[Chapter 4] The Dark Wings: The Secret

img_9485

The Dark Wings

[Chapter 4]

The Secret

by ayshry

Kim Taehyung or Louis Kynse Archelaus | Baek Juho as Lachlan Gent Leviathan | Ko Shinwon as Earl Rehuel Beelzebub | Kim Hyojong as Owen Jarl Asmodeus | Kim Seokjin as Carl Hansel Beelzebub

 genres AU!, Fantasy, Adventure | length 3.2k words | rating PG-15

Prev:

Prolog & IntroductionChapter 1: The KnightsChapter 2: New Dimension, Chapter 3: On The Earth

***

Lirikan tajam Seokjin hadiahkan pada sosok pemuda berambut abu-abu yang kini mengamati kakinya dalam diam; tertunduk bahkan terlihat seperti seorang anak kecil yang baru saja memakan semua persediaan cokelat di rumah sehingga kemarahan sang ibu tak terelakkan. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati pemuda itu, ada rasa geram yang membuncah. Membayangkan dirinya tak berkutik di hadapan makhluk rendahan berlabel manusia adalah hal yang cukup memalukan. Well, yang memberinya tatap tajam kini memang bukan seorang manusia sejak lahir, karena ia dulu—dulu sekali—pernah menjadi sosok yang sama dengan dirinya, tetap saja ia tak suka. Hanya saja, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menunjukkan rasa dongkolnya itu, toh percuma. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Menggunakan kekuatan di Bumi adalah hal ilegal yang hampir membuatnya gila. Padahal, biasanya jika ada satu mahkluk saja yang membuatnya sebal, maka bersiap-siaplah api hitam melayang dan mengubah si pelaku menjadi debu kelabu yang menyedihkan.

“Rasanya aku sudah mengatakannya berkali-kali, Lach. Bagaimana bisa kau menyebut-nyebut soal mempertaruhkan nyawamu di hadapan Taehyung? Kenapa tidak langsung saja kau panggil dia Pangeran Louis, Yang Mulia, atau beberkan saja jati dirinya tepat di depan wajahnya!” Seokjin melengos. Entah sudah berapa lama ia meluapkan emosi di hadapan tiga pemuda yang baru saja bertandang semalam tetapi hampir membuat segala yang telah ia pertaruhkan sejak jantungnya mulai berdetak hancur dalam hitungan menit.

“Kau sudah menasihatinya sejak tadi, Seokjin. Cukup. Lachlan hanya sedikit kebingungan dan kurasa ia sudah mengerti sekarang.” Earl yang sedari tadi diam dan memerhatikan kini memangkas jarak dengan sang kakak, menepuk pundaknya pelan demi memberikan ketenangan.

“Tapi, Earl—ah, sial!” Hembusan napas kasar itu membuat Seokjin sedikit membuang rasa kesalnya. “Oke, aku mengerti. Ya, aku tahu kalian membutuhkan waktu lebih banyak lagi untuk beradaptasi di sini dan aku akan memakluminya. Tapi, hanya untuk kali ini saja. Tak ada kesalahan lain, mengerti? Terlebih jika hanya ada kalian dan Taehyung saja. Jangan pernah berbicara omong kosong padanya. Terutama kau, Leviathan!”

“Aku mengerti.” Suara tegas itu mengalun dengan lembut, seakan si pemilik ingin memperlihatkan kesungguhannya dan sebagai ungkapan penyesalan yang tak mampu ia tunjukkan dengan benar.

“Oke. Aku akan memercayai kalian. Dan … Owen, bisa kau temani Taehyung di kamarnya? Aku akan menjemput Reyn karena gadis itu sudah sedari tadi meneleponku. Lalu Earl dan Lachlan, aku akan memberikan kalian sebuah misi. Misi pertama sebagai seorang manusia sekaligus menunjukkan cara bagaimana manusia hidup.”

“Misi?”

Seokjin merogoh kantung celananya lalu mengeluarkan dompet berwarna cokelat tua yang mengilap. Untuk sesaat, pemuda itu terlihat sibuk dengan benda yang terbuat dari kulit tersebut sebelum sebuah benda persegi pipih ia sodorkan pada Earl yang menghujaninya dengan tatap heran kini.

