[Boys Meet What?] Another Escapee – (Oneshot)

picsart2016-16-12-10-19-372

Another Escapee

a fic by Orchidious

Jung Hoseok (BTS) with Oh Taerin (OC)

Oneshot | AU, Family, Life | G

I just own the plot and the OC

“Aku tidak membutuhkan orang-orang itu lagi.”

.

“Mereka semua menginginkanku kembali tapi aku menolak.”

:::

 

Hoseok menuruni tangga menuju ruang makan dengan gontai. Sebetulnya ia tak benar-benar ingin makan sekarang. Mengingat dirinya masih bersitegang dengan sang ibu, dan rencana besar sudah tersaji di kamarnya. Menunggu dilaksanakan sementara dirinya tetap melangkah demi nama wanita paruh baya yang sudah menunggunya di meja besar lantai bawah. Hoseok tak yakin matanya bermasalah hari ini, namun meja yang biasanya hanya terisi oleh dirinya dan sang bunda kini mendadak ramai dengan tambahan kehadiran tiga orang asing. Yah, tidak sepenuhnya asing, sih.

“Pagi, bu.”

Menyapa tanpa gairah, Hoseok lantas mendudukkan dirinya di kursi yang tersisa. Tangan bergerak mengisi piringnya dengan nasi beserta lauk, sedetik pun tak berniat membalas tatapan lekat seorang lelaki lima puluh tahunan yang duduk di hadapannya. Hoseok makan sambil menunduk. Biarkan lelaki itu mulai berbicara selagi yang lainnya menyantap sarapan masing-masing. Membuka konversasi dengan pengumuman acara besar—dan sakral—yang akan dilangsungkan bulan depan.

“Kupikir kalian semua sudah tahu tanggalnya, bukan? Kita sudah sering membicarakan ini jadi kuharap tak ada lagi protes atau sebagainya,” ujarnya dengan suara berwibawa khas seorang bapak. Satu-satunya gadis muda di meja itu mengangguk semangat, pun dengan kakaknya yang terlihat mewarisi kewibawaan sang ayah. Sementara Hoseok…

“Ah, aku juga mau mengumumkan sesuatu lagi. Ini mengenai Hoseok.”

…mendongak kaget setelah terlalu lama menunduk. Seolah lelaki itu tahu jika Hoseok tak mendengarkan selama ini. Hoseok jelas terkejut. Namanya disebut tiba-tiba. Sudah pasti akan terjadi hal-hal tidak terduga yang belum pernah dipikirkannya. Ada apa lagi?

“Perusahaan yang telah kurintis puluhan tahun belakangan ini akan segera aku wariskan. Aku sudah tak cukup muda lagi untuk mengurus semua masalah mengenai keuangan atau yang lainnya di kantor jadi aku akan memilih satu dari dua putra kita untuk menggantikanku.”

Ucapannya berhenti sesaat kala ia mengarahkan tatapannya ke manik ibu Hoseok yang juga tengah memandangnya. Bertukar senyum sekilas, ia lantas melanjutkan.

“Dan karena Namjoon lebih muda dari Hoseok maka—“

“Aku tak mau.”

Hoseok langsung menyela dan menegakkan tubuhnya. Sontak hadirkan tatapan tak percaya dari orang-orang di sekeliling tepi meja—termasuk ibunya yang langsung mengerutkan dahi ketika tatapan Hoseok menajam.

“Kenapa harus aku? Kenapa bukan Namjoon? Dia yang sekolah bisnis, dia lebih pandai dariku…”

“Hoseok, dengarlah dulu.”

“Aku tak mau dengar penjelasan apapun, bu. Sudah cukup. Kenapa kalian semua memberatkanku? Kau—kalian semua—selalu memuji Namjoon akan kepintarannya, tapi kenapa sekarang malah aku yang disuruh pergi duduk di kursi besar itu? Aku bukan anakmu, dan tidak akan pernah!”

Ia lantas bangkit. Meninggalkan sarapannya yang baru habis setengah. Tak acuh meski ibunya memanggil keras namanya dan berusaha menahan kepergiannya. Namun, ibunya berhasil menarik lengannya di ujung tangga. Menatapnya dengan raut wajah antara kecewa dan marah atas sikapnya barusan.

“Kau tidak berhak bicara seperti itu dengan calon ayahmu sendiri, Hoseok!”

“Apa lagi, sih, bu? Ibu masih mendukung mereka juga? Sekarang aku bukan anak ibu lagi sepertinya.”

“Jung Hoseok!”

Sang ibu balas membentak dengan suara pelan—hampir mendesis. Berusaha agar pertengkaran kecil mereka tak sampai terdengar oleh ketiga orang lainnya yang masih berada di ruang makan. Lengan Hoseok makin dicengkeram kuat namun ia tak memberontak.

