[Boys Meet What?] Ashatikane – Ficlet

_rwmcudahko-redd-angelo

Nggak lagi-lagi deh liburan ke Jepang!

by oldnavy

starring BTS’s Suga

 

Begini, ya, aku merasa aku tidak menempatkan Jepang pada urutan pertama dalam destinasi liburanku. Tetapi mengapa Mama malah memberiku tiket pesawat ke negara yang mendapat julukan Negeri Sakura itu? Aku benar-benar tidak paham, padahal masih banyak negara-negara di belahan dunia yang lebih menarik dibandingkan Jepang.

Ada beberapa hal yang membuatku ogah menginjakkan kaki di negara kepulauan tersebut. Pertama, jaraknya dengan Korea Selatan terbilang cukup dekat, hell untuk apa aku berkunjung ke negara tetangga? Kedua, kuliner khas Jepang banyak yang dibuat versi Korea, contohnya kimbab adalah sushi versi Korea. Dan yang ketiga, Jepang mempunyai sejumlah cerita legenda yang menyeramkan, aku pernah membaca beberapa di internet—dan kalian tahu? Aku hampir tidak bisa tidur semalaman.

Pesawat yang kutumpangi perlahan-lahan mendarat di aspal Bandara Internasional Haneda, aku beserta penumpang-penumpang lainnya pun bangkit dari tempat duduk dan bersiap-siap untuk turun dari pesawat. Matahari musim panas langsung menyambutku dengan sinarnya yang terik, aku mencengkeram tali tas ranselku erat-erat lalu mengembuskan napas panjang.

 

Petualangan baru akan segera dimulai.

 

 

Petang menjelang, aku memutuskan untuk pergi ke kuil di utara kota Tokyo. Rasa penasaran yang entah datang darimana mendorongku untuk mempelajari budaya lokal Jepang di tempat bersejarah. Sembari memotret panorama dan menikmati sunset kedengarannya boleh juga.

Keadaan di sekitar kuil masih cukup ramai meskipun langit sudah berubah warna. Anak kecil atau juvenil, dewasa maupun lansia, semua kalangan usia seakan berkumpul di tempat ini. Memanfaatkan kesempatan yang sedang sangat bagus, kedua lenganku mulai aktif menggerakkan kamera kesana-kemari, sedangkan lensa kameraku sibuk membidik seluruh objek menarik di lingkungan sekitar kuil. Seulas senyum terpatri di wajah kala diriku melihat-lihat hasilnya yang… lumayan untuk seorang amatir sepertiku.

Alih-alih melanjutkan mengambil gambar, netraku malah tertuju pada segerombolan gadis remaja (sekitar lima sampai enam orang, mungkin?) yang jaraknya tidak jauh dari tempatku berdiri. Mereka memakai pakaian bergaya bohemia yang dipadukan dengan celana jins super pendek model high-waist. Dari cara gadis-gadis itu berbusana, aku menyimpulkan bahwa mereka tidak mengikuti tren anak muda masa kini yang ada di kota-kota besar.

Dengan langkah mantap, aku berusaha untuk menghampiri mereka. Seperti remaja Jepang pada umumnya, mereka menyambutku dengan sinis dan sedikit canggung—namun lama kelamaan, mereka sudah bisa mengakrabkan diri. Bahkan, mereka membantuku dalam mengenali budaya-budaya Jepang sembari menyantap makan malam di kedai ramen[1].

Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan kiriku—gawat, sudah hampir tengah malam. “Kurasa aku harus segera kembali ke hotel. Hari semakin larut, sebaiknya kalian juga pulang,” ucapku seraya beranjak dari tempat duduk milik kedai tersebut. Namun tiba-tiba, seorang gadis yang duduk di kursi ketiga dari kiri menghentikanku lalu berujar, “bukankah kamu ingin mempelajari lebih banyak budaya kami?”

Teman dari gadis itu pun satu per satu bangkit dari kursinya masing-masing sambil menatapku dengan penasaran. Sang gadis yang menghentikanku kemudian berujar lagi, “kamu harus tahu bahwa tidak sopan meninggalkan gadis-gadis di kedai, apalagi pada malam hari. Dan cara berpamitan yang benar bukan seperti yang kamu lakukan barusan,” ia mengoceh panjang lebar diakhiri dengan tangannya yang terlipat di depan dada.