“Ya. Misi pertama kalian adalah … membeli 5 gelas americano di gerai kopi yang berada di lantai bawah dan gunakan ini untuk membayarnya. Kalian tinggal memesan di meja kasir, memberikan kartu ini, menunggu sebentar, lalu menerima kopi dan membawanya kembali ke sini. Mudah, bukan?”

***

Duduk di depan setir mobil, pikiran Seokjin kini bercabang banyak. Pertama, khawatir dengan keadaan Taehyung. Kedua, was-was dengan tingkah tiga pendatang yang bisa-bisa menghancurkan segala tembok besar yang ia bangun untuk mengamankan situasi kapan saja. Ketiga, keadaan Dionaea. Keempat, bagaimana bisa pemberontakan terjadi dan Raja dimusnahkan dengan mudahnya? Kelima, dering ponsel yang tak kunjung berhenti lantaran Reyn tak sabar menantikan kedatangannya.

“Ya. Ya. Aku sudah di jalan, Rey dan sebentar lagi akan tiba di sana. Taehyung sudah sadar, dia tidak kenapa-kenapa. Tidak perlu cemas, oke?”

Desah napas yang menguar dari ujung telepon membuat Seokjin tersenyum kecil. Reyn memang tipe orang yang gampang cemas, dan melihat gadis berambut sebahu itu tak henti-hentinya mempertanyakan keadaan Taehyung membuatnya tak mampu menahan diri untuk tak memanjatkan rasa syukur sebanyak-banyaknya. Keberadaan Reyn begitu berarti bagi Taehyung, dan dia tahu benar akan hal itu. Sesuatu yang membuatnya benar-benar lega adalah tindakan Reyn. Gadis itu sama seriusnya dengan Taehyung jika ditanya soal hubungan mereka. Meski sering beradu argumen bahkan saling adu jotos sekali pun, keduanya tetap saling menyayangi, saling mengasihi, saling mencintai satu sama lain. Rasa yang tak pernah—belum pernah—Seokjin rasakan dari manusia—atau pun kaumnya dulu.

“Hati-hati menyetirnya, Kak.”

Seokjin lekas kembali ke alam nyata ketika mendengar suara di seberang sana. Berdeham, ia lalu menjawab, “Oh, tentu saja, Rey.” Dan pada sekon berikutnya sambungan telepon diputus.

***

Owen memasuki ruangan dengan canggung. Taehyung masih terbaring di kasurnya ketika ia menutup pintu dan menyebabkan bunyi kecil yang membuat si pasien melayangkan tatap padanya.

“O, kau di sini.” Taehyung lekas mengubah posisinya menjadi duduk dan satu senyuman hangat membuat Owen tak mampu menahan diri untuk tak turut mengulas senyuman. “Yang lain?”

“Seokjin menjemput Reyn sedangkan Lachan dan Earl hmm … membeli sesuatu. Kurasa.” Butuh beberapa detik untuk Owen mengingat kembali misi apa yang telah Seokjin berikan pada kedua rekannya tadi. Kata-kata asing begitu memusingkan, tapi untung saja ia bisa mengendalikan keadaan dan tak menyebabkan kecurigaan. Dunia manusia benar-benar memusingkan.

Taehyung mengangguk-angguk sembari membenarkan letak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Owen mendekat, lalu dengan gerakan kaku menjatuhkan bokong di bangku yang tersedia di samping kasur.

“Butuh sesuatu?” tanya Owen memecah keheningan, mencoba berpolah akrab dan membiasakan diri menghapus derajat sosial yang terbentang luas sejatinya.

“Tidak. Terima kasih. Tapi, Owen-a ….”

“Ya?”

“Boleh aku menanyakan sesuatu?”

“Selama aku bisa menjawabnya, tentu saja.”

“Kau … datang dari mana?”

“Ha?”

“Ah, maksudku asal kalian. Negara tempat kalian tinggal. Amerika? Belanda? Swiss? Karena kurasa kau dan yang lain tak berasal dari sini. Perawakan kalian berbeda dan luar biasa sempurna. Dan lagi … kalian tampak tak jauh berbeda dari kak Seokjin.”

Owen terperanjat. Ada beberapa kata yang tak ia pahami, namun inti dari pertanyaan yang terlontar tentu saja ia mengerti. Taehyung menanyakan asal-usul mereka. Mereka yang tiba-tiba muncul dengan tampilan yang sedikit—atau mungkin sangat—berbeda dengan mahkluk di Bumi. Lantas, apa yang harus dikatakan olehnya? Ia ingat Taehyung sempat menyinggung beberapa kata—yang ia rasa nama negara atau apalah itu—tapi ia tak mampu mengingatnya.

