[BTS FF Freelance] Bittersweet and Crazy – (Chapter 1)

bittersweet-and-crazy-poster

Title : Bittersweet and Crazy

Author : Hida Kim

Genre : Romance, Friendship, Work Life

Main Casts : Park Ha Na (OC), Kim Tae Hyung (BTS V), Jeon Jung Kook (BTS Jungkook)

Support Casts : Park Min Young (OC), Jung Ho Seok (BTS J-hope), Other BTS Members

Rating : PG-15

Length : 4,6k words

Disclaimer : This story is originally written by me (twitter: @realHida), and a little bit help from my friend Dini (twitter: fakedini). Jadi jika ada kesamaan nama atau tempat dengan cerita lain, itu tidak disengaja. Author juga akan sangat menghargai komentar dari para pembaca, so don’t be silent reader please^^

 

BITTERSWEET AND CRAZY

Chapter I

“After all of this time”

BGM : What About Now (Daughtry)

 

Tae Hyung berjalan santai memasuki ruangan yang sudah beberapa hari ini ia kunjungi untuk keperluan syuting drama terbarunya. Drama ini adalah drama keduanya sebagai pemeran utama pria. Lelaki itu masih termasuk pendatang baru, namun ia sangat bersyukur karena dalam waktu tak sampai dua tahun, ia telah berhasil membintangi tiga drama, dengan dua sebagai pemeran utama itu. Lagipula, ia sangat senang ketika ditawari peran yang memiliki pribadi tak jauh berbeda dengan dirinya sendiri. Meski di dunia akting hal itu dianggap kurang menantang, namun lelaki itu tentunya tak ingin mengacaukan drama ketiganya itu. Ia belum ingin bereksperimen. Biarlah ia menjadi sosok yang mudah untuk diperagakan.

 

Ia membungkuk, melontarkan sapaan kepada beberapa kru yang sudah ada di lokasi itu. Manajernya yang sedari tadi mengekori melakukan hal yang sama. Hari ini, seperti dua hari sebelumnya, adalah indoor shooting, atau pengambilan adegan dengan latar tempat di dalam ruangan. Minggu pertama hingga ketiga memang dijadwalkan seperti itu, sedangkan selanjutnya akan dilakukan outdoor shooting.

 

Setelah berganti pakaian, serta dirias oleh makeup team, Tae Hyung segera menuju posisinya dengan naskah di tangannya. Ia mulai membaca beberapa baris dialog yang sempat ia praktekkan sehari sebelumnya. Untuk beberapa menit, ia membaca ulang naskah itu, guna memperkuat ingatannya tentang apa yang harus ia peragakan nanti. Adegan yang harus ia lakukan kali ini merupakan salah satu yang tak ia sukai, yaitu adegan menangis. Lelaki itu selalu menyukai adegan apapun, kecuali menangis. Karena menurutnya, berpura-pura sedih ketika kau tidak sedang bersedih adalah hal tersulit. Lebih sulit dibandingkan ketika ia sedang stres dan harus melakukan adegan bahagia atau semacamnya. Lagipula, menangis untuk seorang pria adalah sesuatu yang tidak seharusnya ditunjukkan, menurutnya. Namun ia berusaha profesional, karena itu adalah bagian dari pekerjaannya.

 

Beberapa menit setelah semua aktor berkumpul, maka syuting pun dimulai. Adegan pertama yang harus ia lakukan, adalah berbincang dengan pemeran wanita utama yang menjadi pasangannya di drama itu. Sutradara yang telah berada di posisinya mulai mengarahkan apa yang harus mereka berdua lakukan. Mereka berdua akan berbicara satu sama lain, kemudian Tae Hyung harus melakukan adegan menangis setelah si wanita pergi.

 

Setelah sukses melakukan adegan tersebut, meski harus bersusah payah untuk mengeluarkan air mata, Tae Hyung bernafas lega. Sutradaranya mengakhiri sesi syuting pertama siang itu, dan tak lama kemudian lampu-lampu yang menyorot setting di tempatnya berdiri padam. Dengan jelas, lelaki itu dapat melihat seorang gadis yang duduk tak jauh di belakang barisan lampu-lampu itu. Gadis dengan rambut lurus sebahu, brunette, yang mengenakan kemeja lilac dengan balutan blazer putih di luarnya.

 

Nafas lelaki itu tercekat, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mata besarnya melebar sempurna, ketika di saat yang bersamaan semua bayangan tentang masa lalunya masuk ke otaknya. Gadis itu, ia yakin adalah seseorang yang dulu ia kenal. Seorang gadis yang pernah mewarnai hari-harinya. Gadis yang pernah membuat perutnya seperti diaduk tak karuan ketika akan berkencan dengannya. Gadis yang pernah ada di pelukannya, dulu. Wajah rupawan yang begitu familiar itu serasa masih sama, tidak berubah meski ia tahu bahwa terakhir kali ia melihat wajah itu adalah enam tahun yang lalu.

