[BTS FF Freelance] Stitches ( Two Side’s ) – ( Chapter 1 )

selfiecity_20170105134833_org

Author : Butterfly

Stitches ( Two Side’s ) – Chapter 1

Genre : Sad, Romance.

Rating : PG15

Main Cast :

Jeon Jungkook | Adora Rose ( Lee Sooyeon ) | Kim Taehyung | Park MMiyoung

Disclaimer :

Cerita ini sepenuhnya milik saya, beberapa kejadian memang benar adanya terjadi. Tidak ada unsur kesamaan dengan fanfiction yang lain. Fanfiction ini juga saya publish di wattpad saya dengan id : xbutteerflys

Poster : By author.

***

 

Adora Rose satu-satunya hitler perempuan yang berani menggeretak ucapan Jungkook, secara terang-terangan mengibarkan bendera perang pada si berandal yang ditakuti seantero sekolah. Adora yang sengaja bahkan tidak segan meninju pipi kiri Jungkook saat pertemuan pertama mereka- ia sama sekali tidak suka dengan kelakuan Jungkook yang seringkali mengacaukan suasana juga bertindak semaunya membuat perempuan berambut cokelat terang itu kehilangan selera makan jam istirahatnya. Jungkook bukannya takut tapi melawan perempuan sama sekali tidak ada di dalam kamus permainannya namun ketika melihat tatapan-tatapan teman-temannya pada Adora yang seakan ‘ memberi mereka semua cahaya dari kegelapan ‘ selama ini membuatnya kesal.

 

Jungkook menarik rambut panjang Adora saat ia berbalik badan untuk meneguk minuman kaleng yang sudah lebih dulu di bukanya sebelum Jungkook, si perusak suasana datang menghancurkan ketenangannya. Adora tersedak juga sangat marah di waktu bersamaan, lebih cepat dari yang Jungkook kira- Adora memutar tangan Jungkook yang menempeli kepalanya- membuat Jungkook memekik karena sakit. Bukan hanya itu saja, Adora juga mendorong Jungkook hingga pantatnya mengenai lantai kantin.

 

Mau tidak mau Jungkook dan Adora menjadi pusat perhatian seisi kantin sekolah dan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar kantin berdatangan untuk melihat kondisi si berandal. Jungkook mendesis kesal, amarah sudah mencapai pada ubun-ubun kepalanya membuat Jungkook merasakan semua tubuhnya panas dan pening. Adora hanya memperhatikannya dengan kedua matanya yang mengejek Jungkook, Jungkook tidak ingin menyerahkan harga dirinya untuk takut pada si Hitler; melarikan diri meskipun hanya demi menyelesaikan suasana tegang hanya akan membuat dirinya ter-cap sebagai si Berandal yang pensiun atau si Berandal yang tidak mampu melawan Hitler perempuan.

 

” Bajingan- ” Jungkook menyumpah serapahi Adora yang santai membersihkan ujung bibirnya dengan telapak tangan kanannya, rambut pirangnya tidak beraturan akibat perbuatan Jungkook. Adora melirik Jungkook yang bangkit dengan malas.

 

” Kau ingin ku pukul lagi? ” Kerumunan teman-teman satu sekolahnya yang memperhatikan mulai berbisik tak terkendali, awal perkenalannya lima jam yang lalu sebagai murid baru mungkin sedikit mengangetkan; Adora yang manis, jenius dalam mata pelajaran asing dan matematika, ceria dan mudah bergaul itu berbeda dengan Adora yang sekarang menantang Jungkook, dari bibir kecilnya semua kata-kata kotor untuk mengutuk harinya yang buruk karena Jungkook di dengar oleh banyak orang. Adora tidak memperdulikannya, ia hanya ingin Jungkook berhenti mengaduh.

