[BTS FF Freelance] SOMETHING SPECIAL (SEQUEL OF I SWEAR) – (Oneshot)

cover-untitled-1

Author : DaneeLee
Main Cast : Nana Lee (OC/YOU), Park Jimin (BTS)
Supprot Cast : Jo Hana (OC) , Kim Taehyung (BTS), Jungkook (BTS)
Length : Oneshot
Genre : Friendship, AU, Romance.
Rating : PG-15

.

“Hal sekecil apapun itu… bahkan yang paling sederhana sekalipun, akan terasa manis dan spesial bila kau melakukannya dengan orang-orang yang disayangi.”

Cinta dan persahabatan memang begitu erat hubungannya. Bila mereka bersatu kau akan mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya dan jangan pernah berfikir untuk memisahkan mereka jika kau ingin ‘something special’ selalu menyertai langkahmu.

.

Read before : (I SWEAR)

The story is pure mine and the cast is belong to GOD.
Enjoy and happy reading~

.

.

Instrument music klasik mengalun lembut memenuhi ruang kamar Nana. Nuansa hangat dengan aksen putih gading tengah membaur bersama aroma fressia yang mendominasi kamarnya. Di salah-satu sisi dindingnya ditempeli puluhan lembar foto berukuran 2R yang ditata menyerupai bentuk hati, dan ada beberapa yang digantung pada rentetan benang. Pada dinding di belakang ranjang big-size miliknya, diletakkan sebuah foto ber-frame sangat besar serta dihiasi origami berbentuk burung. Sedangkan langit-langit kamar, ditempeli hiasan ‘glow in the dark’ berbentuk bulan dan bintang. Dalam keadaan gelap, maka hiasan itu akan berbinar indah.

Sementara sang empunya kamar, Nana Lee, tengah menyembunyikan dirinya di balik selimut tebal. Ini sudah larut malam, tapi gadis itu tak juga bisa memejamkan mata.

Seperkian detik selanjutnya, ia pun beranjak dari ranjangnya lalu menuntun langkah mendekati meja belajar. Setelah berhasil mendudukkan bokongnya di kursi, jemarinya merayapi laci meja dan mengambil sesuatu disana.

Foto-foto masa kecil hingga remajanya di masa lalu.

Ia mengambil salah-satu dari tumpukan potret itu.

Pertama, sebuah gambar ber-objek dirinya, Jimin, Taehyung, juga Jungkook dengan latar pantai. Nana ingat, itu adalah hasil foto yang diambil sang ayah kala mereka menikmati liburan musim panas saat kelas 6 SD. Cipratan air dan siluet cahaya matahari juga menambah nilai keindahan di dalamnya.

 

“Hei, berhenti menciprati air padaku Kim Taehyung! nanti ibu akan memarahiku apabila aku pulang dengan basah kuyup lagi!” Jungkook berlari kecil ketika Taehyung menangkup air sembari mencipratinya tanpa henti.

“kalau ke pantai tidak basah-basahan, itu tidak seru namanya!”

“Biarkan saja, yang penting aku selamat dari amukan ibu!”

“Sudahlah, kali ini bibi Jeon tak akan memarahimu. Kami akan melindungimu”

“Ah, bagaimana kalau kita gendong saja anak itu ramai-ramai lalu kita lempar ke air?”

“Ide bagus, Nana!”

“AAaaaaa tidaaaaakkk! eommaa tolong akuuuu!!”

 

Di tempatnya, Nana tertawa ringan kala kenangannya kembali tergiang. Di setiap lembar potret itu memiliki cerita manis tersendiri . Meski sudah nampak kusam, tapi benda ini sangatlah berarti baginya.

Dan dibalik lembar foto itu, terselip sebuah surat ber-amplop tosca. Surat yang dikirim Taehyung dan Jungkook beberapa hari lalu.

Dalam surat itu, dijelaskan bahwa mereka akan ke Korea saat musim gugur tiba selagi mereka mendapat kesempatan libur disana. Sebenarnya mereka bisa saja mengabari lewat email, twitter atau line barangkali. Toh sekarang mereka adalah manusia modern dimana social media mendominasi segalanya. America? Apalagi disana. Tapi kata Taehyung dan Jungkook lebih enak rasanya jika menggunkan surat. Ada sensasi tersendiri. Mungkin terasa lebih klasik dan keren? Ah, ada-ada saja ya.

Masa bodo apa alasannya. Yang penting—Yeah, waktu yang selama ini paling ditunggu oleh Nana. Kehadiran mereka kembali.

Akhirnya.

Setahun bukanlah waktu singkat untuk ia lalui tanpa kedua orang yang berarti bagi hidupnya itu. Jadi tak salah kan kalau sekarang ia merasa sangat senang sekaligus bahagia?

Yang ia inginkan adalah dapat kembali seperti dulu. Persahabatannya yang indah dan berharga. Lengkap ber-4, yaitu dirinya, Jimin, Taehyung, dan Jungkook. Bisa kembali berbagi cerita baru adalah harapannya. Meski kesempatan itu terbatas, setidaknya Nana bisa kembali merasakan kebahagian itu sebelum waktu benar-benar merubah segalanya.

Meski di hari-hari sebelumnya ia kerap kali menangis sendiri. Di sudut kamarnya, di danau, taman kompleks rumahnya, atau di balik selimutnya saat ia hendak tertidur kala ia teringat masa lalunya. Baginya tak mudah menjalani hari-hari tanpa mereka.

Nana sudah terbiasa akan keberadaan sahabat-sahabatnya. Meski kalau diingat mereka dulu kerap bertengkar hanya karena perselisihan kecil. Entah itu rasa iri, berbedaan pendapat, atau ejekan bercanda berlebihan yang terkadang menyinggung perasaan. Meski begitu, justru itulah yang ia rindukan. Mendengarkan lelucon Taehyung yang berlebihan sehingga membuat Jungkook merasa kesal dan berakhir Jimin menengahi mereka dengan wajah tenangnya.

Nana juga ingat ketika Jungkook ngompol ditengah-tengah malam kemah ‘ala’ mereka. Semua itu gara-gara ide gila Taehyung! Kala itu, mereka berempat yang masih duduk di bangku 6 SD mendirikan tenda di halaman belakang rumah Taehyung. Hal itu merupakan kegiatan rutin di akhir semester. Dalam kemah ala mereka, cukup hanya mendirikan tenda di malam hari lalu bernyanyi bersama sampai mereka tertidur. Terkadang juga mereka saling membagi cerita masing-masing. Seperti siapa teman wanita di kelas Taehyung yang paling cantik, siapa guru yang paling menyenangkan, hadiah apa yang diberikan orang tua setelah hasil penerimaan raport, dan ah… saat seorang gadis mungil super imut dengan permen lollipop di tangannya yang sempat menyatakan perasaannya pada Jungkook! Ahahaha! malam itu Nana tertawa terbahak-bahak sekali.

Karena merasa kegiatan kemah mereka terlalu biasa aja, Taehyung yang sudah berusia 11 tahun itu akhirnya berniat memberikan ide baru.

“Bagaimana kalau kita saling berbagi cerita seram di dalam tenda? Ah, akan lebih baik kalau kita hanya menggunakan lampu senter. Emm, sambil menyesap cokelat panas juga boleh. Ah pasti akan seru!! Bagaimana?” katanya antusias kala itu dengan wajah cerianya.

“Cerita seram? Jam segini? Kau gila! Kalau nanti kita didatangi sungguhan bagaimana?” serobot Nana setengah bergidik karena menyadari jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lagipula orang tua Taehyung sudah tertidur pulas. Kalau benar-benar ada hantu sungguhan, siapa yang akan menolong mereka nantinya?

“Ah ayolah. Masa iya kita hanya bernyanyi-nyanyi. Kita ini sudah besar! Masa iya takut sama begituan? Ah kalian payah!” ujarnya dengan menyombongkan diri. Tak lupa kedua tangannya bersedekap di dada seolah teman-temannya ini sangat payah sementara ialah yang paling pemberani disini.

Dasar anak kecil keras kepala!

“Bukan begitu Taehyung” Sergah Jimin.

Mereka sepakat menolak ajakan Taehyung tersebut. Namun anak yang tak kenal kata menyerah seperti Taehyung mengandalkan berbagai cara sedemikian rupa agar kawannya ini berubah fikiran. Bahkan ia tak ragu melakukan agyeo hanya karena ingin permintaannya dituruti. Dan akhirnya Taehyung menang.

Hujan turun tanpa diduga. Petir Menyambar dengan kilatnya yang silau. Bersamaan dengan itu bibir Taehyung tiada hentinya melantunkan kisah seramnya dengan nada suara yang dibuat seseram mungkin selayaknya ia adalah pendongeng hebat. Dalam kegelapan tenda dan lampu senter yang hanya menerangi wajah Taehyung, Nana serius mendengarkan sambil membalutkan dirinya dengan selembar selimut tebal. Sedangkan Jimin memasang raut wajah biasa saja seolah bisa menebak akhir dari cerita horror versi Taehyung.

Ditengah ketegangan itu, samar-samar mereka secara bersamaan merasakan sesuatu yang basah dan hangat di bokong mereka. Merasa aneh, Taehyung pun berhenti bercerita. Ia terdiam seolah mencari tahu rasa hangat apa itu. Dan tiba-tiba bau pesing menguar.

“ASTAGA JUNGKOOK KENAPA HARUS MENGOMPOLL!”

Benar-benar ide gila. Harusnya salah-satu dari mereka menyadari bahwa diam dan pucatnya wajah Jungkook adalah tanda bahwa anak itu benar-benar ketakutan. Seharusnya lagi, Nana dan Jimin tidak mengabulkan permintaan gila sahabat ajaibnya ini, Kim Taehyung.

Sungguh Jeon Jungkook yang malang.

Alhasil, akhirnya mereka memutuskan untuk tidur di kamar Taehyung setelah mengganti celana mereka. Taehyung yang salah, tapi yang ada ia terus mengomeli Jungkook. Untuk pertama kalinya, kemah mereka gagal total. Pengalaman yang sungguh konyol sekaligus memalukan. Tapi entah kenapa. Bila diingat kembali, kenangan itu justru sangat manis.

Ah, lagi-lagi Nana menangis. Setiap memori yang berputar di otaknya, hatinya terasa sesak. Bisakah mereka bersama lagi?

Sabar Nana, sebentar lagi mereka akan datang. Rajutlah kisah barumu bersama mereka meski dalam waktu yang tak cukup lama. Meski kisah baru ini nantinya berbeda dengan sebelumnya, kau harus tetap mengabadikannya.

