[BTS FF Freelance] LIE, LOST AND TEARS- Twoshot [2/2]

lost

Lie, Lost and Tears (TWOSHOT 2/2)

 

—writter by coolbebh ☺

 

Starring by ; Nam Eunhye (OC’s), Kim Taehyung (BTS’s) and Other.

Romance, Hurt/Comfort, Slice of Life — PG-15 — ONESHOT

 

DISCLAIMER ; Warning! A lots of TYPO, Original Cast is mine from my mind, and starring boygroup belong to God! Don’t repost and plagiarism. So… please give me APPRECIATION!

.

.

 

Coolbebh 2017** Present New Year!

 

Suara ambulan telah datang pada waktunya menghampiri Rumah Sakit terdekat. Taehyung dibawa oleh perawat sana dengan menggunakan ranjang roda bersama kekhawatiran dari raut wajah Sekretaris kepercayaannya dan Heewon; Kakak Eunhye.

 

Mereka berjalan tergesa-gesa, tak ingin merasakan hal sesuatu yang buruk dengannya. Dan Taehyung masih tak sadarkan juga, meski mereka berdua paham tentang apa yang terjadi.

 

Pintu UGD pun telah terbuka lebar, namun Sekretaris Choi dan Heewon tak bisa masuk begitu saja, karena Taehyung harus diobati secara intensif. Tentu saja mereka berdua mengangguk setuju, tak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi.

 

Heewon mengempaskan tubuhnya pada kursi tunggu yang berwarna silver itu, tak terkecuali Sekretaris Choi. Wanita ini menyeka wajahnya resah, takut gendangnya itu mendengar hal sesuatu yang buruk dari lontaran dokter nanti. Berbeda dengan Sekretaris Choi, ia menundukkan kepalanya karena menyesal tak bisa menemani Taehyung tadi; bosnya.

 

Namun apalah daya. Beberapa tumpukan berkas anggaran harus ia kerjakan tanpa ada yang membantu, tak apa, demi Taehyung. Karena bos mudanyalah yang bisa membuat hidupnya berubah.

 

Sekretaris Choi dahulu adalah seorang pengangguran, namun jabatan dari Sarjana Ekonominya telah ia dapat. Entah kenapa semua perusahaan tak menerimanya, mereka hanya mengatakan bahwa dirinya tak mempunyai pengalaman yang tak bisa diandalkan oleh perusahaan. Namun semuanya berubah, ketika dirinya bertemu Taehyung, pada saat lelaki itu telah lulus kuliah di bidang Management tepat usia lima belas tahunnya.

 

Fantastis, bukan?

 

Taehyung adalah pria yang kuat, pria yang selalu ceria, selalu memberikan senyuman kepada semua orang. Ia tak pernah membedakan orang kaya dan orang miskin, orang mampu dan orang yang pas-pasan, atau pun orang pintar dan orang yang bodoh. Semuanya sama.

 

Yang membedakan adalah… ketakwaan kepada Tuhannya.

 

Dirinya bertemu dengan Taehyung ketika hatinya ingin sekali berfoto bersama, ia ingat sekali itu. Namun Choi Jinhan; Sekretaris Choi; tak tahu bahwa Taehyung mempunyai kekurangan. Yaitu….

 

BISU.

 

Seperti angan yang indah dan melayang ke langit ke tujuh bersama bidadari cantik, namun pada saat angin topan dengan kilatan penuh murka, membuat terhempas begitu saja pada dasar paling berpuing.

 

Itulah yang Sekretaris Choi rasakan ketika ia tahu kekurangannya.

 

“Sekretaris Choi….”

 

Merasa terpanggil, kepalanya itu meneleng perlahan bersama lelehan liquid bening yang tengah meluncur di pipinya itu. Ia hanya menatap Heewon nanar, tak menjawab panggilan sederhananya itu.

 

“Maafkan aku, aku tak menyangka bahwa—“

 

“Cukup! Kau tak perlu berbicara. Fokuskan kepada Tuan Muda Taehyung.”

 

Heewon menghela napas lirih, “Baiklah.” setujunya.

 

****

 

Sudah tujuh jam Heewon dan Sekretaris Choi telah menunggu yang kurang pasti dari dokter. Mereka berdua heran tak kepayang, sang dokter yang sudah mengurus Taehyung sejak dulu tak mengizinkan mereka berdua untuk masuk. Hanya karena alasan ruangan itu harus sangatlah steril.

