[Boys Meet What?] Recontrer La Mort – Oneshot

recontrer-la-mort-baekpear

Rencontrer la mort

by baekpear

Cast : [BTS] Jeon Jungkook, [SVT] Jeon Wonwoo | Genre : AU, Fantasy, Friendship | Length : Oneshot | Rating : General |

Disclaimer : I only own the plot

Summary : Jungkook berada pada ambang kematian ketika ia bertemu malaikat maut yang membutuhkan bantuannya.

***

Seoul, 2067. 

Fajar telah mengusung eksistensinya sebagai awal dari hari yang panjang. Bising manusia merupakan hal paling wajar dari kesibukan sebuah kota. Derap langkah tak teratur yang berbaur dan melebur ketika masing-masing insan berpapasan dengan rupa kaku, tak acuh satu sama lain. Semua terlalu terfokus pada tujuan pribadi.

Aku menutup kegiatan sarapanku dengan meletakkan peralatan makan ke dalam bak pencuci piring. Seperti biasanya, aku akan meninggalkan rumahku dalam kekacauan. Petiduranku yang berantakan, petak dapur yang berserakan serta ruang tengah yang bahkan tak pantas diamati. Kutarik sepasang sepatu dari rak dan mengenakannya  cekatan.

Sebentar, kutilik bilik sederhanaku sebelum menutupnya dengan helaan nafas berat.

Namaku Jungkook. Pemuda tingkat tiga pada salah satu sekolah menengah biasa di sudut kota ini. Tak ada yang istimewa dari hidupku. Aku hanya satu dari ribuan manusia diluar sana yang sibuk bertahan hidup di tengah kerasnya dunia. Tak pandang usia dalam mengangsurkan permasalahan, dunia bak mesin dingin yang menuntut insan-insan lemah meraung, mencabik, dan membunuh sesama mereka demi kepentingan masing-masing.

Tak perlu menganggapku hiperbola. Seiring tahun berlalu, manusia bertranformasi ke dalam wujud yang seribu kali mengerikan. Ego mereka berkembang biak begitu pesat hingga menimbun benih kasih yang seharusnya menjadi dasar bertingkah laku. Mereka tumbuh menjadi sosok individualis parah yang kehilangan nilai-nilai inti  kehidupan.

Hal tersebut jelas berdampak. Yang paling nyata dan paling menggegerkan dunia adalah munculnya foka. Sebuah tanda berbentuk abstrak yang akan muncul pada tubuh manusia ketika mereka akan segera meninggal. Terdengar mengerikan? Tak sampai disitu, yang jauh lebih mengerikan adalah setiap orang yang menyaksikan tanda tersebut hadir di tubuh orang lain, berkewajiban membunuhnya.

Hebat bukan?

Ibuku pernah bercerita jika semua itu adalah ulah manusia sendiri yang tak lagi mempercayai para malaikat pencabut nyawa. Sehingga eksistensi mereka diragukan dan mulai menghilang. Kematian yang kehilangan ‘gerbang awal’ sebagai jalan pembuka menciptakan tanda lain untuk mengingatkan jika ia sudah dekat. Dan seperti memanfaatkan kesempatan, manusia menggunakan hal tersebut demi melukai sesamanya. Berdalih jika itu adalah keharusan untuk mengirim seseorang ke alam baka.

Jadi, tak perlu terkejut ketika mendapati senjata tajam pada tas setiap orang, termasuk aku. Tak ada hukum yang melarang lagipula. Aku memang sedikit tidak setuju dengan ide ‘membunuh’ yang telah menjadi tradisi tersebut, tetapi aku juga tak memiliki alasan untuk menolaknya. Sudah kubilang, aku hanya satu dari ribuan manusia yang sibuk bertahan hidup.

Aku memutuskan berdiri di bawah kanopi halte ketika deretan bangku disana telah penuh sesak. Bus pertama sepuluh menit lagi akan tiba. Aku melirik arlojiku, sekedar memastikan jika aku memiliki cukup waktu untuk tiba di sekolah. Sembari menunggu, kusumbat telingaku dengan earphone yang mendengungkan musik keras-keras.

