[BTS FF Freelancer] Lie, Lost, and Tears (Twoshot-1/2)

lost

Lie, Lost and Tears (TWOSHOOT 1/2)

 

a—writter by coolbebh ☺

 

Starring by ; Nam Eunhye (OC’s), Kim Taehyung (BTS’s) and Other.

Romance, Hurt/Comfort, Slice of Life— PG-15 — ONESHOT

 

DISCLAIMER ; Warning! A lots of TYPO, Original Cast is mine from my mind, and starring boygroup belong to God! Don’t repost and plagiarism. So… please give me APPRECIATION!

 

.

.

 

Coolbebh 2017** Present New Year!

 

 

Sayup-sayup angin tengah berkelana pada rambut tipisnya. Sejenak tungkainya berhenti, netranya menatap sang surya yang akan tenggelam termakan bumi di sana. ia tersenyum miris, seolah-olah memikirkan hari-harinya yang begitu kelam. Dan itu memang benar, gadis yang bernama Nam Eunhye ini memang memiliki hidup yang kurang beruntung dibandingkan dengan lainnya.

 

Dia adalah gadis miskin yang tak punya apa-apa.

 

Berjalan menyusuri trotoar pejalan kaki, tungkainya terasa lemas dan enggan untuk diajak kompromi. Ia tak ingin melihat kakak perempuannya yang sangat sayang padanya. Ia tak ingin menambah beban kakaknya itu, yang telah menafkahinya di perusahaan besar, meski sebagai Office Girl—Nam Heewon.

 

Lebih baik pergi, menjauh, dan tak kembali. Namun sayangnya… ia tak bisa, ia terlalu tergantung dengan kasih sayangnya itu, termasuk semua apa yang dilakukan oleh kakaknya selama ini. Kebaikannya melebihi bidadari dari surga, menurutnya.

 

‘Apa yang harus aku lakukan?’ batinnya berkata.

 

Buliran air matanya meluncur bebas ketika mengingat semua apa yang dilakukan oleh semua temannya. Eunhye adalah korban bullying yang dilakukan oleh anak sekolahan. Dan itu membuatnya stress berat tak kepayang.

 

BRUKK

 

Tubuh Eunhye ambruk seketika, dan penglihatannya melayang kemana-mana.

 

.

.

 

Kompresan air hangat di atas dahinya membuat dirinya terbuka mata perlahan-lahan, dan menampakkan wajah sang pria yang tengah tersenyum tulus. Eunhye meringis takut, namun sikap manis pria itu membuatnya percaya bahwa dia adalah pria baik-baik. Lelaki itu merendam handuk berwarna biru mudanya kemudian meremasnya untuk menghilangkan air sepertiganya. Ia kembali mengompres dahinya dan berlanjut menyeka wajahnya perlahan.

 

“Siapa kau?” Eunhye bertanya.

 

Lelaki itu tersenyum kemudian, dan membuka note book kecilnya yang berwarna hitam serta penanya juga.

 

—‘Aku Kim Taehyung. Selamat datang digubuk kecilku, Nona cantik.’—tulisnya kemudian menyodorkan pada Eunhye yang masih tersenyum.

 

Ia tertegun menatap tulisannya, ah… bukan, melihat sikapnya yang tak secara langsung merespon semua ucapannya itu. Melainkan menulis ringan untuk menjawab obrolannya.

 

“Kau—“ ucapnya terhenti ketika Taehyung menganggukkan kepalanya semangat. Rupanya lelaki itu mengerti apa yang dimaksudnya.

 

.

.

 

“Taehyung! Terimakasih atas semuanya, jika tanpamu aku mungkin sudah terkapar di trotoar itu. Sekali lagi terimakasih, aku—harus pulang.”

 

“A—eu….” Ucapnya memaksa sembari melambai-lambaikan tangannya khawatir. Taehyung segera membuka notebook-nya itu dan menulisnya di sana.

 

—‘Jangan dulu pergi, hari sudah larut malam. Tak baik jika wanita pergi malam-malam seperti ini. Kumohon… Besok aku akan mengantarmu ke rumahmu dan menjelaskannya dengan semampuku, Eunhye.’—

 

“Tapi—“ sergahnya berpikir. Melihat reaksi Taehyung yang masih sama juga dengan yang tadi, Eunhye menghel napas berat. “Baiklah, tapi janji, ya, kau harus menjelaskannya pada kakakku.” Taehyung mengangguk setuju kemudian mengangkat jempolnya dengan semangat.

 

—‘Aku tak mempunyai makanan di sini, kuharap kau bisa menungguku dan aku akan pergi sebentar untuk membeli makanan untuk kita. Bagaimana?’—

Taehyung menyodorkan tulisannya kembali pada Eunhye, sontak matanya membulat seketika. “Hey! Bukankah kau menyarankanku untuk tak pulang dulu ke rumah? Sedangkan kau?  Astaga… bisa-bisanya kau menasehatiku dan dirimu tak ingin dinasehati, huh!”

 

Melihat reaksi Eunhye, Taehyung menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mau bagaimana lagi? Bisa dipastika bahwa Eunhye belum makan, sama seperti dirinya. Dan ia harus mencari makanan setidaknya yang ringan-ringan pun tak masalah.

 

—‘Kumohon….’—

 

“Ah! Baiklah… Yang banyak, ya?” tawarnya serius. Dan Taehyung pun tersenyum lebar kemudian beranjak pergi dari gubuknya itu.

 

.

.

 

Dengan setenteng keresek besar yang dibawa Taehyung malam ini membuat Eunhye sedikit tercengang. Pasalnya apa yang dibawakan Taehyung terlalu banyak, dan Taehyung seperti memborong semua makanan yang disedikan di minimarket terdekat.

