[BTS FF Freelance] Good Bye – Oneshot

cover-gb-1

Title : GOODBYE

Author : Valleria Russel/Heni Kurniyasari

Cast : – Irene ‘Red Velvet’ as Jeon Sunhi

 

  • Jeon Jungkook as himself
  • Kim Seok Jin as himself

 

Genre : Hurt, Drama, Alternate Universe

Length : Oneshoot

Rated : Teens-13

Disclaimer : Cerita ini murni dari pemikiran saya sendiri. Jangan mengkopi apapun tanpa izin ya. Semua yang ada di cerita ini adalah milik saya kecuali tokohnya 🙂 kalo ada waktu luang boleh kunjungi blog saya www.valleriarussel.blogspot.com ada ff juga di sana. Terima kasih dan selamat membaca ya semua!!

 

─Dia sudah sangat menyakitiku dan aku tidak bisa menerima lebih dari ini.

 

Malam ini temui aku di Star Café jam tujuh, aku punya kejutan untukmu 🙂  

−Jungkook

 

Aku tidak tahu sudah berapa kali aku membaca memo yang ditinggalkan suamiku disamping bantal pagi tadi selama empat jam terakhir ini. Empat jam sudah, tapi dia belum juga datang. Pelayan café bahkan sudah bolak-balik ke mejaku bertanya apakah aku sudah akan memesan makanan atau belum.

Kupikir ini akan menjadi malam yang istimewa mengingat hubungan pernikahan kami yang semakin hari semakin membaik. Aku dan Jungkook tidak menikah karena perasaan yang familiar disebut dengan nama cinta. Tidak, kami tidak memiliki perasaan seperti itu sebelumnya. Jungkook pernah menikah dulu sebelum ibunya membawaku padanya.

Pernikahan terdahulu Jungkook tidak berjalan dengan baik, istrinya meninggal dalam kecelakaan karena berusaha melarikkan diri dari rumah. Dari cerita yang kudengar ini tentang perbedaan kasta. Jungkook adalah pemilik perusahaan besar sedang wanita itu hanyalah seorang pembuat bubur.

Hubungan mereka berjalan dengan buruk, kedua orangtua Jungkook menentang mereka berdua dan melakukan segala cara untuk memisahkan mereka. Karena tekanan demi tekanan itulah wanita itu akhirnya menyerah dan berusaha untuk melarikan diri. Ketika ibunya mempertemukan kami berdua lima bulan yang lalu dia bilang padaku jika dia tidak akan pernah bisa mencintai orang lain lagi.

Aku pikir tidak apa-apa karena mungkin juga aku tidak akan pernah jatuh cinta pada pria yang tidak memiliki perasaan seperti dia. Akhirnya kami menikah dan menjalani hidup masing-masing layaknya seorang teman. Ya kami memiliki hubungan pertemanan yang baik meski yang diketahui oleh semua orang kami ini adalah sepasang suami istri.

Setelah lima bulan, hubungan kami berjalan dengan baik. Perlahan-lahan aku mulai nyaman dan terbiasa melihatnya berada di sekelilingku. Aku telah terbiasa untuk bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk kami sebelum pergi bekerja. Aku telah terbiasa untuk menyiapkan pakaian kerjanya, menunggunya pulang ke rumah, menyiapkan air hangat untuknya, menyiapkan makan malam, mengobrol, menonton film bersama, dan tidur.

Aku bahagia, mungkin. Ini adalah ajakan kencan pertamanya. Bolehkah aku berandai-andai jika dia juga berpikir bahwa hubungan pernikahan diantara kami telah berjalan cukup jauh sekarang? Aku takut akan terjatuh dan rasanya pasti akan menyakitkan. Jungkook adalah pria yang baik, aku tahu itu. Mungkin ini adalah keberuntungan untukku karena ibunya memilihku untuk menjadi menantu di keluarga Jeon.

Kembali, aku menghela napas dan berusaha untuk menghubunginya, tapi masih tidak ada jawaban. Aku sudah mengosongkan jadwalku hari ini untuk pergi ke salon dan berdandan hanya untuk memberikan penampilan terbaikku malam ini.

Empat jam lebih tiga puluh lima menit dan dia belum juga datang. Apakah dia lupa? Sesuatu menyengat hatiku saat menyadari mungkin ini hanyalah lelucon yang dia buat. Dia tidak mungkin mengajakku pergi berkencan. Dia sudah pernah mengingatkanku jika dia tidak akan pernah bisa mencintaiku. Mendadak air mata mengaburkan pengelihatanku.

Pelayan kembali ke mejaku dan menanyakan lagi apakah aku akan memesan sekarang dan akhirnya aku memesan makanan untuk diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan diriku jatuh sakit hanya karena batal kencan dengan suamiku. Aku harus memikirkan kehidupan lain yang sedang tumbuh di dalam tubuhku saat ini.