Suara teriakan terdengar dari perempatan di depan Museum Kota. Disusul bunyi gaduh yang ditimbulkan derap langkah manusia. Penghuni halte, tak terkecuali aku, menoleh ke sumber suara. Mencoba mencari tahu apa yang tengah terjadi. Aku turut berlari ketika beberapa pemuda disampingku menghampiri lokasi keributan itu berasal.

Pada pedestrian, terbaring pria paruh baya dengan setelan formal. Di pergelangan kakinya, foka tak berbentuk berpendar hijau redup. Aku mengantupkan bibirku saat pria itu mengerang kesakitan. Ia menggeliat di tengah spasi yang dibuat kerumunan disana. Jeritan kian miris seiring dengan maniknya yang terpejam erat.

Kemunculan foka memang memiliki efek sakit yang luar biasa. Begitu yang ibuku katakan sebelum ia juga harus meregang nyawa ditanganku lima tahun yang lalu. Aku tak ingin ibuku bernasib sama dengan pria ini nantinya, dibiarkan tergeletak tak bernyawa di bahu jalan hingga ambulans menjemputnya.

Tak butuh waktu lama bagi para manusia disana untuk mengeluarkan benda tajam dari barang bawaan mereka. Kewajiban mengerikan itu perlu segera dilaksanakan untuk mengakhiri penderitaan pria malang itu. Tangan-tangan mereka seolah diciptakan untuk membinasakan sesamanya. Aku bahkan mendapati kawan sekelasku, Kim Yugyeom, turut melayangkan senjata tajamnya. Mencabik dan membunuh.

Ragu, aku merogoh tas punggungku. Mencari pisau lipat yang kukantongi dari rumah. Aku yakin telah membawanya untuk berjaga-jaga. Kutarik jemariku kala benda dingin tersebut dapat kuraih. Tanganku sempat bergetar ketika mencoba mengacungkannya. Aku belum pernah melakukan hal ini di tempat umum. Entah setan mana yang merasukiku saat menjajal bergabung dengan manusia yang kian liar itu.

Niatku terhenti sejenak kala rasa gatal itu muncul secara tiba-tiba. Punggung tanganku mendadak panas seolah ditempa arang yang baru saja ditarik dari perapian. Perlahan rasa terbakar menyalur ke sekujur lenganku hingga bahu. Tanpa sadar aku berteriak cukup kencang, melampiaskan rasa sakit yang tak terukur.

Manikku berkedip berulang kali, tak percaya. Foka hitam itu merebak di punggung tanganku. Aku akan mati?

“Kau juga rupanya.” Bariton rendah kakek dihadapanku menyadarkanku jika atensi kerumunan itu beralih padaku, meninggalkan sosok pria paruh baya yang tergolek tak bernyawa. Aku merasa kosong selama sekian detik. Tidak mampu mencerna situasi yang tengah kuhadapi saat ini. Netra mereka memicing seolah menangkap kehadiran mangsa yang ditunggu-tunggu.

Bodoh. Mengapa aku tak segera menyadarinya? Pisau mereka yang masih berkilat bercampur cairan merah pekat siap terarah padaku dan aku baru mengerti sekarang. Mengabaikan rasa nyeri di tanganku, aku lekas memacu langkah meninggalkan kawasan ramai Museum Kota. Aku menyeberangi jalan, kembali ke arah halte dan berbelok menuju salah satu gang sempit.

Tas punggungku berguncang hebat. Terlintas bayangan sekolahku yang telah kulewatkan akibat kejadian diluar dugaan ini. Kematian memang layaknya pencuri, tak tahu kapan akan datang. Tadi pagi semuanya bahkan berlangsung sangat biasa. Tak ada yang istimewa dari hariku. Dan sekarang aku berlarian bak buronan dengan foka yang terus menyala, semacam tanda agar orang-orang disekitarku lekas menghabisiku.