“Ya sudah. Kalau aku memang anak ibu, harusnya ibu mengerti, bukan?”

“Ibu paham tapi kau yang harus lebih memahami ini, Jung Hoseok. Biarpun kau menolak—“

“Masih ada Namjoon, bu. Astaga…”

Ibunya menggeleng. “Harus kau, Hoseok. Jika tidak, ini akan sama saja menjatuhkan keluarga kita. Kau harus berada dalam posisi itu. Sebagai bentuk tali kekeluargaan, kau paham?” Hoseok mengedikkan bahu. “Kurasa aku sudah paham,” sahutnya acuh tak acuh. Cengkeraman ibunya perlahan mengendur dan akhirnya ia bisa melanjutkan langkah tertundanya ke atas tanpa peringatan lebih lanjut dari wanita itu. Namun, di tengah undakan, Hoseok berhenti dan menoleh.

“Oh, satu lagi, bu.”

Wanita itu mengangkat wajah. Menatap Hoseok bingung sementara putra semata wayangnya mengulas senyum manis.

“Kalau aku tidak mau, ibu bisa menyuruh adik Namjoon untuk mengurus butik ibu. Kulihat ia cukup baik dalam hal itu,” ujar Hoseok, mengangkat bahu. Lantas kembali melangkah, tinggalkan helaan napas dari sang bunda.

Semua sudah lelah.

Ibunya yang tak henti berusaha keras membujuk Hoseok agar menerima pernikahan ini dan Hoseok yang terlalu muak sampai menyiapkan rencana tak terduga.

 

Sepertinya sekarang sudah waktunya untuk menjalankan rencana itu.

 

:::

 

Bunyi gedebuk keras di pekarangan belakang nampaknya tak menarik perhatian siapapun.

Terbukti, Hoseok dengan mudah turun dari kamarnya di lantai dua menggunakan tali dan menyusul tas ransel besarnya yang sudah lebih dulu ia lempar ke bawah sebelumnya. Hoseok lekas menyampirkan tas tersebut ke punggungnya dan menatap awas ke sekeliling. Memastikan tidak ada siapapun di halaman belakang—meski itu sudah pasti lantaran ibu dan calon keluarga barunya sedang pergi bersama lima puluh menit yang lalu sementara pembantu rumah tangga yang ada tengah sibuk di dapur yang letaknya jauh dari tempatnya berpijak. Setelah yakin bahwa semua sudah berada dalam keadaan aman, kaki Hoseok mulai bergerak perlahan. Meninggalkan kawasan rumah menuju jalan besar. Begitu sampai di halte bus yang terdapat ujung jalan, Hoseok lantas mendaratkan bokongnya pada salah satu bangku kosong yang ada. Mengenakan masker hitam, berharap tak ada siapapun mengenalinya saat ini.

Bus pertama tiba.

Hoseok langsung naik, tanpa berpikir lebih dulu hendak ke mana. Tujuannya saat ini, adalah pergi sejauh mungkin dari rumah. Tempat di mana semua orang yang menyebalkan baginya itu tidak bisa menemukannya.

Ia memilih duduk di dekat jendela.

Memandang jalanan dan pohon-pohon yang mulai bergerak ketika bus berjalan. Hoseok seakan bisa menikmati kebebasannya. Tak ada yang bisa mengganggunya sekarang. Duduk sendirian dan mendengar suara berisik penumpang bus jauh lebih baik ketimbang saat ia mendengar pengumuman pernikahan yang paling dibencinya itu.

Namun, ketenangan singkatnya mendadak lesap beberapa menit kemudian.

 

“…tidak ada yang mau tahu, juga. Dasar.”

 

Suara gadis yang mendesis kesal berikut tempat di sampingnya yang seketika berat memberitahu Hoseok bahwa kursi kosong itu kini sudah diisi seseorang. Ia lalu menoleh, mengalihkan perhatian dari jendela yang sedari tadi ditatapnya. Keningnya lekas berkerut heran ketika melihat sesosok gadis jangkung dengan kacamata bertengger di atas hidung tengah mendumel sebal sambil memeluk tas ransel seukuran hampir sama dengan milik Hoseok.

Ia bisa menyimpulkan sekarang.

“Kabur dari rumah juga?”

Pertanyaan Hoseok menguar tanpa beban seraya dirinya melepaskan masker yang dikenakan. Si gadis menoleh. Beri tatap datar dan hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. Hoseok manggut-manggut.

“Selagi tak ada yang peduli. Untuk apa bertahan lama-lama di tempat di mana kau bahkan seperti tak terlihat?” kata gadis itu tiba-tiba. Menatap lurus ke depan dengan perasaan teramat kesal. Hoseok lagi-lagi menggerakkan kepala. Sepertinya tertarik dengan masalah si gadis yang hingga membawanya pergi dan mengomel begitu.