 

” Kau tidak tahu siapa aku? ” Siapa saja bisa melihat bagaimana si Berandal menggeram dengan rahangnya, tangannya bahkan terkepal hingga urat-urat tangannya terlihat jelas. Adora mengacak rambutnya, hendak berbalik sebelum lengan Jungkook menariknya lalu menghempaskannya hingga ia terhuyung beberapa langkah kebelakang. ” Siapapun kau, tidak ada untungnya bagiku ” Jawaban Adora membuatnya merasa tolol, Jungkook tahu ia sudah kalah telak dari Adora namun rasa gengsi menutupinya.

 

Jimin menggaruk tengkuknya gatal merasa Jungkook sudah kalah, ia memasang taruhan dengan beberapa anak laki-laki yang menonton. Jimin memberikan lembaran uang pada adik kelasnya yang bertaruh tadi, sedikit memohon pula; agar taruhan mereka dibatalkan tapi tidak di iyakan. Jimin mendekati Jungkook lalu menepuk pundaknya, berbisik kalau semua mata tertuju pada dirinya dan Adora.

 

” Jung, hentikan saja. Semua orang sedang melihatmu, kau ingin terpampang sebagai Berandal yang gagal mempertahankan kegelapanmu karena perempuan selalu benar? Ayolah; akui saja, gadis itu memang menang dalam permainan ini. ” Jimin berbisik serendah mungkin, dalam suasana tegang seperti ini berbicara pun rasanya akan terdengar seperti petir, Jimin mati-matian berusaha meyakinkan Jungkook yang sudah terlanjur marah. Jungkook memejamkan matanya sambil menghela nafasnya, berpikir bahwa yang Jimin katakan memang benar. Jungkook tidak mengalah, ia hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian, dan benar- Jungkook pergi melewati kerumunan yang seperti terlatih untuk memperluas jalan yang akan di dahului sang Berandal.

 

Jimin masih diam melihat Jungkook yang pergi, menyadari semuanya masih memperhatikannya. Jimin tidak segan mengusir dan membual mengayunkan tangannya meninju bayangan, membuat teman-temannya berpencar. Adora masih berdiri melipat kedua tangannya angkuh, Jimin tersenyum kikuk menyapanya, Adora juga lantas berbalik dan meninggalkannya.

 

” Kau tahu, kau sangat keren- ” Adora mengeluarkan buku catatannya juga alat tulisnya dari dalam tas dan menaruhnya di atas meja. Adora tersenyum membalas sambil terus memfokuskan diri mencatat materi-materi yang di tulis di papan tulis, guru fisikanya tidak masuk hari ini karena suatu alasan pribadi dan membebankan tugas pada seorang murid perempuan menulis materi yang akan di jelaskan menyusul. ” Apa kau berlatih bela diri selama di Los Angeles? ” Ungkapnya penasaran.

 

” Aku berlatih bela diri.. ” Adora meliriknya dengan satu tangan menyangga kepalanya yang miring kesamping. ” Ast, Hyunsik kami- tidak maksudku pamanku, dia menguasai Karate dan Kungfu, ia yang mengarjankanku bela diri karena aku bosan dengan hal yang terlalu perempuan.. ” Adora tertawa renyah, dua kepribadiannya terbentuk bukan karena penyakit, Adora mengendalikan keduanya tergantung kondisi dan keadaan yang memaksa tentunya. Ngomong-ngomong , Adora belum mengenal teman sebangku yang menanyainya pasal seni bela diri yang dikuasainya, ia melirik nametag yang menempel dekat saku baju seragamnya.

 

” Nah Hoseok, panggil saja aku Sooyeon. aku lihat kau sedikit kesulitan mengucapkan nama Inggrisku. ” Tidak ada sedikit pun maksud Adora untuk mengejek, nama Inggrisnya terbilang unik dan sulit saat lidah orang Asia mengucapkannya. Beruntung Ast, Hyunsik membuatkannya nama korea yang mempermudahnya untuk dikenal. Hoseok mengangguk untuk mengiyakan, Hoseok tidak mudah untuk tersinggung. Apalagi ia cukup menyegani Sooyeon yang tak malu mengajaknya mengobrol dan bertukar nama karena ia hanya dianggap sebagai murid Nerd di kelas selama ini.

