[Boys Meet What] Mirror, Mirror – Vignette

mirror-mirror

[Boys Meet What?]

Mirror, Mirror

by ANee

Kim Seokjin | A Woman

Psychology | Vignette | PG-17

O, tentu kita patut penasaran.

.

.

Cermin besar berukuran persegi panjang menempel horizontal di dinding putih berlapis debu, terbingkai elok oleh ukiran kayu berpoles emas. Ini tidak benar, sebab benda refleksi itu tampak mengilap sedangkan keadaan ruangan tidak mungkin memberikan impak sedemikian, harusnya ia ikut berdebu seperti benda-benda lain yang Seokjin perkirakan ketebalannya mencapai tiga sentimeter. Tapi langkah kaki tanpa alas itu kembali tak acuh, terus mendekati cermin hendak berkaca di hadapannya.

Seokjin tersenyum asimetris melihat pantulan sosoknya yang rupawan dengan rambut merah muda pudar serta wajah bak porselen. Bahunya menegap, pribadinya yang congkak tersirat jelas di sana. Semakin ia memerhatikan, semakin ia jatuh cinta pada dirinya sendiri, tidak ada privilese bagi siapa pun untuk menggores cacat di wajahnya.

I’m so perfect!” katanya pada cermin yang ia yakin setuju dengan justifikasinya. Pasalnya selama ini para wanita pun mengagumi ketampanannya hingga tergila-gila dan tidak pernah menolak untuk dikencani Seokjin satu per satu. Menghabiskan malam bersama beberapa di antaranya pun bukan perkara tabu baginya.

Pity You!

Suara tak asing mematahkan kepuasan, nada bicara barusan terlampau mengolok. Seokjin tidak terima, namun terkejut menang duluan, tungkainya tersentak mundur, siapa yang bicara? Tidak ada siapa pun di sini kecuali dirinya bersama bayangan serupa dengannya di dalam cermin. Masih dengan pupil bergerak awas, lelaki itu mengamati sekitarnya kalau-kalau ada yang bersembunyi. Seolah tahu apa maunya, benda-benda berdebu di sekitarnya hilang satu per satu, tanpa sisa. Dan asumsinya patah bersama pandangan yang tiba-tiba terkunci pada cermin mewah berjarak satu langkah kaki di depan hidungnya.

Kalimat penghinaan itu menggetarkan gendang telinganya lagi—berkali-kali—sampai ia sadar bahwa dirinya di dalam cermin tengah menggerakkan bibir yang sewarna darah, padahal ia yang asli terkatup rapat sama sekali. O, apa-apaan ini? Bagaimana bisa?

Kali ini Seokjin ternganga, hendak menyuarakan ketakjuban sekaligus keterkejutannya, malangnya vokal a saja tak bisa diproduksi oleh kerongkongan, hanya mulutnya yang berhasil terbuka. Sekali lagi bayangan di cermin melakukan penghianatan, ketika tidak ada satu pun keanehan yang tubuhnya rasakan, tapi justru dwimaniknya melihat dengan jelas berbagai macam serangga mengerubungi keseluruhan lubang yang ada di wajahnya. Mereka menyebar tidak menyisakan satu celah pun, menggerogoti wajahnya seolah sudah ratusan tahun tidak menemukan mangsa—dan ia dipaksa menjadi pengganti.

Sontak perut Seokjin bergejolak, para serangga itu masih terus berlarian keluar seolah jumlah mereka bertambah seiring detik. Ada usaha keras untuk memalingkan pandangan, tapi selalu gagal dan ia terus melihatnya padahal hatinya enggan.

“Ini hukuman untukmu atas bualan yang selalu kau umbar pada para wanita yang akhirnya kau buang bagai muntahan, Seokjin!” Bayangan itu meraung—masih dengan suara mirip miliknya.

Kedua tangan Seokjin memegangi leher, dalam hati menjerit bahwa ia tidak melakukannya.

“Bohong!”

Gema suara memekakkan telinga lelaki berkemeja putih itu, padahal gejolak di perutnya belum lesap. Tanpa diduga, kepala bayangan di hadapannya menjelma kepala kelinci berwajah identik dengannya, beserta mulut yang mengekspos gigi sekaligus gusi akibat bibir telah habis digerogoti. Sebanyak keinginannya untuk berteriak, sebanyak itu pula ia gagal.

“Kau pantas mendapatkannya, Seokjin!”

