[BTS FF Freelance] The Academy of Vampire – (Chapter 11)

untitled-1-copylololol-copy1

Tittle: The Academy of Vampire

Scriptwriter: Carishstea

Genre: Fantasy, Action, School Life, Mystery, Friendship, Romance

Main cast:  Go Aerin (OC), Kim Taehyung/V (BTS), Park Jimin (BTS), Min Yoongi/Suga (BTS), Jung Soojung/Krystal (f(x)).

Support cast: Choi Junhong/Zelo (BAP), Song Yunhyeong (iKON), Kim Jinhwan (iKON), Jung Eunji (APink), Jung Daehyun (BAP), Park Chanyeol (Exo), Byun Baekhyun (Exo), Kim Mingyu (Seventeen), and Jeon Jungkook (BTS), Son Naeun (APink), Oh Sehun (Exo), Kim Jongin/Kai (Exo), Yook Sungjae (BTOB), Kim Namjoon/RapMonster (BTS), Hong Jisoo/Joshua (Seventeen), Kim Jiyeon/Kei (Lovelyz), Lee Mijoo (Lovelyz), Yoo Youngjae (BAP), Park Jin Young/Junior(GOT7), Mark Tuan/Mark (GOT7), Bae Suzy (Miss A), Do Kyungsoo/D.O. (Exo), and other (some will coming soon and maybe some will disappear).

Duration: Chapter

Rating: PG-13

Disclaimer: All the cast is owned by God. This story is pure mine. Inspired by my imajinaton. Sorry with typo and other. Please no bash, no plagiat, and don’t be siders. Okee, HAPPY READING!!!

***

“Appa?”-Suga.

“Yoongi? Itu kau Yoon?”-menteri vampire.

“Iya, aku Suga. Appa, aku ingin bertanya. Di pemerintahan tak ada masalah apapun, bukan?”-Suga.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya? Di sini semua baik, Yoon. Kau fokus saja pada misimu,”-menteri vampire.

“Kalau di akademi?”-Suga.

“Ada kabar sedikit buruk di sana.–“-menteri vampire.

“Aku bahkan belum membocorkan informasi ini pada siapapun. Bahkan aku belum melapor kepada Master Daniel. ……Kalian tahu, aku tak paham untuk apa bocah itu menyusul Aerin. Ia sendiri tahu Aerin lebih suka sendiri di saat perasaannya buruk.”

“Aku diserang Graver, Suga. Kami diserang dadakan. Dan mereka sungguh banyak. Jauh dari yang kita perkirakan untuk membendungnya. Kami kewalahan. Akh-“Zelo.

***

The Academy of Vampire – Chapter 11

.

@perpustakaan

Joshua fokus mengedarkan pandangannya pada buku-buku yang berjajar rapi di rak depannya. Data pribadi siswa. Data semua vampire di dunia. Harusnya masih ada di perpustakaan. Jika anak itu tengah bersekolah, maka orang tuanya dilahirkan sekitar dua abad lalu. Setiap vampire yang lahir, maupun mahluk lain yang digigit vampire, semuanya didata oleh pengadilan. Yah, kebetulan berkasnya disimpan di sekolah ini.

“Asa! Aku menemukannya!” Joshua berteriak pelan, segera setelah ia mendapatkan buku itu. Dengan segera, Joshua membuka daftar nama di sana. Memastikan dari sesuatu yang baru saja dilihatnya beberapa saat lalu.

Raut muka Joshua begitu bahagia. Tapi tepat setelah mendengar gesekan pisau dengan udara, bulu kuduknya mulai bergidik ngeri.

“Apa yang kau temukan, huh?” suaranya memang benar tak asing di telinga Joshua. Tapi ia masih repot-repot mengenakan tudung sekolahnya, sedang jelas Joshua tahu siapa ia.

Perlahan, Joshua berbalik memberanikan diri menghadap anak itu. Sedang si anak bertudung, ia tanpa ragu memamerkan jarum perak di genggamannya. Mereka beradu pandang cukup lama, menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan skill bertarung masing-masing.

“Kenapa kau bersembunyi? Aku- AAAAA!!!”

Kepulan asap hitam tiba-tiba muncul dari lantai yang Joshua pijak. Mereka perlahan naik, merapatkan diri, lantas melilit leher juga segala organ gerak yang dimiliki Joshua. Pria itu terjepit di sana. Tertahan oleh sihir hitam si anak bertudung.

Dengan langkah santai, ia perlahan melangkah maju mendekati Joshua. Jarum di tangannya tengah ia ayun-ayunkan di udara, siap menusuk bagian mana saja yang mungkin ditusuk. Oh! Atau malah kebalikannya?

Anak itu meletakkan jarumnya tepat di atas kepala Joshua. Sudut bibirnya terangkat, menciptakan sebuah seringaian licik di depan Joshua.

“Sial kau-”

SLASH

Percikan air cukup besar masuk ke sana, dan sukses mendorong anak itu hingga sudut ruangan. Tudungnya secara otomatis terbuka, menampakkan rambut hitam basah yang agaknya acak-acakan.