Seperti kata Jimin beberapa minggu lalu,

“Maka dari itu, ada masa dimana kita tak lagi bisa seperti dulu. Kita tak akan selamanya bermain bola, bermain petak umpet, atau bermain lumpur layaknya anak kecil. Kita akan tambah besar, menjadi dewasa, sibuk dengan urusan kita sendiri, dan akan menua. Waktu akan terus bergerak maju tanpa memperdulikan apa saja yang dilewati, dan kita mau tak mau harus mengikutinya.” –I SWEAR-

Tapi… apa jadinya ya  kalau kedua orang itu tahu bahwa ia dan Jimin resmi bepacaran?

Ah, kepala Nana mendadak terasa pusing.

.

.

Beberapa bulan kemudian….

 

“Pegangan yang erat”

Musim gugur telah datang menyapa. Hawa pun mulai ikut merubah suhunya, membawa sensasi dingin sekaligus hangat bagi tiap-tiap orang. Tak terlewatkan pula oleh dedaunan kering dengan permukaan cokelat-keemasan yang tengah beterbangan ringan dibawa semilir angin.

Disana, di jalanan beraspal kecil yang cukup sepi, terlihat dua insan remaja sedang berboncengan di atas sepeda bewarna hijau pastel. Lee Nana dan Park Jimin. Oh tentu saja. Pasangan muda yang sedang hangat-hangatnya menjalin hubungan selama 3 bulan lebih ini.

Wae? kau ini modus sekali ya” goda Nana yang sedang dibonceng. “Apa hawanya sangat dingin sehingga kau ingin ku peluk lebih erat?”

Bukannya membalas ucapan gadisnya, Jimin malah terkikik pelan sambil terus mengayuh sepedanya dengan santai.

“Hei, Park Jimin. Kenapa diam? tak usah malu begitu” tanyanya polos, namun lelaki itu tak juga bergeming.

“Bukan begitu” Kekehan Jimin terdengar lebih keras setelahnya, “Kepalamu tadi membentur punggungku berkali-kali.  Kau sepertinya mengantuk, jadi kupikir kau harus berpegangan lebih erat padaku agar tak jatuh”

Seketika mulut Nana terkunci rapat. Mencoba mencerna lantunan kalimat Jimin barusan. Dan begitu ia paham, rasa malunya langsung mencuat.

Ayolah, barusan Nana tidak sedang mengantuk! Ia hanya—Ah, hanya sedang menikmati kehangatan moment musim gugur bersama Jimin, yang menyusuri panjangnya jalan di atas sepeda sepulang kencan mereka di taman hiburan. Bahkan suara gemerisik dedaunan kering dan gesekan ranting terdengar bagai musik penggiring indah baginya. Saking menikmatinya, ia sampai memejamkan mata. Tapi ia tak tertidur, sungguh!

Sial. Nana malu sekali.

Awalnya ia ingin bersikap sedikit manja selagi mencoba bercanda layaknya pasangan pada umumnya. Tapi respon Jimin yang di luar perkiraan malah membuat dirinya terkesan seperti gadis genit.  Ayolah Jimin, bisakah kau bersikap sedikit romantis?  Iya. Nana tahu kok jika kau adalah lelaki yang selalu jujur. Tapi, bisa tidak kau belajar membaca situasi, huh?

Ugh, mood Nana mendadak hilang.

.

 

“Besok aku ikut serta dalam persiapan konser  kecil untuk event tahun ini. Yah, meski hanya sebagai team properti, aku merasa senang sekali!” Jimin berujar antusias begitu Nana baru turun dari sepedanya, tepat di depan gerbang rumah gadis itu.

Good luck

“Besok aku harus datang lebih pagi, kau—”

“Ya, aku bisa naik bus ke kampus sendirian. Kau tak perlu khawatir” potong Nana cepat.

Berbeda dengan penuturan dingin Nana, lelaki itu justru memasang wajah cerianya—seolah tak terjadi apa-apa.

“Sudahlah cepat pulang! kau ‘kan harus bangun pagi, kau harus istirahat” tukasnya sensi, kemudian membalikkan badannya untuk menggapai gerbang rumahnya.

“Nana”

Baru saja ujung flat shoes putih Nana menyentuh paping halaman rumahnya, suara lirih lelaki itu kembali menyeruak dan secara otomatis membuat Nana kembali berbalik menatapnya. Seketika itu pula, entah kenapa ia mengharapkan sesuatu akan terjadi.

Hening cukup lama, sampai…..

Gomawo atas pengertianmu”

Hanya itu?

Oke, baiklah Jimin. Kau memang keterlaluan. Itu bukanlah perkataan yang diharapkan Nana. Padahal ia sudah bersikap sedingin mungkin.

Sebagai sahutan, ia pun mengangguk dan tersenyum paksa.

“Nona Lee”

“Apa lagi?”

“Atas hari ini juga, terimakasih ya” Sejenak Jimin menggaruk tengkuknya. Setengah wajahnya nampak berbinar malu lantaran senyum teduh ‘khasnya memancar di bawah terangnya lampu jalan. “Mian, hanya bisa sebatas mengajakmu jalan-jalan di  taman hiburan tadi. Tapi, kau tahu? aku merasa senang karena melakukan hal itu bersamamu. Ah, sebelumnya kita memang selalu menghabiskan waktu bersama kan? Tapi entah kenapa malam ini aku merasa hari ini begitu special. Apa karena kita tahu bahwa kita saling mencintai?”

Tanpa sadar Nana nyaris menjatuhkan tas selempangnya.

“Kau juga lelah bukan? sebaiknya cepat masuk ke kamarmu”

Lagi. Jimin menarik ujung bibirnya juga tangannya yang langsung tergerak mengusap puncak rambut gadis itu.  Seolah perkataannya barusan hanya kata-kata biasa tanpa menyadari jika tindakannya ini hampir saja membuat nana sesak nafas lalu pingsan di tempat. Ah, tidak. Hal itu sepertinya terlalu berlebihan.

“Selamat malam, Nana. Mimpikan aku ya!”

Nana masih terbengong-bengong di tempat tanpa berkutik barang sedikitpun. Bahkan ia sampai tak menyadari kalau Jimin sudah mengayuh sepedanya sambil melambaikan tangan.

Kali ini ia tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum. Matanya terpaku, menatap punggung lelaki itu yang kian menjauh. Ayolah, gadis mana sih yang tak lumer jika diperlakukan seperti ini? rasa kesal rupanya sudah menguap dan tergantikan oleh rasa bahagia.

.

.

Lelaki itu —Jimin— tengah menyapu pandangan ke segala sudut taman belakang kampus.

Belum lama bola matanya berjelajah, wajah tampanya tiba-tiba berubah cerah kala seorang gadis bertubuh mungil nampak melambaikan tangan di balik semak-semak pendek sambil duduk di atas bangku taman.

“Kau terlambat 15 menit 25 detik, Jim” sambut gadis itu ketus yang tak lain adalah Nana ketika Jimin baru saja tiba di sampingnya.

“Ah maafkan aku. Persiapan konser minggu depan memakan banyak waktu” jawabnya sembari mengeluarkan sesuatu dari tas plastic yang sejak tadi dibawanya. “Nih, aku juga mampir ke kantin untuk membelikanmu ini”

Sekaleng cola, dan….

1 cup pudding cokelat serta yogurt rasa raspberry.

“Cemilan kesukaanmu. Kau pasti sejak pagi belum sarapan kan?”

“Kau sedang menyogok ku agar tak marah ya?” Meski berintonasi demikian, tak membutuhkan waktu lama bagi Nana agar segera menerima makanan itu.

Semenjak hubungan persahabatan mereka berubah jadi ikatan sepasang kekasih , sebenarnya tidak banyak terjadi perubahan selama 3 bulan ini. Jimin tetap bersikap seperti biasanya, yaitu menjemputnya untuk pergi ke kampus bersama, makan siang sepulang kuliah, atau sekedar menghabiskan waktu bersama dan membahas berbagai hal. Entah itu mengenai apa saja yang mereka alami di pagi hari, keseharian di kampus, tentang siapa dosen paling menyebalkan, atau adik lelaki Jimin yang sulit diatur. Mereka biasanya janjian untuk bertemu di taman kampus sepulang kuliah atau jika sedang jam kosong saja, mengingat mereka kuliah di fakultas yang berbeda. Jimin berada di Falkutas Seni Pertunjukan dan mengambil kelas seni musik, sedangkan Nana memilih Fakultas Seni Rupa dan Desain yaitu Fotografi.

Nana telah mengenal lelaki itu selama 12 tahun semenjak ia pindah ke perumahan di daerah Seoul. Disanalah ia mengenal sosok tenang Jimin. Kebetulan rumahnya hanya beberapa blok dari tempatnya tinggal.

Sejak kecil, Jimin selalu melindunginya.  Jimin pun sering merelakan dirinya dipukuli oleh anak-anak nakal yang suka menganggu Nana di sekitar kompleks rumah. Yang ia lakukan hanya ingin melindungi Nana, entah karena apa.  Berkat perlakuan Jimin tersebut, gadis itu pun mulai merasa nyaman padanya.

Saat Nana kecil sendirian bermain ayunan, Jimin datang menghampiri dan mengajaknya bermain sepeda bersama. Kala Nana sedang sedih lantaran kesepian, Jimin akan ada di dekatnya untuk menghibur gadis itu, membuatkannya sebuah lelucon—meski tidak cukup lucu— tapi berhasil membuat gadis itu tertawa terpingkal-pingkal. Begitulah seterusnya sampai mereka jadi teman dekat.

Lalu di usia mereka ke-9 tahun, Jimin mengenalkan Taehyung dan Jungkook padanya. Mereka  pun ikut hadir dalam kehidupan Nana. Memberi warna  lebih banyak, dan sebuah pertemanan baru yang begitu indah. Sebesit hubungan manis dimana Nana merasa hidupnya terasa berbeda dari sebelumnya. Pada masa itu juga, Nana mengenal sesuatu  yang disebut ‘persahabatan’ dan mengalami yang namanya suka duka bersama.

Kalau teringat itu, sulit dipercaya rasanya jika sekarang Jimin menjadi kekasihnya.

Memang benar jika tak banyak perubahan yang terjadi, tetapi Bedanya, ada hal lain yang justru telah mengikat keduanya. Yaitu terletak di dalam hati mereka bahwa perasaan saling mencintai dalam benak keduanya sudah tersampaikan. Dan mereka mengakui, hal itu adalah sesuatu yang begitu indah.

 

.

.

 

“Nana, aku akan tampil di konser yang diadakan 3 hari lagi”

Ucapan tiba-tiba Jimin tersebut refleks membuat Nana menoleh kearahnya. Mereka baru saja memulai langkah untuk mencapai Bus di seberang jalan.

“Waaaah jinjja? chukkae! Eh, tapi saat itu kau bilang hanya sebagai team property?”

