[BTS FF Freelance] Blood, Sweat and Tears – (Chapter 3)

bst-cover

Blood, Sweat & Tears

Chapter 3

Story by @siken11

Genre : Romanc, Mistery, Comedy || Rating : PG – 17 || Lenght : Chapter || Main cast : Park Jimin – Lee Haera a.k.a Acelyne hwang || Other Cast : Find Yourself || Disclaimer @ BTS SuperJunior and other

Credit Poster : by author

~

‘Jangan hanya melihat buku dari sampulnya, kau harus membaca buku itu dengan teliti agar tahu isinya. Begitupun dengan diriku, aku adalah mawar yang memiliki duri tajam’

~

Semua tokoh di ff ini milik Tuhan dan karakter fiktifnya adalah khayalan author semata. Dan maaf jika ada kesamaan tokoh. Cerita ini murni milik author.

FF ini pernah di post di blog pribadi author. ( http://www.bangjung.wordpress.com )

Jimin mengerang frustasi mendapati pintu kamar haera terkunci. Dengan perasaan yang berkecamuk bingung harus menjelaskan pada haera atau tidak. Ia takut akan semakin membuat haera salah paham. Tapi jika ini tidak di selesaikan haera akan membencinya.

‘Tokk.. Tokk.. Tokk..’

“Haera kumohon buka pintunya!” tidak ada sahutan sama sekali dari dalam, “Haera buka! Atau aku do-‘

‘Klekkk’

jimin membulatkan matanya, melihat keadaan haera yang kacau. Wajah yang penuh dengan air mata, yang dapat membuat hati jimin seperti di remas.

“Apa! kau ingin mengatakan jika ayahku membunuh eonniku, begitu?” haera masih dengan sesegukannya. Namun lain dengan jimin yang kembali tertegun ketika mendengar haera mengatakan, eonniku. itu tandanya gadis ini tahu sesuatu.

Dengan cepat jimin menarik pergelangan tangan haera ke dalam kamar lalu mengunci pintu. “Kau tahu sesuatu! Katakan!”

Haera menatap bingung pada jimin, namun remasan tangan jimin di pundaknya membuatnya ketakutan.

Melihat haera sedikit bergetar, jimin langsung menarik tubuh haera ke dalam pelukannya. “Maaf, maafkan aku. Bukan itu maksudku, kami masih belum memastikannya. Bisa saja tuan lee hanya korban, jangan menyimpulkan sendiri. dan lagi kau tahu mengenai eunhi”

Haera melepaskan pelukan jimin dengan kasar, lalu duduk di tepi ranjang membelakangi jimin. “Ten-tentu saja, kami beberapa kali bertemu. Dan dia tunanganmu”

“I-i-itu-“ belum sempat jimin berucap haera kembali memotongnya.

“Aku bertemu dengannya ketika usia kami menginjak duapuluh, awalnya aku terkejut. Lalu kami sering bertemu, ia sering datang ke caffe tempatku bekerja. Dia menyewa ruang privasi untuk kami berbicara, dia sering menceritakan tentangmu padaku”

Jimin sangat terkejut, jadi sebenarnya haera sudah mengenalnya jauh sebelumnya. Entah mengapa ada perasaan hangat dalam hatinya, dan jimin mengakuinya. Tanpa ragu jimin duduk dan memeluk tubuh haera dari belakang.

“Aku tahu ini sulit, aku akan berada disampingmu!” jimin mengeratkan pelukannya pada haera. “Kita pecahkan masalah ini bersama! Percayalah padaku!”

Haera diam tidak menjawab sama sekali ucapan jimin, hingga dengan paksa jimin membalikkan tubuh haera, ia menatap tajam tepat di manik mata berwarna blue sapphire gadis itu. “Kau jahat jim, sangat jahat!”

“Aku tahu!” jimkn menarik haera dalam pelukannya. Tidak memperdulikan kemejanya yang mulai basah karena tangisan haera. “Terus berpikir seperti itu, aku adalah pria yang memaksamu tinggal bersamaku dengan alasan hutang”

“Ya, karena kau memaksa!” haera sudah menghentikan tangisnya. Jimin terkekeh pelan melihat rona wajah haera, tampak menggemaskan. “Apa tidak apa-apa kau meninggalkan teman-temanmu?”

