[BTS FF Frelance] Memento Mori (Chapter 2)

fffg

Tittle : Memento Mori  (Chapter 2)

Author : TEN

Genre : Brothership, sad.

Rating : Semua umur

Cast : Jeon Jungkook, Kim Seokjin, Park Chanyeol (exo)

Length : 2000+ word

Disclaimer : Kalian tahu menuangkan apa yang ada di otak kedalam tulisan itu susah, dan saya yakin anda tahu bagaimana cara menghargai karya orang lain.

Ketika aku menerima rasa sakitnya, aku hanya mencoba menjadi kuat dihadapanmu dengan harapan bahwa kau tidak akan menangis, juga sebuah impian kecil jika ada hari dimana aku akan bisa berkata, “Hyung, ayo kita membuat jus apel bersama.”

Seokjin mengulas senyum tipis ketika melihat Jungkook yang perlahan membuka matanya. Anak itu mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar membalas tatapan Seokjin, dan memanggil sebutan paling indah yang pernah ada dalam hidup Seokjin.

“Hyung?” panggil Jungkook dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Ya, kenapa? Kau lapar?” tanya Seokjin, ia mendekatkan wajahnya ke anak itu.

Jungkook menggeleng kecil, “Aku…tidak,  apa yang Hyung lakukan disini?”

Seokjin memutar bola matanya tampak berpikir,”Hanya sekedar lewat dan kebetulan aku mampir diruang rawatmu,”

Bibir Jungkook tersenyum menampakan gigi putihnya,”Dasar penipu.” katanya. Dan, Seokjin pun ikut tertawa.

“Tentu saja aku mendatangimu, dasar bocah!” ucapnya, “Ada yang kau inginkan? Atau ada yang sakit?”

“Semuanya terasa sakit.”

“Oke, baiklah. Kalau begitu ada yang kau inginkan?”

Jungkook memandangi Seokjin untuk beberapa menit, lantas berkata”Aku ingin pulang.”

Sebuah anggukan diberikan Seokjin sebagai jawaban,”Ya, tentu. Aku akan membawamu pulang.”

“Sungguh?”

“Tentu, ayo kita pulang bersama-sama.”

_________

Malam semakin beranjak. Jungkook maupun Seokjin masih sama-sama diam. Keheningan diantara mereka diisi oleh suara riuh orang-orang di tv.

Jungkook, saat tau kalau Seokjin membawanya ke Busan, anak itu belum bicara sama sekali semenjak mereka sampai di rumah ini. Seokjin sendiri enggan untuk bicara dengan anak itu ―berhubung semua yang terjadi pada Jungkook adalah salahnya. Ah, ia memang sudah tahu kalau Jungkook akan marah, tapi Seokjin juga tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin membawa Jungkook pulang ke rumah mereka yang di Seoul disaat semua yang berhubungan dengan Jungkook sudah habis tak tersisa. Jungkook akan bertanya-tanya kemana semua barangnya pergi dan Seokjin belum siap menjawab seluruh pertanyaan Jungkook. Mungkin, lebih tepatnya Seokjin tidak siap menerima amukan anak itu.

Maka, pilihan terakhir yang dimilikinya saat ini hanyalah duduk disamping adiknya yang tengah fokus menonton tv. Seokjin sebenarnya benci melihat Jungkook marah, wajah Jungkook yang sudah pucat jadi semakin jelek saat  ia cemberut. Seokjin berdehem pelan ―hitung-hitung pemanasan untuk mulai bicara pada Jungkook.

Namun, baru saja ia mau membuka mulutnya, tiba-tiba perut Seokjin tergelitik mendengar kekehan lirih Jungkook yang bercampur dengan tawa orang di tv. Adiknya itu tertawa. Tawa pertama yang ia lihat semenjak bertemu dengannya. Lantas sekonyong-konyong tawa adiknya itu membuat sudut bibir Seokjin tertarik.

“Hyung, lihat orang itu,” Jungkook mengarahkan telunjuknya ke tv masih dengan tawa lirihnya,”Dia sangat lucu.”

Seokjin mengerjapkan matanya seolah tidak percaya apa yang barusan terjadi. Ah, adiknya memang tidak mudah ditebak.

