[Boys Meet What?] Again – Ficlet

againcover

Again

––Baby Gum presents.

BTS’s Min Yoon Gi, OC Cheon Sa | Fantasy | G

Berapa lama, ya, ia menghabiskan waktu dengan makhluk halus itu? Yoon Gi ingat sekali bagaimana reaksinya di awal pertemuannya dengan Cheon Sa, si hantu yang manis itu. Berkali-kali Yoon Gi mengumpat karena benda-bendanya bergeser dari tempat semula dan sering kali lampu kerjanya mati sendiri. Kejadian-kejadian aneh terus menimpa Yoon Gi sejak perpindahannya ke apartemen baru itu. Ia sudah berniat untuk pindah, namun setelah biang masalah itu menampakkan wujudnya pada Yoon Gi, lelaki itu mengurungkan niatnya.

Tak mengecewakan. Makhluk halus yang sering mengganggu Yoon Gi itu ternyata berparas elok. Rambut coklat sebahu dan mata kecil yang lucu. Sesuai namanya, Cheon Sa, ia juga secantik malaikat. Dan hari demi hari yang Yoon Gi lalui bersama Cheon Sa kadang membuatnya lupa soal perbedaan dimensi. Demikian pula dengan Cheon Sa.

“Turun, Cheon Sa!” pinta Yoon Gi. Cheon Sa menghentikan kegiatannya melayang-layang dan mulai menapakkan tubuhnya di lantai, meski sebenarnya sama sekali tak menempel ke lantai.

“Kenapa?” ia terkikik geli. Yoon Gi menyesap kopinya dan mendengus.

    “Aneh rasanya melihatmu melayang-layang. Seperti makhluk halus saja!” ujar Yoon Gi. Cheon Sa tertawa kencang. Mengatakan bahwa dirinya memang makhluk halus. Yoon Gi tersentak. Benar, selama ini ia memang hidup dengan makhluk halus, kan?

“Karenamu aku jadi gila,” sesal Yoon Gi. Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja sambil memandang Cheon Sa yang kini asyik menggeser-geser gelas Yoon Gi di meja. Sulit rasanya membuat benda bergerak tanpa menyentuhnya. Dan keasyikan Cheon Sa itu membuat Yoon Gi ikut tenggelam bersamanya.

“Cantiknya…”

“Apa?”

“Tidak, tidak! Hey! Kau membaca pikiranku, ya?!” omel Yoon Gi. Padahal jelas-jelas ia sendiri yang mengatakannya dengan suara yang cukup keras. Cheon Sa tertawa lagi.

“Mungkin ini agak kurang ajar, tapi, boleh kutahu kisahmu sebelum ini?” suasana menjadi canggung. Cheon Sa terdiam dan begitu pula dengan Yoon Gi. Ia ingin meminta maaf tapi egonya terlalu kuat untuk itu. Pada akhirnya gadis itu bercerita, meski dengan berat hati.

Cheon Sa tinggal di sebuah apartemen kecil di sudut kota. Tak ada banyak kamar di sana, hanya ada 4 lantai dengan 1 kamar di masing-masing lantai. Suatu malam apartemen itu terbakar dan hanya ada 2 orang yang sedang berada di sana. Ia dan seorang lagi yang kabarnya berniat bunuh diri namun akhirnya kabur dan menghilangkan nyawa Cheon Sa. Kesal sebenarnya. Namun, Cheon Sa tahu ia tak bisa berbuat apa-apa.

Yoon Gi yang sedang mendengarkan kisah Cheon Sa sambil menyesap kopinya itu tiba-tiba tersedak. “Kau tahu siapa orang itu?” tanyanya. Cheon Sa menggeleng.

“Apartemen kecil itu cukup kumuh dan tak ada satupun dari penghuninya yang pernah bertegur sapa. Jadi, bagaimana aku bisa tahu siapa dia dan dari lantai berapa?”

Yoon Gi bernapas lega.

“Apa yang terjadi jika kau tahu siapa dia? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Yoon Gi lagi. Cheon Sa mengendikkan bahu. Tersenyum setelahnya. “Ya sudah. Aku memang ‘pernah’ kesal. Toh, itu sudah berlalu, aku tak akan bisa kembali,” ujarnya lembut.

“Aku.” ujar Yoon Gi tiba-tiba.

“Apa?”

“Akulah orang itu. Aku berniat bunuh diri dengan membakar kamarku saat tak ada orang di sana. Sungguh aku tak tahu kau sedang di sana!” Cheon Sa mengerucutkan bibirnya. Kecewa setelah mengetahui kenyataannya. Jadi selama ini pembunuhnya adalah Yoon Gi? Setelah ia menjalani hari bersama, bertukar pikiran, dan berbagi tempat tinggal, mengapa baru sekarang kenyataan itu terungkap? Cheon Sa menunduk sedih. Dari seluruh umat manusia, kenapa Yoon Gi?