Tubuh tegap Seokjin mandi peluh, bajunya basah kuyup begitu pula wajahnya. Ia tidak tahan lagi, tidak, menurutnya ini keterlaluan—sesuatu yang ia agung-agungkan tidak boleh diolok sebegini rendah. Selama ini wanita-wanita itu yang menginginkannya, padahal mereka tahu hanya akan dipermainkan. Selalu memohon pertanggungjawaban, padahal mereka sendiri yang menyerahkan segalanya secara cuma-cuma pada lelaki berlabel brandal seperti dirinya. Tidak, ia tidak bersalah!

Ketika benaknya digelayuti perasaan bahwa ia benar, semakin suara-suara itu memekik bagai halilintar di tengah badai. Bisa jadi kini Yoongi yang mengerjainya, dengan dalih tidak terima ketika Seokjin membantah bahwa ia tak butuh nasihat. Ia punya hak untuk hidupnya, dan siapa pun tidak berwenang menghakimi dirinya.

Sial. Bahkan orang tuanya tidak pernah memahami keinginannya. Untuk apa serius dalam menyulam hubungan, toh akhirnya perpisahan menjadi opsi tak terbantahkan, mengabaikan dirinya seolah-olah ia tidak pernah ada.

“Mengakulah, Seokjin! Mengakulah!” hardik bayangan berkepala kelinci, yang nyaris tak berbentuk lantaran para serangga kepalang lapar. Suara itu menyayat dan sungguh menyiksa.

Seokjin mengerang, kali ini vokalnya berhasil keluar. Kepalan tangan terayun berusaha memecah cermin di hadapannya, bayangan dirinya tertawa keras sekali seiring kaca yang retak perlahan. Debu-debu di sekitar berhamburan menghalangi penglihatannya, bau anyir menguar.

Alam bebas serba putih menyambutnya. Tidak ada benda-benda berdebu, tidak ada cermin emas. Kosong, hanya salju putih bersih yang tersapu sepanjang batas jarak pandangnya. Tersesat di mana ia?

Tempat ini terlampau sunyi untuk ditinggali sekumpulan manusia, tawa lepas anak-anak yang gemar bermain bola saju pun tidak menunjukkan eksistensi.

Pelan-pelan ia bangun, lantas menjejakkan langkah di atas tanah bersalju. Sepersekian detik berikutnya, ia dapat mendengar kikikan beberapa wanita di belakang—o, ada tanda-tanda kehidupan rupanya. Seokjin menoleh. Tampak beberapa wanita yang ia tak asing pada wajah-wajahnya—tapi nama mereka terlupa—tengah bergurau bersama sosok mirip sekali dengannya. Tiap wanita berhadapan dengan satu kembaran Seokjin.

Puluhan saudara kembarnya begitu antusias menarik perhatian wanita-wanitanya tanpa ragu, namun kepura-puraan jelas terpancar dari wajah rupawan mereka.

Melongo tidak bisa ia hindari, tercengang akan apa yang terjadi. Diam-diam para Seokjin memegang sebilah pedang, dan tanpa belas kasih menghunus setiap jantung wanita di hadapan mereka. Seketika para wanita pucat itu tergeletak tanpa jiwa, putihnya salju bercampur merahnya darah. Seokjin asli terpekik tanpa suara, matanya membola, bagaimana bisa dirinya melihat pembunuhan sekeji ini.

Para Seokjin lain yang masih berdiri dengan tangan memegang pedang bernoda darah serempak menoleh padanya. Langkah mundur jadi opsi pertama, tatapan mereka begitu bengis dan mengintimidasi. Apakah dirinya akan bernasib sama?

“Inilah yang kau lakukan selama ini, Seokjin! Menyakiti para wanita tanpa iba. Membiarkan mereka menderita tanpa kau acuh telah lancang melakukannya!” Suara itu terlontar bersama-sama dan menambah level ketakutan lelaki yang kini berdiri dengan kaki bergetar. Menyerahkan diri bukan lelucon receh yang biasa membuat para mantannya tertawa murahan, pun lari mustahil dilakukan oleh kaki telanjangnya yang tiba-tiba mati rasa.

“Apa kau ingin merasakannya juga?” Kali ini kembarannya yang paling depan siap mengacungkan pedang. Sekuat tenaga ia mencoba menggerakkan tungkai, sedikit lagi, dan sedikit lagi persendiannya terasa kembali berfungsi. Dengan cekatan Seokjin berbalik arah, ia sudah sangat tertekan, lantas berlari secepat dan sejauh mungkin. Pedang-pedang itu tidak boleh melayangkan nyawanya. Ia harus hidup demi sebuah ampunan—persetan dengan harga diri yang seolah tertindas.

