[Boys Meet What?] Stairway to the Heaven – Oneshot

stairway-to-heavenok

Judul : Stairway to the Heaven

Author : Kiku

Genre : Fantasy, romance, sad.

Length : Oneshoot (1500+ words)

Rating : PG-13

Main cast : Kim Seokjin (Jin) ; Kim Nami

Angin malam menyambutku setelah kurasakan tubuhku diangkat oleh beberapa orang. Aku tak bisa melihat apapun, hanya terdengar sirene ambulance,  tangisan seorang wanita serta keramaian disekitarku yang terdengar mencemaskan sesuatu. “Seokjin -ah..” Suara seorang wanita terdengar menyedihkan dan membuatku ingin segera membuka mata untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Namun ini terasa sulit sekali, kucoba berkali-kali namun tetap tak berhasil. Kurasakan seperti seseorang berusaha membungkam mulut dan menutup rapat-rapat mataku. Saat aku mencoba menggerakkan jari-jari tanganku dan menyentuh tangan seseorang, kuharapkan itu adalah tangan wanita yang menangis tadi, aku ingin meminta bantuannya, tapi.. Tangan itu menghempaskan genggamanku, saat itulah aku benar-benar merasakan bahwa.. dunia ini sudah berakhir…

oOo

 “seokjin-ah..”

Apa ini… ini belum berakhir.

Aku mendengarnya, suara wanita itu lagi. Dia menggenggam tanganku saat ini. Tidak, ia akan menghempaskan genggamannya seperti yang dilakukan sebelumnya.

“Aroma lavender sangat cocok untuk menemanimu pagi ini, seokjin-ah”

Deg. Aku merasakan genggaman itu, tapi kali ini semakin erat dan sedikit gemetar. Tangannya sedikit keriput, seperti tangan wanita tua.  Aku tak bisa melihat apapun, siapapun kau, bantu aku keluar dari sini. Tempat ini sangat gelap..

“Nyonya, jam kunjung telah berakhir. Silahkan keluar..”

Ah suara siapa lagi ini? Tidak.. Jangan suruh wanita ini keluar, aku tau ia ingin menolongku. Aku mencoba meraih tangannya, tapi itupun tak sampai. Genggaman itu terlepas, entah mengapa aku merasa sangat kehilangan.

oOo

Aku terbangun. Tapi, aku tau ini bukan diduniaku yang sesungguhnya. Ini seperti.. Sebuah surga. Bunga-bunga seperti menyambut kedatanganku. Mereka seolah memberi salam pada penghuni baru. Sekalipun ini akhir duniaku. Maka biarkan aku disini, bersama kupu-kupu disana yang saling memamerkan sayap indahnya, sungai-sungai kecil dan gemericik airnya, dan juga dengan…

“Nugusaeyo?” Kataku pada seorang gadis yang sedang memetik sebuah bunga disana. Wajahnya seperti tidak asing buatku. Aku sedikit melangkah kearahnya, tersenyum dan kemudian ia membalas senyumanku, sangat hangat.

“Nuguya?” Kuulangi pertanyaanku, ia hanya tersenyum. Senyumnya seolah mengatakan padaku bahwa aku telah mengetahui siapa dirinya.

“Ah.. Apa kita sama-sama sudah mati?.. Baiklah, aku ingin melihat yang disana itu. Kita akan bertemu lagi nanti, annyeong..  ” Kataku sembari melambaikan tangan padanya.

“Seok jin-ah..”

Kuhentikan langkahku. Aku mencoba berbalik perlahan padanya, memastikan apakah yang ia panggil itu namaku atau bukan. Matanya terlihat berkaca-kaca. Tangannya seperti ingin meraihku. Ah, apa lagi ini?

“Si..siapa kau sebenarnya?” Kataku terbata padanya, kulihat ia sepertinya kecewa atas apa yang barusan kukatakan.

