[Vignette] Never Forever

photogrid_1486002610894

Never Forever

by IvyJung

[BTS’s] Kim Seokjin , [SVT’s] Kim Mingyu, [OC’s] Kim Nayeon

Vignette || Family, Slice of Life || General

disclaimer: OC belong to risequinn (Echa) , i just own the plot.

.

Seokjin dan Mingyu sepakat untuk tidak membiarkan saudara perempuannya memasak.

Apapun yang terjadi!

.

.

 

“Ajari aku memasak, Kak!”

Seokjin terkekeh mendengar permintaan adik perempuannya. Dengan mata memohon, gadis itu terus menerus mengganggu tidur siang Seokjin; mengguncang-guncang tubuhnya, mencubiti lengannya, hingga turut bergulung di kasur empuknya membuat lelaki itu tak sempat memejamkan mata.

Usianya sudah duapuluh dua. Ia bahkan sudah berada pada tingkat akhir bangku universitas. Tubuhnya cukup bongsor dibanding teman-teman sebayanya, tapi sifatnya… ugh, bisakah Seokjin menempatkannya sebagai adik bungsu alih-alih Mingyu?

“Biarkan aku tidur sejenak, Nay. Kakakmu ini lelah sekali lembur sampai pagi.” Seokjin masih menghindari permintaan adiknya. Kim Nayeon itu bukan hanya tidak bisa memasak, tapi dia dan segala tetek bengek peralatan dapur bukan perpaduan yang baik, omong-omong. Biar saja bayi bongsornya itu merengek sampai lelah. Seokjin hanya belum siap mereparasi dapur kesayangannya lagi jika Nayeon kembali membuat kekacauan.

“Kak Seokjin, astaga!! Aku tahu kakak tidak lelah, Kakak hanya tidak mau mengajariku, huh?” Nayeon memukul lengan Seokjin, bersungut-sungut.

“Ya,” balas Seokjin tergelak. “Kau tidak cocok memasak—ah, bukan, kau tidak cocok melakukan pekerjaan rumah, Nay. Apapun,” sambungnya penuh penekanan.

Cengirannya menyebalkan, setidaknya bagi Kim Nayeon. Namun gadis itu tidak mampu membantah barang sekata.

“Tapi aku ingin belajar, apa tidak boleh?” kesalnya kemudian. Nayeon lalu membuang bantal pada muka kakaknya sebelum beranjak pergi. Tinggalkan si sulung yang masih terkekeh-kekeh melihat ekspresi kesal adik perempuannya itu.

“Kak Nay…”

“Apa? Pergi sana. Aku sedang tidak ingin bercanda. Oh, kalau mau ajak ribut nanti saja. Tunggu sampai tangan-tanganku semakin gatal untuk mencakarmu, Gyu!”

Kim Mingyu terperangah, “Astaga… aku hanya memanggil karena bosan. Kenapa kakak sensitif sekali? Datang bulan, huh?” Bungsu keluarga Kim itu lekas menjaga jarak dengan Nayeon. Kekesalan pada Seokjin rupanya belum juga mereda hingga waktu hampir menemui senja. Gadis itu, sudah tiga jam lamanya hanya duduk di depan pintu belakang rumah. Melantai tanpa alas kaki, sembari mengumpati Seokjin dengan rajin,

“Gyu…” Nayeon memanggilnya, kini dengan suara lebih lirih.

Mingyu yang duduk di bangku sambil memainkan ponsel hanya melirik, takut disemprot lagi.

“Kenapa aku tidak pandai memasak?” gumam gadis itu sembari menerawang.

Tawa Mingyu sudah hampir mengudara, namun ditahan sekuat tenaga agar tak benar-benar mendapat cakaran. Setelah sama-sama tercenung cukup lama, akhirnya si adik laki-laki membuka suara.

“Kau tidak benar-benar tak bisa memasak kok, Kak,” belanya,  “Kau bisa, hanya saja… kau sedikit ceroboh.”

