[Boys Meet What?] First Love – Oneshot

photogrid_1482490724169

First Love

A story by carishstea

Stared by BTS’s Suga as Min Yoongi & OC’s Hwang Mina

Support casts: BTS’s V as Kim Taehyung-the second grim reaper & Mors (Dewa Kematian menurut mitologi Yunani)

Fantasy || Romance || Hurt

Rate: General

Disclaimer: All the cast is owned by god. But the story line pure from my imagination. No bash and plagiat. And don’t forget to leave your review. Thanks 😆😆😆.

Happy Reading!!

Summary:

Pertemuan terjadi karena sebuah alasan. Entah itu adalah sebuah berkat dari Nya, ataukah hanya sebuah ujian yang akan berlalu.

Tapi cinta berjalan layaknya sebuah balon. Mudah untuk meniupnya. Menyenangkan untuk melihatnya perlahan mengembang. Tapi untuk melepasnya pergi dan melihat ia terbang menjauh bukanlah sebuah yang mudah dan menyenangkan. Hal yang paling sulit adalah melepaskan. Karena melepaskan adalah sebuah permulaan untuk memulai sebuah akhir.

 

“Akh!”

Matanya mengedar pandang ke seluruh isi ruangan. Ia meremas selimut putih di atasnya kuat. Menunggu hingga sang paru-paru mampu menangkup oksigen dengan normal lagi.

“Sallyeojuseyo. Nugu eopso, sallyeojuseyo.” (Tolong aku. Siapapun tolong selamatkan aku.)

Seklebat ingatan kembali mengambil ruang di pikiran Mina. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan kasar. Berharap ia bisa tahu sesuatu pasal mimpi anehnya. Ini adalah kali ketiga ia bermimpi bab yang sama. Ia berada di gunung, hutan, dan gubuk, hampir dalam waktu yang sama. Lantas sebuah suara muncul di tengah gelapnya hutan. Memecah hening sunyi yang diciptakan oleh mahluk-mahluk hutan yang mulai terlelap.

“Apa itu?”

“Entahlah. Sebuah hadiah mungkin?”

“Dandelion?”

Hal-hal lain sejenis mimpinya itu kini malah bedatangan seolah mengantri untuk mengingatkan si gadis akan sebuah kejadian. Otaknya terus berputar menerka apa itu, dan kenapa mimpi itu rajin sekali mengunjunginya. Namun semakin ia berpikir, denyut demi denyut darahnya yang mengalir ke kepala kian ramai. Lantas kepalanya menjadi pening, dan akhirnya ia hanya bisa membiarkan bayangan-bayangan itu berlalu layaknya sebuah video singkat yang berterbangan.

 

***

 

Ratusan kelelawar di sana mengepakkan sayap berototnya dengan bebas. Di antara menjulangnya pepohonan pinus di musim dingin, mereka menyelinap, membelah angin di antara sela-sela kosong di hutan.

Sementara itu, di salah satu pohon pinus yang paling tinggi, berdirilah seseorang dengan jas hitam panjangnya, serta tudung yang menutup sebagian rambut hitamnya. Terpaan angin ikut bermain-main dengan poni si pemuda yang berulang kali tersibakmenambah pesona tampannya.

Di tangan itu tengah bergelantungan sebuah tali perak, dengan liontin cantik berbentuk malaikat. Wajah si pemuda mengeras menahan segala rasa yang kini masih berkecamuk dalam tubuhnya. Ia mencoba menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Betapa konyol tindakan itu. Bahkan ia saja tak bernafas. Karena sejatinya, ia adalah seorang malaikat maut.

Baru beberapa saat yang lalu, ia mendapat kartu baru dari Mors. Di sana tertera nama seseorang yang ia kenal. Seseorang dalam memori otaknya. Ia pun menghela nafas dingin seraya memejamkan kelopak tipis itu, membiarkan setetes bulir bening mengalir di atas pipinya.

“Yoongi hyung! Mau menemaniku ke Jeonju?” sebuah suara berat seseorang memecah suasana hening yang sengaja dibuat oleh pria bernama Min Yoongi itu. Ia pun menoleh ke arah mitra kerjanya yang beberapa tahun lebih muda. Cairan di pipinya sudah lenyap otomatis ketika ia menoleh.

“Aku ada pekerjaan di sana,” jelas pemuda bersuara berat tadi, Taehyung. “Tapi kali ini ia seorang gangster. Aku takut ia akan melarikan diri ketika melihatku. Bantu aku membawanya ke alam baka. Ne?”

Yoongi mengangguk samar ketika Taehyung mengajaknya untuk yang kedua kali. Sebagian dari dirinya cukup senang untuk bisa pergi ke “Slow City” itu. Namun tubuhnya yang lain dilanda perasaan cemas. Untuk saat ini, ia takut untuk bertemu seseorang.

 

***

 

Agen-agen rahasia yang dipekerjakan secara khusus oleh Pemerintah Korea tidaklah terlalu banyak. Tahun ini mereka hanya mempekerjakan sepuluh orang agar rahasia pemerintah tetap aman. Mina adalah salah satunya. Seusai mengawasi di Blue House, Mina bergegas pulang untuk menikmati hidup.

Saat ini ia sedang ingin menikmati indahnya musim dingin dengan melihat salju, juga memesan beberapa makanan hangat untuk dibawa pulang.

Di pertengahan jalan, ia berhenti pada sebuah bangku taman. Mendudukkan diri di sana, lantas mengedar pandang guna menampak ribuan salju yang kini tengah berjatuhan indah.

FLUSH

Puluhan angin ikut berhembus, melengkapi dinginnya salju. Bahkan mereka membawa beberapa kelopak dandelion yang sangat mudah terbang itu ke wajah Mina.

