[Boys Meet What?] Diana – Vignette

picsart_12-10-09-14-07

Judul: Diana

Author: Aylee(ygurldd)

Genre: mystery, Drama, sad.

Length: 1036words

Rating: T

Cast: Jhope

Disclaimer: the character belong to God and this story belong to me. If there’s any similiarity to another story maybe its just an accident.

Summary: Hoseok selalu mencoba bunuh diri tapi gagal, kenapa?

 

Malam ini masih seperti malam-malam yang sebelumnya. Dibalik pintu bercat coklat itu terdengar isakan seorang perempuan dibarengi suara pukulan dan bantingan barang-barang yang gaduh dan membuat seorang remaja laki-laki bernama Jung Hoseok memegang kepalanya ketakutan. Hoseok sadar, setelah Diana –kembaran perempuannya pergi ketika usianya menginjak enam tahun, kehidupan keluarganya berubah. Tak ada lagi kebahagiaan dan kedamaian dalam kamus keluarga Hoseok.

Hoseok melompat melalui jendela kamarnya, sudah biasa seperti ini dan ia pikir mungkin akan selalu seperti ini. Kabur adalah hal favoritnya tiap kali pertengkaran kedua orangtuanya berlanjut dan membuatnya frustasi. Sungai Han selalu menjadi obyek sasarannya, walau hanya sekedar menatap keheningan sungai dari atas jembatan layang, Hoseok merasa separuh bebannya menghilang terbawa aliran air dan semilir angin yang berhembus mengibaskan surai hitamnya. Aku berharap angin dan arus sungai dapat membawa nyawaku terbang menghembus dari ragaku, hingga aku tak perlu susah payah menanggung neraka dunia. Aku benci hidup. Kapan aku menyusulmu, Diana? Hoseok memejamkan matanya lelah, kakinya mulai memanjat pagar pembatas.

 

“apa yang kau lakukan bodoh? Mencoba mengakhiri hidup dengan melompat ke sungai? Oh ayolah, kau adalah pria dan pria tidak menangis atau bertindak bodoh ketika memiliki masalah. Kau kuat, Hoseok” suara wanita yang selalu menggagalkan acara bunuh dirinya kembali terdengar.

Hoseok menapakkan kakinya kembali ke trotoar, ketika ia menengok ke kiri tanganya digenggam oleh seorang wanita manis bersurai hitam panjang. Selalu saja begini…

“kau tak inginkan mempunyai tangan sepertiku? Tangan ku dingin dan akan selalu seperti ini. Aku rindu memiliki tangan hangat sepertimu. Jadi, jangan pernah bertindak bodoh lagi, Hoseok-ah” ia melepaskan genggaman tangannya.

Hoseok hanya mengerutkan alisnya, ia terlalu bingung dengan apa yang dibicarakan wanita tadi.

“aku selalu berfikir, semua omonganmu itu bohongkan? Kau bilang hidup itu kebahagiaan, tapi dimana letak kebahagiaan itu? Selama tujuh belas tahun aku hidup bahkan aku tak pernah menemukan kebahagiaanku” Hoseok menjerit melepaskan frustasinya.

Wanita disampingnya tersenyum, mengelus pundak Hoseok pelan hingga Hoseok berhenti sesegukan. Hoseok menyeka airmata nya, menatap kembali wanita disampingnya yang sedang menatapnya lembut. Hembusan angin menerbangkan sedikit anak rambut wanita disampingnya, tangan wanita itu menyentuh pipi Hoeok, menyapu buliran air mata Hoseok dan memperlihatkan senyum manisnya. Namun Hoseok melihatnya, ia melihat ada tatapan perihatin dari wanita yang ada disampingnya.

“hidup memang sebuah kebahagiaan jika kau memperjuangkan kebahagiaanmu, Hoseok-ah. Kau harus memperjuangkannya bukan hanya pasrah seperti yang selalu kau lakukan.” Kini kedua tangannya menyentuh tangan Hoseok, ia menggenggamnya. Hoseok merasakan dingin menjalar keseluruh tubuhnya. Ia bergidik sesaat.

“kau merasakannya kan?” wanita itu tersenyum, tapi seperti ada sesuatu tersembunyi dibalik senyuman itu dan Hoseok merasakannya.

Wanita itu mencondongkan kepalanya mengecup kening Hoseok dengan lembut, dan Hoseok hanya bisa membulatkan kedua matanya kaget. Ketika ia akan melayangkan protesnya, bibir wanita itu kembali terbuka,

“semangatlah Jung Hoseok, kau bisa jika kau berusaha” ia melepaskan tautan jari mereka.