Gadis itu mendekat dan memberiku bunga yang barusan ia petik tadi. Namun belum sempat aku meraih pemberiannya itu, terdengar sesorang memanggilku jauh dibelakang sana. Aku menoleh, dan kudapati sebuah pintu sedikit terbuka disana. Tidak terlihat jelas apa yang ada dibaliknya namun, disana terlihat berbeda dari tempatku sekarang, sedikit gelap. Hal ini membuatku semakin penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Seperti ada sebuah aura yang membawaku berjalan memasukinya. Perlahan aku melangkahkan kaki. Satu, dua, tiga dan.. pada langkah keempat aku berhenti. Aku melupakan satu hal. Gadis itu.. Eoh? Kemana perginya dia? Bukankah ada disini sebelumnya, atau mungkin ia kecewa karena aku tak menerima pemberiannya tadi?

Aku berlari mencarinya, ada sebuah jembatan disana, dan dugaanku benar. Ia sedang berdiri di jembatan itu, dan tersenyum pada bunga lavender ditangannya itu.

“Hey lavender” sapaku.

“Eoh?”

“Kukira kau akan memberikan lavender itu pada ikan-ikan disana” Tanganku menunjuk sungai dibawah jembatan itu.

“Ani.. Untukmu, seok jin-ah”

“Ah.. Gomawo. Tapi, kau belum jawab siapa namamu”

Aku meraih lavender dari tangannya, ia terlihat senang karena aku telah menerimanya

“Lavender”

“Hya.. aku bercanda tadi. Siapa namamu yang sebenarnya? Dan kenapa kau terus memanggilku seok jin?”

“Karena kau seok jin” Ia berjalan  di sepanjang jembatan. Ah bahkan ia tak mengatakan namanya padaku. Tapi menyenangkan sekali melihatnya seperti itu, mungkin ia juga sangat nyaman dengan tempat ini. Aku mengikutinya di belakang, melihat gadis itu rasanya membuatku tersenyum sendiri.

“Seok Jin-ah, kadang kita mengetahui bahwa kita berada pada tempat yang salah, tapi hati kita mengatakan untuk tetap tinggal. Kau tau mengapa bisa demikian?”

“Em? Waeyo?”

“Karena hati lebih mengetahui apa yang kita inginkan” Ia menatapku dan tersenyum kemudian pergi begitu saja. Kubiarkan gadis itu pergi, toh kita masih berada di tempat yang sama.

Sejenak aku memikirkan kalimat terakhir yang ia ucapkan, lalu perasaan itu menghampiriku. Pintu yang disana itu, apakah itu juga hatiku yang mengininkan untuk memasukinya?

Saat kembali ke tempat dimana suara misterius itu muncul, aku benar-benar merasakan hal yang aneh. Tubuhku seperti didorong begitu saja memasuki pintu itu. Dan entah mengapa, dunia berubah begitu cepat. Tempat ini benar-benar jauh berbeda dengan ‘surga’ yang kutempati sebelumnya.

“Seok jin-ah..”

Wanita tua itu, aku yakin ini pasti suaranya. Kenapa ia menghampiriku lagi? Dan kenapa disini menjadi gelap lagi?

“Seok jin-ah.. wae.. waeyo?” Kudengarkan wanita itu terisak, apa.. yang harus kulakukan? Setidaknya aku harus melihatnya dulu, tapi kenapa hanya suaranya yang bisa kudengar.

Aku mencoba berkali-kali berteriak padanya, tapi kupikir ia tak mendengarku. Ya.. benar, itu karena aku berteriak dalam “tidurku”.

oOo

Di duniaku yang gelap ini, 

Hanya terdengar suara wanita tua

Sedangkan yang kuinginkan adalah keluar dari kegelapan ini, 

dan menemui gadis di ‘surga’ sana. 

Setidaknya melihat wajahnya bisa membuatku bernafas lega.

