[BTS FF Freelance] Run – (Ficlet)

run

Run

by

Winter Hoon

|| starring [BTS] Kim Taehyung/V & [OC] Han Yejin genre Romance, Hurt length Ficlet rate Teen – Up disclaimer I own nothing but the plot! ||

Beautiful Poster by Aqueera @Poster Channel

.

.

Tampaknya, pekatnya langit malam akan menjadi teman abadi Kim Taehyung kali ini. Tanpa adanya kerlip bintang, Taehyung mau tak mau harus menahan diri melawan dinginnya udara malam yang berhembus. Melingkupi sekujur tubuhnya yang terbalut oleh jaket kulit hitam juga topi hitam yang menutupi hampir sepertiga bagian wajahnya. Taehyung melihat sekeliling dengan perasaan was-was. Sangat hati-hati dalam mengambil langkah juga bertindak. Taehyung mengetuk kaca jendela dihadapannya dengan sangat hati-hati. Sebisa mungkin tak menimbulkan suara mencurigakan yang mungkin saja dalam sekejap dapat menggagalkan seluruh rencananya. Urat saraf di kepalanya pun seakan menariknya untuk menoleh ke segala arah—menelisik seluruh bagian yang bisa ditangkap oleh indra penglihatan. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa tak didapati adanya sinyal keberadaan orang lain yang tengah menyelinap masuk ke halaman rumah seorang gadis bernama Han Yejin secara diam-diam.

Taehyung menghembuskan napas dalam dan mulai mengetuk kaca jendela perlahan. Lagi, ketukan yang diberikan Taehyung pada dasar jendela kian menguat lantaran belum adanya respons dari si pemilik rumah—berhasil membuat gorden berwarna cerah yang tergantung turut bergoyang, kala Taehyung kembali memeriksa keadaan. Masih dengan tatapan awas yang menyapu seisi halaman rumah hingga titik terkecil sekalipun.

Taehyung benar-benar berada pada posisi yang siaga.

Tak lama setelanya, deritan antara kusen jendela yang berkarat seketika menyambangi gendang telinga pada kedua rungunya. Terang saja membuat Taehyung senang bukan kepalang. Pasalnya, kini kaca jendela dihadapannya sudah terbuka lebar. Menampilkan sesosok gadis berkulit bak porselen mengenakan piyama tidur selutut berbahan satin—yang mana membuat kaki jenjangnya terekspos dengan bebas.

 

Kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan kurva menawan tanpa diminta, ketika maniknya bersirobok dengan obsidian kelam milik si gadis—sosok yang amat ia tunggu-tunggu untuk hadir kembali menyapa lembut kedua matanya.

Tak ada sambutan khusus yang kerap kali Taehyung dapatkan ketika dirinya datang malam ini. Biasanya, Yejin akan langsung meghambur ke dalam dekapan pemuda berusia dua puluh tahun itu guna melepas rindu, tak lupa dengan segaris senyum senantiasa mengembang secara sukarela. Namun, agaknya malam ini sedikit berbeda. Sesuatu seperti dinding tebal menghadangnya untuk tetap berada dalam jarak aman.

Sinar matanya tak lagi berbinar saat Taehyung hadir untuk sekedar mengucapkan selamat malam untuknya—seperti sekarang ini. Bahkan, bibirnya tak sedikitpun tergerak untuk berjingkat naik membentuk seulas senyuman yang amat sangat Taehyung dambakan. Justru tergantikan oleh tatapan nanar yang menguasai seluruh ruang pada netranya.

“Selamat malam, Yejin-a,” suara berat milik Taehyung akhirnya memecah keheningan yang sempat tercipta diantara keduanya. Pupil matanya masih terlalu fokus memandangi wajah mungil milik sang gadis. Tidak banyak perubahan yang Taehyung rekam kali ini—sejak kedatangannya terakhir kali, tepat dua minggu lalu. Hanya noda kehitaman yang menghiasi kantung matanya lah yang menjadi pemandangan baru bagi Taehyung. Seperti candu, Taehyung benar-benar tidak ingin kehilangan momen untuk menatap wajah itu barang sedetik.

Terselip rasa sesak dalam dadanya ketika Taehyung memakunya dengan sorot mata yang sarat akan kerinduan. Rasanya sangat sulit untuk melakukan ha-hal mudah—bahkan seperti tersenyum, ketika Taehyung datang padanya dalam kondisi yang kalut seperti ini. Sungguh, sangat sulit.

Bola matanya bergulir pada setiap inci paras Taehyung yang dipenuhi oleh peluh sebesar biji jagung. Tidak hanya itu, berbagai macam ruam kebiruan dan juga debu- debu jalanan tampak betah menempel pada kulit wajahnya yang lengket. Menciptakan sembilu baru pada sisa tempat di hati Yejin—yang sebelumnya sudah terisi oleh sederet luka menganga yang cukup besar.

Tanpa sadar, ain milik Yejin tiba-tiba saja dikelilingi oleh kaca berbahan dasar airmata—sukses melenyapkan guratan halus pada ujung bibir Taehyung dalam sekejap—membuatnya ikut terhanyut dalam suasana haru biru yang kini menyebabkan keduanya membungkam mulut masing-masing.