Jimin sudah berada di antara keduanya dengan teleport. Air tadi tentu darinya, yang membuat Joshua juga anak tadi membulatkan mata mereka terkejut. Jimin dari divisi es omong-omong. Bagaimana ia bisa mengeluarkan air?

Mata Jimin berbinar indah, seolah akan meneteskan air mata di sana. Lalu ia lanjutkan dengan sebuah tawa. Tawa renyah yang terdengar memilukan. Ia tertawa setengah menangis.

“Dari sekian banyak orang, kenapa malah kau?”

.

.

.

@Klinik akademi

Kedua wanita tangguh tengah saling berhadapan di ruang serba putih itu. Asap-asap hitam keluar dari tangan Eunji, dan memburu Mijoo dengan lincah. Sedang api milik Mijoo, mereka juga berusaha menyentuh Eunji dan memerangkapnya. Ada seorang lagi yang sebenarnya melihat semua kejadian itu, namun tak bisa melakukan apapun. Ya, Yook Sungjae masih terbaring di ranjangnya lemah di tengah pertempuran hebat Eunji dan Mijoo.

Seiring dengan sihir Eunji yang memenuhi ruangan itu, Sungjae juga dalam keadaan sekaratnya. Sihir Eunji merangsang sihir dalam tubuh Sungjae ikut bergejolak, menyiksa tubuh si inang.

Mijoo berlari dengan kecepatan penuh, namun salah satu gumpalan asap hitam tiba-tiba sudah berada di depannya, seolah siap untuk melahap habis para mangsa. Mijoo terpojok. Api-api di sekitarnya akhirnya membentuk tameng untuk pelindung diri.

Serabut-serabut hitam itu berulang kali berusaha menembus perisai Mijoo. Namun gagal. Eunji pun memutar otak, memikirkan siasat lain untuk menang. Ia pun melenyapkan semua sihir miliknya dari ruangan itu.

“Apa kau tahu apa yang sedang terjadi pada Kei di luar sana?” Eunji berhenti seraya mengajak bicara Mijoo. Menenangkan keadaan kacau dan menegangkan sebelumnya.

Mijoo masih mencoba menormalkan oksigen di paru-parunya. Masih terengah, dan sama sekali tak berminat untuk menanggapi Eunji. Tapi tentu Mijoo masih ingin mendengar lebih.

“Takdir mereka yang sedang keluar saat ini adalah dimakan graver atau werewolf,” lanjut Eunji. Lee Mijoo lantas membulatkan mata terkejut.

“Timnya Kei di perbatasan graver. Aku sudah mengumpulkan semua graver dari seluruh dunia di tempat itu. Untuk hari pertama mereka akan tenang. Namun di hari-hari setelah itu, gravernya akan mulai menggila lagi.

“Kau menyukai Jin Young bukan selama ini? Dia tengah berada di sekitar hutan terlarang untuk saat ini. Ia bersama Oh Sehun, Kai, dan Mark Tuan. Aku memisahkan Zelo dan Yunhyeong dari tim itu. Beberapa werewolf akan memihak mereka soalnya. Mereka sudah kenal Zelo dan Yunhyeong dari para anak serigala di sekolah ini sepertinya. Aku mengadu domba beberapa werewolf di sekitar tempat itu. Tak lama lagi anak-anak itu akan dihabisi ratusan werewolf,” jelas Eunji.

Mijoo kali ini terduduk di tempatnya. Kakinya sungguh terasa lemas seketika. Kei dan Jin Young? Mereka dalam bahaya? Mata Mijoo mengedar pandang tak jelas. Fokusnya hilang. Lalu…

“AKHHH!”

“AAAAAA!”

Jarum perak di tangan Jung Enji telah berpindah tempat di tubuh Mijoo. Wajah Mijoo perlahan memucat dibuatnya. Ia pun mulai terjatuh dan terbaring lemah di lantai dingin klinik. Lalu teriakan lainnya tadi, Sungjae sudah tak bisa menahannya lagi. Sihir itu melahapnya sudah. Bahkan ia seperi menangis darah, dengan mata yang mengeluarkan darah dari pembuluh yang pecah di sekitar sana.

Dengan wajah flat, Eunji menghampiri Mijoo yang sekarat,

“Kau berbohong bukan soal ceritamu? Kau melakukannya hanya untuk menyerangku, bukan?” Mijoo menggunakan semua sisa energinya untuk berbicara.

“Itu memang rencanaku. Karena kau sudah tahu rencanaku, bukankah lebih baik mati saja, daripada beritanya bocor?” Eunji memiringkan wajah seraya menyeringai. Kemudian Eunji menarik jarum itu dari tubuh Mijoo, membuatnya kembali mengerang kesakitan, dan akhirnya terkulai lemas di lantai.

.

.

.

@Perbatasan hutan terlarang

“Akh!” Jin Young berteriak kecil setelah kakinya tiba-tiba terserang api mainan Mark.

