[Boys Meet What?] My Rooftop Friend – Vignette

myrooftopfriend

[Boy Meets What?] My Rooftop Friend

A Story By Dyvictory

Starring : Kim Taehyung/V, Park Jimin (BTS)

Genre : Friendship, Fluff //Length : Vignette

Rating : G//BGM : Super Junior—Good Friends

A/N : First time aku ikut event BTS Fanfiction Indonesia! Aku sangat bersemangat dan sangat sangat menyukai persahabatan Taehyung-Jimin, makanya aku membuat fic ini. Selamat membaca!^^

.

“Tidak ada manusia yang lebih menyedihkan daripada manusia yang bersahabat dengan kesepian.”—Kim Taehyung

“Jangan menyindirku. Aku punya sahabat, meskipun sahabatku hanyalah sebuah atap yang usang.”—Park Jimin

**^^**

Taehyung menuruni tangga kamarnya dengan buru-buru. Dasinya ia kalungkan dengan asal, jaketnya ia ikat di pinggang, tasnya diseret, dan ia hanya memakai sebelah kaus kaki.

“Ibu! Jam wekerku tidak berfungsi, kenapa Ibu tidak membangunkan aku?” Pekik Taehyung, menaikkan kakinya ke meja makan untuk memakai kaus kaki.

“Ibu kira ini hari Sabtu. Jangan marah-marah dan turunkan kakimu, tidak sopan.” Ibunya berdecak, menyuapi roti ke mulut Taehyung.

“Ibu berkata dengan enteng! Hari ini aku ada dua ulangan yang tidak dapat ditunda!” Taehyung berkata dengan mulutnya yang belepotan.

“APA?!” Ibunya berseru, lantas menjejalkan semua roti ke mulut Taehyung tanpa ampun. “Kau harus segera berangkat! Cepat!”

“Uhukk! Beri… aku… air—UHUK UHUK!” Taehyung tersedak dengan hebat, ia jatuh terjungkal dari kursinya dan pingsan saat itu juga.

Kim Taehyung, pemuda berusia tujuh belas tahun yang dikenal mempunyai banyak teman, pintar dalam bidang matematika, IPA, bahasa—katakan saja semua pelajaran yang ada di sekolah, namun Tuhan Maha Adil, Taehyung akan sempurna kalau saja ia tidak mengeja ‘sit down’ menjadi ‘sh*t down’ dan ‘beach’ menjadi ‘b*tch’ dalam pelajaran Bahasa Inggris. Walaupun begitu, ia selalu mendapat peringkat satu di seluruh angkatan, dan populer seantero sekolah. Teman-temannya menyebut dirinya sebagai ‘Reinkarnasi Einstein’ atau dengan kata lain, si jenius yang agak gila. Well, sebenarnya Taehyung tidak gila. Ia hanya mempunyai cara berpikir yang sedikit kreatif, dan tipe orang yang langsung menanyakan pertanyaan jika dia penasaran, sehingga dia sering dianggap kurang ajar, bahkan oleh orang tuanya sendiri (iya, benar).

Contohnya saja sewaktu Taehyung sedang di pusat perbelanjaan bersama Ibunya, ia berlari pada Ibunya dan membawa sebuah krim anti penuaan. Bukannya diam, pemuda itu malah berseru dengan cukup kencang, “Bagus untuk mengurangi kerutan Ibu yang berjumlah 32 itu, ‘kan?! Beli saja, Bu!” Dan Taehyung berakhir ditinggalkan di pusat perbelanjaan. Untung saja Ayahnya baik dan mau menjemputnya sepulang kerja. Taehyung bukannya tidak bisa pulang sendiri, namun kebetulan kala itu tidak membawa dompet, dan jika berjalan kaki… lupakan saja, dia akan pulang dengan kaki yang hampir putus.

“Taehyung sayang, maafkan Ibu, ya. Gara-gara Ibu, kau jadi tidak pergi ke sekolah, dan sekarang tenggorokanmu bengkak…” Ibunya merasa bersalah, duduk di pinggir kasur dan membelai rambut  Taehyung.

