[Boys Meet What?] Beats – Vignette

beats

Beats

Author Catstelltales Casts Kim Taehyung [BTS], Lunarish Young [OC] Genre Fantasy, school life Length Vignette Rating PG-17 Disclaimer Written to join a fanfiction contest entitled Boys Meet What on BTS Fanfiction Indonesia. I re-shaped ‘Lunarish Young’ from the name ‘Lunaris Pacificus’ based on the namegeneratorfun(dot)com.

© 2016 Catstelltales

“Kau tidak berhak atas detak jantung manusia, Lunarish.”

 [01]

Mimpi itu bukan terjadi sekali atau dua. Kejadian-kejadian itu selalu tentang dirinya ketika berada di tengah-tengah samudra tak berujung yang airnya berwarna sehitam tinta dan kilaunya siap menyambut siapa saja yang terjatuh ke dalamnya. Malangnya, kadang-kadang beberapa entitas lebih memilih jatuh dan tenggelam hingga terkubur di dasar laut, ketimbang harus mengambang di udara dan berada di antara hidup dan mati—atau dengan kata lain, berhadapan langsung dengan Rheamistic. Kaum tersebut menyerap energi dari setiap dua puluh detak jantung dari beberapa makhluk yang sudah ditargetkan menjadi mangsanya—kaum mortal seperti manusia dan hewan, vampir, werewolf, penyihir, dan siren. Jika tidak menemukan satu pun santapan, mereka bisa menangkap hantu lalu mengunyah ektoplasmanya—tapi ektoplasma tidak akan sama dengan detak jantung. Seorang mangsa bisa kehilangan sepuluh detak jantung dalam satu kali tatap muka, namun berselang-seling, sehingga mereka tidak murni kehilangan total—hanya saja, detak jantung mereka menjadi lebih lambat.

Rheamistic bisa hidup sampai satu tahun hanya dengan menyerap dua ratus detak jantung yang dicicil dari makhluk yang berbeda-beda. Bagaimanapun, mereka selalu menginginkan lebih.

Cara kerja para Rheamistic adalah dengan lebih awal mendeteksi detak jantung yang paling menonjol dari yang lainnya, dan mereka punya radar sendiri untuk itu. Mangsa empuk kaum Rheamistic adalah orang-orang yang sedang berada di level emosi tingkat tinggi: gugup, naik pitam, dan yang paling lezat adalah orang yang sedang jatuh cinta.

Kebablasan melahap detak jantung manusia bisa menyebabkan si korban pingsan atau bahkan tewas.

Rheamistic yang buas dan liar menyantap detak jantung korbannya tanpa selang hingga nyaris tak bersisa, dan meninggalkan jasad mangsanya di sembarang tempat, lantas membuat kematian mereka seakan itu hanya sebuah serangan jantung, keletihan, keracunan, atau apa saja. Tidak akan ada yang curiga, karena mereka tidak meninggalkan jejak apa pun seperti vampir.

Ini mimpinya yang kesepuluh, atau kesebelas, entahlah, ia tidak pernah menghitungnya. Ia sudah pasrah ketika seorang Rheamistic menghantamnya dengan kekuatan entah apa, yang membuatnya terlempar ke sana kemari, namun tak seujung tumit pun ia tercebur. Si Rheamistic tertawa seraya menjilati bibirnya, menikmati setiap detak yang berhasil dilahapnya tanpa belas kasihan.

Ia merasa kosong kemudian. Barangkali ia akan mati beberapa sekon lagi. Namun menunggu kematian datang menyambutnya terasa berabad-abad. Ia sudah tidak sanggup lagi jika masih diberi kesempatan hidup.

Ia berada di antara hidup dan mati.

“… hyung.”

Setidaknya sebelum tangan itu menampar pelan pipinya dan ia terbangun dari mimpi itu. Tidak ada lagi raut wajah penuh kejahatan dari Rheamistic yang memakan detak jantungnya tadi. Yang ada hanya ibunya yang menatapnya dengan kebingungan.

“Taehyung?”

Ia bangkit, dan menarik tangan ibunya. “Di mana aku? Di mana aku, Bu?”