“Kau tak apa?” Kai dengan cepat memegangi tubuh Jin Young. Yang ditanya pun menggeleng pelan sembari mengucap bahwa ia baik-baik saja.

“Maafkan aku. Harusnya aku lebih berhati-hati,” Mark berkata cepat dengan menyesal.

“Kau kenapa? Lelah? Mark hanya bermain-main. Harusnya kau tak terluka,” komentar Sehun yang membuat semua orang menatapnya.

Jin Young hanya bisa tersenyum kecil menanggapinya. Ia pun melanjutkan,

“Rasanya seperti sesuatu yang benar-benar buruk sedang terjadi. Aku kehilangan fokusku tiba-tiba,” jelas Jin Young.

Yang lain pun kini mentap Jin Young khawatir. Namun Sehun, cepat-cepat menenangkan mereka dengan berkata, “Mungkin kau kelelahan. Kita di perbatasan hutan terlarang. Kau mungkin ketakutan tanpa kau sadari. Tenang saja. Seperti biasa, tugas kita hanya mengawasi. Toh kita bersembunyi, bukan?” Sehun lalu melempar sebotol minuman darah ke Jin Young, membiarkan anak itu meneguknya.

“Kau istirahat dulu saja. Kami akan mengawasi sebaik mungkin,” Mark menepuk bahu Jin Young sembari tersenyum. Anak itu tak bisa membantah, karena kini hatinya memang terasa seperti teremas dan amat sakit tanpa sebab yang jelas. Ia pun membaringkan diri, membiarkan teman-temannya menggantikan tempat untuknya.

GRRRR

Baru beberapa sekon Jin Young memejamkan mata, rungunya sudah terusik oleh suara geraman misterius yang tiba-tiba muncul. Semua kawannya juga mendengarnya. Mereka dalam keadaan siaga, siap melindungi diri sendiri.

Salah satu serigala hitam meloncat dan mendapati para vampire itu tengah berdiri di atas salah satu pohon lebat.

GRRRR

Serigalanya lantas kembali melompat, berusaha mencapai vampire-vampire di atas sana. Ia juga mengaum panjang, memberikan sinyal kepada teman-temannya yang lain agar berdatangan.

Yah, kali ini mereka terjebak.

.

.

.

@Klinik akademi

Krystal segera berlari ke klinik mencari perawat sekolah. Youngjae pergi ke ruang BK untuk melaporkan pasal Master Jung. Sedangkan Naeun, ia berjaga di sana, menunggui tubuh Master Jung.

Tungkainya membuat selisih cukup lebar dari kaki satunya. Begitu terus dengan kecepatan maksimum, menuju klinik. Di pintu klinik ia bertemu Jinhwan yang juga terlihat buru-buru. Tanpa mau ambil peduli, Krystal membuka pintu klinik cepat. Namun matanya kembali pedas oleh pemandangan di depannya. Begitu pula Jinhwan. Anak itu langsung menutup mulut tak percaya.

Mijoo tergeletak lemas di lantai, dan darah gelap keluar dari mata Sungjae. Krystal kembali mulai panik. Satu-satunya yang bisa ia harapkan di akademi adalah phantom junior. Semoga ia tak termasuk yang keluar untuk misi.

Jantungnya kini memompa dua kali lebih cepat dari biasanya. Begitu pula Jinhwan yang masih membeku di tempat.

”Mungkin selanjutnya adalah Joshua,” Jinhwan bergumam pelan, namun masih mampu dicapai oleh rungu Krystal.

Gadis itu lantas kembali menghela nafasnya tak percaya. Dengan langkah lebar, ia pun mulai mencari cara untuk menghubungi phantom junior.

“Knock…knock.”

“Knock-knock.”

“Knock-Knock!”

“KNOCK-KNOCK!!!”

Krystal mengitari koridor sekolah dengan putus asa. Tak mungkin bukan phantom junior juga keluar akademi. Identitasnya masih rapi tersembunyi seperti Krystal. Tak ada yang mencurigai mereka.

“Akh!” Krystal berteriak frustasi karena si phantom junior tak segera menjawab. “Kau dimana, huh?”

.

.

.

@perpustakaan

Mereka saling berhadapan dengan es dan asap hitam di tangan masing-masing. Joshua juga menyiapkan tangannya untuk mengeluarkan air.

“Aku tak akan segan kepadamu, Jim,” ujar orang bertudung itu.

“Sial kau-“ ucapan Jimin dipotong oleh serangan si anak bertudung itu. Ia mengeluarkan semacam tali hitam ke arah Jimin, dan berhasil memerangkap kaki Jimin. Namun Jimin dengan susah payah berhasil memotong talinya dengan es dan api yang ia keluarkan hampir bersamaan.

“Ck, kenapa kau gegabah sekali menunjukkan identitasmu padaku? Masih ada lagi mata-mata di akademi selain dirimu?” orang itu menyeringai, lalu melanjutkan, “Kurasa kau sendirian.”