Seharusnya aku memberikan kejutan malam ini, tapi ternyata dia tidak datang. Ya, dia pasti hanya bercanda dan aku dengan bodohnya malah percaya. Semangatku yang menggebu-gebu tadi telah lenyap. Hampa dan sedih. Itulah yang kurasakan sekarang. Aku merasa hampa dan juga sedih dalam waktu yang bersamaan. Haruskah aku memberitahukan keberadaan janin ini padanya?

Aku takut dia tidak akan menerima ini. Jika ada yang menanyakan bagaimana bisa bayi ini terbentuk. Jawabannya mungkin akan membuat kalian tertawa. Sangat konyol. Suatu malam tiga bulan yang lalu, Jungkook pulang dalam keadaan mabuk dan dia masuk ke kamarku, menyergapku. Aku tidak bisa melawan, keadaannya benar-benar kacau dan yang paling luar biasanya lagi adalah selama dia melakukan hal itu dia menyebut nama mantan istrinya dan bukan namaku.

Akhirnya setelah berusaha menahannya sejak tadi air mata ini jatuh juga. Aku memakan makan malamku kali ini dengan sedikit sesegukan. Pagi harinya ketika dia terbangun, dia bingung kenapa bisa ada di kamarku. Yang kulakukan hanya diam, aku tahu seharusnya aku memaki dan menghajarnya waktu itu, tapi semua itu tidak kulakukan yang kulakukan hanya diam dan menangis. Itu adalah sebuah kesalahan dan janin ini hadir karena sebuah kecerobohan. Dia tidak diinginkan. Aku tidak tahu harus apa nanti saat kehamilanku diketahui oleh orang-orang.

Lima bulan ini aku sudah menanggung cukup banyak luka, berstatuskan sebagai istrinya tapi sebenarnya itu hanyalah sebuah label tidak berarti. Kami tidak pernah berumah tangga. Kami hidup layaknya sepasang remaja yang sedang menyewa rumah, hanya sebagai teman mengobrol dan waktu yang kami habiskan hanya beberapa jam saja di rumah, sisanya kami akan menghabiskan waktu di kantor.

Lima jam. Cukup sudah! Aku berdiri dan berjalan pergi dari café ini. Seumur hidupku aku tidak pernah meminta seseorang menungguku hingga lima jam. Tidak pernah. Ini sudah melewati batas. Aku sudah melakukan segalanya, tapi dia tetap bertahan dengan sikap brengseknya.

Aku tidak akan membiarkan dia tahu tentang bayi ini. Aku akan mengakhiri semuanya malam ini. Semuanya akan berakhir malam ini. Aku mengendarai mobilku kembali ke rumah dan mendapati mobilnya terparkir rapih di garasi. Mengagumkan! Sesuai dengan dugaanku, dia memang menganggap memo yang dia tinggalkan untukku itu adalah sebuah lelucon.

Dia kira perasaanku ini adalah sebuah lelucon. Bagaimana dia bisa setega itu padaku. Belum pernah ada satu orangpun yang menganggap perasaanku ini adalah lelucon. Semua orang menghormatiku. Ya Tuhan, harusnya aku tidak menikahi pria ini! Harusnya aku tidak menerima ajakan Mrs Jeon waktu itu.

Dengan kasar aku menghapus air mataku yang terus mengalir sejak tadi. Aku yakin wajahku terlihat sangat menyeramkan saat ini. Aku mematikan mesin mobilku dan berjalan cepat masuk ke dalam.

Keadaan rumah sudah gelap. Aku berjalan menuju dapur dan mengambil kunci kamarku juga kunci cadangannya agar tidak ada yang bisa menggangguku. Aku tidak akan membiarkannya melihatku hancur seperti ini. Dia akan senang karena leluconnya berhasil. Dan aku tidak akan memberi kesempatan untuk membuatnya merasa senang.

Setelah menghapus semua riasan di wajahku dan membilas tubuhku, aku menghubungi pengacaraku dan memintanya untuk mengurus perceraian kami. Harusnya aku melakukan ini sejak dulu. Aku sudah berusaha semampuku untuk menjadi sosok wanita yang pantas untuknya, untuk membuatnya melupakan mantan istri sialannya itu, tapi usaha-usahaku tidak menghasilkan apapun. Dia sudah kehilangan hatinya dan aku begitu bodoh karena menerima pernikahan ini.