 

Tae Hyung masih sibuk memproses kejadian yang terjadi secara tiba-tiba itu, ketika dilihatnya si gadis berdiri dengan cepat, dan menghilang dari pandangannya. Dengan tergesa-gesa lelaki itu beranjak dari tempatnya berdiri, dan secepat kilat disusulnya gadis itu.

 

“Ha Na?” Ia berbicara dengan nada getir, “Kau Park Ha Na, benar kan?”

 

Gadis itu berhenti, dan Tae Hyung bisa merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Berulang kali ditelannya air ludahnya. Suhu udara yang ada di ruangan itu pun terasa menurun, padahal tak ada seorangpun yang mematikan pemanas ruangan. Kedua tangannya mengepal. Mencoba menahan dirinya untuk tidak melakukan hal-hal diluar kesadarannya.

 

Jantungnya serasa akan berhenti berdegup, ketika gadis itu berbalik menghadapnya. Kini dengan jelas ia bisa melihat wajahnya. Wajah dingin yang sangat ia kenal. Pipinya yang berwarna kemerahan, iris coklatnya yang selalu nampak bercahaya, hidungnya yang tinggi yang menjadi dambaan semua wanita, serta bibir ranumnya yang dulu pernah ia rasakan. Ya, gadis itu, terlalu tertanam di ingatannya.

 

“Benar, ini aku Park Ha Na.” Gadis itu menghela nafasnya dengan cepat, “Bagaimana kabarmu, Kim Tae Hyung?”

 

 

Tae Hyung memandang iris coklat itu dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Jantungnya serasa hamper berhenti begitu gadis itu bersuara menjawab pertanyaannya. Raganya pun seperti berhenti bekerja, dan otaknya seperti lumpuh karena ia hanya diam memandang gadis itu. Begitu tiba-tiba, seseorang yang telah lama menghilang itu muncul di hadapannya. Entah bermimpi apa dia semalam.

 

Setelah keheningan yang mungkin berlangsung sangat lama, Tae Hyung sendiri tak tahu, ia pun bersuara, “Ke mana saja kau selama ini?”

 

Berjuta pertanyaan yang mungkin masih tersimpan jelas di benaknya, bahkan setelah beberapa tahun berlalu, kini tertulis jelas di otaknya dan ingin sekali ia lontarkan. Namun ia menahan diri. Melihat gadis itu secara tiba-tiba saja sudah membuatnya sesak nafas, apalagi harus mendengar jawaban dari berbagai pertanyaannya itu. Raut wajah gadis itu sulit untuk dibaca, meski Tae Hyung berusaha dengan keras.

 

Mianhae.” Ia bersuara.

 

Lelaki itu menghembuskan nafasnya perlahan, mencoba mengatur detak jantungnya sendiri yang masih tidak berirama, “Percayalah, banyak sekali pertanyaan di benakku—”

 

“Direktur Park!”

 

Tae Hyung belum menyelesaikan perkataannya ketika seorang lelaki dengan setelan kerja abu-abu setengah berlari dan berhenti tepat di belakang Ha Na dengan nafas tersengal, lalu membungkuk dalam-dalam, membuat gadis itu menoleh.

 

“Kenapa Anda tak mengangkat telepon?! Presdir meminta rapat pemilik saham diajukan menjadi siang ini.” Ia berbicara dengan nafasnya yang masih tak teratur.

 

“Dari mana kau tahu aku di si—, ah! Park Min Young yang memberi tahu? Ck!”

 

“Itu tidak penting, yang penting kita harus kembali ke kantor sekarang atau Presdir akan marah.”

 

“Baiklah, sebentar.”

 

Lelaki itu hendak berkata kembali namun Ha Na dengan cepat memotongnya, “Ini tak akan lama.”

 

Gadis itu nampak mengambil nafas dalam lalu kembali menoleh ke arah Tae Hyung, yang sedari tadi diam setelah kedatangan lelaki yang memanggil Ha Na dengan sebutan ‘Direktur Park’ itu. Kini beribu pertanyaan baru muncul di benaknya.

 

“Maaf, aku harus pergi.” Tatapan gadis itu terlihat sayu, namun ekspresi wajahnya masih sulit untuk dibaca, “Jaga dirimu, Kim Tae Hyung.”

 

Ia berbalik. Dan sebelum Tae Hyung sempat memberikan tanggapan, gadis itu sudah melangkahkan kaki dengan cepat untuk pergi dari sana.

 

Sekarang kepalanya serasa ingin pecah, karena terlalu banyak pertanyaan yang ada di sana, yang ingin sekali ia sampaikan pada gadis itu.

 

Kenapa dia muncul dengan tiba-tiba setelah sekian lama mereka tak bertemu, di tempat itu?

 

Kenapa lelaki itu memanggilnya Direktur?

