[Boys Meet What?] Love Story In The Lake – Oneshot

_20161201_190840

                                           Love Story In The Lake

Author      : Dhifanur

Main cast : Jeon Jungkook as chaebol

Kang Seo Jin as swan

Lee Ji Na as Jae Soo’s daugther

Lee Jae Soo As evil

Yoo Song Mi as fairy

Min Ji as unicorn

genre: history, romance, fantasy

length: oneshoot

rating: PG-12

Disclaimer: Anyeonghaseo staff-staff BTS FANFICTION yang unyu kaya chimchim , yang manis kaya suga, terus yang kece kaya rapmon ^^. Aku seneng banget bisa ikut event ini #kibarbenderamerahputih. Terus aku juga mau berterima kasih sama kalian karna kalian sudah bersedia mengadakan event lagi. Kamsanamida.

Fanfiction ini mengkisahkan tentang pertemuan seorang chaebol bernama Jeon Jungkook, dengan Kang Seo Jin, seorang wanita cantik, yang dikutuk menjadi seekor angsa oleh penyihir. Bagaimana kisah cinta mereka selanjutnya? Apakah cinta sejati Jungkook, mampu mematahkan kutukan Seo Jin?

 

Di sebuah toko kayu yang nampak besar, terlihat orang-orang yang sedang mengerumuni pemilik toko tersebut. Pemilik toko tersebut sangat kewalahan melayani para pembelinya, sehingga ia meminta bantuan putri kesayangannya untuk mengambil beberapa kayu.

“Seo Jin-ah, bisakah kau membantuku?” Pinta pemilik toko kepada putrinya dengan lembut. Sang putri yang tengah berkutat dengan buku tebalnya, menuruti perintah ayahnya. Ia bangkit dari kursi kayu goyangnya lalu menghampiri ayahnya yang nampak sibuk.

“Apa yang bisa aku bantu, Appa?” Tanya Seo Jin sambil tersenyum manis.

“Tolong ambilkan beberapa potong kayu di halaman belakang. Aku kewalahan melayani beberapa pelanggan setia kita,” Ujar sang ayah. Seo Jin mengganguk mengerti, lalu ia mengangkat sedikit hanbok-nya, dan berlalu dari ayahnya menuju halaman belakang.

*************

       “Ini gawat! aku harus segera berlari dari mereka,” Seekor kuda putih bertanduk, berlari sangat cepat menghindari gerombolan pemburu yang mengejarnya dengan pedang. Bahkan, kuda bertanduk tersebut, tak jarang menubruk orang-orang yang ada di sekitarnya.

“Cepat kejar dia! Kita akan bisa kaya, jika kita berhasil menjual kuda ajaib tersebut,” Teriak salah seorang dari gerombolan pemburu tersebut. Ia mengangkat pedangnya tinggi, dan diikuti oleh yang lain. Mereka menambah kecepatan lari, demi mengejar sumber “harta karun” dari kuda bertanduk itu.

Kuda bertanduk itu semakin panik, takala para pemburu tersebut sudah hampir bisa mengejarnya. Ia semakin kencang berlari, menuju hutan –Tempat dimana ia tinggal.

*********

 

“Ya ampun, kenapa semua ini berat sekali?” Seo Jin nampak kesulitan, saat membawa beberapa potongan kayu, di halaman belakangnya. Bahkan, hanbok yang ia kenakan, menjadi kotor akibat debu dari kayu-kayu tersebut.

Seo Jin berniat memberikan potongan kayu itu kepada ayahnya. Namun, saat ia tengah melangkah masuk ke dalam, ia melihat sesuatu yang lewat di hadapannya. sesuatu yang nampak aneh.

“Apa itu?” Seo Jin mengernyit, ketika melihat sesuatu, yang baru saja lewat di hadapannya. Rasa penasaran menjadi muncul. Ia meletakkan potongan kayu tersebut, lalu berjalan mendekati pagar.

“Astaga!” Seo Jin nyaris memekik. Ia membulatkan matanya, saat ia melihat seekor kuda putih bertanduk berada tak jauh dari hadapannya.

“Ini tidak mungkin,” Seo Jin menggeleng. pasalnya, kuda itu hanya ada di dalam buku dongeng kesayangannya. Dan tidak mungkin,       kuda itu benar-benar nyata.

“Aku akan mengikuti kuda itu,” Gumam Seo Jin. Sepertinya rasa penasarannya membuat ia melupakan perintah dari ayahnya. la mengejar kuda bertanduk itu secara diam-diam.