Kulitku serasa terbakar. Aku setengah mati menahan bibirku untuk tidak berteriak. Napasku tersengal-sengal. Aku bisa merasakan beberapa orang masih mengejarku. Dentum langkah mereka terdengar nyata. Aku memanfaatkan celah kecil disanding sebuah gerai kopi untuk mengistirahatkan kakiku. Kutarik kancing teratas kemejaku yang terasa mencekik.

Aku berjengit kaget ketika gemerisik ditimbulkan sepasang kaki yang menginjak tumpukan kantung sampah. Aku mengumpat, nasibku benar-benar sial hari ini. Belum semenit bersandar demi mengumpulkan tenaga, seorang pemuda sudah berada disisiku. Bagaimana dia bisa mengetahui keberadaanku? Aku bahkan berusaha tidak bersuara.

“Tunggu!” Tindakanku untuk melarikan diri urung akibat kalimat pemuda itu. “Kalau kau kembali ke arah itu, kau akan bertemu mereka.”

Aku tertawa miris. “Kalau aku tetap disini, kau akan membunuhku, kawan.”

Sedikit cahaya mentari membuatku mampu mengamati garis wajah pemuda itu. Namun aku tak memiliki waktu untuk mendeskripsikan perawakannya, foka di tanganku tak henti melemahkan tubuhku. Intinya, dia terlihat tak jauh beda denganku. Mungkin pemuda itu juga seorang murid sekolah menengah.

“Tidak. Aku tidak bermaksud membunuhmu.” bantah pemuda itu. Nadanya serius.

“Bagaimana aku bisa mempercayai itu?” tanyaku setengah berbisik. Aku tersungkur akibat kelelahan. Peluh berebut memenuhi rupaku. Jika ia ingin membunuhku sekaranglah saat yang tepat.

Alih-alih mengeluarkan benda tajam dari salah satu sakunya, pemuda itu menarik lenganku. Dengan cekatan ia membimbingku melalui gang sempit yang dikerumuni kantung sampah. Langkah lebarnya berusaha mengimbangi tungkaiku yang terseok-seok. “Pertama, kita harus pergi dari sini. Lalu kau bisa percaya padaku, manusia.”

.

.

“Tunggu sebentar. Sebenarnya kau ini siapa?”

Aku menarik lengan pemuda itu yang dibalut kemeja hitam polos. Tindakannya menyeretku tanpa penjelasan hingga melewati beberapa blok, tentu membuatku bertanya-tanya. Untuk seseorang yang baru saja berjumpa, tingkah lakunya sungguh aneh. Dentum langkahnya terhenti dekat gudang tua yang terabaikan. Ia memberikan tatapan serius padaku.

“Aku membutuhkan bantuanmu.” ucapnya tiba-tiba.

Dahiku berkerut. Entah dia tidak mendengar pertanyaanku atau ia berusah mengalihkan topik, aku tak peduli. Aku membutuhkan jawaban sekarang.  “Aku bertanya siapa kau.”

Pemuda berpakain serba gelap itu mengamati sekitar barang sejenak. Seolah memastikan sesuatu sebelum berujar kembali. “Aku akan memberitahumu. Tapi berjanjilah kau akan membantuku.”

Aku berdecak, mulai kesal. “Baiklah. Sekarang katakan siapa dirimu?” Lenganku semakin mati rasa akibat nyeri yang berkedut tak kenal ampun. Aku pasti nampak kacau sekali. Seragamku yang dirangkap mantel sudah basah akibat keringat. Begitu pula suraiku yang berulang kali kuacak serampangan. Tubuhku sanggup ambruk kapan saja. Namun aku harus mendengarkan pengakuan pemuda ini terlebih dahulu.

“Aku seorang malaikat pencabut nyawa. Namaku Wonwoo.”

Ada keheningan panjang dimana aku terbawa ke dalamnya. Mungkin jika tidak berada dalam keadaan ‘setengah mati’ seperti ini, aku akan melayangkan kepalanku ke arahnya. Setelah menarikku kemari tanpa sebab, bagaimana bisa ia memanfaatkan kondisiku dan mempermainkannya dengan lelucon semacam itu?

“Kau sedang bermain-main denganku ya?” tanyaku geram. Aku hendak merangsek ke arahnya namun kakiku sukar beranjak.