Jimin tersentak, ia merenggangkan pelukannya pada haera. “Kau benar! aku tidak ingin mereka berpikir yang aneh-aneh pada kita. Sebaiknya kita kembali. Mungkin, kau bisa menjadi sumber informasi kami”

Haera menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berjalan keluar kembali ke ruang tengah. Dengan bergandengan  tangan.

><

Semua pria yang tadi sibuk sendiri-sendiri, kini menatap pada jimin dan haera yang baru saja duduk di sofa kembali ikut bergabung. Dan jangan lupakan gandengan tangan mereka yang membuat semua pasang mata disana menatap mereka curiga.

“Apa!” tanya jimin menatap taehyung dan yang lain dengan tajam.

“Tidak apa-apa!” jawab mereka bertiga bersamaan.

Namun jungkook masih dengan setia menatap tautan tangan jimin dan haera. “Hyung. Bisakah kalian bermesraan nanti, kita tengah membahas hal serius sekarang”

“Tidak!” jawab jimin tegas.

Hoseok hanya menggelengkan kepalanya pasrah, sedangkan taehyung kembali sibuk dengan kue-kuenya. Dan haera sendiri hanya bisa menundukkan kepalanya malu.

“Jadi apa kesimpulannya?” tanya jimin pada ketiga pria yang kini kembali fokus kepermasalahan, mungkin kecuali taehyung yang masih tidak ingin membuat otak jeniusnya lelah.

“Sepertinya, klan chance asal cina milik wu yifan itu masih benar-benar ada. Mereka memang sengaja menghilang, tapi sekarang tiba-tiba muncul seperti ini bukankah ada sesuatu!” hoseok berusaha berpikir namun tidak ada satupun yang bisa menghubungkan kejadian ini.

“Haera bilang ia sering bertemu dengan eunhi!” jimin menatap berharap pada haera.

“Jadi haera, bisa kau katakan apa saja yang kau ketahui tentang ayah tirimu atau saudaramu mungkin” tanya hoseok seraya menatap haera lembut, ia tidak ingin menakut-nakuti haera dengan sifat aslinya ketika mengintrogasi dakwanya.

Gadis itu nampak berpikir sejenak, “Kami sering bertemu sebelum insiden itu, meski kurasa dengan cara diam-diam. Setelah itu kami jarang bertemu, eonni hanya mengirimiku surat. Soal ayah, ia pernah melihat kami di caffe”

Semua mata kini tertuju pada haera. taehyung menaruh kembali kuenya, kini ia menatapi haera dengan intens.

“Lalu apa yang ayahmu katakan?” haera menggelengkan kepalanya menatap sayu pada hoseok.

“Dia tidak mengatakan apapun, setelah itu ia semakin tidak pernah terlihat di rumah. Tapi aku pernah melihat ayah dan eonni bertemu di jalan, tapi aku tidak yakin. Ketika kutanyakan, eonni bilang aku harus menjaga diri dengan baik. lalu meminta maaf tidak bisa mengajakku tinggal bersama. Beberapa hari kemudian insiden itu terjadi”

“Taehyung ijin menyela!” jimin dan hoseok menatap tajam pada taehyung, sedangkan jungkook hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Haera sayang, apakah eunhi pernah mengatakan jika kalian memiliki darah orang amerika”

“Atas dasar apa kau bertanya seperti itu!” hoseok menatap curiga pada taehyung.

Taehyung tidak menggubris hoseok sama sekali, bahkan ia dengan berani memalingkan wajahnya. “Kalian-kan tahu, jika mengenai gadis-gadis cantik aku ahlinya! dilihat sekilas saja aku tahu jika haera itu blasteran. kalian Pasti juga sadar ketika melihat warna mata haera!”

“Yang aku tahu dari eunhi mereka sejak kecil sudah di panti asuhan, dan tidak ada yang tahu mengenai orang tua mereka. Tapi apa hubungannya dengan eunhi dan haera berdarah amerika atau tidak!” jimin mulai tidak sabar dengan tebak-tebakan taehyung.