 

**********

“Syukurlah! aku berhasil menghindari mereka,” Seekor kuda bertanduk menoleh ke belakang, seraya menghembuskan napas lega. Sudah cukup lama ia berlari, dari kejaran orang-orang yang ingin menjualnya. Untung saja, kekuatannya sangat cepat, hingga ia bisa tiba di sebuah hutan yang sangat lebat. Hutan tersebut bukan sembarang hutan.  Hutan itu memiliki pohon-pohon yang akarnya menjulang sangat tinggi. Menyebabkan hutan tersebut tertutupi oleh akar-akar pohon.

Dari kejauhan, ada seorang gadis cantik yang tengah memperhatikan, gerak-gerik dari kuda itu. Demi penyamarannya, ia bersembunyi di balik salah satu pohon, lalu mengintip kuda itu.

“Apa yang akan ia lakukan?” Gumam gadis tersebut. Ia memicingkan matanya ke seekor kuda yang tengah terdiam, di depan akar-akar pohon yang menjulang tinggi.

“Sepertinya ada yang mengikutiku,” Gadis tersebut langsung berjongkok, ketika kuda itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Jantungnya hampir copot, saat mata tajam kuda itu hampir bertemu dengannya.

“Huft… hampir saja,” Gadis itu mengelus dadanya. Untung saja, kuda itu tidak melihatnya. Jika ia melihatnya, maka tidak akan tahu seperti apa nasib gadis itu selanjutnya.

“Mungkin firasatku saja,” Kuda itu kembali menghadap ke akar-akar pohon. Ia menyetuh akar-akar pohon itu dengan tanduknya, lalu…

“Astaga!” Gadis itu hampir terjungkal ke belakang      saking terkejutnya. Ia tebelakak, saat ia melihat akar-akar pohon yang sangat tinggi itu, runtuh begitu saja dengan tanduk kuda itu. “Ini mustahil,” Gumam gadis itu tercengang.

Setelah akar-akar pohon itu runtuh, kuda itu masuk ke dalamnya. Ke sebuah tempat yang tak pernah gadis itu lihat.

“Aku ingin tahu seperti apa tempat itu,” Rasa penasaran gadis itu semakin menjadi-jadi. Ia berjalan mengendap-endap, mengikuti kuda itu yang sudah berhasil membuat gadis itu berdecak kagum.

 

Omo, kau siapa? bagaimana kau bisa masuk ke tempat ini?” Seekor kuda bertanduk, mendelikkan matanya, takala seorang gadis cantik masuk ke dalam kediamannya yang tersembunyi.

“Ah…, tadi aku…” Gadis cantik itu mengusap tengkuknya. “Tadi aku melihat kau membuka akar-akar yang menutupi tempat ini. Karena penasaran, aku masuk ke dalam tempat ini,” Ujarnya sedikit canggung.

“Tapi, bagaimana kau bisa tahu tempat ini? apa tadi kau menguntitku?” Tanya kuda itu menyelidik. Ia berjalan mendekati gadis itu, lalu menatap intens dirinya.

“Se-sepertinya begitu,” Jawab gadis itu tanpa melihat tatapan tajam dari kuda itu.

“Dasar tak sopan! aku akan memanggil pemilik dari tempat ini,” Tukas kuda itu, setelah ia berlalu dari gadis yang sudah ia cap, sebagai orang yang tak sopan. Gadis itu sepertinya belum bisa bernapas lega. Pasalnya, ia membayangkan pemilik tempat ini sebagai sosok monster atau makhluk yang menyeramkan lainnya.

“peri Song Mi, saya membawa kabar buruk untuk anda,” Kuda itu membungkuk, di depan sebuah pohon yang berbunga dan berakar indah. Pohon tersebut berbeda dari pohon lainnya. warna daunnya merah muda, dan batang pohonnya berwarna emas. Gadis itu seketika tercengang, akan keindahan pohon ajaib tersebut.

Tak lama kemudian, seorang wanita cantik keluar dari pohon itu. Rambutnya dikepang daun. Matanya berbinar, kulitnya seputih susu, dan ia mengenakan mahkota bunga di kepalanya. Dan satu lagi. Ia memiliki sayap yang lebar berwarna merah muda. Sungguh menawan.