“Tidak apa-apa, Bu. Aku mau jalan-jalan dulu.” Taehyung tersenyum dan bangkit dari kasurnya, memutuskan mencari udara segar. Ia keluar pagar rumahnya, dan berjalan sekitar 150 meter ketika ia menemukan seorang anak laki-laki sebayanya sedang berada di atap dan sepertinya ia berniat bunuh diri.

“Hei, kau! Bahaya! Cepat turun!” Seru Taehyung, melambai-lambaikan tangannya, namun anak lelaki itu tetap tidak menggubris.

“Hei, dasar kau bodoh, cepat turun!” Taehyung akhirnya berlari ke gedung itu dan mencapai atapnya, lalu menarik anak lelaki itu agak kasar.

“Kau mau apa, sih?!” Bentak anak lelaki itu kemudian.

“Jangan bunuh diri, kau gila, ya! Ibumu sudah susah-susah menahan sakit untuk melahirkanmu, lalu sekarang kau mau membalasnya dengan bunuh diri? Dasar tidak tau terima kasih! Tidak menghargai hidup!” Omel Taehyung panjang lebar, menunjuk anak lelaki itu sarkastik.

“Apa yang kau bicarakan? Siapa yang mau bunuh diri? Dasar bocah sinting,” anak lelaki itu mundur dua langkah, menjauhi Taehyung yang sangat aneh baginya.

“Lalu, kalau kau tidak mau bunuh diri… di sini mau apa?” Ujar Taehyung. “Jangan salahkan aku kalau aku berasumsi bahwa kau mau bunuh diri. Sebenarnya itu salahmu juga. Kau terlalu mengundang perhatian.”

“Menyebalkan. Untuk apa kau tau? Aku mau apa di sini, itu urusanku. Kenapa malah kau yang protes? Dan, apa, mengundang perhatian katamu? Coba buktikan kata-katamu, mana ada orang yang peduli padaku selama sepuluh tahun ini? Kau saja yang tidak waras.” Anak itu menjulurkan lidah.

“Ayolah, Bro. Niatku ‘kan, baik,” Taehyung memukul lengan anak itu pelan.

“ ‘Bro’? Memang kau pikir aku ini saudaramu? Jangan pegang-pegang aku. Aku benci orang yang suka sok kenal.” Anak itu mendecakkan lidah.

“Tidak boleh? Lalu aku harus panggil apa?”

Tidak usah panggil, batin pemuda itu. “Nama saja.”

“Aku tidak tau siapa namamu.” Taehyung menggaruk tengkuknya, dan anak itu menggeram kecil.

“Park Jimin.” Jimin mengulurkan tangannya, hendak menjabat tangan Taehyung yang langsung dibalas oleh Taehyung dengan gembira. “Dan namamu?”

“Kim Taehyung.”  Taehyung menyimpulkan senyum pada teman barunya ini, lalu buru-buru mengeluarkan sifatnya yang memiliki kelebihan kuriositas tanpa melihat situasi dulu.

“Lalu apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak sekolah?”

Jimin tidak langsung menjawab, dirinya tampak berpikir. “Kau sendiri, kenapa tidak sekolah?”

“Aku? Ibuku menjejalkan roti dan membuatku pingsan hingga tenggorokanku bengkak. Karena itu aku tidak sekolah.” Taehyung mengidikkan bahunya sekilas, lalu memicingkan matanya pada Jimin. “Jangan-jangan kau bolos, ya? Akan aku adukan kepada Ayah dan Ibumu! Ayo cepat katakan, di mana rumahmu?!”

Tsk.” Jimin berdecak, memelototi Taehyung. “Aku memang tidak sekolah dari dulu, dasar sok tau. Ibuku meninggalkan aku sewaktu aku dilahirkan. Lalu Ayahku—ah! Aku baru ingat kalau hari ini adalah ulang tahun Ayahku!”

Jimin berlari, membawa tasnya dan Taehyung mengikutinya dari belakang. Jimin mampir ke toko bunga dan mendapat bunga itu secara gratis.