Pemuda itu juga nampak terkejut. Kedua telapak tangannya bergerak di depan wajahku, isyarat membantah pernyataanku barusan.“Aku tidak bercanda!”

Sedikit kusisihkan emosiku. Entah mengapa aku ingin mempercayai pemuda ini. “Kalau kau memang malaikat pencabut nyawa, mengapa kau tidak langsung membunuhku? Bukankah itu tugasmu?” tanyaku sinis.

“Kutukan itu, foka. Hilangnya kepercayaan manusia pada kami –para malaikat pencabut nyawa, adalah sebuah kutukan dan foka adalah segel utama kutukan itu, yang harus dimusnahkan. Oleh karena itu aku membutuhkan bantuanmu.” balasnya. Maniknya menyiratkan kesungguhan.

“Bantuanku?” tanyaku penuh keraguan. Tubuhku sempat terhuyung sekian senti kebelakang.

Ia mengangguk mantap. “Ya, bantuanmu. Bantuan manusia.”

.

.

Matahari mulai merangkak naik ketika arakan awan melintas dan menggulung sinar yang ditumpahkan ke bumi. Udara cukup sejuk akibat mendung ringan yang sejak tadi menaungi langit Seoul. Kendati tak begitu pekat, kemungkinan terjadinya hujan kerap diwaspadai. Bahkan angkasa yang nampak biru dengan selingan kapas putih siang ini, tak dapat dipercaya. Ia bisa mendatangkan badai tanpa peringatan.

Pemikiran manusia sekarang kurang lebih hampir mirip denganku. Ketidakpercayaan, keraguan, kerisauan, semuanya terdiri dari hal-hal buruk saja. Mereka tidak sadar jika deretan kebiasaan tersebut merusak diri sendiri dan orang lain.  Atau mungkin mereka sadar namun bersandiwara dengan segala keangkuhannya.

Aku menghela nafas berat. Tubuhku tengah bersandar pada bangku kayu di sepetak taman yang menghadap Sungai Han. Pemuda itu membawaku kemari, ia berkata jika daerah ini lumayan sepi sehingga tak akan ada orang yang mengancam keberadaanku. Ia juga memberiku sepasang sarung tangan guna menyembunyikan foka yang terus berpendar sepanjang jalan. Aku sedikit terkesan akan kebaikannya.

“Kau bilang namamu Wonwoo kan?” tanyaku memecah kesunyian. Pemuda disandingku mengangguk. “Aku Jungkook.” lanjutku sembari mengangsurkan jabatan.

Jemarinya lekas bertaut dengan milikku. “Senang bertemu denganmu, Jongkook.” Suara beratnya mengalun dengan jelas diimbangi senyum bersahabat yang bertahan beberapa sekon.

“Kau tak nampak begitu garang untuk ukuran seorang malaikat pencabut nyawa. Setidaknya mereka terlihat bengis dalam bayanganku.”  Aku berceloteh kembali setelah kami kembali dalam posisi awal, memandang Sungai Han yang airnya mengalir tenang. Meski tubuhku semakin terasa perih, efek foka yang tak kunjung dieksekusi.

 Wonwoo hanya tertawa ringan. “Begitukah?”

Aku menelan liur dengan susah payah, berharap lara ini berkurang barang sedikit. “Kau bilang membutuhkan bantuanku. Jadi apa yang bisa kulakukan?” tanyaku.

Batinku berkata, tak ada salahnya membantu seseorang walaupun ia sosok yang baru pertama kali dikenal. Tak ada batasan untuk menolong sesama. Aku tersenyum geli, meratapi diri sendiri yang entah sejak kapan menjadi sepeduli ini. Masih jelas dalam benakku ketika aku mengatakan bahwa diriku hanya satu dari ribuan manusia yang sibuk bertahan hidup. Namun kukira perubahan ini tidak terlalu buruk juga.

“Kau bersungguh-sungguh?” tanya Wonwoo dengan sorot berbinar.