“Berita buruk apa yang ingin kau sampaikan, Min Ji?” Ternyata kuda bertanduk itu bernama Min Ji. Min Ji menolehkan kepalanya ke gadis cantik tersebut. Song Mi mengikuti arah pandang Min Ji. Ia sedikit terkejut, ketika seorang gadis cantik bisa masuk ke tempat tinggalnya yang tersembunyi.

“Bagaimana kau bisa masuk ke sini?” Tanya Song Mi saat ia terbang mendekati gadis itu.

“Pada awalnya, aku hanya mengikuti kuda itu.” Jelasnya sambil menunjuk Min Ji. Min Ji yang mendengarnya hanya melirik sinis gadis itu. “Namun, kuda itu semakin membuatku penasaran. Ia dengan ajaibnya bisa membuka akar-akar pohon itu, lalu masuk ke dalam tempat ini. Jadi, aku ikut masuk ke tempat ini, hanya untuk memastikan keberadaannya,” Sang peri tersenyum simpul. Ia menangkup wajah gadis itu lalu berkata

“Siapa namamu?” Tanya Song Mi.

Nae ireum Kang Seo Jin imnida” Gadis itu membungkuk sebagai salam perkenalan.

“Selamat datang di Vanyzila, Kang Seo Jin. Sepertinya, ramalan langit itu benar,” Song Mi melebarkan kedua tangannya sebagai salam penyambutan.

“Va…vanyzila?” Seo Jin makin bingung. Nama tempat itu terdengar asing di telinganya.

“Ya, Vanyzila,” Song Mi mengangguk mantap. “Vanyzila adalah tempat tinggal peri yang tersembunyi.” Song Mi tersenyum tipis, saat memandangi tempat tinggalnya.

“Pantas saja tempat ini sungguh indah. Aku belum pernah melihat tempat seperti ini sebelumnya,” Seo Jin mengedarkan pandangannya ke sekitar. Pohon-pohon yang tinggi dan berdaun emas, Rerumputan yang berwarna biru, serta kunang-kunang yang berkilau. Di sana, juga ada sebuah danau yang di sekitarnya terdapat ladang bunga lily. Semua hal itulah yang membuat mulut Seo Jin menganga kagum.       

“Tetapi, semua kebahagianku lenyap, ketika Lee Jae Soo datang,” Raut wajah Song Mi seketika berubah. ”Ia membunuh seluruh keluargaku dan temanku.” Setetes butiran bening terjatuh dari matanya. Seo Jin menatap iba temannya. Ia menepuk pelan bahu Song Mi.

 

“Peri Song Mi, peri Song Mi,” tiba-tiba saja, Min Ji berlari terbirit-birit menghampiri mereka berdua. Raut wajahnya sulit di tebak. Napasnya terengah-engah.

“Apa yang terjadi Min Ji? kenapa kau berlari terburu-buru?” Tanya Seo Jin keheranan.

“Lee…lee,” Min Ji tergagap. “Lee Jae Soo ada di sini,” lanjutnya.

“Gawat, Kita harus secepatnya pergi dari sini! Ia tidak boleh tahu, kemana berlian itu dibawa,” Seo Jin yang masih kebingungan, tiba-tiba tangannya ditarik oleh peri Song Mi, lalu dibawa terbang sejauh mungkin. Min Ji pun menyusul mereka.

Tapi sayangnya…


Anyeonghaseo, Song Mi. Sudah ratusan tahun kita tak berjumpa,” Seorang lelaki ber-hanbok sutra seketika menghadang jalan Song Mi. Ia tersenyum miring, saat matanya berpapasan dengan mata nyalang Song Mi.

“Sepertinya, kau membawa wanita yang diramalkan langit, ya?” Pandangan lelaki itu beralih ke Seo Jin, yang berada di belakang Song Mi. Song Mi melangkah mundur, lalu mengenggam tangan Seo Jin erat-erat.

Kening Seo Jin mengernyit. Ia tidak tahu, apa yang sedang terjadi saat itu.

“Lee Jae Soo, aku tidak bisa biarkan kau menyentuhnya,” Ucap peri Song Mi ketus. Jae Soo tertawa renyah. Namun, sesaat kemudian, tawa renyahnya berubah menjadi seringai.

“Tapi sayangnya, aku sangat ingin menyentuhnya,” Jantung Seo Jin spontan berdegup cepat. Tatapan Jae Soo mengerikan. “Aku akan mengutuknya menjadi angsa,” Jae Soo tertawa keras, saat dirinya berhasil mengutuk Seo Jin dengan cincinnya. Peri Song terdiam terbeku, begitupula dengan Min Ji. Langit yang awalnya cerah, berubah menjadi hitam.

