[BTS FF Freelance] Enchanting Man – (Chapter 1)

enchanting-man-2

Enchanting Man (Chapter 1)

Author : Raehywh14 || Title : Enchanting Man
Cast : OC’s Rae, BTS’s Jeon Jungkook, BTS’s Min Yoongi
Other Cast : OC’s Milly
Genre : Au , Romance, Fluff, Little bit action
Cr : MjArt @ Facebook  
Rated : PG-15 || Length : Chaptered

Chapter 1

HAPPY READING

“Si pembuat perhatian memiliki maksud tertentu,”

Kedua dadu itu bergerak di tangan cantiknya selama empat puluh tujuh menit lepas dari pukul delapan malam. Obisidiannya meneroka ke sepenjuru lorong mewah bergaya Eropa yang sepi. Hanya ada beberapa diantaranya yang mengenakan pakaian sama. Ia menyandarkan diri di samping meja yang di atasnya terdapat barang antik berupa patung kuda dengan hiasan permata. Ia menilik ke arah rekan yang berjarak dua pintu dari.

Degusan pelan tercipta kala dwimaniknya mendapati keadaan rekannya. Gadis bersurai coklat sebahu yang terlelap dalam posisi duduk bersila. Kebiasaan rekannya yang sangat heroik dalam keadaan tertentu. Setelah cukup lama menunggu dalam keadaan berdiri, seorang yang keberadaannya dinantikan pada akhirnya menampakkan diri.

Ia menghentikan kegiatan memutar dadu dan menggenggam erat keduanya. Ia tertunduk pelan, mengutaran rasa hormat kepada seorang yang akan lewat. Derap langkah beberapa orang mulai terdengar. Dari sudut netranya, ia mendapati keberadaan empat orang yang mengenakan jas hitam –sama sepertinya dan seorang pemuda berpakaian kasual dengan surai merah yang tidak terlalu terang.

Pemuda itu menenggelamkan kedua tangan di saku celana. Tatapannya tajam, cara berjalannya yang percaya diri dan mempesona. Siapapun tidak akan bisa menempis pesona milik Min Yoongi. Putra kedua presiden Min yang senantiasa menjadi idola banyak gadis di luar sana. Wajah rupawan, sejuta bakat terpendam serta latar belakang yang mendukung. Tidak akan ada yang mampu menolak Min Yoongi selagi pemuda itu berada di depan mata.

Dwimanik Rae acap kali melirik ke arah Yoongi gugup. Bahkan ia terlalu menyimpan banyak udara dalam pipinya. Harus gadis itu akui, menolak pesona Min Yoongi sama dengan terjun ke kandang buaya. Yang mana yang diinginkan? Diselamatkan oleh banyak hal sederhana atau masuk ke kandang buaya dan menerima akibatnya? Lebih baik Rae menerima pesona Min Yoongi dengan baik. Karena hal tersebutlah, Rae termasuk dalam salah satu gadis yang ingin menjadi kekasih seorang Min Yoongi.

Ada satu hal lagi yang hanya diketahui Rae. Min Yoongi tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Tidak ada yang tahu kecuali orang-orang yang berada di lingkup pemerintahan sang presiden. Salah satunya, Rae.

Sekilas, tidak ada yang salah dari gadis itu. Paras cantik, tubuh proporsional, ramah serta mudah berbaur dengan siapa saja. Seperti gadis idaman para lelaki yang dicari-cari. Tetapi, pekerjannya sebagai pengawal pribadi anggota keluarga presiden membuat seorangpun tidak ingin menjalin hubungan dengannya.

Bahkan ia kerap bertanya. Apa ada yang salah dengan bekerja sebagai pengawal pribadi anggota keluarga presiden? Orang yang mengenalnya mungkin berkata tidak. Namun sebagian besar lelaki secara terang-terangan akan mengiyakannya.

Rae menyukai pekerjaannya sebagai salah satu pengawal pribadi. Dari pekerjaannya saat inilah, ia mampu membiayai kelangsungan hidup keluarganya. Penghasilan yang luar biasa berlimpah dan Rae hampir kelelahan untuk menghabiskannya dalam waktu satu bulan. Penghasilan yang didapatkannya berdasarkan seberapa jauh keterlibatan kinerjanya dalam mengawal salah satu anggota keluarga presiden. Dan untungnya, Rae senantiasa mendapatkan lebih dari yang dikira.

Kembali ke realita, di mana Rae tertunduk hormat kepada seorang Min Yoongi. Tungkai Yoongi berhenti tepat di hadapan Rae. Rae sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang akan Yoongi lakukan. Didapatinya tatapan tajam Yoongi yang menghunus ke arahnya sesaat setelah ia mendongakkan kepalanya sedikit. Dengan cepat ia tertunduk kembali sembari menahan degupan jantungnya.

