[BTS FF Freelance] My Wife Amnesia? – (Chapter 5)

picsart_1469082624978

PART 5

TITLE: My Wife’s Amnesia?

CAST: Kim Taehyung || Cho Mijoo (OC)/You || Park Jimin || Others!

GENRE: Romance, Marriage life, School life

AUTHOR: MyB (FB: Melia febryanti, IG: @ebyra.mf)

 

***

 

Ini… Benar-benar gawat! Batin Taehyung panik.

“Yeobboseo?”Ibunya menyapa lagi karena Taehyung tak kunjung menjawab.

Taehyung urung bicara. Ia masih menimang-nimang alasan apa yang harus ia berikan pada Ibunya sendiri. Mungkin jujur bisa saja dilakukan, tetapi apa yang akan dikatakan Ibunya nanti? Ibunya bisa saja marah dan memakinya karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.

Dan… Soal kehamilan, Taehyung juga tidak akan membiarkan Ibunya mengetahui itu. Sebelum hari pernikahan mereka, Taehyung mengatakan Kalau Mijoo tengah hamil anaknya, padahal itu semua hanya alibi untuk menyatukan cinta mereka yang selalu terhalang.

Jika saja Mijoo tidak mengakui kalau ia ‘hamil’, Ibu dan Ayahnya tidak akan membiarkan anak mereka itu menikah dengan Taehyung. Jangankan menikah, pacaran saja selalu dihalangi oleh bodyguard masing-masing.

“Yeobboseo, Taehyung? Kau masih disana ‘kan, nak?” Tanya Ibunya lagi.

Taehyung keasyikan melamun, hingga ia lupa tengah berbicara dengan Ibunya.

“Ah, ne Eomma. A…aku masih disini. Soal periksa kehamilan Mijoo ke dokter kandungan, biar aku yang menemani Mijoo. Lagipula aku juga ada pemotretan setelah itu. Eomma istirahat saja di rumah.” Ujar Taehyung memainkan alibinya.

Terdengar desahan pasrah darisana. Taehyung tahu Ibunya sedikit kecewa.

“Arraseo. Beritahu Eomma bagaimana kehamilannya setelah selesai memeriksakan. Eomma tutup dulu.”

Pip.

Taehyung menghela nafas lega. Namun kelegaannya hanya sesaat. Taehyung kembali teringat istrinya yang sudah kabur itu. Ia melirik waktu di ponselnya. Sekarang sudah semakin sore. Mungkin sebentar lagi matahari akan terbenam.

Ingin rasanya Taehyung mencari Mijoo. Masalahnya… Kemana ia harus mencari?

 

.

.

.

 

“Disini indah, ‘kan?” Tanya Jimin menatap pemandangan di depannya.

Saat ini Jimin dan Mijoo tengah duduk di bangku panjang seraya melihat sunset di sungai cheonggyecheon, merupakan anak sungai dari sungai han.

“Eoh. Sepertinya aku sering ke tempat ini, namun… aku lupa bersama siapa.” Ujar Mijoo.

Jimin kelihatan tertarik, “Pergi ke tempat ini dengan seseorang? Siapa? Apa dia… Pacarmu?” Tanyanya penasaran.

Mijoo menyentuh pelipisnya, sedikit merasakan denyutan disana, “Aku lupa. Setahuku dia..”

“Taehyung?” Potong Jimin.

“K…kenapa kau menyebutnya?” Tanya Mijoo balik.

Jimin mendengus kasar, “Dia kan pacarmu, tentu saja aku menyebutnya.” Ujarnya malas.

“Sepertinya… Aku…” Mijoo merasakan denyutan luar biasa dalam kepalanya. Rasanya teramat sakit.

“Aku tidak mungkin berhubungan dengannya. Aku…”

“Aku menyukaimu, Mijoo.” Potong Jimin tidak sabaran.

Mijoo menatap Jimin heran. Detak jantungnya seperti berhenti berdetak selama beberapa detik.

“Aku sungguh sangat menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Namun setelah aku tahu kau adalah kekasih Taehyung, aku mengurungkan niat. Aku ingin kau menjadi milikku, tapi apa yang bisa ku lakukan?” Ucap Jimin menatap Mijoo lekat. Ada guratan kesedihan di mata Jimin.

Pipi Mijoo bersemu merah. Mijoo merasakan perutnya bergolak seperti digelitiki kupu-kupu pembawa kebahagiaan.

“Aku tahu kau baru mengenalku, dan selama ini aku telah menjadi secret admirer mu, yang hanya bisa bersembunyi di balik dinding.” Ucap Jimin lagi seraya menghela nafas panjang.

“Bagaimana jika aku mengatakan kalau… Aku juga menyukaimu?” Mijoo memelankan volume suaranya di akhir kalimat.

Jimin tertawa tanpa humor, “Jangan membuat lelucon, nona. Aku sudah merasakan sakit, jangan kau tambah lagi.” Tukasnya.

Mijoo menggeleng keras, “Menurutmu aku bercanda?” Tanyanya.