Tepat ketika Owen masih berperang dengan ketidaktahuan serta kebingungan yang melingkupi diri, suara pintu yang bergeser mengalihkan atensi mereka. Lachlan dan Earl berjalan masuk. Kedua tangan mereka penuh dengan gelas-gelas berisi cairan hitam pekat. Kedatangan dua penyelamat—bagi Owen—itu membuat si Amodeus merapatkan gigi lantas diam-diam bersyukur. Karena, jika lebih lama lagi ia ditinggalkan bersama Taehyung, maka ia tak bisa menjamin mulutnya mampu bertahan dan menyembunyikan segalanya dengan aman. Owen itu ceroboh juga tipe yang ceplas-ceplos, apalagi jika sudah kepepet. Tidak peduli dengan ancaman, ia hanya akan mengatakan segala sesuatu sejujur-jujurnya asalkan beban yang menumpuk bersama rahasia yang mengikat bisa lepas begitu saja. Bebas.

“Bagaimana misi kalian?” Owen berbisik—sangat pelan—sembari berharap Taehyung tak mendengar secuil pun potongan kata yang ia lontarkan.

“Berantakan.”

“Kenapa?”

“Kau takkan bisa membayangkan bagaimana keadaan di sana. Penuh sesak. Kami harus berdiri di belakang orang-orang, menunggu giliran dengan sabar. Untung saja Lachlan tidak berulah. Setidaknya aku tak perlu menenangkan setan itu sembari mencoba menjaga kesabaran. Pokoknya buruk. Sangat buruk.”

“Tetapi tak seburuk keadaan di sini,” ujar Owen. “Aku hampir saja membiarkan bibirku mengeluarkan apa yang hendak ia katakan jika kalian tak tiba di sini kurang dari satu detik saja.”

“Sialan kau!” desis Earl.

“Taehyung menanyakan asal-usulku—kita, maksudku. Lalu bagaimana? Apa yang harus kukatakan? Aku hampir gila, asal kautahu.”

“Kau memang sudah gila,” sahut Lachlan tiba-tiba. Suaranya berat dan mengisi ruangan. Kedua pasang mata kini melirik ke arahnya dengan tatap kesal, namun Lachlan mengabaikan dan merajut langkah mendekati ranjang Taehyung.

“Jangan bicara yang tidak-tidak, Lach.” Owen mengingatkan dan satu anggukan dari Lachlan membuat Taehyung menatap secara bergantian ketiga pemuda tersebut.

“Kalian membicarakan sesuatu yang tak boleh kuketahui, huh?” selidik Taehyung. Matanya menyipit, keningnya berkerut. Curiga mulai menguasai diri. “Dan kalian memang tak mau memberitahuku tempat asal kalian? O, kalian tidak berasal dari dunia lain bukan? Maksudku, kalian—“

“Hei, kau mau kopi?” Earl memotong cepat, lalu berlari kecil menghampiri sisi kasur Taehyung.

“Kurasa memang ada yang tak boleh aku ketahui,” sahut Taehyung sembari mengulas senyum kecut.

“Tidak ada apa-apa, Taehyung. Kami tak merahasiakan apa pun darimu. Hanya sedikit obrolan tak penting guna membunuh canggung.” Kali ini Lachlan kembali memasuki alur percakapan. Memasang raut wajah semanis mungkin; melenyapkan sisi dingin dirinya. “Omong-omong soal asal-usul, kami dari belahan Bumi bagian barat, mungkin kau pernah mendengar tentang kami sebelumnya, huh?”

“Tidak pernah. Sama sekali. Bahkan kak Seokjin tak pernah menyinggung apa pun tentang saudara jauh atau sejenisnya. Kukira kami hanya keluarga kecil tanpa sanak saudara lainnya.”

“Itu karena kita terpisah. Sangat jauh dan aku juga tak menyangka bakal bertemu denganmu.”

“Bisa jadi ….” Untuk sejenak, Taehyung membiarkan dirinya sibuk dengan pemikiran tentang kemungkinan yang baru saja dilontarkan oleh Lachlan.

