[BTS FF Freelance] Friendship (N)ever End – (Vignette)

neverend-poster

Friendship (N)ever End

a fic by Orchidious

BTS’ Park Jimin and Kim Taehyung

Vignette | AU, Angst, Friendship, School-life | PG 17

I just own the plot

“Kamu tahu apa soal hidupku, ha?”

:::

 

Jimin menggigit ujung pulpennya cemas. Maniknya menatap lapangan di sampingnya lewat jendela yang ada dengan gelisah. Sesekali tetap memaksakan fokus pada guru yang tengah berbicara di depan tanpa berusaha mencatatnya atau mengingatnya barang sedikit. Raga Jimin mungkin memang berada di kelas saat ini, namun pikirannya sibuk menerka keberadaan si teman sebangku.

“Park Jimin!”

“E-eh ya?”

Mata guru lelaki itu menyipit. Dibetulkannya letak kacamata tebalnya seraya bertanya, “Kemana Taehyung?” Jimin semakin gelisah selagi menggenggam pulpennya makin erat.

“Tidak tahu, pak. Mungkin absen karena sakit,” sahut Jimin sekenanya. Cukup membuat sang guru kembali melanjutkan penjelasannya dan menunjuk-nunjuk kumpulan tulisan di papan menggunakan penggaris. Sementara itu, Jimin masih was-was. Taehyung tak ada mengatakan apa-apa kemarin perihal absennya dirinya. Dan lelaki yang selalu tersenyum itu juga terlihat sehat-sehat saja ketika pulang bersama Jimin kemarin petang.

Bukannya Jimin berlebihan. Tapi Taehyung selalu menyertakan surat atau mengatakan alasan bila ia hendak tidak masuk sekolah pada Jimin. Lalu sekarang, keadaannya berbeda. Tak mungkin bagi Jimin untuk tidak curiga.

“Baiklah anak-anak, pelajaran saya akhiri sampai di sini.”

Begitu kalimat tersebut selesai diucapkan, Jimin lekas melesat. Meninggalkan kelas, berlarian di seluruh koridor sekolah mencari keberadaan sang sahabat. Namun, semua usahanya berakhir nihil hingga jam sekolah berakhir.

Taehyung tidak masuk seluruh jam pelajaran dan ia tidak ada di semua penjuru sekolah.

 

:::

 

“Astaga, kau kemana saja, Tae?”

Jimin akhirnya bisa bernapas lega ketika dirinya berhasil menemukan Taehyung berada di sudut gang dekat kedai mi favorit mereka. Lelaki bersurai cokelat itu berdiri menyandar di tembok dengan pakaian bukan seragam.

“Kenapa kau tidak sekolah hari ini?” tanya Jimin lagi saat tepukan bahu darinya tak berbalas apa-apa dari Taehyung. Pemuda itu hanya diam. Memandang kosong jalan semen di bawahnya sambil memasukkan tangan ke saku jaket. Jimin makin bertambah bingung. Disenggolnya siku Taehyung yang kemudian membuatnya berjengit dan menoleh dengan tatapan datar.

“Itu urusanku mau sekolah atau tidak,” jawabnya cuek. Menendang-nendang angin bosan ketika hening mengambil alih suasana. Jimin mendadak canggung namun berhasil mengatasinya dengan membalas, “Itu juga urusanku sebagai sahabatmu…”

“Tahu apa kau arti sahabat? Kalau sudah tahu apa yang terjadi, kau pasti langsung meninggalkanku,” potong Taehyung tanpa jeda. Menatap Jimin tajam sedang yang dipandang mengerutkan keningnya.

“Apa maksudmu? Apa yang terjadi?”

“Keluargaku sudah hancur.”

Usai mengatakannya, Taehyung lekas menegakkan tubuh. Langkah lantas berderap, meninggalkan Jimin yang termangu bingung.

 

:::

 

Setelah kejadian sepulang sekolah itu, Jimin nyaris tak pernah bertemu Taehyung lagi. Berkali-kali ia mencoba menghubunginya lewat telepon, namun semuanya hanya berakhir sia-sia. Taehyung yang entah berada di mana, entah kenapa keluarganya dan entah bagaimana bisa menghilang, pasti berada di sisi lain kota yang tak sempat dijamah Jimin dalam masa pencariannya. Lalu seolah bernasib baik, Jimin kembali bertemu sahabatnya tersebut di sebuah taman, seminggu kemudian. Tangannya memegang sepuntung rokok yang masih menyala. Mengarahkannya ke bibir sebelum kemudian ditepis cepat oleh Jimin.