“A-aku tahu itu salahku… Jangan memasang wajah sedih begitu… Cheon Sa aku betul-betul tak tahu…” tutur Yoon Gi. Cheon Sa tersenyum getir, menepuk-nepuk pundak Yoon Gi dengan segenap kekuatan halusnya.

Suasana menjadi hening kembali. Yoon Gi sangat terpukul dengan apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Setelah pengakuan itu, ia lantas merasa tak enak hati. Ada yang mengganjal, tapi entah apa itu.

“Cheon Sa…”

“Ya?”

“Aneh bukan? Ternyata kita pernah bertemu sebelumnya,” ujar Yoon Gi sedih. Cheon Sa menaikkan sebelah alisnya, “Kita tak pernah bertemu di apartemen itu, Yoon Gi. Tak ada yang mengenal satu sama lain,” jelas Cheon Sa. Yoon Gi mengangguk-angguk.

“Ada yang aneh lagi, Cheon Sa…”

“Apa?”

“Seorang manusia jatuh cinta dengan makhluk halus,” ujar Yoon Gi lagi. Cheon Sa diam. Yoon Gi tak akan tahu betapa sulitnya menjadi dirinya yang harus terus menahan diri untuk tak mencintai Yoon Gi. Dimensi mereka berbeda, yang berarti jarak terjauh untuk menggapai cinta. Rasanya salah jika Yoon Gi menambatkan hati padanya. Lebih salah lagi, dia, seorang makhluk halus, mengharap cinta seorang manusia. Cheon Sa dan Yoon Gi, keduanya, mungkin sudah gila.

“Cheon Sa, kau tahu? Aku menyesali hal itu. Aku yakin sebenarnya kita bisa bertemu dengan cara yang lebih baik daripada ini. Aku mengharapkan sesuatu akan terjadi. Waktu akan berbalik, misalnya? Aku akan berdiri di depan apartemen, lalu kita akan bertemu di sana, saling memperkenalkan diri dan menjalani hari indah bersama setelahnya,” khayal Yoon Gi. Tak terasa air mata Yoon Gi menetes satu. Batinnya sungguh tersiksa.

“Jangan bertingkah menyedihkan begitu,” goda Cheon Sa, berusaha tersenyum meski dialah yang seharusnya menangisi nasib sialnya.

“Aku pembunuh, Cheon Sa! Dan orang yang kubunuh ada di depanku, telah hidup bersamaku selama beberapa waktu, membuatku jatuh cinta, membuat hariku lebih indah. Kurang menyedihkan apa aku?” Yoon Gi menjambak rambutnya frustasi. Cheon Sa semakin sedih mendengarnya.

“Yoon Gi, aku tak bisa kembali. Kau tak bisa kembali. Waktu akan terus berjalan, kau tahu?” Yoon Gi membekap mulutnya sendiri, menahan kesedihannya agar tak semakin menjadi-jadi.

“Tapi soal keyakinanmu… Kita memang bisa bertemu lagi, tapi aku tak yakin apakah itu adalah cara yang lebih baik,” Yoon Gi berhenti. Mengusap kasar matanya yang kini telah berair melebihi batas limitnya.

“Reinkarnasi. Yang artinya aku akan hidup kembali dengan ingatan yang baru dan kehilangan ingatan lamaku. Aku tak yakin akan mengingatmu tapi kuharap kau akan mengingatku dan menyapaku saat kita bertemu.”

***

Aku pergi’ kira-kira hanya tulisan di kaca itulah yang menemani Yoon Gi menjalani kesendiriannya lagi. Ia merasa sangat kesepian tanpa Cheon Sa di sisinya. Hari-hari terasa membosankan dan membuat Yoon Gi selalu ingin menangis. Menyesali segalanya. Ia kehilangan Cheon Sa untuk yang kedua kalinya.

Tubuhnya semakin kurus karena ia terus mengurung diri di kamarnya berhari-hari. Namun, hari itu ia ingin memperbaiki diri. Yoon Gi berniat untuk keluar dan mencari udara segar, melupakan segalanya dan memulai hidup barunya dengan lebih baik. Tak ada lagi bunuh diri, tak ada lagi makhluk halus.

Di tengah perjalanannya, seseorang menabrak Yoon Gi dan menjatuhkan barang-barangnya. Rupanya orang itu sedang tergesa-gesa. Yoon Gi menunduk dan berniat untuk menolong, namun terhenti saat melihat wajah orang yang menabraknya.

“Kita bertemu lagi…” gumamnya. Namun gadis itu masih sibuk membereskan barangnya. Benar, seharusnya ia tak mengingat Yoon Gi, kan? Yoon Gi senang mereka bertemu lagi, meski hanya dirinya yang akan ingat segalanya tentang pertemuan sebelum ini.

“Hey, namaku Min Yoon Gi,” ujar Yoon Gi mengulurkan tangannya. Gadis itu mendongak, kemudian tersenyum manis.

“Iya, aku tahu.”

End

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s