 

Berkali-kali Heewon menghela napas dan tentunya tubuhnya sudah sangatlah lelah. Namun ia tak bisa menyerah begitu saja, ia harus bertanggung jawab atas perkataannya waktu itu. Di mana adiknya bertanya tentang Taehyung. Sekali lagi—ia menyesal.

 

“Heewon… kau bisa pulang sekarang. Jangan memaksa dirimu untuk menjaganya, aku akan menjaganya, selalu.”

 

“Tapi—Sekretaris Choi aku… tak bisa.” jawabnya.

 

Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras. Tak peduli jika bibirnya berdarah. Yang ia pikirkan adalah sebuah penyesalan yang tak pernah berujung sebelum bosnya sudah siuman.

 

“Sudahlah, adikmu akan mencarimu nanti. Iya, ‘kan?” Heewon melirik sekilas Sekretaris Choi dengan tatapan sendunya, kemudian menunduk dengan isakkan tangisnya yang pelan. Dan di saat itu juga, elusan punggung dari tangan besar Sekretaris Choi membuatnya merasa sedikit tenang.

 

“Aku… menyesal. Menyesal telah memberitahukan rasa penasaran adikku. Bodohnya aku!” rutuk Heewon.

 

“Heewon….” Ia menggenggam tangannya hangat, “—mungkin Tuhan sudah menakdirkan hal ini. Jujur saja, karena gadis itu—adikmu, Tuan Muda Taehyung sangatlah berubah total. Dia mempunyai semangat juang hidup yang berkobar-kobar, yang sempat hilang karena mendengar penyakitnya itu. Dia selalu rajin check-up pada dokternya, selalu berolahraga untuk membentuk otot, katanya agar Eunhye tak bisa berpaling padanya. Dan juga—terapi pita suaranya.” jelasnya dengan lirih.

 

Heewon semakin terisak, dadanya semakin bergemuruh. Karena Taehyung adalah inspirasi hidupnya yang selalu kekurangan ekonomi. Eunhye benar-benar sangat beruntung dicintai oleh pria sempurna sepertinya. Kekurangan Taehyung terlihat sebuah titik saja, namun kelebihannya melebihi gunung paling indah di dunia.

 

Apalagi?

 

Kim Taehyung mempunyai segalanya. Mulai dari harta, gelar, rasa ikhlas, tegar, ceria dan jujur dalam hal memimpin.

 

“Kuharap kau mengerti ucapanku, Heewon. Pulanglah… Tuang Muda akan saya jaga dengan baik di sini, dan—“

 

“Sekretaris Choi!”

 

Heewon dan dirinya mendengar panggilan dokter itu. Mereka bergegas berdiri dan menghampirinya. Raut wajahnya terlihat cemas dan rapuh, dan tentu saja membuat Sekretaris Choi bergidik ngeri, tak ingin mendengar hal apa pun. Kecuali yang baik-baik saja.

 

“Mari masuk. Aku akan jelaskan di sana. Tapi… jangan lupa gunakan masker dan jas yang ada tertera di sana.” perintahnya sembari berjalan.

 

“Baiklah….” seru mereka berdua.

 

.

.

 

Tatapan sendu dari sudut manik Heewon sangatlah terasa. Ketika maniknya secara sengaja memandang semua peralatan yang digunakan untuk penyangga hidup Taehyung. Monitor detak jantung terus terdengar beraturan namun terkadang melemah beberapa waktu. Yang membuat dirinya tak kuasa untuk menangisi dirinya lagi.

 

‘Direktur… maafkan aku….’ Itulah ucapan batinnya yang menggebu-gebu ingin dikeluarkannya secara langsung.

 

Melihat mereka berdua yang cukup terkejut, Dokter Jung menghela napasnya. Ia membuka suaranya setelah sekian lama ingin ia keluarkan, namun semuanya terhenti karena detak jantung Taehyung yang semakin melemah tak stabil.

 

“Begini—“ mulainya sedikit terhenti. Dokter Jung menunduk sejemang kemudian memasukkan tangannya pada saku jas besarnya itu.

 

“—aku tidak tahu apa yang terjadi dengan pasienku ini. Minggu lalu dia baik-baik saja, dan tentunya semakin membaik dalam grafik catatanku. Namun… jujur saja, aku sangat terkejut ketika kami memeriksanya, semuanya tak berfungsi dengan baik. Dia—hampir mati tadi, setelah kami berusaha. Apa yang terjadi? Bukankah akhir-akhir ini dia mempunyai pipi yang terus merona dan senyuman yang bergairah?”

 

“Ini semua salahku….”

 

“Heewon….” sergahnya.