“Selamat tinggal kalian semua.” Jae Soo kembali tertawa, namun lebih keras. Sedangkan Seo Jin, ia belum bisa menerima apa yang sedang terjadi pada dirinya.

“Peri Song Mi,” Lirih Seo Jin sendu. Nasi telah menjadi bubur. begitulah bunyi peribahasa.

“Maafkan aku, Seo Jin.” Peri itu menitikan air mata penyesalan.

“Peri Song Mi, bukankah kau bisa merubahnya menjadi manusia lagi?” Usul Min Ji.

“Akan kucoba,” Song Mi memejamkan matanya. Ia mengangkat tongkat sihirnya, kemudian memunculkan sinar-sinar yang menyelimuti Seo Jin.

Tapi sayangnya, saat sinar itu perlahan menghilang, tidak ada perubahan pada Seo Jin. Ia tetap menjadi seekor angsa.

“Bagaimana ini?” Seo Jin terisak.

“Seo Jin, kau bisa menjadi manusia lagi saat matahari terbenam. Tetapi, ada satu syarat, agar kau bisa kembali menjadi manusia seutuhnya,”

“Apa itu peri Song Mi?” Seo Jin menatapnya penuh harap.

“Ciuman cinta pertama lah, yang akan mengakhiri kutukanmu,”

************

“Tuan muda Jeon, sore hari telah tiba. Alangkah baiknya jika kita berhenti berburu, sebelum datangnya malam hari,” Seorang pemuda menghentikan kudanya, takala orang yang ada di sampingnya menasihatinya.

“Tenang saja, pelayan kim! Sekarang adalah waktu yang terbaik untuk berburu,” Sahut pemuda itu dengan santainya. Sang pelayan hanya bisa menghela napas ringan. Ia ingin menjadi pelayan yang baik untuk tuannya. Mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan berburu mereka, menuju hutan yang sangat dalam.

“Pelayan Kim, coba lihat ini!” Pemuda bernama Jeon itu mengernyit heran. “Ini pertama kalinya aku melihat akar pohon yang sangat tinggi,” Jeon menengadah, menatap akar pohon yang tingginya luar biasa.

“Kau benar, tuan muda. Ini luar biasa,” Pelayan Kim berdecak kagum.

Rasa penasaran pun timbul. Jeon, si pemuda tampan itu, melangkah mendekat ke akar-akar pohon, yang menjulang tinggi hingga ke langit. Ia sentuh akar itu dengan tangannya, lalu sesaat kemudian…

Omo! akar ini…” Mata Jeon membulat lebar, takala akar-akar itu perlahan mulai runtuh karena sentuhan tangannya. Pelayan Kim yang berada di belakang tuannya, membuka mulutnya lebar-lebar,       saking tak percaya apa yang ia lihat.

Di depan Jeon, ada sebuah tempat yang sangat indah. Rasa penasaran Jeon semakin meluap. Ia bersama pelayannya masuk ke dalam tempat itu, lalu akar-akar itu secara otomatis tertutup.

                                                         *************

“Oh tidak! ada seseorang yang masuk ke tempat ini,” Seekor angsa yang tengah berenang di danau, terperangah kaget dengan kehadiran seorang lelaki, yang masuk ke dalam “rumah barunya.”

“Dia tidak sendirian. Ada orang lain di belakangnya. Aku harus secepatnya pergi,” Angsa itu  mengepakkan sayapnya yang lebar, kemudian terbang tinggi ke langit biru.

“Wah…, angsa itu sangat cantik,” Jeon begitu terpana akan kecantikan dari angsa itu. “Pelayan Kim, berikan aku panahku,” Perintah Jeon kepada pelayannya.

“Baik, tuan muda!” Pelayan Kim mengangguk. Lantas, ia berikan panah kesayangan tuannya.

“Aku akan jadikan angsa itu sebagai penghias kamarku,” Jeon mengambil salah satu anak panah. Kemudian, meletakkannya di tali busur, lalu menariknya secara dalam-dalam. “Aku akan memanahnya dalam hitungan ketiga,” Jeon memicingkan matanya. Mengarahkan panahnya tersebut ke seekor angsa yang tengah melayang di udara.

“satu…, dua…Jeon  bersiap membidik angsa itu. “Ti…”. Seketika, Jeon menurunkan anak panahnya. Ia tercengang,  ketika angsa itu berubah menjadi sesosok gadis yang cantik, tepat matahari tenggelam di ufuk barat.