Ia kembali melempar bola-bola hitam menakutkan ke arah Jimin. Lalu melayangkan buku-buku juga lemari di ruangan itu. Ruangannya bahkan sampai bergetar.

“Kau tahu, penyihir adalah bangsa yang punya kekuatan terbaik dibanding mahluk lain?” si anak bertudung terus saja melontarkan tuturannya kepada Jimin dan Joshua yang susah payah bertahan dengan diri masing-masing. Kini tudungnya tak terlalu tertutup. Cukup untuk memperlihatkan beberapa helai rambut depannya, juga paras tampan itu.

“Namun kalian adalah bangsa dengan kekuatan fisik terlemah. Kau lupa?” Joshua memiringkan kepalanya, balas menggertak si anak bertudung dengan berani.

Si anak pun membuang nafasnya kasar, lantas tertawa renyah.

“Kau tahu sudah berapa lama aku hidup? Aku lebih tua darimu, Jimin. Sudah lima puluh abad lebih. Terpaut sekitar sepuluh tahun setelah kau sukses menjadi vampire. Hong Jisoo, dengan umur setua ini bagaimana mungkin aku tak bisa mengalahkanmu dengan mudah? Fisikku juga membaik, bodoh,” anak itu terus mencoba mengulur waktu dengan kata-kata, sementara kekuatan-kekuatan hitam miliknya berjalan pelan melalui celah-celah kayu.

“Jadi memang benar kau mengenalku. A-“

“Tidak,” potong anak itu cepat. “Aku baru tahu anak yang selamat itu ternyata kau. Aku baru tahu phantom juniornya kau.”

“Jadi kau pasti tahu anak yang satu lagi. Dia sudah menunjukkan kekuatannya omong-omong,” Jimin ikut terpancing kata-kata si anak bertudung.

“Aerin sudah mencurigakan sejak awal.”

“Sepertinya kau juga tahu tentang V.”

“Ia bersama Min Suga yang menjebak Eunji. Bagaimana aku tak tahu?”

“Rupanya aku merupakan kejutan untukmu.”

“Aku juga menjadi kejutan untukmu. Dan orang lain juga akan terkejut,” si anak bertudung masih membalas dengan santai sepeti biasa.

Sementara dua anak di sana sedang beradu mulut, Joshua lebih memilih bergulat dengan pikirannya.

“Aneh. Ada sesuatu yang aneh di sini. Tak mungkin Jimin tak menyadarinya. Hawanya menjadi dingin seketika,” otak Joshua berulang kali berujar demikian. Ia pun melangkah mundur dengan diam-diam mengambil buku yang tadi dicarinya.

Firasatnya mengatakan memang ada sesuatu yang tak benar. Karena si anak bertudung hanya fokus pada Jimin, Joshua terus berjalan menuju jendela di sana dengan hati-hati.

“Kau tak pernah berubah. Aerin benar. Kau sangat cerewet, Dae,” Jimin mengatakannya dengan sebuah tawa renyah.

“Jisoo SEKARANG!!! Keluar! Berteleportlah! Cari Krystal, dan katakana ini perintah phantom junior. Jangan sebut nama Jimin,”-Jimin masuk ke pikiran Joshua untuk mengatakannya.

“Jangan khawatir, kau akan tetap menjadi sahabatku, Jim,” si anak bertudung tersenyum manis. Tapi tepat setelah itu, ia mengeluarkan smirk bebarengan dengan sihir hitam yang mengekang Jimin.

Sukses mlilit tubuh Jimin sampai korban itu tak bisa bergerak lagi, mata si anak bertudung menjelajahi seluruh ruangan mencari korban awalnya.

“Cukup bawa aku saja. Permainannya tak akan seru jika kau terlalu unggul. Biarkan orang lain tahu. Toh kau sudah menangkapku,” Jimin menghentikan si anak bertudung yang terlihat panik. “Aku cukup kuat untuk menjadi senjata utamamu. Kau mengincar Aerin bukan selama ini? Jujur aku lebih baik darinya,” jelas Jimin masih tersenyum pada sahabatnya.

“Aku tak menjamin kau akan baik-baik saja,” anak bertudung itu berjalan mendekati Jimin.

“Kita tak pernah tahu hasilnya,” Jimin ikut menatap si anak dengan santai. Mereka saling beradu pandang, menerka apa yang ada di pikiran masing-masing.

“Knock-knock”-Krystal akhirnya sampai ke pikiran Jimin.

“Ini aku, Krys. Maaf tapi aku harus pergi. Lindungi Joshua dan bawa dia ke kakekmu. Ini darurat,”-Jimin.

“Pergi ke mana bodoh? Aku tahu Joshua dalam bahaya. Tapi tak mungkin untuk membawanya ke sarang werewolf. Beri aku penjelasan. Kau tak tahu seberapa ketakutannya aku saat ini. Master Jung, Lee Mijoo, Yook Sungjae. Mereka semua barusan terbunuh,”-Krystal.