“Ada insiden cukup besar di antar kami. Maksudku… dengan adikku, mereka berdua baru saja melangsungkan hubungan manis seperti remaja lainnya. Tapi… karena teman adikku yang selalu menguar gossip murahan, di saat itulah adikku bertanya, ‘Apakah benar Taehyung adalah seorang Direktur?’. Tentu saja aku hanya menjawab sepengetahuanku saja.”

 

Tubuh Heewon bergetar, peluhnya semakin bercucuran, perasaan bersalahnya semakin membesar di relung hatinya itu, semakin besar dan menyakitkan. Maniknya menatap Taehyung yang kini terkapar lemah dengan sambungan oksigen di sana. Ada rasa terenyuh yang tak kepalang yaitu… Taehyung menitikkan air matanya beberapa kali.

 

“Dia menangis, Dok.”

 

“Tentu, dia mendengar semuanya. Dan juga ia sedang berjuang di alam bawah sadarnya.” jawabnya. Dokter Jung menggenggam kertas putih yang dililiti oleh pita berwarna merah muda. Ia menyodorkan kertas itu pada Heewon yang kini terpaku memandangnya.

 

“Kau Kakak Eunhye, ‘kan? Berikan ini untuknya. Sejak dia pertama kali dibawa kesini, ia terus menggenggam ini. Aku mohon… mungkin saja… ini pesan manis untuk Eunhye.”

 

“Kau mengenal adikku?” tanya Heewon. Mau tak mau tangannya itu menerima surat itu dan menggenggam erat benda berharga tersebut.

 

“Tidak. Aku cukup tahu saja, Taehyung selalu menceritakan gadis itu, dan juga ia sangat ingin sekali memberikan hal lebih padanya. Tapi… ada sebuah rahasia yang tak dibicarakan olehnya padaku. Entahlah….”

 

“Tuan Muda berbohong pada Eunhye, bahwa… dia adalah rakyat miskin.”

 

“A-apa?” kejutnya.

 

“Jadi… penyakit apa yang diderita oleh Direktur Taehyung?” tanya Heewon penasaran.

 

“Radang paru-paru stadium empat.”

 

***

 

Heewon berlari tergesa-gesa menuju rumahnya, dan tentunya dengan baju basah kuyupnya itu. Sebagian Kota Seoul telah dilanda hujan dan beberapa petir terus menghancurkan gendang. Heewon mengetuk-ketuk pintunya dengan keras. Namun tak ada jawaban pasti di dalam sana.

 

Ia mendobrak pintunya dengan keras, dan sesuatu yang terjadi di sana. Eunhye mencoba bunuh diri.

 

“Apa yang kau lakukan, bodoh?! Lepaskan benda itu!”

 

“Apa pedulimu, Kak? Pergi sana! Jangan pedulikan aku lagi!” tegasnya sembari memegang pisau lipat di tangannya. Rumah mereka sudah seperti kapal pecah, pecahan beling berserakan di mana-mana, termasuk barang-barang yang Taehyung berikan, terbakar dalam tong sampah di sana.

 

“Uhuk-uhuk! Kau gila, Eunhye!” Heewon mengibas-ibaskan tangannya itu untuk mengusir kepulan asap yang semakin membludak. Untung saja Eunhye tak membakar rumahnya, hanya membakar di dalam tong sampah besar itu.

 

Heewon menghampirinya dengan kesal, “Taehyung koma! Dia membutuhkanmu, Eunhye. Kau tak percaya? Silakan datang ke Rumah Sakit nanti. Ini surat dari malaikat cintamu. Baca dan pahami, Eunhye!” tuturnya kesal. Heewon melemparkan surat itu tepat di hadapan Eunhye yang kini terpaku kaku. Matanya sangatlah nanar dan tak bisa diartikan.

 

“Be-benarkah? Kakak tak bohong, ‘kan?”

 

“Menurutmu? Asal kau tahu, Eunhye! Dia berusaha hidup karenamu, dia berusaha untuk bisa berbicara karenamu, dia—hhh….” Heewon menghentikan sejenak omongannya, “—dia ingin mengatakan bahwa Taehyung sangat mencintaimu, meski peluangnya kecil, dan juga itu sangat beresiko tinggi. Taehyung bisa bisu permanen.”

 

BRUK

 

Eunhye ambruk seketika bersama air matanya yang mengucur begitu saja. Dadanya yang berdesir cepat karena khawatir tentang pangeran cintanya. Bohong jika Eunhye tak mencintainya lagi dengan sekejap mata, tetap saja hatinya itu berkata, ‘Ya. Aku masih mencintainya.’