Berlari, berlari, dan berlari tanpa membiarkan kepalanya menoleh barang sekali.

Tanah berlapis salju tak lagi ia pijak, melainkan tanah dengan rumput-rumput kering menyelubungi. Seokjin menghentikan langkah kala yakin tidak ada lagi para saudara kembar bengis yang mengejarnya. Pandangannya lurus, pohon-pohon tinggi menjulang ada di depan matanya, tampak seperti … hutan?

Ketakutan menyergap lagi, barang kali di dalam sana ada berbagai binatang buas siap menghukumnya—membunuhnya. Napas Seokjin tarik ulur, di mana rumahnya? Bagaimana bisa ia tersesat di tempat mengerikan seperti ini.

Wajahnya sontak pucat pasi, entah sejak kapan burung-burung gagak berkolaborasi tanpa presensi. Suara mereka ada, tapi tak satu pun berani menampakkan diri.

Bahu lemas Seokjin terasa disentuh, kali ini ia sama sekali tidak berusaha bergerak—tidak ingin. Ia segan bergerak maju ataupun mundur, apalagi untuk sekadar menoleh. Otot-otot tubuhnya menegang, dan napasnya menderu. Siapa ini yang berada di belakangnya? Saudara kembarnya lagi? O Tuhan, berapa banyak manusia menyerupai dirinya di Bumi yang selebar daun kelor ini?

“Seokjin …,” lirih suara—lagi-lagi—mirip dengannya menyapa. Kali ini terdengar halus dan menenangkan, entah benar atau salah perasaannya, setidaknya ia lega.

“Ya?” Seokjin menyahut tanpa menelengkan kepala—belum siap untuk dikelabui.

“Berbaliklah, aku tidak akan membunuh seseorang yang tengah merasa bersalah.”

Huru-hara di jantungnya rileks sekejap, apakah ia masih berada di Bumi? Bukan tengah berpijak di planet Pluto? Mengapa setiap dirinya yang lain, yang ia temui, selalu tahu jalan pikirannya. Segenius apa mereka sampai-sampai tanpa berucap, kata hatinya dapat dibaca.

Ragu-ragu tubuh tegang itu berbalik, menghadap sosok serupa dirinya yang tengah melengkungkan kurva. Begitu tenang, begitu rupawan, tidak terlihat sama sekali jika ia berhati dingin seperti kembaran-kembaran ia sebelumnya.

“Aku punya permintaan, mau kah kau mengabulkannya?”

“Ke—kenapa harus aku?”

Apa lagi ini? Ia ingin kembali, bukan untuk menjadi Sinterklas, tolonglah.

“Karena kau yang membutuhkan jawaban mengenai apa itu cinta.”

“Maksudmu?”

“Selama ini tidak ada cinta di hatimu, kau berulang kali menyakiti hati-hati lain yang bukan hakmu. Di dirimu yang terdalam, menanyakan seperti apa cinta itu, bukan?”

Seokjin merasa tak perlu menjawabnya dengan gamblang, toh lelaki di hadapannya sudah tahu tanpa ia banyak bicara.

“Baiklah, sekarang masuklah ke dalam hutan dan ambil satu ranting yang menurutmu paling sempurna. Dengan syarat kau tidak boleh mundur, sebab kau akan mendapat kutukan berupa kematian. Aku akan menunggumu di seberang hutan, jangan terlalu lama pun jangan terlalu cepat. Nikmatilah perjalananmu sewajarnya.”

Kembarannya menghilang setelah menyelesaikan rentetan kalimat yang tiba-tiba terekam di tempurung kepala. Ia menoleh ke hutan, bagaimana bisa ia memilih satu di antara banyaknya ranting. Jika ia sudah terpaksa mengambil satu di beberapa pijakan awal, namun ternyata di tengah-tengah ada yang lebih menarik hatinya, apakah tidak boleh mengambil lagi? Shit. Permainan macam apa ini!

Dengan setengah hati Seokjin mengenyam langkah, siapa tahu di seberang hutan ternyata adalah pemukiman. Setidaknya ia bisa meminta minum, untung-untung di antarkan pulang.