Entah mengapa..

oOo

Sebuah tangan menyentuh kepalaku. Aku mencoba membuka mata. Ah.. ternyata aku kembali ke ‘surga’. Dan posisi seperti ini membuatku nyaman. Tertidur di pangkuan si Lavender. Wajahnya manis sekali, melihatnya dari jarak sedekat ini membuatku tak ingin melepas pandanganku padanya.

“Hey Lavender”

“Ya?”

“Aku baru saja dari duniaku yang satunya, dan disana aku tak melihat apapun. Aku juga tidak mendengarmu”

“Ya.. itu karena kau hanya bisa melihatku disini”

“Ah.. mengapa begitu?”

“Karena aku tinggal disini”

“Sejak kapan?”

“Mollaseo, aku tak mengingatnya. Dan kau seok jin-ah.. Apa diduniamu yang satunya itu, kau menginginkannya?”

“Mollaseo, aku juga tak mengetahui kenapa aku kesana”

Aku memejamkan mata, merasakan segarnya udara yang tak tak pernah kurasakan sebelumnya. Lavender menepuk-nepuk tanganku yang kudekapkan di dada. Ini seperti De Javu, rasanya seperti kenyataan yang pernah kualami sebelumnya.

“Seok jin-ah, sekalipun mustahi, apa kita bisa berdua kesana?”

“Tentu, tapi.. Kukira kita tidak perlu kesana. Kau akan tidak nyaman ada disana. Kau tidak akan bisa melihat pemandangan yang indah sepeti saat ini. Yang kau rasakan hanyalah perasaan kesal.”

“Apa sesuatu terjadi disana?”

“Em, ya. Ada seorang wanita tua yang selalu memanggil namaku. Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi…”

“Eommamu?”

“Eoh? Aku bahkan tidak pernah berpikir kalau itu eommaku. Aku tak mengingat apapun”

“Ah, jadi benar.  itu adalah suara eommamu”

“Kenapa kau tahu banyak hal? Siapa kau sebenarnya?” Aku bangkit dari panguannya. Kali ini aku benar-benar penasaraan tentang gadis ini, dan segala hal yang ia ketahui sedangkan tidak kuketahui.

“Aku adalah… Kim Nami, seokjin-ah”

“Kim Nami? Bahkan nama itu tidak asing buatku. Dan kenapa sepertinya banyak yang kau ketahui tentangku”

“Sek jin-ah, eommamu menginginkan kau kembali. Ia sering memanggil namamu bukan?”

“Ah, kau ada benarnya. Jadi apa seharusnya aku tidak berada disini?”

“Kau tahu pintu yang ada disana itu? Bukankah setiap kali kau meihatnya, tubuhmu seperti tidak bisa menahanmu untuk tidak memasukinya?”

“Emm” Aku mengangguk padanya.

“Kau harus kembali, seok jin-ah”

“Aku? Kita harus kesana.”

“Tidak. Kaulah yang kesana. Aku sudah tidak memiliki peluang untuk masuk kesana. Lagipula aku bahagia bisa berada di tempat ini. Sangat bahagia.. ” Wajahnya menunduk, seperti merasa kecewa.

Ah apa yang dia katakan, sih? Aku semakin heran dengan gadis ini. Tapi kupikir, melihat pintu itu semakin lama aku juga semakin ingin kesana lagi. Baiklah, aku dan lavender akan kesana. Kali ini aku tidak sendirian, aku akan membawa Lavender, ah tidak.. Kim Nami. “Nami-ah, ttarawa–” Aku menoleh dan ingin meraih tangannya. Tapi gadis itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Kemana perginya Kim Nami? Aku mencarinya kemanapun, dan di jembatan yang sebelumnya pun aku juga tak melihatnya. Ia tak ada dimanapun, apa saat ini aku benar-benar sendiri lagi? Kim Nami.. eodiseo?