 

Bukankah Ha Na yang ia kenal dulu tak seperti itu?

 

Belum lagi pertanyaan yang ia simpan sejak enam tahun yang lalu. Tae Hyung menjambak rambutnya sendiri dengan kasar, tak memperdulikan tatapan beberapa kru yang lewat di sekitarnya. Yang ia perdulikan saat ini hanyalah mencari tau siapa Park Ha Na sebenarnya. Mungkin ia merasa sangat mengenal gadis itu dulu, namun tidak dengan sekarang.

 

 

“Park PD-nim.” Suara berat itu membuat gadis dengan setelan kerja dusty pink yang nampak tengah memeriksa rundown acara, menoleh dan tersenyum.

 

“Ya, Tae Hyung-ssi?” Ia memasukkan dua lembar kertas di genggamannya itu ke dalam sebuah amplop besar berwarna abu-abu.

 

“Apa kau ada waktu setelah syuting selesai? Kudengar kafe di sini menjual kopi yang enak. Bisa aku mentraktirmu?” Lelaki ber-iris hitam itu berbicara pelan, tampak sedikit gugup.

 

Min Young terlihat berpikir untuk sejenak, “Tentu.”

 

Jadilah sore itu mereka berdua duduk berhadapan di dalam ruangan kafe yang tidak terlalu luas namun memiliki suasana yang hangat. Meja bundar berkaki pendek dengan empat kursi dengan sandaran mengelilinginya, berderet di sana. Semuanya berwarna putih, sama seperti beberapa bantal bundar yang tersebar di karpet tebal abu-abu yang menjadi alas di bawahnya. Alunan musik klasik terdengar lembut dari beberapa speaker yang tergantung di empat sudut ruangan itu.

 

“Jadi?” Min Young berujar setelah menyesap hot cappuccino-nya.

 

Ne?” Tae Hyung duduk di seberang gadis itu, dengan segelas ice Americano tak tersentuh di meja bundar di depannya.

 

“Bukankah kau mengajakku minum kopi di sini, untuk berbicara sesuatu?” Min Young menebak, seperti bisa membaca isi dari pikiran lelaki di depannya.

 

Tae Hyung berdeham, tak menyangka gadis di depannya itu bisa menebak dengan akurat maksud dan tujuannya. Ia memang sengaja, mengajak Ketua Production Team yang mengelola drama nya itu untuk berbicara tentang beberapa hal. Beberapa hal yang tentunya berkaitan dengan seorang gadis yang secara tak sengaja ditemuinya beberapa hari yang lalu, setelah sekian lama tak dilihatnya. Tae Hyung berusaha mencari jawaban dari semua pertanyaan yang bahkan muncul lebih banyak ketika ia telah berhasil menemukan gadis itu.

 

Tae Hyung sendiri telah bertekad, untuk menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di benaknya. Ia merasa bahwa dirinya perlu tahu, siapa Park Ha Na sebenarnya. Gadis yang ia rasa sangat ia kenal, namun ternyata tidak.

 

Setelah dengan berbagai harapan tipis ia memasukkan nama gadis itu ke dalam search engine pada beberapa hari sebelumnya, dan menemukan berbagai artikel yang membuatnya semakin tak mengerti dengan siapa Park Ha Na sebenarnya, hatinya menciut. Hampir semua artikel yang ia baca tentang gadis itu, berhubungan dengan bisnis keluarganya. Kepala Tae Hyung serasa dihantam dengan palu raksasa, ketika mendapati Ha Na yang dikenalnya adalah pewaris tunggal salah satu perusahaan terbesar di Korea Selatan. Bagaimana bisa, gadis sederhana yang dikenalnya dulu adalah pewaris tunggal Aera Group? Gadis yang mengaku datang untuk melanjutkan sekolah di Cambridge dengan berbekal beasiswa yang ia dapatkan karena kepintarannya? Gadis yang dulu mengaku bahwa orangtuanya hanyalah pengusaha kecil yang bahkan untuk mengirimnya ke negeri seberangpun harus menabung selama beberapa tahun. Gadis yang Tae Hyung pikir adalah gadis biasa, yang ia pikir berada dalam jangkauannya.

 

Namun ia salah. Ia tidak mengenal gadis itu sama sekali. Gadis yang nyatanya memiliki orangtua yang sangat kaya. Begitu kayanya hingga ia pikir mereka bisa membeli peternakan orangtuanya sendiri dengan sekejab mata.

 

“Kau berteman dengan Park Ha Na, bukan?” Tae Hyung berujar, tanpa basa basi. Fakta baru yang ia tahu, bahwa Production Team Head itu berteman dengan Park Ha Na. Ia tidak sengaja mendengar Min Young sedang berbicara dengan seseorang di telepon, yang ia panggil dengan nama itu. Park Ha Na.

 

Min Young meletakkan mug putih berisi hot cappucino yang sedari tadi dipegangnya, dibetulkannya posisi duduknya, “Park… Ha Na?”