Ya, Nana memang tahu perihal ini. Setiap tahun Younghwa University tempatnya berkuliah, pasti mengadakan event besar-besaran yang dipersembahkan oleh mahasiswa maupun mahasiswi dari beberapa falkutas agar mendapat kesempatan untuk memamerkan hasil kerja kerasnya dan belajarnya selama ini. Bisa dibilang kalau ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan potensi masing-masing. Biasanya yang paling banyak menyumbang acara adalah dari Falkutas Seni Pertunjukan maupun Seni Rupa dan Desain. Jika mahasiswa seni rupa dan desain kebanyakan mendirikan stand pameran lukisan, pameran busana, fotografi, museum mini, ataupun pameran ruangan desain interior sebagai pelengkap event, maka mahasiswa seni pertunjukan menampilkan acara yang menjadi pusat perhatiannya atau lebih dikenal dengan inti event. Diantaranya adalah pertunjukan parodi, modern dance, drama, dan yang paling ditunggu adalah konser musiknya. Entah itu band, solo, atau yang sedang booming yaitu boy and girlband bentukan khusus dari kampus tersebut.

Di Korea, industri musik memang sangat menjanjikan dan menjadi iming-iming bagi siapa saja. Maka tak jarang kalau di negara itu banyak menyediakan sekolah musik yang nantinya akan melahirkan musisi-musisi sukses dan mampu merajai dunia dengan karyanya. Begitu halnya dengan Jimin yang memiliki impian untuk menjadi seorang penyanyi hebat.

Di Universitas ini sendiri, untuk bisa masuk kelas musik tidaklah mudah. Bibitnya dipilah dengan penuh pertimbangan dengan standart dan syarat yang tinggi. Bila sudah diterima mereka akan di latih mulai dari vocal, penciptaan lagu, pengenalan dan pendalaman terhadap alat-alat music, ataupun menciptakan lagu. Dan yang membanggakan lagi, apabila berhasil lulus dengan hasil terbaik mereka akan bisa menjadi seorang artis tanpa lagi mengikuti training di Agency lain. Justru akan langsung direkrut oleh perusahaan yang telah bekerja sama dengan Falkutas ini.

“Awalnya memang begitu. Tapi aku tak tahu kenapa tiba-tiba Yoon Gi Seonbae menunjukku untuk ikut serta dalam menyanyikan sebuah lagu. Padahal kan waktunya sudah dekat. Memangnya aku bisa mempersiapkannya  dalam waktu singkat?”

“Hey, kenapa kau jadi pesimis begini? bukankah ini kesempatan bagimu? Aku yakin Yoon Gi seonbae memilihmu karena dia yakin akan potensimu  dan menyadari bagaimana indahnya suaramu itu! Ayolah Jimin, aku pasti akan datang menyemangatimu!” katanya antusias.

“Tapi… sebenarnya ada hal lain yang membuatku  ragu, Nana”

“Astaga memangnya apalagi? kau hanya cukup berlatih serius dan percaya diri”

“Bukan itu…”

“Lalu apa?”

“Masalahnya aku akan tampil berduet bersama Hana seonbae. Menurutmu apa aku bisa melakukannya?”

Setelah mendengar penuturan itu, raut wajah Nana berubah.

.

.

Awalnya Nana memang tak keberatan kalau ternyata Jimin harus tampil berduet bersama seorang gadis bernama Hana itu. Toh hanya duet, pikirnya di awal. Tapi setelah mendengar penjelasan panjang Jimin mengenai tema lagu yang akan mereka bawakan dan juga konsep apa yang akan mereka tampilkan, membuat Nana merasa risau seketika. Bayangkan saja, di konser nanti mereka harus bernyanyi sambil berpegangan tangan. Parahnya lagi, mereka harus saling menatap satu sama lain dalam waktu lama dan menghayati peran mereka dalam lagu itu. Well, Nana tak berani membayangkannya.

Dan yang lebih menyebalkannya lagi, hari itu adalah hari peringatan ke-100 hari hubungannya dan Jimin! masa ia harus melihat kekasihnya menggenggam tangan gadis lain? dan anehnya, Jimin bukannya memikirkan perasaan Nana yang membiarkan dirinya bersama gadis lain, melainkan rasa gugupnya bila harus bersanding dengan gadis se-populer Hana. Grrrrr

Tetapi meskipun ia merasa terbebani akan spekulasi buruknya, ia tetap datang ke event itu dan langsung menuju ke tempat dimana acara konser itu diadakan. Bagaimanapun ia sudah janji untuk menyemangati Jimin. Ya setidaknya ia harus menyiapkan mental dulu, mengingat ia memiliki sifat yang mudah cemburu.

Setibanya disana, terlihatlah sebuah panggung yang cukup besar yang di dekorasi seapik mungkin agar terciptanya kesan mewah lengkap dengan alat music, mic, beserta property konser pada umumnya. Penontonnya sendiri sudah cukup ramai. Tapi beruntung sekali rentetan bangku penonton di deretan depan ternyata masih banyak yang kosong, Nana pun memilih duduk disana.

Setelah menunggu setidaknya 18 menit, nampaklah seorang MC yang langsung memberi sambutan kemudian membacakan susunan acara tersebut.

Penampilan pertama dibawakan oleh sebuah band bernama Ft. Island yang sangat terkenal di Universitas itu dan mereka berhasil menunjukkan yang terbaik atas penampilan mereka yang membawakan lagu “Hello” atas ciptaan sendiri.

Kemudian dilanjutkan oleh penampilan solo dari seorang gadis bernama Lee Hi dengan lagu berjudul “Rose” yang lagi-lagi  berhasil menghipnotis penontonnya akan irama jazz yang ia bawakan.

Begitupun yang ke-3,

ke-4

ke-5…

dan tibalah penampilan yang paling dinantikan Nana sekaligus membuat jantungnya berdetak kencang.

“Aku benar-benar tak sabar untuk penampilan yang satu ini”

“Memangnya kenapa?”

“Astaga, kau tak tahu? setelah ini adalah penampilan Joo Hana seonbae-nim! dia adalah mahasiswi terbaik di jurusan seni musik. Bahkan saat event tahun lalu, ada produser yang sudah merekrutnya karena suaranya yang sangat merdu dan indah. Setelah lulus, dia akan langsung debut tanpa perlu lagi melakukan training di agency milik produser itu. Di tambah lagi wajahnya itu cantik dan memiliki postur tubuh tinggi langsing. Dia benar-benar gadis yang nyaris sempurna”

Samar-samar Nana mendengar percakapan dua orang gadis di belakangnya. Kalau tak salah ia mendegar kata ‘nyaris sempurna’.  Perasaannya pun mendadak tak enak.

Daebak!”

“Kudengar, kali ini ia akan berduet dengan seorang laki-laki”

“Wah kira-kira siapa ya laki-laki itu? beruntung sekali dia!”

beruntung? justru gadis itulah yang  beruntung karena berduet dengan laki-laki setampan dan sehangat Jimin, huh! sok tau sekali, Nana mendengus kesal. Ia jadi makin penasaran siapa sih sosok Joo Hana yang katanya nyaris sempurna itu?

“Aku berani bertaruh kalau laki-laki itu akan jatuh cinta pada Hana seonbae-nim. Hi hi hi” celetuk suara itu lagi.

Lagi-lagi Nana harus menahan amarahnya yang sebentar lagi akan membuncah. Bisa-bisanya gadis-gadis penggosip itu membicarakan hal yang tak benar! kalau bukan di tempat ramai begini, bisa dipastikan ia akan menyumpal mulut menyebalkan itu dengan kaos kakinya. Namun di sisi lain, rasa khawatir menyergap benaknya.

Instrumental music kembali terdengar. Kali ini terdengar sangat lembut sampai-sampai membuat Nana sukses terdiam. Ia kenal lagu ini.

One Year Later yang di bawakan Onew Shinee dan Jessica SNSD. Ia ingat, ia pernah mendengarkan lagu ini bersama Jimin ketika mereka masih duduk di bangku SMP.

Terdengarlah suara bening seorang gadis mengalun indah. Ia melangkah dari sisi kanan panggung menuju ke sisi tengah. Menunjukkan penampilannya kepada seluruh penonton. Seakan memberi tahu bagaimana cantik serta anggunnya ia.  Tubuh indahnya dibalut oleh gaun selutut bewarna peach juga rambut bergelombang panjangnya yang tergerai.

Hanhameul kkumeul kkun geot gata
“it feels I’ve been dreaming for a long time”

Handongan hemaego hemeda
“I’ve wandered and wandered around for a while”

Machi yaksogirado han deut
“As if we made a promise”

Nae gyeorul geoseullo geu nalcheoreom

“Standing here in front of each other”

Maju seoinnen uri
“Like that day from four seasond ago”

Penghayatan dan suara yang sempurna, batin Nana tanpa sadar.

Namun entah kenapa, lagu itu malah membawa imajinasinya mengarah pada ingatannya bersama Jimin sebelumnya. Masa ketika mereka bersama saat di danau kala itu. Serta untaian kata lelaki itu sebelumnya…

Geu ttae uriga sseonaeryeogatdeon aremdawowatdon iyagi
“those beautiful stories that we wrote down together”

“Maka dari itu, ada masa dimana kita tak lagi bisa seperti dulu. Kita tak akan selamanya bermain bola, bermain petak umpet, atau bermain lumpur layaknya anak kecil. Kita akan tambah besar, menjadi dewasa, sibuk dengan urusan kita sendiri, dan akan menua. Waktu akan terus bergerak maju tanpa memperdulikan apa saja yang dilewati, dan kita mau tak mau harus mengikutinya.”

Geu ttae uriga gidohaesseotdeon yeongwon hajadeon yaksokdeul
“those eternal promises that we prayed for at that time”

“Aku tak ingin kehilangan sahabat yang pernah kumiliki. Kau yang terbaik. Kau yang paling bisa memahami perasaanku. Kau yang paling mengerti bagaimana lemahnya aku.”

Hanasik teollida naeui gaseumi
“they’re all coming back to me prayed for at that time”

“Walaupun nanti kau akan menikah dengan wanita lain, memiliki anak, dan jadi Ayah yang super sibuk, kumohon tetaplah peduli padaku. Meskipun kau tak melakukannya, setidaknya jangan pernah lupakan aku. Tetap jadi dirimu yang selalu baik terhadap siapapun.”

Gyeondiji mot halgeol algie

“I don’t think my heart cat take it”

“Kau harus berjanji padaku”

Ne saenggage kkukkkuk chamasseo

“I’ve even restrained nyself at thought of you”

“Iya aku janji”

 

Neoui il nyeneun tto eottarsseonni

“How has your year been?”

“Iya. Aku tak akan membiarkanmu sendiri. Selama aku masih bisa menjagamu, aku akan melakukannya. I swear”

Hana baru saja menyelesaikan bait yang ia bawakan begitu intro musiknya kembali terdengar dan Nana pun baru tersadar. Bagaimana bisa gadis itu menghipnotis semua penonton bahkan Nana sendiri ikut terbawa mengikuti dalam penghayatannya?