“Tunggu! Sebenarnya ada apa ini! kalian menyimpulkan jika ayahku terlibat dalam kasus bunuh diri eonni, lalu mengatakan kami memliki darah amerika. Aku masih tidak mengerti!” haera hampir saja kembali menumpahkan air matanya jika jimin tidak segera merengkuh haera dalam pelukannya.

“membuat iri saja!” decak jungkook. sedangkan hoseok melipat kedua tangannya di depan dada. Lain dengan taehyung yang nampak serius sendiri. sepertinya taehyung mulai meninggalkan sikap acuhnya.

“Kenapa tidak tanyakan langsung dengan semua orang yang bersangkutan?” jimin hampir memukul kepala taehyung jika saja haera tidak menahannya. Taehyung hanya tersenyum menyeringai. “Mari kita undang mereka, dalam pesta ulang tahunmu jim”

Semua pasang mata menatap berang taehyung yang berucap seolah itu lelucon. lalu beralih menatap jimin, yang sudah nampak gelisah. Ia baru ingat jika sebentar lagi umurnya akan bertambah.

><

Keesokan harinya haera dan jimin pergi ke panti asuhan yang dulu eunhi dan haera tinggali. Mereka berpikir untuk mulai mencari petunjuk dari sana. Hoseok tidak dapat menemani karena ada urusan yang harus ia selesaikan.

Jungkook diberi tugas untuk menghandle kantor sementara waktu, soal taehyung jangan di ditanya lagi. ia kembali ke sarangnya, ia tidak mungkin membiarkan begitu saja bisnis gilanya.

Haera melihat kesekelilingnya, jujur saja dalam ingatannya mengenai tempat ini hanya samar-samar. Mereka masih terlalu kecil untuk mengingat tempat ini.

Sampai di tempat itu haera di sambut oleh kepala panti asuhan, wanita paruh baya bernama kim taeyeon itu tersenyum hangat ketika melihat kedatangan haera dan jimin.

“Oh, tuhan kau benar-benar datang. Aku sudah lama menantimu. Ayo kita bicara di ruanganku!”

Jimin dan haera hanya bisa mengkerutkan dahinya mengikuti taeyeon dari belakang. Setelah taeyeon menutup pintu dan memastikan semua aman. Ia dengan segera mengambil sesuatu di dalam lacinya.

“Eunhi sering datang kesini, ia berpesan jika kau akan datang kemari jika terjadi sesuatu dengannya. Aku menyesal tidak bisa menjaganya dengan baik” taeyeon mulai menangis terisak, dan dengan sedikit ragu haera memeluk tubuh wanita itu dengan hangat.

“Apa maksud anda nyonya? Itu berarti eunhi tahu akan terjadi sesuatu dengannya, bisa kau jelaskan?” tanya jimin tidak sabar.

“Eunhi donatur utama panti ini, bersama tuan lee. Ia memang sering datang. dan beberapa hari sebelum insiden itu, eunhi datang kemari menitipkan kotak ini untuk saudara kembarnya. Dan ia pernah meminta jika suatu hari ia mati, ia ingin di makamkan disini”

“Jadi eunhi ada disini? Pantas saja aku tidak menemukan abunya” ucap jimin baru menyadari kebodohannya.

Taeyeon menyerahkan kotak persegi panjang kecil kepada haera, “Jangan dibuka disini! Terkadang aku bertanya-tanya alasan gadis itu melakukan semua ini. terlihat jelas jika ia menyembunyikan sesuatu, tapi aku tidak pernah berani bertanya”

Haera memandangi kotak yang berada di tangannya dengan pandangan yang sulit di artikan. “Aku ingin melihat eonni!”

Taeyeon menganggukkan kepalanya, lalu menggiring jimin dan haera ke halaman belakang panti asuhan. Di ujung taman ada sebuah pohon sakura yang di bawahnya ada tiga nisan.

Jimin mengkerutkan dahinya, “Siapa yang dimakamkan disini selain eunhi, nyonya?”

