[Boys Meet What?] The ‘D’ – Oneshot

0aff28cf49a58684ae5a80be5824fdfc

Title: The ‘D’

Author: Ananda

Genre: Sci-fi, Life

Length: Oneshot (2860 words)

Rating: PG-15

Cast: Jung Hoseok

Disclaimer: Little bit based on J-Hope’s song: MAMA

Summary: Nyatanya seluruh ungkapan yang terlontar dari mulut Hoseok hanyalah sebuah pernyataan absonan dari realita. Kejadian beruntut tak masuk akal hanya membuatnya pusing bukan kepalang, ia terhempas sekali namun tak belajar dari segala yan terjadi. Ia dungu, bodoh, tak dapat diharapkan. Hanya bertemu dengan Sang Pencipta yang dapat membuatnya bungkam dan mengerti. Apa itu hidup?

Malam itu ia merasakan bagaimana tubuhnya terpelanting jauh sekali dari posisi awal, matanya hangat menahan perih. Decitan tak elak terdengar merongrong masuk ke dalam gendang telinga, hingga suara debuman keras itu memekakkan telinga, sunyi senyap tanpa respon akan kejadian yang baru sepersekian detik terjadi. Tubuhnya kebas tak berasa, melesat bergesekan dengan angin malam. Ia berharap saat gravitasi menghempas tubuhnya, rasa sakitnya akan berakhir oleh ketidaksadaran, terganti oleh akhir perjuangannya yang tak berbuah hasil. Harapannya sedikit terkabul, saat udara malam yang membelenggu dirinya tak lagi kuat membawanya melayang, tubuhnya dihempas begitu kejam.

Dingin sedikit basah terasa, merasuk melewati ujung jemarinya yang sedikit kapalan. Respiranya masuk dengan sulit, dadanya mengembang susah. Matanya terpejam dengan rahang yang menengadah pada langit, ingin mengatakan pada Tuhan bahwa ia juga perlu keajaiban, ia durjana, ia menyesal. Pandangannya mengabur perlahan, melihat langsung bagaimana rinai hujan gerimis menghujam tubuh tak berdayanya. Dunia juga seakan mendukung jatuhnya dirinya kini, menyatakan bahwa ia juga bisa lemah dan berakhir pada ujub kesombongan tertingginya. Karena setiap orang takut akan bertemu hal itu –namun akhirnya juga pasti bertemu.

Kakinya bergetar hebat sebelum ia menutup mata. Kakinya yang berharga dan selalu ia andalkan, hanya sebuah debu tak berguna saat ini.

“Tuhan, aku Jung Hoseok, lelaki yang jarang sekali pergi ke tempat peribadatan-Mu. Angkat aku menuju Neraka-Mu, aku hina, aku tak pantas lagi berdiri apalagi berjalan di dunia.” Ia tersenyum di penghujung pintanya, napasnya tersengal, tercekat dan kering menguap kerongkongannya. Ia tahu ia sudah tamat.

Katakan, tanyakan, dan buktikan siapa Insan di dunia ini yang bisa mengatai Hoseok manusia berengsek, siapa yang pernah merasa bahwa Hoseok makhluk bejat tak berperasaan. Atau pertanyaan itu bisa diubah, siapa yang bisa tidak tersenyum ketika berhadapan dengan sosoknya, atau siapa yang tidak akan terpingkal ketika Hoseok mengeluarkan gelagat khasnya.

Jawabannya akan terkumpul absolut, tidak ada.

Karena yang semua orang tahu Hoseok adalah lelaki baik-baik dengan latar belakang keluarga yang baik-baik pula. Pribadinya begitu luhur dan jenaka luar biasa, romannya atraktif dengan segala hal yang ia miliki pada seluruh tubuhnya. Surai lembut bergoyang, rahang tegas nan memikat, terlebih lagi hidungnya yang begitu menonjol dari segala organ tubuhnya. Ia bukan lelaki yang selalu berbangga diri dan mengikuti tren masa kini dengan menyimpang, rokok nol besar untuknya, mempermainkan wanita tak pernah sama sekali, bahkan ia tak malu mengatakan bahwa perutnya tak berbentuk sama sekali karena malas mengikuti perkumpulan pria pembual untuk membentuk tubuh.

Menjadi lelaki sempurna bukan tujuannya, tapi setiap orang yang pernah kenal dengannya setidaknya sekali seumur hidup, pasti akan berseru lantang bahwa Hoseok adalah pria paling manis dan menyamankan yang pernah mereka temui.