Tak pernah terbayangkan dalam benak seorang Han Yejin, bahwa hubungannya dengan pria Kim itu akan menjadi serumit ini. Terus dihantui oleh bayang-bayang serentetan kejadian buruk yang menimpa sang lelaki bukan merupakan beban mudah yang harus ditanggungnya. Yejin tahu jika dia ada di pihak yang benar. Sampai saat ini, Yejin seakan menutup kedua rungunya pada apa yang dunia luar itu katakan tentang sang lelaki. Yejin tidak peduli dengan cacian ataupun makian yang terus datang bertubi-tubi, terlebih semua itu ditujukan untuk lelakinya.

Yejin percaya kalau Taehyung tidak bersalah.

Telapak tangannya yang dipenuhi oleh sensasi hangat bergerak menyusuri permukaan kulit pada pipi Taehyung yang tirus. Berusaha menyalurkan berjuta rasa rindu yang mengendap di lubuk hati. Seakan menerima, Taehyung pun menggapai pergelangan tangan Yejin dengan tangan kanannya—masih dengan Yejin yang kini membelai halus kulit arinya.

“Sampai kapan kau akan terus lari seperti ini Taehyung-a?” Tanya Yejin dengan suara bergetar. Terdengar lirih, sangat lirih. Mengutarakan sebuah pertanyaan yang akhir-akhir ini mengitari isi kepalanya selama hampir berminggu-minggu. Hatinya terlampau lemah untuk menahan gejolak airmata yang sedari tadi sudah menumpuk di pelupuk mata.

Melihat bulir air mata itu perlahan mulai jatuh, jelas saja membuat batin Taehyung tersakiti— bagai tertusuk sebilah mata pisau yang tajam. Taehyung akan menjadi pria paling bodoh di dunia, jika ia membiarkan sungai kecil di kedua mata Yejin terus mengalir. Lantas, Taehyung mengusap jejak-jejak airmata yang tersisa dengan kedua ibu jarinya—kemudian berkata dengan raut keputusasaan begitu kental menghampiri ekspresi wajahnya. Menegaskan sebuah jawaban yang akan selalu Taehyung ucapkan dengan nada tidak kalah lirih.  

“Aku tidak tahu,”

“Komandan, target terlihat memasuki sebuah rumah di komplek ini. Para anggota yang lain sedang memeriksa menuju ke dalam,” lapor seorang anggota polisi berpakaian lengkap dengan senjata api ditangan. Sang lawan bicara yang disebut-sebut sebagai komandan hanya mengangguk mengiyakan. Mengawasi kinerja para bawahannya yang kini tengah mengendap-endap untuk memasuki sebuah rumah bercat putih yang tampak sepi.

Salah satu diantara para anggota memberikan instruksi untuk tidak membuat keributan dengan telunjuknya yang menempel pada ujung bibir. Senjata lengkap diacungkan tepat di depan dada, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu sang target menunjukkan adanya perlawanan.

Bagian halaman sudah berhasil mereka lewati. Kini, mereka sedang sibuk berbagi tugas untuk berpencar ke segala penjuru arah. Yang tersisa mengatur rencana untuk menyergap sang target dengan terlebih dahulu melewati bagian pintu utama. Berhasil dengan tidak membuat suara mencurigakan, mereka melewati bagian pintu utama dengan sangat hati-hati. Masing-masing mata mengawasi area sekitar dengan tatapan menyelidik.

Mereka kembali berdiskusi tanpa suara untuk mengatur rencana selanjutnya. Kini tersisa hanya delapan anggota diantara mereka. Setelah anggukan dari masing-masing anggota menyetujui, mereka lantas berpencar ke sudut ruangan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Dua anggota bergegas mengangkat senjata menuju bagian dapur. Dua anggota selanjutnya melangkah dengan penuh kesiagan menuju ruang tengah. Lalu, dua anggota lain dengan pasti menuju ke arah halaman belakang. Dan sisanya, merajut langkah senyap menuju sebuah kamar berpintu kayu yang berada di ujung ruangan.

Pistol dengan tiga peluru kembali mereka acungkan di depan dada. Dan tanpa basa-basi lagi, mereka mendobrak pintu kamar itu dengan tendangan yang cukup kuat dari keduanya. Menyebabkan bunyi bedebum keras mengudara akibat hantaman keras antara dasar pintu dengan tembok yang menumpahkan debu-debu halus.

Ternyata pintunya dikunci dari dalam.

Didapati seorang gadis yang tengah berdiri menghadap jendela yang terbuka lebar. Angin malam yang berhembus melambaikan surai legamnya ke segala arah dengan anggun. Kendati tidak ada pergerakan yang terkesan tiba-tiba dari sang objek, kedua anggota kepolisian tersebut dengan cepat mengarahkan ujung pistolnya pada sang gadis.

“Dimana Kim Taehyung?!”

fin.

A/N: Well, ini adalah ff pertama ane disini dengan genre seperti ini. So, maklumin aja kalo masih ada banyak kesalahan-kesalahan didalemnya -_-v terimakasih buat kalian yg sudah menyempatkan diri membaca cerita abal ini :”) mind to review? ^_^

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] Run – (Ficlet)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s