“Apanya yang lucu? Orang itu…” Seokjin ikut menunjuk  lelaki tua yang berada di tv,”Yang dia keluarkan dari tadi hanya lelucon garing.” Tukas Seokjin yang langsung mendapat respon mematikan dari Jungkook.

“Hyung kau ini benar-benar…”Jungkook berdecak malas,”Kau memang tidak punya selera humor.”

“Benarkah? Kupikir aku adalah orang yang lucu.” Seokjin tersenyum lebar sambil memperlihatkan ekspresi lucu pada Jungkook.

Dan Jungkook malah mendorong mukanya menjauh. Membuat Seokjin jengkel.

“Ini sudah malam Jungkook, kau harus istirahat.” ucap Seokjin akhirnya. Ah, ia lega bisa mengatakan kalimat ini.

“Chanyeol bilang kau tidak boleh kelelahan.” Seokjin menarik lengan Jungkook, namun hal itu tak berhasil saat sang adik malah merengek.

“Aissh, aku tidak mau kesehatanmu memburuk, Jungkook!” seru Seokjin, ia melotot padanya,”Kau –“

“Gendong aku Hyung”

“Apa?”

“Aku bilang gendong aku.” Jungkook bangkit lalu menunjuk anak tangga yang mengarah ke lantai dua,”Naik semua tangga itu melelahkan, Hyung.”

Seokjin menghela napasnya, anak ini.

Pada akhirnya Seokjin tetap menggendong Jungkook sampai ke kamarnya. Hal yang menjengkelkan dari menggendong sang adik adalah saat Jungkook tak mau diam di punggung Seokjin. Anak itu suka sekali mengganggu ketenangan tulang punggungnya.

“Tidurlah, aku akan menemanimu disini.” ujar Seokjin setelah selesai menyelimuti tubuh sang adik. Ia langsung duduk disamping anak itu untuk menunggu Jungkook menutup matanya.

“Hyung?” panggil Jungkook.

“Hmm”

“Kenapa hyung tidak membawaku ke rumah yang di Seoul?”

Boom!

Seokjin mendadak mati rasa,”Itu…”Seokjin berusaha memutar otak mencari jawaban paling pas buat diberikan pada Jungkook,”Itu karena…, karena aku pikir kau mungkin ingin kesini. Memangnya kau tidak rindu pada pantai yang didekat sini?”

“Aku tidak pernah ingin kesini.”

“Jungkook, aku –“

“Hyung aku ngantuk,”potong Jungkook,”Bersenandunglah untukku.”

“Bersenandung?”

“Ya, bersenandung sama seperti yang pernah ayah dan ibu lakukan pada kita dulu.”

Seokjin diam beberapa saat menimbang permintaan Jungkook. Bersenandung bukanlah suatu hal yang biasa Seokjin lakukan, omong-omong. Lantas ia pun menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar sebelum mulai bersenandung pada adiknya. Tak lupa Seokjin juga menepuk-nepuk pelan dada kiri anak itu guna menenangkannya.

________

Besoknya mereka berdua kembali ke Seoul. Jika bukan karena rapat penting perusahaan yang harus Seokjin hadiri, ia mana mau mengajak Jungkook ikut. Seokjin juga tidak mau meninggalkan adiknya sendirian di Busan karena kondisi Jungkook yang tidak baik semenjak mereka membuka mata tadi pagi.

Jungkook tidak memakan sarapan paginya tadi dengan alasan ‘makanan itu akan keluar lagi jika sampai masuk ke perutku’ begitu katanya. Mendengar itu, Seokjin hanya bisa menghela napas sambil berpikir makanan apa yang mungkin akan cocok dengan kondisi perut sang adik.

“Jadi, kira-kira apa yang mungkin bisa kau makan?” tanya Seokjin dengan fokus yang tertuju pada jalanan di depan mereka. Sepanjang perjalanan Seokjin menawari banyak makanan pada Jungkook, namun sang adik malah menolak semuanya yang membuat ia menyerah.

“Mungkin jus apel akan cocok denganku.” jawab Jungkook, tapi itu bukan jawaban yang Seokjin inginkan.