Untuk pertama kali, Nayeon menatap adiknya. Mata lebarnya menumbuk manik Mingyu hingga nyali pemuda itu menciut seketika. Ia salah bicara? Ya ampun, salah bicara!

Gadis itu bangun, melangkah cepat-cepat ke arah Mingyu yang sudah was-was. Namun bukannya mencakar atau sebagainya, Nayeon malah turut duduk si sampingnya dan merangkul. “Begitu? Jadi aku bisa memasak, ‘kan, Gyu? Maksudmu… asal aku tidak ceroboh, aku bisa membuat makanan dengan tanganku sendiri, ‘kan?”

“Y-ya.”

“Lalu aku akan lebih berhati-hati.”

“Oh, itu bagus, Kak. Kau hanya perlu memastikan tidak melukai jarimu dengan pisau. Juga, jangan membakar dapur lagi,” balasnya.

“Tentu. Jadi kau mau menemaniku memasak, ‘kan? Aku akan hati-hati kali ini.” Nayeon semakin mengeratkan rangkulannya sementara Mingyu terbelalak.

“A-apa?”

“Hei, kau bilang aku bisa,” seru Nayeon masih berharap—

“T-tapi, Kak… Ah, aku harus pergi sebelum matahari terbenam. Kak Nay masak bersama Kak Seokjin saja, ya.”—dan ia tahu menggantung harapan pada Kim Mingyu sama bodohnya dengan berharap pada Kim Seokjin.

Masa bodoh.

Pintu kamar Nayeon sudah diketuk puluhan kali, tapi ia kali ini benar-benar masa bodoh pada dua saudaranya yang kelewat menyebalkan itu.

Biar saja jari-jari tangan Seokjin mengetuk sampai memar. Biarkan juga jeritan Mingyu memanggil-manggil sampai pita suaranya putus. Pokoknya, malam ini dia marah—dan tak mau ikut makan bersama mereka.

Sejak penolakan dari adik laki-lakinya tadi sore, Nayeon bertekad untuk mengurung diri. Hanya perkara belajar memasak saja tidak ada yang mau membantu. Ugh, lantas mau apa lagi? Pokoknya masa bodoh!

“Kak Nay… Aku lapar. Bisa tidak sih keluar sebentar saja.” Itu teriakan Mingyu, yang semakin meninggi sebab Nayeon masih saja bungkam.

Seokjin mungkin sedikit merasa bersalah, suaranya lebih lunak dan ia tidak banyak bicara. Hanya ketukan-ketukan lembut pada pintu kamar Nayeon yang masih terkunci rapat.

“Ya Tuhan… Kak, boleh aku makan dulu? Anggap saja Kak Nayeon mau diet. Biarkan dia melewatkan makan malamnya. Lagipula kau memasak banyak sekali. Nanti keburu ding—“

Suara Mingyu tiba-tiba hilang, agaknya dibungkam Seokjin. Nayeon yang masih di dalam kamar diam-diam mencuri dengar kedua saudaranya yang ribut di luar sana.

“Diam sebentar, Gyu. Ucapanmu mungkin membuatnya tambah kesal.”

Oh, bagus Kak Seokjin tahu. Mingyu memang berisik. Sumpal saja mulutnya dengan kain pel, Kak!

“Nayeon-a…”

Kali ini si sulung mengambil alih bujukan. Suaranya lembut seperti biasa. Dan Nayeon benci mendengarnya. Ia tidak ingin luluh secepat ini.

“Kumohon keluarlah. Lagipula, hei, kau tak ingat ini hari ulangtahunmu?”

Siapa bilang aku tak ingat, Kak? Kau pikir untuk apa aku meminta diajari memasak? Aku ingin menyiapkan makan malam bersama kalian di malam ulangtahunku, tahu!

Merasa tak mendapat jawaban, Seokjin melanjutkan, “Nayeon-a, sungguh kau tak mau keluar? Eum… mungkin kau akan menyesal setelah ini, Nay.”