 

Taehyung berjalan terburu-buru menghampirinya sembari menunjukkan keresek besarnya itu, dengan cekatan Taehyung membuka makanan yang dibelinya. Mulai dari buah-buahan, keripik kentang, minuman beranekaragam dan lainnya. Pertanyaannya… dari manakah uang yang didapati Taehyung? Gubuk yang ditinggalinya tak bisa dikatakan oleh bibir karena terlalu buruk, dan pria ini mampu untuk membeli semua itu. Mengapa tidak ditabung saja untuk memperbaiki gubuknya? Batin Eunhye berkata.

 

Taehyung menyodorkan buah apel merah pada Eunhye yang sudah dipotong-potong olehnya, dan Eunhye pun menerimanya dengan senang hati. Ia pun duduk di samping ranjang Eunhye kemudian tersenyum lebar.

 

“Kau tidak makan, Taehyung?”

 

Tak menjawab. Pria itu malah menepuk perutnya yang sudah kembung karena kekenyangan.

 

—‘Maafkan aku tadi terlalu lama, aku makan dulu di pedagang kaki lima langgananku.’—

 

“Ah… baiklah. Kalau begitu aku juga tak akan memakan apa yang telah kau berikan, Taehyung!” ucap Eunhye sembari menaruh apelnya yang tersisa. Taehyung terkejut dengan sikap Eunhye yang menolaknya untuk memakan makanan yang diberikannya. Dengan cekatan bersama suara tak jelasnya itu, Taehyung mengambil apel tersebut dan memberikannya balik pada Eunhye sembari mengangguk tak karuan.

 

“Aku tak mau, Taehyung!”

 

—‘Kumohon… Maafkan aku.’—

 

Eunhye menghela napas beratnya, dan menatap Taehyung yang sedang meminta permohonan maaf yang menurutnya berlebihan. Pria itu masih memandangnya dengan tatapan murung, Eunhye masih bersikeras untuk bergeming sembari melipatkan tangannya di dadanya.

 

“Tak mau!”

 

Sedetik kemudian Taehyung menggenggam erat tangan Eunhye dan bersimpuh di hadapannya. Sontak Eunhye menjatuhkan rahangnya melihat Taehyung yang bersikap seperti itu. Ia berpikir sejenak, dirinya layaknya seperti putri raja saja yang terkurung di rumah rakyat jelata.

 

“Ah, hentikan, Tae Hyung! Kau berlebihan sekali! Kembali duduk di sampingku, aku akan makan kembali, tapi ada syaratnya—“ Sebuah lentikan jari telunjuk di hadapan Taehyung membuatnya berkerut kening. Seperti mengerti dengan raut mukanya, Eunhye terkekeh pelan, “—temani aku makan, Tae….”

 

-*

-*

 

Langit malam sudah tergantikan oleh langit pagi yang indah dan menghangatkan tubuh. Eunhye membuka matanya perlahan ketika sinar cerah terus menggelitik tubunya untuk bangun dari kaca atap gubuk. Ia beranjak bangun dari persinggahan ranjang goyang milik Taehyung. Namun ketika dirinya akan berpijak pada lantai semen sederhana itu nyatanya ada manusia yang masih terlelap di sana; Taehyung tertidur dengan damai.

 

“Bagaimana ini? Apa aku harus membangunkannya atau… pergi begitu saja? Ah! Menulis saja di buku catatannya!” ucapnya bermonolog. Eunhye pun mencari sebuah buku yang selalu Taehyung tenteng kemana-mana, dan rupanya ada di laci nakas tuanya itu.

 

—‘ Taehyung, maaf aku tak berpamitan padamu. Aku sangat berhutang budi padamu, segalanya. Kau telah menjagaku dengan baik. Untuk urusan kakakku aku akan menjelaskan semuanya, jadi… jangan khawatir. Kakakku tak akan menghilangkan kepercayaannya padaku begitu saja. Selamat tinggal, semoga kita bertemu lagi ^^~.’—tulis Eunhye singkat. Ia pun meletakkannya di atas nakasnya.

 

.

.

 

“Lain kali berhati-hatilah, Eunhye, Sayang… Kakak sangat mengkhawatirkanmu sepanjang malam. Lihatlah! Kantung mata kakak kambuh lagi.” Nasihatnya ringan.

 

Eunhye menunduk, tak berani menatap sang kakak yang sangatlah mengkahwatirkannya. Hatinya menggerutu tak jelas menyalahkan dirinya sebagai pengecut kelas kakap yang sudah berani-beraninya membuat kakaknya pusing. Mau bagaimana lagi? Saran Taehyung waktu itu ada benarnya juga.

 

“Kemarilah,” suara lembutnya kembali mengudara. Sang kakak memeluknya erat kemudian memberikan elusan hangat di pundaknya itu sembari mengecup kepalanya sekilas.

 

“Untung dia pria baik, Eunhye, Sayang… Bagaimana kalau—hhh… Aku tak bisa membayangkannya lebih dalam lagi.”

 

“Sudahlah, Kak Heewon. Nyatanya aku baik-baik saja, ‘kan? Kau harus bersyukur tentang hal itu.”

 

“Hmm… kau benar. Jadi, siapa nama pria itu?”

 

“Taehyung—Kim Taehyung, Kak.”

 

“Kim——Taehyung?” kejutnya.

 

.

.

 

Eunhye berjalan terburu-buru menuju sekolahnya. Ia kesiangan hari ini, meski tak terlalu. Dirinya bergegas berlari menuju kelasnya yang sudah dihuni oleh semua temannya itu. Tatapan tak suka dari beberapa temannya itu membuat nyali Eunhye ciut seketika. Dan itu membuatnya trauma berat. Beberapa olokan yang mereka lakukan mulai dari melemparinya dengan tepung sampai baju seragamnya sobek tak karuan akibat cabikan kuku-kuku mereka yang melebihi cakaran harimau. Bernostalgia yang menyeramkan.