Ibu Taehyung buru-buru menarik dua lembar tisu dan mengusap keringat yang mengalir dari pelipis hingga ke dagu anaknya. Taehyung tampak terengah-engah dan hilang arah.

“Kau mimpi buruk,” ibu Taehyung memberitahu, lantas ia menyibak tirai kamar putranya sehingga cahaya matahari yang mulai terbit menyadarkan Taehyung bahwa ia tak lagi terombang-ambing di atas samudra bergelombang hitam dengan seorang kaum pembunuh di hadapannya. “Sebaiknya kau minum air mineral dan jangan tidur lagi, atau kau bisa kesiangan. Tidak ada yang mau kesiangan di hari pertama dan tahun pertama SMA.” Ibu Taehyung mengerling jenaka dan menarik selimut anaknya. “Ayahmu dulu suka sekali bangun pagi. Itu karena ia tidak pernah tidur larut malam.”

Yeah, ayahnya dulu tidak dihantui mimpi yang sama berulang-ulang.

Taehyung menyibakkan rambutnya, membuat tangannya basah oleh keringat yang masih menempel di garis wajahnya. Serangan Rheamistic tadi terasa sangat nyata. Begitu nyata sampai-sampai Taehyung pikir ia tidak sedang bermimpi. Pemuda itu menaruh telapak tangan di dadanya. Satu atau dua denyar samar-samar membuatnya meringis cemas. Lantas ia memindahkan jemarinya ke pergelangan tangan.

Denyut nadinya yang konstan membuat Taehyung menarik napas lega.

[02]

Tidak sulit bagi Taehyung untuk mencari kelasnya setelah upacara penerimaan murid baru. Aula dan lalu lintas di dalam sekolah memang dipenuhi oleh lautan murid baru dan senior yang berpartisipasi mengatur aliran anak baru sesuai kelasnya. Namun Taehyung terbiasa melakukan semua hal sendirian dan belum sampai tiga menit, ia sudah berada di depan kelasnya. Semua kelas di sini memiliki deretan bangku tunggal. Taehyung memilih bangku di deretan yang bersebelahan dengan deretan bangku Park Jimin. Pemuda itu sudah banyak mengobrol dengannya secara gerilya di sela-sela upacara penerimaan tadi. Ia lumayan pandai membunuh kebosanan, jadi Taehyung memutuskan untuk berteman dengannya.

Kelas-kelas sebelah tampak ramai entah mengapa. Tapi mereka mendapatkan jawabannya ketika dua orang senior berseragam lengkap melintasi pandangan mereka dan masuk ke dalam kelas. Itu adalah ketua dewan murid dan yang di sebelahnya kemungkinan besar adalah wakilnya. Lunarish Young—ketua dewan murid—tadi sudah memberikan kata sambutan di panggung aula. Beberapa patah kata standar yang intinya mengobarkan semangat belajar para murid baru yang disampaikannya menjadi sepuluh kali lebih menarik karena Lunarish Young sendiri memancarkan kharisma luar biasa. Senior mereka itu memiliki rambut panjang sehitam arang yang disisir rapi menjuntai bebas dan apik di kedua sisi tubuhnya. Terbingkai mahkota tersebut, adalah wajah khas orang-orang berdarah campuran—beberapa murid di barisan Taehyung di aula tadi membahas dan menebak-nebak bahwa mungkin saja ia adalah persilangan sempurna antara Korea dan suatu negara di Eropa. Hidungnya kecil dan tinggi, dengan sepasang kelopak yang berkedip membasahi manik cokelat jernihnya, dan garis wajah yang jelas—dan senyumnya, senyumnya menawan. Bukan senyuman ramah dan lemah lembut, tapi senyuman penuh semangat yang terlihat ganjil, meresahkan, dan akan sangat disukai semua orang dengan cara yang aneh.

Seluruh murid di dalam kelas Taehyung berdiri dan memberikan anggukan sebagai salam dan kembali duduk. Lunarish Young memperkenalkan dirinya sekali lagi, kemudian giliran wakil ketua dewan murid, yang bernama Kang Hayi, yang memberikan sebuah perkenalan diri. Masing-masing dari mereka mendekap sebundel kertas.

