[BTS FF Freelance] Aku Bukan Untukmu ( present for V’s birthday ) – (Oneshoot)

aku-bukan-untukmu

[Special FF Freelance] Aku Bukan Untukmu ( present for V’s birthday )

deergalaxy0620 || Romance, Sad || Kim Tae Hyung a.k.a V, Irene Bae ( Red Velvet ) || PG-15 || Oneshoot || Tae Hyung tak ingin melihat Irene setelah hubungan mereka berakhir.

FF ini murni karya author. And this is the present for celebrate V’s birthday.

https://deergalaxy0620.wordpress.com/2016/12/30/special-ff-freelance-aku-bukan-untukmu-present-for-vs-birthday/

 

Suasana di sebuah rumah minimalis begitu tegang, dengan adanya saling adu mulut dari kamar tidur seorang gadis. Sebuah pertengkaran kecil yang selalu mempertahankan ego, mementingkan alasan mereka sendiri daripada mengerti pemikiran orang lain yang akan menguntungkannya. Keluarlah seorang lelaki yang tengah memijat keningnya, berusaha untuk tidak lagi menimbulkan kemarahan dari seorang gadis, yang diduga merupakan kekasihnya. Pertengkaran tersebut tak jauh dari alasan untuk tak melanjutkan hubungan mereka. Entah apa yang membuat hubungan begitu renggang, padahal di kampus mereka adalah pasangan favorit dari seluruh mahasiswa berstatus kencan.

Apa yang Kim Tae Hyung inginkan, yakni mengakhiri hubungan dengan kekasihnya, Irene Bae, membuat hati gadis itu mudah tersulut amarah. Tak mengerti apa yang membuat Tae Hyung mudah untuk tak lagi berpacaran dengan Irene, tetapi gadis itu selalu menolaknya karena suatu hal. Sayangnya Tae Hyung tak membutuhkan satu hal dari Irene, melainkan membutuhkan waktu untuk mendinginkan suasana setelah putus. Tae Hyung pasti memiliki alasan yang kuat untuk mengakhiri hubungan dengan Irene.

“Lihatlah seluruh mahasiswa di kampus kita! Mereka lebih mendukung kita daripada pasangan lain! Sementara dirimu?! Kamu hanya mementingkan ujian dan kebersamaanmu dengan teman-temanmu daripada aku! Kamu anggap aku ini apa, hah?!” Tae Hyung itu lelaki yang masih bisa mengatur emosinya jika Irene sudah kehilangan kesabarannya. Lebih menyibukkan pada apa yang Tae Hyung lakukan, demi membisukan segala kemarahan Irene.

“Kenapa kamu tak menjawab pertanyaanku?! Apakah kamu tuli dan bisu?! Pantas saja mengapa banyak sekali wanita yang tak menginginkan kamu untuk berkencan!” Sekali Irene kembali berada di puncak amarahnya, Tae Hyung justru tak acuh dan seraya ia tak peduli dengan segala perkataan Irene.

“Kamu benar-benar pria brengsek! Bajingan!”

“Iya, benar, aku memang lelaki bajingan. Kenapa kalau begitu?” Tae Hyung melontarkan satu pertanyaan kepada Irene, membuat gadis itu membungkam dan menahan amarahnya.

“Setiap aku bersama teman-temanku, kamu sudah menghancurkan segalanya. Menganggap semua teman-temanku adalah musuhmu, sementara mereka sudah seperti keluarga bagiku. Lalu, kamu juga menganggap semua mahasiswi di kampus kita adalah perusak hubungan kita, sementara mereka sudah seperti saudaraku sendiri. Lalu juga, kamu juga menganggap pembelaan dosen kita terhadapku hanyalah fiksi belaka, padahal aku membutuhkan dosen untuk membantu proses pembelajaranku. Sementara dirimu? Benci, marah, egois dan dendam selalu menyatu di hatimu setiap aku mendekati semua orang yang kamu anggap musuhlah atau apalah. Itulah sebabnya mengapa kamu tak memiliki banyak teman dan hanya menginginkanku untuk berkencan. Apakah kamu akan menganggapku musuh setelah aku mengatakan ‘Irene nuna, mari kita putus’? Setelah ini, kamu mungkin akan menganggapku musuh terbesar di kampus dan akan merusak segala aktivitas pembelajaranku, demi membahagiakan orang tuaku yang meninggal dunia sejak aku kecil. Kamu boleh saja menganggapku musuh, bahkan kamu boleh merenggut nyawaku dengan tanganmu sendiri. Tetapi, selama kamu menganggap semuanya musuh, menganggap mereka yang paling egois, aku tak akan memaafkanmu dalam hal apapun. Ingat perkataanku baik-baik, Irene Bae.”