“Tuan muda, hati-hati dengan gadis itu,” Pelayan Kim menarik ke belakang lengan Jeon. Jeon menoleh. Ia anggukan kepalanya, tanda bahwa ia baik-baik saja. Gadis cantik itu membuat Jeon rela turun dari kudanya. Ia dekatkan dirinya dengan gadis itu, lalu memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki.

“Apa kau manusia sungguhan?” Tanya Jeon penasaran. Ia pun mendekatkan wajahnya ke gadis itu, sehingga jarak di antara mereka hanya satu centimeter.

“Ten-tu saja. Aku bukanlah monster seperti apa yang kau pikirkan,” Sahut gadis itu sedikit gugup. Gadis mana yang tidak gugup, apabila seorang pria tampan mendekati dirinya. “Lalu, kau siapa? dan kenapa kau bisa masuk ke tempat ini?” Gadis itu berbalik bertanya. Ia menjauhkan dirinya dari Jeon dan menghindari tatapannya.

“Oh iya, kita lupa berkenalan.” Jeon tertawa kecil. “Namaku adalah Jeon Jungkook.” Jeon mengulurkan tangannya. Alih-alih, gadis itu tak bergeming. Ia masih gugup untuk membalas uluran tangannya. Melihat hanya dirinya yang mengulurkan tangan, Jungkook menarik tangannya dan berdeham. “Baiklah kalau kau tidak mau berke…,”

“Namaku Kang Seo Jin,” Potong gadis itu cepat. “Lalu, kenapa kau bisa masuk ke tempat ini?” Tanya Seo Jin lagi.

“Itu karena aku menyentuh akar yang tinggi, kemudian masuk ke tempat ini,” Jungkook memasang raut wajah santai. Seo Jin memasang ekspresi tak percaya.

“Kalau begitu, apa mungkin dia adalah cinta pertamaku?” Seo Jin berfirasat.

“hmm…” Jungkook bergumam. “Besok malam, aku akan mengadakan pesta ulang tahun yang besar di rumahku. Apa kau mau datang ke sana?” Seo Jin terhenyak. Ia baru bertemu dengan Jungkook, tetapi ia sudah diajak ke pestanya.

“mungkin,” Jawab Seo Jin seraya tersenyum kikuk. Ia menyelipkan sehelai rambutnya di telinga.

“Gunakan topeng dan pakaian yang sangat bagus. Karena kau adalah wanita pertama yang kuundang di pestaku,” Jelas Jungkook sambil tersenyum tipis. Seo Jin menggangguk malu-malu. “Seo Jin, tunggu sebentar…” Jungkook mengambil beberapa daun yang menempel di rambut Seo Jin. Refleks,  jantung Seo Jin berdegup tak karuan. Ini pertama kalinya, seorang lelaki tampan menyentuh rambutnya.

“Te-terima kasih,” Sahut Seo Jin gugup yang membuat warna merah muncul di pipinya.

“Sepertinya, langit mulai gelap.” Jungkook menengadah ke atas. “Lebih baik aku pulang, sebelum serigala berkeliaran di hutan. Sampai jumpa di pesta, Kang Seo Jin,” Jungkook melambaikan tangan sesaat, sebelum ia menunggangi kudanya. Perlahan, pria tampan itu berlalu dari Vanyzila bersama pelayannya. Seo Jin terdiam. Ia memandang lekat-lekat Jungkook, yang mulai menjauh bersama kudanya.

 

*********

Sebuah alunan musik klasik, bergema dengan merdunya di rumah yang sangat besar. Orang-orang yang berada di rumah itu, berdansa dengan indahnya mengikuti alunan musik. Tak terkecuali dengan seorang lelaki, yang tengah duduk termangu di kursi kayu.

“Kenapa ia belum datang?” Ia memperhatikan satu persatu orang yang hadir di pestanya. Namun, orang yang ia tunggu belum menampakkan batang hidungnya. “Sepertinya aku harus mencarinya,” Pemuda itu memutuskan untuk bangkit, lalu berjalan cepat mencari seseorang. Hingga akhirnya, ia tak sengaja menabrak seorang gadis, yang menurutnya       familiar.

“Apa kau Kang Seo Jin?” Tanya Lelaki itu ragu. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban.

