[BTS FF Freelance] Schicksal : Geschichte des Lebens – Chapter 1

IMG_1536-2

 

Schicksal

(Geschichte des Lebens)

Author : Linella

Main Cast : Park Jimin

Mela ( OC )

Genre : Drama, Romance, Slice of Life

Rate : PG-13

Length : Chapter

Disclaimer: Dasar cerita di ambil dari program V Live+ BTS Bon Voyage. Nama pembuat short poem tertulis di bawah short poem. Außer Cast und Gedicht, ist alles meins.

 

#1 When I Met You

 

Seoul, 2019

 

Kann nicht schlafen, kann nicht essen,
kann deine Augen nicht vergessen.

Die Zeit steht still, du bist so fern,
du fehlst mir so, mein kleiner Stern!

 

Empat puluh lima menit,yah… tak ada satu jam pun. Apa yang berarti?. Aku tahu semua pasti akan mengira seperti itu. Memang hanya sesingkat itu, namun siapa yang mengira meski hanya empat puluh lima menit saja dapat membuatmu begitu merindukannya. Matanya, entah mengapa aku begitu menyukainya. Tatapannya yang tak pernah berbohong akan perasaan yang ada dalam hatinya, membuatku ingin menatap dan menatapnya lagi.

Entahlah, bahkan daun tak akan dapat membohongi dirinya sendiri. Saat ia harus jatuh, maka ia akan terjatuh. Tak peduli meski ia harus terinjak, tak peduli meski ia harus berada di atas tanah. Tergeletak, kemudian terbang tertiup angin.

Aku tahu pasti akan banyak yang menentangku nanti, aku akan berjuang untuk meyakinkan mereka bahwa pilihanku benar. Bahwa kalian bisa memercayakanku padanya, karena aku bahagia bersamanya.

„Aku benar-benar menyayangi kalian, dan ia adalah bagian dari kalian. Jadi, kurasa kalian akan mengerti bahwa ia tak akan menyakitiku. Ia akan mewakilkan kalian semua untuk menjagaku, memastikan aku tak pernah tersakiti. Namun tetap saja, kini aku malah khawatir akan menyakitinya. Aku takut, aku tak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Apakah aku orang yang tepat untuknya?“ ucapku dalam hati.

Berbagai macam pikiran terus menghantuiku, membuatku tak dapat beranjak dari pemandangan di luar jendela yang sejak siang ini tak henti-hentinya kutatap. Daun yang terus-menerus jatuh meninggalkan dahannya kemudian tertiup angin, menyisakan kesan sunyi di dalam hatiku. Meski nyatanya ssana di dalamdorm sangatlah ramai.

Seperti pohon yang tak peduli dengan hembusan angin, ia tetap berdiri dengan kokohnya tanpa ragu. Mempertahankan keberadaannya, menancapkan akar dengan sekuat-kuatnya. Ia tak peduli meski harus menggugurkan daunnya agar tetap hidup. Ia melakukan segalanya, untuk mempertahankan keberadaannya.

Begitu pula aku, meski angin akan menerjangku saat waktunya tiba, aku akan kuat. Mencoba berusaha dengan sebaik mungkin dan tetap memberikan yang terbaik. Karena aku tak meninggalkan kalian, aku hanya mendapatkan penguatku, penyempurna hidupku, penyokong semangatku, agar aku bisa terus memberikan yang terbaik untuk kalian.

Langit mendung diluar sana bahkan terlihat begitu indah hanya karena teringat senyumnya, yang tulus dan menenangkan. Seolah hidup adalah sepenuhnya kebahagiaan.

„Hei … Jiminie, apa kamu tadi salah makan huh? Sejak tadi siang, sampai sekarang sudah hampir malam, yang kamu lakukan hanyalah menatap keluar jendela tanpa sepatah katapun seperti orang kehilangan pikiran,“ tegur Hoseok hyung sembari tertawa. Ia selalu seperti itu, baginya, diam adalah hal aneh apabila terjadi di dalam dorm.

„Bukankah aku makan yang kamu makan juga hyung? Jangan-jangan … ,“ balasku mengembalikan ucapannya.

Aku tertawa melihat ekspresinya yang tak terima kata-katanya dikembalikan, tapi ia tetap tersenyum. Begitulah Hoseok hyung, ia tetap ceria apapun yang terjadi. Sering kali dialah yang menjadi moodbooster saat kita sedang merasa benar-benar letih.

„Oke, oke. Sepertinya sebentar lagi aku akan diam sepertimu. Aisshh, sungguh. Anak ini,“ ucapnya dan pergi –mengganggu yang lain–.

Aku masih tertawa, Hoseok hyung memang tipikal orang yang tak akan membiarkan salah seorang yang berada di dalam kamar yang sama dengan dirinya, diam tak bersuara. Tapi kali ini, ia menyerah. Ia memilih mengganggu/? Yang lain dan membiarkanku kembali tenggelam dalam setiap pikiran dan kenanganku yang begitu kurindukan.

Kembali ku menatap keluar jendela, rintik hujan juga masih belum reda, kenangan pun masih terus terputar jelas dan masih enggan untuk diakhiri. Bayangannya yang seolah tak ingin pergi meski sekejap saja dari benak dan pikiranku.