Di sisi lain, dua pemuda yang sedari tadi masih berdiri di ambang pintu diam-diam saling melempar pandangan lega. Lachlan pintar. Mereka mengakuinya, meski terkadang—tidak, lebih tepatnya sering menyebalkan dan bertindak semaunya tetapi dia benar-benar bisa diandalkan. Omong-omong, belahan Bumi bagian barat itu di mana, ya?

“Tetapi, jika dipikir-pikir, kalian memang mirip dengan kak Seokjin. Tapi tidak denganku,” lanjut Taehyung tiba-tiba.

“Kata siapa?” Lachlan masih menguasai keadaan, membiarkan Taehyung melontarkan banyak pertanyaan yang telah ia siapkan jawaban selogis mungkin. “Kau juga mirip dengan kami.”

“Sungguh?”

“Tentu saja!” sahut Owen. “Kau sama tampannya dengan kami.”

“Oke, aku tahu kalau yang bagian itu. Aku tampan, tentu saja.” Gelak tawa pun menguar usai Taehyung berkelakar.

Di saat keadaan kembali aman dan terhindar dari prasangka buruk, ketiganya berusaha sekuat tenaga agar tak kembali terjerumus dalam kecurigaan. Setidaknya sampai Seokjin tiba, sampai sang penyelamat bisa mengendalikan keadaan agar tak semakin memburuk.

Ketika hening kembali mengusai ruangan bernuansa putih tersebut, derap langkah terburu-buru juga ketukan tak beraturan di lantai membuat keempat pemuda di sana sama-sama mengalihkan tatap pada pintu yang tertutup rapat. Sekon berikutnya, semua tersentak ketika pintu terbuka dengan kuat. Seseorang berlari masuk; mengabaikan eksistensi ketiga pemuda lainnya dan hanya menuju Taehyung yang kala itu menatapnya dengan tenang. Tersenyum.

“DASAR KIM TAEHYUNG BODOH!”

Satu pekik menguar bersamaan sang gadis yang menjatuhkan tubuh dalam pelukan Taehyung yang berbalut baju khusus pasien. Tangan kanannnya yang diinfus buru-buru ia naikkan sebelum tubuh gadisnya menimpa dan membuat aliran tersumbat. Tidak, Taehyung tak mau membuat tusukan baru di nadi hanya karena selang infus tersumbat oleh darah dan harus mendapat tempat yang baru. Taehyung takut jarum suntik, omong-omong.

“Syukurlah kau baik-baik saja.” Nada suara Reyn melembut. Membenamkan wajahnya di dada Taehyung, ia tak memedulikan tatap heran tiga pasang mata asing yang berada di sana. Baginya, hanya ada dia dan Taehyung saat ini. Taehyung yang hampir membuatnya lupa menghirup oksigen petang semalam lantaran tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri setelah menerima satu gebukan darinya. “Kau membuatku takut, Bodoh!” Ada isakan yang lolos disela kata, membuat Taehyung perlahan melepas pelukan demi melihat wajah gadisnya yang mulai basah.

“Hei-hei, ada apa? Aku baik-baik saja. Kau tak perlu menangis seperti itu. Dasar cengeng!”

“Kalau kau baik-baik saja, jangan membuatku khawatir dengan tiba-tiba pingsan, dong! Menyebalkan!” Satu pukulan mendarat di dada Taehyung, membuat si pemuda mengaduh demi menggoda sang gadis yang kini kembali mengulas raut cemas. “Astaga, apa aku memukulmu terlalu kuat?”

“Dasar gadis kejam,” dengus Taehyung.

“Pukul lebih kuat lagi, Rey. Tidak apa-apa. Taehyung memang pantas dipukul.” Suara dari arah belakang membuat Reyn tersadar jika bukan hanya ia dan Taehyung saja yang berada di ruangan kini, namun sosok Seokjin dan tiga pemuda lainnya berada di sana. Menyaksikan adegan mesra—yang memalukan—sedari tadi.

“Sial ….” Reyn mengumpat pelan, namun masih tertangkap telinga oleh Taehyung yang kini tertawa keras. “Diam kau!”

“Astaga, tak bisakah kau lebih lembut lagi dengan kekasihmu yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit ini, huh?” Taehyung memasang wajah memelas, membuat Reyn hendak melayangkan tamparan saking gemasnya namun ia tahan lantaran tak enak hati dengan yang lainnya.