 

“Hai, anak miskin! Silakan duduk di sini. Ini bangkumu, ‘kan?” sambutnya yang diikuti dengan kelakar tawa di seluruh penjuru ruangan. Eunhye berjalan pelan, takut-takut sebuah alibi mereka yang bisa menjerumuskan pada kebatinan kepedihannya. Ia tak mau itu terjadi, sampai——

 

BRUKK

 

“Ah!”—Eunhye terpeleset.

 

“Hahahahahaha. Malang sekali dia!”

 

“Lihatlah wajahnya! Sangat menkhawatirkan. Hahahaha.”

 

“Hahahahaha. Payah!”

 

Beberapa olokan yang mereka lakukan kembali pada Eunhye membuatnya terisak kembali. Dari dulu sampai sekarang perbuatan mereka tak pernah berubah, malah semakin melonjak tak karuan sampai-sampai dirinya kehabisan akal bagaimana caranya mereka menghentikan semua ini.

 

Eunhye menatap mereka nanar,berbicara lewat netranya bahwa dia lelah dengan semua ini. Namun entah mereka peka atau telah tercampur dengan sifat iblis, mereka tetap tertawa layaknya menonton sirkus indah.

 

“Hmm… rasanya diriku seperti di surga, Eunhye. Kau bagaimana, hm? Sama sepertiku, ‘kan?” tanya gadis itu dengan senyum iblisnya. Detik kemudian tangannya menjengut rambut Eunhye keras tanpa ampunan sedikit pun, gadis itu terkekeh pelan ketika Eunhye memejamkan matanya sembari meringis pilu.

 

“Ow, indahnya suaramu, Eunhye. Hahhahaha.”

 

“Kumohon… hentikan semua ini, Narin….” Lirihnya pilu. Eunhye menahan rasa sakitnya yang beribu-ribu kali lipat lebih menyedihkan dari pada sebelumnya. karena semua murid di sini tengah menontonnya secara gratis sambil tertawa terbahak-bahak.

 

“Lihatlah! Teman! Dia memohon kepadaku. Itu artinya aku ratu di sini. Hahahaha.”

 

“Ratu? Ratu maksudmu?”

 

Narin berbalik dan menatap seseorang yang bertanya padanya dengan lantangnya itu. ia terkejut bahwa suara itu adalah suara Jungkook.

“O-oh? Jungkook, Sayang… A-apa yang kau lakukan di sini, hm?” Narin; gadis itu, melepaskan jengutannya yang menyakitkan bagi Eunhye. Ia menghampiri Jungkook—kekasihnya—dengan berjalan anggun di hadapan lelaki tampan seantero sekolahnya. Terlebih lagi, Jungkook adalah anak pemilik sekolah ini.

 

“Jungkook….”

 

“Lepaskan, Narin!” Jungkook melepaskan genggaman Narin pada tangannya, pria ini begitu muak melihat kekasihnya yang seperti wanita ular. Jujur saja, Jungkook baru percaya perkataan teman-temannya itu bahwa Narin selalu melakukan pembully-an di sekolahnya. Sialan! Tahu begini ia takkan pernah mencintainya.

 

“Apa maksudmu, huh? Aku tak menyangka kau sekejam ini padanya. Apa dia mengganggumu? Nyatanya tidak, ‘kan? Kau yang mengganggunya, Narin!” tanya Jungkook yang mengintrogasinya. Narin membulatkan matanya terkejut melihat Jungkook yang sangat marah padanya. Ini adalah kali pertamanya Jungkook marah padanya di seumur hubungannya itu.

 

Keadaan hening seketika, dan tentunya membuat Narin semakin malu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sekolah untuk melihat reaksi semua murid di kelasnya. Dan tentunya mereka hanya diam, tak ada yang membela dan bersuara. Termasuk gengnya itu, mereka hanya menunduk ketakutan.

 

“Jungkook… kau salah paham, dengarkan pen—“

 

“Cukup! Aku muak padamu, Narin. Mulai saat ini—kita putus. Selamat tinggal.” Ujarnya pergi begitu saja.

 

Narin membulatkan matanya ketika dengan lantangnya berbicara seperti itu padanya, terlebih lagi berteriak di hadapan semua orang. Dan itu membuatnya sangat malu.

 

“Sial!” cercahnya bengis. Ia berbalik dan menatap Eunhye yang masih terduduk bergeming sembari menatapnya takut. Namun dengan langkah tergesa-gesanya, Narin menghampirinya dan memegang pipinya secara kasar.

 

“Akh! Narin sakit, kumohon….”

 

“Diam! Apa kau merencanakan semua ini, huh—gadis miskin?!”

 

“Ti-tidak, Narin… Sungguh. A-aku….”

 

PLAK

 

Narin menampar pipinya dengan keras membuat Eunhye meringis pelan dan perih. Sungguh ia tak kuat diperlakukan seperti ini lagi, ia lelah, ia bukan robot yang bisa digunakan sepanjang waktu. Namun apalah daya, jika ia memberontak mungkin Narin akan membuat drama besar di sini, dan semua orang yang melihatnya takkan pernah membelanya sekalipun. Pasti.

 

“Dasar, gadis miskin! Pergi sana!”

 

“Ta-tapi… a-aku harus….”

 

“PERGI!”

 

 

Dengan langkah gontainya Eunhye berjalan menyusuri kota. Jarak sekolahnya dengan rumahnya itu cukup jauh dan itu bisa membuat tungkainya pegal seketika. Namun semua uang bekal yang diberikan oleh kakaknya itu;untuk seminggu ini;habis seketika—ralat dibawa Narin dengan paksa. Otomatis dirinya tak bisa pulang naik busway saat ini, dan itu membuatnya sedih sekaligus lelah.

 

Jujur saja, Eunhye takut berbicara pada kakaknya itu, bahwa dirinya bolos; diusir oleh Narin. Dan dia tak bisa melakukan apa-apa termasuk pembelaan. Ia hanya murid kecil dan tak mempunyai keluarga beruang. Dirinya juga bisa bersekolah di sana karena beasiswa dari pemerintah pusat. Cukup beruntung jika dibicarakan.