 

Kemudian, lirik di bait berikutnya disusul oleh suara indah Jimin yang terlantun begitu lembut. Ia juga melangkah perlahan seperti yang dilakukan si gadis. Bedanya, ia datang dari sisi kiri. Tepat begitu langkah kaki Jimin sudah menghantarkan tepat di hadapan Hana, tangannya meraih jemari gadis itu lalu menautkannya dengan erat.

Awalnya mungkin saja Nana merasa damai ketika ia terbawa oleh lagu Hana serta kenangan indahnya bersama jimin sebelumnya. Namun apa yang ia lihat barusan meruntuhkan pertahanannya seketika. Apa yang dilihat membuat dadanya memanas. Namun sekeras mungkin ia menahannya sembari bergumam lirih, “Tidak apa Nana, ini hanya tuntutan scenario saja. Nikmati saja lagu ini. Anggaplah lagu ini Jimin nyanyikan untukmu”

Lagu itu terus mengalun dengan apiknya sampai-sampai penonton hanya terdiam saking menikmatinya. Suara lembut Jimin berhasil melengkapi suara bening nan sempurna milik Joo Hana. Begitu sampai dibagian bait terahkhir lagu, keempat pasang mata itu saling menatap sama lain.

“Tunggu dulu…”

Oneul gateun mamman…

 

Dasin eopgae…

Ketika lirik terahkir itu dilantukan, Hana menatap mata Jimin sangat dalam seakan menyiratkan suatu hal yang mewakili perasaanya.  Lalu sepersekon berikutnya bibir gadis itu menggapai bibir Jimin, tepat di saat instrument berakhir dan tirai panggung di tutup.

“WOAAAAAAAAHHHH!”

plok plok plok plok plok

Teriakan serta tepuk tangan keras menyeruak di udara. Tapi tidak halnya dengan Nana. Ia hanya mampu membeku ditempatnya dengan rahang turun, wajah memanas, juga jantung yang berdebar hebat . Butuh waktu baginya mencerna akan apa yang baru saja terjadi.

“A-apa.. itu termasuk dalam scenario juga?”

.

.

“Nana… aku—“

PLAKKK

Jimin tersentak kala merasakan pipi kanannya berkedut karena Nana menamparnya keras sekali. Namun itu tak seberapa ketika gadisnya berdiri dihadapannya, menatapnya nyalang dengan kebenciannya yang mendalam. Ini pertama kalinya ia melihat tatapan seperti itu dari Nana.

“Kau bilang hanya berduet saja! apa Yoon Gi Seonbae juga menyiapkan konsep konyol itu, hah?! berani-beraninya kau berciuman dengan gadis lain bahkan disaat pacarmu sedang menontonmu!”

“Nana.. Ini tidak—“

“Kau bilang kau hanya berpegangan tangan saja, lalu yang barusan kulihat itu apa?! tega sekali kau Park Jimin!”

Nana sekeras mungkin menahan tangisannya agar tak tumpah selagi menggigit bibirnya kuat-kuat. Apa yang dilihatnya barusan benar-benar membuat hatinya seakan dihantam oleh bongkahan besar. Bagaimana bisa ia melihat kekasihnya sendiri berciuman dengan gadis lain di atas panggung? Apa Jimin tak tahu betapa bahagiannya Nana saat mendengar Jimin mendapat kesempatan untuk tampil di konser? Betapa antusiasnya ia akan ekspetasinya nanti bisa memeluk Jimin sambil memberikan pujian yang banyak akan penampilannya setelah itu? Padahal Nana berniat memberikan sebuah kejutan kecil pada lelaki itu setelah ini. Tapi semuanya mendadak hancur hanya karena konser terkutuk itu. Kenapa Jimin…. kenapa kau melukai perasaan Nana seperti ini?

“Kau harus mendengarkan penjelasku.. ku mohon..”

“Penjelasan apa lagi, huh? sekarang aku sadar kenapa sebelumnya kau merasa gugup untuk tampil bersama Joo Hana. Jadi ini penyebabnya? karena kau suka padanya ‘kan? hari ini kau berhasil membuat pertunjukan yang hebat Jimin!” Nana tersenyum getir.

Apa yang dilihat Nana sudah jelas. Ia tak butuh lagi penjelasan. Joo Hana memang gadis cantik yang bisa saja memukau siapapun, bahkan Jimin.  Yang ia tak habis pikir, kenapa Jimin setega itu padanya? Maka dari itu, tak menunggu waktu bagi Nana untuk segera menemui Jimin saat konser telah berakhir tadi.

“Aku tak peduli kau mau menganggapku kekanak-kanakan atau bagaimana. Tapi kurasa, hubungan kita berakhir sampai disini!”

Tanpa menunggu arahan lagi, Nana lantas berbalik meninggalkan Jimin. Air matanya telanjur tumpah. Persahabatan jadi cinta? Apanya…. Ini bahkan lebih buruk.

“Nana!”

Tak peduli seberapa kalipun Jimin menyebut namanya, gadis itu telanjur berlari sekencang-kencangnya. Menangis sejadi-jadinya diantara derasnya air hujan seorang diri.

Nana memang kekanak-kanakan. Nana memang keras kepala. Nana memang orang yang tak mau berfikiran panjang. Nana memang gadis yang egois. Nana memang seperti itu. Bukankah Jimin sudah tahu? Lalu kenapa ia melakukan ini padanya? Seharusnya Jimin tak memulai hubungan yang lebih dari seorang sahabat. Dengan begitu, bila hal ini terjadi, hubungan mereka tak akan seperti ini.

Nana jadi teringat perkataan teman-teman wanitanya saat di SMA dulu, “Jika kau berpacaran dengan sahabatmu sendiri, saat kau putus nanti rasanya akan buruk. Kembali bersahabat? Itu pasti akan sangat sulit karena kalian akan sama-sama canggung dan menjaga jarak.”

Seharusnya…. Jimin dan Nana tak saling menyatakan perasaan mereka. Bukankah lebih baik jika bersahabat saja seperti sebelumnya? ia jadi takut apa yang akan terjadi setelah ini.

Untuk kali pertama Nana kecewa terhadap lelaki itu dan juga, dirinya sendiri.

.

.

Sehari setelah hari terkutuk itu, Nana benar-benar menjadi pribadi yang berbeda. Ia bahkan tak menghiraukan Jimin yang sudah datang ke rumahnya, meneleponya berkali-kali, bahkan lelaki tu sampai memohon kepada bibi Mirae agar diijinkan masuk ke kamar Nana. Tapi usaha laki-laki itu nihil.

Nana yang periang tiba-tiba menutup dirinya. Sebelumnya ia memang gadis yang tertutup, tapi bukan berarti ia tak menyahut kala ia disapa oleh teman-teman di kampusnya atau mengabaikan salah satu teman sekelasnya yang ingin berbagi cerita dengannya. Bukan, bukan seperti itu. Nana adalah anak yang ramah dan bisa bergaul, namun untuk bisa menjadi teman dekatnya sangatlah sulit karena tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan seorang Nana Lee. Tetapi untuk hari ini, ia sama-sekali tak mau bicara. Bahkan ia mengabaikan sapaan pagi dari teman sebangkunya.

Sifat terbutuk Nana adalah ia tak mampu menutupi apa yang tengah ia rasakan melalui ekspresi. Bila ia sedang terluka maka ia akan murung dan diam tanpa memedulikan orang-orang yang merasa diacuhkannya. Kalau sudah begini, tak akan ada yang berani memulai pembicarannya dengannya.

Biasanya, yang hanya bisa mengerti keadaan gadis itu hanya ketiga sahabatnya. Dan yang akan membujuknya untuk mau membagi lukanya serta mendengarkan keluh-kesahnya dengan sabar adalah Jimin seorang. Ah tidak, Jungkook dan Taehyung juga selalu bersedia menyiapkan bahunya sebagai sandaran Nana. Tapi cara Jimin berbeda dari kedua sahabatnya itu. Ya Jimin… ah, mengingat namanya saja sudah membuat Nana ingin menenggelamkan dirinya di danau. Kenapa kepercayaannya terhadap lelaki itu harus dikhianati begini?

Mungkin kau berfikir Nana sangat berlebihan dan menyebalkan. Kenapa dia tak mau mencoba memberi Jimin kesempatan dan mendengarkannya baik-baik?

Rasa sayangnya yang teramat besar terhadap lelaki itu dan betapa ia percaya pada lelaki itu, tentu bukan hal mudah ia terima mengenai kejadian kemarin. Ia tak butuh penjelasan Jimin, apa yang ia lihat sudah jelas. Begitulah keras kepalanya seorang Nana Lee.

Disinilah pola pikir serta kedewasaan kita diuji. Ada masa dimana seseorang yang merasa kecewa akan berfikir bahwa ia adalah orang yang paling terluka tanpa peduli untuk mengetahui kebenarannya atau sekedar mengetahui adanya everything happen for a reason. Ia berfikir bahwa orang yang telah melakukan kesalahan padanya adalah orang jahat tanpa mengingat kebaikannya yang terdahulu. Oleh karena itu, ketika dalam kondisi seperti ini seseorang bisa menjadi pribadi yang sensitive secara tiba-tiba. Dengan berdiam diri adalah cara terampuh untuk menutupinya dari orang lain meskipun itu malah kentara sekali.

Untuk saat ini Nana hanya butuh waktu untuk merenung dan memahami keadaan. Waktu untuk melepas segala spekulasi buruk serta kekecewaannya terhadap Jimin. Akan datang waktu dimana Nana mau mendengarkan lelaki itu untuk bisa memahaminya. Karena Nana tahu Jimin bukanlah orang jahat. Terlebih bagaimana sikap lelaki itu padanya selama ini. Pasti ada sesuatu yang salah sebelumnya. Nana berusaha menyakinkan dirinya demikian tapi…..

“Kau, Nana Lee bukan?” sapaan hangat serta sentuhan di bahu kirinya membangunkan Nana dari keterpurukannya. Matanya pun memincing karena mendapati seorang gadis berdiri tepat membelakangi sinar cahaya mentari. Wajahnya pun jadi tak terlihat. Tapi Nana kesal juga. Siapa coba yang berani-beraninya menganggu aksi galaunya di taman halaman belakang falkutasnya.

“Ada yang ingin kubicarakan padamu, tentang Jimin…”

Mendadak darah Nana terasa mendidih. Ia pun beranjak berdiri dan barulah ia menyadari sosok wanita cantik di hadapannya ini adalah Joo Hana. Semakin naiklah rasanya darahnya.

“Maaf saya tak membutuhkan penjelasan anda. Lagi pula saya sudah putus dengan Jimin” tolak Nana tegas. Seolah bisa menebak apa yang akan Joo Hana jelaskan. Ia pun hendak berlalu tapi Hana menggenggam langannya erat.

“Kumohon, jika tidak Jimin akan semakin membenciku”

.

.