“Maaf, Kak. Aku lupa kalau ada kalian di sini, hehe.” Tawa canggung itu tampaknya ampuh mengubah suasana. Meski ada sedikit jarak yang sempat membuat Reyn malu, namun setidaknya ia sudah bertemu dengan ketiga pemuda asing itu malam tadi. Tetapi, ia melupakan nama mereka. Nama asing yang rasanya terlalu rumit untuk dilafalkan.

“Tidak masalah. Aku mengerti, kok,” sahut Seokjin. “O, Reyn-a, kau sudah bertemu dengan mereka, ‘kan malam tadi?”

“Iya, Kak. Tapi, jujur saja aku masih belum terbiasa dengan nama mereka. Terlalu sulit untuk diingat, hehe.” Reyn tersenyum. Mencoba menjadi ramah sekaligus menahan malu.

“Hai, Reyn! Namaku Owen. Senang bertemu denganmu.” Tanpa menunggu perintah, Owen terlebih dahulu memulai perkenalan.

“Aku Earl.”

“Dan aku Lachlan.”

“Jadi, kau sudah mengetahui nama-nama mereka, ‘kan?” tanya Seokjin yang dijawab anggukan oleh Reyn. “Kalau begitu, aku akan meninggalkanmu dengan Taehyung di sini. Bisa tolong jaga Taehyung selama aku dan yang lainnya keluar?”

“Oh, tentu saja.”

“Hei, kau mau ke mana, Kak?” tanya Taehyung cepat, seolah ia ingin protes lantaran ditinggal berduaan dengan Reyn yang galak.

“Mengurus kepulanganmu.”

“Ya? Aku sudah boleh pulang?”

Seokjin mengangguk. “Kau hanya kelelahan, Kim Taehyung. Setelah istirahat semalaman bukankah seharusnya kau pulang sore ini? Lagi pula kau tak suka berlama-lama di sini, ‘kan? Aku tahu itu. Jadi, tunggu sampai aku menyelesaikan proses kepulanganmu dan kau akan segera terbebas dari ruang pengap ini.”

“Asyik! Kau memang kakak yang terbaik!” Mengancungkan kedua jempolnya, Taehyung memamerkan cengiran terlebar yang ia miliki. “Tapi, bagaimana dengan yang lainnya?”

“Oh, aku akan membawa mereka berjalan-jalan sebentar. Kasihan sekali, baru tiba di Korea dan mereka malah harus terjebak di ruang berbau karbol begini.”

“Baiklah. Aku mengerti.”

“Jadi, selamat bersenang-senang, Park Reyn. Kau boleh melakukan apa saja kepada Taehyung, kok. Marahi saja dia karena tak pernah bisa menjaga kesehatan dan malah berakhir di rumah sakit seperti ini.” Seokjin tertawa lalu memberi kode pada Owen, Earl dan Lachlan untuk mengikutinya keluar.

Sementara keempat pemuda tersebut mulai mengayunkan kaki meninggalkan ruangan, Reyn kini mengalihkan tatap pada Taehyung yang tak henti-hentinya memasang wajah ceria; mencoba membuat Reyn lebih jinak dan tak menerkamnya saat itu juga.

“Kak Seokjin dan yang lainnya sudah pergi … artinya aku bisa melakukan apa saja kepadamu, Kim Taehyung. Jadi, bertahanlah, Sayang. Aku hanya akan memberikan beberapa pukulan akibat membuatku tak bisa tidur karena mengkhawatirkanmu semalaman!”

“O-oh, ampuni aku, Park Reyn!”

***

“Tadi Taehyung menanyakan tempat asal kami, dan Lachlan bilang kami dari belahan Bumi bagian barat. Entahlah, aku tak mengerti yang dikatakan olehnya, tapi setidaknya aku selamat. Kami terselamatkan.” Owen membuka suara.

Keempat pemuda itu tengah berkumpul di salah satu bangku taman lingkungan rumah sakit. Seokjin sengaja mengumpulkan mereka demi memberikan beberapa informasi penting lainnya selama mereka di Bumi, dan saat-saat seperti ini adalah yang terbaik. Selagi Taehyung sibuk bersama Reyn, maka ia bebas membawa ketiga pemuda itu di sekeliling rumah sakit tanpa harus mengkhawatirkan keadaan Taehyung pun memberikan beberapa pengetahuan yang layak didapatkan selagi mereka menjelma sebagai manusia.