 

***

 

Sooyeon tidak selama hidupnya tak mau berkedip selama ini sambil membuka sedikit bibirnya, senyuman pria itu bukan ditujukan untuknya melainkan seorang temannya yang lain yang mengayunkan bola basket padanya dan dengan mudahnya ia terima umpan itu lalu berlari kecil mendekati ring basket, sedikit melompat dan memasukkannya membiarkan bola itu kembali memantul setelahnya. Suhu tubuhnya tidak se panas dan dingin seperti sekarang sebelumnya, bahkan detak jantungnya seperti habis melakukan olahraga maraton. Kim Taehyung, papan nama yang menempel bersejajar dengan saku seragam sekolah; sejak itu Sooyeon baru tahu namanya dan namanya mulai menjadi candu.

 

Lagi-lagi keadaan membuat Sooyeon jengah lalu mendengus kasar, Jungkook kembali ada di dalam pandangannya. Dia berlari mengejar bola yang sedang dipantulkan, dengan cepat ia berhasil mengubah posisi- ia menguasai bola dan Taehyung juga beberapa pemain di belakangnya mencoba mengecoh Jungkook menghalanginya untuk mencetak skor.

 

Hoseok sempat memberitahunya kalau Jungkook adalah monster lapangan Jungkook juga kebanggaan klub basket sekolah; klub basket selalu memenangkan kejuaraan tanpa cacat karena Jungkook, Sooyeon sama sekali tidak tertarik mengetahuinya tetapi Hoseok bersikeras menceritakannya. Sekarang, tidak ada alasan bagi Sooyeon untuk terpesona karena ia bisa mengetahui mana fakta dari rumor yang dikatakannya mengenai Jungkook dari Hoseok.

 

” Hey, apa yang kau lakukan, Soo- ” Tadinya, Hoseok berniat mengajak Sooyeonnya untuk ikut ke perpustakaan karena Sooyeon sempat bertanya tentang sebuah judul buku padanya. Sooyeon lebih dulu meninggalkannya setelah dari kantin dengan alasan ingin mengganti seragam olahraganya dulu dan mengambil seragam biasa yang di letakkannya dalam loker. Sekarang, Sooyeon nya malah berjalan kedalam lapangan basket dengan masih belum mengganti seragam.

 

Hoseok dan beberapa pemain yang ada di tengah lapangan, tidak bisa menutupi keterkejutannya saat Sooyeon dengan santai mengambil bola dari tangan Jungkook tanpa kesulitan meskipun lelaki itu menggunakan trik, tidak sampai mendekati ring dan belum sempat Jungkook menggapai bola dari kedua tangannya Sooyeon melemparkan bola dari jarak setengah lapangan lalu berhasil masuk dalam satu kali lemparan.

 

Sooyeon buru-buru mendekati Taehyung setelah itu. ” Jadi, sekarang, bisakah aku ikut bergabung denganmu? ” Ia menunjukkan tatapan memohon ketika menanyai Taehyung yang sekarang berdiri tidak jauh darinya, suasananya memang jadi canggung setelahnya. Taehyung hanya mampu mengedipkan kedua matanya tidak percaya, tak tahu apa penyebabnya- karena seorang perempuan berhasil dengan sekali percobaan memasukkan bola itu dari setengah lapangan atau perempuan di samping kanannya ini mengajaknya bermain.

 

” Aku bisa bermain basket sungguh. Jangan khawatir. ” Sooyeon kembali memungut bola basket itu dan membawanya untuk sekedar mengatur posisi lebih jauh dari tempatnya disaat melemparkan bola itu pertama, ia mengayunkan tangannya dan melompat lalu berhasil memasukkannya lagi tepat masuk kedalam ring. Tidak ada yang tak terkejut atau mengucapkan kekagumannya pada aksinya di tengah terik matahari siang hari.

 

Taehyung kini melihatnya- bibirnya bergetar kecil saat mulai akan mengatakan sesuatu ” S-siapa kau? ” membuat Sooyeon tersenyum ketika Taehyung mencoba berbicara dengannya.

