[BTS FF Freelance] Werewolf : A Thirst for Blood and Prey – (Ficlet)

werewolf

Werewolf : A Thirst for Blood and Prey

story by roseblanche

Kim Taehyung (BTS) with Others

slight!Dark, Myth

G

Ficlet

‘Taehyung menunduk dalam kegelapan, berusaha menyembunyikan wujudnya sebelum bertemu dengan sang mangsa.’

-oOo-

Taehyung menunduk dalam kegelapan, berusaha menyembunyikan wujudnya sebelum bertemu dengan sang mangsa. Papan kayu dan bebatuan yang sedari tadi menjadi sandaran Taehyung tiba-tiba saja bergeser, menimbulkan sebuah derit yang memekakkan telinga.

“Hei!” bisik Hoseok. “Jangan buat keributan! Nanti mereka kabur kalau menyadari keberadaan kita!”

“Berisik,” sahut Taehyung. “Aku sudah lelah dan kelaparan, kau tahu.”

Taehyung melanjutkan omelannya dalam hati. Pasalnya, perut malang milik Taehyung belum terisi sama sekali. Peluhnya bercucuran, dan seketika langsung disekanya dengan menggunakan tangan berbulu yang dilengkapi oleh cakar tersebut. Jantungnya berdegup, tak sabar akan kedatangan sang mangsa. Sementara kedua netra tajamnya tetap awas, tiba-tiba telinga runcingnya menangkap sesuatu.

“Kau dengar itu?” bisik Taehyung pada kawannya. “Sepertinya ada yang datang.”

Benar saja. Detik berikutnya, seorang gadis terlihat berjalan mendekat. Entah apa yang terjadi pada gadis tersebut, hingga ia harus berjalan sendirian di tengah kegelapan seperti ini, menapakkan kaki pada dedaunan kering yang menumpuk, lengkap dengan patahan ranting pohon yang telah mati.

Apakah gadis itu tersesat, Taehyung tidak tahu. Dan ia juga tidak ingin tahu. Yang jelas, jiwa yang haus akan darah tersebut berpendapat bahwa mangsa sudah ada di depan mata, dan ia siap untuk menerkamnya.

Taehyung melihat bahwa gadis itu bergidik ngeri, menatap sekelilingnya dengan kedua mata membelalak. Seakan diliputi suasana yang penuh dengan teror, wajahnya seakan menyiratkan bahwa ia ingin segera menemukan jalan keluar dari hutan terkutuk ini.

Namun, Taehyung tidak peduli. Mangsa adalah mangsa, dan sudah merupakan jati dirinya melakukan hal ini untuk bertahan hidup. Taehyung memasang ancang-ancang, dan ketika gadis itu melewat titik tempatnya, Taehyung langsung melonjak berdiri.

Taehyung merentangkan kedua cakarnya hendak menerkam, dan meraung-raung hingga suaranya menggema. Kedua taring tajamnya pun dikeluarkan seketika, seolah hendak mengoyakkan mangsa yang tak berdaya tersebut.

KYAAAAAAAAA!!!”

.

.

.

Gadis itu berlari terbirit, meninggalkan Taehyung yang masih mematung dalam posisinya. Lekas, ia terbahak. Taehyung menguarkan sebuah tawa keras, hingga Hoseok langsung menyikutnya.

“Ada apa, Bung? Aku sudah berhasil, kan?” protes Taehyung. “Sejak empat jam yang lalu, akhirnya ada juga yang berhasil kutakuti hingga menjerit.

“Salahkan wajah yang terlalu imut itu kalau dari tadi tidak ada yang takut padamu. Dan— Hei, ayolah. Gadis malang itu terlihat masih seperti anak sekolah dasar, Tae. Sudah pasti ia akan takut jika melihatmu berteriak seperti tadi. Kenapa kau tega sekali pada anak kecil, sih?”