Untuk beberapa saat, aku dapat menangkap sirat pandangan gadis-gadis itu seperti ingin mengerjaiku. Namun aku adalah seorang turis, bila mereka menilaiku tidak sopan maka sepertinya sikapku memang tidak sopan. Jadi, aku bertanya pada mereka apa yang harus aku lakukan. Mereka menjelaskan bahwa cara berpamitan yang benar adalah dengan melakukan permainan Ashatikane—atau entahlah, logat mereka sangat sulit untuk ditiru. Permainan ini berdurasi sekitar lima menit, bukan waktu yang terlalu panjang bagiku.

Aku dibawa ke sebuah jalanan yang sepi, atau lebih tepatnya adalah sebuah perempatan. Salah satu dari gadis-gadis itu mengeluarkan sehelai dasi dari tasnya sedangkan gadis yang lain meletakkan sepasang sumpit ditanganku. “Kami biasa melakukan permainan ini untuk melihat setulus apakah perkenalan kita,” ucap gadis bersurai sebahu sembari menutup kedua mataku dengan dasi yang diberikan temannya. “Jadi, bila kamu menang dalam permainan ini, mungkin kita memang ditakdirkan untuk menjadi sahabat.”

“Kamu hanya perlu berjalan lurus dengan mata tertutup. Saat berjalan, kamu harus membuat sumpit ini berdenting dengan mempertemukan kedua sisinya satu sama lain. Jika kamu berhasil, maka kita akan tahu jawabannya.”

Aku mengembuskan napas lega, ternyata permainan ini sangat mudah dan sederhana. Aku segera menganggukkan kepalaku, memberi tanda kepada mereka bahwa aku sudah siap. Untuk sejenak, aku mendengar mereka mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang yang tidak kumengerti. Tiba-tiba, suara gadis-gadis itu hilang, pandanganku sepenuhnya gelap—aku mencoba melepas dasi yang menutupi kedua mataku dengan gemetar. Namun, jeritan melengking seorang wanita (yang entah datang darimana) mengejutkanku setengah mati.

Satu per satu tungkaiku mulai melangkah, hawa dingin menusuk-nusuk tulangku hingga menggigil. Suara lengkingan yang sempat mengejutkanku itu datang lagi, namun ia tidak menjerit—ia mengikik seolah aku adalah bahan lelucon. Perlahan-lahan, suara itu berubah menjadi tangisan yang memekakkan telinga. Percaya atau tidak, aku seperti berjalan di tengah-tengah keramaian.

Aku melangkah tertatih-tatih, suara-suara ini membuat otakku tidak karuan. Hingga aku merasakan sesuatu mencengkeram lenganku, menghempas tubuhku, dan berusaha ingin mencekikku. Aku mencoba melawan, namun cengkeramannya pada lenganku sangatlah kuat. Akhirnya, aku berpikir untuk melepas penutup mataku—setidaknya bila hidupku berakhir disini, aku tahu siapa yang mencoba untuk membunuhku.

Kutarik penutup mataku keras-keras. Aku mengerahkan seluruh sisa tenagaku walaupun seseorang itu sempat mencegahku dengan menguatkan cengkeramannya. Dan akhirnya, aku berhasil melepas penutup mata tersebut. Ketika aku membuka mata, aku tidak melihat siapapun di depanku, bahkan tidak ada satu orang pun disini.

Dan para gadis, mereka lenyap.

 

 

Sebelum aku check-out dari hotel, aku mencoba mengetik Ashatikane pada mesin pencari otomatis yang tersedia di ponsel pintarku. Mulutku menganga secara spontan saat melihat hasil pencarianku yang menampilkan berbagai informasi tentang permainan tersebut.

Ashatikane ternyata adalah sebuah permainan kuno yang bernama asli ‘Perjalanan Kematian’. Ada garis harfiah yang tidak bisa dijelaskan tentang makna sebenarnya permainan ini, ada yang berkata sebenarnya Ashatikane bukanlah permainan melainkan tradisi untuk bertemu orang yang sudah meninggal. Inti dari tradisi ini adalah untuk bertemu siapapun yang ingin kau temui, tetapi orang yang ingin kau temui berada dalam keadaan meninggal.

Bulu kudukku meremang setelah mengetahui fakta sebenarnya tentang Ashatikane. Cepat-cepat kuseret koperku menuju pintu kamar, aku tidak ingin berlama-lama disini.

Nggak lagi-lagi deh, liburan ke Jepang!

 

fin.