“Setidaknya aku harus melakukan hal yang baik sebelum mati ‘kan?” Aku membalas Wonwoo dengan pertanyaan lain. Pertanyaan yang didominasi canda juga keseriusan. Pertanyaan yang membuatku bercermin tentang kehidupanku selama ini.

Sembari menahan sakit di sekujur tubuhku, aku mendapati senyum teduh Wonwoo yang diiringi ucapan terima kasihnya. Ia merenung sebentar sebelum menyusun kalimatnya. “Seperti yang kukatakan tadi, aku membutuhkan bantuanmu untuk melepas segel kutukan itu. Foka menghalangi tugas kami, para malaikat pencabut nyawa untuk memisahkan arwah dari tubuh manusia. Satu-satunya jalan melepaskan kutukan tersebut adalah memisahkan tanda tersebut dari tubuhmu.”

Aku masih terdiam, menanti kelanjutan ucapan Wonwoo.

“Kau harus memotong pergelangan tanganmu agar pengaruh foka itu hilang.”

Manikku melebar seketika. Suaraku meninggi secara spontan. “Apa?!”

Seakan telah menduga reaksiku, Wonwoo mencoba mengulangi penjelasannya. “Yang menciptakan foka adalah manusia, dan yang mampu menghilangkannya juga manusia sendiri. Karena fokamu berada pada punggung tangan, kau harus memotongnya. Dengan begitu darahmu mampu menghapuskan kutukan itu dan mengembalikan eksistensi kami.”

“Lalu, jika fokaku berada di dahi, apa aku harus memenggal kepalaku?” Aku bertanya sarkastis. Tubuhku mendadak bangkit, lupa akan kesakitannya.

“Kurang lebih begitu.” Wonwoo mengangguk. Netranya menilikku khawatir.

Aku berdecak tak percaya. Dalam bayanganku, pertolongan yang disinggung Wonwoo tak lebih dari hal-hal lumrah yang mudah dipenuhi. Tapi bukankah ini sudah keterlaluan? Tidakkah melangkahi batas? Bagaimana bisa malaikat maut itu menyuruhku mengamputasi anggota tubuhku hanya untuk mengembalikan keberadaannya? Meski pun aku akhirnya akan mati, namun aku ingin tubuhku dalam keadaan ‘utuh’.

Baiklah, aku tadi berkata akan membantunya. Tapi sungguh ini tidak benar.

“Maaf, namun sepertinya aku tak bisa membantumu.” Aku merapatkan tas punggungku dan segera beranjak dari area taman tersebut. Kudengar Wonwoo memanggilku berulang kali. Derap tungkainya mengekoriku.

Langkahku terhenti akibat lampu penyeberangan yang memperlihatkan warna merah. Manikku menyapu sekeliling, takut bila seseorang menyadari keberadaanku yang diambang kematian. Dari jauh aku menangkap sebuah kafe yang ramai pengunjung. Jika tidak ingin mati secara mengenaskan, aku harus menghindari wilayah dimana banyak manusia berkumpul.

“Gadis dengan coat biru laut disana, sebentar lagi foka akan muncul di pipi kanannya. Ia akan berteriak histeris dan akhirnya, kekasihnya yang akan mengakhiri hidupnya.”

Aku memutar leher kelewat cepat, demi mendapati Wonwoo disandingku. Atensiku lekas berpaling ketika jeritan seorang wanita menguar dari dalam kafe. Gadis dengan mantel biru menggeliat di bawah meja dan memekik kesakitan. Sontak hal tersebut mengundang banyak pasang mata untuk menyaksikan. Meski termasuk hal yang terlampau sering terjadi, namun manusia tak pernah jemu untuk menyaksikan sesamanya berakhir tragis.

Seperti yang diucapkan Wonwoo, gadis itu meregang nyawa dipelukan kekasihnya setelah ditikam benda tajam. Tubuhku ngilu, mengingat aku pernah melakukan hal serupa pada ibuku. Aku sekali lagi melirik Wonwoo heran.

“Jungkook, kau harus lari sekarang. Para pekerja bangunan di dekat pohon itu menyadari foka milikmu.” ujar Wonwoo setengah berbisik.

“Apa?”

“Sekarang!”