 

Ne. Aku tidak sengaja mendengar kau memanggil namanya di telepon.”

 

“Aku tidak tahu apakah Ha Na yang kukenal  itu sama dengan yang kau maksud, Tae Hyung-ssi. Aku yakin ada banyak orang bernama Park Ha Na di negeri ini.” Min Young berkata tenang, walaupun di dalam benaknya ia mulai tahu ke mana arah pembicaraan aktor itu.

 

“Park Ha Na yang seminggu lalu datang ke shooting room. Park Ha Na yang sebentar lagi akan dilantik menjadi Presdir dari Aera Group.”

 

Min Young berdeham, kini berbagai pertanyaan juga muncul di benaknya. Ia tak tahu apa yang terjadi di antara sahabatnya itu dengan Kim Tae Hyung. Bahkan setelah tahu bahwa mereka saling kenal, karena melihat mereka berdua berbicara minggu lalu, ia masih tidak mengerti. Sahabatnya itu juga tidak pernah bercerita, jika ia mengenal Tae Hyung.

 

“Ya, Park Ha Na yang itu, aku mengenalnya.” Min Young berujar singkat, yang disambut dengan ekspresi tegang dari lelaki di depannya.

 

“Mengapa kau menanyakan Ha Na?” Sambungnya.

 

“Aku tidak tahu harus bercerita dari mana, namun yang pasti, kami saling mengenal.” Tae Hyung menarik nafas dalam, “Aku mengenalnya ketika kuliah dulu, dan kami…”

 

“Ya?” Min Young menatap Tae Hyung penasaran, karena perkataannya yang tidak dilanjutkan.

 

“Aku tidak yakin harus mengatakan ini atau tidak.” Sambungnya setelah beberapa saat tampak berpikir, “Namun yang aku yakini, kami pernah menjalin hubungan, lebih dari teman.”

 

Mata bulat Min Young melebar, mendengar perkataan lelaki di depannya itu. Ia hampir saja tidak percaya, karena Ha Na tak pernah bercerita apapun tentang menjalin hubungan dengan seorang lelaki ketika tengah kuliah di Harvard. Ia menelan ludahnya pelan, “Well, aku baru saja mendengar hal ini darimu.”

 

“Hmm, sudah kusangka seperti itu.”

 

Keheningan hadir di antara mereka berdua untuk waktu yang cukup lama. Tae Hyung tidak tahu harus berkata apa lagi, sementara gadis di depannya masih sibuk membuat teori-teori  yang rasanya akan membuat kepalanya hampir pecah. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan menatap lelaki di depannya dengan tajam.

 

“Lalu? Apa yang terjadi?” Gadis itu memilih melontarkan pertanyaan, “Ah, tunggu, sebelum kau menjawabnya, beritahu aku berapa lama kalian bersama?”

 

“Bagiku, setidaknya cukup lama. Aku mengenalnya di tahun ketiga-ku di Boston University, dan kami berpacaran lebih dari enam bulan.” Lelaki itu memberi jeda beberapa saat, “Lalu…”

 

“Lalu?” Min Young yang tampak tak sabar, mengetuk-ngetukkan kuku jarinnya di lengan kursinya, menimbulkan suara yang cukup keras karena kafe itu cukup sepi, hanya ada dua wanita paruh baya yang duduk tak jauh dari mereka.

 

“Dia pergi begitu saja.” Tae Hyung berujar. Keningnya berkerut, dan ekspresinya nampak sedih saat itu juga.

 

“Dia tak berkata apapun.” Lanjutnya, “Dan aku yakin waktu itu kami tidak sedang bertengkar akan apapun. Dia berjanji untuk menemuiku di taman tempat kami biasa berbicara, sore itu, namun ia tak pernah muncul, dan pergi menghilang begitu saja setelahnya. Tak ada kabar, sama sekali. Aku mencoba menghubunginya, namun nomor teleponnya sudah tidak terdaftar. Aku mencoba bertanya pada kampusnya, namun tentu saja mereka tak membiarkanku memperoleh alamatnya di Korea, ataupun informasi lain tentangnya. Aku juga berusaha bertanya pada orang-orang di asramanya, namun sama saja, nihil. Bahkan mereka mengaku tidak ada mahasiswi dengan nama Park Ha Na yang tinggal di sana.”

 

“Tunggu,” Min Young menatap lelaki itu dengan pandangan bingung, “Asrama? Asrama apa?”

 

Harvard Student Dormitory, tempat dia tinggal.”

 

“Kim Tae Hyung, aku sudah mengenal Ha Na sejak SMA, dan tak pernah sehari pun kami tidak saling berhubungan saat dia di Amerika. Aku yakin Ha Na tidak pernah tinggal di asrama. Lagi pula untuk apa ia tinggal di asrama jika orang tuanya adalah pemilik salah satu perusahaan terbesar di negeri ini?” Min Young berkata cepat.