“Kenapa kau bisa dapat bunga itu secara gratis?” Taehyung bahkan tidak meminta maaf atas perkataannya tadi, lantas menanyakan pertanyaan baru. “Dan kenapa kau memberi Ayahmu bunga? Ayahmu adalah lelaki, untuk apa memberinya bunga?”

“Dia sudah kenal aku dari lama, dan memang suka memberi bunga kepadaku.” Jimin lalu berhenti sejenak dan memandang Taehyung. “Dengar, Taehyung. Jika kau tak bisa diam, dapatkan sesuatu untuk dikunyah agar mulutmu tidak terus-terusan menanyakan semua rasa penasaran yang kau miliki.”

Taehyung pun diam dan mengikuti langkah Jimin, dan sampai di suatu tempat.

“Silakan adukan aku pada Ayahku, dan tanyakan sendiri padanya soal mengapa aku memberinya bunga padahal dia seorang laki-laki.”

“Ayahmu sudah…” Taehyung menelan ludah sebelum melanjutkan kata-katanya. “…meninggal?”

Jimin mengangguk, lantas duduk di sebelah kiri makam Ayahnya. “Selamat ulang tahun, Ayah. Ini, hadiah dariku.” Jimin meletakkan bunga krisantemum warna putih itu di atas makam. Taehyung menutup mulutnya karena terlalu terkejut, lalu meruntuki dirinya sendiri, mengapa ia bisa begitu bodoh dengan menanyakan pertanyaan macam-macam pada anak ini. Taehyung pun berjongkok dan menggenggam tangan Jimin erat.

“Jimin, jangan sedih! Kau pasti bisa melewati ini semua! Ada aku yang akan selalu menyemangatimu!” Mata Taehyung berkaca-kaca, menatap Jimin dengan sungguh-sungguh.

Ng… okey, thanks.” Jimin menarik tangannya perlahan dari genggaman Taehyung, dan menatap anak di depannya ini dengan heran. “Untuk informasimu saja, aku sudah tidak sedih. Semua sudah berlalu sangat lama dan aku sudah terbiasa, jadi—hei! Mengapa kau menangis?”

“Aku hanya… kasihan pada—“

KRUUUK

“Suara apa itu?” Tanya Taehyung di tengah-tengah tangisannya.

“Oh, maaf. Itu suara perutku. Aku memang belum makan sejak kemarin.” Jimin tersenyum dengan canggung, memegangi perutnya seraya pipinya merah karena menahan malu.

HUAAAAAAA! KAU MALANG SEKALI, JIMIN! HUAAAAAA,” Taehyung menangis kencang, sekarang memeluk Jimin dengan erat, memukul-mukul pundaknya seolah hendak memberikan kekuatan. “Aku… belum pernah bertemu orang semalang dirimu, hiks.”

“Ya… terima kasih?” Jimin tidak tau harus berkata apa pada Taehyung, ia juga tidak menganggap perkataan Taehyung adalah hinaan bagi dirinya, Taehyung benar-benar sedih karena menganggap Jimin bernasib malang. Itu memang kenyataannya.

“Kau bernasib malang… dan malah berterima kasih? Anak bodoh, huaaaa…” Taehyung makin memeluk Jimin erat dan menangis sesenggukan makin kencang. Yah, kadang-kadang Taehyung memang sensitif dan melankolis. Tambahkan instrumen sedih dan kau akan melihat adegan yang biasa terjadi dalam drama.

Ugh… tidak… bisa… bernapas…” Jimin megap-megap dan mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya Taehyung sadar dan melepaskannya.

“Kau belum makan? Ayo, di rumahku banyak makanan!” Taehyung menarik tangan Jimin dan pergi setelah mengucapkan perpisahan pada mendiang Ayah Jimin.