Jam terus berputar tiada henti. Hari-demi haripun terus berlalu tanpa diminta. Matahari kerap kali menampilan sinarnya, membawa embun yang sejuk pada setiap kelopak dedaunan dan bunga, kemudian ia menghilang seraya membawa guratan jingga di atas langit dan bulanpun akan merangkak naik kala langit sudah gelap. Begitu seterusnya sampai hari itu tiba.

Hari dimana Taehyung dan Jungkook akan kembali ke Korea.

“Nana! Kali ini kau harus mendengarkanku, kumohon” tepat ketika Nana keluar dari kelas bahasa inggrisnya, Jimin langsung meraih tangan gadis itu tak peduli jika gadis itu akan menepisnya dan marah padanya.

Jimin tak bisa memikirkan hal lain lagi. Yang terpenting ia harus kembali mengembalikan kepercayaan gadis itu kepadanya. Jika dengan mencoba mendatangi rumah gadis itu dan selalu gagal, maka Jimin akan menggunakan cara seperti sekarang. Yaitu dengan meminta bantuan teman Nana untuk mengetahui jadwal mata kuliah gadis itu. Beruntung hari ini jam mata kuliah Jimin sedang kosong jadi ia dengan sepenuh hati rela menunggu gadis itu di depan kelasnya sampai jam usai.

“Ya, hei! P-park Jimin? Bagaimana kau bisa kemari?! Y-yak lepaskan, eo” Berbeda dengan Jimin yang menatap lurus kedepan seolah tak terjadi apa-apa, Nana justru syok bercampur heran. Ia tak menyangka Jimin akan sampai sebegininya. Bagaimana tidak syok? Ia baru saja menginjak bibir pintu kelasnya dan tangannya langsung ditarik oleh lelaki itu yang terus mengoceh tak ada hentinya bahwa Nana harus mendengarkannya kali ini.

Jimin bahkan tak peduli terhadap puluhan mata yang memfokuskan pandangan padanya dengan tatapan ingin tahu.

“Kau mau membawaku kemana?? Lepaskan Jim, sebentar lagi aku ada mata kuliah lain tolong lepaskan aku!” Nana berusaha melepaskan tangannya tapi sepertinya itu mustahil karena genggaman Jimin begitu keras.

“Tidak akan sampai kau benar-benar mengetahui yang sebenarnya, Nana. Lagipula jam kuliahmu hari ini sudah habis kan? Kau jangan berbohong padaku. Tidak ada waktu lagi bagimu menghindariku dan terus membenciku” tegas Jimin hingga membuat Nana meruntuki dirinya dalam hati.

Shit! Bagaimana Jimin bisa tahu?

Jimin akhirnya menghentikan langkah kakinya begitu mereka sampai di pelataran perpustakaan falkutas seni rupa karena tempatnya yang jarang di lewati oleh lalu lalang mahasiswa disini. Sebelum ia benar-benar menatap Nana ia menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Memandang Nana dengan wajahnya yang sedikit pucat serta bibirnya yang tak tersenyum sedikitpun. Itu benar-benar bukan raut Jimin yang biasanya.

Nana sendiri sedikit tersentak melihat keadaan Jimin. Kemana wajah teduh dan periangnya itu pergi? Maka ia dengan berusaha tenang menanti Jimin berbicara.

“Aku tahu kau begitu marah atas kejadian kemarin” kali ini mata Jimin tepat menatap manik Nana. “Tapi bukan berarti kau pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasanku dulu, Nana”

“Kau harusnya bertanya dulu padaku kenapa aku pergi tanpa mau mendengarkanmu. Semua gadis, siapapun gadis di dunia ini akan melakukan hal yang sama apabila kejadian seperti itu terjadi secara live di depan matanya” potong Nana tegas seolah ia memiki alasan tersendiri atas apa yang telah ia lakukan sebelumnya.

“Maka dari itu, aku selalu berusaha menemuimu untuk menjelaskan semuanya setelah memberimu waktu sampai perasaanmu lebih tenang. Tapi kau malah terus menghindariku. Ini sangat menyakitkan, kau tahu?”

Mendengar itu seketika Nana menundukkan wajahnya. See? Kau bukanlah yang paling tersakiti, Nana.

“Nana, bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau mempercayaiku? Kumohon lihatlah wajahku” jemari Jimin menarik dagu Nana agar gadis itu melihat kearahnya lagi. Seolah agar bisa menemukan kesungguhan lelaki itu.

“Aku dan Joo Hana Seonbae…. Kami tidak..”

“YAAAK JIMIN!! NANA!! APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN DISANA EO?!”

Ditengah keseriusan kalimat Jimin, tiba-tiba ada suara lain yang melengking begitu kerasnya menengahi keduanya. Hal itu sukses membuat alis Jimin dan Nana tertaut. Lelaki itu bahkan sangat kesal. Siapasih yang berani-beraninya mengganggu moment terpentingnya?

Jimin baru saja hendak memaki pemilik suara tersebut. Namun, begitu ia menemukan sosoknya, betapa terkejutnya ia. Nana sendiri sampai nyaris menjatuhkan rahangnya begitu menyadari dua orang lelaki yang hendak berjalan kearahnya. Diantaranya memiliki rambut bewarna merah gelap dengan kaos biru disertai celana semi hip-hop yang diyakini pemilik suara tadi. Sementara satunya lagi tampil dengan rambut messy-style yang di cat coklat, berjalan sedikit lebih cepat dengan wajah ditutupi jemarinya seolah malu berjalan di samping lelaki berambut merah tadi.

Dengan reflex Jimin melepaskan genggaman tangannya pada Nana dan Nana menepis tangan lain Jimin yang menyentuh dagunya.

“KIM TAEHYUNGGG?! JEON JUNGKOOK?!”

.

.

“Wahh… aku masih tak percaya kalian benar-benar ada di depan mataku. Apa saja yang kalian makan disana? Bagaimana kalian bisa setampan ini sakarang, eo? Dan oh astaga Kim Taehyung, apa yang ada di otakmu sampai kau mengecat rambutmu menjadi seperti ini? Ah aku tak habis fikir”

Tadi siang, apa yang dilihat Nana dan Jimin memang sepenuhnya nyata. Kim Taehyung dan Jeon Jungkook, sahabat mereka yang super ajaib ternyata memang benar-benar datang ke kampus mereka berdua. Entah karena kehadiran keduanya yang tak terduga atau timing yang tidak tepat, respon Nana dan Jimin sama sekali tidak akward.

Exited? Tentu sama sekali tidak. Mereka justru terkejut setengah mati! Sampai-sampai jika bisa, Nana ingin melarikan diri sesegera mungkin dari tempat tadi dan Jimin ingin pura-pura pingsan aja. Kenapa dua lelaki itu harus muncul disaat Nana dan Jimin dalam posisi seperti tadi? Posisi dimana Jimin dan Nana saling menatap satu sama lain, tangan berpegangan, ditambah jemari Jimin pada dagu Nana.

Bagaimana jika Jungkook dan Taehyung curiga dan berfikir yang tidak-tidak?

Akan tetapi nampaknya doa Nana dan Jimin dalam hati terkabul karena ternyata keduanya tidak membahas hal itu. Melainkan hanya wajah super bahagia dan wajah tak berdosa khas Kim Taehyung dan Jeon Jungkook. Sayangnya kehadiran mereka berdua yang seharusnya disambut hangat malah disambut dengan canggung.

Agh, salahkan keduanya yang tanpa diundang dan berani-beraninya menginjakkan kaki di kampus Younghwa  secara tiba-tiba? Bukankah Taehyung dan Jungkook baru kembali ke korea 2 hari lagi?? Kalau seperti ini kan aneh rasanya. Padahal  rencananya ia ingin memeluk Taehyung dan Jungkook sambil menangis karena saking rindunya lalu menceramahi mereka karena sudah ditinggal selama setahun begitu Nana menyambut keduanya di bandara. Tapi yang namanya eskpetasi tetaplah ekspetasi. Bahkan realitanya jauh lebih buruk.

Niat Taehyung dan Jungkook yang sebenarnya ingin memberi supprise malah ternyata membawa bencana. Dan sekali untungnya mereka berdua tak menyadari hal itu.

“Hei Nana, kau ini bertanya atau nge-rapp eo? Aku sampai binggung mau menjawab apa” Taehyung  mencibir sembari menggelengkan kepalanya melihat Nana. Menyadari tak ada perubahan sedikitpun dalam diri gadis itu. Taehyung patut bersyukur karenanya.

“Tentu saja kita semakin tampan! kita hidup teramat baik disana, yakan Tae?” sahut Jungkook sambil membawa sepiring sosis bakar yang langsung disambut high five ria dari Taehyung.

Akhirnya disinilah mereka sekarang. Di belakang halaman rumah Taehyung kala hari sudah malam. Kembali menekuni reutinitas mereka yang dilakukan tiap setahun sekali—meski sempat absen tahun lalu—, yaitu kemah sederhana ala keempat kepompong itu. Ah, tapi bedanya malam ini mereka tak ditemani oleh tenda. Melainkan selembar karpet berukuran besar yang diatasnya diletakkan beberapa jenis makanan ringan. Yah, anggap saja ini adalah perayaan kecil-kecilan atas kembalinya Taekook.

Heol, semakin tampan apanya? Bagiku kalian terlihat sama saja. Malah semakin gila” celetuk Jimin yang sedang duduk diatas karpet sambil menjulurkan kakinya.

Aigoo. Uri jimminie, bilang saja kau selama ini begitu kesepian tanpa kegilaan aku dan Jungkook, eo?” Goda Taehyung yang langsung berbaring dengan menyandarkan kepalanya pada paha Jimin. Menatap ke atas langit malam seolah menyampaikan hatinya pada langit itu bahwa kebahagiaannya telah kembali.

“Asal kau tahu saja aku begitu popular disana. Ya, kau tahu sendiri kan aku sangat tampan dan menjadi idola sejak SMP? Jungkook sih tak ada apa-apanya jika dibandingkan denganku” ujarnya lagi dengan kepercayaan diri luar biasa. Ya memang begitulah Kim Taehyung yang padahal ia sendiri menyadari jika siapapun tahu jika dari dulu hingga sekarang yang digilai banyak gadis melebihi dirinya adalah seorang Jeon Jungkook. Kim Taehyung memang tak pernah mau kalah!

Melihat itu ditempatnya Jungkook berjengit tak terima,

Mwo? Ah jinjja sekiya. Daripada menyebut dirimu popular, jujur saja pada Jimin dan Nana jika kau sudah ditolak oleh Mrs.Sue sebanyak 3x”

“Yaa, Jeon Jugkook kenapa kau harus membahas masalah itu disini?”

“Kau duluan kan yang mengejekku” tukas Jungkook cuek sembari menjulurkan lidahnya. Melihat itu Kim Taehyung beranjak untuk mengejarnya. Tapi sebelum itu terjadi, Nana yang membawa sumpit lantas langsung melayangkan benda berbahan alumunium itu tepat di dahi keduanya cukup keras.