 

Tae Hyung bisa merasakan kepalanya seakan dipukul oleh palu raksasa, dan perutnya seperti dijungkirbalikkan, mendengar pernyataan Min Young. Dugaannya benar, bahwa apa yang ia tahu  tentang Ha Na selama ini salah. Yang ia tahu, asrama lah tempat gadis itu tinggal dulu. Ia yakin, karena hampir setiap kali mereka bertemu, ia akan mengantarnya pulang, menemaninya hingga pintu gerbang.

 

Tae Hyung menarik nafas pelan dan dalam, mencoba mengatur perasaannya yang sudah terasa tak karuan sekarang. Dilihatnya Min Young yang masih memandangnya dengan ekspresi yang sangat sulit untuk dibaca.

 

“Apakah sungguh kau mengenalnya, Tae Hyung-ssi?” Gadis itu menatap Tae Hyung dengan prihatin, mulai mengerti tentang hubungan dua orang itu.

 

“Aku…” Ia menunduk, “Mollayo.”

 

“Lalu? Apa kalian bertemu kembali?” Sambung gadis itu.

 

Ne. Seminggu yang lalu, saat ia datang ke tempat syuting. Apa ia datang untuk menemuimu, Min Young-ssi?” Pria itu menegakkan kembali kepalanya.

 

“Hmm. Sekarang aku tahu alasannya datang ke tempat syuting berulang kali.” Alih-alih menjawab, gadis itu justru bergumam, berkata lebih pada dirinya sendiri.

 

Ne?”

 

“Dia sudah beberapa kali datang. Aku pikir pasti ada alasan lain baginya selain menemuiku, karena tak biasanya ia mencariku di tempat kerja.” Min Young mengernyit ketika hot cappucino nya yang telah dingin menyentuh lidahnya.

 

“Banyak yang ingin kukatakan padanya, tapi ia pergi begitu saja bahkan sebelum aku sempat menanyakan kabarnya.” Pria itu tersenyum getir.

 

“Jadi kalian tak berbicara apapun?”

 

Tae Hyung menggeleng. Ia memandang ke sembarang arah, seperti menerawang.

 

“Aku tidak tahu harus berbicara apa tentang situasi kalian saat ini. Namun, Tae Hyung-ssi, aku pikir keadaan telah berubah. Kau merasa mengenal Ha Na namun kenyataannya tidak.” Min Young berbicara pelan, dan hati-hati.

 

“Kau benar.” Pria dengan surai hitam itu berujar getir, “Terimakasih sudah mau minum kopi denganku sore ini, Min Young-ssi. Aku akan pergi sekarang.”

 

Tae Hyung tersenyum, mencoba menyembunyikan risau hatinya di depan gadis itu, yang menatapnya dengan pandangan nanar.

 

Ne, terimakasih sudah mentraktirku. Dan maaf aku tidak bisa membantu.”

 

“Tak apa.”

 

 

Udara Seoul terasa lebih dingin sore itu. Mungkin memang karena beberapa hari lagi bulan Oktober akan datang, menandai musim gugur tahun itu. Beberapa orang di jalanan sudah mulai mengenakan pakaian yang lebih panjang, dengan mantel tipis atau jaket yang tak terlalu tebal. Pemandangan khas musim itu juga sudah mulai terlihat. Daun-daun kuning kemerahan yang gugur dan berserakan di jalan-jalan, hujan yang terkadang turun tanpa peringatan, serta cuaca yang tak terlalu cerah, namun masih dapat dibilang menyenangkan.

 

Seperti biasa, Ha Na masih berkutat di meja kerjanya walau senja sudah beranjak. Gadis itu tampak serius mengetik sesuatu di laptopnya, dengan banyak kertas berserakan di atas benda persegi di depannya itu. Kacamata besar bertengger di atas hidungnya, memudahkannya untuk membaca deretan huruf yang ada di sana. Mug hijau zamrud berisikan camomile tea yang sudah mulai dingin tergeletak di salah satu sudut meja, di samping plakat nama dengan huruf panjang berwarna emas yang membentuk namanya.

 

Ia baru saja menyelesaikan satu laporan keuangan dari sektor elektronik ketika ponselnya berbunyi nyaring memecah keheningan. Diliriknya benda itu, lalu berdecak pelan sebelum mengangkatnya.

 

“Aku tidak lupa dengan makan malam hari ini, jadi silahkan kau tutup jika tak ada hal lain yang ingin kau katakan.” Gadis itu berkata dingin.

 

Cold as always.” Suara lelaki itu terdengar mencemooh dari seberang sana, mambuat Ha Na mau tak mau menebak ekspresi menyebalkan yang mungkin saja sedang terpasang di wajahnya saat itu, “Aku hanya memastikan, barangkali kau lupa.”