 

Manik kelamnya memandang surat cinta dari Taehyung. Eunhye membuka pucuk surat itu perlahan sembari menyeka wajahnya yang sangatlah basah karena likuid sialan. Di saat itulah bibirnya bergetar tak karuan.

 

Cinta Taehyung sangatlah besar.

 

—Tersayang Cinta Kasihku.

 

Hai, Sayang. Apa kabar? Aku harap kau baik-baik saja di sana. Konyol memang aku membuat surat murahan seperti ini. Tapi jujur saja, aku ingin merasakan cinta yang damai seperti Ibuku dan Ayahku dulu. Kau tahu? Cinta mereka sangatlah besar dan tak bisa didobrak oleh cinta yang lain.

 

Dan saat itulah aku ingin mengatakan sesuatu padamu, bahwa… aku ingin menikahimu dan mempunyai anak yang banyak. Tapi… jika diingat-ingat, kita masih muda. Kau berumur tujuh belas tahun sekarang, dan aku juga. Tapi bisakah kita melakukan itu semua? Kuharap pemerintah pusat mengizinkan kita hehe.

 

Eunhye, Sayang… terimakasih atas semuanya. Atas segala kepahamanmu tentang diriku. Tentang semuanya, aku mempunyai kekurangan, yang bisa saja anak kita nanti memiliki kekurangan sepertiku. Dan aku tak ingin merusak keturunanmu. Sangat berat untuk mengatakannya bahwa aku… tak bisa memilikimu seutuhnya.

 

Aku hidup tanpamu seperti anai-anai ditiup angin. Tak berarti.

 

Kau selalu memberikan kekuatan lewat senyummu, tawamu, dan genggamanmu yang hangat.

 

Namun… apakah itu akan terjadi?

 

Semoga hubungan kita penuh dengan warna ceria, dan tak dihujung dengan petir yang menyeramkan.

 

Tertanda

 

Kasihmu.—

 

Eunhye mendongakkan kepalanya sembari menatap sang Kakak tercinta, “Kakak… aku menyesal….”

 

***

 

Hari ini Eunhye berkunjung resmi ke Rumah Sakit yang Taehyung tempati. Dengan hati yang resah, khawatir, dan penyesalannya bercampur aduk begitu saja. Dadanya sesak, tak bisa ditoleransi. Air matanya terus jatuh tanpa peduli bahwa penampilannya seperti orang gila bersama tatapan aneh dari pengunjung Rumah Sakit.

 

Heewon menggenggam tangan Eunhye erat. Memberikan kehangatan dan kepercayaan diri bahwa ini akan baik-baik saja. Karena sebagian hati Taehyung akan dibawa ke tempat yang dituju.

 

Tungkai mereka berhenti sejemang tepat di pintu UGD. Eunhye menatap Kakak tercintanya lekat dan saat itu juga Heewon memberikan kecupan di kepalanya.

 

“Percayalah… Sang Maha Pencipta selalu menyertai umatnya.”

 

“Terimakasih, Kak.”

 

Dengan tangan yang bergemetar, Eunhye memegang kenop kembar itu perlahan, dan di saat itu juga aroma obat-obatan serta suara monitor detak jantung terdengar begitu saja. Membuatnya bergidik ngeri. Maniknya yang sendu menatap tubuh Taehyung yang terbaring lemah dengan beberapa selang yang memenuhi tubuhnya. Ia berjalan perlahan namun suara bariton yang tiba-tiba, membuatnya menoleh ke belakang.

 

“Kuharap kau bisa mematuhi aturan, Nona Eunhye.”

 

“A—a… Dokter. Apa ada yang salah?”

 

“Baca aturan yang terpampang di sana.” tunjuknya sembari memalingkan muka. Eunhye berkerut kening, namun ia tak peduli semuanya. Eunhye buru-buru memakaikan jas putihnya dan masker berwarna hijau bersama penutup kepala.

 

Tungkainya berlari kecil menuju Taehyung. Ia menatapnya lekat, sembari menggenggam tangannya yang masih hangat meski tak begitu terawat. Detik itu juga air matanya kembali memenuhi pipinya yang halus, enggan untuk berhenti. Entah kenapa.

 

“Taehyung… Cintaku….” lirihnya sendu. Ia mengecup tangan Taehyung yang begitu ringkih, entah sejak kapan. Eunhye menatap Dokter yang memandangnya tajam dan membuatnya tak enak hati. Apakah ia membencinya atau—

 

“Jika kau bukan kekasihnya, aku tak segan-segan mengeluarkanmu dari sini. Kau penyebab pasienku menurun drastis kondisinya. Asal kau tahu!” sindirnya tegas.