Hoseok begitu menggilai tari. Itu yang bisa diinterpretasikan dari rutinitasnya membagi waktu 1:3 untuk belajar dan menari, menari bagian banyaknya omong-omong. Ia tertawa lepas ketika penghujung hari menyongsong, bahwa ia berpikir semua yang ia lakukan bukan masalah sama sekali. Ketika ia berpikir bahwa melakukan apa yang disukai itu tidak akan melukai siapapun terlebih dirinya sendiri. Karena ia gila menari, ia akan hidup diantara tarian gilanya pula. Hoseok memekik kegirangan.

Hanya satu yang orang-orang tidak ketahui perihal Hoseok dan sisi baiknnya. Hoseok adalah salah satu makhluk paling kesatikan di pertengahan malam, bukan hanya sakit namun merangkap dengan kepedihan dan menyedihkan. Ketika malam benar-benar menjelma, tubuhnya akan meregang mengumpulkan segala rasa sakit, matanya menyalak kesetanan berair hingga menetes. Merasakan bagaimana kulitnya melepuh tanpa ada aksi, kepalanya berat padahal tanpa beban, giginya bergemeletuk menahan segalanya.

“Hoseok! Tenanglah, tenang… kau bisa, kau bisa, kau bisa….” Setiap Hoseok bertingkah di malam hari, ada satu wanita yang akan berlari mendekat, merengkuh Hoseok dengan penuh hati-hati, mengusap rambut Hoseok penuh kasih, lalu  mengucapkan kata penenang yang efeknya jauh sekali manjur ketimbang obat dokter. Efek plasebonya luar biasa hebat tiada tara.

“Aku tidak tahan, sungguh. Aku ingin mati saja, Bu.” Wanita itu menggeleng segera, menangis bersama Hoseok. Ia menepuk pelan tengkuk putranya.

“Tidak, Hoseok kuat karena Hoseok putra Ibu.” Ibunya tersenyum sembari menangkup kedua sisi wajahnya yang berkeringat. “Hoseok akan baik-baik saja, Hoseok akan sembuh sebentar lagi, Ibu jamin.”

Ibunya mengacungkan jempol dengan senyum palsu, Hoseok yang tak ingin mengecewakan hanya mengangguk lalu kembali berbaring sambil tersenyum. Ia hanya tak sadar kalau tadi ada sebuah jarum yang melesak masuk melalui pori-porinya. Suntikan penenang tentu saja.

“Tidurlah, aku tak ingin melihat penderitaanmu.” Setiap malam dan suatu kepastian, Ibu Hoseok akan menangis hingga dini hari. Menciptakan kantong hitam yang akan ia katakan penuh dusta kepada putra satu-satunya yang ia punya.

Ada satu hari yang membuat hati murni milik Hoseok terasa tertohok, keterkejutannya seakan membawa adrenalinnya jatuh hingga ke dengkul. Napasnya sesak, ia tak tega, sungguh. Ia hanya tak menyangka saat ia tahu bahwa uang yang ia terima sebagai pembayaran kelas menari bukanlah dari sang Ayah yang merupakan seorang penjudi kelas kakap. Ia tahu itu ketika salah seorang temannya ingin mengajaknya ke satu restoran ddaekbokki dengan alibi perayaan hari jadi sang kawan tersebut. Ia menyetujui namun betapa terkejutnya ia ketika melihat pelayan yang jauh dari mejanya, yang membersihkan meja penuh keringat, yang matanya berkantong kelelahan, adalah Ibunya. Ibunya yang membiayainya selama ini, ia hanya baru tahu.

“Hoseok, kau pesan apa?”

Sesaat Hoseok bungkam tak menjawab, ketika kawannya sekali lagi menyerukan namanya ia tersadar segera. “Aku pulang saja.”

Namun bukan pulang tujuannya, ia menggerakkan tungkainya ke seluruh penjuru tepian kota. Mencari satu toko yang ingin menerimanya sebagai pekerja paruh waktu. Untung hari itu ada satu orang yang mau menerimanya sebagai pengantar susu, ia membungkuk semangat, berteriak ia akan bekerja keras dan akan melaksanakannya dengan sangat baik.

Mulai saat itu, ia selalu pergi di awal hari dan berkilah pada sang Ibu bahwa ada yang ingin ia lakukan di sekolah. Seluruh energinya ia habiskan sewaktu pagi, memberikan senyuman pada orang yang masih mengantuk dengan pandangan kabur-kabur. Ia senang mengetahui bahwa pekerjaan yang sedang ia lakoni menyalurkan sebagian gizi untuk sarapan orang-orang. Ia hanya tak tahu apa konsekuensi yang menunggunya.