 

Isak tangisnya menguar pelan ke udara, netranya berpandang pada langit biru yang begitu menyejukkan mata. Ini masih bisa dikatakan pagi karena jam tangan usangnya itu berpedar pada angka 10.00 pagi. Dan dia sedang berkeliaran bebas di luar.

 

‘Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan pada Kak Heewon tentang pembolosanku hari ini.’ batinnya berbicara. Tungkainya masih berjalan pelan meski matanya itu menatap kosong jalan, ia tak mampu bersuara lagi, dan matanya juga seakan meminta berisitirahat untuk menangisi semuanya.

 

KRING—KRING—KRING

 

Suara klakson sepeda yang khas membuat Eunhye menatap pelan pada sisi sampingnya, ia menatap pemuda yang kini tersenyum lebar menampakkan deretan giginya itu. Eunhye berkerut kening ketika dirinya mengingat pemuda yang telah menolongnya. Seolah mengerti keadaannya, pemuda tersebut menepukkan jok sepeda belakangnya untuk dinaikki oleh dirinya.

 

“Taehyung… aku….”

 

Melihat pemuda itu cemberut lucu, Eunhye berpura-pura menghela napas berat. “Baiklah, jika kau memaksa.” Seketika raut wajah Taehyung ceria dengan rona pipinya yang seperti anak kecil.

 

Eunhye memegang pinggang Taehyung sesuai intruksinya yang memegang tangannya dan meletakkannya di pinggangnya secara erat. Detik kemudian laju sepeda itu perlahan berjalan, yang diayuh oleh Taehyung dengan semangatnya.

 

“Kita kemana? Kau ‘kan tak tahu rumahku.” Bukan sebuah jawaban lisan yang diedarkan, mengingat Taehyung memiliki kemampuan yang kurang, lelaki itu menepuk punggung tangannya lembut dan berbalik menatapnya sembari tersenyum meski sekilas.

 

.

.

 

Sepeda Taehyung pun berhenti di Taman indah ini dekat dengan minimart di sebrangnya dan saat itu juga Taehyung memarkirkannya di sana. Dengan senyumannya yang masih terpampang di sudut bibirnya itu, Taehyung menggenggam tangan Eunhye hangat dan duduk bersampingan sembari menulis sesuatu di notebook-nya itu.

 

—‘Tunggu di sini, aku akan membeli makanan ringan untukmu.’—

Dan itu berhasil membuat Eunhye tersenyum manis padanya.

 

Tak harus menunggu lama memang, Taehyung kembali dengan cepat dan membawa sekantong keresek kecil yang dibawanya kini. Seketika pandangan Eunhye berpendar padanya seolah-olah gelagat Taehyung terslow motion seperti drama-drama yang dilihatnya. Terutama ketika matahari menyinari kulitnya yang mulus itu, bagaikan pangeran yang berperan menjadi orang miskin.

 

Entah sejak kapan bahwa Taehyung telah duduk di sampingnya dan menyodorkan es krim pada pipinya itu sembari menyengir tak jelas. Sontak Eunhye terkejut.

 

“Akh! Tae! Kau—ish.” Seolah tak peduli dengan gumaman protesnya, Taehyung memberikannya pada tangan kosong Eunhye di sana.

 

“Terimakasih.” Jawab Eunhye dengan gembira. Taehyung pun mengangguk semangat dan membawa es krim miliknya untuk dimakan olehnya sendiri. Mereka saling bertatapan sejenak kemudian memberikan senyuman kikuknya secara bersamaan. Seolah suasana hening saat ini sangatlah tak mengenakkan menurut dirinya, Eunhye pun mulai berbicara meski respon Taehyung pastilah telat.

 

“Apa kau tak sekolah, Tae?” tanyanya hati-hati. Dengan cekatan Taehyung menggeleng pelan sembari tersenyum tipis.

 

“Akh, maaf. Eum—Taehyung… sebenarnya aku penasaran denganmu, kenapa pada saat aku menginap di rumahmu itu aku tak melihat orangtuamu. Kemana mereka?”

 

Tahu bahwa suasana yang dibuat Eunhye serius menurut Taehyung, ia pun membuka notebooknya kembali dan menulisnya dengan cepat.

 

—‘Mereka sudah meninggal pada saat umurku 9 tahun, ketika kami bersenang-senang dan mengalami kecelakan begitu saja.’—jelas Taehyung singkat.

 

“Ah…, maafkan aku, Taehyung. A-aku….” Taehyung menepuk pundaknya pelan seraya tersenyum dan menulis kembali.

 

—‘Aku baik-baik saja.’—

 

.

.

 

Dengan janji Taehyung semalam, Eunhye diantar oleh Taehyung sampai rumah menggunakan sepedanya itu. Mereka berhenti tepat pada rumah Eunhye yang cukup kecil dan sederhana, ia memandang Taehyung yang kini menatap ke arah rumahnya itu yang sepi tak berpenghuni. Seolah mengerti dengan apa yang dipikirannya, Eunhye pun bersuara kembali.

 

“Ah…, keluargaku sudah berpisah, dan kakakku sedang bekerja saat ini. Jadi terlihat sepi.” Jelasnya singkat. Taehyung pun mengangguk mengerti.

 

“Mau mampir dulu?” tawarnya. Namun dengan jawaban Taehyung yang kurang memuaskan Eunhye menghela napas pelan. Taehyung menolak untuk mampir rupanya.

 

“Baiklah. Sekali lagi… terimakasih, Taehyung.”

 

—‘Ya, sama-sama.’—

 

*

*

 

Hubungan mereka berdua kian membaik dan mereka selalu pergi bersama. Taehyung yang selalu menjemputnya dengan sepeda atau hanya berjalan kaki sederhana. Meski begitu, Eunhye tetap bahagia dengan Taehyung. Apa pun itu.