 

“Ma-maafkan aku, aku—“

 

“Minta maaflah pada Taehyung. Aku tak ingin dia terbaring lemah seperti ini, buat dia mendapatkan kondisi normalnya kembali. Jangan harap aku keluar dari sini, aku akan selalu menjaganya.”

 

Eunhye terisak. Ia mengusap wajahnya perlahan, kemudian wajahnya itu mendekat tepat pada telinga Taehyung, dan mengatakan sesuatu di sana.

 

“Cepat bangun, Tae. Aku di sini, untukmu, selalu. Bangun….” Ucapnya lirih. Eunhye mengelus pipinya lembut, yang didominasikan dengan warna pucatnya. Bibir Taehyung yang kering, ingin sekali ia lumat memberikan kelembapan di sana. Meski tak jelas. Eunhye mengecup pipinya itu lama sembari mengusap punggung tangan Taehyung dengan penuh kasih. Saat itu juga bibirnya basah, terasa asin.

 

Taehyung menangis dalam diam, dalam komanya. Membasahi bibirnya.

 

TIT——TIT—TIT—TIT

 

Monitor berubah dengan total dan membuat Dokter Jung terpukau karena keajaiban yang tak bisa dikatakan sepele.

 

“Astaga! Puji Tuhan! Taehyung melewati kritisnya. Aku tak percaya secepat ini!” ujar Dokter Jung girang. Saat itu juga Eunhye bangkit dan menatap monitor yang semakin menunjukkan kestabilan yang mampu rasa resahnya hilang begitu saja.

 

“Taehyung….”

 

Eunhye memeluk Taehyung kembali dengan erat, ia menangis di dadanya sembari tersedu-sedu. Benar apa kata Kakaknya, bahwa Taehyung membutuhkannya seperti dirinya yang kesepian, dan tak mempunyai arah.

 

Gerakan kecil dari jari Taehyung membuat Eunhye merasa geli. Ia menatap jari telunjuk Taehyung lekat kemudian menatap raut wajah Taehyung yang bergerak perlahan-lahan. Secara tak sadar, Eunhye menyunggingkan senyuman manisnya bersama rasa syukurnya.

 

“Dokter… Taehyung sadar.”

 

***

 

.

.

 

Kabar baik Taehyung membuat semua pihak kantor bersorak riang dan helaan napas lega. Termasuk Eunhye. Ia menatap Kakaknya dan Sekretaris Choi, semuanya begitu indah dan tak bisa diduga. Menurut Dokter Jung, peluang Taehyung sangatlah tipis, takdir kematiannya sudah diujung tanduk. Namun berkat sebagian kehidupannya datang untuknya, untuk Taehyung seorang, lelaki itu berusaha keras untuk menembus dinding alam bawah sadarnya untuk menemui kekasihnya.

 

“Terimakasih, Eunhye. Kau benar-benar malaikat Taehyung.”

 

“A… itu keajaiban dari Tuhan, Dokter.” Mendengar hal itu, Dokter Jung tersenyum.

 

Dokter Jung masuk ke ruangan rawat Teahyung yang baru, meski peralatannya masih lengkap seperti awal Eunhye lihat. Takut-takut jika kondisi Taehyung drop kembali. Namun suara lembut dari arah belakang membuat mereka melirik seketika.

 

“Dokter Shin Soo Yong? Apa kabar?”

 

Tentu saja Sekretaris Choi dan Dokter Jung tersenyum, menyambut wanita cantik dengan paduan jas putih seperti yang lainnya, yang membuat wanita itu terlihat elegan dan berpendidikan. Eunhye berpikir keras, mencari tahu siapa sosok perempuan tersebut. Namun rupanya Dokter Jung memahami tatapan Eunhye dan Heewon.

 

“Oh, perkenalkan dia—Dokter Spesialis THT. Taehyung berobat pita suaranya kepada wanita tersebut. Iya, ‘kan, Dok?”

 

“Tentu.”

 

“Ah… bagus. Terimakasih, Dokter… telah menjaga Taehyung.”

 

“Itu kewajibanku sebagai Dokter Nona. Oh, Dokter Jung… apakah aku bisa bertemu dengan Taehyung? Kabarnya dia sudah sadar, namun belum siuman.” tanyanya hati-hati.

 

Dokter Jung menghela napasnya, “Tentu. Tapi… maaf untuk Sekretaris Choi dan Heewon, kalian tidak bisa masuk. Tak apa ‘kan?” tanyanya hati-hati. Dokter Jung sangat takut bahwa mereka kecewa. Tapi mau bagaimana lagi? Peraturan harus digunakan dengan baik. Ruangan harus tetap steril bagaimana pun caranya.