Maka akibat dari itu semua, pada minggu ketiga setelah kegiatan barunya terlaksana, tubuhnya mengalami retorsi parah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berbaring di atas kasur sambil mengerang sekeras-kerasnya. Peluhnya bahkan tak terseka lagi, ia kehabisan secercah harapan yang ia kira ada menghampiri.

Pada akhirnya, tubuh lemahnya tak elak dari kebutuhan akan obat. Obat yang sudah muak untuk ditelan berakhir dengan peningkatan dosis, ia benci. Untuk tujuan kebahagiaan Ibunya, menurut hanyalah satu-satunya jalan. Setelah membungkuk pamit dan membenarkan bahwa ia sudah menelan obatnya pagi ini, ia berjalan menuju sekolah. Menaiki bus pagi yang masih kosong dengan sedikit penumpang.

“Wah, kau Jung Hoseok!” Ia mungkin saja terjerembab ke belakang kalau tak memegang besi yang ada di sekitarnya, ia hanya ingin duduk dengan tenang namun ada yang meneriaki namanya dengan mata bersinar. Sedetik ia hanya mengerjapkan mata tak percaya namun ia segera saja duduk tanpa memikirkan apapun. “Hei, kau Jung Hoseok.”

“Iya, aku Jung Hoseok,” ucapnya malas. Ia berani bersumpah bahwa baru sekali ini ia bersikap menyebalkan dan tak menampilkan senyuman cerah. “Bagaimana kau kenal aku? Aku bukan murid populer omong-omong.”

“Tapi kau populer di seluruh dunia nanti,” ucapnya sembari tersenyum kotak. Hoseok ingin tersedak mendengarnya, remeh akan segala yang ia katakan. “Percaya atau tidak, banyak sekali wanita yang meneriaki namamu, tapi nanti.”

Hoseok terbahak setelahnya, matanya bahkan hilang ditelan pipinya yang terangkat. Hoseok menggeleng maklum pada makhluk di sebelahnya. “Kau ada-ada saja. Kau aneh.”

“Terima kasih.” Hoseok mengernyit, bibirnya terangkat sebelah. Ia yakin bahwa orang yang baru saja ia temui benar-benar aneh. “Eh, sebentar.  Wah, semuanya jadi berubah!”

Orang yang baru saja Hoseok temui itu adalah lelaki bermata bulat bersinar. Ia memegang dagu licinnya dengan sikap yang seakan berpikir menunggu perhatian dari Hoseok, akhirnya, Hoseok menatapnya jengah. “Yang tadi… tidak jadi kupikir. Ada sesuatu yang menunggumu, tidak terterka sebersit pun lewat di pemikiran terdalammu. Ketika bayangan hitam itu melambai memanggilmu, kau bergerak tanpa perintah.” Dan lelaki itu memetikkan jarinya cepat, tetap diselingi senyuman kecil.

Hoseok terbahak keras sekali sekarang, deru mesin bus di pagi hari seakan tertutup hanya karena tawa Hoseok yang keras. “Lucu sekali astaga, kau pikir kau itu tukang hipnotis?” Hoseok menepukkan tangannya ke atas paha berkali-kali, “ah  sudahlah, lagipula aku sudah sampai.”

“Aku juga, kita satu sekolah.”

“Oh tuhan, ini akan menjadi panjang jika makhluk aneh ini ternyata satu sekolah denganku.”

Hoseok telah laknat menganggap segalanya biasa, ketika ia menari petang ini ia mengabaikan segalanya. Proyek yang ia garap hanya tampak bayang-bayang kini, teman seperkumpulannya menyarankan Hoseok untuk pulang lebih awal mengingat wajahnya yang kehilangan warna. Hoseok menggeleng dengan peluh mengucur.

“Aku tak apa, sungguh. Lagipula kita harus menang besok,” ungkapnya dengan gurat senyum.

Temannya berdecak, “tidak, kau bisa mati jika menari tanpa istirahat begini. Tadi siang kau menolak ajakan makan siang, ketika lelah dan orang-orang istirahat kau malah peregangan, handukmu tak tersentuh, aku yakin kau akan mati sebentar lagi.” Setiap perkataan yang terlontar disertai dengan nada menggebu.