PLETAK! PLETAK!

“HYAA APPOO!” Taekook kompak mengaduh kesakitan.

“Terus saja kalian bertengkar. Bahkan tom dan jerry tak akan sebanding dengan kalian, huh!” cibir Nana “Kita sudah setahun tak bertemu, apa ini yang kalian ingin tunjukan padaku?”

Tak ada yang menyahut kecuali Taehyung dan Jungkook yang masih saling menatap dengan isyarat saling menyalahkan satu-sama lain sampai akhirnya mereka benar-benar terdiam ketika Nana memelototi keduanya. Jimin sendiri tak ambil pusing. Memang beginilah suasana yang terjadi ketika mereka bersama. Sangat berisik dan menyebalkan, tapi begitu dirindukan.

Setelah pertengkaran kecil itu, mereka berempat saling membaringkan badan secara sejajar dimulai dari urutan posisi Jimin, Taehyung, Jungkook, dan Nana di atas karpet. Mereka tak bersuara, hanya  sama-sama menatap langit yang cukup banyak terukir oleh bintang. Sepertinya mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Atau mungkin, mereka merasakan kelegaan karena bisa kembali bersama.

Pada kenyataannya tak banyak yang berbubah. Memang saat akan berpisah dulu, mereka berfikir apa yang akan terjadi setahun kedepan, atau tahun-tahun berikutnya. Apa mereka bisa kembali seperti dulu? Atau akan berubah saling tak peduli selayaknya sebuah pertemanan sementara yang tak memiliki arti?  Rasa takut akan bayangan mengerikan itu pastilah sempat terbesit pada benak masing-masing. Memiliki lalu kehilangan adalah hal terpahit bagi siapa saja.

Namun ternyata tanpa terasa setahun telah terlewati. Kala melihat kebelakang, satu tahun bukanlah waktu yang lama. Dan kenyataannya mereka bisa kembali bersama dengan perasaan yang sama sekali tak berubah seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak penting jika mereka sudah tak bisa bermain lumpur, mandi di danau, bermain petak umpet atau sepak bola. Karena mereka sadar bahwa kebahagiaannya bukan karena permainannya dulu, melainkan dengan siapa mereka melalui kenangan-kenangan itu.

Ah, betapa manisnya masa kecil mereka.

Ngomong-ngomong mereka sama sekali tak mengucapkan kalimat “aku merindukanmu” atau “Hey bodoh, aku benar-benar merindukanmu!” sejak tadi. Namun, meski begitu siapapun diantara mereka pasti merasakan perasaan rindu luar biasa itu. Tanpa sadar percakapan ringan mereka justru tersirat makna kerinduan yang tak tersampaikan oleh kata-kata.

“Ah, rasanya sudah lama sekali tidak seperti ini” ditengah keheningan mereka tiba-tiba Nana bersuara lirih sambil tersenyum. Membuat ketiga sahabatnya menoleh kearahnya.

Eo. Entah mengapa aku merasa ini pertama kalinya kita melakukan hal ini” jawab Taehyung seraya kembali menatap langit.

“Tak peduli seberapa kali melakukan hal ini, aku sama sekali tak merasa bosan. Aku justru ingin terus seperti ini” balas Jungkook.

“Tapi kita tak akan tahu apa yang akan terjadi pada tahun-tahun berikutnya” Jimin pun ikut membaur di dalamnya.

Mendengar itu Nana, Taehyung, dan Junggkook mengerutkan kening.

“Maksudmu, Jim?” Tanya Jungkook akhirnya.

“Kita memang bisa melewati waktu setahun itu dan tetap bersahabat. Bagaimana untuk setahun kedepan serta tahun-tahun berikutnya? Apa kita bisa melakukan hal ini?”

“Tentu saja bodoh. Kau ini bicara apa? Kita sudah bersahabat sejak kecil. Tentu aku akan selalu meluangkan waktu agar bisa menghabiskan waktu bersama kalian meski hanya setahun sekali” ujar Taehyung yang tak suka dengan pertanyaan Jimin.

Mendengar itu Jimin hanya tersenyum ringan, “Kau yakin? Bagaimana jika kesibukan membuat kita mengesampingkan segalanya, termasuk persahabatan kita? Kau tau Tae, hidup kita masih panjang. Akan datang saat dimana kita memprioritaskan 1 hal dimana hal lain akan kita abaikan”

Nana tersenyum simpul mendengarnya. Ia mengerti kemana arah pembicaraan ini karena ia sudah lebih dulu mengetahui hal ini dari Jimin.

Tae sendiri setika terdiam dan Jungkook Nampak mengartikan.

“Kau pasti mengerti maksudku” Jimin tertawa pelan meski ia sendiri merasa takut membayangkan perkataannya akan banar-benar terjadi di masa berikutnya.

“Yah Park Jimin aku membencimu. Perkataanmu selalu konyol tapi kenapa aku jadi ikut ketakutan seperti ini, eo? Menyebalkan sekali” timpal Jungkook dengan nada sebiasa mungkin.

“Dan aku ingin memukulmu karena kau selalu benar, Jim” ungkap Taehyung kemudian yang lagi-lagi disambut oleh keheningan malam.

“Kau tahu? Saat aku masuk dunia perkuliahan, aku menemukan banyak hal yang membuat pola pikirku berubah. Aku jadi benar-benar memikirkan apa bisa aku meraih cita-citaku? Dulu saat aku lulus SMA aku benar-benar yakin untuk menjadi seorang Telematika. Tapi ketika aku sudah merasakan bagaimana sulitnya materi-materi yang harus kupelajari, bagaimana ketatnya persaingan disana, aku jadi ragu. Apa aku bisa melalui ini dan berhasil jadi orang sukses?” Taehyung kembali bersuara.

Dunia perkuliahan adalah dunia dimana kita dapat memaknai hidup serta pandangan kita terhadap suatu hal lebih jauh lagi. Dimana akhirnya kita berkata, “Oh, ternyata seperti ini”,Apa aku bisa melakukannya?”, “Aku akan berusaha lebih baik lagi”, “bagaimanapun aku harus berhasil” Mungkin memang tidak semua orang, tetapi setidaknya mindseat kita akan berbeda dengan ketika masih duduk di bangku sekolah. Kita akan memandang jauh kedepan, menyusun rencana-rencana, serta memikirkan taktik persiapan.

“Untuk menjadi sukses kita harus berusaha. Dan untuk berusaha kita harus focus dan membutuhkan banyak waktu. Lalu ketika kita konsentrasi akan ambisi itu, maka mau tak mau kita mengesampingkan yang lain. Contohnya berpacaran atau menghabiskan waktu bersama teman…. Pemikiran itu kerap kali menggangguku. Karena aku sadar akan menjadi orang dewasa yang super sibuk, aku merasa khawatir jika masa remajaku yang sangat menyenangkan akan berakhir begitu saja.”

“Tetapi apa kita bisa menjadi sukses tanpa dukungan teman ataupun orang-orang terdekat kita?”

Suasana berubah begitu serius sehingga tak ada satupun yang menimpali perkataan Taehyung. Lelaki ajaib yang selalu nampak cengengesan dari luar ini pada dasarnya memang memiliki otak yang sangat cerdas dan pemikiran cukup dewasa. Jadi untuk urusan membahas masalah seperti ini, ia tak boleh diremehkan.

“Namun, saat aku teringat orang tuaku, kau Jim, Jungkook, Nana… rasanya untuk apa aku merasa khawatir? Aku percaya bahwa kalian akan selalu ada untukku entah saat di waktu yang kuminta, atau kalian yang akan datang dengan sendirinya. Aku sangat mengenal kalian. Perubahan pasti akan datang, tapi ini tergantung dari diri kita sendiri. Apakah kita mampu menerimanya lalu membiarkannya mengalir begitu saja, atau menerima dan menjalaninya tanpa melupakan orang-orang yang telah men-support kita sampai ke titik itu”

Kali ini Jimin tersenyum penuh arti. Mendekatkan tubuhnya kearah Taehyung, lalu menepuk-nepuk pundaknya. “Aigoo, Uri Taehyung-ie benar-benar tumbuh semakin baik. Aku merasa begitu bangga padamu. Inilah yang kuharapkan darimu, Tae. Bagaimanapun kita nanti, jangan sampai saling melupakan, Eo?”

Hya, memangnya akunya dulu seperti apa sehingga kau sampai mengharapkannya dariku? Aish, dan kenapa kau berbicara seolah kau ini adalah Appa-ku?”

“Karena Taehyung yang kami kenal adalah Taehyung yang selalu konyol, jahil dan paling bandel diantara kami” sahut Nana yang ikut mendekat lalu memeluk lengan Taehyung.

YAAAAA!”

Jungkook pun ikut merapatkan tubuhnya kepada ketiganya sambil tertawa, “Aku sendiri masih tak percaya kau mengatakan hal itu kepada kami Taehyung, ah kemana perginya Tae-ku yang gila dan sering memalukan ini, eo? Tenang Tae, sekalipun kau suka sekali membatalkan janji denganku hanya demi Mrs. Sue aku tetap rela dan akan selalu menyayangimu, kok! Kau tak perlu khawatir, arra? hahaha”

YAAAA! Bukankah tadi aku sangat keren? Tapi kenapa kalian malah mengataiku?!!! Shirreo! Aku benar-benar membenci kalian!” ujar Taehyung sembari berusaha melepaskan rangkulan ketiga sahabatnya dengan sekuat tenaga namun gagal.

“Kami mencintaimu, uri Taehyung-ie!!!! HAHAHA” sambut ketiganya dengan kompak dan memeluk Taehyung semakin erat, tak mempedulikan teriakan histeris lelaki itu. Kapan lagi bisa mengerjai Taehyung seperti ini?

Setelah puas tertawa lepas serta saling ejek satu sama lain, mereka kembali terdiam dengan nafas terengah-engah. Selayaknya kehabisan topic pembicaraan, ke-4 kepompong itu malah tersenyum simpul karena menyadari betapa konyolnya malam ini. Suasana berisik yang sepertinya sudah lama sekali tak dilakoni. Sampai diantara mereka terbangun dan duduk diantaranya, kemudian ia menoleh ke arah Jimin serta Nana secara bergantian, “Eh iya… ngomong-ngomong tadi siang kalian sedang apa saat aku dan Taehyung menemukan kalian?”

Ternyata itu adalah pertanyaan polos Jungkook.

“Kalian terlihat serius sekali, dan…… kalian Nampak sedang berpegangan tangan?”

“UHUKK UHUK UHUK!”

“Kau kenapa Nana?”

.

.

Nana segera berlari menuju dapur Taehyung tanpa meminta ijin kepada si-empunya rumah. Taehyung yang sempat khawatir melihat Nana tiba-tiba terbatuk, malah menawarkannya dengan segelas cola. Tae memang gila, orang batuk malah ditawari minuman seperti itu. Setelah Jungkook menegurnya, Tae dengan santai berkata, “mau bagaimana lagi? Hanya ini yang ada disekitarku” lalu tanpa mempedulikan alasan Tae, Nana segera melesat ke dapur ini. Mencari air mineral sekaligus melarikan diri. Garis bawahi kata melarikan diri itu.