“Itu bukan makanan.”

“Tapi itu selalu berhasil masuk saat aku masih di rumah sakit, yah walau kadang-kadang dokter Chanyeol selalu marah akan hal itu.”

“Jungkook –“

“Hyung,” Jungkook menoleh pada Seokjin,”Ayo kita membuat jus apel bersama?” ajaknya.

Iris cokelat Seokjin mengarah pada Jungkook untuk beberapa detik lalu kembali fokus pada setirnya, “Aku bisa membuatnya sendiri, tidak perlu bersama-sama.”

Jungkook mendengus, “Baiklah, terserah. Lagipula memangnya salah jika aku ikut membuat jus apel?”

“Tentu. Aku tidak mau dapurku hancur karena ulahmu.”

“Hyung, ini hanya jus apel.”

Sebuah cengiran mengejek diberikan Seokjin pada Jungkook, “Aku selalu mengantisipasi suatu hal dari yang terkecil.”

Dan, Jungkook menatapnya tidak percaya.

֎

Rapat perusahaan hampir memakan waktu dua jam lebih, mengingat yang dirapatkan kali ini adalah sesuatu yang menyangkut kedudukan Seokjin sebagai pemimpin disini. Dan, ketika Seokjin kembali ke ruangan kerjanya, ia tahu kalau saat itu ia baru saja kehilangan Jungkook. Dalam ingatan Seokjin, ia meninggalkan Jungkook dalam posisi duduk di meja kerjanya serta senyum yang anak itu berikan sebelum Seokjin benar-benar pergi.

Namun, sekarang seperti inilah dirinya. Dengan keadaan kalut Seokjin mencari-cari keberadaan Jungkook di dalam kantornya, dan semua orang mengatakan kalau mereka melihat Jungkook keluar.

Tidak, Jungkook tidak mungkin keluar dalam keadaan lemah dan perut kosong. Sial, anak itu selalu berhasil membuat dirinya khawatir.

“Jungkook, kau dimana?!” tanya Seokjin pada dirinya sendiri.

“Aku disini.”

Seokjin berbalik. Jungkook ada dihadapannya sekarang. Seokjin pun menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. dengan langkah pelan ia menghampiri sang adik.

“Kau pergi ke mana, bodoh!” bentak Seokjin reflek.

“Hanya melihat-lihat sekeliling.”

“Berhenti membuatku khawatir!” Bentaknya lagi.

Jungkook terdiam. Wajah anak itu tanpa ekspresi.

Seokjin lagi-lagi mengerang frustrasi. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar, “Aku minta maaf, oke?” ucap Seokjin, “Aku tahu rapatnya sangat lama, dan itu pasti membuatmu bosan.”

“Tidak apa-apa.” balas Jungkook dengan nada begitu datar.“Aku mau ke makam ibu dan ayah.” Pinta Jungkook.

“Kita cari dulu makanan untukmu.”

“Aku mau ke makam mereka, Hyung.”

“Iya, tapi setelah –“

“Aku maunya sekarang!” Jungkook berseru pelan

“Kau belum makan seharian ini.”

“Aku tidak perduli, lagipula perutku tidak akan menerimanya.” ucap Jungkook sambil berlalu pergi.

Seokjin bisa merasakan sesuatu yang salah dalam diri adiknya. Tidak biasanya adiknya bersikap ketus pada Seokjin. Ia juga tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Jungkook.

Makam kedua orang tua mereka berada di sebuah bukit, sekitar 30 km dari pusat kota Seoul. Selama perjalanan Seokjin seperti mau gila saat Jungkook sama sekali tidak bersuara. Bahkan saat Seokjin mengeluarkan topic, Jungkook hanya merespon semuanya dengan gerakan kepala.

Dan, sekarangpun sama saja. Jungkook tidak berkata sepatah kata pun selama di pemakaman. Anak itu hanya memandangi makam orang tua mereka dalam diam. Seokjin tidak berani mengajaknya bicara karena Seokjin pikir Jungkook memang dalam  mood yang tidak baik.

“Hyung?”

Seokjin menoleh sekaligus merasa lega ketika mendengar suara sang adik, “Ada apa?”