“Para junior yang kami sayangi,” Lunarish memulai, dan berhasil menimbulkan reaksi berupa bisik-bisik mengenai bagaimana caranya memanggil kami ‘para junior yang kami sayangi’. “Kami berdua akan membagikan sebundel formulir pendaftaran klub dan keanggotaan perpustakaan yang akan kalian isi dan kumpulkan hari ini juga di bawah pengawasan para senior. Mohon maaf apabila masa untuk mempertimbangkan sangat sedikit, karena waktu adalah salah satu kebijakan yang sangat dipelihara di sekolah ini. Sebagai kompensasinya, kalian bisa mengubah keputusan mengenai keikutsertaan dalam klub tertentu, kapan saja. Tidak ada birokrasi yang rumit dalam hal tersebut. Kami pastikan kalian akan selalu mendapatkan kemudahan.”

Usai memberikan sedikit basa-basi dan instruksi, Lunarish dan Hayi berpisah pada kedua sisi kelas untuk membagikan langsung bundel tersebut, yang mana menjadi nilai tambah lagi dari senior di sini, karena mereka tidak meninggalkan tanggung jawab tersebut pada junior.

Senior yang mengawasi kelas ini adalah ketua dan wakil dewan murid sendiri, sementara senior lain berada di kelas-kelas sebelah. Lunarish dan Hayi hilir-mudik dari koridor ke koridor bangku untuk memberikan bantuan yang diperlukan.

Lunarish berhenti tepat di sisi bangku Taehyung. Kehadirannya yang tak juga berpindah tempat membuat Taehyung mengisi formulir dengan gugup.

“Klub atletik, hm? Pilihan yang tepat,” Lunarish berkomentar.

Taehyung mendongak dan mendapati dwimanik gadis itu bertabrakan dengan pandangannya. Iris kecokelatan Lunarish begitu menghanyutkan dan itu malah membuatnya gelisah. Jantungnya bertalu-talu tanpa alasan.

“Atletik. Pelari-pelari yang bersemangat. Mereka pasti punya jantung yang berdetak 150 kali per menit. Bukankah itu sempurna?”

Taehyung membeku. Sekarang ia memahami mengapa Lunarish Young terlihat berbeda dari senior mereka kebanyakan. Bukan karena ia memesona. Bukan karena kata-kata manis yang meluncur dengan ringan dari mulutnya.

Tapi karena ini bukan pertama kali Taehyung bertemu dengannya.

[03]

Taehyung baru saja mencetak rekor baru dari sejarah larinya selama dua minggu bergabung di klub atletik, dan ia mendapat sorakan dari gadis-gadis yang suka menonton dari bangku dekat trek lari. Taehyung bukan pelari terbaik, terutama dibandingkan dengan senior-seniornya di klub ini, tapi sejauh ini ia melakukan hampir semua hal dengan cukup baik.

Hampir. Ia yakin semua akan baik-baik saja.

Tapi barangkali Taehyung terlalu naif. Kegiatan klub berakhir pukul setengah enam petang, dan usai beristirahat, membersihkan diri, dan pulang bergerombol dengan teman-teman dari klub, matanya kembali menangkap presensi yang sudah dua minggu ini berhasil dihindarinya.

Tak jauh dari trek lari, di bawah deretan pepohonan rindang di kebun milik sekolah, Lunarish Young tampak bersedekap dan mengulas senyum. Gadis itu bergeming, tidak berusaha menghampir Taehyung atau apa pun. Tapi Taehyung mengenal Lunarish lebih lama dari yang orang-orang kira. Maka, pemuda itulah yang akhirnya justru menghampiri Lunarish lantaran kekesalan yang tidak terbendung lagi.

“Dengar, aku tidak tahu bagaimana sepak terjangmu di sekolah ini. Tapi aku tidak ada hubungan apa pun dengan apa pun yang mungkin kaupikirkan. Berhentilah.”

Lunarish tertawa. “Berhenti? Apa yang kauingin kuhentikan?”

Taehyung menarik napas panjang, berusaha meredakan jantungnya yang bertalu-talu, tapi tidak berhasil. Lunarish tersenyum. Gadis itu tersenyum pada detak jantungnya.

“Berhenti memangsa detak jantung kaum mortal!” Taehyung membentak, lebih keras dari yang ia harapkan, karena pada dasarnya Taehyung tidak ingin terlihat gelisah.