Sebelum Yoongi kembali berjalan, pemuda itu menampilkan seringaiannya ke arah Rae. Rae tetap menunduk tanpa mengetahui apa yang terjadi. Begitu Yoongi kembali berjalan, Rae mendongakkan kepalanya dan mengembuskan napas lega. “Dia itu mengerikan, tapi aku menyukainya.” Selagi bergumam, gadis itu menggerakkan tungkainya bersama dengan rekan-rekannya di belakang Yoongi.

“Kau tahu? Hari ini, Yoongi terlihat sangat tampan.” Rae mengangguk pelan, sudut matanya menilik ke arah Milly yang rupanya telah terjaga.

“Dan kau tahu? Tidurmu tadi itu pulas sekali, rasanya aku ingin tertidur juga. Tapi tidak bisa,” Milly menguap pelan. Mendengar perkataan Rae mengenai tidur kecilnya tadi membuat ia ingin terlelap lagi.

“Terima kasih sudah memberitahu, aku ingin tidur lagi. Tapi di mana ya?”

Rae memutar kembali kedua dadu yang berada di genggaman. Kebiasaan yang telah mengakar itu membuat siapapun tahu bahwa ia bosan. Milly menilik ke arah tangan kanan Rae yang disibukkan dengan kegiatan memutar dadu. “Kau bosan? Apa yang membuatmu bosan?”

Rae tetap memutar kedua dadu kecilnya. Dengan pandangan lurus ke depan, ia menjawab pertanyaan Milly apa adanya. “Aku bosan karena tidak ada tantangan baru di saat aku bekerja. Yah, sekalipun aku menyukai pekerjaan ini tapi tetap saja, tidak ada yang menarik dan tidak ada yang berhasil menguras tenaga dan pikiranku.”

Mendengar jawaban Rae membuat Milly mencibir dengan kedua mata sipitnya. “Anggap saja kau sudah melakukannya, bukankah dengan bekerja santai seperti ini kita lebih mudah mendapat uang tanpa pengorbanan apapun? Seharusnya kau bersyukur Rae,”

Rae diam. Tidak ingin menanggapi perkataan Milly lebih lanjut yang akhirnya terjerumus dalam pertikaian singkat. Walaupun singkat, setidaknya Rae memilih untuk berdamai dengan gadis yang hobi tidur itu.

“Baiklah, tim dua ikuti saya dan tim satu kawal tuan muda Min ke studio musik.” Rae bergegas pergi ke mobil yang berada di belakang mobil pribadi Yoongi. Ia tergabung dalam tim satu. Sementara rekannya –Milly berada di tim dua. Tidak ada yang tahu pasti mengapa Rae tergabung dalam tim satu yang sebagian besar diantaranya para petarung hebat.

Pada dasarnya, Rae hanya belajar bela diri pada tingkatan tengah. Seharusnya gadis itu berada di tim dua bersama dengan Milly. Tidak ingin berpikir panjang, maka Rae hanya menuruti ketika ia berada di tim satu. Setidaknya, ia bisa melihat Yoongi dalam keadaan apapun dan melindungi pemuda itu.

Selama ini kala ia berada di tim satu, ia tidak sabar untuk menunjukkan aksi heroiknya kepada Min Yoongi. Kemudian, ia dapat membayangkan ekspresi kagum Yoongi jika hal tersebut benar-benar terjadi. Masalahnya, tidak ada hal apapun yang mampu dilakukan dengan aksi heroik. Sejenak, Rae menyesali keputusannya untuk tergabung dalam tim satu.

Berbeda dengan Milly, tim dua seringkali menunjukkan aksi heroik ketika memeriksa seluruh ruangan. Dan itu sangat menarik untuk menampilkan ekspresi kagum. Di dalam mobil, Rae tidak banyak bicara. Selagi ia mendengar pembicaraan rekannya yang lain, gadis itu memilih untuk diam alih-alih menyahuti perkataan mereka.

“Rae, bagaimana jika kau yang menjaga Yoongi di dalam studio?”

Pertanyaan salah satu rekannya membuat lamunannya terhempas. “Kenapa harus aku? Itu tugasmu, oppa.” Pemuda yang dua tahun lebih tua darinya itu berdecak kesal.