 

“Aku tidak lupa, jadi berhenti menggangguku karena aku sedang sibuk sekarang.” Suara gadis itu terdengar sangat dingin hingga siapapun yang mendengarnya bisa bergidik.

 

Baiklah baiklah, sampai jumpa nanti.”

 

Tanpa memberikan jawaban, Ha Na sudah mengakhiri panggilan itu. Sekarang mood-nya rusak, setelah mendengar suara tunangannya yang menyebalkan itu. Terlebih karena satu jam lagi ia akan bertemu dengan lelaki itu. Seminggu sekali, Ha Na harus datang menemui ayahnya dengan tunangannya itu, untuk makan malam. Untuk mengakrabkan diri sebelum pernikahan, adalah alasan ayahnya untuk mengadakan makan malam sialan itu. Ia benci harus duduk di antara ayahnya dan tunangannya. Alasannya, tentu karena ia sangat tidak menyukai lelaki yang dijodohkan dengannya itu.

 

Jeon Jung Kook. Wanita mana yang akan menolak pesonanya. Lelaki yang menjadi pewaris utama Zeus Multinational Company itu memiliki segalanya. Wajah tampan, tubuh tinggi yang atletis, jabatan tertinggi di perusahaannya, dan kekayaan yang tak akan habis selama lebih dari tujuh keturunan. Semua wanita akan membayar harga apapun untuk bersama dengan lelaki itu. Semua, kecuali Ha Na tentunya. Sebaliknya, ia akan melakukan apapun untuk bisa membatalkan pertunangannya dengan Jung Kook. Lelaki itu sangatlah menyebalkan. Ia memiliki perangai yang sangat buruk. Sombong, dan sangat suka mencampuri urusan orang lain. Ha Na membencinya terlebih karena pria itu mengukur semua hal berdasarkan uang. Belum lagi, hobinya adalah bermain wanita. Ha Na tahu, pria itu bisa berganti pasangan hanya dalam hitungan hari. Dan ia tak perduli akan hal itu.

 

Saat pertama kali tahu bahwa ia dijodohkan dengan Jung Kook, gadis itu telah mengajukan beberapa hal untuk disepakati. Yang salah satunya adalah, mereka tak akan mencampuri urusan percintaan satu sama lain. Biarlah hubungan mereka berdua hanya sebatas hubungan di depan publik. Jadi, mereka akan menampilkan akting terbaik mereka di depan orang lain, supaya semua orang percaya bahwa dua sejoli itu benar-benar menjalin hubungan yang serius. Jeon Jung Kook, tentu langsung menyetujuinya. Tanpa ragu sedikitpun, ia menyetujui kesepakatan itu. Karena baginya, menjalin hubungan hanya di depan mata publik adalah hal yang paling ia inginkan di dunia ini, supaya ia bisa tetap bermain dengan wanita-wanita cantik seleranya. Ia juga tak bisa menolak tentunya, karena orang tuanya sendiri sudah menentukan Ha Na menjadi istrinya kelak.

 

Ha Na menghabiskan waktu satu jam untuk bersiap. Bukan karena ia ingin tampil secantik mungkin, tapi karena ia ingin mengulur waktu. Sebanyak mungkin waktu yang ia ulur, berarti semakin sedikit pula waktunya untuk bertatap muka dengan Jeon Jung Kook nanti.

 

Gadis itu berjalan memasuki lobi hotel bernuansa Eropa, yang saat itu cukup ramai. Setelan kerjanya sudah ia ganti dengan outfit yang lebih santai. Atasan off-shoulder berwarna abu-abu, serta leather skirt membalut tubuhnya yang indah.

 

Dari kejauhan ia bisa melihat sosok yang dibencinya tengah duduk dengan posisi yang menyebalkan di sofa terbesar di ruangan itu. Kemeja hitam dengan jeans navy  yang dikenakannya, yang membuatnya terlihat begitu menawanpun tak bisa menggetarkan hati Ha Na. Gadis itu berdecak, ketika pria itu berdiri untuk menyambutnya. Senyum miring menyebalkan bertengger di wajah tampannya.

 

Hello, Beautiful.” Ia menatap Ha Na, memperhatikan gadis itu dari kepala hingga kaki.

 

“Berhenti memanggilku seperti itu.” Ia mendesis, tampak mengerikan.

 

“Ck, jangan terlalu sinis, kau akan terlihat jelek.” Nada suaranya begitu mencemooh hingga Ha Na ingin meninjunya saat itu juga. Namun ditahannya hasrat mengerikannya itu karena beberapa pegawai hotel menghampiri mereka.

 

“Tuan Park sudah menunggu di atas, mari kami antar.” Dua pegawai dengan pakaian kerja itu membungkuk dalam.

 

Ha Na menghembuskan nafasnya kasar, lalu sekuat tenaganya ia tersenyum. Jung Kook, yang merasa menang, tersenyum sinis, sembari menyodorkan tangannya ke arah Ha Na. Suka atau tidak, dengan terpaksa gadis itu menyambut uluran tangannya, karena ia tak ingin gosip bahwa hubungan mereka tak baik menyebar.