 

” Aku murid baru, Adora. kau bisa memanggilku dengan nama korea yang ku punya, Lee- Soo- Yeon. Jadi, Taehyung sunbae, Kau mau bermain bersamaku hari minggu ini? ” Sooyeon tersenyum dengan manis saat Taehyung masih saja memandanginya dengan pandangan terheran, Sooyeon baru menunjukkan sisinya yang lain membuat Jungkook terlihat sangat dongkol setengah mati, dalam dua hari sudah tiga kali ia dipermalukan oleh perempuan ini.

 

” Apa kau sudah mendaftar kegiatan ekstrakulikuler? ” Suara itu membuat Sooyeon, Taehyung dan pemain lainnya di lapangan menolehkan kepalanya ke asal suara tanpa Jungkook; Jungkook sudah sangat hafal persis siapa yang memiliki suara berat ini. Sebenarnya ia lelaki yang baru bergabung dengan dua orang berseragam basket dibelakangnya juga tidak sengaja menyaksikan kemampuan Sooyeon beberapa menit lalu setelah ia datang untuk mengambil bola basket yang baru dari dalam gudang.

 

Namanya, Min Yoongi. Kebanyakkan dari pemain basket yang lain di sekolah memanggilnya Jeongbogja Aheun, artinya adalah si penakluk sembilan puluh, mungkin secara dimengerti julukan tersebut berarti Yoongi adalah penakluk lapangan dengan nomor punggung sembilan puluh.

 

” Apa Taehyung sunbae juga bergabung di dalamnya? ” Dengan cepat Yoongi menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang di katakan oleh Sooyeon, Sooyeon menyatukan telapak tangannya membentuk sebuah tos sambil menunjukkan giginya ia sempat berpikir beberapa saat sebelum akhirnya ia akan menjawab kembali tawaran yang diberikan Yoongi padanya dengan perubahan ekspresi yang berubah muram. ” Apa lelaki tua ini juga bergabung dalam klub? ” Sooyeon sama sekali tidak melirik atau menunjuk pada Jungkook, tetapi Yoongi mengerti apa yang coba ditanyakan oleh Sooyeon.

 

” Jungkook? ” Yoongi kembali memastikan maksud Sooyeon, merasa dipanggil Jungkook melihat tajam kearah Yoongi dan berdecak sebal ketika Jungkook menyadari bahwa Sooyeon mengatainya Lelaki Tua. ” Tentu saja, dia kan Jugeumui Cheonsa kami. ” Setidaknya setelah ikut merendahkan harga dirinya, Yoongi mengagungkan kemampuannya yang menjadi nilai tambah bagi tim sekolah. Jungkook melihat Sooyeon seolah ‘ akulah si Jugeumui Cheonsa ‘

 

Sooyeon tidak menghiraukan kata-kata Yoongi yang terakhir apalagi pandangan yang Jungkook tujukan kepadanya, sejak menjadi murid pindahan- Sooyeon melihat Jungkook hanya sebagai pembuat masalah- penghilang selera makan atau membuat harinya terasa suram. Sudah cukup ia memiliki masalah atau berhubungan terakhir kali dikantin tadi dengan Jungkook sesudah lelaki itu mencoba menghajarnya balik.

 

Hoseok juga bercerita dengan menyeluruh mengenai julukan Jungkook yang lain selain si monster lapangan, ia disebut sebagai Jugeumui Cheonsa / Malaikat maut. Sepertinya Jungkook berharap banyak bahwa Sooyeon akan berteriak heboh seperti perempuan yang lain setelah mendengar kehebatannya atau sekedar memekik misal. Sooyeon masih betah untuk memperhatikan Taehyung yang mulai risih merasa diperhatikan dengan tatapan terobsesi.