“Kalau boleh tahu, apa yang terjadi denganmu sampai memilih pergi?” tanya Hoseok hati-hati. Tentu tak ingin sang gadis berpikir dia terlalu sok akrab sampai berani bertanya seperti itu.

“Orang-orang itu. Aku tahu aku perlu mereka—tapi mereka tak pernah menganggapku ada. Menyebalkan. Lebih baik pergi. Aku bisa mengurus segalanya sendiri mulai sekarang,” sahutnya malas. Tangan bergerak untuk mencari earphone dan mp3 plalyer-nya namun tertahan karena lengan Hoseok tiba-tiba menyentuhnya. Memberi gelengan kecil selagi berujar, “Ingin berbagi cerita lebih banyak denganku? Omong-omong, kita sama-sama sedang melarikan diri.”

Ia menimbang sejenak sebelum akhirnya menarik kembali tangannya dan menutup resleting ranselnya. Melipat tangan di atas tas yang berada di pangkuannya dan memberi Hoseok tatapan mempersilakan. Hoseok mengulum senyum.

“Ibuku akan segera menikah lagi. Awal mula perkara. Aku tidak setuju—dan tidak akan pernah—dengan hal itu. Lebih buruk lagi, setelah mereka berhasil membuatku luluh, berita datang tadi pagi dengan mengatakan kalau aku akan menjadi pewaris tahta ayah tiriku. Kedengaran menggiurkan, tapi aku sama sekali tidak menginginkannya.”

“Karena kau tidak menyukai pria itu, seperti saat pertama melihatnya. Aku benar?”

“Nyaris.” Hoseok tertawa. “Aku bukan orang yang cocok dengan jabatan itu. Bukan pebisnis atau lulusan jurusan manajemen yang bisa dengan mudah mengatur semua hal-hal tersebut. Aku seorang penari,” imbuhnya kemudian. Hadirkan tatap kagum di manik sang gadis.

“Kau menolak kesempatan besar karena sebuah alasan yang logis. Aku menyukainya,” balas gadis itu. Wajah kesal mulai pudar sementara Hoseok kini mengubah topik menjadi perkenalan singkat.

Well, sebelumnya mengapa kita tak bertukar nama? Aku Jung Hoseok.”

“Oh Taerin. Kau mungkin tidak percaya ini tapi aku jika kau bercerita perihal pertemuan ini dengan orang yang kukenal, maka mereka akan menganggapmu bertemu orang yang salah. Aku termasuk irit bicara, tapi kurasa hari ini aku membuat pengecualian.”

Hoseok kembali tertawa geli. “Aku sudah bisa lihat itu,” sahutnya. Membenahkan posisi duduknya yang lantas diiikuti oleh Taerin. Berhadapan rasanya lebih nyaman untuk melakukan pembicaraan.

“Lalu bagaimana dengan masalahmu?”

Taerin menghela napas panjang. Jeda sejemang sebelum ia mulai mengisahkan masalahnya.

“Aku tinggal dengan ibu dan seorang kakak laki-laki. Kami baik-baik saja. Aku selalu membantu ibu di cafe dan menjalin hubungan yang sangat dekat dengan kakakku. Semua berjalan lancar sampai akhirnya aku menyadari sesuatu—“

 

“Kalian tidak turun?”

 

Suara seorang wanita berambut ikal yang duduk di samping kiri mereka menginterupsi cerita Taerin. Kontan membuat keduanya menoleh dan bingung hendak menjawab apa. Namun, Hoseok berhasil menemukan jawaban dan mengulas senyum lebar ketika ibu paruh baya itu mulai berjalan meninggalkan kursinya.

“Kami akan turun di pemberhentian terakhir,” ujar Hoseok ringan. Bibir si wanita membentuk bulat sebagai jawaban dan ia segera turun setelahnya.

“Kita sudah berada di pinggir kota,” gumam Taerin. Netranya fokus menatap tulisan besar yang terpampang di atas halte. Bus kembali melaju dan Hoseok menagih kelanjutan cerita si gadis.

“Aku menyadari ada sesuatu yang salah. Bergantung pada mereka selama ini. Ayah berada di Osaka dan tidak begitu menjadi masalah untukku. Aku mengerti—pada akhirnya. Bahwa aku selalu membutuhkan ibu, untuk segala hal. Dan selalu membutuhkan kehadiran Taekwan sebagai seorang pelindung. Aku selalu membutuhkan mereka tapi mereka nyaris tidak. Hidup mereka akan baik-baik saja tanpaku—bahkan mungkin sekarang mereka tak sadar aku sedang pergi. Terlambat untuk mengetahui hal ini sampai sebulan yang lalu.”