Nayeon diam sejenak, sempat menimbang ucapan Seokjin perihal kemungkinan akan penyesalannya. Ia tidak tahu apa, tapi sejauh ini, Seokjin tidak pernah sekalipun berbohong. Jadi, ia memutuskan membuka pintu pelan-pelan—masih dalam bungkam.

Pemandangan pertama yang tertangkap retinanya adalah dua tubuh menjulang dengan raut lelah yang sedang menungguinya. Satu tersenyum lega, sedang si bungsu sudah melempar tatap seolah ingin memakannya. Gadis Kim itu mengembuskan napas pajang. Oke, mungkin dia memang kekanakan sampai membuat dua orang tersayangnya hampir mati kelaparan

“Ayo makan,” ujarnya kemudian. Namun Seokjin buru-buru mendorongnya kembali ke dalam kamar.

“Setidaknya rapikan diri dulu, Princess.”

Ew, lihat rambutmu, Kak. Sudah seperti tumpahan ramyeon saja,” Mingyu mengamini.

Kedua pemuda itu menyandar di kiri kanan pintu kamar Nayeon, bersedekap sembari melihat saudari perempuannya bercermin. Sesekali Mingyu merekomendasikan untuk memakai ini itu, juga minta mengganti baju terusan yang kedodoran dipakai Nayeon. Namun gadis itu melempar sisir rambut sebagai bentuk penolakan.

“Masa bodoh, aku nyaman memakai ini,” ujarnya kesal.

Setelah dirasa penampilannya cukup manusiawi, tiga bersaudara itu lekas menuju ruang makan. Suka tidak suka, Nayeon harus mengakui dirinya juga lapar sekali setelah menangis berjam-jam untuk masalah sepele. Namun rasa lapar itu tiba-tiba menguap seiring matanya menangkap seseorang sudah duduk di ruang makan dengan tenang.

“Kak Yoon,” mata Nayeon terbelalak lebar.

Pemuda itu tersenyum, akhirnya keluar juga gadis yang ditungguinya ini. “Sudah selesai marahnya?”

Seolah jiwanya menguap dihantam keterkejutan, Nayeon tak lekas menjawab pertanyaan kekasihnya itu.

“Sudah kubilang kau tak cocok melakukan pekerjaan rumah apapun, ‘kan. Nah, Princess, selamat menikmati makan malam romantismu. Dua kokimu ini akan pergi memberimu privasi. Sebelum itu, Happy Birthday!”

Seokjin merangkul Mingyu dan berlenggang setelah membisikan kalimat itu pada Nayeon,

.

.

.

fin_

Selamat Ulang Tahun, Echa!!

Ini telat banget, maaf yaa. Dan receh as always huhu.

Semoga aku tidak dibalang ember karena terlalu banyak nistain Kim Fams ini XD

Advertisements

3 thoughts on “[Vignette] Never Forever

  1. kak ipy bukan? 😀 (salah malumaluin)

    ucuuullll banget kak! mingyu jadi maknae ngeseliiin yes! daaan ouch… bang jin yeokshi! meski awalnya ngga kalah ngeselin dari mingyu (buat nayeon), tapi sekali abang ya tetep abang, fufufu~ pokoknya suka suka suka! gemeeeessshh bacanya! ^^
    keep writing!!! ^^

    Like

  2. KOK NGESELIN SIH MINGYU, KAMU BARU MAKAN APA DEK? KASEOK JUGA, KOK DIEM2 MINTA DIBALANG 😤
    TAPI KOK ENDINGNYA MAKIN MINTA DICIOM SIH AUTHOR-NYA!!! KAK YOOOOOONNN, NAYEON KANGEN 😚
    Mbakeeeeessss, dd juga kangen sama tulisanmu astagaaaa~ makasih tetiba munculin ini dan kasih hadiah nayeon sama kedatangan orang spesialnya (plus kenistaan kim fams). Ugh, pokoknya aku kangen semuamuanya 😘😘😘😘
    ILY MBA STEFF ♡♡♡♡♡♡

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s