Begitu membuka isi kulkas, lantas ia segera meraih sebotol air mineral dan langsung menegaknya dengan brutal tanpa menuangkannya lebih dulu ke dalam gelas. Ia butuh membasahi tenggorokannya serta menghirup oksigen sebanyak mungkin. Ini bukan mengenai rasa harus berlebihan atau tenggorokannya yang kering karena tersedak, melainkan segera mengusir kepanikan yang melanda.

“Ternyata si kunyuk itu menyadari hal itu?” umpat Nana kemudian. “Ah eottokhae??!!”

Nana benar-benar takut dan binggung sekarang. Pertanyaan Jungkook barusan terlalu tiba-tiba. Tepat mengenai dirinya yang bahkan belum melakukan persiapan apapun. Mau berbohong pun sepertinya malah akan membuat lelaki dengan keingintauhan yang luar biasa tinggi itu malah semakin curiga padanya.

Padahal tadi siang ia sudah merasa lega karena Jungkook dan Taehyung sama sekali tak membahas hal itu. Tapi Nana sepertinya lupa kalau Jungkook memiliki kepekaan luar biasa dan juga akan melontarkan pertanyaan apa yang ingin ia pertanyakan dalam waktu yang berbeda. Selayaknya seseorang yang menyusun sebuah senjata, lalu memprediksi kapan waktu yang tepat untuk menggunakan senjata itu menghabisi sasarannya.

Sial sekali! Bagaimana caranya sekarang menjelaskannya pada Jungkook dan Tae ? pasti mereka bisa terkejut setengah mati. Nana tak berani membayangkan perihal respon apa yang akan diterima dari kedua sahabatnya itu nantinya. Lagian saat ini kan hubungannya dengan Jimin sedang renggang? Ah pasti ini akan sangat sulit.

Nana yang merasa kebingungan tiba-tiba mengerutkan alisnya begitu menyadari derapan langkah kaki menghampirinya dengan tenang, menampilkan sosok seorang lelaki yang tersenyum padanya penuh arti.

“Nana, kau tak perlu khawatir”

Wajah yang selalu ada dalam ingatannya,

Park Jimin.

.

.

Taehyung dan Jungkook menatap aneh punggung Jimin hingga menghilang di balik pintu belakang rumahnya. Lelaki berambut hitam gelap itu menyusul Nana setelah berkata bahwa ada yang harus segera diselesaikannya.

“Tae-a?”

Eo?”

“Tidakkah kau merasa ada yang aneh diantara mereka?”

“Bagiku mereka selalu aneh”

YAAAA!”

.

.

“Nana, kau tak perlu khawatir”

“Jimin…?”

Jimin semakin mendekat dan Nana terus menatap Jimin sambil perlahan mundur sehingga punggungnya menyentuh dinding wastafel.

Jimin tersenyum. Ia memang bersyukur karena malam kemah rutin mereka berjalan dengan baik tanpa sikap Nana yang canggung padanya. Tapi sepertinya gadis itu tak memaafkannya begitu saja atas kesalahan Jimin sebelumnya. Jadi ia sekarang kemari, menyelesaikan masalah tadi siang yang belum usai, lalu segera memberi tahu Jungkook dan Taehyung bahwa ia dan Nana memang berpacaran. Bagaimanapun ke-2 orang itu harus segera tahu bukan?

Selama ini Jimin diam bukan berarti ia berniat menyembunyikan hubungannya dengan Nana di belakang Jungkook dan Taehyung. Ia pasti akan memberitahu setelah memikirkan bagaimana cara serta waktu yang tepat. Ia sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari tanpa sepengetahuan Nana. Berlatih di depan kaca mengenai mimic wajah atau berbicara dengan kedua guling di kamarnya, mengumpamakan bahwa kedua benda kesayangannya itu adalah Jungkook dan Taehyung yang mungkin setelah mengetahui kenyataan itu akan syok setengah mati. Selebihnya ia tak membayangkan kemungkinannya.

Dan persiapan matangnya tersebut, akan ia tunjukkan pada hari ini.

“Kau tak perlu takut. Aku akan menjelaskan semuanya kepada mereka. Tapi sebelum itu, kita harus menyelesaikan pembicaraan tadi siang yang sempat tertunda”

Jimin pun menghentikan langkahnya, memberikan jarak minim antara dirinya juga Nana.

.

.

“Aku serius!”

“Aku juga”

“Maksudku, aku merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari kita. Apa kau tak menyadarinya?”

Mendengar itu Taehyung menggelengkan kepalanya tak peduli seraya melahap sepotong sosis yang sudah dingin karena telah terabaikan begitu lama.

“Mungkin mereka ada masalah di kampusnya, entahlah. Biarkan itu menjadi urusan mereka” ungkap Taehyung lagi setelah menelan kunyahannya.

“Jangan-jangan….”

“Ah matta! Yang tadi kau tanyakan pada Nana itu apa maksudnya, sih? Dia terlihat aneh setelah kau menanyakan hal itu. Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan diantara mereka”

SIAL_N!

Jungkook geram didalam hatinya. Namun kesabaran yang dimilikinya menahan hasratnya untuk meluapkan amarahnya terhadap Taehyung. Ia sungguh tak habis fikir dengan Taehyung. Baru saja bocah itu mengatakan hal yang begitu dewasa dan sangat keren, dalam hitungan detik ia sudah kembali berubah menjadi jati diri aslinya. Kemana saja kau dari tadi tae?

Dasar manusia 4D!

Karena kesal Jungkook mengambil asal barang-barang di dekatnya kemudian berhasil melemparkan sebuah tas dan tepat mengenai Taehyung.

BUG

“Yak kenapa kau malah melemparku?! Aww kepalaku”

Selain berhasil membuat kepala Taehyung benjol seketika, ternyata nasib dari tas tersebut tak kalah mirisnya. Isinya keluar semua! Parah. Pasti si empunya tas ini akan mengamuk bila mengetahui barang-barang didalamnya sudah berserakan kemana-mana.

Namun, bukannya mempedulikan ocehan si lelaki telolet macam Kim Tehyung, Jungkook justru menghampiri barang-barang yang berceceran tersebut dan meniliknya. Ada sebuah benda berbentuk persegi yang ia yakini adalah sebuah Pop-Up Book.

“Ini punya Nana, kan? Sejak kapan anak itu tertarik dengan hal semacam ini?” Ya tas yang menjadi korban tadi adalah milik Nana.

Taehyung yang sedikit merasa dongkol menerima fakta bahwa Jungkook baru saja mengabaikannya pun akhirnya ikut turut menghampiri.

“Coba buka isinya…”

Tanpa keraguan dalam hati mereka, dengan sekali anggukan akhirnya Jungkook membukannya. Lembar demi lembar. Namun sepertinya mereka akan mendapatkan masalah besar setelah ini. Mata Jungkook bahkan nyaris copot dan Taehyung bahkan mengangakan bibir selebar-lebarnya.

“INI TIDAK MUNGKIN!” seru mereka secara bersamaan.

 

.

.

“Bukankah kau pernah bilang padaku bahwa kau mempercayaiku?”

Bibir Jimin tertarik kembali untuk membuat seulas senyuman tipis. Lalu kemudian tangannya meraih sesuatu dari saku celananya. Menampakkan sebuah earphone yang sudah dipasangkan dengan headseat. Ia pun beralih menggerakkan tangannya, memasukkan benda itu di kedua telinga Nana tanpa permisi. Tapi herannya gadis itu tak menolak. Setelahnya Jimin memencet tombol disana dan Nana dapat mendengar sebuah suara lembut lirih sedikit serak yang diiringi acoustic ringan. Ia kenal suara ini. Khas sekali. Park Jimin?

“When I see you everythings stops I don’t know since when. One day, you came to me like a dream. You shook up my heart. I know it was destiny. I love you. Are you listening? Only you.  Close your love”

“Kau mendengarnya? Iya itu benar. Hanya kamu. Just falling in love with you”

Seketika hati Nana bergetar hebat dengan membuncahnya perasaan hangat entah dari mana asalnya.

“Aku sudah lama ingin menyanyikan lagu ini untukmu. Kau ingat tidak saat kita menonton drama descendant of the sun secara meraton? Kau bilang kau sangat menyukai lagu Always milik Yoon Mirae ini”

“Even  if everythings changes, this won’t changes. You’re my, I am your love. Even you take a little time to comeback, even if you pass over me, its alright. I’ll be here for you.”

“Aku sempat memaksa Yoongi Hyung untuk mengganti lagu pilihannya dengan lagu ini saat persiapan konser kala itu. Akhirnya ia mengizinkanku dan menemaniku latihan. Ya benar. Dia yang memainkan gitar dalam rekaman itu. Kau tahu aku tidak bisa bermain gitar kan?”

“I love you. Don’t forget. Only you. The confenssion of my tears”

Tepat saat lagu itu berakhir Jimin memejamkan matanya sejenak dan kembali melihat wajah Nana penuh dengan keyakinan.

“Nana inilah yang sebenarnya. Kejadian memalukan saat itu, bukan aku yang melakukannya. Ini kesalahpahaman.” Wajahnya kembali serius. Nana pun tak bisa mengatakan sepatah kata apapun dan ekspresinya sama-sekali tak berubah sejak tadi sehingga membuat Jimin tak bisa menebak bagaimana perasaan gadis itu sekarang.

“Ya aku tahu tak mudah begitu saja bagimu untuk percaya kali ini….”

“Hentikan Jim”

Nana memang akhirnya membuka bicara namun itu tidak membuat perasaan Jimin membaik. Apa gadis itu begitu membencinya sampai-sampai sudah tak mau mendengar penjelasan apapun darinya?

Jimini masih mematung sampai ia merasakan dekapan hangat memeluknya begitu erat.

“Kau tak perlu mengatakan apa-apa, Jim. Aku mempercayaimu…. Mianhae

“…..”

“Sebenarnya, aku sudah mengetahui segalanya dari Jo Hana seonbae

Benar. Sebelumnya Hana menemui Nana untuk menjelaskan segalanya bahwa insiden ciuman itu murni bukan kesalahan Jimin. Namun kegilaan atas sunbaenya tersebut yang menaruh hati pada Jimin dan berfikir dengan menciumnya, Jimin bisa menjadi miliknya.

Tapi itu adalah kesalahan besar. Karena bagaimanapun, Jimin hanya mencintai Nana seorang.

“Aku… hanya sedang mengujimu, Jim”

.

Dengan langkah pasti Nana dan Jimin saling bergandengan tangan untuk kembali ke halaman belakang. Apalagi kalau bukan menemui si dua khuyuk menyebalkan itu? Ya sepertinya ini waktu yang tepat untuk membongkar segalanya, memberi sebuah pengumuman bahwa mereka berdua memiliki hubungan lebih dari sekedar sahabat.