“Aku tidak akan mati teman! Pokoknya sampai tujuan kita tercapai, aku tidak akan mau sirna begitu saja!” Hoseok mengulum bibirnya kuat, mengepal tangannya untuk menyalurkan sugesti antar orang yang memiliki haluan sama. Mereka semua telah lama bersama, bahkan hubungannya tak bisa dikatakan lekang barang sedikit, namun besok hari yang berbeda. Segala pegangan masa depan tergantung pada hari esok.

“Hoseok.” Dalam sekali panggil, Hoseok menoleh. “Kenapa kau terlalu keras?”

“Aku bukan terlalu keras, aku hanya melakukan segalanya sebaik yang kubisa.” Hoseok tersenyum simpul, “aku melakukan semuanya semampuku seakan-akan tak ada hari esok, prinsipku untuk menghindari kejadian yang bernama ‘penyesalan’.” Teman Hoseok mengerjapkan matanya cepat, sempat terkesiap namun kekehan Hoseok membuatnya kembali tersadar. “Tak perlu segitunya, haha. Kau berlebihan.”

Besok berjalan dengan sangat baik terkecuali wajah Hoseok yang begitu pucat. Pagi-pagi sebelum Hoseok berangkat dan pamit pada sang Ibu untuk pergi ke lokasi audisi, Hoseok berbohong. Obatnya ia buang ke lubang wastafel namun laporan yang ia berikan obat tersebut sudah memasuki organ tubuhnya. Ibunya tersenyum, namun Hoseok tidak. Segala rasa sakitnya kembali menggerogoti beserta bayang-bayang dosanya pagi itu. Setelah dinobatkan sebagai kontestan yang lolos, Hoseok dan teman-teman melonjak kegirangan dan Hoseok menyuguhkan senyum palsu.

Sakitnya kembali menjadi-jadi sampai ke jalan pulang, menolak tawaran kendaraan, Hoseok malah pulang jalan kaki. Seluruh tubuhnya sakit luar biasa seakan diterkam cakar-cakar singa jantan yang menggila. Hoseok melihat cahaya merah, ia tertawa sambil melanjutkan langkahnya. Sinar dari sisi kanannya seibarat lampu sorot panggung yang siap menyinarinya ketika tubuhnya bergerak melekuk seiring irama. Decit sepatu yang setia bersama dengannya, peluh keringat demi orang yang memekik namanya berkali-kali beserta sorak sorai pujian.

Hoseok tiba-tiba tersentak, ia tak lagi berada di tepian jalan, tepatnya di ujung penyebarangan jalan. Seseorang menepuk pundaknya, pria berlesung pipi dan berwajah ramah. “Hoseok-ah, sebentar lagi kita tampil, ayo jangan tidur lagi!” Dan pria itu berlalu sambil tersenyum.

Hoseok gelagapan dengan segalanya, ia yakin sekali tadinya ia bukan di atas sofa. Dan keanehannya semakin bertambah ketika dua orang wanita mendekatinya untuk memasang earmic dan melilit kabel di sekitar tubuhnya. Satunya lagi sibuk mengelap peluhnya, “sepertinya tadi kau mimpi buruk, peluhmu banyak sekali Hoseokie.”

Hoseok mengernyit pada wanita itu, dan setelah usai, kedua wanita itu pergi. Pria berlesung pipi yang membangunkannya melambai padanya, mengisyaratkan agar Hoseok mendekat. Hoseok mendekat dan ada 6 pria lain termasuk pria berlesung pipi tadi. “Jadi Hoseok, apa yang perlu kami lakukan ketika di panggung. Berilah intruksi,” ucap salah seorang ketika menyadari Hoseok hanya terdiam dan tampak linglung.

“Apa maksud kalian? Candaan apa yang kalian ucapkan ini…,” ujar Hoseok khawatir hingga menggaruk belah rambutnya. Oh, keanehannya bertambah ketika sadar pakaiannya sangatlah indah, baju panggung.

“Ketua Tim Jung, jangan bercanda… Fans kita menunggu di luar, cepat kita tidak punya waktu!” Salah satu pria berperawakan kecil dengan kulit pucat menginterupsi kasar.

“Sungguh, aku tak mengerti! Aku tak kenal kalian! Tadinya aku ingin pulang, bukan disini!” Hoseok menggertak dengan penuh kesungguhan. Matanya yang gusar berpendar melihat tempat yang ia pijaki kini, ada beberapa meja rias berlampu, alat make-up dimana-mana, orang-orang yang bekerja berlalu lalang beserta suatu alat di telinga mereka, Hoseok benar-benar tersesat.