“Apa? Jadi kau bahkan membunuh guru tua itu, Dae?” Jimin refleks bertanya pada si anak di depannya.

“Kau sedang bertelepati dengan siapa, huh? Joshua?” anak itu kebingungan dengan pertanyaan Jimin yang tiba-tiba. Sadar pada mulutnya yang ceroboh, Jimin pun menggigit bibir bagian bawahnya seraya tertawa malu.

“Jung Eunji yang membunuhnya. Tugasku mengeksekusi Joshua. Hanya dia,” balas si anak setelah sadar Jimin tak mungkin berbicara lebih.

“Jung Eunji?! Lalu Mijoo? Sungjae?” Jimin kembali bertanya dengan spontan.

“Mereka mati?” anak itu malah balik bertanya.

“Ya! Kalau bukan kau, siapa yang membunuh, bodoh?” Jimin kesal dengan orang di depannya ini. Hei, orang sekejam dia kenapa kembali konyol seketika, huh?

“Yook Sungjae tak mungkin mati karena sihir hitamku. Seharusnya sihir itu tak membunuh siapapun. Aku sengaja menyihirnya karena ia menguping pembicaraan rahasiaku. Itu bukan sihir mematikan. Dan Lee Mijoo, aku tak tahu sama sekali tentangnya,” jelas anak bertudung itu.

“Ya! Kenapa kau menghilang? Apa yang harus kulakukan?”-Krystal  masih berusaha menghubungi si phantom junior.

“Krys, hati-hati pada Jung Eunji. Ia tak segan membunuh siapapun,”-Jimin.

“Eunji lepas dari penjara?”- Krystal.

“Jadi kau mengeluarkan Eunji dari penjara sendirian, Dae?” anak bertudung itu balas mengangguk merespon pertanyaan Jimin. “Daebak! Kau lebih hebat dari kelihatannya.” Si anak bertudung yang diajak bicara hanya bisa memutar matanya jengah.

“Krys, dengarkan aku. Kau tak perlu khawatir padaku atau rekan Jung Eunji. Aku akan mengurus semuanya. Kau cukup bawa Joshua ke kakekmu, mengerti? Lalu suruh Kyungsoo hyung segera bertemu Tryzienna dan mendapat informasi soal pemberontakan itu. Keadaannya sekarang sungguh kacau. Kau juga lebih baik berlindung. Jangan berada di akademi ini untuk sementara waktu. Ambil waktu cuti sekolahmu yang tak pernah kau pakai. Aku akan tetap di akademi. Jadi jangan khawatir,”-Jimin

“Tu-“telepati Krystal dipotong sudah oleh si phantom junior.

Sekarang tak ada pilihan lain selain menuruti si phantom junior. Krystal tak tahu apa yang sedang terjadi. Lebih baik mengiyakan saja perintah anak itu. Sekarang tugasnya adalah ke BK, meminta ijin, lalu menemukan Joshua sebelum Jung Eunji. Ia harus cepat.

“Bukan Joshua, ya? Jadi ada mata-mata lain lagi?” tanya anak bertudung itu kini kembali menutup jubahnya, kembali menjadi sosok misterius. Jimin hanya bisa tersenyum nanar dibuatnya. Si anak pun melanjutkan, “Kita juga tak bisa di akademi untuk sementara waktu. Ayo ke Roma.”

“Phantom? Kau melihatku?”-Jimin.

“Em. Apa yang kau rencanakan?”-Chanyeol.

“Ikuti aku. Jangan sampai mereka mengendalikanku. Aku akan berpura-pura nantinya,”-Jimin.

“Terserah padamu,”-Chanyeol.

“Ya! Kau itu appa-ku. Tak bisakah mengatakan sesuatu yang melegakan seperti ‘Hati-hati, Nak’ atau ‘Aku akan selalu ada untukmu’? Appa macam apa yang abai begitu?“-Jimin.

“Kau bahkan tak pernah memanggilku ‘Appa’. Kau selalu berbicara informal. Lagipula mana ada anak yang menyebut ayahnya hantu (phantom=hantu),”-Chanyeol.

“Terserah padamu, Phantom. Kau harus melindungiku atau semuanya hancur,”-Jimin.

“Aku tahu, pendek,”-Chanyeol.

“Sial kau,”- Jimin.

@Tiga hari setelah itu/Shanghai

“Rin!” V masih berusaha mengajak Aerin bicara ditemani Mingyu dan Zelo. Mereka berjalan-jalan di tepi pagar pembatas graver. Kali ini pembagian kelompoknya agak kacau. Mereka tak bisa pergi berpasangan lagi. Tadi siang graver-graver itu menggeram teramat keras, mengecilkan nyali bagi mereka yang ingin mengurung graver-graver itu.

“Rin!” V masih berjalan di belakang bersama Aerin, sengaja menciptakan jarak antara mereka dengan Zelo dan Mingyu.