Jujur saja Jimin merasa lebih siap dari sebelumnya. Penjelasan Nana tadi bukan hanya memberi kelegaan bagi hatinya. Tapi juga cukup lucu kalau dipikir. Bagaimana bisa gadis itu mengujinya? Memangnya kurang dapat dipercaya apa Jimin selama ini, huh? Yang ada Gadis itu telah membuatnya menderita selama berhari-hari.

Apa jangan-jangan Nana merasa malu karena sempat salah paham padanya? Entahlah, biarkan itu menjadi rahasia Nana dan Tuhan. Yang terpenting ia sudah bisa bernafas lega sekarang.

“Tolong jelaskan ini kepada kami”

Nana dan Jimin baru saja menginjak tapak pertama di rooftop namun sudah terhadang oleh kedua lelaki itu yang kini saling melipat tangan di dada.

Berkat penampakan Pop-Up book di genggaman Jungkook itu wajah Nana malah memerah. Bukankah itu hadiah yang dipersiapkan Nana sebelumnya untuk Jimin sebagai hadiah 100 hari jadi mereka? Bagaimana bisa ada di tangan Jungkook?!

Oh tidak jangan sampai mereka melihat isinya! Disana ada puluhan foto mereka saat sedang berkencan dan tak lupa disetiap lembarnya telah disuguhi kata-kata cinta yang bisa dibilang cukup `cheesy’ benar-benar memalukan!

Kabar buruknya Jimin bahkan belum membacanya! Lengkap sudah.

“Kalian berpacaran?” tembak Jungkook cepat

Jimin memang sudah sangat siap. 100 persen siap. Tetapi memilihat sambutan yang cukup dibilang mengejutkan ini berhasil membuatnya kembali terdiam seribu bahasa.

“E-e-em… “

“JADI KALIAN BENAR-BENAR BERPACARAN?!”

“SERIUS?!”

“AKU BISA GILA!”

“Kita telah dipermainkan kawan!”

“Mereka keteraluan telah menyembunyikan ini dari kita”

Jungkook dan Taehyung tak bisa berhenti berbicara. Ini lebih dari sekedar mengejutkan. Sekali lagi, bagaimana bisa mereka berpacaran? Taehyung dan Jungkook tak berhenti memikirkan hal itu. Sampai akhirnya Jimin berusaha menenangkan mereka kemudian menjelaskan segalanya dengan jelas sampai akar dan kedua anak itu sekali lagi tak habis fikir.

“Kalian gila!”

“aku masih tidak percaya sama-sekali. Ya Nana, kau bahkan selalu melarangku berpacaran. Melarangku untuk pergi kencan. Dan sekarang kau malah memacari Jimin?”

“Sahabatmu yang satu ini memang egois” Timpal Jungkook.

Namun akhirnya tawa mereka pecah membaur, membayangan anak kecil yang dulunya hanya tahu bermain sekarang malah saling menjalin cinta. Oh Tuhan, Park Jimin dan Nana Lee sudah dewasa sekarang! Taehyung dan Jungkook turut bahagia dengan mengucapkan selamat lalu tak lupa segera memanjatkan doa dalam hati supaya mereka diberikan jodoh juga yang cantik namun tidak cerewet seperti Nana. Karena mereka bukan seorang Park Jimin yang mampu menghadapi gadis tempramental macam Nana Lee. Loh?

Dan tak lupa mendoakan Nana dan Jimin juga tentunya.

”Oh iya, Pop-Up Book itu memang isinya apa sampai kau tahu hubungan kami, kook?” ucapan Jimin yang tiba-tiba seolah mengingatkan kembali kembang api di kepala Nana. DUARR

“Kuyakin kau pasti akan muntah melihatnya” balas Kookie

“Aku malah merasakan perutku dipenuhi oleh kupu-kupu saking terharunya aku membaca tulisan Nana itu” Ejek Taehyung

“YAKKK!! I-tu bukan apa-apa…. Kembalikan padaku!”

“Loh kenapa? Itu memang buat Jimin kan? Aku yakin setelah ini dia akan lupa daratan setelah membacanya” Tukas Jungkook

“Ya benar! Bahkan ia akan terbang menembus awas saking menyentuhnya kata-katamu ini hahahha!”

“YAAAA Bawa sini!”

“Ambil saja kalau bisa”

Oke sekali lagi, cerita mereka berujung pada aksi kejar-kejaran antara Jungkook, Nana, dan Taehyung yang saling melempar dan mendapatkan Pop-Up Book itu. Sementara Jimin hanya duduk saja sambil tersenyum melihat kehangatan yang lagi-lagi menghiasai bagian dari hidupnya.

Seandainya bisa selalu seperti ini…..

“Hal sekecil apapun itu… bahkan yang paling sederhana sekalipun, akan terasa manis dan spesial bila kau melakukannya dengan orang-orang yang disayangi.” Ujar Jimin lirih seraya tersenyum simpul.

Ya. Kau benar..

Kisah mereka masih panjang. Meski berakhir bahagia hari ini, bukan berarti kisah mereka akan tetap seperti ini dikemudian hari. Apa yang akan terjadi pada persahabatan mereka nantinya, masalah apa yang akan datang pada Jimin dan Nana kedepannya, bagaimana persiapan Taehyung atas rencana dan cita-citanya, bagaimana harapan Jungkook atas impiannya di masa depan, sewaktu-waktu hal itu dapat berubah tanpa disadari…. Kita tidak tahu cerita seperti apa yang menanti mereka di depan. Baik atau buruk, indah atau menakutkan, menyenangkan dan menyedihkan barangkali? Mereka hanya bisa menanti dan tetap berusaha.

Bukankah itu cara untuk menghadapi dan menghargai hidup?

.

.

FIN

.

`

Aku tau ini basi pake banget. Cerita kapan squel kapan. Heol. Nyaris 2 tahun? Gila asli. Dan yang lebih gila lagi fic ini terdiri sampai 10000 words. Wow!

Aku gabisa bilang apa-apa selain menunggu komentar dari kalian. Kritik dan saran sangat diterima karena saya menyadari bahwa karya ini masih jauh dari kata sempurna. Khamsahamnida ☺

Ps: kalau kalian merhatiin nama penanya aku ganti loh. Jadi jangan bilang kalau saya ini plagiat *bow*

Pps : Oh iya, khusus bagian yang pertunjukan Joo Hana nyium Jimin aku terinpirasi dengan salah satu Novel yang pernah dibaca.

Next ff :

Preview :

Park Seulhee. 20 tahun. Mahasiswa Tata Busana Universitas Younghwa. Berkepribadian ganda, mudah panik, dan sangat sensitive.

Gadis itu akhirnya merasakan puncak kekosongan dalam hatinya. Ia benar-benar ingin jatuh cinta lagi! Tapi disisi lain ia begitu takut bila nantinya akan benar-benar jatuh cinta. Astaga dia memang gadis yang membingungkan. Ingin jatuh cinta tetapi takut? Maunya apa sih…

Sebenarnya itu bukan alasan dari masalah yang melanda hatinya. Hanya saja, ia seolah bisa menebak bagaimana akhir dari semua kisah asmaranya ini. Ia sangat berpengalaman dalam catatan hidupnya. Ingat itu! Oleh karena itu di atas jidatnya yang tidak cukup lebar tertulis,

“Jangan sampi aku terlibat dengan lelaki manapun!”

Tapi siapa sangka berkat acara fashion show dadakan yang diadakan oleh Mrs. Ailee malah membuatnya harus berurusan dengan lelaki falkutas sebelah yang katanya menakutkan setengah mati! Suga aka Min Yoogi nama lelaki itu yang sempat ia dengar dari sahabatnya, Ahreum.

Tamat sudah, sepertinya ini akan menjadi mimpi terburuk sepanjang abad bagi Seulhee.

-“It’s You”, Starring By Min Yoon Gi and Park Seul Hee as OC-

Will be release soon.

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF Freelance] SOMETHING SPECIAL (SEQUEL OF I SWEAR) – (Oneshot)

  1. Antara baper dan senyum sendiri baca ini. Ceritanya manis sekali tentang hubungan nana jimin trus persahabatan sama jungkook v juga. Jadi ngebayangin betapa bahagianya ada di posisi nana, tapi sedih juga ngebayangin ketakutan mereka akan masa depan. Aku suka sekali sama kalimat jimin yg dewasa abis dan open mind seakan ngingetin kalo waktu dan hubungan dalam persahabatan itu penting sekali. Makasi author udah bikin cerita semanis ini 🙂

    Like

  2. AlnaJeon

    Setelah lama ternyata squelnya baru dibikin omo aku bahkan udh lupa sama i swear, tapi pas ulang baca seakan diingatkan kembali loh *ea*
    Tadi pas baca tiap kata yg ditulis dikepala berasa uda nyusun rangkaian kata bwt ngekomen #tsah lah pas giliran mau komen buyar sudah *nangis dipojokan*
    Ceritanya bagus ! So touching and such a great story.

    Jarang2 loh nemu cerita yg isinya banyak pesan kaya gini.
    Aku terharu masa pas bagian mereka merenung malem2 itu berasa aku jadi bagian dari mereka, dan cuma bisa geleng2 kepala sama sususan kata yg realita bgt.

    Pas keinget jungkook yg ngompol itu lagi ahaha! Koplak bgt sih lu kuukk untung gue cinta😂😂❤ tumben2nan bias gue dinistakan begindang.

    Awalnya aku kesel sm nana tapi klo ngebayangin ada di posisi dia berat juga ya dan eh ternyata dia cuma ngetest jimin doang kan anjir wkwk

    Ah tp selepas dri semua itu ff kni berhasil bikin baper! Ditunggu karya lainya fighting💕

    Eh ngoming2 jgn ampe ya jimin dpt skenario konser begitu di real life IH JANGAN SAMPAI ><

    Like

  3. SERRIE

    Kak authorr ff kamu sangatlah panjang! Tapi demi apapun ini keren pake banget! Ceritanya ngena ke hati, alurnya jelas, tersusun, dan maknanya itu loh! Dalem bgt. Aku jd nangis keinget sahabat2 aku, taehyung aku padamu nak!
    Keren lah kakak bikin cerita yg ga cuma sekedar cerita tapi juga bikin kita paham bagaimana kit seharusnya dlm nyikapin suatu hal :”” ku terhura! Semangatt teruss! Ditunggu ff minyoonginya yeyy

    Like

  4. pio

    Seriusan keren banget, pas baca tuh sampe kebawa ke hati banget, kata katanya itu bikin kita bisa ngerasain gimana feelingnya para tokoh, bagus banget pokoknya.
    Dan cerita ini bikin aku nyadar satu hal di hidup aku seriously!
    Keren banget laaah
    Good job

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s