“Seok jin-ah” seseorang menepuk pundakku. Ah itu pasti dia. Dengan segera aku membalikkan badan. Dan seketika, pundakku seperti ditarik dan dijatuhkan jauh kebawah. Aku merasakan tubuhku terjatuh, dan kulihat pandanganku semakin buram. Sedikit cahaya terlintas dari sana, tempat itu, tempat dimana aku bertemu Kim Nami, semakin tak terjangkau oleh pandanganku. Tubuhku masih terasa mengayang di udara. Yang kupikirkan hanyalah, apakah aku akan benar-benar mati jika sudah sampai di daratan nanti?

oOo

Bayangan tentang surga perlahan menghilang. 

Kupu-kupu disana, dan bunga-bunga yang dulu menyambutku,

Ingatan tentang Kim Nami hanya terlintas sesaat di kepalaku.

Aku mengingat wajahnya, kemudian.. hanya namanya yang dapat kuingat, samar-samar ,kemudian ingatan itu benar-benar lenyap.

Dan.. Brkkk. Tubuhku terjingkat.

oOo

Aku terbangun. Di sebuah ruangan. Kulihat sekelilingku, ruangan ini adalah rumah sakit.

“Eomm..ma..” Kugerakkan perlahan jari-jari tanganku. Kulihat eomma tertidur di sofa sana. Ia mengusap matanya. Saat pandangannya tertuju padaku, kulihat ia terkejut.

“Seok jin-ah! Kau bangun nak? Apa kau benar-benar kembali?” Ia bergegas kearahku, memegang tubuhku, memastikan apakah aku benar-benar bangun atau tidak. Kemudian memeluk tubuhku sambil menangis.

“Eomma waeyo? Keokjonghajima..”

“1 Tahun kau tidak sadar dari koma, bagaimana bisa eommamu tenang, eoh?”

“Emm? Koma?”

“Jangan banyak bergerak. Akan kupanggilkan dokter dulu.” Kulihat ia meninggalkan ruanganku, dan mengusap pipinya yang basah karena air matanya.

Setelah eomma keluar, aku mencoba mengingat apa yang terjadi hingga bisa satu tahun aku terbaring disini dalam keadaan koma. Pikiranku kacau, aku melihat bayangan sebuah kecelakaan. Aku mencoba keras mengingatnya lagi. Tapi kepalaku terasa sakit. Tapi dalam ingatanku itu, ada dia.. Ah kepalaku sakit sekali.

“Eomma…” Kupanggil eommaku, ia berjalan memasuki ruangan dengan para dokter disana.

“Ada apa seokjin-ah?”

“Eomma.. Nami… eodisseo?” Tanyaku pada eomma  setelah gadisku, Kim Nami terbayang bersamaan dengan kejadian itu. Aku mengingatnya, kecelakaan itu. Aku bersama Nami saat itu.

“Eomma!! Nami eodisseo?” Bentakku pada eomma. Ia tak menjawab apapun. Ia mengayunkan  tangannya, mengisyaratkan pada para dokter itu untuk keluar ruangan. Meninggalkan kami berdua.

“Nami.. Dia tak akan pernah kembali” Eomma memelukku

“Ani… Eomma katakan yang sebenarnya. Dimana Kim Nami?” Aku melepas pelukan eommaku. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang eomma katakan. Aku segera turun dari ranjang, dan berjalan keluar ruangan. Mencari Kim Nami, niatku.

“Seokjin-ah.. Ia tak akan kembali. Kim Nami sudah meninggal..”

“Hya eomma jangan bicara seenaknya, kau tadi bercandang kan?Eoh?” Tubuhku terjatuh kebawah, bertumpu pada kedua tanganku. Eomma meraihku, kemudian membawaku dalam dekapannya. Aku tak bisa berkata lagi. Kim Nami, gadis yang sangat aku cintai, kekasihku.. Ia meninggal karena aku.

Nami-ah.. Mianhae, jeongmal mianhae.. Apa kau bahagia di surga sana?

–END–

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s