[Boys Meet What?] Aku di Tahun 1980 – Oneshot

aku-di-tahun-1980

[Boys Meet What?] Aku di Tahun 1980 – Oneshoot

deergalaxy0620 || Tragedy, Time-Travel || Kim Seok Jin a.k.a Jin, Kim Jin Seok ( Seok Jin’s 1980 ), Kim Nam Joon a.k.a Rap Monster ( Seok Jin’s young-brother ) slight! || PG-15 || Oneshoot || Seok Jin tengah berada di puncak frustasi saat berpindah waktu ke tahun 1980.

Warning! Alur ceritanya yang kecepatan dan banyak typo disini.

***

 

17 Mei 2016…

 

Sirine berbunyi nyaring, mendatangkan kabar buruk bagi warga kota Seoul, diikuti dengan mobil polisi yang mengikuti mobil ambulans. Masyarakat yang tengah berkumpul di lokasi jalan, memberi jalan kepada beberapa dokter yang membawa brankar untuk membawa para penumpang yang alami kecelakaan bus. Tidak banyak yang terluka parah, beberapa penumpang masih hidup dan tak memiliki luka serius, hanya luka ringan saja. Beberapa dari mereka masih bisa berjalan, sementara yang lain tidak. Penumpang yang terluka parah pun harus digotong dokter menggunakan brankar untuk dilarikan ke rumah sakit.

Salah satunya korban kecelakaan bus adalah Kim Seok Jin, seorang mahasiswa yang tengah beranjangsana ke kampung halamannya, yakni Jeonju.  Tergelimpang tak berdaya dengan banyak sekali luka di seluruh tubuh yang masih tertutup kemeja polos putih. Terpikir tentang kematian yang dia bicarakan selang beberapa hari yang lalu, pada akhirnya sebuah kejadian telah merenggut nyawanya. Dalam benaknya, Seok Jin selalu berhalusinasi tentang seseorang yang sangat asing dan benar-benar tak mengenalnya, padahal mereka satu universitas – Hankuk University.

Seseorang tersebut terlebih dahulu tewas kecelakaan mematikan di Gwanghwamun sejak lima bulan yang lalu, meninggalkan kesan yang membekas bagi Seok Jin. Dan kini, giliran Seok Jin yang harus berhadapan dengan kematian. Bahkan, sebelum ajal mendatang, orang asing itu selalu menyangkutpautkan topik tentang kematian, membuat Seok Jin sedikit ketakutan dengan kematian. Entah apa yang terjadi selanjutnya, hanya Tuhan yang tahu.

***

17 Mei 1980…

 

Tubuh Seok Jin masih tergelimpang hingga menjelang sore. Ada banyak sekali masyarakat yang masih berkumpul, sesekali menyaksikan peristiwa tersebut untuk dijadikan sebagai liputan berita. Datanglah seorang lelaki berperawakan tinggi dan bersurai hitam itu. Memandang Seok Jin yang masih tergelimpang lemah. Orang tersebut langsung melangkah ke depan dan menghampiri Seok Jin yang tak kunjung sadar dari kejadian.

Tiba-tiba, lelaki bersurai hitam itu bangkit dan memandang masyarakat yang masih berkumpul di lokasi kejadian, terutama para wartawan dan fotografer yang tengah memotret sembari meliput berita. “Kalian yang masih disini, silakan pulang ke rumah. Aku tahu kalian pasti lelah hanya untuk melihat korban ini.” ujar lelaki berbibir tebal itu tersenyum. Sementara masyarakat yang lain langsung berteriak untuk bubar karena tugasnya sudah dialihkan ke tangan orang asing itu. Membiarkan dia yang menangani tugas ini sambil berbisik-bisik penuh keheranan tentang kejadian tersebut.

Setelah semuanya pulang dengan selamat, lelaki itu tengah membopong tubuh Seok Jin menuju geribik. Merebahkan tubuh Seok Jin yang masih tak sadarkan diri, membiarkan ia beristirahat dengan tenang. Selang beberapa lama kemudian, orang asing itu segera membuatkan Seok Jin makan malam agar ia cepat sembuh. Meninggalkan Seok Jin yang masih memejamkan matanya menuju dapur yang jaraknya tak jauh dari kamar tidur kosong.

