[Boys Meet What?] The Cold One – Oneshot

the-cold-one-poster

Title : The Cold One

By : Moodygirl01

Genre : Fantasy, Romance & Drama

Rating : General

Lenght : 2.768 words/Oneshot

Credit : ByunHyunji @Poster Channel

Disclaimer : Karangan fiksi ini sepenuhnya milik ©Moodygirl01 yang dibuat dari hasil membaca novel seri Twilight yang keren banget. Konsep sudah ada dari lama (karna baca novelnya juga sudah lama sekali), jadi tinggal edit dan belum pernah di publish dimanapun. Mohon tidak copas.

Summary :  Bagian yang paling penting pada akhir suatu cerita ialah –well, hanya ada dua jalan ; sad ending dan happy ending. Mungkin kalau akhir cerita sedikit berada di luar kedua jalan tersebut ; sad ending dan happy ending, berarti tokoh tersebut hidup dalam keputusasaan. Seperti diriku.


Tidak bisa ku pastikan bahwa hidupku ini akan berakhir bahagia, pun berakhir menyedihkan. Aku sedang menjalaninya. Entah bagaimana akhirnya, aku tetap ingin yang terbaik. Meskipun sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa hidup hanya berakhir pada kedua pilihan itu ; happy ending dan sad ending. Aku pun tidak bisa memilih. Bukan aku yang menentukan seperti apa akhir hidupku nanti, dan aku benar-benar hanya terfokus untuk memikirkan masalah ini ; setidaknya saat ini –seharian. Ya, dan itu benar-benar membuang waktu. Entahlah kenapa aku melakukannya, mungkin aku sedang putus asa.

Umurku baru berkisar sembilan belas tahun. Duduk di bangku SMA kelas dua, dan anak tunggal dari pasangan Lee Hyeri dan Lee Taejoon. Tapi anehnya margaku adalah Kim ; Kim Taehyung. Oke ini sangat lucu. Biar bagaimanapun, kalian bisa tertawa.

Sebenarnya, aku adalah anak pungut, ups! Maksudku, aku ini anak angkat. Satu tahun yang lalu, saat kelulusan sekolah menengah pertama, aku di adopsi oleh orang tak dikenal –yah memang siapa yang peduli bahkan jika aku kenal mereka. Mereka kaya dan memiliki apapun. Apapun dan apapun. Kemudian mereka memaksaku melanjutkan belajar di sekolah internasional yang sama sekali bukan tipeku. Terlalu banyak aturan dan tidak ada anak laki-laki yang mau pergi main denganku –mungkin karna aku terlalu tak tau aturan dan suka kebebasan.

Sekarang aku agak senang. Meskipun tidak ada anak laki-laki yang mau berteman denganku, setidaknya ada satu anak yang sangat cocok dalam segala hal denganku –well, kecuali soal cuaca. Juga perbedaan jenis dari kita, yang membuat masalah kecil seperti –cuaca, tidak kusangka memperburuk keadaan. Maksudku, perbedaan jenis seperti –laki-laki dan perempuan. Dan kebanyakan perempuan tidak suka panas-panasan. Tetapi dia suka kegiatan yang –kau tau? Memicu adrenalin. Bisa dibilang, mungkin aku putus asa sehingga membiarkannya menjadi temanku. Juga, hanya dia satu-satunya orang yang memahami hidupku yang penuh drama ini.

Dari ekor mataku, kulihat Rei memasuki kafetaria. Pandanganku lantas tertuju padanya ; mengenakan topi baseball seperti biasa dan tubuhnya dibalut seragam sekolah yang sangat cocok untuknya. Wajahnya yang setengah bule dan setengah Asia itu benar-benar sulit untuk dilupakan –aku sangat mengagumi kecantikannya, ngomong-ngomong.

“hai Taehyung?” Dia menyapa, lalu meletakkan Messenger Bag-nya di atas meja, sebelum ia mengambil posisi duduk di sebelahku. Suasana canggung di antara kami belum sepenuhnya hilang –akibat perdebatan minggu lalu soal cuaca. Memang, berdebat dengan wanita bukan keahlianku, jadi bagaimanapun juga aku tak bisa mengatasinya –bahkan seminggu telah berlalu.