Jungkook sedikit menunda kalimat selanjutnya yang akan ia keluarkan. Ada rasa ragu untuk menanyakan ini, tapi Jungkook tidak mau menjadi penasaran. Maka agar ia tidak merasa takut, fokusnya tetap Jungkook biarkan mengarah pada kedua gundukan dihadapan ia dan Seokjin.

“Apa yang akan terjadi jika aku mati?” tanyanya

Seokjin membeku. Mendadak napasnya teercekat. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan sang adik.

“Hyung, jawab aku.”

Sokjin menelan ludahnya sendiri sebelum menjawab, “Tentu, semuanya akan jadi berbeda untukku.”

“Kenapa?”

“Karena… aku akan hidup sebatang kara.”

“Apa hyung siap menerima kematianku? Atau, mungkinkah hyung siap untuk hidup tanpaku?”

Seokjin menoleh pada adiknya, “Aku…Hyung tidak siap.”

“Hyung bohong.”

Kini keduanya berhadapan. Jungkook masih dengan ekspresi datarnya, sedangkan Seokjin mengerutkan dahinya menandakan kalau ia sedikit heran. Apa maksud adiknya ini?

“Hyung berbohong.”

“Apa maksudmu?”

“Hyung sudah siap, kan, menerima kematianku?” ucap Jungkook, “Hyung…”napas Jungkook memburu, matanya berkaca-kaca, “Hyung selama ini sudah siap untuk hidup tanpa diriku.”

“Jungkook, aku tidak –“

“Berhentilah bohong!” bentak Jungkook. Jungkook tiba-tiba saja menangis dihadapan Seokjin, “Hyung, selama ini aku selalu menunggumu di rumah sakit, bertanya kapan kau datang menjengukkku membuat video untukmu selalu menunggu kedatanganmu –“

“Jungkook –“

“Namun, selama dua tahun –“ kalimat Jungkook tertahan oleh napasnya yang tiba-tiba tercekat, “H-hyung hanya…tidak….hyung bahkan menganggap aku tidak ada.”

Air muka Seojin memanas. Ia terkejut setengah mati mendengar penuturan sang adik. Seokjin pun mencoba meraih jemari Jungkook yang langsung ditolak mentah-mentah olehnya.

“Hyung sudah menganggapku mati selama dua tahun ini, lalu kenapa hyung malah menjemputku?”

“Kau pulang ke rumah hari ini?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Jungkook, kau tahu aku tidak bermaksud seperti itu,”

“Hyung kau pembohong” Jungkook pergi meninggalkan Seokjin yang membeku ditempatnya. Air mata Seokjin perlahan meluruh. Ia memaki dirinya sendiri disana ―menyesali kesalahan yang ia perbuat.

_____

Seokjin pikir mereka bisa saling mengobrol saat sampai lagi di Busan. Namun saat Jungkook memilih untuk masuk ke kamar dan menguncinya, membuat Seokjin tidak bisa berbuat apa-apa selain mengetuk pintu itu selama sejam lebih tanpa ada sedikitpun respon dari sang adik.

“Jungkook kumohon buka pintunya,” ujar Seokjin, “Perutmu masih kosong, dan keadaanmu akan memburuk jika kau begini.”

Seokjin masih terus mengetuk pintu itu, “Jungkook…” pada titik inilah Seokjin menghela napas berat. Ia kembali menelan ludahnya untuk sekedar menghilangkan rasa cemas di dalam hatinya.

“Jungkook, aku minta maaf, aku salah.” lirih Seokjin. Rasa cemas itu belum juga hilang, “ Jungkook, semua ini juga berat untukku, kau tahu? Dua tahun ini aku juga terluka, “ setetes air mata mengaliri pipi Seokjin, “ Aku tidak siap hidup seorang diri, aku juga takut sama sepertimu.

Jungkook, hyung mohon buka pintunya. Mari kita bicara, ya? hyung akan mendengarkan semua kekesalanmu, asalkan buka pintu ini.”

Masih belum ada jawaban.