Cara ia berbicara, berjalan, tersenyum, semua yang ada pada dirinya benar-benar membuatku tak dapat melupakannya, meski di tengah kesibukan yang kulakukan. Apalagi hari ini, kegiatan tak sepadat hari-hari kemarin. Promosi baru saja berakhir. Lelah yang mulai terasa, ingin rasanya segera kuusir pergi. Kamu tahu? Lelah ini dapat benar-benar hilang dalam satu kedipan mata saja, hanya dengan satu cara, dengan melihatnya. Sungguh, itu sudah sangat cukup, bahkan lebih dari cukup. Akankah aku bisa menemuinya?

Kumohon, izinkanlah aku pergi menemuinya lagi. Pintaku dalam hati.

Hingga kini, sulit rasanya untuk menemuinya, tepatnya karena aku tak punya alasan untuk menemuinya karena meski aku punya waktu di sela-sela jadwal padatku, aku tetap tidak bisa menemuinya tanpa alasan yang pasti. Ia bahkan tak ingin mendengar alasan bahwa aku merindukannya dan aku ingin menemuinya, sedangkan aku tak punya alasan lain selain aku merindukannya. Di pertemuan pertama kita pun seperti itu, ia bahkan tak menunjukkan niatnya untuk bertemu denganku lagi meski hanya untuk berterima kasih dengan cara yang benar karena aku telah membantunya. Yah… benar, aku membantunya.

„Bolehkah aku menemuimu?“ itulah yang ku tanyakan padanya.

Saat aku bertanya seperti itu di pertemuan kita yang tidak disengaja 3 tahun lalu, kau tahu bagaimana ia menjawab pertanyaanku? Kau bahkan akan langsung menyimpulkan bahwa ia tak menyukaiku saat mendengar jawabannya, tidak, bahkan mungkin belum sampai pada tahap suka. Dia bahkan tidak tertarik padaku.

———— Flashback————

Bergen, Mei 2016

 

Aku bersiap untuk turun dari kereta ini, ku periksa kembali tas dan barang bawaanku agar kali ini tak ada yang hilang ataupun tertinggal. Namun, siapa sangka? Namjoon hyung meninggalkan tiketnya, dan… sebuah ponsel?

Ponsel siapa ini? Kurasa ini bukan milik Namjoon hyung“. Ucapku dalam hati

Aku yakin ini bukan ponsel salah satu dari kami, tak ada satupun dari kami yang menggunakan ponsel jenis ini. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba menekan tombol kunci di samping kanan ponsel ini, dan ternyata terlihat lockscreen ponsel ini menampilkan foto seorang perempuan berbalut jubah putih dengan rambut gelap tergerai. Ku putuskan untuk segera turun dan mencari perempuan pemilik ponsel ini.

Brukk…. Seorang wanita menabrakku dengan langkahnya yang begitu tergesa-gesa saat aku baru berjarak beberapa meter saja dari pintu kereta.

„Sorry, did you lose your handphone?“ tanyaku dengan bahasa inggris sebisaku. Mencoba menebak karena ku lihat sepertinya ia mirip dengan foto yang ku lihat tadi pada lockscreen ponsel ini.

Ia menghentikan langkahnya, menoleh ke arahku. Tidak, tepatnya tanganku. Setelah itu, dia baru melihat ke arahku, ke wajahku. Ia terlihat sedikit terkejut.

Menarik…. Pikirku saat melihatnya.

Entahlah, rambutnya yang tertiup angin karena berlari. Wajahnya yang panik setengah mati dan terkejut saat kupanggil malah membuatnya terlihat begitu natural. Begitu indah. Seolah aku sedang melihat potongan sebuah scene drama yang dibintangi oleh aktris kenamaan dengan wajah yang begitu menenangkan jiwa dan gerakannya telah diatur sedemikian rupa.

Matanya sejenak membulat saat melihat ke arah tanganku, kemudian ia tersenyum lega. Rasanya melihat setiap ekspresi yang terlukis jelas di wajahnya membuatku melupakan segalanya. Melupakan bahwa waktu masih terus berjalan. Melupakan kenyataan bahwa pasti yang lain sedang menungguku.

„Ya, benar. Aku kehilangan ponselku. Umm… Ponsel di tanganmu itu benar milikku. Terima kasih.“ Jawabnya seraya tersenyum.

Aku masih diam mematung, tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Perempuan ini… Perempuan ini benar-benar telah menguasai setiap sudut di dalam pikiranku.

 

TBC

————————————————————————————————————————

Yup, akhirnya keluar juga ini chap 1. Engga tau cerita ini bakal menarik atau engga. Jadi tolong tinggalkan komentar yaa. Let me know about the story, okay?

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] Schicksal : Geschichte des Lebens – Chapter 1

  1. aforandini

    hmmm x)
    settingnya kebayang banget, aku ngefeel bacanya.. pas dimunculin mela nya mood baca ku langsung naik sebenernya, tapi malah tbc :v
    ditunggu loh yaaa chapter2 nya><
    btw salam kenal ehee.. karena aku baru(?)
    baru san terdampar hehe

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s