Akhirnya, Seok Jin telah siuman saat telinganya menangkap suara bising dari dapur. Kepalanya sedikit berdenyut dan tubuhnya cukup tegang. Memandang seisi kamar tidur yang sempit dan gelap dengan sedikit pencahayaan. Seok Jin kebingungan sembari bangkit dari ranjang yang terbuat dari kayu rapuh. Memandang kembali isi kamar tidur yang seluruh ruangannya terbuat dari bambu. Tertegun karena Seok Jin berada di tempat yang seharusnya bukan tempat tinggalnya. Dia berpikir dirinya berada di rumah sakit, tetapi justru dirinya dilarikan ke rumah geribik.

Tak lama kemudian, datanglah orang asing yang membawa Seok Jin ke rumah geribik. Dengan membawa nampan bambu, yang terdapat makan malam dan air ginseng hangat, orang asing itu tertegun melihat Seok Jin telah siuman. Begitu juga dengan Seok Jin, yang membalas kontak mata kepada orang dihadapannya. Alangkah terkejutnya Seok Jin saat orang yang dihadapannya itu orang yang sama rupa dengannya. Wajah tampan, postur tinggi, surai hitam, bibir tebal, kulit putih, semuanya sama wujudnya dengan Seok Jin.

“Mengapa aku berada disini?” tanya Seok Jin kepada orang dihadapannya. “Bukankah aku berada di rumah sakit?” tanyanya lagi.

“Aku meminta kepada mereka untuk pulang ke rumah karena hari sudah menjelang malam.” Jawab lelaki bersurai hitam itu, sama dengan Seok Jin.

“La… lalu… siapa anda? Mengapa anda memiliki banyak sekali kesamaan denganku?” Seok Jin, kemudian, melangkah pelan dan memandang kembali lelaki yang berwujud sama dengannya.

“Perkenalkan. Namaku Kim Jin Seok,” sapa lelaki bernama Kim Jin Seok itu sembari menaruh nampan itu di kasur. Tetapi, Seok Jin tak menggubrisnya. “Akulah yang menyelamatkanmu dari kejadian sejak tadi.” Ujar Jin Seok yang kemudian ditatap Seok Jin kembali. Benar-benar kembar! Ajaib!

“Bahkan, namamu juga terbalik dari namaku. Mengapa kita seperti kembar? Lalu, mengapa aku berada di rumah ini?” tanya Seok Jin yang kembali mengamati isi kamar tidur tersebut. Tak lama kemudian, Seok Jin kembali memandang pakaian Jin Seok, layaknya berpakaian jadul ala tahun 1980 – mengenakan jaket Members Only merah menyala dan celana parasut cokelat. Sementara dirinya masih berpakaian ala orang zaman tahun 2000-an.

“Kamu sekarang berada di rumahku. Maafkan aku karena rumah ini mungkin tak layak untuk kamu tinggal. Tetapi, aku berharap kamu dapat beradaptasi dengan lingkungan.” Jin Seok meminta maaf dengan kata-kata yang terdengar sopan sembari membungkuk. Seok Jin tertegun dengan perubahan zaman yang dia lalui.

Tiba-tiba, terlintas sesuatu di benak Seok Jin. Saku celananya masih menyimpan ponsel canggih dan masih utuh pasca kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Mencoba menghidupkan ponselnya agar segera menelepon teman terdekatnya, sayangnya ponselnya tidak menangkap jaringan. Bahkan, Seok Jin tak dapat menelepon teman terdekatnya untuk meminta jemputan. Dia pikir hanya ponselnya yang mengalami gangguan, terutama masalah jaringan. Dan ternyata, memang benar ponsel Seok Jin bermasalah.

“Tempatku tidak dapat menangkap jaringan benda yang anda genggam sekarang. Disini, aku hanya menggunakan telepon genggam dalam berkomunikasi. Tidak ada tempat untuk menangkap jaringan karena memang sudah zamannya.” Jin Seok menjelaskan dengan sopan agar meyakinkan Seok Jin untuk beradaptasi.

“Kamu tidak tahu apa yang aku genggam sekarang?” tanya Seok Jin yang disusul gelengan dari Jin Seok.

“Bahkan, di tempatku tidak memiliki benda yang tidak aku mengerti.” Jin Seok menjawab. Seok Jin kembali terdiam mematung di tempat. Bertanya dengan membatin, sedikit khawatir ia tak bisa pulang dengan selamat.