 

” Jika lelaki ini tidak ada dalam klub aku akan langsung bergabung, berhubung dia tergabung juga. Aku akan memikirkannya dulu sunbae. Setidaknya hari minggu ini aku memiliki rencana lain bersama seseorang. ” Taehyung memaksakan bibirnya untuk tertawa renyah pada Yoongi yang meledeknya, Sooyeon memberanikan diri untuk sekedar menyenggol lengan Taehyung sehingga membuat Taehyung terhuyung kesamping

 

***

 

Hoseok tidak berhenti menepuk kedua tangannya ketika Sooyeon mendekatinya setelah benar-benar berganti seragam. Bersamaan dengan Sooyeon mendudukan bokongnya pada kursi, ia juga memukul bahu Hoseok sebagai bentuk protes akan maksud yang lelaki dengan kacamata bulat bertengger di hidungnya itu katakan. Ia sempat melihat Hoseok saat berada di lapangan tadi, beruntung hanya Hoseok yang melihatnya- sungguh ia tidak ingin menjadi pusat perhatian di publik lagi meskipun ia menyadari kalau tindakannya tadi memang dapat menimbulkan kegemparan diantara teman-temannya.

 

” Berhentilah melakukan itu. ” Hoseok mengangguk dan berhenti setelah suara datar Sooyeon di dengarnya tetapi ketika Sooyeon tidak menatapnya dengan ngeri ia kembali menepuk tangannya lalu buru-buru berhenti. Takut pada Sooyeon yang bisa saja memukulnya lebih keras

 

” Kau, benar-benar keren! ” Hoseok lagi-lagi tidak bisa melupakan kejadian yang tadi, ia bahkan setengah memekik dengan mulut yang di dekatkan pada telinga Sooyeon, perempuan itu terburu-buru mengambil earphone dan dari dalam kolong meja lalu memasangkannya. Sebelum ia menyambungkannya pada handphone dan memutar musik, ia melihat Hoseok yang memajukan bibirnya lucu sebagai aksi tak suka. Sooyeon hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa sebentar.

 

Setelah hampir selesai mengerjakan tugas latihan matematika yang di beritahukan ketua kelas, Im Sua. Selang lima belas menit sebelumnya, Sooyeon tidak pernah merasa kesulitan untuk mengejarkannya sampai selesai, dengan mudahnya pun ia beradaptasi dengan teman-teman sekelas atau pelajaran. Amerika sendiri standar pendidikan sedikit lebih sulit daripada di Korea dan Ast. Hyunsik juga seringkali ikut membantu menjadi guru pembimbing les sementara sebelum ia mulai mencari guru yang lain ketika di rumah, nenek Sooyeon sangat mempercayakan Ast. Hyunsik untuk beberapa alasan demi kondisi cucu kesayangannya di luar negeri.

 

” Sudah selesai? Daebak… ” Hoseok hampir saja berteriak akibat Sooyeon yang baru saja menutup buku catatannya, meneliti kedua mata perempuan yang juga memandangnya kembali. Membujuknya untuk mau membuka buku catatannya dan membiarkan Hoseok melihatnya, Sooyeon kemudian mengangguk sebagai jawaban.

 

” Kau benar-benar jenius.. ” Ungkap Hoseok ketika selesai meneliti isi-isi dari soal yang dijawab Sooyeon, Hoseok tak berhenti untuk mengagumi teman sebangkunya itu.

 

” Hoseok-ah, tolong kumpulkan buku milikku nanti. Aku ingin ke toilet. ” Sooyeon mencopot kedua earphone dari kedua telinganya lalu memasukkannya asal kedalam tas lengkap dengan handphone. Belum sempat, Hoseok menyanggupinya Sooyeon lebih dulu pergi begitu saja melewati pintu kelas.

 

***

 

Ia memperhatikan bagaimana bentuk dirinya sendiri dalam pantulan cermin tidak berniat untuk sekedar mencuci tangan atau hal lain, sangat takut akan perasaan menakutkan itu kembali merubah perasaannya. Buru-buru menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas, mencoba menetralkan kondisinya. Sooyeon merasakan buliran bening dari matanya membuat penglihatannya mengabur mendesak akan keluar, dengan buru-buru ia memejamkan kedua matanya lalu kembali membukanya; air mata itu membuat bulu mata lentik miliknya basah.