Aku telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupku dengan menikahi pria tak berperasaan sepertinya. Ya Tuhan, kupikir dengan waktu dia akan mulai melihatku dan cinta akan segera kami miliki dalam hubungan ini, tapi sampai detik ini tidak ada cinta dan tidak akan ada. Aku sudah lelah. Perasaanku dianggap lelucon, jeripayaku untuk menjadi istri yang baik diabaikan, dan anak ini. Semua ini sangat menyiksakiu.

Malam ini dia sudah melewati batasannya. Aku adalah seorang wanita terhormat dan hari ini dia telah menginjak-injak harga diriku. Aku tidak bisa bertahan lagi, kurasa sudah cukup aku mempertahan hubungan bodoh ini. Aku akan membebaskan dia dari hubungan ini dan aku akan menemukan kembali hidupku yang dulu.

Dia sudah sangat menyakitiku dan aku tidak bisa menerima lebih dari ini. Aku akan pergi dan dia akan kembali bahagia dengan hidupnya. Aku mematikan sambungan teleponnya ketika pengacaraku mengatakan dia sudah mempersiapkan semuanya.

 

Aku tidak tahu berapa jam aku menangis semalam karena ketika terbangun aku mendapati kekacauan yang luar biasa terjadi di wajahku. Mataku bengkak dan rambutku seperti singa. Aku akan menunggu dia pergi lebih dulu ke kantor, baru aku akan keluar. Aku tidak ingin melihatnya lagi. Aku tidak akan sanggup untuk menahan air mataku jika aku melihatnya.

“Sunhi, kau baik-baik saja? Apa kau sakit? Aku ada rapat pagi ini.”

Dia mengetuk pintuku dan itu sangat jarang dilakukannya, biasanya dia akan masuk ke kamarku dengan kunci cadangan di dapur, tapi semalam aku sudah mengambilnya. Dia tidak akan pernah melihatku lagi. Setelah dia pergi aku akan menunggu pengacaraku. Aku akan menandatangi surat cerai itu dan sisanya biar pengacarku yang menyelesaikannya. Aku akan pergi segera setelah aku menandatangi surat itu.

Aku akan meninggalkan kota ini. Mungkin aku akan menerima pemindahan tugas ke Busan yang disarankan oleh bosku dua hari yang lalu. Aku tidak akan menemui siapapun, tidak juga orangtuaku. Aku akan memulai hidup baruku disana dan melanjutkan karirku. Aku akan menghidupi anakku sendiri. Tentu saja, ini adalah anakku, ketika dia lahir nanti aku akan membuatnya mengerti keadaanku dan dia tidak akan pernah membutuhkan seorang ayah.

“Sunhi, kenapa kau diam saja? Apa semuanya baik-baik saja?”

Aku tetap membisu dan menunggunya untuk enyah dari sini. Aku mendengar helaan napasnya sesaat kemudian dan kembali berbicara padaku. “Baiklah, aku akan pulang larut hari ini. Jika kau tidak sehat kau tidak usah pergi ke kantor dan tidak perlu menungguku pulang. Beristirahatlah,” ujarnya.

Kenapa dia perlu untuk mengatakan hal-hal yang terdengar sangat memuakkan di telingaku saat ini. Dia bisa langsung pergi tanpa harus mengetuk pintuku atau berbicara denganku. Dia tidak usah repot untuk menanyakan keadaanku. Setelah apa yang dilakukannya semalam, dia tidak pantas untuk apapun lagi, bahkan tidak untuk rasa simpati sekalipun.

Deru mesin mobilnya terdengar meninggalkan rumah dan aku segera membuka pintu kamarku. Berjalan menuju dapur dan memasak sesuatu untuk kumakan pagi ini. Aku akan merawat bayi ini agar menjadi anak yang pintar. Dia akan menerima semua kasih dan cinta yang kumiliki sehingga dia tidak merasa perlu memerlukan yang lain lagi.

Aku menyayangimu. Aku berjanji akan menjagamu dengan hidupku. Kau tidak memerlukan seorang pecundang seperti ayahmu. Dia bahkan tidak pernah mempedulikan perasaanku. Kita akan hidup bahagia di Busan nanti, aku janjikan itu padamu, Baby.

Rumah ini sangat sederhana hingga kami tidak memiliki pembantu ataupun satpam. Aku bisa mengurus rumah ini dengan baik. Meski terlahir dari keluarga yang cukup terpandang aku tidak bertingkah seperti wanita-wanita kebanyakan yang berasal dari kelas ekonomi yang sama denganku. Aku dididik untuk menjadi seorang wanita yang berkelas dan tetap bisa menjalankan juga menempatkan diri menjadi seorang wanita, seorang istri dan segera untuk menjadi seorang ibu.