 

Sepanjang perjalanan menuju ruang makan yang berada di lantai 14 terasa sangat panjang bagi gadis itu. Tentu karena ia berulang kali harus menahan diri untuk tidak memukul pria di sampingnya itu dengan heels yang ia kenakan di kakinya. Menggenggam tangan Jung Kook terasa seperti hukuman di neraka. Beberapa kali pria itu dengan sengaja mengeratkan genggamannya, membuat Ha Na mengernyit karena merasakan sakit di tangannya. Namun tentu ia hanya bisa diam karena ada dua pegawai hotel yang tengah mengapit mereka.

 

“Kenapa kalian lama sekali?” Park Jae Suk, ayah Ha Na, menyambut mereka dengan pandangan kecewa seketika setelah mereka berjalan masuk.

 

Ha Na dan Jung Kook membungkuk bersamaan, “Maaf, Abeonim, kami terjebak macet.” Lelaki itu berbicara dan melepas genggamannya, yang membuat Ha Na bernafas lega.

 

Gadis itu mengikuti Jung Kook yang kini telah duduk di meja makan. Park Jae Suk, yang duduk di antara mereka, tersenyum melihat anaknya dan calon menantunya itu. Di mata ayahnya itu, Jung Kook adalah sosok yang begitu sempurna, hingga ia mau menjodohkannya  dengan Ha Na. Kedua orang tua Jung Kook adalah partner bisnisnya sewaktu muda, dan pertemanan mereka tetap berlanjut hingga sekarang. Park Jae Suk menganggap Jung Kook adalah satu-satunya lelaki yang cocok untuk mengisi posisi menantunya. Tentu karena pria  itu mewarisi perusahaan properti terbesar yang ada di Asia milik orang tuanya. Ingin sekali Ha Na membuka mata ayahnya itu, dan menunjukkan bahwa Jung Kook bukanlah seperti yang ia bayangkan. Di depan Park Jae Suk, tunangannya itu akan bersikap bak pangeran. Bertutur kata sangat sopan dan halus, melontarkan pujian di sana-sini, yang merupakan keahlian utamanya. Ayahnya hanya tak tahu, di balik itu Jung Kook adalah sosok yang mengerikan untuk dijadikan menantu.

 

Makan malam itu, seperti biasa, terasa berlangsung ber-abad-abad bagi Ha Na. Meski makanan yang disajikan begitu lezat, gadis itu tak bisa merasakannya. Ia ingin muntah setiap kali Jung Kook melontarkan sanjungannya pada ayahnya, atau bahkan padanya.

 

“Sudah jam delapan, sebaiknya kalian bergegas ke bawah.” Park Jae Suk berbicara setelah menyelesaikan desserti-nya, pie labu dengan whipe cream di atasnya.

 

“Ke bawah? Untuk pulang?” Ha Na menatap ayahnya itu bingung.

 

“Pulang? Tentu saja tidak. Kau harus menghadiri pertemuan agensi kita, Aera Ent. Mereka tengah mengadakan meeting dengan semua staff dan artisnya untuk membicarakan beberapa program kerja untuk dua tahun ke depan.” Pria berusia 60 tahun itu menjawab santai, “Ah, bukan, maksudku kalian. Kau harus datang bersama Jung Kook, sekalian mengenalkannya pada semua kerabat kita di sana. Bukankah Jung Kook sudah memberitahumu?”

 

“Dia ti—”

 

Ha Na sudah akan menjawab ketika Jung Kook dengan menyebalkan menyelanya, “Maaf Abeonim, saya lupa untuk memberitahu Ha Na.”

 

“Ah, gwenchana, kau pasti terlalu sibuk untuk mengingat hal itu. Ya sudah, lagipula sekarang Ha Na sudah tahu.” Park Jae Suk tersenyum.

 

Ha Na yang menyaksikan hal itu semakin ingin memukul pria yang duduk di depannya itu. Bagaimana bisa ayahnya begitu memujanya. Arrrgggg, ingin ia menjambak rambutnya  sendiri karena gemas. Ia benci harus menghabiskan bermenit-menit lagi dengan Jung Kook. Namun tentu saja ia tak bisa menghindarinya karena ayahnya yang menyuruhnya untuk pergi dengan tunangan sialannya itu.

 

“Jangan kau tekuk wajahmu itu.” Jung Kook terkekeh pelan ketika mereka berjalan memasuki Ballroom di salah satu sisi hotel itu.

 

Ha Na sudah ingin membalas perkataan lelaki itu, namun mengurungkan niatnya karena beberapa orang sudah menghampiri mereka.

 

“Direktur Park.” Mereka membungkuk bersamaan, “Dan Tuan Jeon, Selamat Datang. Mari kami antar ke meja yang sudah disiapkan.”