“Masa bodoh. Kau tadi dengar sendiri ‘kan penyihir itu bilang apa? Aku tak akan dapat jatah makan siang jika aku tidak berhasil menakuti seseorang pun. Kau tahu apa komentar semua orang yang keluar dari rumah hantu ini? ‘Taehyung yang konyol’ ada …. ‘Taehyung yang gagal seram’ juga ada …. Bikin sakit hati, tahu!”

“Hei, santailah,” celetuk seseorang yang berdiri di seberang Taehyung—Kim Seokjin, Sang Mumi. “Bagaimana bisa kau menyebut kekasihmu sendiri ‘penyihir’?”

“Tidak peduli, lagipula dia memang penyihir. Yang penting—”

GUBRAK!

Suara tersebut membuat seluruh pasang mata terfokus pada satu titik sumber—dimana sang gadis kecil tidak lagi berlari, namun tergeletak di lantai dengan posisi terlungkup. Rupanya, ia tersandung dengan naasnya hanya karena terlalu panik dan berlari tanpa arah, hingga menyebabkan dirinya terjegal oleh properti bebatuan tak berdosa.

Seketika itu juga, berbagai sosok mulai bermunculan—keluar dari tempat persembunyiannya masing-masing. Seperti Seokjin yang keluar dari peti matinya, hingga Momo yang merupakan hantu geisha pun mendekat ke arah gadis itu.

“Oh, astaga. Kau baik-baik saja, Sayang?”

Taehyung dan Hoseok—yang kini sudah merasa gatal dengan kostum berbulu mereka —juga ikut mendekat, berharap bahwa keadaan sang gadis serupa dengan ucapan Momo. Namun, kenyataannya gadis itu jauh dari kata ‘baik-baik saja’.

Gadis itu menangis—sangat keras—dan terlihat bercak merah di ujung keningnya.

“Hei, kepalanya berdarah!” pekik Jun tertahan. Langkahnya terhenti sejenak, lantaran jubah hitamnya tersangkut pada ranting. Setelah menyibakkannya, barulah ia melanjutkan, “Ayolah, bawa dia keluar. Seungkwan, Mina, kemarilah. Bantu kami.”

Mereka semua keluar dari kelas yang begitu gelap, hingga sebagian besar dari mereka menyipitkan mata saat menapakkan kaki di lorong sekolah. Berbagai macam tatapan mengarah pada mereka—dua manusia serigala, dua vampir, satu geisha, satu mumi, dan satu Frankenstein—namun mereka tak mengindahkannya.

Terlebih Taehyung, ia lebih memikirkan nasib sang gadis untuk saat ini. Nasib dirinya sendiri pula.

“Jiho!” teriak Momo seraya membopong gadis kecil tersebut. “Kau ada kotak peralatan medis?”

Kim Jiho yang memakai kostum penyihir dan bertugas sebagai penerima tamu tersebut terbelalak, terlebih lagi ketika melihat gadis kecil yang menangis tersebut.

“A—Ada di sini,” jawab Jiho yang mulai ikut panik. “Kenapa dia?”

Momo meletakkan gadis tersebut di kursi Jiho, kemudian lekas membuka kotak peralatan medisnya. “Tadi ia langsung lari sprint setelah Taehyung menakut-nakutinya dengan raungan. Kurasa dia panik, lalu berlari kencang sampai akhirnya tersandung.”

Kedua mata Jiho kini beralih ke arah Taehyung, menyiratkan sebuah tatapan tak percaya.

Dengan tatapan polos namun juga takut-takut, Taehyung hanya bisa nyengir lebar, meskipun ada sekelebat perasaan bersalah juga dalam hatinya. Sebenarnya ia cukup menyesal karena tanpa sengaja melukai sang gadis, namun tetap saja—ia masih mengharapkan waktu istirahat lengkap dengan sekotak sushi yang telah dijanjikan oleh sang kekasih, Kim Jiho.

“Kau tidak usah makan saja, deh.”

.

.

.

Dan cengiran Taehyung pun memudar seketika.

fin.
-oOo-

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s