 

Kini mereka sedang berada di Sungai Han, wisata gratis yang terpopuler di seantero Korea Selatan. Berjalan sembari berpegangan tangan sembari mengedarkan senyuman manis satu sama lain. Sungguh membuat debaran hati mereka berdua berpacu cepat.

 

“Maafkan aku kemarin menolakmu untuk berjalan-jalan, aku sibuk sekolah, kuharap kau mengerti, Taehyung.”

 

Pemuda itu mengangguk pelan sembari mengacak rambutnya, Taehyung memeluknya hangat dan mengelus punggungnya itu. Malam yang indah untuk mereka yang saling menyibukkan diri. Mereka berpegangan tangan sepanjang jalan menuju kursi panjang di dekat air mancur yang sangat indah itu. Dengan bersamaan gerakan, Taehyung dan Eunhye saling terduduk dan berpelukan hangat. Mengingat musim ini adalah musim dingin.

 

“Tae….” Panggilnya pelan. Ia menangkup wajah Taehyung dengan sebelah tangannya itu kemudian melanjutkan pembicaraannya itu, “—mengapa tak mau bertemu dengan Kakakku, hm?”

 

Saat itu juga, Taehyung merogoh saku mantelnya itu untuk mengambil buku yang selalu dibawanya kemana-mana. Mungkin baginya, sebuah buku tulis adalah harta bendanya yang sangat berharga dibandingkan dengan gadget yang selalu oranglain pamerkan.

 

—‘Aku malu dengan diriku sendiri.’—

 

“Apa maksud dengan tulisan itu? Alasan yang konyol.”

 

Dengan genggaman erat yang diberikan oleh Taehyung itu membuat Eunhye kembali menatap Taehyung luluh.

 

—‘Kau harus ingat, aku bisu, Eunhye.’—

 

”Taehyung… berhentilah merendahkan dirimu sendiri. Semua manusia itu tak ada yang sempurna, begitu pun aku, ingat itu! Pahatan Tuhan tak ada yang gagal, Tae….”

 

Tatapan Taehyung berganti nanar, ia tak kuasa menahan air matanya yang mendesak paksa lewat matanya itu, segera dirinya memeluk Eunhye dengan erat dan menelusupkan kepalanya di ceruk lehernya itu. Mengerti dengan keadaan, Eunhye mengelus punggungnya pelan.

 

“Sungguh, aku mengkhawatirkanmu, Taehyung… ketika kau tak datang lagi ke rumahku kala itu.” Segera Taehyung melepaskan pelukannya dan menatap Eunhye lekat sembari memberikan kepercayaan yang luas padanya, ia mengecup pipinya singkat kemudian tersenyum hangat. Seolah mengatakan aku-baik-baik-saja, padanya.

 

“Aku… menyayangimu, Taehyung….”

 

Untaian kata itu membuat Taehyung terpaku karena sebuah kata per katanya berhasil menggetarkan hatinya itu. Ia menangkup pipinya perlahan dan menatapnya dengan seduktif.

 

“Aku menyayangimu melebihi rasa teman, melainkan rasa seperti wanita terhadap laki-laki. Dan kurasa kau juga… begitu.”

 

Taehyung tersenyum getir mendengar semua penuturan yang dilakukan Eunhye tadi. Ia menuliskan beberapa untaian kata di sana dengan getaran tangannya.

 

—‘Apa kau tak malu selalu bersamaku? Aku bisu dan aku tak pantas menerima semua cintamu itu. Dan sejujurnya, aku juga mempunyai rasa itu padamu, Eunhye.’—

 

“Tae….”—hentinya sejenak, “—aku tak malu sama sekali dengan keadaanmu, dan bisakah kita tak membicarakan hal ini? Aku… sangat mencintaimu dan ini memang kedengaran konyol ketika seorang wanitalah yang mengatakan cinta.” Eunhye menunduk sedih, tak ada respon yang dilakukan Taehyung sekarang. Dia tak menulis lagi atau pun menggenggam tangannya, bisa dipastikan ia—ditolak.

 

Namun detik kemudian, Taehyung menyelipkan rambutnya itu pada belakang telinganya yang membuat Eunhye menatapnya lekat. Pandangan mereka bertemu dan menyalurkan kata per kata lewat netra masing-masing. Taehyung mendekatkan wajahnya pada Eunhye saat ini, dan menggenggam tangannya hangat. Melihat sikap Taehyung yang lembut itu, embusan napas Taehyung membuatnya memejamkan matanya pelan, begitu pun Taehyung. Bibir mereka menyatu di sana, dan tak ada pergerakan sedikit pun darinya. Namun bukan naluri lelaki jika Taehyung tak memulai. Ia mulai melumat bibirnya pelan, yang belum pernah sama sekali dijamah oleh pria manapun.

 

Taehyung memegang tengkuknya pelan untuk memperdalam ciuman mereka dan memeluk gadis yang dihadapannya dengan erat namun penuh kasih sayang. Ia melumatnya tanpa meninggalkan aksen seinci pun, bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mencari spot yang mudah dijamah. Namun sebuah pukulan kecil dari Eunhye membuat Taehyung berhenti melakukan hal itu.

 

Benang saliva pun menaut satu sama lain, membuat Taehyung menyeka bibir plumnya itu.

 

“Taehyung.., apa itu artinya kita— telah menjadi sepasang kekasih?”

 

Pertanyaan yang konyol memang dan selalu diidam-idamkan oleh Eunhye ketika mereka telah akrab satu sama lain. Dan Taehyung pun mengangguk semangat kemudian membawa tubuhnya itu pada dadanya.

 

 

Malam berganti pagi, dan Eunhye pun lebih semangat hari ini karena sebuah anugerah yang paling membahagiakan itu telah menghinggapi hatinya. Pesona wajahnya berseri-seri, seakan-akan bahwa dirinyalah yang paling bahagia dibandingkan yang lain. Tak peduli jika dirinya dibully pun, hatinya akan kuat dan pulih kembali karena sosok yang selalu memberikannya sebuah kekuatan terbesar. Kim Taehyung.