“Aku bisa berhenti kalau aku mau. Masalahnya, aku tidak mau. Di antara semua detak jantung entitas yang pernah kusantap, manusialah yang paling mudah didapatkan. Manusia yang penuh semangat, seperti anak-anak baru, anak-anak dari klub olahraga, anak-anak yang ingin menyatakan perasaannya, tahu kan, Taehyung?”

“Kau tidak berhak atas detak jantung manusia, Lunarish.”

Lunarish mengempaskan napasnya ke udara bebas. Pandangannya menerawang, menatap langit petang yang beranjak gelap. Lantas gumaman ringan bernada cerianya muncul. Bukan tanda yang baik. Lunarish begitu meresahkan jika sedang bertingkah seceria itu.

“Kudengar minggu lalu Kim Namjoon pingsan setelah menyelesaikan satu putaran lari.”

Taehyung terkesiap mendengar ucapan gadis di hadapannya ini. Lunarish tahu. Lunarish bukan hanya mengikutinya, tapi juga mempelajari gerak-geriknya. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya.

“I-itu ….” Taehyung meneguk air ludah. “Ia kelelahan. Pelatih Kwon sendiri yang bilang.”

“Kim Namjoon tidak pernah pingsan sebelumnya. Aku tahu itu. Dia ketua klub atletik dengan catatan angka gemilang, dan bagaimanapun aku mencuri detak jantungnya, ia tidak akan tergeletak pingsan seperti minggu lalu. Jadi,” Lunarish berdeham, “siapa lagi yang melakukannya kalau bukan kau?”

Taehyung mengerang frustasi. Ketakutan menghantamnya bertubi-tubi tanpa sempat ia tangkis. Kim Namjoon, Kim Namjoon. Ketua klub atletiknya itu punya jumlah detak jantung per menit yang begitu sempurna tiap kali ia menuntaskan lari, dan Taehyung tidak bisa mengendalikan rasa laparnya. Ia sudah berusaha keras untuk tak lagi mencuri detak jantung, tapi sulit. Maka ketika waktunya istirahat, Taehyung memanfaatkan waktu untuk berbicara dengan seniornya itu, seraya memangsa perlahan detak jantungnya. Barangkali Taehyung begitu lapar, entahlah. Tiba-tiba saja Kim Namjoon tergeletak dengan denyut nadi melemah. Ia berhasil diselamatkan, tentu saja. Dan nama Taehyung juga selamat karena Namjoon didiagnosa mengalami kelelahan berlebih.

“Kau selalu melakukannya lebih baik dariku, bukan begitu, Kim Taehyung?”

“DIAM!” Taehyung memekik. “Diam, diam, diam. Ini tidak adil. Aku tidak pernah ingin dilahirkan sebagai Rheamistic! Aku tidak pernah ingin menjadi penyantap detak jantung manusia!”

Semua ingatan yang berusaha dipadamkannya itu kembali lagi. Bayangan ayahnya muncul lagi, mengajaknya naik wahana pemacu adrenalin di sebuah taman bermain besar. Mereka menjerit kesenangan. Lantas begitu turun, indra Taehyung menyensor detak jantung ayahnya dan orang-orang yang baru turun dari wahana roller coaster bersama mereka. Detak jantung itu sungguh ramai, sungguh cepat, dan tiba-tiba Taehyung merasa kelaparan. Seharusnya ia menghampiri beberapa orang untuk dicicipi sedikit-sedikit detaknya. Tapi ayahnya menyeretnya ke kereta es krim, dan Taehyung tak sempat lagi mengendalikan kekuatannya. Menit berikutnya, ayahnya sudah tergeletak tak berdaya di tanah, dan bersamaan dengan itu, Taehyung merasa penuh energi.

Ia salah sasaran. Tanpa sengaja Taehyung telah melahap seluruh detak jantung milik ayahnya tanpa jeda, melewati batas normal, dan menewaskan ayahnya. Sepanjang usahanya untuk memangsa detak jantung kaum mortal dengan dosis yang sedikit, sedikit keteledoran saja dan ayahnya tak lagi bernyawa.