 

Ia mulai tahu ketika semakin ia mencoba mengganti dirinya dengan tipuan sifat-sifat yang beberapa orang mulai kagumi dan tak banyak yang mencibir , semakin rasa kesepian yang mendalam ia rasakan.

 

Ia mulai merindukan kehangatan neneknya. Mungkin untuk keadaannya seperti sekarang sulit membiasakan dirinya terlepas dari nenek, Ia hanya perlu menuntaskan pendidikannya lalu kembali untuk membantu mengurusi perusahaan kakek nya di Los Angeles sambil mencoba melupakan trauma mendalam yang kecil kemungkinan untuk dilupakan, kecuali ia amnesia- mati- atau penyakit lupa ingatan lainnya.

 

” Seungcheol berhenti memukul wajahnya kumohon- ”

 

” Jungkook hentikan- ”

 

Sooyeon sama sekali tidak memperdulikan hal apa yang sedang terjadi meskipun beberapa murid dari dalam kelas berteriak histeris pada apa yang dilihatnya. ia keluar toilet dan berjalan lurus untuk kembali ke kelas berencana untuk mengemasi alat tulis miliknya di atas meja ke dalam ransel lalu menunggu bel pulang berdering. Ia sangat ingin mengistirahatkan tubuhnya di atas ranjang kamarnya sambil menelpon neneknya, juga mengisi perutnya dengan makanan rumah.

 

” Diamlah perempuan sial. Kau tidak berguna sama sekali selama ini kau berselingkuh dariku untuk lelaki seperti dia?! ” Sooyeon menghentikan langkahnya kemudian mematung. Ungkapan ‘ kau tidak berguna sama sekali ‘ lengkap dengan suaranya untuk kesekian kalinya memenuhi otaknya, bahkan dirinya sendiri masih tahu persis bagaimana umpatan kata-kata yang lain tersebut memakinya.

 

Beberapa murid laki-laki masih bersikeras mencoba untuk melerai perkelahian Jungkook dan Seungcheol yang masih sibuk memukul satu sama lain meskipun tubuh keduanya sudah ditahan oleh dua sampai tiga orang. Guru di sekolah sedang melakukan rapat untuk persiapan bimbingan tambahan bagi kelas tiga- sebabnya tidak ada satupun guru yang berkeliling atau datang untuk mencoba melerai tetapi sebagian dari mereka ada yang belari untuk melaporkan apa yang sebenarnya terjadi.

 

Entah Seungcheol yang memang lepas kendali atau Jungkook yang memang tidak ingin melawannya lagi seperti kehabisan tenaga, wajah Jungkook sudah berlumuran darah dan bengkak di beberapa bagian. Bahkan darahnya pun menciprat ke baju seragamnya, Seungcheol tidak berniat menghentikan pukulannya ia merasa Jungkook harus mendapat yang lebih dari yang sudah dilakukannya, Seungcheol melihat kekasihnya yang menangis terseguk sambil memohon tidak berhenti agar Seungcheol menyudahinya.

 

” Mina, kau lihat sekarang? Lelaki ini sangat lemah! ” Ia berteriak meledek membenarkan seragamnya asal, kancingnya bahkan hilang jatuh saat Jungkook tidak sengaja menariknya.

 

Jungkook hanya memejamkan kedua matanya saat Seungcheol mencoba menghajar wajahnya lagi, Ia merasa sangat pusing sampai tidak mampu untuk melawan Seungcheol tidak seperti biasanya. Jungkook sebenarnya mau membolos dari latihannya bersama klub Basket yang sedang berlatih di ruang olahraga untuk tidur dalam gudang, ia tidak terlalu memperhatikan dari awal Seungcheol sudah menungguinya untuk bersiap mematahkan tulang-tulangnya. Ia membuka matanya, mendapati Sooyeon yang menahan kepalan tangan Seungcheol yang mengarah pada dirinya- Sooyeon tidak segan untuk menendang tulang kering lelaki itu, dan memukul perutnya ketika kesempatannya muncul hingga Seungcheol jatuh merasakan kesakitan.