“Aku harus mengerjakan sesuatu, kekasihku berada di sekitar studio dan aku harus bertemu dengannya. Apa kau tidak merasa kasihan kepadaku eoh?” Kim Taehyung berkata dengan ekspresi yang tidak Rae sukai. Rae mendegus pelan, sejurus kemudian ia mengangguk.

Bahkan saat ini hatinya terbang dari tempatnya. Menjaga Yoongi di dalam ruangan merupakan suatu keberuntungan. Ia sempat berpikir apabila terjadi hal-hal yang membutuhkan aksi heroik, tentu saja ia akan mempersiapkan gerakan merodanya sebaik mungkin. Rae tidak sabar untuk mengawasi Yoongi di dalam studio. Yang ia ketahui selama bekerja menjadi salah satu pengawal Min Yoongi, pemuda itu piawai dalam bermain piano.

Sampai saat ini, Rae tidak pernah mendengar permainan piano Yoongi. Ia berharap suatu saat nanti bisa mendengar permainan piano Yoongi. Dan hari inilah yang dimaksud.

Rae tidak pernah tahu bila terdapat sisi hangat dari diri Yoongi yang tersembunyi. Rae tidak pernah menduga, keterampilan seorang Min Yoongi dalam bermain piano memang sangat baik. Tidak salah jika pemuda itu menjadi idaman para gadis. Di sampingnya, seorang wanita berumur empat puluhan mendengarkan permainan piano Yoongi dengan seksama.

Mau tidak mau, kedua sudut pipinya terangkat. Ketika permainan piano Yoongi berakhir, Rae dan wanita pembimbing tersebut bertepuk tangan dengan antusias. Menyadari sesuatu yang tidak familiar, Yoongi beralih pandang ke arah Rae. Rae membulatkan matanya dan menghentikkan kegiatan bertepuk tangannya. Wajahnya tertunduk pelan, ia tahu persis mengenai tatapan yang Yoongi ciptakan saat ini.

“Kemampuanmu semakin baik, kurasa kau siap untuk mengikuti lomba bulan depan.” Ujar wanita pembimbing senang. Yoongi mengembalikan pandangannya ke arah tuts piano dengan seringaian kecil.

“Sudah kukatakan, kemampuanku memang lebih baik dari siapapun.” Tangan kanan Yoongi menggapai sebuah partitur di atas piano-nya. Sebuah lagu yang rencananya akan ia persembahakan untuk seseorang saat hari itu tiba.

“Kapan kau akan memainkan lagu itu?” wanita bersurai pendek itu bertanya. Wanita itu benar-benar mengerti dengan rencana Yoongi untuk mempersembahkan lagu kesukaannya di hadapan seseorang.

“Sudah kukatakan bukan? Aku sedang menunggu waktu yang tepat,” Yoongi kembali menyimpan partitur tersebut dengan baik di atas rak-rak partitur lagu yang lain. Setelah ia menyimpannya, pemuda itu memilih untuk duduk di sofa yang berada di samping kiri Rae.

Mendengar pembicaraan Yoongi dan si wanita pembimbing membuat Rae berpikir keras. Ada beberapa kata yang harus gadis itu terjemahkan dalam berbagai persepsi. Yoongi. Pemuda itu memang menyimpan banyak hal yang mengejutkan dan tidak bisa diketahui oleh orang lain.

Dari indera pendengarannya, Rae mendengar adanya derap langkah cepat yang berangsur ke ruangan utama –atau lebih tepatnya ruangan yang ia tempati saat ini. Menyadari jika terdapat suatu kejanggalan, Rae beranjak dan mengambil kedua bilah pisau yang terikat di dalam sepatunya.

Yoongi terlonjak mendapati salah satu pengawalnya berada dalam posisi siaga. Si wanita pembimbing memilih untuk bersembunyi di suatu tempat yang cukup aman bila bahaya menyerang. Rae mendekat ke arah pintu. Saat itu pula terdengan suara tembakan yang mengenai salah satu jendela di ruangan tersebut. Sebuah tembakan yang berasal dari luar studio.

Yoongi menunduk, begitu juga dengan Rae yang menyadari akan tembakan susulan. Gadis itu merangkak, mencari celah yang pas untuk melihat si penembak yang berada di luar studio. Terdengar pula jeritan kecil yang terlontar dari mulut si wanita pembimbing. “Demi kaus kaki suamiku, aku baru saja mengganti kaca itu pagi ini.”

Merasa keadaan memburuk, Yoongi mengambil beberapa barang yang bisa digunakan sebagai senjata. Kala jemarinya hampir mencapai sebuah cutter, tembakan lagi-lagi terjadi. Membuat Yoongi lagi-lagi menundukkan diri untuk berlindung.