Melangkah – Mengamati – Melangkah – Mengamati.

Dan ketika setengah hutan terlewati, ada ranting yang menurutnya sempurna, tapi … bagaimana jika di depan sama ada yang lebih dari itu?

“Sudahlah, nanti-nanti saja mengambil rantingnya,” monolognya lantas kembali mengadu langkah kaki.

Namun setelah nyaris sampai di ujung hutan, justru ranting-ranting lebih buruk yang ia dapati. Daripada diolok tidak becus memilih, ia terpaksa dengan tangan kosong menemui saudara kembarnya—entah dari ayah yang mana.

Benar saja, pria serupa dengannya sudah menunggu dengan air muka yang tidak berubah. Ia melayangkan senyum pada Seokjin, namun tak dibalas—canggung.

“Kenapa tanganmu kosong, Seokjin?” tanyanya memulai konversasi. “Apakah tidak ada ranting yang menarik?” Jarak si penanya dengan yang ditanya hanya tinggal dua jengkal.

“Aku hanya boleh membawa satu ranting, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali. Sebenarnya aku tadi menemukan yang paling menarik, tapi aku tidak tahu apakah ada yang lebih menarik lagi di depan, jadi tidak kuambil ranting itu. Saat kulanjutkan langkah lebih jauh, baru aku sadar bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sesempurna ranting yang tadi, maka aku memutuskan kembali dengan tangan kosong,” jelas Seokjin apa adanya, dan kembarannya hanya tersenyum dengan tatapan penuh perhatian.

“Seperti itulah cinta. Semakin ia dicari, semakin ia tak ditemukan. Cinta itu adanya di sini,” ujarnya dengan telapak tangan menyentuh dada Seokjin. Sejemang lelaki yang habis melintasi hutan itu tercenung, menimang kata-kata barusan.

“Harapan dan keinginan akan cinta yang berlebih hanya akan menuai kehampaan, tidak ada (si)apa pun yang akan didapat. Sebab waktu tidak dapat diputar mundur, maka menerima apa adanya ialah syarat sebuah cinta,” lanjutnya membuat Seokjin terngaga takjub, dalam diam ia membenarkan.

.

Adalah Seokjin yang kini bermandi peluh, raut wajahnya tampak tegang seolah tertekan. Sementara seorang wanita mendadak terjaga, merasa terusik oleh pergerakan liar pria di sebelahnya. Lantas berusaha mengguncang pria dengan surai merah muda pudar yang setengah basah itu, mengajak bangun dan meninggalkan alam bawah sadar yang bisa jadi begitu menakutkan.

“Seokjin! Bangun! Seokjin!” Dengan beberapa guncangan, barulah si empunya nama membuka mata dan sontak terduduk dengan tatapan kosong mengarah pada wanita bersurai pirang di sampingnya. Lelaki itu tampak habis bermimpi buruk.

“Ada apa?” tanya si wanita sarat akan kekhawatiran sekaligus rasa takut.

“Ti—tidak. Aku hanya … mimpi buruk. Kau tidak apa-apa?” Ujung kalimat Seokjin bermakna ambigu, namun pasalnya wanita itu pun ada dalam mimpinya, yang terasa begitu nyata dan melelahkan, napasnya bahkan memburu seperti habis lomba maraton.

Wanita itu menggeleng dengan raut bercampur tanya.

“Pulanglah,” titah Seokjin halus tanpa menyebut nama. Jujur saja, ia tak ingat betul perihal perkenalan mereka semalam.

Seolah paham seperti apa perangai si pria Kim, wanita itu tanpa kata menyibak selimutnya kasar dengan wajah bersungut. Mengambil helai-helai bajunya lantas membanting pintu kamar mandi. Seokjin tidak peduli, di dalam benaknya masih berputar kejadian-kejadian aneh di mimpinya. Bertemu begitu banyak saudara kembar membuatnya ngeri sendiri. Apa benar di masa depan ia akan diberi hukuman semacam itu? Tubuhnya mendadak geli.

Sejak kapan bunga tidur bisa membawa pengaruh sedemikian pada dirinya? Ia tidak percaya hal semacam itu, meski kali ini ia benar-benar tidak bisa untuk tidak memikirkannya.

Apakah seorang Kim Seokjin akan berubah hanya karena sebuah mimpi? O, tentu kita patut penasaran.

—END—

Advertisements

One thought on “[Boys Meet What] Mirror, Mirror – Vignette

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s