“Aku juga tidak tahu, aku sudah pernah bertanya pada kepala panti sebelum ia meninggal. Ia hanya bilang kedua orang ini suami istri yang menjadi donatur panti ini dan mereka ingin di makamkan disini. Hanya itu yang aku tahu”

Jimin menganggukkan kepalanya paham, meski seperti itu tetap saja ada sesuatu yang aneh disini. Hingga ia ikut berjongkok di samping haera yang menatap sendu pada nisan eunhi.

Setelah urusan mereka selesai, jimin segera membawa haera pulang. Sejujurnya ia menahan rasa penasarannya pada kotak yang kini berada di pangkuan haera. ia ingin cepat-cepat sampai di mansionnya.

Tapi sepertinya tidak secepat perkiraan jimin. Ia melihat jika ada mobil yang mengikutinya di belakang melalui kaca spion. Dalam hati jimin berdoa semoga mereka cepat sampai rumah.

Haera tersentak ketika ia merasa jika mobil jimin bergerak sangat cepat, “Ada apa? Kenapa buru-buru?”

“Aku yakin kau tidak suka mendengar ini! tapi kita tengah diikuti” haera memutar tubuhnya menghadap belakang. Dan benar saja ada sedan hitam yang tidak ada plat nomornya tengah mencoba menyeimbangi kecepatan mobil mereka.

“Ya tuhan, bagaimana ini” haera nampak gelisah.

“Aku akan berusaha mengecohnya!” jimin semakin menancap gasnya, ketika mendekati arah kota jimin segera membanting setirnya berubah arah. Untung saja tadi ada truk yang tengah melintas sehingga mobil yang mengikuti mereka tidak melihat. Jimin dan haera mendesah lega. ini baru satu belum yang lain. Pikir jimin.

><

Setelah kejadian kemarin, jimin memutuskan untuk membuat penjagaan di panti asuhan. Tanpa ragu ia mengerahkan anak buahnya untuk menjaga tempat itu duapuluh empat jam.

Ia baru saja menyelesaikan rapatnya di kantor, ketika semua pemegang saham hendak keluar jimin menghentikan mereka.

“Aku ingin menyampaikan undangan pesta ulang tahunku besok malam”

“Wah, ini untuk pertama kalinya anda membuat pesta. Ini sebuah kejutan presdir” semua orang nampak setuju dengan ucapan pria berbadan agak gemuk itu.

“Tidak ada salahnya, usia duapuluh delapan tidaklah buruk. Bukankah itu umur yang dewasa bagi pria tampan sepertiku”

Semua orang yang berada di ruangan rapat itu tergelak mendengar lelucon jimin. Hingga seorang pria paruh baya yang duduk di ujung berucap “Tentu kami akan datang presdir!”

Setelah selesai jimin dan yuri sekertarisnya yang lain kembali ke ruangan jimin. Jungkook itu sekretaris yang merangkap menjadi asisten, bodyguard, mata-mata dan adik bagi jimin. Sedangkan kwon yuri hanya sekretaris kantor.

“Presdir! Eemm… sa-saya ingin menanyakan sesuatu” jimin membalikkan tubuhnya mengernyitkan dahinya menatap yuri.

“Katakan!”

“I-i-itu, bo-bo-lehkah saya ikut mempersiapkan pesta anda?”

Jimin terdiam nampak berpikir, kemudian menganggukkan kepalanya. “Tentu, kau bisa datang sendiri ke mansionku”

Setelah itu jimin kembali ke ruagannya menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, ia ingin segera pulang dan bertemu haera. ia mulai merindukan gadis itu jika jauh sedikit saja dari jarak pandangnya. Sepertinya ia mulai kecanduan akan gadis itu.

><

Begitu sampai di mansionnya jimin melihat banyak orang berlalu lalang melewatinya. Semua orang nampak sibuk mempersiapkan pesta ulang tahunnya. Sebenarnya ia tidak suka acara seperti ini, tapi jika hanya ini cara terbaik mau bagaimana lagi.

Seokjin berkali-kali berteriak frustasi dan mengeluh, semua pelayan mendapatkan jatah kemarahannya dengan rata. Bahkan termasuk haera.