Lunarish terdiam agak lama. Lalu ia menghela napas panjang. “Ada cara agar kau benar-benar menjadi manusia. Tapi kau harus melakukan pelanggaran paling besar yang ada di kalangan kita.”

“Aku bersedia mati jika kematianku bisa menyelesaikan segalanya,” Taehyung meratap, tenggelam dalam memori di taman bermain. “Aku akan melakukan apa pun agar tak lagi jadi makhluk terkutuk ini.”

Lunarish menyibakkan rambut panjangnya, tampak sudah berpikir panjang dan memutuskan sesuatu.

“Kau harus memangsa detak jantung dari Rheamistic lain.” Lunarish akhirnya berujar. “Contohnya, aku. Kau bisa mengambil detak jantungku.”

Taehyung terkesiap. Tidak mungkin. Lunarish Young yang dikenalnya adalah seorang Rheamistic yang oportunis dan hanya melakukan hal yang menguntungkan dirinya sendiri. Pasti selalu ada sesuatu di balik tawaran murah hatinya.

“Apa yang kaunginkan dariku?” Taehyung menatapnya curiga. Lunarish mendegus sarkastis, seakan Taehyung-lah yang jahat karena tidak tahu terima kasih.

“Itukah sambutanmu pada teman lama yang bersedia menyerahkan detak jantungnya untuk kepentinganmu sendiri?”

“Jadi tidak ada maksud lain?”

“Tidak.” Lunarish meyakinkan. “Dan jika kau memang menginginkan kehidupan seperti mortal pecundang lainnya, lakukanlah sekarang.” Lunarish menarik lengan blazer seragamnya dan menyodorkan pergelangan tempat nadinya berdenyut.

[04]

Sekolah berjalan seperti biasa. Taehyung dan Jimin kini membentuk lingkaran pergaulan yang rutinitasnya terdiri dari belajar, pergi ke tempat les, mampir ke game center, menjalani kegiatan klub, dan tanpa terasa semester pertama sudah berakhir. Liburan musim panas sudah menyambut. Para siswa keluar dari sekolah dengan perasaan meledak-ledak, puluhan rencana liburan, dan detak jantung yang gegap gempita. Indra Taehyung masih sangat sensitif dengan detak jantung yang mengiringi semangat mereka. Tapi naluri pemangsanya sudah pergi. Menghilang tanpa bekas. Ia harus mengucapkan terima kasih pada Lunarish.

“Kau tidak mati ….

“Yeah. Kaupikir mudah saja melenyapkanku?”

“Aku … senang kau tidak mati, Luna.”

Saat itu adalah kali pertamanya Taehyung memanggil gadis itu dengan nama kecilnya seperti yang sering mereka lakukan di masa lalu. Taehyung memindahkan seluruh detak jantung Lunarish ke dirinya sendiri lewat sentuhan di pergelangan tangan gadis itu, agar Taehyung menjadi senormal manusia biasa dan bukannya Rheamistic pemangsa. Dan mereka berhasil. Taehyung berhasil menjadi non-Rheamistic tanpa harus membunuh teman masa kecilnya.

“Halo, Mortal!” Lunarish menyapanya saat ia menghampiri gadis itu—Lunarish tengah membawa setumpuk berkas untuk ditaruh di ruang arsip. “Bahagia, jadi manusia?”

Taehyung memindahkan tumpukan berkas dari tangan Lunarish ke tangannya sendiri dan mengiringi langkah gadis itu. “Sangat bahagia. Kau harus mencobanya suatu saat.”

“Yang benar saja. Aku tidak ingin melepas masa kejayaanku. Lagi pula, jika bukan aku yang meneruskan, kaum kita akan kehilangan pewaris, lalu Rheamistic akan jadi sejarah.”

Taehyung hanya bisa berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Mereka berbelok ke arah ruang arsip, dan Lunarish memutar kenop pintunya, memberikan Taehyung jalan masuk. Guru Park yang sedang sibuk dengan komputer di ruangannya mempersilakan mereka untuk menaruh arsip tersebut.

“Hei, mau kuberitahu sesuatu mengenai Guru Park?” bisik Lunarish ketika mereka sudah cukup jauh dari ruang arsip. “Ia dulunya Rheamistic.”

“Bohong.”