Ini kali pertama Rei menyapaku sejak seminggu lalu. Jadi ku ukir senyuman tipis untuk membalas sapaannya. Tangan kanannya tak bisa diam mengetuk meja –seperti sedang menungguku untuk berbicara tentang sesuatu yang menarik dan kita berbicara tanpa henti, seperti sebelumnya. Aku menoleh. Tapi kulihat setetes air jatuh dari ujung rambutnya –membuat pandanganku beralih ke luar jendela. Di luar memang sedang hujan. Dan ya, Rei memang suka hujan.

“bagaimana kalau minggu ini?” bibirnya terkatup kedalam, membuat gelembung kecil di pipi akibat bertambah udara. Kedua matanya menatapku, harap-harap cemas dengan jawabanku. Ku hembuskan nafas. Membuat kerutan refleks di dahi sambil menatapnya. Tekanan darahku mulai meninggi dan ini tidak bagus. Tidak bagus untuk umurku, tidak bagus untuk Rei dan tidak bagus untuk mengulang percakapan ini –percakapan yang menimbulkan suasana canggung seperti saat ini.

“begini Rei, minggu lalu aku mengajakmu pergi di saat musim panas, dan itu kesempatan yang bagus untuk pergi hiking. Tapi –ini adalah awal bulan juli, kau tau? Hujan akan turun sampai pertengahan nanti, lalu Hyeri dan Taejoon akan pulang dari liburannya dan kita tidak akan pernah pergi.” Sungutku kesal. Kembali menatap sisa makananku di meja dan mengangkat garpu yang tergeletak di sebelah kiriku lalu meletakannya lagi sambil ku lempar.

Rei diam saja. Aku tau dia tersinggung dengan ucapanku. Dan sekarang aku bahkan agak menyesal telah berteman dengannya. Astaga. Tak bisa ku bayangkan bagaimana Rei tau bahwa aku pernah menyesal berteman dengannya. Memang seharusnya aku tidak berteman dengan wanita. Ditambah lagi dengan ketidakstabilan emosiku ini. Bisa-bisa aku meninju wajahnya kalau-kalau kita bertengkar.

Aku berdehem. Dia menatapku tajam dan itu membuatku khawatir. Jangan-jangan dia tau yang aku pikirkan, meskipun hal itu tidak mungkin.

“maksudku –kenapa minggu ini? Padahal kau tau minggu lalu cuacanya sangat bagus.” Dengan sabar kucoba membahas masalah hiking lagi. Aku tau dia sangat ingin pergi. Dia gadis yang hebat, aku akui. Dia yang pertama kali mengusulkan acara hiking kami dan pergi seperti pemberontak. Aku juga menyukainya –well, siapa juga yang tidak menyukai Rei? Aku yakin semua orang begitu tergila-gila padanya dan iri denganku yang selalu bersamanya.

Rei menggigit bibir bawahnya. Aku rasa dia sangat ingin berhati-hati dengan ucapannya. Karna sejujurnya, masalah hiking yang kita rencanakan selalu saja membuat masalah. Dia melepas topi baseball-nya dan meletakannya di atas meja. Lalu mengurai rambutnya yang sedikit basah di kedua sisi bahunya. Aku menelan ludah. Beralih menatap objek yang tidak menarik di sudut meja kafetaria ; segerombolan anak laki-laki tengah bersulang merayakan tim basket mereka yang lolos ke semifinal. Aku hanya tidak tahan saja melihat Rei yang begitu memukau –siapa tau ada yang menatapnya selain diriku.

“tapi aku sangat lapar.” Kualihkan lagi pandanganku ke arah Rei. Kedua matanya menatapku sayu dengan ekspresi merajuk. Ah. Aku ingat –aku bahkan tak menawarkan apapun padanya. Dengan kedua mata melebar, menggaruk pelipis dan tersenyum kikuk, aku berdiri. “aku akan pesankan sesuatu untukmu, tunggu di sini –mmm, sorry.” Ku angkat kedua tanganku di depan perut, meminta maaf dengan canggung.