“Bersyukurlah jim, masih ada yang mau mempersiapkan perta gilamu ini. kepalaku berdenyut hebat sekarang, dan sebentar lagi akan meledak!” seokjin memijit pelipisnya pelan. Sedangkan jimin hanya terkekeh.

Hingga seorang pelayan memberikan kantong es pada seokjin. Jimin hampir meledakkan tawanya dengan keras jika ia tidak mendapati tatapan membunuh dari seokjin. Bagaimana tidak tertawa, seokjin tengah duduk lemas seraya mengompres dahinya sendiri.

“Aku sudah menyuruh kedua sekretarismu yuri dan jungkook untuk menyebarkan undangan, dan kini mereka tengah pergi entah kemana bersama haera. mereka itu benar-benar idiot, meninggalkanku dengan pekerjaan ini!”

Jimin mengerutkan dahinya, kenapa ia tidak tahu jika haera pergi. Ia hendak menghubungi jungkook dan bertanya, namun ia urungkan ketika tiba-tiba ponselnya sudah berdering.

‘Jackson’ itu nama ID yang tertera di layar ponselnya. Tanpa berpikir lagi jimin segera mengangkatnya.

“Hei jim, selamat ulang tahun. Aku tidak mengerti apa kau tengah sakit, hingga membuat pesta seperti ini?”

Jackson wang, dia salah satu mafia dari cina. Dan sangat terkenal, bahkan ia hampir berurusan dengan FBI amerika. Dan dari jackson-lah ia mencari tahu mengenai wu yifan dan klannya.

“Hahaha.. aku hanya ingin menunjukkan seperti apa the balance of entity pada kalian semua” Jimin mendengar gelak tawa jackson di seberang sana.

“Mencoba pamer rupanya! Ngomong-ngomong kau ingin kado apa? Kau tahu-kan jika aku sanggup memenuhi permintaanmu”

“Berjanjilah padaku untuk tidak banyak bicara, aku juga mengundang kim namjoon kepala kepolisian utama seoul. Aku tidak ingin pesta ulang tahunku menjadi pesta pertumpahan darah”

Jackson tertawa geli mendengar ucapan jimin, “Khas sekali keluarga park. Tapi aku akan tetap memberikanmu hadiah, paket khusus tentunya!”

Jimin hanya bisa mnegiyakan apa yang di katakan jackson. Setelah menutup telfon ia kemudian menelfon kim heechul, di korea hanya klan heechul yang bisa di percayai.

Hoseok uring-uringan dan frustasi ketika menceritakan bagaimana ruang persidangannya di penuhi teriakan-teriakan dan argumen. Pengacara heechul menyangkal seluruh tuduhannya. Ia bilang jika hoseok tidak memiliki bukti yang kuat dan yang ia sampaikan hanya teori kospirasi belaka.

“Jim? Kau sungguh-sungguh dengan pesta itu? kau tahu jika kami semua penasaran dengan sarang batman-mu itu. hahahaha” semua orang yang belum pernah datang ke mansion jimin memang menyebutnya sarang batman. Karena memang banyak yang tidak tahu mengenai seperti apa mansion jimin.

“Aku simplkan kau akan datang”

Heechul tergelak di seberang sana, “Kau tahu kita bisa menjadi partner bisnis yang paling ditakuti di korea. jika saja kau tidak beteman dengan jaksa manis itu!”

Kini jimin yang terkekeh mendengar panggilan heecul pada hoseok. “Jadi kau tahu?”

“Kau pikir sedang berurusan dengan siapa, bocah! Tapi aku menyayangi-mu seperti keponakanku sendiri. beruntunglah aku memiliki pengacara yang di bayar perjam!”

Jimin semakin tergelak mendengar di balik perseteruannya dengan hoseok. setelah selesai jimin memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya menunggu haera.

><

Hari sudah gelap ketika jimin selesai membersihkan dirinya ia berdiri di balkon dan melihat haera tengah memandangi semak mawarnya. Jimin akhirnya turun dan menghampiri haera.