**^^**

“Makan yang banyak, Jimin!” Ibu Taehyung menyendok nasi ke piring Jimin dan memberinya lauk yang berlimpah setelah mendengar cerita Taehyung—dengan beberapa pendramatisiran dan Jimin yang terus-terusan menyangkal apa yang Taehyung katakan—Taehyung mengatakan bahwa Jimin hampir pingsan karena belum makan selama empat hari. Tentu saja Jimin harus menyangkal hal itu.

“Terima kasih, Bibi. Terima kasih, Taehyung.” Jimin makan dengan lahap, membuat Taehyung melihatnya dengan iba.

“Kau bisa datang kemari kapan pun kau mau, Jimin. Tidak masalah.” Taehyung menggeleng dan Jimin hanya tersenyum kecil.

Park Jimin adalah kebalikan dari seorang Kim Taehyung. Ia dingin, pendiam, dan tidak terlalu ramah pada orang yang baru saja dikenalnya. Namun tetap saja, melihat Taehyung yang sebegitu tulusnya, hati Jimin pelan-pelan dapat menerima kehadiran Taehyung. Jimin ditinggalkan Ibunya saat dia baru saja lahir, lalu Ayahnya meninggal saat ia berusia empat tahun. Ia tidak pernah sekali pun mengecap bangku sekolah, maka itu selalu sendirian dalam hidupnya. Tetapi ia tidak bodoh, IQ-nya di atas rata-rata, ia memang suka belajar di perpustakaan umum milik pemerintah. Ia tinggal di sebuah atap gedung tua yang sudah tidak berpenghuni, membuat dirinya hanya dapat bersahabat dengan atap usang tersebut. Namun, Jimin tidak pernah mengeluh sedikit pun, karena ia tau, cepat atau lambat, sang atap akan memberinya seorang sahabat. Dan ia pikir, ia sedang melihat si sahabat di depan matanya, Kim Taehyung.

“Jimin, aku ingin tanya suatu hal,” Taehyung menoleh saat mereka berdua sedang duduk di atap tempat Jimin tinggal. “Tidak ada manusia yang lebih menyedihkan daripada manusia yang bersahabat dengan kesepian. Lalu kenapa kau tidak menangis?”

Jimin menatap Taehyung kemudian. “Jangan menyindirku. Aku punya sahabat, meski sahabatku hanyalah sebuah atap yang usang.” Jimin tertawa. “Oke, aku berkilah. Tentu aku pernah menangis, namun dunia ini mengajarkan bahwa aku tidak sendiri. Aku punya Tuhan yang selalu bersamaku, aku punya Ayahku yang kuyakin selalu menjagaku dari atas sana, aku punya atap ini sebagai panggungku untuk menyanyi, aku punya ribuan bintang sebagai penontonnya. Aku punya segala hal di sekelilingku, untuk apa merasa sedih?”

“Kau tidak benar-benar mempunyai seseorang untuk bersandar, Jimin. Kalau itu aku, aku akan menangis setiap malam.” Taehyung mengidikkan bahunya samar.

“Tadinya aku juga berpikir begitu. Tapi, coba pikirkan lagi. Di dunia ini, tidak ada orang yang benar-benar mendengarkan omonganmu. Contoh terkecil datang dari orang tuamu sendiri. Mereka tidak selalu mendengarkan saranmu, atau apa pun yang kau bicarakan. Faktanya, mereka jarang mendengarkanmu. Kedua, gurumu, aku yakin mereka mengajar dengan cara mereka sendiri, dan tidak mau mendengarkan keluhan murid yang tidak nyaman dengan cara mereka mengajar. Lalu, bisa saja selanjutnya adalah seseorang yang kau taksir. Kau sudah memberikan mereka sebuah petunjuk yang cukup jelas, namun nyatanya mereka tidak sadar akan itu dan menganggap menanggapi petunjukmu sama sulitnya dengan memecahkan kode binary. Bahkan saat kita datang ke sebuah restoran, terkadang para pelayan salah mencatat apa yang kita mau. Mereka tidak pernah benar-benar mendengarkan kita.” Jimin menggeleng.