Apa yang dilakukan setelah Tae Hyung menjelaskan panjang-lebar, kembali menyulut amarah dari hati Irene. Tae Hyung langsung saja melangkah keluar dari rumah Irene, menuju ke suatu tempat yang dapat mendinginkan hatinya. Telinganya tuli saat Irene berteriak menyebutkan namanya, bahkan gadis itu mulai menangis sekaligus emosi yang masih mendidih di ubun. Berada dalam puncak stres sekaligus depresi berat setelah ditinggal kekasihnya yang masih memikirkan keadaan di lingkungan.

Setelah kini menjauh dari rumah Irene, kali ini Tae Hyung mulai menangis di tengah keramaian kota Seoul. Menangis penuh patah hati dan pilu, Tae Hyung tak mampu menahan tangisannya setelah beberapa orang melihatnya. Seketika pikirannya kembali terngiang saat-saat ia berkencan dengan Irene, namun semuanya melebur diterpa angin badai. Irene yang dulu, kini berubah drastis menjadi Irene yang penuh egois dan setan. Dan Tae Hyung harus rela meninggalkan gadis yang dia cintai, demi menjadi dirinya sendiri.

Sebelum hubungan mereka kandas, Tae Hyung sudah mengetahui berapa kali ia terus membuang Irene, demi menjadi dirinya sendiri. Meninggalkan Irene, mencampakkan Irene, bahkan menyakiti Irene hanya untuk demi kebaikannya sendiri, entah berapa kali Tae Hyung telah membuat Irene menderita. Janji-janji yang mereka ucapkan, demi menjaga hubungan romantisme di antara mereka, justru di antara merekalah yang ingkar tanpa berpikir lebih panjang.

Dan Tae Hyunglah yang memutuskan janji-janjinya, begitu juga dengan Irene.

***

“Aku sudah melindungi diriku sendiri, tetapi batinku terus tersiksa. Penyesalan selalu datang di akhir, namun aku benar-benar tak ada penyesalan. Aku benar-benar mencintai diriku sendiri tanpa memikirkan berapa kali aku terus menyakiti Irene hingga membuangnya.” Tae Hyung selalu berbicara sendiri disela-sela kegundahan hatinya setelah putus dengan Irene. Terduduk lemas di dekat jendela yang terbuka, membiarkan salju menyelinap masuk ke dalam kamarnya yang minimalis, tetapi tampak sederhana.

“Apakah aku terus berada disini dan membolos kuliah? Tidak, aku tidak boleh membolos kuliah, hanya saja aku harus menghindari kontak mata dengan gadis egois itu.” ujar Tae Hyung untuk dirinya sendiri, tetapi pikirannya terus berjalan seiring kegundahan hatinya terus dilanda setelah patah hati.

“Aku masih baik-baik saja, Tae Hyung-ah,” gumam Tae Hyung yang tanpa sadar air mata terus mengalir, “Andai waktu berputar balik, seharusnya aku tak usah menembak Irene disaat-saat genting menghadapi ujian harian. Aku benar-benar bodoh sekarang.” Tangannya memukul pelan kepalanya, putus asa sekaligus menyesal karena telah berkencan dengan Irene. Tak lama kemudian, lelaki bersurai hitam itu kembali merenungkan kesalahannya, menunduk hingga wajahnya tak terlihat lagi.

Dalam tundukannya, Tae Hyung kembali menangis penuh pilu. Hatinya terasa sakit dan menganggap dirinya memang bajingan. Benar, lelaki bajingan tanpa memiliki hati dan pikiran. Hanya ego yang selalu dipertahankan, sementara sisanya dibuang tanpa berpikir. Tae Hyung benar-benar menyesal dan waktu tak dapat berputar kembali. Terlanjur menyesal dan ingin berteriak penuh kemarahan. Sayangnya, dia bukanlah lelaki yang mudah marah jika suatu hal yang dia sesali, padahal hatinya terbakar dan tersulut emosi. Justru dirinya lebih memilih mendinginkan hatinya daripada menambah suasana menjadi tegang dan penuh badai. Dan tak ada lagi pilihan selain diam sebagai meringankan suasana.