“Bukankah ini… tahun 2016?” gumam Seok Jin kembali mengamati kamar tidur.

“Ini tahun 1980, sobat,” Jin Seok menjawab saat Seok Jin kembali menuai respon terkejut. Pantas saja mengapa Jin Seok tampak tak bisa menggunakan ponsel canggih. Cara dia berpakaian saja tampak jadul dan norak.

“Apa?!” Seok Jin benar-benar terkejut bukan main. Lelaki itu segera keluar dari kamar, kemudian keluar dari rumah geribik. Sayangnya, semuanya kembali berubah saat Seok Jin kembali mengamati cara masyarakat bersosialisasi. Mereka bergotong royong, membantu satu sama lain, dan pakaian mereka benar-benar ala tahun 1980. Para wanita yang mengenakan kebaya jadul dan jarik saling bertukar komunikasi. Mereka bergosip dengan tawa yang renyah. Sementara Seok Jin menganga dan berpikir dirinya tak bisa memutar kembali ke zaman modern. Semuanya telah diatur Tuhan untuk menguji Seok Jin.

Tak lama kemudian, Jin Seok berjalan menyusul Seok Jin yang masih mematung di tempat.

“Anda harus makan karena anda telah siuman. Kondisi anda masih lemah dan anda pasti lelah karena terlalu banyak tidur.”

“Aku bukan lemah karena banyak tidur, melainkan sejak itu aku mengalami kecelakaan bus hingga nyawaku nyaris direnggut malaikat pencabut nyawa.”

“Di tempatku juga mengalami kecelakaan bus dan andalah salah satu korbannya.”

“Apa?”

Seok Jin masih tak mengerti dengan zaman tahun 1980 ini, bahkan tak mengerti bagaimana ia bertemu dengan orang yang serupa dengan Jin Seok. Sayangnya, ini sudah menjadi takdir bagi Seok Jin. Untuk memutar kembali ke waktu tahun 2016 saja susah, harus memotret kejadian yang ada di tahun 1980 sebelum berubahnya zaman lama menuju zaman modern. Jika memang ini sudah takdir, Seok Jin terpaksa harus mengikuti sesuatu sesuai tuntutan zaman.

“Mari kita makan,” ujar Jin Seok yang membuyarkan lamunan Seok Jin, “Kim Seok Jin.” Tambahnya dengan menyebut nama Seok Jin sopan. Merelakan semuanya akan berjalan dengan lancar dan melihat apa yang terjadi selanjutnya.

“Baiklah,” balas Seok Jin pasrah, “Aku akan makan.” ujarnya seraya melangkah kembali masuk ke dalam rumah geribik, disusul Jin Seok yang langsung menutup pintu geribik tersebut.

***

18 Mei 1980…

 

Esoknya, di kota Gwangju untuk mencari pekerjaan paruh waktu bersama Jin Seok, Seok Jin memandang mobil jadul dan norak yang melintas. Tak hanya itu, lelaki berperawakan tinggi itu juga memandang seorang pria tua tengah menunggangi kuda untuk menjemput penumpang menuju tempat tujuan. Terlintas dalam benak Seok Jin, sadar bahwa tak ada mobil modern dan mahal yang melintas. Berpikir bahwa zaman lama ini tak ada mobil yang lebih modern daripada mobil jadul itu. Jangankan mobil modern sulit dicari, menangkap jaringan ponsel canggih saja hampir membuat Seok Jin frustasi. Alih-alih Jin Seok melirik Seok Jin yang terus mencari jaringan ponsel agar dapat pulang ke rumahnya dengan selamat.

“Aku berharap kamu tidak sedang fokus dengan alat aneh itu,” Jin Seok sedikit menyindir Seok Jin yang terus sibuk mencari jaringan ponsel canggihnya.

“Jika ini masih tak bisa menangkap jaringan, apa yang harus aku lakukan?” tanya Seok Jin sedikit menggerutu dan mencibir.

“Kamu tinggal melangkah dari sini menuju daerah asalmu, selesai, dan nikmati masa modernmu yang hedon,” Jin Sok justru semakin membuat Seok Jin kesal dan ketus.

“Aku bukan manusia hedon, Jin Seok-ssi,”

“Lantas mengapa kamu selalu menggenggam benda aneh itu?”

“Aku hanya mencari jaringan saja,”

“Setelah itu?”