 

A/N

  • [1] = mi tipis khas Jepang. Beda dengan udon yang lebih tebal.
  • Diadaptasi dari sebuah creepy pasta yang berjudul sama dan sudah kumodifikasi.
  • Fiksi terpanjang yang pernah kubuat :’)
  • Ocha dari garis 02, salam kenal!
Advertisements

One thought on “[Boys Meet What?] Ashatikane – Ficlet

  1. halo, ocha!

    firstly, sorry aku baru sempet mampir sekarang setelah kamu chat aku di line minta review itu, hehe. soalnya aku baru senggang juga, seminggu kemaren banyak kegiatan bangeeet sama tugas.

    mmm aku suka banget sih tulisan kamu yang ini, mulai dari tema setting plot alur sampe cast HAHAHAHAHA (yay yay yoongi! dan di sini aku bayangin yoongi masih teenager 18 tahunan gitu HEHE). urban legend tuh salah satu tema yang aku crave tapi belum pernah bisa aku eksekusi 😦 jadi aku seneng banget kamu nulis urban legend jepang dengan plot yang enak juga. buat masalah penulisan dan diksi, much much better than yang kemarin. deskripnya jalan dan lebih ngalir. internal sama external thoughts-nya sistematis dan menarik. aku bisa liat perkembangan kamu yang super pesat di sini. yup, feel-nya jauh jauh lebih terasa dibandingkan dengan yang kemaren dan ini yoongi banget. jadi kamu udah mulai bisa nge-blend karakter and that’s really good.

    but masalah teknis penulisan, masih ada beberapa yang harus kamu perbaiki. semoga kamu nggak tersinggung atau gimana atau maaf kalau kesannya aku sok tau, sekali lagi. but let me share my knowledge hehehe. aku tulis per poin aja, yaaa:
    – siapa pun, pun-nya dipisah yaa, chaaa.
    -kalimat ini: “Pesawat yang kutumpangi perlahan-lahan mendarat di aspal Bandara Internasional Haneda, aku beserta penumpang-penumpang lainnya pun bangkit dari tempat duduk dan bersiap-siap untuk turun dari pesawat.” itu either kamu bagi dua, atau tambahin konjungsi supaya kalimatnya lebih efektif. jadinya “Pesawat yang kutumpangi perlahan-lahan mendarat di aspal BIH(.) Aku beserta ….” atau “Pesawat yang kutumpangi perlahan-lahan mendarat di aspal BIH, (sementara) aku beserta ….”
    -dialog kamu masih sering nggak pake kapital di depannya, tuuuuh. coba perhatiin lagi, cha, hehe. pokoknya kalau dia memulai kalimat baru di dalam dialog, harus pake kapital KECUALI melanjutkan dialog sebelumnya yang belum selesai dengan jeda narasi gitu.
    -masih masalah dialog, kalau udah orang yang beda yang ngomong, dijadiin paragraf baru yaa. kayak pas pembicaraan antara mas yoon sama si cewek-cewek di kedai itu.
    -kedai ramen[1]. NAH ini [1]-nya diformat jadi bentuk yang kayak kuadrat itu, chaaa, kalau bisa supaya lebih rapi. kalaupun ga bisa, menurutku, lebih enak kalau ga dikasih tambahan angka, tapi langsung aja nanti di bawah kamu jelasin di a/n. hehe.
    -ini yang krusial. detail karakter. pertama, kamu ngambil yoongi. kedua yoongi cowok. ketiga, we all know min yoongi’s laid back and “i don’t care abt anything except music, my career, my inner circle, and me” character. sorry bangeeeet, tapi aku agak kaget di deskrip dia tau segala hal tentang style cewek termasuk high waist jeans dan baju bohemian. mmmm aku tau maksud kamu supaya setting dan penglihatan yoon makin jelas ke readers, tapi karena (keempat) kamu ambil first pov, jadi kamu harus literally jadi otak yoongi sepenuhnya dan kuyakin cowok tidak semengerti itu tentang style, apalagi myg. imo, bagian itu agak … off, but other than that and over all, sudah bagus sih. jadi maybe yang harus diperhatikan ke depannya adalah pov dan pikiran dan apa yang disampaikan harus satu linier yaa. maybe kalau kamu nulis ini pakai third pov, deskrip yang demikian bisa masuk.
    -ini… teknis posting, sih. aku kurang tau ini yang posting admin atau kamu, cuma kayaknya lebih enak dan rapi (apalagi kalau dibaca via ponsel) kalau postingan di-justify deh, hehe. mm, jadi kalau memang posted by admin, ini bisa jadi masukan untuk admin, juga, hehe :)) semangat ocha dan admin!!

    yosh itu saja yang bisa kusampaikan, cha. sekali lagi maaf kalau ada salah-salah kata (tsah). pokoknya kamu semangat terus yaa, nulisnya! keep writing ocha! :))

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s