***

Saat Tae Hyung sedang dalam berstatus sudah memiliki kekasih, dia selalu duduk di belakang dan lebih memilih duduk di samping kekasihnya itu. Sesekali ia meminta bantuan kepada gadis itu, matanya tetap terfokus ke papan tulis sekaligus bibir dosen yang terus mengoceh, dengan melontarkan materi yang lebih sulit dari Teori Big Bang. Tangannya pun ikut bergerak sembari telinganya menangkap apa yang dibicarakan dosen, meskipun tulisannya kacau dan hampir tak terbaca oleh dirinya sendiri. Terkadang, mereka selalu mengobrol tanpa memikirkan perasaan dosen yang selalu memanggil mereka berkali-kali, tetapi Tae Hyung cukup merasa bersalah dengan dosennya yang meraih gelar profesor. Hal itu dikarenakan Tae Hyung menyukai dosen bergelar profesor, meskipun usianya tua.

Sekarang, setelah Tae Hyung putus dengan Irene, kini lelaki itu duduk di barisan depan, tetapi bukan barisan pertama atau kedua. Tae Hyung yang selalu mengobrol dengan Irene, kini hanya terfokus kepada apa yang dibicarakan dosen dengan teori yang lebih sulit dari Teori Big Bang. Dirinya lebih memilih duduk di samping beberapa sahabatnya daripada Irene. Jangan tanya jika para sahabat Tae Hyung selalu bertanya tentang Irene, Tae Hyung sudah cukup sulit untuk mengungkapkan hal yang terjadi sekarang. Hatinya terkadang merasa sakit dan kembali dilanda kegundahan akibat meminta putus dengan Irene. Dirinya lebih memilih diam jika ada yang bertanya sesuatu tentang Irene, tetapi justru bibirnya tak bisa diam untuk menjawab. Entah ada yang salah dari diri Tae Hyung.

Setelah ada kelas di kuliah, Tae Hyung tak tahu harus kemana ia tuju. Saat bersama dengan Irene, mereka justru pergi berkencan di taman yang tak jauh dari gedung fakultas. Taman tersebut memang dikunjungi untuk berkencan atau sekadar bermain, tetapi tempat itulah yang paling cocok dijadikan momen yang indah untuk Tae Hyung dan Irene. Tae Hyung masih ingat sekali taman yang dia kunjungi bersama Irene. Masih ada pasangan kekasih yang terus berkencan di taman, bahkan pasangan tersebut tak pernah berubah. Sayangnya Tae Hyung tak lagi bersama Irene.

Taman itulah tempat aku memberikan ciuman pertama kepada Irene. Sekarang, semuanya melebur diterpa angin hingga bibirku masih terasa hangat karena ciuman. Batin Tae Hyung saat memasuki taman yang dipenuhi tanaman hijau, meskipun rasanya berat untuk kembali mengunjungi taman itu. Kemudian, lelaki itu menghampiri kursi taman cokelat di dekat pohon. Menikmati sejuknya udara yang dapat menyembuhkan hatinya yang terluka, tetapi air mata tak dapat lagi membendung dan terkadang air mata selalu menitik. Setitik rindu yang membuatnya tak bisa menghapus masa lalunya yang indah, membiarkan tempat ini menjadi tempat terakhir sebelum meninggalkan taman ini.

Tae Hyung memutuskan untuk pulang ke rumah tanpa berpikir kembali tujuannya setelah ini. Alih-alih matanya kembali bertemu dengan Irene yang tengah berdiri tegap di depan pagar halaman. Tae Hyung mengetahui kondisi Irene setelah hubungan mereka berakhir. Gadis bersurai cokelat muda itu menangis dalam diam, memandang lurus beberapa pasangan yang selalu memamerkan kemesraan di tempat umum. Mereka tak malu untuk menunjukkannya, membuat Irene terus terluka. Sementara Tae Hyung terpaksa berpaling ke samping kiri untuk melangkah menuju rumahnya. Sayangnya, Irene mengetahui kehadiran Tae Hyung dari taman, tetapi Tae Hyung mengabaikannya saat Irene menyahut namanya. Matanya terus memandang ke depan untuk segera fokus untuk melindungi dirinya sendiri.