 

“Ah… tidak apa-apa, Dok.”

 

.

.

 

Eunhye menggenggam tangan Taehyung yang semakin hangat, rona wajahnya perlahan-lahan telah datang di pipi Taehyung. Itu artinya kondisi Taehyung sudah lebih stabil. Namun entah sampai kapan lelaki itu terbaring lemah yang membuat Eunhye uring-uringan karena rindu.

 

Kini Eunhye menaruhkan tangan Taehyung ke dalam pipinya, mengelus di sana seolah-olah Taehyunglah yang melakukan. Sedetik kemudian, Eunhye mencium punggung tangan Taehyung. Ia sangat merindukannya, sungguh. Dan pria ini berhasil menguji mentalnya yang cap tahu.

 

Usapan Eunhye pada jari Taehyung berhasil membuatnya tersentak. Pasalnya, Taehyung menjawab semua sentuhannya itu dengan menggenggam kembali tangannya lemah, dan menautkan jari di sana.

 

“Dokter….” lirih Eunhye memandang. Sangat diluar dugaan memang, orang yang diharapkan untuk bangun ternyata terkabulkan dengan cepat. Kini mereka bertiga melihat reaksinya, apakah Taehyung akan membuka matanya perlahan atau… hanya reaksi kecil yang diberikan Eunhye tadi.

 

Tak cukup lama untuk menunggu. Taehyung sadar sembari membuka matanya yang cukup berat, bayang-bayang mereka bertiga membuat Taehyung mengernyit kening. Ia cukup pusing, dan kepalanya seperti dihantam bebatuan, begitu pun tubuhnya yang seperti telah jatuh dari ketinggian. Sangat-sangat sakit.

 

“Taehyung….” Panggil Eunhye lirih. Taehyung memfokuskan netranya meski susah. Namun dengan sebuah pelukan hangat dan kecupan cinta di keningnya membuat Taehyung tersentak berkali-kali. Taehyung tak percaya bahwa… Eunhye di sini—menjaganya.

 

Ingin sekali Taehyung berucap, sangat ingin. Nyatanya susah, berjuta-juta debaran jantungnya yang dikarenakan Eunhye membuatnya berusaha untuk menggapai punggungnya itu agar bisa berbalik memeluk. Faktanya kaku dan tak bisa digunakan sepenuhnya.

 

“Eunhye… biarkan aku memeriksanya….” Ujar Dokter Jung meminta. Tentu saja Eunhye menjauh seperkian detik berikutnya, namun tetap menggenggam pipi Taehyung sembari berbisik di sana.

 

“Aku akan di sini, tenanglah. Kau harus berjuang.” Bisik Eunhye pelan.

 

Jujur saja, ucapannya membuat jantung Taehyung berpompa lebih cepat yang membuat monitor terus naik turun angka. Dokter Jung terkekeh pelan, bisa dipastikan bahwa Taehyung saat ini sangatlah bahagia. Buktinya monitornya berbicara dengan jujurnya. Bahwa Taehyung sangat bahagia tak kepayang.

 

Enggan melepaskan tautan meski lemah, Dokter Jung tak bisa berbuat apa-apa. Yang terpenting adalah Taehyung bisa mengendalikan diri, dia terdiam, masih terpaku pada satu orang wanita yang dipujanya. Nam Eunhye.

 

“Sungguh luar biasa! Dia telah normal sekarang, hanya saja butuh proses pemulihan beberapa tubuh dan mentalnya agar bisa digerakkan, dan napasnya juga tak sememburu kemarin-kemarin, kecuali itu karenamu, Eunhye.” Jelasnya sembari terkekeh pelan.

 

“Maksud Dokter apa?”

 

“Hmm… dia akan tersipu malu jika kau menatapnya dengan intens. Coba saja.”

 

“Ah… Dokter Jung. Itu bahaya sekali! Tatapan intens dari cinta membuatnya tak bisa melakukan apa-apa, bagaimana pasienku ini kaku karena Eunhye.” Sergah Dokter Shin yang membuat mereka bertiga terkekeh pelan.

 

Mereka terdiam kembali sembari menatap satu sama lain. Dan Eunhye pun begitu, menatap Taehyung lekat penuh cinta.

 

“Tae… maafkan aku, ya? Gara-gara aku yang egois tak meminta penjelasan darimu kau bisa seperti ini. Maafkan aku….”