“Kau bisa diam?” gadis itu menatap Taehyung dengan tatapan mengusir.

Namun yang ditatap dengan santainya tersenyum.

“Aku hanya ingin bertanya. Kau belum menjawab pertanyaanku selama tiga hari. Jungkook-“

RRRRR

Pertanyaan V terpotong oleh suara geraman misterius. Mereka semua lantas memasang telinga mereka lagi peka-peka. Dari dalam hutan, sekilas sepasang mata merah tertangkap oleh mata elang Zelo.

“Mereka melihat kita. Siap-siap menyerang,” ujar Zelo cepat.

.

.

.

Yunhyeong, Suga, Jungkook, dan Kei berada dalam satu kelompok. Satu-satunya gadis di kelompok itu tiba-tiba lemas di tengah jalan, membuat yang lain harus berhenti berjalan, dan memilih untuk memasang perangkap di sekitar tempat itu saja.

“Kalian tahu rasanya seperti separuh jiwaku hilang. Sungguh,” ujar Kei yang sedang terduduk bersandar pada salah satu pohon.

“Firasatku juga terasa buruk,” Yunhyeong ikut menimpali perkataan Kei. Ia berulangkali kehilangan konsentrasinya ketika memasang ranjau. Bahkan jika Suga tak menahannya, Yunhyeong mungkin sudah menginjak ranjau yang ia pasang sendiri.

Mendengar rekan-rekannya yang semakin kacau, Suga memutuskan untuk bertelepati dengan V, Zelo, dan juga Aerin,

“Kalian baik-baik saja di sana?”-Suga.

“-“

Tak ada satupun yang membalas telepati Suga. Apa jaraknya terlalu jauh? Pikir Suga. Ia pun mengedarkan pandangnya ke segala arah, sekedar mencari terkaan.

Ia tak mendapat apapun. Timnya sepertinya juga butuh istirahat. Hanya Jungkook yang masih fokus memasang perangkap. Akhirnya Suga juga memutuskan berhenti sejenak dari kegiatannya. Ia memejamkan mata, masih di tempat ia berdiri saat ini. Pikirannya melayang jauh, jauh berkelana menuju Roma.

“Appa?”-Suga.

Yah, anak itu berusaha menghubungi menteri. Sebagai jaga-jaga, semoga firasat Yunhyeong dan Kei bukanlah pertanda buruk.

“Yoongi? Itu kau Yoon?”-menteri vampire.

“Iya, aku Suga. Appa, aku ingin bertanya. Di pemerintahan tak ada masalah apapun, bukan?”-Suga.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya? Di sini semua baik, Yoon. Kau fokus saja pada misimu,”-menteri vampire.

“Kalau di akademi?”-Suga.

“Ada kabar sedikit buruk di sana. Seorang Master dan beberapa murid dinyatakan hilang. Aneh sekali Yoon. Sekarang orang pengadilan sedang pergi ke sana untuk menyelidiki.”-menteri vampire.

“Aku mengerti Appa. Terima kasih,”-Yoongi.

Yoongi memutus telepatinya dengan sang ayah. Di akademi sedang kacau? Jadi firasat pada Kei dan Yunhyeong bisa benar.

“Suga?” panggil Yunhyeong. “Ya, Min Suga!” Yunhyeong pun berteriak karena Suga tak merespon sebelumnya.

Yang mendengar namanya diteriakkan itu pun balas menoleh kea rah Yunhyeong cepat setelah ia sadar.

“Apa yang kau lakukan?” kini Kei yang bertanya mendahului Yunhyeong.

Suga diam beberapa saat sambil menggulum bibir. Matanya masih sama dinginnya seperti biasa. Lantas ia menghela nafas sebelum membalas,

“Aku mencari info tentang akademi. Katanya banyak yang menghilang di sana,” jelas Suga masih flat.

Mereka yang mendengarnya tentu terkejut. Yunhyeong mengerutkan dahinya cukup lama, sebelum akhirnya ia merespon pernyataan Suga,

“Daehyun salah satunya? Bagaimana dengan Jimin?” pemuda itu bertanya spontan setelah berpikir. Membuat Suga yang kini malah balik mengerutkan dahinya.

“Tunggu sebentar.” Suga kembali memejamkan mata, mencoba menembus alam pikir jauh… sampai di Korea.

“Krys?”-Suga.

Suga mencari keberadaan Krystal di akademi. Mencoba menelusuri kelas-kelas, mencari alam pikiran Krystal. Namun nihil. Ia tak menemukan apapun. Jalankan alam pikir Krystal, tanda-tanda anak itu saja tak ada.

Suga kembali membuka matanya. Rautnya nampak kesal untuk sekarang.

“Aku tak bisa menghubungi siapapun. Krystal juga sepertinya salah satu anak yang hilang. Oh benar! Tim yang satu lagi, mereka juga tak bisa kuhubungi,” ujar Suga menjelaskan.