Langkahannya kian terhenti saat sebuah pelukan hangat dari belakang, memeluk Tae Hyung erat penuh kehangatan. Irene memeluknya, membuat Tae Hyung menahan sakit yang kembali melebar. Dalam pelukan, Irene menangis dan meminta Tae Hyung untuk tidak meninggalkan sisinya.

“Aku merindukanmu, Tae Hyung-ah,” ujar Irene dalam tangisannya. Tae Hyung tak merespon ucapan yang terlanjur manis dan hangat itu. Dalam sekejap lelaki itu mematung di tempat, membiarkan pelukan itu menjadi tempat dirinya kembali dilanda kegundahan.

“Aku tahu ini semua salahku karena telah mengacaukan keadaanmu. Ini bukanlah hal yang menyakitimu, tetapi aku tak bisa menjaga ucapanku. Aku memang gadis paling egois dan selalu mementingkan diriku agar kamu dapat memahamiku. Tetapi, ini semua karena aku tak bisa meninggalkanmu begitu saja dan aku tak mau jika kamu meninggalkanku. Meskipun aku sering dibuang olehmu, aku tetap bersabar dalam hati dan tetap mencoba untuk membuatmu bahagia di sisiku. Dan aku…”

Perkataan Irene terputus saat Tae Hyung berhasil melepaskan pelukan hangat itu, dari belakang. Memutarkan tubuhnya menghadap Irene, kemudian memandang wajah paras cantiknya yang basah akibat air mata. Tae Hyung juga membenci gadis itu menangis, meskipun ini semua karenanya. Membiarkan jemarinya menyentuh wajah Irene hanya untuk mengusap pelan air matanya, hanya untuk membuat gadis itu tak lagi menangis.

“Aku benci seorang gadis menangis, meskipun aku bukan lagi untukmu. Gadis yang selalu menangis itu adalah gadis yang paling pengecut di dunia. Dan hal itu merupakan sesuatu yang membuatku marah dalam diam,” Tae Hyung mulai membuka suaranya, tersenyum kecil penuh kekecewaan, “Tetapi hal itu tak mampu membuatku terus kembali kepadamu. Jika saja waktu dapat berputar kembali ke masa dimana kamu mengajakku berkencan, aku seharusnya menolakmu dengan halus karena kamu lebih tua dariku. Mengapa hanya aku yang diajak berkencan olehmu? Masih banyak lelaki yang lebih pantas dariku, terutama Park Bo Gum.” Lanjutnya sedikit menahan tawanya, penuh kekecewaan yang diselip kesinisan.

“Kim Tae Hyung… aku mohon sekali lagi… berikan aku kesempatan kedua untuk mencintaimu lagi. Aku berjanji akan menjadi seorang gadis yang lebih patuh dan menjaga kesopananku. Aku juga berjanji tak akan menganggap semua di dunia ini adalah musuhku, demi melindungi dirimu. Aku mohon kepadamu, Tae Hyung-ah.” pinta Irene penuh memohon agar meyakinkan Tae Hyung untuk kembali kepadanya.

“Sayangnya, aku tak ada kesempatan kembali untuk bersamamu. Dengan hormat dan sopan, aku tak lagi menyayangimu karena kini aku bukan untukmu. Masih ada lelaki lain yang lebih pantas dan lebih baik dariku. Kamu juga harus memperbaiki kesalahanmu secara perlahan-lahan karena terlalu cepat justru menambah kesalahanmu dan kamu akan dikucilkan oleh teman-temanmu.” Tae Hyung melebarkan senyum kecilnya, menambah rasa sakit di hati Irene yang sudah berapa kali diterpa badai.