“Dandelion, huh? Tapi ini musim dingin,” ujar Mina dalam hati.

Setelah menangkap salah satu kelopak bunga itu, Mina menatap lurus ke arah depannya. Di sana, seorang pria berjas panjang juga tengah menatap Mina. Di tangan pemuda itu terdapat tangkai dandelion yang sudah habis kelopaknya. Buru-buru, Mina berlari ke arah si pemuda dan segera bertanya dengan takjub,

“Apa itu?”

.

.

.

“Ck… untung kau membantuku, hyung. Manusia zaman sekarang memang kurang aturan.” Taehyung menepuk-nepukkan telapaknya sendiri, menghilangkan debu yang menempel di sana. Sedang pria di sampingnya, Yoongi, tak merespon apapun dan tetap mengayun tungkai ke depan.

Hyung!” panggil Taehyung. “Aku ingin mengucapkan terima kasih. Ada hal yang sedang kau inginkan?” Kini Taehyung menghalangi jalan Yoongi, memaksa pria itu untuk balas menatap cengiran bodohnya.

“Menyingkir dari jalanku!” ujar Yoongi cepat, lantas mendorong tubuh Taehyung ke samping hingga ia tersungkur.

Taehyung tersenyum miring melihat tingkah seniornya yang sembarangan mendorong orang. Namun tiba-tiba sebuah ide kecil menyelinap masuk ke dalam otaknya. Taehyung dengan jahilnya masuk ke alam pikir Yoongi.

Setelah tahu isi pikiran Yoongi, ia menggerakkan jemarinya lihai, lalu sebuah dandelion putih tiba-tiba saja muncul di genggaman Yoongi. Sontak Yoongi pun menoleh ke arah Taehyung yang menyeringai. Tapi Taehyung malah mengibaskan tangannya kecil, membuat kelopak-kelopak bunga itu berterbang indah menuju seorang gadis yang tengah duduk di salah satu bangku trotoar.

Tentu Yoongi mengikuti arah pandang Taehyung yang nampak mencurigakan. Gadis itu tersenyum dengan cantiknya bersama puluhan kelopak dandelion. Membuat Yoongi yang melihatnya hanya bisa diam tak bergerak.

“Kau ingat namanya, bukan?” Teahyung menepuk bahu Yoongi seraya berujar, “Hwang Mina. Aku telah membantumu. Sampaikan yang belum kau sampaikan. Waktumu 12 jam. Aku akan menutupinya dari Mors. Semoga sukses.”

Dalam satu jentikan, Taehyung menghilang menjadi debu. Berteleport ke lain tempat, memberikan Yoongi yang masih membeku itu ruang untuk bersama cinta pertamanya.

“Apa itu?” Mina merajut langkahnya ke arah Yoongi dengan air muka takjub. Tapi Yoongi diam, masih bergulat dengan kebimbangan antara ia harus melepas Mina, atau sekali lagi memulai ulang dengannya.

“Dandelion?” tanya Mina lagi. Tapi kenapa rasanya seperti deja vu? Gadis itu kini sedikit mendongak, menantikan jawaban yang akan keluar dari bibir Yoongi. Mereka pun kembali bertemu pandang karena sedari tadi Yoongi masih memandangi gadis itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

Tanpa Yoongi sadari, tangannya mulai tergerak ke atas, kemudian dengan lembutnya mengusap pucuk kepala Mina dengan mata yang telah berlapis air mata.

“Oh, kenapa kau seperti ini? Aku hanya bertanya.” Mina menjauhkan jemari pria itu dari kepalanya dengan agak canggung. Buru-buru setelah sadar, Yoongi menarik tangannya sendiri, lalu berdehem kecil.

Mina menatap sekitar, menghilangkan nuansa aneh yang tiba-tiba muncul. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Mina kembali membuka suara, “Namamu siapa? Kau sepertinya bukan dari Jeonju. Orang Seoul?”

Yoongi masih diam. Jujur, di satu sisi ia memang harus menjauh dari Mina. Namun berada sedekat ini dengan Mina, Yoongi tak ingin Mina menghilang lagi. Setidaknya seperti kata Taehyung, ia harus mengucapkan selamat tinggal agar perasaannya membaik.

“Kau benar, aku bukan dari Jeonju. Mau menemaniku jalan-jalan? Aku tak tahu daerah sekitar sini,” Yoongi akhirnya menatap Mina dengan lurus sekali lagi. Tersenyum manis, berharap Mina mengiyakan ajakannya.

Gadis itu hanya diam. Ia bingung. Tak mengerti akan sikap Yoongi yang tiba-tiba. Tapi entah bagaimana, hatinya ingin mengangguk. Mengangguk tanpa sebab yang jelas. Dan dagunya pun berkata demikian. Ia mengangguk begitu saja.

.

.

.

Mereka berjalan di atas gumpalan salju putih yang bertumpuk akibat tadi malam salju-salju itu berjatuhan ria. Sesekali tertawa sebab guyonan masing-masing. Lalu diam, akibat nuansa canggung yang tiba-tiba menyelip masuk di antara keduanya.

“Kau sebegitu vegetariannya? Tak ingin mencicip sedikit saja?” Mina menyodorkan sepotong kue ikan yang baru di ambilnya di depan kedai.

Namun Yoongi berulang kali menggeleng sopan seraya menyunggingkan senyum.

“Wae? Kau membenci daging? Atau… atau hidungmu sensitif pada bau amis?” Mina masih tak mengerti dengan sikap Yoongi yang keras kepala.

“Aku tak makan daging, