya aku copas untuk dijadikan kalimat si seseorang /plak/ Yah, walau agak miris sih karena nyinggung(?) status jomblo saya pas lagi ngobrol berdua ((peluk hobi)).

(2) Based on true story (jangan tanya siapa) dengan pengubahan di sana-sini.

(3) Author baperan, jadi maaf kalau ini receh bgt /dibuang.

Last, can you leave some review for this fic?

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] Foolish – (Vignette)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s