 

Ingin sekali Taehyung membuka suara namun suara itu menghilang begitu saja. Taehyung menitikkan air matanya diam-diam, dan menikmati sikap Eunhye yang masih menggenggamnya dan menciumnya. Sejenak Taehyung menatap lekat pada Dokter Shin yang notabenenya orang yang selalu memberikannya terapi akhir-akhir ini. Bisunya bukanlah permanen, melainkan karena kecelakan. Meski peluang bisa berbicara lagi sangatlah sedikit, jika dipaksakan akan dipastikan Taehyung akan bisu selamanya.

 

Seolah mengerti, Dokter Shin berkata, “Lakukanlah, Taehyung. Jika itu membuatmu bahagia, dan ingat resikonya. Aku menyayangimu layaknya anakku sendiri.”

 

Taehyung menatap Dokter Jung agar membukakan selang oksigennya yang cukup membuatnya risih. Dengan persetujuan anggukan Dokter Shin di saat itulah ia melakukannya sesuai intruksi Taehyung berikan.

 

Eunhye tak mengerti apa yang dilakukan oleh mereka. Apa Taehyung akan benar-benar dipindahkan lagi atau… harus berobat jalan? Itulah yang terus berputar di kepalanya saat ini. Sejenak ia melamun memikirkan Taehyung meski orang yang dipikirannya tengah di sampingnya. Namun genggaman erat dari Taehyung membuat Eunhye terhenyak sesaat dan menatapnya kembali.

 

Tatapan mereka bertemu sempurna, menyalurkan benih-benih cinta serta kerinduan. Detik demi detik berikutnya, manik Taehyung terus turun tepat pada perut datar Eunhye saat ini.

 

Eunhye mengulum senyum mengerti, “Aku tahu semuanya. Kita akan menikah dan mempunyai anak. Tapi kau harus berjanji, terus berjuang melawan penyakitmu, aku akan selalu di sampingmu Taehyung, apa pun yang terjadi.” ucapnya yang membuat Taehyung tersenyum.

 

“Kau ingin menikahiku, ‘kan? Jika kau benar-benar akan melakukannya aku rela menikah dini denganmu, Taehyung. Kau pria baik, dan aku percaya itu.” lanjutnya. Eunhye kembali terisak pelan. Ia menundukkan kepalanya yang tak mampu lagi dirinya topangi.

 

Namun suara memaksakan diri yang terdengar lirih dan susah membuat Eunhye benar-benar terhenyak seketika.

 

“A-a… kuh… men… cintai… mu, Eun… hhh… hye….” Ujar Taehyung pelan. Eunhye terdiam tak berkutik, ia menatap Taehyung yang cukup kelelahan mengucapkan hal seperti itu, terlihat deru napasnya yang memendek beberapa kali. Dan itu membuat Eunhye khawatir, sangat-sangat khawatir.

 

“Taehyung… kau—“

 

Tak kuat dengan degupan jantung yang terus meminta sesuatu yang tak bisa ditahan lagi, detik berikutnya Eunhye mencium bibir Taehyung di sana, di bibir keringnya yang ia usahakan lagi untuk lembab kembali. Tak peduli dua Dokter di belakangnya memandang mereka. Tetap saja Eunhye melumatnya pelan, begitu pun Taehyung, meski Eunhye yang mendominasi. Namun Taehyung hanya bisa menggenggam kembali tangan gadisnya itu.

 

***

 

EPILOGUE**

 

“Taehyung… bangunlah! Ini sudah pagi! Kau tetap saja tidur. Dasar dewa pemalas!” Bukan Taehyung namanya jika ia sedikit menjahili istrinya itu. ia mengulum senyum diam dan tetap memejamkan matanya erat-erat. Rupanya Taehyung akan menjadi aktor sekarang meski sejenak.

 

Istri? Ya… istri. Mereka telah melangsungkan persepsi pernikahan dua minggu yang lalu, tentunya dengan rekan-rekan rahasianya. Bisa dipastikan bahwa pemerintah pusat takkan pernah mengizinkan warganya menikah muda. Namun bagaimana lagi? Hormon kedua sejoli ini terus menggebu ingin memiliki satu sama lain.

 

“Taehyung… kau—aw!”

 

Manik Taehyung terbuka di saat itu juga, tentunya dengan sejuta kebinaran. Dengan posisi Eunhye yang kini di atasnya membuat dirinya gugup sekaligus kesal. Berani-beraninya ia tertipu lagi oleh buaian Taehyung yang menggoda itu.

