[Boys Meet What?] Hey, Bro! – Ficlet

hey-bro

Hey, Bro!

||Length: 900+ | Rating: G |  Genre: School, Romance||
         ||Main Cast: Kim Seok Jin, Kim So Jin (OC), Jeon Jung Kook||

Disclaimer

Characters aren’t mine, but the fanfiction is.

Summary

Today isn’t your birthday, I wish you all the best, I love you.

chabaronim proudly presents-

 

Rambutnya menjuntai indah, meluncur lirih akibat gerakan menyisirnya yang tak begitu cepat. Walau rambutnya hanya beberapa senti lebih panjang dari bahunya, cukuplah untuk dikatakan sebagai mahkota wanita miliknya.

Tak berapa lama, gerakan itu terhenti dan ia beberapa kali menarik ujung blazer-nya, membuat apa yang ia kenakan sedikit lebih rapi.

 

Oppa, aku berangkat!” ia melewatiku begitu saja.

Aku melirik ke arah meja makan, “Sojin-a, bekalmu!” Aku mengambil bungkusan kain kotak-kotak berwarna biru yang berisi bekalnya.

Nampak ia menepuk jidatnya pelan, beberapa detik kemudian berbalik “Oh! Mian, Oppa. Aku melupakannya.”

Aku menghembuskan napas sekali, sedikit kecewa. Setiap hari aku menyiapkan, setiap hari pula ia melupakannya.

 

Aku mengacak rambutnya sebentar, “Sekolah yang benar, patuhi apa yang gurumu ajarkan.”

Ia merengut, “arasseo. Aku bukan anak kecil lagi.”

Aku tersenyum kecil, “itu baru Sojin-ku.”

Sojin menatap mataku, “Oh! Aku lupa satu hal. Mulai besok tidak usah buatkan aku bekal lagi ya, Oppa. Bye!” Sojin sekali lagi berlari kecil. Aku mengangkat sebelah alisku penuh tanda tanya. Apa yang terjadi?

 

***

 

“Ruang kelas 2-3, 2-4, 2-5—Ah! Ini kelas Sojin.” Dasar bocah satu ini, beraninya ia membuatku menyusuri lorong sekolahnya Sojin satu per satu. Dia kira sekolahnya ini kecil? Lihatlah, bahkan ini jam istirahat tapi kotak bekalnya masih ada di atas meja. Pasti ia malas mengambilnya.

 

Aku masuk ke dalam kelasnya dan meletakkan buku tugasnya tepat di samping bekalnya. Bagaimana bisa ia meninggalkan buku tugasnya di rum—

“Sojin-a!” Aku menoleh, suara sedikit berat baru saja terdengar di telingaku. Seperti suara… laki-laki? Apa aku tidak salah? “Oh! Kookie Oppa!” Barusan aku melihat Sojin… melambaikan tangannya? Tapi pada siapa?

 

Aku berlari menuju daun pintu kelasnya, “Kookie?” aku mengintip dari balik tembok. Sojin menghampirinya dengan senyum sumringah. Anak laki-laki itu mengangkat bungkusan kain berwarna merah di tangannya. Itu nampak seperti… bekal?

 

Dapat kupastikan bocah itu ada di tingkat tiga dan tadi Sojin menyebutnya Kookie?

 

Hm. Bahkan Sojin juga tersenyum padanya. Siapa dia?

 

***

“Sojin-a” Aku memanggil Sojin sembari masih tetap mengiris vertikal mentimun yang ada di tanganku.

Sojin mendongak sebentar, “Ya?” kemudian pandangannya jatuh lagi pada ponselnya.

“Kookie, siapa?” tanyaku perlahan takut menyinggung perasaannya.

Sojin tak mengubah ekspresinya dan pandangaannya masih menempel pada ponselnya, “Pacarku.”

Ya Tuhan, rasa-rasanya aku ingin membanting ponselnya tepat detik itu juga. “Pacar? Kau sudah mengerti cara berpacaran? Kau kan masih kelas dua.” Pancingku.

Sojin menghela napas, “karena aku kelas dua, harusnya aku sudah beberapa kali memutuskan hubunganku dengan laki-laki. Tapi apa nyatanya? Kookie Oppa adalah pacar pertamaku. Dia juga baik.”

Aku melotot, “Apa yang membuat dia baik?”

Sojin tersenyum sambil mengangkat ponselnya, menunjukkan layarnya padaku, “Lihat? Ia selalu mengabariku. Masakannya juga enak. Setiap hari Kookie Oppa membawakan bekal untukku. Jadi, mulai dari sekarang, Oppa jangan buatkan aku bekal lagi, ya? Aku tahu Oppa sudah cukup sibuk.”