“Aku menelepon teman terdekatku untuk menjemputku ke daerah asalku,”

“Bagaimana jika masih tak bisa menangkap jaringan?”

“Mengapa kamu terus bertanya kepadaku?!”

Seok Jin akhirnya ungkapkan kekesalannya terhadap Jin Seok yang terus bertanya, “Kamu tidak seharusnya selalu bertanya perihal ini kepadaku! Ini sudah zamannya aku berteman dengan zaman baru, bukan zaman lama!” ketusnya di puncak frustasi. Mengusap kasar surai hitamnya yang mulai rontok. Jin Seok mulai terdiam di tempat, menunduk sedikit menyesal.

“Aku hanya ingin bebas dari sini saja, cukup. Aku benar-benar tak mengerti tempat ini. Sungguh kuno dan norak!” Seok Jin langsung melangkah cepat, meninggalkan Jin Seok yang terus terdiam di tempat. Benar-benar tak betah untuk tinggal di tempat zaman kuno ini, ala tahun 1980. Melewati beberapa pengemis yang terus bersedekah. Kebanyakan dari mereka juga diam-diam mencuri barang penghargaan untuk dijual agar menghasilkan uang yang layak. Sayangnya uang yang mereka hasilkan adalah hasil barang curian sehingga hidup mereka juga semakin sulit dikarenakan kekurangan dalam ekonomi.

Setelah menjauh dari Jin Seok, tak peduli apakah dia mencarinya atau tidak, Seok Jin segera melangkah masuk ke dalam restoran kuno dan memesan bibimbap sebagai cemilan kecil untuk mengisi perutnya yang tak puas akibat masakan Jin Seok semalam. Setelah itu, tak lagi terlintas apa yang terjadi dengan Jin Seok, padahal Seok Jin sebelumnya menyesal dengan perkataannya. Menganggap Jin Seok telah menahannya agar tidak lari ke zaman modern, padahal baru satu hari tinggal di rumah geribik yang kumuh dan tak layak tinggal, bagi Seok Jin.

 

DUAR!!

 

Suara ledakan keras berasal dari restoran sebelah hingga merobohkan restoran yang didatangi Seok Jin. Entah apa yang terjadi dengan ledakan tersebut, di luar sana masyarakat tengah membawa senjata api dan siap untuk berperang. Tubuh Seok Jin sedikit terpental ke dinding dan mengeluarkan darah di bagian dahinya. Lagi-lagi dirinya kembali remuk akibat kejadian sejak tadi. Teringat dengan kecelakaan bus sejak kemarin, Seok Jin meringis kesakitan karena punggungnya terhantam dinding. Mencoba untuk bangkit dan melarikan diri dari tempat yang berubah drastis menjadi kota perang, tetapi semuanya menjadi sia-sia saat Seok Jin keluar dari restoran. Ada banyak sekali tentara yang berlarian dan saling berperang dengan masyarakat yang menentang tentara.

Seok Jin langsung saja berlari menuju tempat yang aman, tetapi lelaki itu benar-benar tak tahu jalan. Saat tengah mencari jalan, matanya kembali tertuju kepada seseorang yang berhasil lolos dari tembakan tentara. Seok Jin mengenal seseorang itu, bahkan rupa dan wujudnya sama persis dengannya. Iya, dia adalah Jin Seok, yang berubah haluan menjadi pejuang. Entah bagaimana sosok kembarannya berubah, Seok Jin sedikit tercengang. Jin Seok yang dia kenal sebagai pengubah hidup dengan melepaskan zaman baru, kini berubah drastis menjadi seorang pejuang yang tengah melindungi rakyat.

Pandangan Seok Jin kian buyar setelah ledakan bom memekakan telinganya hingga lelaki itu kembali tersungkur ke tanah. Telinganya terasa sakit di bagian gendang akibat ledakan bom yang tak jauh darinya. Di sisi lain, Jin Seok melihat ketepurukan Seok Jin yang bergelimpang. Berusaha membantu teman beda zaman itu, tetapi sulit untuk menerobos masyarakat yang tengah berlari tertatih, berusaha menyelamatkan diri dari kezaliman tentara iblis.