Helaan napas kembali hadir dan menjadi penutup cerita singkat Taerin. Ia menunduk dalam. Menyadari betapa bodohnya ia selama ini. Mengapa ia tetap bertahan meski tahu itu salah? Namun kini semuanya sudah terjawab dan ia pun sudah memiliki jawaban pasti. Melarikan diri adalah satu-satunya cara—dan jalan keluar.

“Kemudian aku memilih pergi. Menjalani hidup baru tanpa bantuan mereka. Aku tidak membutuhkan orang-orang itu lagi. Sudah waktunya untuk melakukan semuanya dengan diriku sendiri,” tutupnya. Mengangkat wajah dan mengulas senyum samar. Hoseok terdiam, tetapi sudut-sudut bibirnya berjungkit naik.

“Masalah kita bertolak-belakang,” sahut Hoseok. Menegakkan tubuh dan menatap Taerin lurus-lurus.

“Jika kau pergi karena berpikir mereka tidak membutuhkanmu lagi, maka berbeda denganku. Mereka semua menginginkanku kembali tapi aku menolak. Aku selalu bisa menjalani hidupku seorang diri; semenjak ayah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Yang artinya, tanpa mereka. Tapi kalau kaupikir mereka akan mencariku, itu mungkin benar. Namun, aku yakin mereka tak akan terus bertahan seperti itu. Mereka akan menyerah, membiarkan kondisi yang tersisa dan mengangkat adik tiriku menjadi penerus tahta. Ia seorang lulusan magister keuangan yang sangat pandai dan selalu dibanggakan. Omong kosong saat mereka menyuruhku naik jabatan sebagai kakak tertua. Cih.”

Taerin menahan tawa. Tak pernah sebelumnya ia berani membeberkan masalahnya pada orang lain. Tetapi, Hoseok mengubah segalanya. Sejak pertama bersitatap dengannya, Taerin langsung tahu bahwa bukan hal buruk membagi kisahnya dengan si pemuda. Termasuk menunjukkan senyum yang selama ini selalu tertutupi raut datar khas miliknya.

“Kau punya tujuan?”

Yang ditanya mengangkat bahu sembari menyahut, “Kurasa tidak. Kau juga, kan?” Hoseok terkekeh. “Ya, begitulah.”

Mereka mengalihkan pandangan. Saling membelakangi sembari diam-diam mengulum senyum senang.

“Taerin?”

“Ya?”

Gadis itu sontak menoleh ketika Hoseok memanggilnya. Menatap sang pemuda bingung sementara yang ditatap memasang senyum hangat.

“Kautahu? Bertemu denganmu memberiku satu pelajaran baru. Bahwa tak ada salahnya pergi jika memang tak membutuhkan. Mungkin memang pilihan buruk, tapi mau bagaimana lagi? Memangnya siapa yang betah tinggal berlama-lama dengan keluarga yang bahkan kau tak perlukan untuk menyambung hidup? Aku bisa mengurus hidupku sendiri dengan menjadi penari jalanan atau melamar di sebuah akademi tari yang jauh dari perkotaan. Semua akan baik-baik saja tanpa mereka.”

“Dan mereka akan baik-baik saja tanpamu,” sambung Taerin. Kali ini tersenyum simpul selagi dirinya menambahkan, “Aku memang membutuhkan orang tuaku, kakakku, teman-temanku…Tapi memangnya mereka perlu apa dariku? Tidak ada. Aku akhirnya bisa memahami itu dan mulai bangkit. Mengerjakan semua hal sendiri, tanpa bantuan mereka. Begitu juga dengan keluargamu. Mereka yang memerlukan kehadiranmu pasti lambat laun akan bisa melakukannya tanpamu. Sepertiku.”

Keduanya bertukar tatapan lekat. Saling membentuk senyuman seraya membiarkan masalah dan kekesalan yang tadi melingkupi mulai menguap. Menghilang tanpa bekas sementara diri mereka berjengit saat bus kembali berhenti dan semua penumpang berangsur-angsur turun.

Pemberhentian terakhir; Seoul Express Bus Terminal.

“Memikirkan hal yang sama denganku?”

Hoseok melontarkan pertanyaan retoris yang langsung disambut senyuman di bibir Taerin. Bersama menegakkan tubuh dan berdiri bersisian. Tangan Hoseok terulur, menawarkan kehidupan baru yang tak akan pernah terpikirkan oleh Taerin sebelumnya.

 

“Siap menjalani hidup bersama-sama?”

 

Dan kini keduanya telah memutuskan. Melangkah dengan tangan bertautan untuk menyongsong matahari musim semi yang baru. Menutup satu buku dan membuka lembaran kosong buku lainnya untuk diisi dengan kisah yang lebih baik.

.

.

.

Karena ini adalah awal.

.

.

.

Bukan akhir dari segalanya.

.

.

.

fin

Advertisements

3 thoughts on “[Boys Meet What?] Another Escapee – (Oneshot)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s