“maksudku –bukan! Aku tidak ingin makan itu –yang ingin kau pesankan. Aku hanya –hhh. Aku hanya tidak lapar.” Aku mengerutkan kening, menatapnya yang berusaha menjelaskan dengan sangat terburu-buru dan membingungkan –membuatku duduk kembali dan melipat kedua tangan diatas meja. “tapi tadi kau bilang…” dia buru-buru menatapku dan menyela ucapanku, “aku lupa kalau aku sedang diet.” Aku mengangguk beberapa kali, berusaha menyembunyikan ekspresi tertahan di wajahku. Memang banyak wanita yang sangat menjaga bentuk tubuhnya, tapi aku pikir Rei tidak memikirkan hal-hal semacam itu, jadi ini sangat lucu.

Aku berharap tidak tertawa, karna takut dia tersinggung. Tapi dia sendiri tertawa dengan memperlihatkan sederetan giginya yang membuatku ikut tertawa terpingkal-pingkal, karna tak tahan sudah menahannya. “tidak ku sangka kau diet.” Ujarku geli, setelah berhasil menghentikan tawaku yang –agak menyebalkan. Rei menaikkan sebelah alisnya, dengan kedua bibir tertarik lebar. Aku berdehem melihatnya. Pada akhirnya ada topik yang menyelamatkan suasana canggung ini –setidaknya.

“dan kau barusaja mau memberiku cacing-cacing hitam (jjajjangmyeon) yang sangat – “ Rei mengendikkan bahu sambil mengerutkan kening dan menatap kedua tangannya yang menegadah di atas meja, seolah-olah memproyeksikan ‘cacing-cacing hitam’ yang membuatnya tak dapat menahan tawa. “bahkan aku yakin tak akan bisa menelannya.” Dia kemudian tertawa terbahak-bahak, membuatku mengerutkan kening namun ikut tertawa mendengar ocehannya yang tak karuan.

Hari hari telah berlalu, namun hujan masih saja mengguyur Seoul. Cuaca dingin, dan orang-orang tak tau kapan waktu yang tepat untuk pergi keluar –karna hujan tak kunjung berhenti. Dan aku seperti biasa. Masih memikirkan bagaimana nasibku hidup ditengah keluarga angkatku. Dan lagi-lagi, aku putus asa. Aku dan Rei  juga sudah baikan, dan kami membuat janji untuk bersepeda di dekat sungai Han, Sabtu ini.

Rei melambai ; duduk di tepi sungai, tubuh mungilnya terbalut sweater abu-abu sampai menutup kepala, melindungi diri dari rintik-rintik hujan yang sudah tidak sederas beberapa jam lalu. Aku menuruni sebidang tanah yang agak menjorok ke sungai ; turun dari jalan raya yang tempatnya memang lebih tinggi dari sungai, sambil membimbing sepedaku. Aku mengenakan hoodie berwarna hitam sampai ke kepala, lebih tebal dari yang dipakai Rei.

“pakaianmu terlalu tipis.” ujarku begitu sampai di dekatnya. Dia bangun dari duduknya, kemudian kedua tangannya meraih stang sepedanya dan menaikinya ; tapi belum mengayuhnya. Dia tertawa singkat, masih ingin menjawab ucapanku soal sweater yang dikenakannya. “aku suka hujan.” Jawabnya asal sambil berlalu.

“kau tidak boleh sering hujan-hujanan. Kalau tidak mau kena demam.” dia tertawa lagi ; mengacuhkan ucapanku yang sedikit berlebihan,  tanpa menatapku. Dan aku tertawa sendiri merasa lucu dengan kelakuannya. “aku mau pergi hiking.” Tiba-tiba dia berucap, membuatku segera menghentikan sepedaku. Begitupun dengan Rei, yang langsung menghentikan sepedanya. Dia menatapku sambil tersenyum, tak sadar bahwa keinginannya itu sangat menggangguku. Aku menghembuskan nafas sambil menatapnya tajam.