Mereka semua terduduk di sana dengan lemah. Pikiran masing-masing telah melayang entah ke mana. Jadi di akademi malah kacau? Betapa beruntung yang sedang keluar misi dan tak tahu apa-apa.

“Tapi Yunhyeong,” celetuk Kei tiba-tiba. Mereka yang ada di sana pun langsung mengarahkan mata mereka ke arah Kei. “Kenapa kau hanya bertanya tentang Daehyun dan Jimin? Kukira kau dekat dengan Jinhwan. Kau tak khawatir padanya?” lanjut Kei.

Yunhyeong mengangkat alisnya, tak mengerti dengan pertanyaan Kei. Setelah kepalanya mengingat sesuatu, barulah ia menepuk dahinya sendiri.

“Karena katanya akademi sedang kacau, kurasa lebih baik kuberitahu pada kalian saja,” jelas Yunhyeong akhirnya sembari meringis.

“Memberitahu kami?”

“Jika kukatakan Jimin saja, apa kau masih tak mengerti, Suga?” kini Yunhyeong menatap Suga dengan sebuah ekspresi yang- em, yah, seperti ‘kau tahu maksudku, bukan?’

Tapi Suga hanya menautkan alis, juga menggidikkan bahu abai.

“Ck. Park Jimin memang pintar sekali menyembunyikan identitasnya. Aku juga terkejut saat pertama kali tahu. Pura-pura menjadi siswa akademi biasa.”

“Apa maksudmu?”

“Aku bahkan belum membocorkan informasi ini pada siapapun. Bahkan aku belum melapor kepada Master Daniel karena Jimin sahabatku.”

“Lalu?”

“Jimin tahu aku mengetahui identitasnya. Ia membiarkanku.Dia selalu berlagak bodoh begitu, padahal ia super jenius.”

“Hah?”

“Dia berakting tak menguasai teknik es. Padahal ia lebih pintar dari Aerin. Ia menguasai segalanya.”

“Ya! Katakan apa maksudmu yang sebenarnya!” Suga mulai kesal dengan Yunhyeong yang terlalu lama menjelaskan.

“Dia rekanmu, Min Suga. Dia sekomplot dengan anak-anak serigala itu. Aku baru ingat saat di Roma Jin Young merasakan kekuatan besar mirip seperti Aerin. Itu dari anak itu, bodoh. Jimin melakukan semuanya dengan sempurna. Kau tak pernah tahu bukan, ia bisa teknik ilusi? Bahkan ia bisa memanipulasi pikirannya sendiri. Ia menguasai semua teknik divisi. Jimin lan yang dikata-katakan si phantom junior itu.” Yunhyeong masih dengan ekspresi santainya selesai menjelaskan.

Sedang yang lain, mereka masih membulatkan mata sipit mereka. Tentu terkejut karena fakta dari identitas Jimin itu sedikit… oh! Sangat tak cocok dengan yang ia perankan selama ini. Dia benar-benar periang, nampak bodoh, dan polos tak berdosa. Tapi nyatanya, ia termasuk siswa yang diincar pengadilan.

“Lalu Jung Dae? Tak mungkin anak itu juga seperti Aerin, bukan?” Kei kembali membuka mulutnya setelah lama diam.

“Dia berbeda cerita. Yang tahu soal ini hanya aku dan Master Daniel. Aku memberitahu master karena sepertinya untuk kali ini berbahaya,” jelas Yunhyeong mulai serius.

“Saat itu aku dan Aerin bertengkar. Aku memaksanya mengeluarkan kekuatan angin yang diam-diam ia miliki. Karena ketahuan ia bukan vampire biasa, ia memilih melarikan diri dariku dan teman-temanku. Saat itulah Daehyun menyusulnya.

“Kalian tahu, aku tak paham untuk apa bocah itu menyusul Aerin. Ia sendiri tahu Aerin lebih suka sendiri di saat perasaannya buruk. Namun Daehyun repot-repot menemani gadis itu. Aku sengaja menaruh kamera kecil di jubah sekolah Aerin. Aku melihat rekamannya. Aerin menangis setelah bertengkar denganku. Dan Daehyun menghampirinya untuk menghibur perasaan Aerin. Saat itulah kameraku menangkap serabut-serabut hitam samar mengitari tubuh Daehyun. Itu aneh. Sungguh aneh.

“Sebelumnya, saat Aerin tiba-tiba menghentikan angin dariku, aku mendapati Daehyun tengah tersenyum samar. Jinhwan tentu ketakutan. Dan Jimin, ia memasang wajah kesal padaku. Namun segera setelah itu, ekspresi mereka semua berubah seperti Jinhwan. Ketakutan juga seakan-akan terkejut.

“Aku membicarakannya dengan Master Daniel setelah itu. Ia bilang di hari sebelum Sungjae sakit, anak itu sempat mendekati Daehyun. Padahal jarang-jarang ia mau berkomunikasi pada anak-anak petarung seperti Daehyun. Jadi yang bisa kusimpulkan dari semua analisaku adalah, kurasa bukan para werewolf itu yang berbahaya di sini. Jung Daehyun adalah seorang penyihir. Spesies mereka belakangan beritanya hampir punah. Hanya itu yang kutahu.” Yunhyeong menyelesaikan ceritanya dengan sebuah senyum, seolah hal yang barusan ia katakan bukanlah apa-apa selain basa-basi.