 

Jungkook berusaha untuk berdiri saat Seungcheol dengan kesusahan namun pasti untuk bangkit, melotot marah pada Sooyeon yang menengahi di antara keduanya. Amarah dapat membuat seseorang lupa kan, apalagi Seungcheol sedang dalam kondisi dipenuhi amarah padanya ditambah Sooyeon yang mempermalukannya dengan mudah. Setidaknya Jungkook harus menolong perempuan itu, meski ia malas karena Sooyeon selalu harus ikut campur masalahnya.

 

” Jika kau menyentuhku, kupastikan kau tidak akan bisa menggunakan tanganmu satu bulan. ” Sooyeon tersenyum meremehkan, disaat seperti ini bisa-bisanya ia membuat pernyataan konyol membuat Seungcheol semakin diliputi rasa marah, Jungkook meliriknya dan Seungcheol bergantian dengan ngeri.

 

Seungcheol kembali melayangkan kepalan tangannya, dengan cepat Sooyeon benar menahannya meski ia terhuyung beberapa langkah, Seungcheol melongo karena kaget ia yakin pukulannya benar-benar sudah sangat kuat, tidak memperdulikan bahwa ia sedang melawan seorang perempuan. Sooyeon mengandalkan kondisi lengah Seungcheol yang sibuk dengan pikirannya dengan tak kalah cepatnya memutar telapak tangan Seungcheol hingga mengeluarkan bunyi dari tulangnya dan bengkok.

 

” Sekedar informasi, aku bisa membuat anggota tubuhmu yang lain seperti ini. Kurasa sudah sangat cukup kau membuatnya hampir buta kan? Kekasihmu tidak pantas untuknya, Jungkook bahkan bisa mencari jalang yang lebih baik daripada dia. Omong-omong Jungkook kekasihku akan kupastikan aku mematahkan tulang tangannya setelah dia sembuh. Jadi, jangan ganggu kekasihku ya ” Sooyeon menghempaskan tangan Seungcheol, orang-orang dibelakangnya sepertinya tidak berniat untuk menahannya hingga ia sendiri terjatuh ke tanah sambil memegangi tangannya.

 

” Kau- ” Sooyeon tahu Jungkook berbicara kepadanya, tetapi saat ini ia tidak berminat sama sekali sekedar bertanya apa baik baik saja; bagaimana; atau lainnya. Jungkook sendiri juga terima-terima saja saat Sooyeon memapah tubuhnya ke UKS sesekali mencuri pandangannya untuk memperhatikan Sooyeon di sampingnya menahan sebagian berat tubuhnya.

 

Setelah memastikan bahwa Jungkook hanya menjadi korban kepada Guru yang datang melihat keadaan Seungcheol dan Jungkook dari lorong tadi, Sooyeon kembali ke ruang UKS untuk membantu Jungkook membersihkan lukanya-lukanya. Yoongi dan pemain dari tim basket juga ada di ruang UKS tadi, mengecek kondisi Jungkook yang babak belur sehabis pertarungan bodohnya.

 

” Bagaimana bisa kau membuat tangan Seungcheol- Heol ?! ” Hoseok secepat kilat untuk datang setelah tahu temannya ikut dalam perkelahian lagi, ia mencoba membantu membawakan obat-obatan yang ada dalam isi kotak P3K dekat pintu, sambil tidak berhenti penasaran

 

” Aku seperti, Ying dan Yang kan. ” balas Sooyeon tanpa melihat Hoseok, kedua tangannya sedang sibuk mengobati luka yang Jungkook miliki. Setidaknya Jungkook tidak semengerikan saat pertama ia membawanya ke ruang UKS, luka Jungkook tidak terlalu besar sehingga ia tidak perlu mendapat jahitan tetapi tetap saja ia beresiko kena infeksi apabila tidak segera diobati

 

” Nah kekasihku, kurasa kau berhutang budi padaku sekarang. “

 

” Kekasih?! Kau dan Jungkook?! ”

 

To Be Continued

 

For more story : go check author wattpad xbutteerflys ! x)  

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s