Kembali ke satu sisi, Seok Jin kembali bangkit dan memerhatikan Jin Seok yang masih sibuk dengan musuh bebuyutnya, yakni tentara. Akan tetapi, sangat disayangkan, hidupnya telah berakhir begitu saja saat Seok Jin merasakan tiga peluru menembus punggungnya. Seok Jin tak tahu apa salahnya selama zaman lama, di tahun 1980, hingga dirinya ditembak musuh bebuyutan negara. Baru satu hari Seok Jin harus beradaptasi dengan zaman lama, sayangnya hidupnya harus berakhir sampai disini. Memandang sosok Jin Seok yang masih membasmi musuh bebuyutannya dengan mata berkaca-kaca.

Hingga pada akhirnya Seok Jin kembali bergelimpang. Dalam hatinya, ia membatin dan meminta maaf kepada Jin Seok karena perkataannya yang menantang zaman lama. Meskipun dalam keadaan memaksa, Seok Jin masih ingin mengetahui banyak hal di era tahun 80-an ini. Mengenal sosok Jin Seok yang menjadi kembaran Seok Jin, suasana kota di era lama, bagaimana perkembangan di era lama dan masih banyak lagi. Seok Jin ingin mengetahui seluk-beluknya perubahan kota zaman lama. Sayangnya, semuanya berubah haluan menjadi penyesalan di ujung akhir.

Jin Seok yang mengetahui teman asingnya itu ditembak musuh bebuyutan, dia berlari menghampiri Seok Jin yang berakhir tewas di tempat. Belum sampai disitu, Jin Seok sudah ditembak tentara dengan banyaknya peluru yang menembus tubuh Jin Seok. Tubuhnya telah tergelimpang tak berdaya, tak jauh dari tubuh Seok Jin yang telah mengeluarkan banyak darah. Jin Seok meringis kesakitan, mencoba mengulur pelan kepada Seok Jin yang sudah tewas dibunuh. Menyalurkan perasaan sedih untuk teman terasing itu, tetapi Jin Seok sudah tewas terlebih dahulu. Tangannya sudah tergolek lemah, melepaskan segala nyawanya yang telah melayang ke atas. Menghadap Tuhan yang telah menunggu kehadiran Seok Jin dan Jin Seok.

Dan lagi-lagi Seok Jin tergelimpang setelah kecelakaan menimpanya.

***

7 Desember 2016…

 

Seorang dokter berlari keluar dari ruang pasien, berteriak minta bantuan kepada para suster dengan perasaan terkejut sekaligs terpana. Sembari menelepon perwakilan dari keluarga pasien untuk segera datang ke rumah sakit, para dokter berlari menuju kamar pasien yang telah siuman selang tujuh bulan terakhir. Memeriksa kondisi pasien yang siuman itu, sementara seorang suster tengah mengabarkan kepada perwakilan dari keluarga pasien. Sedikit terharu sebagian dari dokter, namun sebagiannya turut bahagia atas pasien yang kini bersiuman.

“Akhirnya, dia telah kembali ke dunia.” Ujar seorang dokter berkulit gelap itu, sedikit terharu dan mewakili perasaan bahagianya. Memandang wajah pucat dan lelah lelaki bersurai hitam itu, yang bernama Kim Seok Jin itu.

“Keluarganya pasti bahagia setelah pasien ini bersiuman.” Gumam seorang suster bertubuh tinggi langsing itu, kembali memandang wajah Seok Jin yang kini telah siuman. Entah bagaimana Seok Jin berada di rumah sakit. Yang ada di benaknya adalah dia berada di zaman tahun 1980 pada saat itu, meski dalam waktu sementara saja.

***

Di sebuah pemakaman, yang didominasi lemari etalase untuk menyimpan abu, Seok Jin memandang salah satu nama yang membuatnya selalu ingat jasa seseorang. Wajah tampan di dalam foto, mengingat Seok Jin yang telah banyak dibantu sebelum orang itu menghembuskan napas terakhir. Dengan ditemani Kim Nam Joon, adik Seok Jin, Seok Jin membuka pelan lemari tersebut, kemudian menaruh sepucuk surat terbuka untuk orang yang telah banyak membantunya, meskipun orang itu adalah orang terasing. Tewas dalam sebuah kecelakaan besar di Gwanghwamun, membuat hati Seok Jin terasa sesak dan selalu teringat dalam benaknya selama ia koma. Bertemu kembali di dalam mimpi, entah mimpi apa yang dia ketahui.