 

Sekolah telah ramai sekarang, namun beberapa murid di sana tengah bergerumul di papan madding sembari berkomentar ria. Eunhye berjalan menuju sana, takut-takut jika ada pengumuman yang sangat penting dari pihak sekolah. Belum dirinya sampai dan melihat apa yang terpampang di sana, namun suara yang memekikkan suasana membuat semua orang menatapnya dengan satu jentikan jari.

 

“Bukankah itu wanitanya? Jelek sekali.”

 

“Iya-iya, mungkin dia menggunakan mantra guna.”

 

“Kumuh, tak terawat, apa hebatnya dengan gadis itu? Membuat mataku minus saja.” ejek mereka yang pastinya tertuju pada Eunhye. Semakin penasaran apa yang dimaksud mereka, Eunhye menatap papan madding di sana. Dan dirinya terkejut dibuat kepayang, foto semalam ketika dirinya berciuman dengan Taehyung terpampang jelas di sana. Mulai dari saling berdekatan sampai foto mereka tengah melumat masing-masing. Ia mengambil fotonya itu dan menatapnya dengan seksama.

 

‘Siapa yang memotret ini semua?’ batinnya bertanya.

 

“Selamat pagi, Eunhye jalang.” Panggil seseorang dibelakangnya. Sontak Eunhye mengedarkan pandangannya ke sumber suara, dan ternyata Narin di sana menghampirinya bersama geng-nya.

 

PROK——PROK——PROK

 

Tepuk tangan yang dibuat secara slow motion itu membuat Eunhye menatapnya takut. Ia yakini bahwa Narinlah yang melakukan semua ini. Pasti.

 

“Owh… aku baru tahu bahwa gadis miskin ada yang menyukainya juga. Hmm… dan mungkin itu juga terpaksa. Betul teman-teman?”

 

“Betul. Sangat betul, hahahahahaha.”

 

“Apa maksudmu, Narin?” tanyanya.

 

“Lihatlah! Dia bisa melawanku setelah menjadi jalang semalam, sungguh menjijikkan! Eunhye! Berapa yang sudah dia bayar untuk menjamah tubuhmu?”

 

PLAK

 

Sebuah tamparan telak membuat Narin terhenyak. Mereka semua terkejut melihat Narin yang ditampar kali pertama mereka lihat, dan itu membuat Narin terkejut seketika.

 

“Kau tak lelah, Narin? Untuk menggangguku?”

 

“Sama sekali tidak, sebelum kau angkat kaki di sekolah ini.” jawabnya lantang.

 

“Kau tak pantas hidup di sini, Eunhye!”

 

“Dan itu masalah untukmu?” tanya Eunhye kembali. Mereka berdua semakin terus menyulutkan emosinya termasuk menatap bengis satu sama lain. Eunhye tak takut sekarang, ia harus kuat, mengingat dirinya mempunyai energi lebih dari sosok yang melindunginya.

 

“Ya, tentu. Tapi… untuk urusan kegiatan jalangmu tidak juga, hanya hobi saja untuk menghancurkanmu. Omong-omong kau pantas mendapatkannya karena lelakimu itu bisu. Hahahahaha.” Tawanya keras. Wajah Eunhye semakin memerah dan ingin sekali memberikan pukulan telak padanya. Namun sayang sekali ia harus menahannya.

 

Narin mendekatkan wajahnya pada Eunhye dan berbicara padanya dengan intonasi penekanan tinggi tepat di wajahnya. “Seleramu bagus juga, Eunhye. Seorang direktur muda seantero Korea Selatan, namun sayangnya bi—su. Huh, itu bukan tipe idealku. Cocok untukmu.” Ucapnya smebari mengibas-ibaskan tangannya.

 

“Apa? Direktur? Siapa direktur?”

 

“Owh… rupanya kau tak tahu, ya? Kasihan… jalang yang malang, seorang pelanggan tak tahu aturan, tak mengetahui identitasnya. Malang sekali.”

 

.

.

.

 

Eunhye menangis sesenggukan setelah sepulang sekolah. Ia membuka pintu rumahnya dengan kasar membuat sang penghuninya terkejut sekaligus khawatir. Melihat sang adik yang terlihat menyedihkan meski Heewon tahu bahwa adiknya itu selalu menanggung pembully-an di sana. Namun pastinya ini masalah yang berbeda.

 

“Eunhye… ada apa, Sayang? Ceritakan pada kakak….”

 

“Kakak….” Lirihnya pelan kemudian memeluknya dengan erat.

 

“Sssttt… tenanglah, kakak di sini untukmu, Sayang.” Ujarnya menenangkan. Heewon mengelus pucuk rambutnya halus kemudian mengecupnya di sana. Perlahan deru napas Eunhye berangsur-angsur tenang.

 

“Kak… apakah aku dibohongi oleh lelaki itu?”

 

“Lelaki? Siapa dia? Apakah Taehyung yang selalu kau ceritakan, hmm?” Eunhye menunduk dan mengangguk pelan mengiyakan ucapan kakaknya.

 

“Kata Narin… dia adalah seorang direktur muda, Kak. Dan Taehyung tak pernah berbicara seperti itu, dia hanya berbicara bahwa ia juga sama miskinnya seperti kita. Apa itu benar?” lirihnya.

 

Heewon menghela napas sebentar, “Sejujurnya aku tak tahu dengan hal itu. tapi ketika kau menyebutkan namanya ‘Kim Taehyung’ kakak secara langsung mengingat nama pemilik perusahaan tempat kakak kerja. Namanya sama, Kim Taehyung, namun dia mempunyai kekurangan.”

 

DEG

 

Eunhye terkejut dan meremas bahu sang kakak tiba-tiba, “Apa kekurangannya?”

 

“Bisu.”