“bisakah kita melupakan masalah itu? Seperti, hiking sialan yang kau inginkan?” Tanyaku ketus. Rei diam saja. Seperti biasa, dia hanya akan diam saja kalau aku sudah marah. Dia menatapku cukup lama, entah apa yang sedang dia pikirkan atau dia perhatikan dari wajahku, tapi aku malah semakin kesal melihatnya berbuat seperti itu.

“kalau kau tidak mau pergi, aku bisa pergi sendiri. Atau Namjoon akan menemaniku.” Dia menyeka tetesan air hujan di wajahnya, tanpa perhatikan aku yang sedang bertanya-tanya siapa orang yang baru dia sebutkan namanya itu. “Namjoon? Siapa lagi? Kau –punya teman selain aku?” tanyaku penasaran dan juga semakin kesal. Rei menggeleng. Dia terlihat berpikir, membuatku merasa kalau dia sedang mencari alasan. Memang apa yang akan di katakannya soal Namjoon? Aku tau Namjoon adalah laki-laki. Jadi dia mungkin tidak enak mengatakan soal pria itu padaku dan sedang mencari alasan yang bagus untuk mengelabuhi ku. Kaki kananku hampir mengayuh, tak tahan dengan suasana menyebalkan ini. Lebih tak tahan lagi menunggunya berpikir –soal Namjoon brengsek itu.

“dia teman lamaku. Lebih lama bahkan sebelum aku berteman denganmu. Dia juga bagian dari klan-ku.” Aku meringis. Berbagai memori tentang pertama kali aku bertemu dengan Rei, bertengkar soal cuaca dan bertengkar soal hiking terlintas di benakku. Masalah yang kami hadapi cukup ringan, tapi aku merasa ini tidak benar. Mungkin aku memang salah telah berteman dengannya ; karna putus asa dan tidak memiliki teman, aku putuskan dia menjadi temanku. Pikiran kami benar-benar berbeda. Sangat berbeda sehingga aku sendiri tidak mengerti apa yang di bicarakan Rei. Tidakkah dia berpikir bahwa apa yang di ucapkannya sangat tidak masuk akal? Terlalu mengada-ada.

Aku tersenyum miring ke arahnya, tapi bisa ku rasakan rahangku mengeras. “kalau begitu pergi saja dengan Namjoon yang berasal dari klan-mu itu. Aku mungkin tidak masuk kriteria sebagai cowok yang bisa di ajak hiking di musim hujan. Well, aku masih waras.” Ujarku acuh lalu mengayuh sepedaku mendahuluinya.

Sekarang benar-benar telah berakhir. Aku dan Rei tidak cocok berteman. Rei suka hujan dan aku tidak. Rei suka hiking di musim hujan dan aku tidak. Aku tertawa miris. Bukan merasa kesulitan untuk tidak berteman dengannya, tapi aku merasa kesulitan harus memiliki perasaan khusus untuknya. Dia tidak mengerti kalau aku sangat perhatian padanya. Dan adakalanya, aku juga tidak mengerti maksud dari semua ucapannya. Kami sama-sama tidak mengerti satu sama lain, dan harus aku akui kita memang tidak cocok dari awal.

Ini hari yang paling menyebalkan untukku. Karna aku tak melakukan apapun – aku kan tidak punya teman. Hujan masih terus mengguyur kota dari malam hari, dan kedua orang tua angkatku ada dirumah. Yeah, tidak ada hari yang lebih menyebalkan selain hari ini. Kalaupun ada, berarti aku memang selalu hidup di tengah keputusasaan dan hidupku akan berakhir menyedihkan.

Aku terdiam. Seperti mendapat pesan dari malaikat maut yang sudah mau menjemput ajalku. Ku letakkan buku cerita anak-anak yang sedang kubaca ; di samping bantal tidurku. Hari ini hari yang sangat menyenangkan untuk Rei. Oh tidak. Aku mengingatnya. Hari ini akhir pekan. Kapan lagi Rei akan pergi hiking kalau bukan hari ini? Dan lagi, dengan Namjoon? Mungkin dia akan pergi dengan Namjoon, teman lama dari klan-nya ; entah kenapa aku mengatakannya, mungkin aku sudah ketularan tidak waras.