Aku hampir tersandung ketika Wonwoo mendorongku lumayan kencang. Pemuda itu segera menarik ujung seragamku, tak memberi waktu bahkan untuk menyadari keadaan sekitar yang mulai gaduh. Aku tak mampu berkata jika tubuhku telah mati rasa. Aku tak ingin mengacaukan upaya penyelamatan Wonwoo dengan limbung tiba-tiba. Kami berlari seperti makhluk kesetanan dalam jarak yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Wonwoo menoleh sesekali, memastikan tak ada lagi manusia yang mengikuti kami dan bernafsu menghabisiku.

Pemuda itu menyudahi pelarian kami pada sisi belakang bangunan kosong. Punggungnya lekas menubruk dinding selagi bibirnya terbuka, mengumpulkan oksigen. Hal serupa juga terjadi padaku. Namun lebih terlihat menyedihkan karena nyatanya, kepalaku sudah berputar diluar kendali dan tubuhku tak lagi terasa nyata.

Mungkin para manusia itu lekas mengakhiri kehidupan sesamanya karena tak ingin pengaruh foka menyiksanya lebih lama. Seperti yang kualami kini.

Wonwoo menatapku panik. “Kau baik-baik saja?”

Aku merogoh saku mantelku. Benda dingin itu bersarang disana. “Aku akan melakukannya.” Jemariku  melingkari pergelangan tangan kiri dimana foka berpendar samar. “Aku akan mengembalikan keberadaanmu dan menyudahi kekejian ini.”

Tak ada kata ditukar. Wonwoo memilih bungkam. Kendati maniknya berseru seribu hal. Aku menangkap satu yang mengumandangkan ucapa terima kasih.

Tidak, seharusnya aku yang menuturkannya. Ungkapan terima kasih karena telah membedakanku dari ribuan manusia diluar sana.

“Terima kasih telah menyadarkanku.”

Aku menekan ujung pisau lipat tersebut hingga menggores kulitku. Tanganku mengepal erat selagi benakku berperang menghapus segala kerisauan. Kupikir akan membutuhkan waktu lama dipenuhi kesakitan namun semuanya segera berbalik dalam hitungan detik dengan latar putih bersih memenuhi penglihatanku.

.

.

Manikku mengembang lambat ketika menangkap langit-langit dengan lampu melintang di tengahnya. Aroma karbol menyergap penciumanku. Aku berusaha terduduk diatas ranjang berwarna senada, namun tubuhku seakan menolak mentah-mentah. Kumiringkan kepalaku demi menyadari sebuah kubik bercorak putih mengurungku serta selang infus menyusup melalui tanganku.

Tangan? Aku bergeming. Tidakkah seharusnya aku kehilangan telapak tangan? Aku mengangkat tinggi sepasang tanganku. Keduanya lengkap bahkan foka yang bercokol disana telah sirna. Benar-benar hilang. Apa kematian urung menjemputku?

“Kau sudah bangun?”

Tak sampai aku mengartikan seluruhnya, dibalik lawang sesosok pemuda muncul dengan pakaian serba hitamnya. Netranya mengamatiku lega. Wonwoo, malaikat maut itu, menarik kursi dan duduk disanding ranjang. Ia mengulum senyum ketika memandang rupaku yang menyimpan puluhan pertanyaan.

Aku berusaha menegakkan tubuhku dengan bertumpu kedua sikuku. “Mengapa aku belum mati? Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi?” tanyaku beruntun. Terlalu penuh dalam kepalaku sehingga kutumpahkan semuanya sekaligus.

Wonwoo kukuh mempertahankan lekuk bibirnya, seolah itulah jawaban sesungguhnya.  “Keputusanmu merubah segalanya, Jungkook.”

“Apa maksudmu?” Dahiku berkerut. Aku lelah berpikir. Berasumsi macam-macam hanya menguras tenagaku.

Pemuda itu membenarkan duduknya. Bersiap untuk suatu penjelasan panjang. “Sedari awal foka tak mampu dilepaskan oleh darah manusia. Kutukan itu tak bisa dibebaskan hanya dengan memotong bagian tubuhmu yang dilekati foka.” ungkap Wonwoo.