 

“APA?!” kejutnya. Eunhye memundurkan jarak di antara mereka, rautnya begitu sangatlah gelisah. Terlebih di saat Taehyung selalu membelikan sesuatu yang cukup mahal untuknya, sepatu, jam tangan, itu yang ia yakini harganya cukup fantastis. Dan mengapa ia tak menyadarinya? Bodoh!

 

“Ada apa, Eunhye?”

 

“Antarkan aku ke perusahaan yang kau maksud, Kak.”

 

*

*

 

Langkah Eunhye sangatlah tergesa-gesa, ingin meminta penjelasan yang pastinya menyakitkan hatinya. Napasnya memburu dan air matanya terbendung di pelupuknya saat ini juga, sang kakak terus mencegahnya agar tak melakukan apa pun. Ia terlalu khawatir jika terjadi sesuatu pada mereka berdua, termasuk dengan nasib pekerjaan Heewon yang hanyalah office girl semata.

 

Namun Eunhye tak peduli, ia terus melangkah tak tentu arah mencari Taehyung berada. “Dimana Direktur Kim Taehyung?” tanyanya tegas. Ia menatap tajam ke arah satpam ruangan yang terus menghalanginya masuk ke lantai lebih atas.

 

“Nona kau siapa? Apa kau orang penting? Coba tunjukkan surat perjanjian yang Direktur berikan,” suruhnya

 

“Tidak perlu. Aku memang sangatlah tidak penting di sini, aku janji takkan lama, tunjukkan di mana ruangannya!”

 

“Tapi, Nona—“

 

“Kau tuli?”

 

“Baiklah….” Ujarnya pasrah.

 

Satpam pun dengan sigap mengantarnya ke ruangan utama pemilik perusahaan Victory Corp. Sesuai perintah Eunhye tadi, satpam itu pun membuka pintu perlahan takut mengganggu atasannya yang ia yakini sedang beristirahat.

 

BRAK

 

Pintu pun terbuka lebar dengan kencangnya oleh kekuatan Eunhye yang menggebu-gebu, Heewon menggigit jarinya khawatir melihat Eunhye bisa saja memberontak dengan satu jentikan jari. Namun rupanya gadis itu menahan amarahnya ketika mereka bertemu pandang.

 

“Direktur Kim Taehyung. Selamat malam!” sapa Eunhye bengis. Mereka saling bertemu pandang satu sama lain, Eunhye yang sudah terkuasai oleh rasa kecewanya dan Taehyung yang kini mengenakan setelan jasnya itu hanya bisa membelalakkan matanya tak karuan, pemuda itu memandang bawahannya meminta penjelasan, ‘Bagaimana ini bisa terjadi?’ netranya berkata. Namun sang satpam hanya menunduk minta ampunan.

 

Eunhye melangkah perlahan sembari terisak pelan. Taehyung tak bisa berbuat apa-apa, menjelaskan pun susah, yang ia lakukan hanya menghampirinya dengan tatapan memohonnya yang selalu ia torehkan ketika Eunhye marah padanya. Perlahan Taehyung menggenggam tangannya itu namun ditepis kasar oleh Eunhye.

 

“Jangan menyentuhku, Direktur Kim. Aku muak dengan drama miskinmu! Apa maksudmu ini, huh? Kau menyangka aku bodoh? Di dunia ini memang semua manusia hanya bullshit! Termasuk kau, Yang Terhormat Direktur.”

 

Taehyung menggeleng cepat-cepat, ia meraih tangannya yang kini terasa dingin. Air matanya telah mengalir begitu saja dalam pipi Eunhye, Taehyung benci hal ini. Eunhye yang ia cintai marah, kecewa, sekaligus benci padanya. Dan itu terlihat dari matanya itu. Isak tangisnya membuat Taehyung bergetar, hatinya terasa sakit dan kacau. Ia mencoba memeluknya namun dia terus meronta untuk dilepaskan. Jika ia bisa menjelaskan saat ini, ia akan lakukan. Nyatanya susah.

 

“Jangan menyentuhku, Taehyung!” larangnya sembari mendorong dadanya. Taehyung terkejut? Tentu saja. Raut mukanya telah basah dan keringat basah di pelipisnya itu sudah terlihat jelas.

 

“Aku percaya padamu, Taehyung. Bahkan hidupku tergantung denganmu setelah Kakakku. Kakakku adalah seorang pembantu di sini, ‘kan? Jadi itu cukup mudah untuk mengetahui semuanya.” Jelasnya singkat. Detik kemudian Taehyung menatap Heewon lekat yang kini tengah menunduk takut.

 

“Maafkan aku, Tuan.” Ucap Heewon.

 

Taehyung memijit pelipisnya yang semakin pening, pandangannya melayang kemana-mana dan oksigennya yang semakin berkurang sedikit demi sedikit. Ia yakin, bahwa penyakitnya kambuh saat ini juga.

 

“Euh….” Lenguhnya sakit.

 

“Tuan….”

 

“Berhenti! Dia hanya akting saja, aku yakin itu!” perintah Eunhye.

 

Tungkai Taehyung semakin gontai dan berjalan mundur tak karuan sampai-sampai vas bunga di mejanya jatuh dan terpecah belah. Tak ada yang menolongnya, hanya saja di dalam hatinya Taehyung ingin berkata bahwa dirinya sangatlah mencintainya. Apa pun yang terjadi. Tangannya bergetar dan memegang meja kerjanya itu dengan erat. Matanya masih memandang Eunhye yang kini menatapnya tajam.

 

“Dramamu bagus, Direktur Kim.” Ucapnya sembari berjalan perlahan menuju Taehyung. Taehyung menggeleng pelan bahwa ini bukanlah kepura-puraan belaka, penyakitnya kambuh, dan rongga dadanya terus meronta kepiluan yang membuatnya ingin menjerit.