“Ya! J-Hope, kau  bisa profesional tidak sih? Aku tahu kau kami bangunkan dengan paksa tadi, tapi ini bukan saatnya bercanda.”

“Benar, Hyung. Kau lupa 3 tahun kita dilatih bersama, tinggal bersama, makan bersama, suka duka bersama, hingga kita sudah nyaris tahun keempat setelah debut!”

“Kita bahkan sudah dapat banyak penghargaan, Hyung!”

“Ini bahkan sudah kali berapa kita akan melaksanakan konser, kau masih tak mengenal kami?”

Hoseok mengerang memegang kedua sisi kepalanya sambil berjongkok, matanya terasa berkunang-kunang. Orang-orang di sekitarnya yang mengaku telah lama bersama-sama dengannya mengambil posisi siaga dengan tatapan khawatir. Terkecuali satu orang, pria tinggi bergigi kelinci yang tersenyum miris padanya. Hoseok menyipitkan mata hingga air matanya menetes satu, mengalir melewati pipi mengkilapnya, jatuh setitik menimbulkan bunyi redam di atas lantai. Rasa sakitnya menghunus semakin dalam, “aku takut mati.” Dan baru sekali ini ia ingin memohon atas rasa sakit.

Kepalanya kembali berpusing entah kemana, selayak putaran piringan hitam yang tersendat, kepala otaknya terasa terbanting keras. “Hoseok,” suara lembut itu memanggilnya dengan mendayu halus. Hoseok merasa semilir angin menyegarkan datang padanya. “Mau makan sekarang?”

Hoseok mengangguk ramah, tak ada yang ia pusingkan lagi. Bahkan kejadian yang terasa bagai mimpi terabaikan dalam sekejap. “Tampak enak, dan masakan Ibu selalu enak, kan?” Ia menyengir selebar yang ia bisa, Ibunya membalasnya dengan senyuman tak kalah lebar. Melihat senyuman sang Ibu membuat matanya berkeringat mengeluarkan cairan, ia tak mengerti kenapa tapi rasanya roman sang Ibu tak dapat ia lihat besok. Baru saja Hoseok menyuapkan suapan pertamanya, meja makan berputar cepat, tak membiarkan Hoseok makan dengan tenang. Dan Hoseok masih bisa melihat dengan jelas pria bergigi kelinci itu, di sudut rumahnya.

Segalanya berputar lagi dan Hoseok kembali pada tempatnya semula, di tempat awal penyebrangan jalan. Ia tersenyum begitu puas ketika melihat  bayang hitam seakan memanggilnya sebagai ajakan makan es krim bersama –begitu memikat, tak dapat ditolak— tungkainya mulai bergerak pelan, perlahan dan pasti. Seperti kejadian sebelumnya, sinar menyilaukan datang secepat kilat  dari arah kanan. Parahnya, walau ia mendengar jelas bagaimana klakson pemekak telinga itu menguar, Hoseok bergeming di tempatnnya berdiri, terpaku tak bergerak. Matanya berair menatap langit, mulutnya mendesah berat menimbulkan kepulan asap musim dingin.

Tubrukan itu  tak  terhindarkan, kepalanya menengadah terpaksa akibat dorongan alamiah dan akalnya tersadar lampu lalu lintas menyala merah. Rahangnya terbuka lebar, tubuh belakangnya melengkung, melayang melawan gravitasi. Decitan ban terdengar setelahnya, serpihan kaca meledak tersebar kemana-mana, bersamaan dengan segalanya tubuh Hoseok terhempas secara tak hormat ke atas  aspal dingin. Kepalanya terasa basah oleh cairan kental, sial, bau karat darah.

Ia meringis hampir tertawa, gigi-gigi rapinya terlihat seluruhnya, bergerit menahan getir perasaannya, ia terbatuk berkali-kali dan mengeluarkan darah dari dalam tubuh berkali-kali pula. Lidahnya dapat mengecap baik bagaimana rasa darah yang ia keluarkan, tubuhnya kebas bahkan rasa sakit yang berlebih berubah tanpa rasa. Tangannya yang lecet lebam sana-sini pun mengepal erat, ia ingin berharap untuk terakhir kalinya.

“Tuhan, aku Jung Hoseok, lelaki yang jarang sekali pergi ke tempat peribadatan-Mu. Angkat aku menuju Neraka-Mu, aku hina, aku tak pantas lagi berdiri apalagi berjalan di dunia.”