Jungkook mendengar semua yang kakaknya ucapkan dari dalam kamar, dan ia tidak perduli. Ia masih belum bisa menerima apa yang telah kakaknya lakukan. Menganggapnya mati? Ia masih bernapas dengan baik di rumah sakit, tapi kakaknya malah menganggap Jungkook sudah tiada?

Tadi siang Jungkook memang memanfaatkan kesibukan kakaknya untuk pergi ke rumah mereka yang tidak cukup jauh dari kantor Seokjin. Jungkook tidak pernah menyesal karena ia pulang ke rumah mereka tanpa sepengetahuan Seokjin, tapi rasa sakit ketika pembantu di rumah mereka mengatakan apa yang telah Seokjin perbuat membuat Jungkook marah.

“Jungkook, aku mohon buka pintunya!!!” teriak Seokjin di luar sana.

Jungkook sama sekali tidak perduli.  Ia malah meraih ponselnya lalu menghubungi nomor Chanyeol dan meminta lelaki itu untuk datang besok.

Setelah menit-menit berlalu, Jungkook tak lagi mendengar suara Seokjin dari luar sana. Kakaknya pasti sudah lelah. Bersamaan dengan itu, tubuh Jungkook pun langsung ambruk di lantai. ia sudah tidak kuat menahan sakit ini. Ia lelah.

Pagi-pagi sekali Jungkook dikejutkan oleh suara debuman keras dari pintu serta kemunculan Seokjin yang berada didalam kamarnya. Kantong mata kakaknya tampak menghitam bersamaan aroma alcohol yang langsung menyengat indra penciuman Jungkook.

Bahkan dalam satu gerakan Seokjin menarik lengan Jungkook ―membuat tubuh Jungkook yang lemah terbawa olehnya. Seokjin menggusurnya dengan kasar ke arah luar.

“Hyung, kenapa menarikku, akh!” ringis Jungkook.

Seokjin tetap menggusur Jungkook dengan kasar. Kakaknya membawa Jungkook kearah tepian pantai didepan rumah mereka.

Jungkook yang merasa kesakitan karena tidak diberi kesempatan untuk berjalan dengan benar mencoba melepaskan cengkraman tangan sang kakak yang ternyata lebih kuat dari yang Jungkook kira.

“Hyung, kau kenapa ?! akh, hyung kakiku sakit.”

Jungkook masih berusaha melepaskan cengkraman itu, namun sang kakak tetap menariknya dengan kasar.

“Hyung, lepaskan!” cengkramannya terlepas, membuat Jungkook sedikit terjungkal ke belakang.

Seokjin berbalik hendak meraih lagi lengan Jungkook, namun Jungkook lebih dulu mundur ke belakang. Ia mendongak menatap mata kakaknya yang merah. Ia yakin kakaknya itu pasti mabuk.

“Kau ke..ken..napa hyung?” tanya Jungkook gugup dan hampir menangis.

“Ayo kita tenggelam di laut itu lalu mati sama-sama.”

Jungkook terperangah dan napasnya mendadak tercekat. Tubuhnya tiba-tiba saja bergetar, “Hyung…”

Belum sempat Jungkook menghindar, lagi-lagi Seokjin meraih lengan Jungkook dan menggusurnya seperti orang kesetanan.

“Tidak, tidak, hyung jangan lakukan!” jerit Jungkook, “Hyung ampun, aku salah, hyung lepaskan! Hiks,”

Seokjin tidak menghiraukannya, sedangkan Jungkook terus memohon bersamaan dengan tubuhnya yang digusur diatas pasir pantai yang dingin.

Tbc

 

Author note:

Terimakasih sebelumnya pada admin bts ff Indonesia yang sudah menerbitkan ceritaku. Btw, ini itu cerita pertama yang berani aku publish. Maafkan kalau jelek.

Selamat membaca, dan tolong beri kritik dan sarannya.

TEN

 

Advertisements

11 thoughts on “[BTS FF Frelance] Memento Mori (Chapter 2)

  1. Anonymous

    Satu kata buat ff ini min , AMAZING !!!!

    Kerasa bgt feel-nya . jd ikut mewek deh
    Andai aj dijadiin drama/film pasti ratingnya tinggi bgt

    Next chap ditunggu ya

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s