“Kau ini! Bukankah kita sama-sama sudah berjanji untuk tidak merokok, Tae? Kau kenapa, sih?” Jimin mengomel dengan tangan bergantung di pinggang. Mendecak sebal kala menangkap basah sang sahabat mengingkari janji mereka sendiri dulu. Taehyung tertawa. Tawa yang tak seceria biasanya. Aneh bagi Jimin, lantaran ia merasa seperti mendengar orang yang sudah lama depresi kala rungunya menangkap tawa tersebut.

“Menurutmu?” Sahutan Taehyung menguar bersama dengan tatapannya yang mengarah tepat ke manik Jimin. Pemuda Park itu menelengkan kepala. Memandang lekat Taehyung sebelum kemudian berujar pelan.

“Aku tak paham…”

Jimin menggelengkan kepala. “Sebenarnya apa yang terjadi, Tae?”

Taehyung kembali terawa. Kali ini diiringi dengusan selagi tangannya mengeluarkan sekotak rokok yang sudah habis setengah—Jimin terkesiap melihatnya—dan menimbang-nimbangnya. “Kau bilang kau sahabatku tapi begini saja tak mengerti,” tukas Taehyung sambil menyeringai.

“Aku tahu.”

Jimin tiba-tiba menjulurkan tangan. Meraih kotak rokok tersebut dan mencengkeramnya kuat-kuat. “Kamu boleh mengalami masalah—seperti dulu. Tapi bukankah kita selalu menyelesaikannya bersama-sama? Aku juga sering bertemu masalah, Tae. Tapi aku tak akan memilih mengisap benda mematikan ini sebagai jalan terakhir. Pikirkan hidupmu—“

“Kamu tahu apa soal hidupku, ha?”

Taehyung tahu-tahu membentak. Matanya berkilat penuh amarah sementara Jimin terkejut dengan reaksinya.

“Masalah katamu? Tahu apa kau soal masalahku? Itu dulu, Jim. Masalah yang sekarang jauh lebih buruk dari semua itu. Jauh! Kau tak ingat apa yang kukatakan minggu lalu? Keluargaku sudah hancur!” sembur Taehyung tak sabar. Tangannya mengepal dengan kepala kemudian beralih menunduk menatap sepatu ketsnya yang sudah mulai robek. Jimin bungkam. Tak percaya Taehyung akan seperti ini. Mulutnya hendak membuka untuk mengatakan sesuatu tapi Taehyung lebih dulu berbicara.

“Kaupikir hidupku—akan selalu—menyenangkan, ya? Cih.”

Suara Taehyung terdengar seolah mengejek dirinya sendiri. Mengingatkannya kembali akan realita. Mengempasnya ke lubang hitam tanpa arah yang baru saja tercipta. Semua karena keluarganya. Seluruh hal yang Taehyung yakin bisa dimiliki selamanya dengan baik sebelum situasi tak diduga menjungkir-balikkannya seperti ombak yang menghantam kapal. Masalah dan ketidakpercayaan. Awal miris yang dengan cepat mengubah segalanya.

“Tae…” Jimin menyentuh bahu sang sahabat. Berusaha menunjukkan simpatinya dan menawarkan bantuan agar Taehyung bisa ke luar dari lubang hitamnya. Namun, Taehyung bergeming.

“Ayahku bangkrut. Uang kotor hasil kerjanya membuat ia kini mendekam di balik jeruji besi. Malam sebelum ayah pergi, beliau bertengkar hebat dengan ibu. Mereka memang sering bertengkar akhir-akhir ini. Ibu tidak percaya dengan nafkah dari ayah sehingga beliau juga bekerja sendiri. Parahnya, ayah tidak tahu ibu bekerja dan pekerjaan apa yang diambilnya. Pada akhirnya, mereka sama saja. Ayah yang suka korupsi dan ibu yang menghabiskan tiap malamnya di club sungguh serasi, bukan?”

