[Boys Meet What?] Elysian – Ficlet

elysian

Elysian

Noviara Park

Starring BTS’ Jungkook and a girl

Rating Teen Genre Romance, slight!Surrealism Length Ficlet (800+ w)

Ia melambangkan suatu hal yang selama ini kucari; hal surgawi yang di mata orang lain begitu remeh.

I just own the plot.

Enjoy, Guys!

***

Jungkook belum lama mengetahui eksistensinya di dunia ini. Cara Tuhan mengirimkan gadis itu juga tak ekstrem, tanpa huru-hara yang menarik perhatian awam, tetapi mampu memorak-porandakan Jungkook hanya dalam rentang waktu semilidetik.

Pertemuan pertama mereka tak hebat-hebat amat sebenarnya. Malah tidak bisa dikatakan sebagai pertemuan lantaran sang gadis tak menyadari Jungkook tengah memperhatikannya.

Saat itu Jeon Jungkook memandang ke luar jendela dari kamar. Otaknya agaknya mengirimkan sinyal jenuh atas pemandangan putih kamar, alhasil ia memindahkan matanya ke jalan raya depan rumah. Lalu terjadi begitu saja—gadis itu lewat di trotoar. Jemarinya menekan ponsel ke telinga dan bibirnya mengulas senyum tipis.

Susah payah Jungkook menenangkan hatinya yang baru terguncang. Parah, ‘kan? Jika seluruh dunia dipenuhi oleh gadis menawan sepertinya, niscaya ia akan bersimbah luka lantaran terus-menerus jatuh cinta.

Jungkook biasanya tak menganggap dirinya punya peruntungan yang bagus, tapi kali ini, Dewi Fortuna sepertinya sedang berpihak padanya.

Croissant dua, kopi hitam satu.”

Minggu kedua musim semi, Jungkook menghabiskan waktu senja di taman kota. Ia sama sekali tak menyangka jika pertemuan keduanya dengan ‘gadis menawan’ akan terjadi di tempat ini. Ditemani croissant yang salah satunya telah digigit dan kubangan kopi hitam dalam gelas kertas yang baru tandas seteguk.

Keheningan membungkus mereka dari pusaran waktu. Sulit untuk menentukan berapa lama waktu yang telah berlalu lantaran Jungkook kesulitan melepas fokusnya dari sang gadis.

Terakhir yang terekam dalam memorinya, rema gadis itu sewarna api; begitu menyala dan menyakitkan mata. Namun hari ini rambutnya dicat pirang platina. Model pakaiannya oke, tetapi warnanya bertabrakan dan … entah mengapa familier di saat yang sama. Dan, oh, ia memakai choker.

“Mau croissant juga?” Gadis itu tersenyum murah hati. Sebelah tangannya yang memegang croissant yang masih utuh terulur menawarkan.

Tersentak, Jungkook lekas-lekas berdeham—Gawat, ketahuan deh, pikirnya. Baginya, pantang untuk menerima apa pun dari orang asing. Namun, demi memperlancar misi dadakannya, ia pun menerima tawarannya seraya menggumamkan terima kasih.

Dalam benaknya berseliweran beragam kalimat yang sekiranya patut untuk membuka obrolan. Tapi yang mana? Selagi duduk, gadis di sebelahnya itu tak henti-hentinya mengetukkan sepatu bot hitamnya. Bagaimana kalau, Sepatumu bagus. Beli di mana?

Jungkook menggigit croissant-nya, lantas menggeleng sendiri. Terlalu melenceng. Ia baru akan menanyakan hal netral seperti, Hei, aku Jungkook. Siapa namamu? ketika gadis itu lebih dulu membuka dengan, “Kau tak apa? Maksudku tanganmu.”

Si pemuda mengikuti arah pandangnya. Tampaklah bilur merah samar melingkari kedua pergelangan tangannya. “Oh, ini,” Jungkook tercekat. Ditariknya lengan bajunya untuk menutupi bilur. “Bukan apa-apa. Sudah biasa seperti ini.”

Gadis itu tampak ragu, tapi tak bertanya lebih jauh. Diam-diam Jungkook lega akan hal ini.