“Jangan harap aku akan percaya. Buktinya kau masih memakai cincin itu.” Jimin menunjuk cincin di jari manis Mijoo dengan dagunya.

Mijoo melihat jari manisnya. Ia sendiri tidak sadar kalau ia memakai cincin.

“Cincin ini?” Mijoo membuka cincin itu dari jari manisnya.

“Buang saja!” Lalu Mijoo membuang cincin itu melambung tinggi masuk ke sungai cheonggyecheon.

Jimin terbelalak kaget, “Kenapa kau membuangnya?!” Pekiknya.

Mijoo menepuk (maksud: membersihkan) kedua tangannya setelah membuang cincin itu.

“Sekarang, kau percaya padaku?”

SKIP

Pintu apartemen terbuka. Sekarang sudah pukul 19.00 KST dan Mijoo baru saja pulang. Taehyung berdiri di depan Mijoo dengan tatapan sangar. Mijoo tertegun melihat Taehyung yang tiba-tiba ada di depannya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Mijoo waspada.

Taehyung tersenyum miring, “Sekarang kau sudah berani ya? Kau kabur saat aku menanyakan kemana kau pergi. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Joo. Darimana saja?” Ujarnya sembari mendekat kepada Mijoo, membuat gadis itu memundurkan langkahnya.

“Aku tidak perlu memberitahukannya padamu- Akh!” Mijoo terjatuh saat ia ingin memundurkan langkahnya.

“Joo, kenapa?” Tanya Taehyung amat khawatir seraya berjongkok dan memegang pundak Mijoo.

“Sakit…,” Rengek Mijoo menyentuh kakinya.

“Kenapa? Kakimu terluka? Kau terjatuh?” Tanya Taehyung bertubi-tubi. Ia kelihatan sangat khawatir.

“Kakiku terkilir, babo!” Bentak Mijoo seraya memukul bahu Taehyung kuat, tapi kemudian ia kembali merengek kesakitan.

Taehyung segera menyelipkan tangannya dibawah lutut Mijoo dan mengangkat tubuhnya, menggendong Mijoo ala bridal style dan membawanya ke sofa ruang tengah. Mijoo sempat terkaget dengan perlakuan Taehyung yang begitu tiba-tiba.

Taehyung meletakkan Mijoo di bangku sofa dengan amat hati-hati. Mijoo hanya terdiam saat Taehyung mengangkat kedua kakinya menjulur sejajar ke atas meja. Lelaki itu tidak berbicara dan ekspresi seriusnya membuat Mijoo merasakan ada yang aneh dalam dirinya. Ia mengakui Taehyung seksi saat seperti itu.

Lelaki itu menyentuh telapak kaki Mijoo yang sebelah kiri.

“Dimana yang sakit?” Tanya Taehyung. Posisi lelaki itu duduk dilantai, dibawah Mijoo.

“Di pergelangan kakiku.” Jawab Mijoo pelan.

Tangan Taehyung merayap ke pergelangan kaki Mijoo. Saat Taehyung hendak melakukan sesuatu pada kakinya, Mijoo segera melarang.

“Yak! Apa kau bisa melakukannya?” Tanya Mijoo ragu.

“Percaya padaku, sayang.” Jawab Taehyung lembut.

“Mwo? Kau memanggilku apa?!” Pekik Mijoo emosi.

“Tahanlah, ini akan sedikit sakit.” Taehyung memutar pergelangan kaki Mijoo yang terkilir dengan gerakan hati-hati.

“Kyaaaa!! Eommaaaa!!!”

“Kau ingin membunuhku, eoh? Jinjja-arggghhh!!!”

“Yak! Cukup!!!”

KREK!

“Bagaimana? Sudah, ‘kan?” Tanya Taehyung.

Mijoo yang semula menutup matanya dan menjambak rambut Taehyung kembali membuka mata dan melihat kakinya. Ia pikir kakinya akan putus, tapi saat ia menggerakkan kaki, rasanya sudah tidak sakit lagi.

Mijoo tersenyum lega. Ia menatap Taehyung kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Ige mwoya? Rambutmu…” Mijoo bahkan tidak sanggup melanjutkan kata-kata karena tertawa.

Taehyung hanya memasang wajah datar, sama sekali tidak ada niat untuk tertawa. Mijoo merasakan tawanya tidak asyik lagi karena lawannya hanya diam saja. Mijoo pun terdiam.

“Apa ini?” Taehyung menyentuh lengan Mijoo dan menemukan luka lecet.

Mijoo memekik kesakitan, “Jangan disentuh itu sakit!” Bentaknya.

Taehyung geleng-geleng kepala, “Bukan hanya kakimu, tapi tanganmu juga terluka. Seperti anak kecil saja. Hmm.. Tunggu sebentar.” Lelaki itu bangkit dan mencari kotak P3K.

Setelah menemukan kotak P3K, Taehyung segera mengobati Mijoo. Mijoo menahan sakit dan meringis kecil. Taehyung memberi obat merah dan membalut luka Mijoo dengan kapas kasa.

“Ini akibatnya kabur dariku.” Omel Taehyung mencubit pipi Mijoo gemas.