Haera tersentak ketika sepasang tangan melingkari pinggangnya dengan posesif. “Apa yang kau lamunkan? Disini mulai dingin ayo masuk!”

Jimin menarik tubuh haera pelan, dan membawanya ke ruang kerja miliknya. Tiba di depan pintu haera menahan pergelangan tangan jimin, membuat pria itu menaikkan sebelah alisnya. “Jika kau tidak lupa, seokjin oppa melarangku masuk kesana”

Haera berucap lirih, dan mendapat dengusan keras dari jimin. Ia tahu alasannya adalah karena banyak kenangan eunhi di dalam sana, mungkin seokjin tidak ingin haera berpikir aneh “Aku tidak pernah melarangmu, tidak apa-apa. Kau sama berhak-nya denganku mulai sekarang”

Meskipun masih agak ragu haera tetap mengikuti langkah jimin. Haera berulang kali mengerjapkan matanya, ternyata di dalamnya cukup luas dengan dinding rak buku yang banyak. Ini sangat cantik, pikir haera.

Jimin tersenyum melihat wajah berbinar haera, ia tahu jika dirinya memang sudah benar-benar terjerat dengan pesona gadis ini sejak awal bertemu. “Kau menyukainya?”

Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap jimin, karena sibuk mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut ruang itu. hingga matanya menangkap sebuah figura foto di meja kerja jimin.

Haera melangkahkan kakinya mendekati meja itu, lalu mengambil figura itu dan mengusap pelan foto yang memperlihatkan eunhi dan jimin tengah tersenyum bahagia. Haera tersenyum samar, kemudian ia melihat sebuah album foto di dekat figura tadi.

Gadis itu duduk di kursi kayu dekat jendela, dengan pelan mengamati setiap foto yang berada dalam album itu. isinya foto-foto jimin dan eunhi yang tampak bahagia.

Jimin duduk di dekat haera, ia mengamati ekspresi haera yang berubah-ubah menatapi foto album itu. setelah selesai jimin memeluk haera dengan erat. “Jangan berpikiran buruk, aku ingin mengakui sesuatu! Aku sungguh menyukaimu! Benar-benar dirimu, bukan karena kau mirip eunhi!”

Haera diam dalam pelukan jimin, ia nampak terkejut namun dapat mengusainya dengan cepat. “Aku tahu!”

‘Cupp’

Kini jimin yang mengkerutka dahinya bingung dan terkejut. Dan tanpa di duga haera mengecup bibirnya, membuat jimin semakin gemas. “Aku dan eonni kembar identik, secara fisik memang tidak ada bedanya kecuali warna mata mungkin. Tapi sifat kami jelas berbeda, tapi ia dengan sengaja meniru sifatku karena tidak ingin merasa kehilangan sosok diriku yang jauh darinya”

Jimin masih diam membeku, mencerna setiap kalimat yang di ucapkan haera. “Apa yang eonni suka aku juga menyukainya, termasuk dirimu! Eonni sering menceritakan tentang dirimu, secara tidak kasat mata aku menyukaimu sejak eonni bercerita mengenai sosokmu”

“K-k-kau! Demi tuhan aku tidak tahu, sungguh!” jimin begitu bahagia sampai ia tidak bisa mengungkapkannya. “Itu sebabnya ada beberapa sifat eunhi padamu, tapi sebenarnya itu memang sifatmu. Jadi diriku juga menyukaimu secara tidak langsung dari sifat eunhi”

Haera nampak berpikir, namun kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka akhirnya bercerita banyak, dan melupakan sejenak persoalan yang membuat kepala siapaun ingin pecah. Hingga akhirnya mereka tertidur di sofa dengan haera dalam pelukan jimin.

-TBC-

Yeyyyy…  update lagi. gimana ya pesta ulang tahun jimin. Seru dehh kayaknya hahaha… dalam satu ruangan ada polisi, jaksa dan mafia. Seru kali kalo terjadi tembak-tembakan. Hehehehe… rapmon oppa mulai muncul. Hayoo tebak kurang siapa yang belum muncul???

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] Blood, Sweat and Tears – (Chapter 3)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s