 

“Ah… kau mengerjaiku, Suamiku? Ayo cepat bangun dan bergegaslah mandi.” Namun bukan sebuah anggukan yang pasti, Taehyung malah bergidik bahu pelan sembari tersenyum pelan. Dan itu membuat Eunhye menghela napas lelahnya, jika begini… Taehyung tak bisa dipaksakan. Biarkan pria itu tahan dengan aroma anehnya.

 

Perlahan Taehyung menurunkan Eunhye ke dalam pelukannya, dan mengecup beberapa kali pipinya itu. Bukannya tergoda, Eunhye malah merasa geli. Taehyung memang cukup berlebihan dan tak intens yang membuat Eunhye tak habis pikir. Pandangan mereka kembali bertemu lekat, menelisik netra masing-masing ke dalam pesona yang dimiliki. Taehyung sedang menyelami dunia Eunhye yang terus membuatnya tergoda setengah mati. Dengan perlahan Taehyung mendekatkan diri dengan seduktif dan mengelus perut Eunhye yang masih terbalut baju berwarna merah mudanya.

 

“Tae… kau selalu mengelus perutku. Kenapa? Aku tahu kalau perutku itu sedikit buncit, jadi jangan memperingatiku. Membuatku malu saja.”

 

Diam bergeming. Taehyung mengecup mata indah Eunhye itu cukup lama sembari mengelus perutnya. Kemudian menatap satu sama lain dengan unsur memberikan alasan apa penyebabnya tak henti-hentinya mengelus perutnya itu setiap saat. Tak peduli jika karyawannya melihat sikap Taehyung pada istrinya.

 

“Tae….” ujarnya sejenak.

 

“Memangnya kau ingin berapa anak, hmm?” seolah mengerti maksud perlakuan Taehyung tadi, ia menguarkan pertanyaannya yang memang cukup belum pantas di usia yang masih dini.

 

Taehyung melayangkan kedua tangan Eunhye ke udara bersama tangannya juga. Yang dilakukan Teahyung di sana menyatukan jari-jari mereka yang Tuhan anugerahkan untuk mereka berdua, seluruh umatnya.

 

“Dua puluh?” tanyanya memastikan dan Taehyung pun mengangguk mengiyakan.

 

“Itu terlalu sedikit. Bagaimana lima puluh?” tawar Eunhye dan itu membuat Taehyung membelalakkan matanya terkejut.

 

“Tapi… kau harus mempunyai istri banyak, Taehyung.”

 

Sedetik kemudian Taehyung memanyunkan bibirnya itu yang membuat Eunhye gemas. Gadis ini mengecup bibir Taehyung berkali-kali membuat Taehyung kewalahan. Jujur saja, Eunhye lebih agresif dibandingkan dirinya. Eunhye mencengkram bahu Taehyung pelan, dan memberikan tatapan seduktif di sana, yang membuat Taehyung mengerjap polos.

 

“Kau mau melakukannya pagi ini, Tae?” tanyanya merayu. Detik itu juga, wajah Taehyung merona malu dan mengulum senyum samar.

 

“Tapi….”

 

Ada sebuah keganjalan yang membuat Taehyung bergidik ngeri dan tak ingin ia dengar. Lihat saja wajah Eunhye yang cukup menyusahkan dirinya.

 

“Aku sedang menstruasi, Tae. Maaf, ya, hihihi.” Kekehnya pelan yang disambut helaan napas panjang Taehyung.

 

“Sudahlah! Kau bangun! Tak merasakan badanmu bau, huh? Dasar! Pergi ke kantor sana. Dasar me—“

 

BRUK

 

“Ya!”

 

Tepat saat ini Eunhye berada di bawah kungkungan Taehyung yang cukup mengerikan. Sialnya saat ini Taehyung memberikan senyum miringnya dan tatapan tajamnya itu seolah berkata, ‘Aku tidak bisa dibohongi olehmu, Sayang.’ Kurang lebih seperti itu.

 

“Tae… a-aku….”

 

Terlambat! Taehyung menang, Eunhye!

 

FINISH***

 

Hai~~~ kambek egen, lunas yah. Cape ngetik. Maaf typo, wajar masih amatir    hikkss 😀 tapi gapapa deh, biar gini juga lumayan.

 

Tertanda

 

—Coolbebh—

 

Coolbebh.wordpress.com

 

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] LIE, LOST AND TEARS- Twoshot [2/2]

  1. kim taehyung puspitasari

    Daebakkk…. ^^ feel nya dapet banget ^^ ampe masih sesenggukan gini , ngomong2 itu tae gasalah mau punya anak 20 (?) tae kamu mau ternak anak (?) :v
    pokonya semangat terus buat author nim ^^

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s