Aku menahan napasku dan mendekat, “Seenak itu masakan Kookie Oppa-mu?”

Sojin berjalan melewatiku, “Ya, seenak itu.” sama sekali tidak mendongak ataupun menoleh.

Aku meletakkan kedua tangan pada pinggangku, “YA! Kim So Jin! Bawa Kookie-kookie menjijikanmu itu kemari!”

Sojin mengangkat tangannya dan mengangangkat tiga jari terakhirnya, “okay” katanya.

 

Kim Sojin! Lihat saja apa yang akan terjadi.

 

***

Aku terduduk di sofa ruang tamu dengan jemariku yang mengelus dagu, “Jadi, siapa namamu, Nak?”

“Jungkook, Jeon Jungkook, hyung—mm… apa boleh aku memanggilmu, hyung? Aku tidak mungkin memanggilmu ahjussi, kan?”

Aku menggigit bibir bawahku merasakan aliran darahku yang mulai naik, kesal. Tarik napas, tahan, hembuskan.

“Jadi, kau pacar Sojin?” aku menegakkan tubuhku.

“Ya.”

“Sejak kapan?”

“kemarin kami merayakan seratus hari—“

“sera—apa?! SERATUS HARI?”

“Ya.”

Sial, kenapa ia tenang sekali. “Apa yang kau suka dari adikku?”

“hmmm…” Bagus. Dia nampak berpikir. Awas saja kalau salah menjawab, habis kau Jeon.

“Dia cantik?”

“hmm…tidak.” dia menjawab santai.

“YA!” Aku menggebrak meja, kemudian mengangguk, “Baiklah aku mengakui itu, apa karna dia pintar?”

Ia memandangku aneh, “Memangnya dia pintar?”

“YA!!!” Sekali lagi meja ruang tamu bergetar karna ulah tanganku, “Pasti karna dia baik?”

Ia merengut, “Bukankah Sojin terkenal tukang bully?”

“YA!!! BOCAH! Lalu kenapa kau mejadi kekasih—”

“Karena dia Sojin, Kim Sojin. Aku menyukainya. Itu sudah cukup.”

 

 

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

 

Tidak, aku kehilangan kata-kata. Jangan bilang aku kalah dari bocah ini. Ayo ganti topik pembicaraan Kim Seokjin.

“Kudengar masakanmu enak?”

“Hmm… aku tidak tahu, tapi aku membawakanmu kimbab buatanku.” Dia mengeluarkan kotak bekal dari tasnya dan membukanya.

Tidak Kim Seokjin. Kau tidak boleh begitu saja mempercayai bocah ini.

Tapi dia baik? Cukup baik untuk Sojin.

Tidak-tidak! Sojin pantas dapat yang lebih baik.

Aku mengambil sepotong kimbab dari kotal bekalnya.

Satu gigitan.

Dua kunyahan.

Kemudian, telan.

Sial.

Benar-benar enak.

okay, setidaknya kimbab ini tak beracun.” Aku mengangguk pelan mengakui kekalahanku, mungkin?

Dia menengok jam yang ada di pergelangan tangannya, “hyung, aku ada kursus bahasa Inggris. Bolehkah aku pergi sekarang?”

Sambil masih mengunyah aku mengangguk lagi. Ia membungkuk pamit.

Baiklah, Kim Seokjin. Sepertinya kau memang harus percaya dan menyerahkan semuanya pada adikmu dan Jeon Jungkook, bocah menyebalkan itu.

 

***

Aku menghela napas. Aku terduduk di kursi meja makan dengan segelas jus jeruk dan sedotan yang menempel di bibirku. Pagi lain yang harus kuhadapi membuatku sedikit lelah karena aktivitas masak-memasak yang baru kulakukan. Di saat-saat seperti ini aku menyesal meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di Seoul. Untung saja Sojin masih menemaniku.

Oppa, aku berangkat!” oh, aku tersadar dari lamunan singkatku.

Untuk kesekian kalinya, ia melewatiku begitu saja.

Aku melirik sedikit, serong ke arah meja makan, “Sojin-a, beka—” Aku mengambil bungkusan kain kotak-kotak yang kali ini berwarna ungu.

Sojin berbalik badan. Aku sedikit tersentak dan menyembunyikan bungkusan bekal itu di balik badanku, “Tidak, bukan apa-apa. Sekolah yang benar, Kim Sojin! Semangat!”

Aku menunjukkan senyum terbaikku dan kemudian ia membalas dengan lambaian tangan. Aku berbalik badan dan menemukan bungkusan bekal itu masih pada genggamanku. Aku menghela napas sebentar.

 

Kim Sojin, hari ini memang bukan hari ulang tahunmu, tapi aku berharap yang terbaik untukmu, aku menyayangimu.

fin.

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s