Seketika, senyum lebar tercetak di wajah lelaki itu. Seseorang yang ia tunggu kehadirannya, akhirnya muncul, dengan penampilan yang anggun. Rambut digerai rapi, hanbok berwarna ungu terbalut indah di tubuhnya. Ia juga mengenakan topeng berwarna merah.

“Ikutlah denganku!” lelaki itu menarik tangan Seo Jin. Tapi, saat lelaki itu menyentuh tangan Seo Jin, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Namun, lelaki itu secepatnya membuang firasat buruknya. Ia pasti Seo Jin, bukan orang lain.

**********

 

“Tidak mungkin!” Seorang gadis terdiam terbeku, di belakang dua orang yang tengah memadu kasih.

“Jungkook!” Lirih gadis tersebut. Air matanya mengalir di pipinya.

Kening Jungkook mengkerut. Mengapa suara wanita yang ia cintai berada di belakangnya? Bukan di hadapannya? Lalu, siapa wanita yang ia cium?

Jungkook perlahan membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa wanita yang ia cium bukan Seo Jin, melainkan…

“Lee Ji Na, apa yang kau lakukan?” Jungkook refleks mendorong Ji Na ke belakang.

“Kenapa kau berhenti menciumku?” Ji Na tersenyum licik. Jungkook tak mengubrisnya. Ia lebih memilih menghampiri Seo Jin yang wajahnya terlihat memucat.

Ciuman cinta pertama memang bisa mengubah kutukan. Akan tetapi, jika kau tidak mendapat cinta pertamamu, maka nyawamu lah yang akan menjadi tawarannya

“Kenapa kau tega membohongiku?” Tanya Seo Jin pilu. Jungkook menghela napas berat. Ia memeluk tubuh Seo Jin, namun ia dengan cepat menolaknya. “Jangan sentuh aku!” Ucap Seo Jin sangat dingin. Hatinya bagaikan digores pedang, ketika melihat Jungkook berciuman dengan wanita lain.

“Arghh!” Tiba-tiba saja, Seo Jin merasa kesakitan di dadanya. Jungkook menjadi kalut. Ia tangkap tubuh Seo Jin yang mulai limbung.

“Seo Jin-ah, kumohon bertahanlah!” Jungkook memangku tubuh lemah Seo Jin. Ia menggenggam erat tangan Seo Jin.

“Jungkook, maafkan aku. Aku tidak bisa bersamamu lagi,” Tepat pengucapannya yang terakhir, Seo Jin memejamkan matanya. Genggamannya terlepas begitu saja.

“Seo Jin-ah,” Jungkook memekik histeris. Ia merengkuh erat tubuh Seo Jin. Air matanya mengalir deras dan membasahi wajah pucat Seo Jin.

Namun, di sela tangisannya, ia teringat sesuatu…

Ciuman cinta pertama bisa menaklukan kutukan seseorang

Jungkook teringat akan sepenggal cerita yang ia baca. Lantas, ia mendekatkan bibirnya di kening Seo Jin, lalu menciumnya dengan penuh kehangatan.

Tak lama kemudian…

“Jungkook-ah,” Lirih Seo Jin. Jungkook mendelik senang, ketika Seo Jin perlahan membuka matanya.

Tetapi, tiba-tiba saja Sinar kuning layaknya cahaya matahari menyelimuti Seo Jin. Jungkook spontan menjauhinya. Ia takut sekaligus heran dengan cahaya itu.

Semakin lama cahaya itu semakin besar, sehingga menimbulkan ledakan yang membuat Jungkook terpental ke belakang. Seo Jin keluar dari cahaya itu dengan wajah yang bersinar. Dan tato bergambar angsa menghilang dari keningnya. Pertanda bahwa kutukannya telah hilang.

“Kang Seo Jin, apa kau baik-baik saja? Aku sempat khawatir saat kau diselimuti sinar yang terang,” Tanya Jungkook khawatir. Seo Jin menggeleng. Alih-alih, ia tersenyum lebar lalu kembali memeluk Jungkook.

Saranghaeyeo, Jungkook-ah,” Bisik Seo Jin pelan.

Nado Saranghaeyeo, Kang Seo Jin,” Balas Jungkook kemudian beralih menangkup wajah Seo Jin. ia menatap lekat-lekat wajahnya, lalu pandangannya tertuju di pipinya. Mengecupnya dengan lembut, menyalurkan seluruh cintanya di pipi Seo Jin.

Cinta memang bisa mengubah segalanya.

Bahkan, sebesar apapun kekuatan sihir jahat, akan takluk dengan adanya cinta sejati.

The End

 

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s