Aku berdiri. Berkacak pinggang sambil menilik jam dinding di atas pintu kamar. Jam lima pagi. God! Bahkan aku harus bangun sepagi ini di hari yang menyebalkan, sial! Masa bodoh dengan Rei dan acara hiking yang menyenangkan itu. Aku bukan lagi temannya. Tapi, Namjoon? Seperti apa orang itu? Apakah dia orang yang baik?

Aku terdiam sejenak ; berbagai rencana berkeliaran di otakku, kemudian menganggukkan kepalaku, setuju dengan sebuah ide yang terlintas di kepala. Tapi kemudian aku mengerang.

Kenapa Rei tidak bisa berpikir tentang keselamatannya? Apa yang dia pikirkan sampai –hiking di musim hujan bisa sangat menyenangkan? Juga berdua saja dengan pria bernama Namjoon, dan bahkan dia tidak berpikir apa yang bisa terjadi dengan tiba-tiba. Meskipun aku tidak bisa bilang bahwa dia akan selamat jika hiking berdua denganku ; memang siapa yang tau keselamatan seseorang, tapi aku merasa sangat terganggu dengan nama Namjoon sialan itu, jadi aku terus memikirkan keadaannya.

Aku sudah memutuskan untuk mengetahui bersama siapa Rei akan pergi. Dan ini gila. Biar bagaimanapun, ini akan sangat memalukan jika aku bertatap muka dengan Rei –sebentar lagi.

“Taehyung!” dia melambaikan tangannya sambil berlari ke arahku. Hujan masih turun cukup deras, dan seperti biasa dia hanya memakai sweater sampai kepala yang bisa dibilang tidak cukup tebal –hal ini membuatku kesal. Aku menampilkan ekspresi datar. Menyender di depan mobil sambil memayungi diri sendiri.

“aku senang kau menelponku.” Ucapnya, begitu sampai di depanku ; menyisakan jarak dengan ujung payungku. Aku menatapnya dalam diam. Melihat ekspresi ceria di wajah Rei membuatku paham bahwa hiking kali ini adalah hal yang luar biasa baginya.

“tidak bisakah, kau lebih dekat? Kau tidak akan mendengarku.” Seruku agak kencang, karna hujan sangat deras. Dia menyengir lebar sambil memperhatikan langkahnya untuk sampai didepanku, persis di bawah payung yang sama denganku. Dan membuat jantungku memberontak seketika.

Hey! Tenanglah. Batinku, panik. Dia hanya tertawa ; seperti bisa mendengar pikiranku, atau mungkin tersipu bercampur gugup –karna kedua matanya tak beraturan saat bertatapan denganku. “kau jadi pergi?” tanyaku cepat, menatap teras rumahnya dari balik punggungnya. Rei mengangguk sambil berdehem. Kemudian seperti biasa, dia menyeka air hujan di wajahnya. “aku sangat ingin pergi.” Dia menyengir lagi, memainkan ujung sweater-nya yang terlalu panjang hingga kedua tangannya tak terlihat.  “dengan –Namjoon?” tanyaku hati-hati. Dia menatapku sekilas, sebelum pandangannya beralih ke arah lain. Sekarang aku tau, masalah Namjoon sangat sensitif. Dan Rei mungkin akan tau kalau aku cemburu. Benar-benar memalukan.

“kau marah?” Rei menatapku, tapi aku tidak ingin menatapnya, itu membuatku malu. Aku menggeleng sambil tertawa kecil, “tidak, aku tidak marah. Hanya saja, aneh sekali kau pergi hiking di musim hujan dan pergi berdua dengannya. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.” ucapan itu mengalir begitu saja dari mulutku. Tapi Rei tersenyum puas mendengarnya. Yang pasti sekarang aku merasa sangat kesal bercampur malu. “kalau begitu aku pergi dulu.” Ujarku lagi, cepat-cepat ingin mengakhiri percakapan ini dan melupakan Rei yang akan bersenang-senang di hari menyebalkan ini –bagiku.