Taehyung bercerita tanpa diminta. Penjelasannya lancar, seakan itu hanya sekelumit cerita biasa yang bisa dengan mudah ia tuturkan pada Jimin—seperti yang sering mereka lakukan. Nyatanya, kisah itu sukses membuat Jimin terperangah dan menatap Taehyung prihatin. Ia tak menyangka masalahnya akan seberat ini. Taehyung, sahabatnya yang selalu ceria, murah senyum dan penuh dengan jenaka tak mungkin harus mengalami kenyataan pelik ini. Jimin semakin mengeratkan pegangannya pada bahu Taehyung.

“Lalu bagaimana dengan Seokjin hyung?”

“Seokjin? Kakakku yang semua orang pikir dia baik itu sudah pergi—dengan membawa warisan bersih dari ayah. Ayahku yang malang. Ia berada di penjara sementara anak sulungnya berhura-hura di bagian lain dunia.”

Tawa sinis Taehyung terdengar. Jimin mulai menggerakkan tangannya, mengusap bahu si pemuda sembari bertanya hati-hati.

“Tapi ibumu—“

“—meninggalkan rumah begitu saja. Sebentar lagi, aku yakin akan ada kabar hutangnya melilit. Ibu memang suka berbelanja banyak dan mencari hutang di sana-sini. Heh, bisa apa aku kalau sudah begini?” Jawaban Taehyung seakan menimpali ucapan Jimin sebelumnya. Hasilkan raut menyesal di wajah Park Jimin karena sudah menanyakan hal tersebut.

“Maaf, aku tak tahu jika keadaannya seperti ini,” ucapnya. Tetapi Taehyung masih tetap diam. “Kalau kau mau, kau bisa tinggal bersama keluargaku. Mereka pasti bersedia—“

“—menanggung seorang anak dari koruptor dan ibu peneman lelaki? Mereka pasti sudah tidak waras.” Taehyung menyambung lagi sambil mengangkat bahu. “Tidak perlu berbaik hati begitu, Jim. Percuma,” imbuh Taehyung seraya memalingkan muka. Ia lantas bangkit dari duduknya di atas pagar dan hendak meminta kembali kotak rokoknya dari Jimin. Namun, Jimin mengarahkan kotak itu ke belakang punggungnya.

“Tidak. Kau tidak boleh merokok lagi, Tae. Berhentilah! Kita bisa menyelesaikan ini semua bersama. Bukan dengan merokok atau mabuk-mabukan.”

“Kau tidak pernah mengerti, Jim!”

Taehyung berseru. Tangan besarnya dengan cepat meraih kotak di tangan Jimin dan memasukkannya ke dalam saku jaket. Tatapannya muak. Ia tak ingin bercakap lebih lama lagi dengan Jimin.

“Ini jalanku. Ini hidupku. Jangan mengaturku sesukamu. Biarkan aku menjalaninya sendiri.”

Rentetan kalimat dari Taehyung itu yang akhirnya mengakhiri dialog keduanya. Tungkai-tungkai lalu bergerak ke arah berlawanan. Jimin yang memilih kembali ke jalan pulang, sedang Taehyung yang berjalan entah ke mana. Yang penting baginya adalah menemukan tempat bernaung secepatnya lantaran hari beranjak gelap.

“Aku tak menyangka akan berakhir seperti ini,” gumam Jimin. Berjalan sedikit menunduk menatap jalur pejalan kaki yang dilewatinya. Mereka sudah berpisah sekarang. Menuju jalan masing-masing. Jimin yang tetap pada jalur putihnya dan Taehyung yang mulai mengambil jalur hitamnya. Persahabatan tahunan itu tanpa bisa diduga akhirnya hancur juga. Menjauhkan dua insan yang selama ini dikenal tak pernah lepas layaknya lem dan perangko. Keduanya sudah memutuskan. Dan tak ada yang bisa menolak hal itu.

 

Jadi yang Jimin lakukan sekarang, adalah membiarkan semilir angin menegaskan pemutusan tali persahabatan keduanya.

 

fin

Oke.ini.retjeh.sekali.

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] Friendship (N)ever End – (Vignette)

  1. Lah? -_- judul sama isi kok gak nyambung -_- #ReaderKecewa
    Seharusnya ada penyelesaian masalahnya lagi. Kek usaha jimin biar tae ke jalan yang bener lagi dan nunjukin kalo mereka emang sahabat. Bukannya ngebiarin taehyung :3 ada adegan tinju tinjunya kek biar greget. ini flat banget kesannya -_-

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s