“Aku akan selalu mendengarkanmu, aku janji. Mendengarkan tidak pernah sesulit itu.” Taehyung mengacungkan kelingkingnya, dan mengaitkannya pada Jimin. “Kau dapat menceritakan apa pun padaku. Aku ‘kan, sahabatmu.”

Jimin segera tersenyum mendengar perkataan Taehyung. Mereka tidak pernah berkata apa pun soal sahabat, tetapi terlontar dari mulut Taehyung begitu saja. Mereka bersahabat dari hati, bukan sekedar tuntutan predikat semata.

“Tapi cobalah berteriak pada bintang, kawan. Aku serius, itu dapat meringankan bebanmu seolah kau baru saja menumpahkan semua emosimu pada orang yang kau tuju.” Jimin menepuk bahu Taehyung, dan mereka berdua berdiri. “Sekarang berteriaklah seakan kau berbicara langsung pada orangnya.”

“KIM AMY, KAU TERLALU POLOOOOOS! KENAPA KAU TIDAK MENGERTI KODE YANG AKU TUNJUKKAN BAHWA AKU MENYUKAIMU?!!!!” Taehyung memekik kencang, tidak sadar di bawahnya, Amy—teman sekelasnya sekaligus taksiran Taehyung—lewat dan memandanginya dengan terkejut.

“Apa, Taehyung? Kau bilang apa?!” Amy berteriak dan Taehyung malu setengah mati hingga tidak dapat bicara. “Aku dengar apa yang kau katakan! Kita bicara di sekolah besok, ya!”

Setelah Amy lewat dan berlalu, Taehyung kembali ke alam sadarnya. “Kau benar! Itu terasa sangat menyegarkan!”

Jimin mengangguk senang. “Keren, ‘kan?”

Memang tidak mudah memulai sebuah persahabatan, karena ‘sahabat’ itu sendiri bukanlah kata yang mudah untuk diberi kepada sembarang orang. Maka, Jimin dan Taehyung percaya bahwa sahabat adalah seseorang yang akan menemani hari-harimu karena mereka memang ditakdirkan untuk menemanimu. Sejauh apa pun kau melangkah, pada akhirnya seorang sahabat akan berada di belakangmu ketika kau butuh. Mereka akan menuntunmu kapan pun kau tersesat. Mereka akan memegang tanganmu ketika rasa dingin menyerangmu, menghangatkan dengan kasih sayang yang selalu mereka berikan.

“Ingat aku ketika kau kesepian. Mulai sekarang, jangan pernah bersedih dan menangis sendirian. Kau memiliki aku untuk berbagi kesedihanmu, ada pundakku untuk menyerap air matamu. Jangan lagi bersahabat dengan kesepian, bersahabatlah dengan Kim Taehyung.” Taehyung memeluk Jimin, dan Jimin mengangguk.

“Aku tidak punya sahabat dari dulu, Ibuku membuangku. Ayahku meninggal, dan hanya punya atap ini yang menemaniku setiap malam untuk mendengarkan nyanyian dan ceritaku. Jadi, waktu kau datang dan mulai menggenggam tanganku yang hampir tergelincir di jurang kesepian, rasanya agak canggung.” Jimin melanjutkan perkataannya. “Harus kukatakan bahwa kebodohanmu yang mengira aku mau bunuh diri itu cukup lucu dan menyenangkan. Kau membuatku hidup kembali disaat-saat tergelapku. Mengetahui bahwa masih ada orang yang peduli padamu, rasanya… hebat. Aku bersahabat dengan atap dan kesepian, tapi sekarang aku bersahabat denganmu. Aku mempunyaimu. Seorang Park Jimin mempunyai Kim Taehyung, bisa kau bayangkan betapa hebatnya itu?” Ujar Jimin.

 Taehyung tersenyum, lalu merangkul erat pundak Jimin, sahabatnya.

Sahabat yang diberikan atap kepadanya.

.

.

.

There’s a lot to share

The sweat, the tears, the secret

The times where I hate you,

Or when I finally love you

Forever, we’re friends!

.

.

.

THE END

Advertisements

One thought on “[Boys Meet What?] My Rooftop Friend – Vignette

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s