“Kerja bagus, Lach.” Seokjin tersenyum. “Omong-omong, setelah kepulangan Taehyung, kita akan lebih disibukkan lagi dengan menjadi penjaganya. Hanya tinggal menunggu hari saja sampai transformasinya sempurna, dan selama itu rasa sakit yang tak terhingga akan terus-terusan menyerang. Aku sedikit khawatir. Taehyung bukan tipe orang yang suka berkeluh-kesah, tapi aku yakin, rasa sakit akan sangat menyiksa. Kita harus memikirkan beberapa cara agar ia selalu berada di bawah pengawasan, jadi ketika rasa sakit itu kembali datang, aku bisa sedikit meringankannya.”

“Ya. Aku pernah mendengar hal tersebut,” sahut Lachlan. “Lalu, apa kau memiliki rencana setelah tranformasi Taehyung sempurna?”

“Rencana? Kita akan memikirkannya nanti. Untuk sekarang, kita harus terfokus pada Taehyung, menjaganya dan memastikan segalanya baik-baik saja.”

“Apa kita akan segera pulang ketika Taehyung telah kembali ke wujud aslinya?” Pertanyaan tersebut terlontar dari bibir Earl yang kini menatap Seokjin penuh rasa penasaran.

“Entahlah …. Aku masih belum memikirkan hal itu.”

“Bukannya lebih cepat lebih baik?” timpal Owen. “Kurasa Dionaea benar-benar membutuhkan Sang Pangeran. Kita tak bisa menunggu lebih lama lagi. Sagiv itu pemberontak yang tak waras. Kita tak bisa memprediksikan hal apa yang akan ia lakukan pada tempat tinggal kita nantinya.”

Desahan napas berat menguar dari bibir Seokjin. Perkataan Owen memang benar, tetapi ia masih membutuhkan waktu untuk mengambil pilihan.

“Bukankah kita harus memberitahu perihal jati diri Taehyung terlebih dahulu?” Lachlan memandangi Seokjin yang tampak bingung. “Kapankah waktu yang tepat? Sebelum sayapnya tumbuh atau setelahnya?”

“O, sayap! Aku hampir saja melupakannya.” Seokjin memaku tatap pada Lachlan. “Kurasa, beberapa waktu yang lalu Taehyung sudah merasakan hal ganjil di punggungnya, aku berasumsi jika sayapnya akan tumbuh tak lama lagi. Dan … proses itu adalah yang paling menyakitkan. Takutnya, Taehyung tak mampu bertahan dan—“

“Lebih baik ceritakan segalanya terlebih dahulu,” potong Owen. “Meski kedengaran tak masuk akal, tapi Taehyung harus tahu hal apa yang sedang menunggunya.”

“Aku masih memikirkannya,” jawab Seokjin. “Di satu sisi, aku benar-benar ingin memberitahukan segalanya pada Taehyung, agar aku bisa selalu berada di dekatnya, mengendalikan rasa sakit jika datang sewaktu-waktu. Tapi … aku tak tahu apakah Taehyung sanggup menerimanya. Cerita yang akan kita ungkap adalah sesuatu yang tak terduga, bisa-bisa Taehyung menganggapnya sebagai candaan dan—“

“Lalu ketika sayapnya benar-benar tumbuh, Taehyung akan bungkam. Bukan begitu?” potong Lachlan.

“Kurasa, ide untuk menceritakan segalanya pada Taehyung sebelum keadaan memburuk adalah sesuatu yang tepat,” timpal Earl. “Aku tahu ini mungkin sedikit tidak masuk logikanya, tetapi tak ada cara yang lebih baik dari pada ini.”

“Beri aku waktu.” Seokjin mendesah. “Setelah Taehyung keluar dari rumah sakit, kita tak bisa langsung menceritakan jati dirinya. Tunggu beberapa hari lagi. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Lagi pula, kita butuh ayah untuk memutuskan segalanya.”

“Oh, bukannya Sang Pangeran akan memiliki tanda di pergelangan?” Suara Owen yang sedikit meninggi membuat yang lain memandanginya.

“Astaga, hampir saja aku melupakannya!”

“Tanda yang akan menyala jika dalam keadaan terancam ….”

“Hal yang akan membuat Taehyung sangat kebingungan,” lanjut Earl.

“Kalau begitu, kita harus menceritakan segalanya sebelum tanda itu muncul.”

“Tapi kita tak tahu kapan tandanya akan muncul, Owen.”