“Juga wali kelasmu itu, Guru Yong. Makanya ia mengajukan diri untuk jadi wali kelasmu. Dia dulu wali kelasku juga. Guru Yong tidak ingin jadi mortal seperti Guru Park. Tapi ia tidak memangsa detak jantung manusia. Ia suka ektoplasma hantu.”

“Lunarish, kau pembohong besar.”

“Aku tidak berbohong.”

“Kau berbohong.”

“Tahu darimana?”

“Aku masih bisa merasakan detak jantung. Dan jantungmu berdetak secepat jantung pembohong di seantero negeri.”

Wajah Lunarish berubah warna, dan ia langsung membelokkan pembicaraan lantaran tidak bisa menjelaskan soal akselerasi detak jantungnya kali ini—bahwa ia dengar Guru Park pernah menjadi Rheamistic yang buas sebelum memutuskan untuk menjadi mortal, dan bahwa Guru Yong membenci hantu makanya ia memangsanya. Dan bahwa-bahwa yang lainnya.

“Bohong, bohong, bohong.” Taehyung bersenandung.

Yah, sudahlah. Barangkali Kim Taehyung perlu lebih banyak mengetahui perbedaan detak jantung orang yang berbohong dengan … well, dengan yang selain itu.

FIN.

Advertisements

15 thoughts on “[Boys Meet What?] Beats – Vignette

    1. Plot awal emang Taehyung mau dibikin sebagai mortal, tapi lantas aku ngerasa kayanya makin seru kalo pembaca dihadapkan pada kenyataan bahwa taehyung juga rheamistic dan memiliki pergelutan batin soal jenis makhluk seperti apakah dia, gitu. hehehe. makasih Baby sudah mampir ^^

      Like

  1. Hai Kaeci! ^^

    Habis aku baca ini aku jadi ngerti kenapa kakak bilang ini mirip sama webtoon untouchable karena yah, ini emang agak mirip tapi gak mirip” banget sih malah agak jauh ya dari yg aku baca webtoonya 😂

    As always, ff kaeci mah anti mainstream dan keceh selalu! Rada agak kurang mudeng akunya di pembuka cerita hoho emang dasar otak lemot dan baru pertengahan menuju ending … ternyata tae juga salah satu kaumnya.
    Lunarish so badasable kusuka sekali karakternya!

    Dan, dan, di ending kayanya setuju sama komen kayeni, kayanya lunar (?) suka ama tae ya?

    Like

  2. Suka banget sama karakter Luna
    Ngebayanginnya malah jadi Krystal Jung, enggak tau kenapa 😂
    Mungkin karena karakternya mirip-mirip
    Kalau mereka jadian dan nikah, nanti anaknya bakal jadi pemakan detak jantung juga gak? Hehe
    Ini seru

    Like

    1. Halo, Sweetchilice! Mau bayangin Lunarish Young as siapa aja boleh kok, bebas hehehe. Kalo mereka nikah, anaknya tidak otomatis jadi pemakan detak jantung, mengingat kedua orangtua Taehyung itu mortal alias manusia biasa, jadi ada kemungkinan 50:50 bahwa anak mereka nanti akan jadi mortal atau rheamistic. Itu juga dengan catatan Taehyung-Lunarish beneran jadian sih hehe. Makasih sudah mampir ^^

      Like

    1. Halo, Avichan! Fanfiksi ini terinspirasi dari webtoon Untouchable, cuma di sana mereka kaum vampir, tidak ada pencurian detak jantung seperti di sini (dan vampirnya nggak bisa jadi manusia kayak di sini). Dan tulisan kamu juga pasti bagus, makanya juri bilang di atas bahwa mereka bingung milihnya. Semangat!
      Terima kasih sudah mampir ^^

      Like

  3. jennyberrywood

    KAECI!! SUMPAH DEMI APA INI KECE PARAH!!! IDE CERITANYA JUGA FRESH BANGET!!! Biasanya kan soal vampir, werewolf, dll nya dan ini tentang memangsa detak jantung???!! Astagaaaa kurang kece apa coba??!! PLOTNYA JJANG!! 😍💕💖

    Dan Luna jadinya jatuh cinta sama taehyung kan ya kak???? Awawawaw manis sekali 😘

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s