Akhir dari kesadaran akan kesombongan berakhir pada malam ini, malam yang tengah menurunkan rinai hujan kecil yang menghujam seluruh tubuh lemah tak berdayanya. Ia sadar, kenapa orang-orang takut mati, kenapa orang begitu takut akan datangnya hari tamatnya diri. Ia berawal pada konklusi singkat bahwa kematian adalah akhir dari kesakitan yang ia terima, maka dari konklusi yang ia yakini, ia berjalan begitu yakin seakan ia makhluk paling hebat di muka bumi.

Matanya mengerjap takut, seiring jatuhnya hujan menuju tubuhnya, ia tak lagi mendengar suara-suara membisingkan. Aura gelap menggerayangi seluruh tubuhnya, tubuhnya sakit tiada tara. Seluruh permukaan kulitnya panas tak lagi dapat dideskripsikan, kulitnya bagai dikuliti hidup-hidup sekaligus dicabik ganas oleh elang-elang buas yang tengah kelaparan. Ia tahu, ini klimaks rasa sakit di dunia. Meregang nyawa.

Petir mulai menyambar bersahutan padahal tadinya ia yakin hujan turun hanya dalam intensitas kecil dan gerimis. Bertambahnya petir yang ikut serta membuatnya berpikir tamatnya riwayat seorang Jung Hoseok begitu menyedihkan. Bahkan alam begitu marah pada seorang Jung Hoseok yang sombong dan menganggap remeh kematian, seorang Jung Hoseok yang tega berbohong dan berdosa pada sang Ibu, seorang Jung Hoseok yang bahkan tidak mencintai dirinya sendiri semasa hidup. Yang Maha Kuasa marah beserta alam semesta. Hoseok menyesal karena tidak ada satu hari saja yang tertambah ke dalam jangka waktu kehidupannya.

“Jung Hoseok.”

“Jung Hoseok.”

“Jung Hoseok.”

Petir terakhir terdengar paling keras dan menggelegar. Seluruh jiwa dan nyawa Hoseok tersentak dan terangkat kasar, menyakitkan luar biasa. Hoseok tak dapat menyangka bertemu dengan kematian adalah yanng terburuk. Rasa sakitnya terasa lama walau tak terlihat  jelas dari luar orang memandang.

“Jung Hoseok, lahir 18 Februari 1994, Gwangju. Kematian, 20 Januari 2010. Penyebab, kecelakaan lalu lintas.”

Hoseok termenung di pinggiran trotoar, si pria bergigi kelinci itu membaca namanya dengan tatapan datar namun bengis secara tersembunyi. Rupanya dingin dengan segala aura gelap yang mengelilingi, matanya bulat namun dapat menangkap segalanya dengan apik, rapi, sederhana, dan seram dengan caranya sendiri.

Ia mendekat, memberikan salam sopan dan memperkenalkan diri. “Aku malaikat yang dipercayakan untuk mengurus jiwamu, tanggung jawab yang kuemban… tolong mudahkan prosesnya dan ikut tanpa pertanyaan.”

“Apa aku sudah mati?”

“Hah,” pria kelinci itu menghembuskan napas kasar, “kenapa semua orang mati menanyakan hal ini! Setiap orang bertemu dengan kematian, pasti. Sepasti mereka bertemu dengan jodoh. Tunggu, jangan-jangan kau belum bertemu jodoh?” Hoseok menggeleng, “nah, bahkan akurasinya lebih daripada bertemu jodoh. Kau bertemu kematian bahkan ketika kau belum bertemu jodoh. Maka dari itu, jangan remehkan kematian yang jaraknya sejengkal denganmu sedangkan angan jauh di atas kepalamu.”

Hoseok masih bergeming.

“Ayo ikut aku! Dasar manusia.”

 

FIN

Advertisements

3 thoughts on “[Boys Meet What?] The ‘D’ – Oneshot

  1. ryuuuuu

    Aaaaaaaaaa>< Ini keren. Aku suka bahasanya ih😆
    Dasar manusia :v Dan demi apa pria bergigi kelinci itu Jungkook kan?

    Aku seneng karna ff ini punya banyak nilai moral yang bisa diambil sama reader. Thx author-nim💕💕💕

    Like

  2. Sssuuuuummmmvvvvaaaahhhh!!!!! Keren ya ampun huhu… Ini yg paling keren yg pernah aku baca… Huhu… Feel, filsuf, moral value-nya bener2 dapet… Huhu… Keren…. Huhu… Keren… \(^_^)/ hhhuuuaaa… Sampek bingung ngomongnya… Huhu… Keren… Huhu…

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s