Mijoo hanya mengerucutkan bibirnya, cemberut. Taehyung memperhatikan lengan Mijoo, mencari-cari mana tahu ada luka lagi di tangan gadisnya ini. Yang dicari luka, namun yang ditemukan lain. Taehyung memperhatikan jari manis Mijoo.

“Joo, mana cincinmu?” Tanya Taehyung serius seraya menyentuh jari-jemari Mijoo.

Mijoo segera menarik tangannya, “Aku membuangnya.” Jawabnya to the point.

Taehyung membeku saking terkejutnya, “Mwo? Jangan bercanda, Joo. Itu cincin pernikahan kita!” Serunya.

Mijoo yang awalnya terkejut jadi merasa geli. Ia berusaha menahan tawa, “Mwo? Cincin pernikahan? Konyol sekali.” Ucapnya.

Taehyung mengerang frustrasi. Rasanya ia sangat ingin memukul kepalanya dengan palu. Bagaimana mungkin dengan entengnya Mijoo membuang cincin pernikahan mereka?

“Dimana kau membuangnya?” Tanya Taehyung seraya memojokkan tubuh Mijoo dengan kedua tangan kekarnya.

Mijoo terhenyak dan menatap Taehyung takut-takut, “Aku membuangnya di sungai cheonggyecheon.” Jawabnya.

“Sungai cheonggyecheon? Jadi kau ke sungai cheonggyecheon? Untuk apa?” Tanya Taehyung introgatif.

Mijoo terdiam, tidak niat menjawab pertanyaan Taehyung.

“Jawab aku, Joo. Kenapa kau membuang cincin pernikahan kita?” Tanya Taehyung lagi sedikit memaksa.

Mijoo mendorong dada Taehyung agar menjauh darinya, “Karena aku tidak percaya padamu. Aku bukan istrimu.” Ucapnya penuh penekanan lalu pergi masuk ke kamar.

Taehyung menyapu kasar wajahnya. Masalah yang satu belum selesai, kini datang lagi masalah baru.

“Kapan kau sadar, Joo? Heuh.. Dasar amnesia sialan!” Gerutu Taehyung.

***

Pagi ini Mijoo tidak pergi bersama Taehyung. Mijoo beralasan pergi dengan menaiki bus. Mau tidak mau Taehyung menurutinya karena Mijoo memaksanya. Ia terlalu lemah dengan bujukan gadis itu. Taehyung susah untuk terlalu keras dengan Mijoo.

Saat dalam perjalanan ke sekolah, Taehyung lewat dekat sungai cheonggyecheon. Ia mendadak mengerem motornya. Semalam Mijoo mengatakan cincin pernikahannya dibuang di sungai itu, dan kini Taehyung akan mengambilnya.

Setelah memarkirkan motornya tak jauh dari sungai, Taehyung melepas seragam sekolahnya hingga tidak memiliki satu helai benang di tubuh atasnya. Kemudian Taehyung menyebur ke dalam sungai itu.

Akses penglihatan yang minim dalam menyelam di sungai itu tidak membuat Taehyung putus asa mencari cincin. Dengan keahliannya menyelam, Taehyung meraba-raba tanah terdalam di sungai itu. Rasanya sesak nafas. Taehyung kembali ke permukaan untuk mengambil nafas. Ia benar-benar jengkel karena tak kunjung mendapat cincin itu.

Kemudian Taehyung kembali menyelam. Untuk kedua kalinya ia gagal menemukannya.

Pada akhirnya untuk ketiga kali Taehyung mencoba kembali. Taehyung meraba tanah itu lagi, dan mencoba menemukan cincin itu, bagaimanapun caranya.

SKIP

Celana Taehyung basah kuyup, namun Taehyung tak acuh. Ia tetap melanjutkan perjalanan di lorong sekolah itu. Taehyung berniat menemui Mijoo ke kelas, namun Mijoo tidak ada di kelas.

“Mijoo pergi bersama Jimin. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa sedekat itu. Kudengar kau juga sudah putus dengan Mijoo. Apa itu benar?” Beritahu Eunha seraya bertanya.

Perkataan Eunha, teman sebangku Mijoo, membuat Taehyung mengepal kuat tangannya.

“Kau tahu mereka kemana?” Tanya Taehyung dingin.

Eunha berfikir sejenak, “Mijoo tidak memberitahuku, tapi sepertinya mereka ke atap sekolah, soalnya tadi aku melihat mereka menuju kesana. Mungkin mereka ada disana.” Jawabnya panjang lebar.

Taehyung menepuk pundak Eunha sekali, “Arraseo. Gomawo, Eunha.” Katanya sebelum akhirnya ia berlari kencang menuju atap sekolah.

Tiba di pintu atap sekolah, Taehyung perlahan membukanya. Tatapannya begitu dingin dan tidak ada wajah konyol nan bersahabat yang selalu dipancarkannya dulu. Kemarahannya sudah terlanjur ke ubun-ubun. Matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

TBC

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF Freelance] My Wife Amnesia? – (Chapter 5)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s