 

“—mungkin ini adalah kebohongan yang paling kau banggakan, menjadi seorang Direktur yang kaya dengan kebohongan. Nyatanya tetap saja, itu dosa besar! Lebih baik kita akhiri hubungan ini, Direktur Kim.”

 

DEG

 

Baru saja ia merasakan kebahagiaan yang tak ada duanya memilki gadis yang selalu menerima apa adanya. Namun saat ini juga seolah-olah Tuhan tak ingin melihatnya bahagia bersama Eunhye.

 

“A… eu—a….”

 

Eunhye kembali menangis mendengar suara Taehyung yang memaksa untuk berbicara, sejujurnya hatinya itu masih menyayanginya seperti kemarin-kemarin. Namun pemuda itu telah membodohinya dan itu membuatnya kecewa.

 

Taehyung bersimpuh di hadapan Eunhye kedua kalinya itu, ia memegang tungkainya dan menangis di sana sembari meratapi sesaknya napas yang terus memburu di dadanya. Eunhye memalingkan wajahnya ketika Taehyung mendongakkan kepalanya meminta permohonan maafnya terhadap dirinya. Tidak! Ia tak boleh luluh. Tekannya dalam hatinya itu.

 

BRUK

 

Kali pertamanya Eunhye mendorong kuat oleh kakinya itu. Suara histeris dari mereka yang dibelakangnya tak membuat Eunhye gelisah atau pun malu ketika saat ini Taehyung terjungkal ke belakang dengan tak sopannya.

 

“Eunhye! Cukup! Eunhye dia tak bersalah. Seharusnya kau bangga padanya….” Ujar Heewon yang kini bersuara.

 

“Bangga? Huh, sama sekali tidak. Aku takkan pernah menyukai seseorang yang berbohong ulung seperti dia. Dia harus menanggung rasa sakitku! Asal kakak tahu, di sekolah aku disebut jalang karena berpacaran dengannya. Itu sangat sakit, Kak. Sungguh….” Lirihnya.

 

“Eunhye….”

 

Ia kembali menangis penuh, yang selalu ia tahan sejak tadi. Meski begitu Eunhye masih menatap Taehyung yang kini terkapar lemah di sana sembari meraba-raba lantai dan dadanya.

 

“Hhh… A…”

 

“Sudahlah, percuma kau menjelaskan, aku tak ingin melihat tulisanmu lagi. Aku muak denganmu. Maaf mengganggu ketenanganmu, Direktur Kim. Permisi.”

 

Eunhye pergi begitu saja sembari menyeka wajahnya yang basah karena air matanya itu. Semua isi hatinya telah dipenuhi rasa kecewa yang mendalam termasuk dengan kenangannya. Ia meraba kalung yang kini masih tergantung di lehernya dan membuka paksa kemudian melempar ke sembarang arah.

 

“Aku tak perlu lagi ini. Kasih sayangmu hanya bullshit semata.” Monolognya geram.

 

Masih di ruangan Taehyung. Mereka berdua menolong Taehyung yang kini sesak napas dan tubuhnya bergelinjang tak karuan. Heewon yang notabenenya tahu dengannya itu, ia merasa iba. Sosok Taehyung adalah baik dan selalu menyapa pegawainya dengan senyum manisnya itu dengan setelan jas hitamnya. Dan saat ini ia terkapar di atas lantai.

 

“Eun… hhh….”

 

“Sudahlah, Tuan. Aku akan menghubungi sekertaris Choi ke sini.” Ujar satpam. Taehyung digotong pada belah sisi ruangannya yang terdapat kamar berukuran sedang yang dilengkapi TV serta AC dan kasur king size dan tentunya bersama Heewon di sini.

 

“Kau tunggu di sini, Nona. Aku akan menghubungi Sekretaris Choi.”

 

“Baiklah.”

 

Pandangan mereka saling bertemu, dan membuat Heewon menggigit bibir bawahnya perih. Tatapannya seperti mengatakan, ‘Maafkan atas kejadian ini.’ Namun ia menggeleng pelan.

 

“Maafkan atas sikap adikku, Tuan.” Isaknya.

 

Taehyung memegang tangan Heewon dan menunjukkan arah pada nakas kecilnya. “Euh….” Lirihnya sembari menunjuk ke sana. Seolah mengerti, Heewon berjalan menuju nakas yang kini di samping kirinya itu dan membawa benda merah yang dibaluti pita.

 

Heran. Heewon menatapnya kembali dan melihat gerakan tangannya yang menyuruhnya untuk membukanya.

 

“Cincin… Apa ini untuk Eunhye?” tanyanya yang disambut anggukan lemah dari Taehyung.

 

—‘Kau harus memberikannya pada adik cantikmu itu. Aku sangat mencintainya dan ingin memilikinya.— tulisnya sembari bergetar.

 

“Tuan… aku mengerti.”

 

“Tuan! Tuan! Astaga! Apa yang terjadi? Penyakitmu kambuh. Ayo kita ke rumah sakit sekarang, kau harus ditangani secara intensif.” Ujar Sekretaris Choi yang tiba-tiba datang dari ambang pintu.

 

Gelengan pelan dari Taehyung membuat Sekretaris Choi bungkam sejenak, melihat dirinya lemah tak berdaya seperti dulu. Ia semangat, selalu tersenyum dan rajin bekerja karena seorang wanita. Dan Sekretaris Choi tahu akan hal itu. Nam Eunhye berhasil menjadi obat hati Taehyung.

 

“Apa sesuatu terjadi pada gadismu, Tuan?” tanyanya hati-hati.

 

“Adikku—meninggalkannya.” Jawab Heewon singkat namun parau.

 

“A-apa? Tuan… Tuan! Tuan! Tuan! Astaga! Bawa dia ke rumah sakit sekarang!”

 

Taehyung pingsan seketika yang kini masih menggenggam sebuah surat kecil untuk Eunhye tercinta.

 

****

 

TBC

 

Mak minta krisar peulisshh :’v maafin banya typo, males ngedit. Hoaaaam.

 

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s