Aku menyahut, sedikit disulut emosi. “Lalu mengapa kau menyuruhku melakukannya?”

“Karena dengan begitu aku mampu mendapatkan penangkal yang sesungguhnya. Foka timbul akibat ketidakpercayaan manusia kepada para malaikat pencabut nyawa. Satu-satunya hal yang mampu melepas segel tersebut hanya kepercayaan manusia.“ lanjutnya.

Wonwoo mengambil jeda sejenak. Sudut bibirnya ditarik pada sekon berikutnya. “Oleh karena itu aku mengajukan syarat yang sulit padamu. Aku memintamu memotong anggota tubuhmu. Hal tersebut tidak mudah, banyak manusia lain yang tidak mempercayaiku sebelumnya. Aku hampir putus asa saat kau juga demikian, melarikan diri dariku.”

Terdiam, aku mencoba mengaitkan satu per satu fakta yang berhasil kupahami. Semuanya masih abu-abu namun setidaknya ada hal yang membuatku tidak merasa hilang. “Jadi ketika aku melakukan syarat itu, kau mendapat kepercayaanku?”  Aku bertanya ragu.

“Kurang lebih begitu.” jawab Wonwoo disertai senyum pada sepasang maniknya.

Lagi-lagi aku membisu. Setelah gelombang besar dalam otakku, aku mampu menarik benang merah dari rentetan perkataan Wonwoo. Terdapat secuil kekecewaan yang mendiami sudut batinku. Selebihnya, hanya kelegaan serta kebahagiaan yang dituai sejak bertemu pemuda ini. Rasa bangga menyelip rapi ditengah riuhnya bilik hatiku kini.

“Lalu mengapa aku tidak meninggal?” tanyaku, mengutarkan hal terakhir yang menggangguku sejak tadi.

Lekuk bibir Wonwoo kian melebar. “Aku tidak akan mengambil nyawamu sekarang. Hidupmu diperpanjang. Aku sudah mendapat ijin dari atasanku, jadi tak perlu khawatir.” Ia bersedekap selagi menarik nafas tenang. “Tidak mudah membantu seseorang yang baru pertama kautemui, anggap saja hadiah dariku.”

Aku bergeming, terkesima. Hadiah dari malaikat pencabut nyawa adalah tambahan waktu hidup? Benar-benar diluar dugaan.

Wonwoo mengebaskan kemejanya lalu bangkit. “Kalau begitu, sampai jumpa.” Pemuda itu bersiap angkat kaki sebelum kalimatku mencegahnya.

“Tidak bisakah aku menjadi pelanggan pertamamu?” Wonwoo berbalik, menatap heran. “Aku tidak ingin dijemput malaikat maut lain yang berwajah bengis.”

Maniknya berkedip berulang kali. “Kau serius?”

Lekas kusibakkan selimutku dan menapakkan kaki di dinginnya keramik rumah sakit. “Lagipula,  memang benar aku seharusnya meninggal hari ini.”

Wonwoo menyerah. Ia menyulut senyum tipis yang terasa mendamaikan. “Aku akan membuat perjalanan paling nyaman untukmu.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang kutahu, aku bertemu seorang kawan yang telah merubah diriku secara utuh dan mengantarkanku ke dunia baru dimana aku tak akan serupa lagi dengan diriku dulu.

Fin.

Rencontrer la mort : Meet the death (French)

Advertisements

7 thoughts on “[Boys Meet What?] Recontrer La Mort – Oneshot

  1. Gila gila gila….
    Authornya jenius gilaaa uwuwuw xD pas banget pemakaian kata nya, alurnya juga super imajinatif gini, hahaha, amanat juga bagus banget. Mantap dah, idola bgt dah ni authornya. Semangat terus nulisnya! From your new reader, Cheers!

    Like

  2. aku udah baca ini waktu penilaian(?), dan sekarang pun masih pengen komen; ini kereeen :”””))) kenapa bisa sih bikin fiksi yang macem macem?! aku juga pengen bisa bikin fiksi macem macem gini :”) /apa

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s