“Kalau boleh tahu, siapa—”

“Halo. Ya, aku sedang di taman.” Gadis itu berbicara di telepon. Mimiknya serius dan muram. “Oke, aku segera ke sana.”

Tidak, jangan bilang kalau ….

Menyunggingkan senyum singkat, gadis itu berkata, “Aku harus pergi. Sampai jumpa lain waktu.”

Menatap punggungnya menjauh, Jungkook bertanya-tanya kapan lain waktu itu akan terjadi. Bahkan, ia belum sempat menanyakan namanya.

Sembari mengarungi kelamnya malam, Jungkook memandangi piringan perak di langit—yang mengingatkannya pada helai-helai rambut gadis itu. Rasa-rasanya ia hampir bisa menebak namanya, dilihat dari penampilannya—selebritikah ia?

Selasa kelabu. Jeon Jungkook merasa kewarasannya nyaris menguap jika dirinya terus berada dalam ruangan putih itu. Bongkahan berat nan dingin dalam iganya menggedor-gedor, minta dilepaskan atau dihancurkan saja sekalian. Bilur merah kini tak hanya menghiasi tangan, tetapi juga tarsalnya.

“Oh, kau yang waktu itu, ‘kan? Croissant?” Suara lembut menyambangi rungu. “Kau kelihatan kacau.”

Mendongakkan kepala, Jungkook mendapati sang ‘gadis menawan’ memperhatikannya dengan tatapan berhias cemas.

“Kau butuh sesuatu?” tanyanya lagi. Ketukan repetisi terdengar dari sepatu botnya yang bertemu semen datar.

Si pemuda tak tahu harus menjawab apa. Udara dingin berbaur dengan bongkahan berat, kian menyesakkan dadanya. Kerongkongannya kering, matanya perih. Bahkan kini jantungnya berpacu cepat. “Teman bicara, barangkali,” sengalnya.

Dalam diam, Jungkook mengamat-amati gadis itu—yang sekarang duduk menemaninya. Tak ada perubahan drastis seperti yang terakhir kali. Corak rambutnya, mantel mengilapnya; hanya choker yang digantikan oleh kalung berliontin sayap.

“Jiwa yang terpenjara,” ucap Jungkook, “pernahkah kau bertemu mereka?”

Gadis itu menipiskan bibir. Dwimaniknya mengerjap dua-tiga kali. Ia tampak menyusun untaian kata-kata sebelum menyampaikannya. “Jiwa yang terperangkap lebih tepatnya. Terpenjara harus menunggu masa tahanannya habis, sementara terjebak lebih ke … menunggu seseorang menolongnya untuk keluar.”

“Menurutmu aku ini terpenjara atau terperangkap? Lebih baik yang mana?”

“Apa kau ini salah satu dari mereka?”

Jungkook meloloskan senyum getir. Sungguh, ia tidak merencanakan topik berat semacam ini. Hal tentang jiwa-jiwa terlontar begitu saja, sebelum serebrumnya bisa memprosesnya.

“Kau tentu tahu hanya dengan melihat bilur di tanganku. Logam-logam mengekangku, rantai menahanku. Tidak ada jeruji, tapi aku merasa terpenjara. Aku masih bisa menghirup udara bebas, tetapi tidak dengan hatiku.”

“Menurutku,” kata sang gadis dengan hati-hati, “kau terjebak, bukannya terpenjara. Kau semata-mata menganggap semua hal mengekangmu. Ilusimu membuyarkan hal-hal baik yang ingin kauraih.”

Mendadak Jungkook tersadar mengapa hatinya memilih melabuhkan diri kepada gadis ini—yang bahkan namanya saja ia tak tahu. Ia begitu familier. Ia melambangkan suatu hal yang selama ini ia cari; hal surgawi yang di mata orang lain begitu remeh.

Jeon Jungkook akhirnya tahu dengan siapa ia telah bertemu.

“Siapa kau?”

Senyum gadis itu merekah laiknya mawar mekar.

“Aku Freedom. Frey Freedom.”

Fin.

Advertisements

2 thoughts on “[Boys Meet What?] Elysian – Ficlet

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s