Namun yang lain tentu terbengong dengan analisa hebat Song Yunhyeong. Mungkin karena ia juga berteman dengan mereka semua. Ia juga murid Master Daniel. Master Daniel juga benar-benar jenius omong-omong.

“Zelo!”-Suga.

Suga buru-buru bertelepati dengan Zelo. Berharap telepatinya sampai dipikiran Zelo. Semoga anak itu tak sedang berkonsentrasi pada hal lain.

“Aku diserang Graver, Suga. Kami diserang dadakan. Dan mereka sungguh banyak. Jauh dari yang kita perkirakan untuk membendungnya. Kami kewalahan. Akh-“Zelo.

Ia memutus telepatinya setelah sadar salah satu Graver barusan menggigit bahunya. Sungguh sial!

Sedangkan Suga, ia tentu panic. Ia pun segera membuka mulut, “Kelompok yang lain diserang Graver. Kita harus-“

Ucapan Suga terputus sebab sebuah Kristal es raksasa tiba-tiba muncul membendung mereka. Seorang dari mereka kini menyeringai jauh dari mereka. Ia mengangkat tangannya, mempercepat untuk menutuk Kristal itu agar Suga, Yunhyeong, dan Kei terperangkap di dalam sana.

“Kalian rupanya memang tahu terlalu banyak. Untung kalian tak di akademi. Tempat itu akan hancur lusa. Selamat menikmati hari di igloo tak berpintu milikku,” Jungkook menyeringai di tempatnya. Ia terus menggerakkan tangannya lihai, hingga akhirnya igloo yang ia buat menutup sempurna.

“Semoga Mingyu juga bekerja dengan baik,” gumam Jungkook seraya menepuk-nepukkan telapaknya, menghilangkan debu yang bersarang di sana.

.

.

.

-TBC

A/N: Soriii banget kalo gaada V-Rin belakangan. Mau fokus ke alur. Kkkkk. Biar Actionnya juga kebentuk. Wkwk. Well, semoga masih pada mantengin yak. Sebentar lagi udah perangnya soalnya. Udah mau klimaks. Hope you still like this :*

Don’t forget to leave like and comment, ne :-))). See Youu :’)

Thanks for Reading~~~  *pamit bareng-bareng graver* /eh?

Advertisements

16 thoughts on “[BTS FF Freelance] The Academy of Vampire – (Chapter 11)

  1. kirito

    Thorr kok ngakak liat jimin berinteraksi sama musuh dan bapaknya😂😂 gila si bantet bikin ngakak ga kuat.. masa iya lagi beranten malah diajak debat, ngakak pula daehyunnya… sabar yah yeol anak durhaka si bantet wkwkwk.. ahh abang jk kan udh dd bilang jangan jadi jahat:'(( lagian mereka aneh gatau apa itu ada abang jk-_-

    Like

  2. VhegaHoseok

    Dirimu terlalu keren author keep Fighting dalam menlanjutkan FF nya jangan dulu ihhh buat Vaerin moment akuu suka Suga Aerin moment thor banyakkin ya banyakin kalo bisa TBC nya jangan munculin lagi *canda uunccchh sayang author Fighting ❤

    Like

  3. isye

    halli thor,, anak baru nih maaf bru koment,
    yah thor jungkook jahat?? apa mungkin dia sekongkolan sama daehyun dan eunji??
    dan siapa yg mengendalikan jungkook dan mingyu?? ahh tauk lahh
    lanjut thor jan lama

    Liked by 1 person

    1. Haloo elisa ^^
      Makasiiiih banget loh comment nya.
      Makasih juga udah nyempetin baca cerita abal ini 😍😍😍. Hehe
      Kalau penasaran part 12 buka aja di wp aku. Kkkkk
      Hope you always like it 😊😊😊

      Like

    1. Haiii Misa 😁
      Sebenernya chap 12 udah aku kirim. Tapi belum ke post aja hehe :v
      Kalau kamu penasaran, ke wp aku aja wkwk /malah promosi kan authornya
      Kemarin aku kira udah dipost di sini. Makanya aku repost di wp aku. Eeh ternyata belum 😂😂😂
      Btw thanks for reading and commenting 😍😍😍

      Like

    1. Uwaa thanks for reading 😍. Thanks for commenting 😍😍😍
      Iyaa Mphi Aerin dikit banget. Author so soriii 😢. Abis ini kuusahain banyak kkkkkk
      Chapter 12 sebenernya udah aku kirim. Tapi belum kepost sama Mimin. Sampe udah ada di wp peibadi aku sebenernya. Wkwkwk
      Okee dilanjut terus yaa bacanya ^^ semoga kamu suka 😊

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s