“Aku pamit terlebih dahulu.” Tae Hyung kembali meninggalkan Irene menuju rumahnya, mempercepat langkahannya untuk menghindari Irene sesegera mungkin. Saking terburunya Tae Hyung untuk menjauh dari Irene, yang kembali menangis histeris karena ditinggal kembali, hingga lelaki itu memejamkan matanya setelah sesuatu menabrak dirinya. Tubuhnya terpental tak jauh dari sesuatu yang bergerak itu, tepat di depan mata Irene dari jauh.

Sakit. Sangat sakit yang dialami Tae Hyung. Telinganya masih berfungsi dengan baik, mendengar riuh keramaian orang lain yang berkumpul di dekatnya. Tubuhnya seketika meremuk hingga mengeluarkan darah dari kepalanya serta tak mampu bergerak sedikitpun. Entah apa yang terjadi hingga dirinya mengalami kecelakaan tabrak lari, menimbulkan kehebohan dari beberapa mahasiswa.

Matanya samar-samar menangkap Irene yang tengah terkejut setelah mantan kekasihnya itu tertabrak mobil. Tae Hyung tersenyum kecil, tak mampu mengucapkan satu kata apapun untuk Irene. Bahkan, Irene sempat mengguncang tubuh Tae Hyung agar sadar, namun lelaki bersurai hitam itu tak dapat menangkap cahaya yang dapat bangun dari insiden tabrak lari. Dan tanpa sadar juga bibir lelaki itu dikecup pelan oleh bibir Irene, hanya sekadar menempel. Memandang mata Irene yang terpejam sembari menikmati ciuman yang bertambah heboh di kalangan mahasiswa.

Kau bodoh. Mengapa kamu kembali menciumku? Batin Tae Hyung sedikit kesal disela-sela menahan sakitnya tubuh yang kian meremuk. Akan tetapi, hatinya berdebar tak karuan hingga lelaki itu dapat merasakan ciuman hangat itu. Tak sadar Tae Hyung memejamkan matanya, menikmati ciuman ringan yang hanya sekadar menempel saja. Serasa mereka kembali berputar waktu menuju masa lalu yang penuh kenangan. Akan tetapi, itu hanyalah sesaat saja saat Tae Hyung kini tak sadarkan diri. Mengucapkan selamat tinggal dalam batin untuk Irene, mantan kekasih yang terindah dalam hidup Tae Hyung.

Aku pamit terlebih dahulu, Irene-ssi. Batin Tae Hyung yang kini tak sadarkan diri, merasakan jantungnya tak lagi memompa layaknya manusia normal. Denyut nadinya pun ikut tak berdenyut dan mengalir. Tae Hyung yang dicintai Irene, kini telah tiada di dunia. Tae Hyung yang dicintai Irene, telah hidup tenang di surga. Dan Tae Hyung yang dicintai Irene, telah bahagia dengan dirinya sendiri.

Irene telah memahami maksud dari pamit yang keluar dari bibir tebal Tae Hyung. Tak hanya sekadar memahami, melainkan ikhlas penuh kesabaran saat tahu lelaki itu telah tiada. Membiarkan Tae Hyung telah pergi dari sisinya, menjadikan kenangan yang terpahit dalam benak Irene. Irene juga mengucapkan terima kasih kepada Tae Hyung. Berkat Tae Hyung, Irene merasa sangat bahagia di sisinya selama mereka berkencan, meskipun penuh keegoisan dari diri gadis itu. Setidaknya kenangan mereka telah membuat Tae Hyung ikut bahagia hingga lelaki itu menghembuskan napas terakhirnya. Membiarkan Tae Hyung dapat bertemu dengan orang tuanya yang terlebih dahulu pergi dari anaknya. Bahagia disana setelah lelaki itu bertemu dengan orang-orang yang dia cintai, meskipun melangkah mendahuluinya dalam kematian.

Terima kasih, Kim Tae Hyung, telah membahagiakanku hingga menyadari kesalahan terbesarku.

 

END

 

#HappyTaehyungDay

30 Desember 2016

Pukul 13.30 WIB

 

Aduuuuhhhhh… maafkan aku ya karena isinya jelek banget dan alurnya kecepatan. Aku lagi sakit kepala, jadi semua ideku dari semalam udah hilang. Kalau mau beri komentar, rapopo apa yang perlu diperbaiki atau apalah. Terima kasih udah membaca FF yang penuh gaje ini sekaligus idenya yang terlalu mainstream ini ☹.

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s