“halo, Bro!” Aku menyipitkan kedua mata, mengamati sosok pria bertubuh tegap dengan jaket tebalnya ; berdiri santai di bawah hujan. Pria itu berjalan mendekat, hingga aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Hidungnya lancip, rahang tegas dan mata tajamnya menatapku liar. “Namjoon! Ini Taehyung.” Mulutku ternganga sedikit, mendengar Rei memanggil pria itu dengan nama Namjoon. Laki-laki itu menyeringai, menggaruk dagunya –atau mungkin menyeka air hujan yang cukup deras menerpa wajahnya. Aku mengerutkan dahi. Kalau aku tau Namjoon orang yang sangat sombong, tidak akan ku biarkan Rei pergi dengannya.

“kau Kim Taehyung? Kau lumayan juga. Sayang sekali kau tidak ikut kami pergi.” Ada nada ketus di setiap ucapannya yang di tujukan untukku. Tapi tak ku pedulikan dia, melainkan menatap Rei dengan pandangan bertanya. “ini Namjoon yang kau bilang itu?” Tanyaku, beralih menatap Namjoon dengan pandangan menilai. Ayolah, mana mungkin Rei percaya begitu saja pada pria ini. Dia tidak terlihat cukup baik, dan itu membuatku gelisah. Rei tersenyum sambil menatapku. “dia pria baik, tenang saja.” ujarnya meyakinkan. Tapi siapa yang percaya? Tatapan angkuh, menyeringai, dan juga sombong, dia bilang pria baik? “Rei, aku tidak bisa biarkan kau pergi dengannya. Bisakah kau dengarkan aku sekali saja?” Aku menahan lengannya. Tapi aku membelalak ketika kulitnya yang sangat dingin –sedingin es itu ku sentuh. “Rei! Kau harus dengarkan aku, kau sakit. Kau tidak bisa pergi.” Ucapku lagi –agak memekik, semakin panik karna ekspresi wajah Rei biasa-biasa saja.

“kau tidak bisa biarkan dia kelaparan, bro.” Kali ini tatapanku beralih pada Namjoon yang masih menyeringai. Kemudian kembali lagi manatap Rei –dengan marah. Persetan dengan ucapan pria sialan itu. “kau tetap akan pergi dengannya, lalu kau biarkan aku disini mengkhawatirkanmu?” Tanyaku kasar. Tak perlu aku memelas padanya, toh dia mungkin tak akan mendengarkanku. Setidaknya hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menjaganya agar tetap baik-baik saja –itupun kalau dia mendengarkanku.

Tapi Rei memelukku. Membuatku bingung dengan tingkahnya. “Kim Taehyung, aku cukup kuat untuk menghadapi ini. Dan,  kau harus tau bahwa sebenarnya aku ini –“ Rei memperlihatkan deretan giginya, membuatku sibuk mencerna apa yang sedang kulihat. Runcing dan mengkilap. Aku mengerutkan dahi ; tak paham apa yang sebenarnya kulihat. Sedetik kemudian, ku alihkan pandanganku pada wajah Rei, matanya memerah dan dia sedikit menyeringai, menampilkan tatapan tajam yang siap menerkamku kapan saja. Aku mengedip beberapa kali menyadari bahwa tubuhku rasanya gemetar.

Pertanyaannya, seperti apa akhir kisahku ini? Aku, tidak pernah berpikir bahwa aku akan berakhir bahagia. Aku ini tidak cukup baik. Aku terlalu berbeda dengan anak seumuranku yang lain di usia yang menggebu ini. Aku selalu putus asa, selalu terpuruk dengan hidup yang kujalani. Dingin, tak ada apapun dalam jiwaku sejauh mata kalian memandang, seperti kutub utara yang tak berpenghuni. Hampa, seperti terowongan yang gelap dan sepi, tak ada yang menerangi, sebelum bertemu dengannya yang memiliki aura dingin dan hanya satu-satunya, mungkin –cinta pertamaku.

THE END

 

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s