Air mata kembali mengalir saat tanganku menyentuh perutku. Aku menghapusnya dengan cepat saat mendengar bel dibunyikan. Itu pasti pengacaraku. Dia menyelesaikan berkasnya lebih cepat dari dugaanku. Kupikir dia akan datang sedikti lebih siang. Ini baru jam sepuluh, tapi lebih cepat akan lebih baik.

Aku membuka pintu untuknya dan mempersilakannya masuk. Dia tersenyum ramah padaku.

“Apa kau serius dengan ini? Kau yakin?”

Sebenarnya selain sebagai pengacaraku dia juga temanku. Aku mengangguk padanya. “Tentu, aku sudah memikirkannya dengan baik. Hari ini aku akan mempersiapkan kepergiaanku ke Busan. Bisakah kau mencarikan tempat tinggal untukku di sana? Aku sudah memutuskan akan pindah ke sana saja,” kataku.

“Apa dia sudah mengetahui tentang bayi kalian?”

“Tidak, aku tidak akan memberitahunya, Seok Jin. Kau harus mengerti. Aku sudah cukup bersabar dan berandai-andai semuanya akan membaik. Hanya aku sendiri yang berpikir jika kami sudah melangkah cukup jauh setelah lima bulan ini, tapi dia tidak. Dia tidak menganggap apapun tentang hubungan ini penting. Aku tidak bisa melanjutkan ini lagi dan menyakiti diriku sendiri lebih dari ini,” balasku.

Dia mengangguk pasrah dan memberikan suratnya padaku, dengan yakin aku membubuhkan tanda tanganku di sana. Lalu menyerahkan lagi surat itu padanya. “Aku bisa menyiapkan tempat tinggal untukmu, tapi mungkin baru besok bisa selesai. Jika kau bisa menunggu sebentar lagi,” katanya.

“Tidak, aku tidak bisa tinggal di sini lagi. Aku akan menginap di hotel malam ini dan akan segera pergi besok saat semuanya sudah diurus.”

“Baiklah, terserah padamu. Aku akan menyelesaikan masalah ini. Kau tenang saja. Jangan sampai kau stress karena itu akan berpengaruh pada keponakanku,” kekehnya.

Aku memberinya senyuman tipis. Setelah Seok Jin pergi aku mengemas barang-barangku tanpa ada yang tersisa dan aku meninggalkan semua barang yang berhubungan dengan dia dan kenangannya. Aku akan meninggalkan kehidupan lama di sini dan benar-benar memulai yang baru di Busan nanti.

Sorenya aku pergi meninggalkan rumah dengan mobilku menuju salah satu hotel yang cukup dekat dengan bandara. Seok Jin bilang jika Jungkook belum mau menandatangani surat cerai itu sebelum dia berbicara dan mendapatkan penjelasan langsung dariku. Sejak tadi pria itu terus menelponku, tapi aku mengabaikannya.

Aku menghubungi Seok Jin lagi dan mengatakan padanya untuk mengeraskan volume speaker agar Jungkook bisa mendengar suaraku.

“Sunhi, apa yang kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba mengirimkan surat cerai padaku?”

Dia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali, Tuhan. Hatiku teriris lagi. “Aku ingin mengakhiri hubungan ini, Jungkook. Kau bisa bebas dan aku juga akan bebas. Kita akan kembali ke waktu di mana kita tidak saling mengenal. Harusnya aku tahu hubungan kita tidak akan pernah bisa terjalin dengan baik. Kau tidak akan bisa menerimaku dan aku lelah dengan semua ini. Kurasa waktu lima bulan sudah cukup. Kumohon, kau hanya perlu menandatangani surat itu dan semuanya akan berakhir. Aku berjanji padamu, aku berjanji tidak akan pernah mengganggumu lagi. Selamat tinggal.”

Aku mematikan sambungannya saat dia berteriak memanggil namaku berulang kali. Aku tidak akan bisa memaafkanmu, Jungkook. Aku berjanji akan membebaskan kita berdua dari hubungan pernikahan yang tidak pernah kau inginkan ini. Kau akan mendapatkan kembali hidupmu dan aku akan menata lagi kehidupanku.

Aku mengganti nomor ponselku dan kembali mengirim sms pada Seok Jin untuk melakukan apa saja agar perceraian ini bisa berlangsung dengan cepat. Aku harus segera pergi dan malam ini aku akan menikmati waktu terakhirku di Seoul.

Semuanya berakhir hari ini, Jungkook. Aku berjanji akan membesarkan anak kita dengan baik dan aku berjanji dia tidak akan pernah tahu jika kau adalah ayahnya. Dia akan merasa cukup dengan seorang ibu sehingga tidak akan pernah terpikir olehnya untuk memiliki seorang ayah. Selamat tinggal.

 

TAMAT~

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Good Bye – Oneshot

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s