“maaf aku lancang menciummu. Tapi percayalah, ini akan menjadi pertemuan terakhir kita. Aku tak akan mengikutimu, muncul dihadapanmu, atau mengganggumu lagi, itu sebabnya aku menciummu. Agar kau selalu mengingatku bahkan ketika aku tak ada bersamamu lagi” wanita itu menundukkan kepalanya “percaya atau tidak, kau dan aku memang dilahirkan untuk saling melengkapi. Namun sayang, aku dan kau terlalu berbeda dan aku sadar saat ini aku harus benar-benar pergi darimu. Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghabiskan waktuku bersamamu, walaupun kau tak selalu bisa melihatku” lanjutnya masih tertunduk.

“maksudmu?”

“lihat kebawah” ia berucap lirih seolah tak ingin membongkar aib besarnya.

Hoseok menurut. Hoseok mundur beberapa langkah, kakinya yang berbalut converse lusuh berwarna hitam itu bergetar hebat. Wanita dihadapannya mengambang.

Ini mimpikan? Ini mimpi. Pasti ini mimpi!  Hoseok mengulang kata mimpi dalam hati

“sayangnya ini nyata” ia berucap tenang seolah barusaja membaca pikiran Hoseok.

“jadi kau?”

“simpulkan semaumu. Aku hanya tak ingin kau berakhir sepertiku. Jangan bertingkah bodoh lagi dengan mencoba bunuh diri. Kau harusnya bahagia, kau masih diberi kesempatan untuk merasakan kehidupan” matanya menyiratkan permohonan yang tulus, “aku harus pergi. Aku akan istirahat dengan tenang, jangan khawatir. Terserah kau ingin mendengar semua perkataanku atau tidak, aku hanya ingin kau mensyukuri hidup saja, Hoseok. Oh, dan mengikutimu selama ini adalah sebuah kebahagiaan untukku. Melihatmu tumbuh menjadi pria yang tampan dan sehat, harusnya kau mensyukuri itu.”

Setelah mengatakan itu, wanita itu melompat terjun kedalam sungai hingga tubuhnya tak terlihat oleh penglihatan Hoseok lagi.

“Tunggu!” Hoseok menjerit mencoba mencari sosok wanita yang selalu menggagalkan acara bunuh dirinya kebawah jembatan namun nihil, bahkan siluet seseorangpun tak ia temukan disana.

“teruslah berjuang untuk kebahagiaanmu, aku selalu mendoakanmu”

Gema suara yang ia kenal menyadarkan Hoseok sehingga matanya membuka secara refleks.

“Diana!” Hoseok menjerit sambil duduk.

Hoseok memandang sekelilingnya dan dahinya berkerut bingung, ia mendapati dirinya berada diruangan serba putih.

Lantas ini dimana?

Apa ini disurga?

Apa ia menyusul Diana?

“Hoseok…kau sudah bangun nak?”

Suara wanita paruh baya itu memecah pemikiran Hoseok, ia menolehkan kepalanya yang sedikit pusing kearah kiri. Terliihat dua orang paruh baya duduk manis dengan lengan si lelaki yang mengait dipundak si wanita. Ada berkas air mata dipipi wanita itu, itu ibu Hoseok.

“ibu” lirih Hoseok tak percaya

“Hoseok, ibu akan panggilkan dokter” ibu nya berdiri hendak meninggalkan ruangannya.

“ibu aku merindukan ibu dan ayah” ucapan Hoseok membuat ibunya membalikkan badan, berjalan kearahnya dan memeluknya. Tak lama, ia merasakan seseorang bergabung dalam pelukannya bersama ibu, itu ayahnya yang merengkuh badan Hoseok serta ibunya. “apa yang terjadi padaku?” lirih Hoseok didalam dekapan kedua orangtuanya.

“kau ditemukan hanyut di Sunga Han seminggu yang lalu. Kau pingsan setelah itu dan baru sadar sekarang nak. Terimakasih untuk tidak meninggalkan kami” ibu Hoseok mengelus surai anaknya lembut.

“kami hampir kehilangan harta berharga kami lagi. Jangan pernah berfikir untuk menyusul Diana secepat ini” ayah nya memeluknya sekali lagi “maafkan ayah dan ibu nak”

Hoseok mengangguk didekapan ayahnya, “ aku akan selalu bersama kalian. Aku menyayangi kalian” Hoseok melepaskan pelukan ayahnya, memperlihatkan senyuman terbaiknya.

Di kaca pintu, Hoseok melihat Diana tersenyum manis. Senyuman yang tak pernah Diana berikan pada Hoseok selama ini.

Terimakasih, Di” batin Hoseok dalam hati.

Ia mengangguk seolah menjawab batinan Hoseok, ia tersenyum manis lagi dan tubuhnya hilang begitusaja setelah Hoseok mengedipkan matanya.

-0-

 

Advertisements

2 thoughts on “[Boys Meet What?] Diana – Vignette

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s