“Maka seperti perkataanku di awal, lebih cepat lebih baik, bukan?” Owen membiarkan yang lain menatapnya dalam diam. Meski begitu, ia pun tak begitu yakin dengan perkataannya. Membuka jati diri Sang Pangeran bukanlah hal yang mudah, ia menyadarinya. Tetapi jika terlalu lama menunda bukankah akan semakin membingungkan?

Seokjin berdiri. Ia terlihat paling frustasi saat ini.

“Oke, setelah ini aku akan berbicara pada ayah. Setidaknya biarkan Taehyung benar-benar membaik dan bisa menerima kenyataan gila yang sudah menunggunya.”

“Jadi … kau akan lekas menceritakan segalanya? Tentang Dionaea, tentang Taehyung yang adalah seorang Pangeran kaum Lucifer, tentang kerajaan yang sedang porak-poranda dan membutuhkan kekuatannya untuk bertahan?” Pertanyaan bertubi-tubi yang meluncur dari bibir Lachlan mendapat anggukan dari Seokjin.

“Ya, aku akan—“

“Kak Seokjin ….”

Suara lembut tercekat yang menguar dari arah belakang membuat keempat pemuda di sana lekas mengalihkan padang. Menemukan Reyn berdiri sembari menatap dengan tegang, tampaknya ada masalah lain yang telah datang. Rahasia yang harusnya tak diketahui oleh satu manusia pun sepertinya telah terbongkar. O, bagian mana saja yang sudah didengar oleh gadis itu?

“Park Reyn? Sejak kapan kau—“

“Apa maksud dari percakapan kalian barusan, huh? Kim Taehyung … seorang pangeran? Kaum Lucifer? Kerajaan?”

“O-oh, sepertinya kau salah dengar, Rey. Tidak ada yang—“

“Aku mendengar semuanya, Kak. Sangat jelas. Tapi ….”

Keempat pemuda itu kini saling mengadu pandang. Celakalah mereka yang tak memerhatikan sekitar hingga obrolan penting pun tercuri dengar. Sialnya lagi, yang mendengarkan adalah Reyn, seseorang yang mengenal Taehyung luar-dalam. Di saat-saat genting seperti itu, Seokjin, Lachlan dan Earl tanpa dikomando lekas mengalihkan tatap pada Owen yang kini kebingungan.

“Hei, sepertinya kita butuh keahlianmu, Owen,” ujar Earl.

“A-apa?”

“Menghilangkan ingatan,” timpal Lachlan.

“Tunggu, aku tak pernah memiliki kekuatan seperti itu! Telekinesis tidak dipergunakan untuk menghapus ingatan seseorang, jika kau tidak ingat.”

“Tidak. Bukan itu yang kami maksud.”

“Lantas?”

“Keahlianmu dalam membuat ramuan. Sepertinya aku pernah mendengar ramuan yang bisa menghilangkan ingatan. Aku benar, bukan, Asmodeus?”

-TBC.

Advertisements

5 thoughts on “[Chapter 4] The Dark Wings: The Secret

  1. Aduu Thorr ditunggu yahh next chapter nya udh gak sabarr😁😁gue emang pling suka sma FF yg genre nya fantasy bgni
    Apalagi ff yg satu ini bahasa nya bagus👍👍👍👏👏 Fighting!! and keep writing thorr

    Like

  2. WHY SEOKJIN SO GARANG ?? aku kaget pas baca di awal-awal.. ini bang jin kenapah?? dan oh, taunya lagi marahin si Lachlan masyaallah bang jan sensitive ke emak-emak napa TT kesian tuh si kulkas / eh 😀 noh dia udah nylametin owen dari mara bahaya hahahaha (belahan bumi barat the yg mananya? wkwkwk)

    JENG JENG JENG REYN!!!! kamuuu kok…… bisa muncul di situ sih? huhuhu keknya reyn bakal diajak ke dianoea blablablabah (aku susah bgt ngeja tuh negara). bener ngga ay? hihi 😀 ingatannya dihapus sebagai manusia gityuu habis itu mereka cerita deh ke pangeran luis yg sebenernya.
    nah! aku pengin bgt ada scene dimana sayap taehyun tumbuh gede (lah), terus kan sakit banget tuh… nah bang jin ada di sampingnya fuh! aku suka bgt kalau ada brothershi brothership gituuu sungguh! 😀

    ditunggu kelanjutannya yaa ay-ku suyuung! FIGHTING!!! KEEP WRITING!!!

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s