“Aku bertemu lagi denganmu,” ujar Seok Jin mencoba menahan air matanya yang menitik ke pipi tembamnya, “Di dalam mimpi, aku bertemu kembali denganmu. Entah apa yang terjadi dalam mimpiku, kita dipertemukan kembali ke dunia zaman lama.” Ujarnya sedikit menyelekit hatinya. Dadanya terasa sesak karena teman terasingnya itu berada dalam mimpinya.

“Berputar waktu ke tahun 1980, waktu dimana aku tak mengerti apa-apa dan kamu tiba-tiba hadir dan membawaku ke geribik. Jika waktu dapat berputar kembali, seharusnya aku terus tinggal di tempat asing itu agar aku tahu seluk-beluk tentang zaman lama dan kuno. Kamu yang selalu bertanya tentangku dan ponsel canggih ini, membuatku sangat kesal dan hampir berada di puncak emosi. Bertanya kembali kepada diriku kapankah aku menyesal. Lalu aku menjawab bahwa aku menyesal saat aku tewas ditembak tentara yang keji. Dan tiba-tiba saja waktu kembali berputar ke waktu sekarang, era modern yang tak kau mengerti.”

Seok Jin kembali membayangkan bagaimana mimpinya bersangkutpautan dengan perputaran waktu ke tahun 1980. Bagaimana juga terjadi peristiwa terbesar dalam sejarah Seoul, yakni Peristiwa di Gwangju. Dan bagaimana juga teman terasing Seok Jin hadir dalam mimpinya yang menakutkan dan suram, tetapi bertanda tanya besar. Seok Jin tak bisa menjawabnya karena mimpinya kian melebur, menghilang setelah dirinya bersiuman.

“Namamu Kim Jin Seok, memiliki wajah yang sama denganku hingga aku dan kamu terbilang sangat kembar. Aku akan mengingat namamu karena kamu telah membantuku sangat banyak, meskipun selalu bercerita tentang kematian. Sayang sekali kutukanmu tentang kematian nyaris membunuhku.” Seok Jin tertawa kecil, membiarkan air matanya mengalir pelan. Menggeleng pelan dan tidak percaya terhadap mimpi yang memutarkan waktunya ke tahun yang jadul dan kuno. Entah bagaimana Seok Jin kembali bertemu dengan orang yang sama persis dengannya, yakni Kim Jin Seok. Jangankan postur tubuh dan wajah, namanya saja hanya dibalik saja.

“Terima kasih untukmu, Jin Seok-ssi. Istirahatlah dengan tenang. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Tutup Seok Jin sebelum meninggalkan pemakaman etalase. Dibantu Nam Joon yang mendorong Seok Jin dengan kursi roda, mereka akhirnya meninggalkan tempat berduka itu. Membiarkan Seok Jin kembali menghapus mimpi yang dia ketahui selama koma, meskipun hanya sementara dan sangat singkat.

Orang yang bertemu dengannya, di tahun 1980, adalah Kim Jin Seok. Dan orang yang telah membantu Seok Jin, meskipun mereka masih terasa asing, adalah Kim Jin Seok. Orang yang mengalami kecelakaan besar di Gwanghwamun, sama seperti Seok Jin, adalah Kim Jin Seok. Dan semuanya adalah Kim Jin Seok, seseorang yang selalu ada dalam hidup Seok Jin hingga membuatnya berhalusinasi setiap hari. Dari awal pertemuan mereka yang canggung dan terasa asing, meskipun masih ada campur tangan, hingga kembali bertemu di tahun 1980. Entah apa yang terjadi selanjutnya, hanya Tuhan yang tahu. Hanya dapat berharap Seok Jin bisa hidup bebas bersama keluarganya. Menajalani banyak terapi untuk membuatnya sembuh dan dapat beraktivitas kembali, menyelesaikan tugas akhir kuliahnya yang sempat tertunda. Kim Jin Seok hanyalah penyemangat hidup Seok Jin saja, bukan orang asing lagi.

 

END

 

Advertisements

One thought on “[Boys Meet What?] Aku di Tahun 1980 – Oneshot

  1. Thor aku mau nnya soal wordpress nih, aku kan baru punya app wordpress rencana ku mau share ff juga, krna aku hobi baca ff di blog author nih, cm knpa ff aku search di google gak bs dpat ya? Kalo buka link nya bisa!! Tolong kasih tau ya thor. Gomawo…

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s