 

Ruangan yang nampak seluas lapangan sepakbola itu, di isi dengan deretan meja bundar dengan beberapa kursi yang mengelilinginya, yang hampir seluruhnya penuh. Di salah satu sisi ruangan, terdapat panggung dengan ukuran yang tidak terlalu  besar. Di  atasnya, seorang lelaki paruh baya yang dikenali Ha Na sebagai Direktur utama Aera Ent., sedang berbicara dengan nada lantang. Mereka berdua duduk di meja yang berada di deretan paling depan, di antara beberapa staff yang menempati posisi tinggi di dalam agensi itu.

 

“Direktur Park.” Seorang wanita paruh baya yang merupakan istri dari  direktur utama Aera Ent. berbicara, membuat Ha Na menoleh seketika dan mengangguk padanya.

 

“Ah, tidak, saya seharusnya memanggil Anda dengan sebutan Presdir.” Wanita itu tersenyum hangat.

 

Hajima, Nyonya Kim. Saya belum resmi ada di posisi itu.” Ha Na membalas senyuman hangat itu.

 

“Hanya tinggal dua minggu  sebelum Anda resmi dilantik, jadi sudah seharusnya saya mulai membiasakan diri dari sekarang.” Wanita itu terkekeh pelan, yang ditanggapi Ha Na dengan senyuman lebar.

 

“Anda bersedia memberikan beberapa patah kata, kan? Berhubung sudah di sini.”

 

“Tentu, Nyonya Kim.”

 

Ha Na berjalan menaiki panggung di salah satu bagian ruangan itu setelah mendengar namanya dipanggil oleh si pembawa acara. Gadis itu berbicara, melontarkan beberapa patah kata demi formalitas. Pidatonya tidaklah panjang, karena ia memang takk suka berbasa-basi. Ketika ia sudah akan mengakhiri pidatonya itu, matanya bertemu dengan iris hitam yang sangat ia kenal. Hampir saja ia berhenti berbicara karena terkejut.

 

Kim Tae Hyung? Apa yang ia lakukan di  sini? Pertanyaan itu terlintas di benak Ha Na.

 

Lelaki itu duduk di baris ketiga. Mengenakan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya, rambut hitamnya tersisir rapi, membuatnya tampak lebih tampan dari yang pernah Ha Na ingat. Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Ritme pompa jantungnya menjadi tidak normal sekarang. Ia turun dari panggung dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Sementara Tae Hyung, masih menatapnya lekat-lekat seakan ingin memakannya.

 

Berbagai teori Ha Na coba untuk pikirkan. Satu-satunya yang masuk akal yaitu Tae Hyung berada di bawah naungan agensi itu, Aera Ent., anak perusahaan Aera Group  di bidang hiburan. Ha Na memang tak pernah secara langsung mengawasi agensi itu, karena memang dari awal ia bekerja sebagai direktur eksekutif, agensi itu bukanlah tanggung jawabnya. Ia tak menyangka, Tae Hyung berada sedekat itu dengannya.

 

“Apa kau baru saja melihat hantu?” Jung Kook, yang keberadaannya hampir Ha Na lupakan di sana, berkata dengan senyuman menyebalkannya yang biasa.

 

“Diamlah.” Ha Na mendelik, tak ingin menanggapi Jung Kook saat itu.

 

“Ekspresimu itu menggelikan.” Pria  itu terkekeh sekarang, yang hanya ditanggapi dengan tatapan membunuh oleh gadis di sampingnya.

 

Setelah dengan perasaan tak karuan mengikuti sisa acara malam itu, dan menyapa beberapa orang demi formalitas, Ha Na melangkah keluar masih dengan Jung Kook di sampingnya. Mereka memasuki basement, di mana kendaraan mereka masing-masing menunggu. Setelah yakin bahwa tak ada seorang pun yang melihat, Ha Na melepas paksa genggaman Jung Kook di tangannya. Jika beberapa waktu lalu ia ingin sekali membalas lelaki itu atas semua perbuatannya sepanjang sore dengan memukulnya atau bahkan melemparkan benda apapun yang tajam padanya, sekarang niat itu meluap begitu saja. Yang bertengger di kepala gadis itu hanyalah Kim Tae Hyung.

 

Sejujurnya, Ha Na masih tidak tahu harus bersikap seperti apa pada lelaki yang pernah mengisi hari-harinya itu. Ia masih tidak tahu harus meminta maaf padanya dalam bentuk apa. Ia tahu bahwa ia pasti telah menyakiti Tae Hyung dulu. Namun ia juga tak bisa begitu saja berlari pada lelaki itu dan memintanya untuk memaafkannya karena ia tak tahu pasti keadaan Tae Hyung sekarang. Berbagai keraguan melintas di hati kecilnya.

 

TBC

 

 

What about now? What about today? What if our love never gone away?

 

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] Bittersweet and Crazy – (Chapter 1)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s