Ketika terjadi tembakan, Rae dengan lihai berlindung kemudian melemparkan pisau miliknya ke arah si penembak. Dan tentu saja, pisau tersebut mengenai dada si penembak sehingga menghentikan tembakan. Rae berbalik, ia menatap Yoongi dan si wanita pembimbing secara bergantian. “Sudah aman, kalian bisa keluar.” Yoongi dan si wanita pembimbing berdiri pelan, selagi memastikan keadaan sekitar. Keduanya khawatir apabila terjadi tembakan lagi.

Yoongi berdeham, berusaha untuk mencairkan suasana seolah tidak terjadi apapun. Si wanita pembimbing mengeluh pelan. Membuat Yoongi dan Rae menatapnya bingung. “Lihat apa yang orang itu perbuat, dia menghancurkan studio-ku.”

“Kau tidak sadar apa yang telah kau perbuat? Kau menggagalkan rencana pertama kita, kau pikir akan mudah menghadapi pengawal mereka setelah kejadian ini? Aku yakin setelah ini pria itu akan memperketat pengawalan terhadap seluruh anggota keluarganya terutama Min Yoongi. Dan mana temanmu itu? Ku dengar salah satu pengawalnya berhasil melemparkan pisau tepat pada dada Jimin. Apa itu benar?”

Jang Dongwoo memijat pelipisnya pelan. Sembari menunggu jawaban dari tangan kanannya, pria itu memikirkan rencana baru lagi. Di hadapannya, seorang pemuda mengenakan pakaian serba hitam tertunduk pelan dengan tangan mengepal.

“Kami berhasil menyingkirkan pengawal yang berjaga di luar studio, tetapi ada satu orang yang bersama dengan Min Yoongi saat itu. Dia pandai dalam membidik lawan, oleh karena itu pisau yang berada pada genggamannya berhadil mengenai dada Jimin hyung. Untuk saat ini, Jimin hyung berada dalam pengobatan. Kami siap melakukan apapun tuan,” pemuda itu berlutut dengan satu kaki. “Beri kami perintah!”

Dongwoo menampilkan seringaiannya. Ia mampu melihat adanya getaran pembalasan dendam yang berasal dari pemuda di hadapannya tersebut. “Sesuai dengan keinginanmu,”

Pemuda itu mendeongakkan kepalanya, menatap sang atasan dengan penuh tekad. Iris coklatnya menyiratkan sebuah emosi yang tiada berujung dan harus diutarakan sebaik mungkin. Balas dendam, ijinkan pemuda itu untuk melakukannya kali ini.

“Perintahkan yang lainnya untuk berkumpul di markas dan aku akan memberitahu apa rencananya,” Dongwoo menampilkan seringaiannya. “…Jeon Jungkook.”

Rae tidak pernah berpikir bahwa hari ini akan terjadi sebuah keributan seperti yang pernah ia impikan. Menunjukkan aksi heroik di hadapan Yoongi, Rae baru saja melakukannya. Tetapi jika hal tersebut benar-benar membahayakan Yoongi, Rae akan menghapus persepsi utamanya kala bersama dengan Min Yoongi. Yang terjadi lima belas menit sebelumnya merupakan sebuah perkara besar. Ancaman. Benar, sebuah ancaman yang harus dibereskan sebelum menelan korban.

“Rae, apa yang terjadi?” Milly menghampiri dengan napas tersengal. Rae yang sebelumnya bersandar kini menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Milly dengan cemas.

“Seseorang, baru saja menyerang Yoongi. Tembakan yang berasal dari luar studio, dan kabarnya beberapa orang berhasil membuat pengawal yang berada di depan studio tidak sadarkan diri.” Milly menatap rekannya terkejut.

“Benarkah? Lalu, di mana kau saat peristiwa itu terjadi?”

Rae kembali menyandarkan dirinya di dinding. Kepalanya mendongak, menatap arsitektur indah yang terukir di langit-langit kediaman besar milik presiden. “Saat itu aku bertugas untuk menjaga Yoongi di dalam ruangan. Dan sisi baiknya, aku berhasil membunuh lelaki yang melayangkan tembakan dari luar dengan pisauku.”

“Hebat! Akhirnya kau menunjukkan aksimu di hadapan Yoongi,” Rae mencibir rekannya kesal. Di saat seperti ini, Milly mengingatnya dengan baik. Nyawa Min Yoongi sedang terancam, bukan saat yang tepat bagi Rae untuk membanggakan aksi heroiknya tadi.

“Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan sebagai pengawal anggota presiden. Di saat seperti ini kau masih bisa mengatakan hal tersebut? Dasar,” Rae menatap lurus ke arah pintu besar yang berada di hadapannya. Di balik pintu besar tersebut, sleuruh anggota keluarga presiden sedang mengatur rencana baru untuk memperketat keamanan.

“Min… Yoongi…”

Yoongi memejamkan matanya lelah. Ia tidak tahu nyawanya akan terancam begitu cepat seperti ini. Satu hal yang membuat ia menyesal menjadi putra dari seorang Presiden. Ia tidak akan hidup lebih lama lagi. Yoongi menyebutnya sebuah kutukan. Sebagian orang yang berada di luar akan sangat senang bila berada di posisinya. Tetapi Yoongi tidak. Sangat tidak menyukai kedudukannya saat ini.

“Yoongi, kau baik-baik saja ‘kan?” saudara tertuanya bertanya dengan sangat cemas. Yoongi berdecak pelan, lalu ia mengangguk singkat. Di saat seperti ini, kedua orang tua bahkan saudaranya sangat mengawatirkan keadaannya. Namun, Yoongi tidak ingin mereka semua mengawatirkannya seperti ini.

Baginya, semakin banyak pengawal yang selalu mengikutinya, akan semakin banyak orang yang menyadari bahwa ialah putra kedua presiden Min. Serta, semakin banyak ancaman yang ia dapat dengan segera. Membawa pengawal dalam jumlah banyak sama dengan memberi tanda kepada musuh untuk menghampirinya dan memusnakan pengawal-pengawalnya.

Yoongi beranjak dari duduknya. Membuat setiap pasang mata mengarah padanya. Yoongi menatap kedua orang tuanya tajam, kemudian berlanjut kepada kepala pengawal Kim yang sedari tadi memilih untuk tertunduk.

Tanpa mengatakan sepatah kata apapun, Yoongi melenggang pergi. Saat ia membuka pintu, seorang gadis bersurai kecoklatan berada di hadapannya dengan tangan bersidekap. Pandangan gadis itu kosong. Melamun. Sehingga tidak menyadari Yoongi yang berada di ambang pintu.

Milly menatap Yoongi terkejut. Milly baru saja terlelap sejenak. Dengan cepat ia menggoyangkan tubuh Rae. Rae benar-benar melamun. “Aish, mengejutkan!” kejutnya ketika Milly berhasil menyadarkan dirinya.

Rae mendegus pelan sembari menyentuh dadanya. Rae berjengit. Milly mengacungkan jemarinya ke arah pintu besar ruangan yang berada di hadapannya. Dengan terpaksa, Rae mengikuti arah jemari Milly mengarah.

Oh!

Rae membulatkan kedua netranya. Tepat di hadapannya, seorang Min Yoongi melayangkan tatapan tajamnya kepada gadis itu. Rae menundukkan kepalanya. Begitu juga dengan Milly.

“Kau,”

Rae mendongakkan kepalanya perlahan. Ia menatap Yoongi dengan bingung. Yoongi baru saja menyuara dan dari apa yang dituju, sepertinya pemuda itu memanggilnya. Rae menilik ke arah Milly sejenak, berusaha menyakinkan diri bahwa Yoongi baru saja memanggilnya. Milly mengangguk.

“A-Aku?” Rae menunjuk dirinya sendiri ragu. Yoongi memutar bolanya matanya malas. Tidak lama setelahnya pemuda itu mengangguk. “Iya, kau…”

Rae lebih terkejut untuk saat ini. Min Yoongi benar-benar memanggilnya?

“A-Ada apa?”

Yoongi berdecak pelan sembari menyipitkan matanya. “Ikut aku!” tangan kiri memilih untuk menarik pergelangan tangan gadis itu. Rae terkejut dengan tarikan dari seorang Min Yoongi. Selagi Yoongi menariknya, gadis itu menatap tangan kiri Yoongi. Diam-diam, gadis itu tersenyum.

“Yoongi…”

TBC

Di tunggu kelanjutannya ya?

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] Enchanting Man – (Chapter 1)

  1. Wuaaaa kereeen disini yoongi jadi anak presiden. Baru chapter satu tapi uda seruuu! Aku penasaran siapa sih dalang dari semua ini trs jungkook disini sbg apa? Pembunuh bayaran kah atau apa? Ditunggu next chapternya ya kak
    Fightingg!!

    Like

  2. Ahhh ini keren sekali 😍😍😍
    Yungi jadi anak presiden keren bgt, boleh aku jagain gak hatinya? 😂😂😂
    Btw, Jungkook tuh disini jadi apa ya? Mafia atau apa?
    Semangat nulisnya kak💪💪

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s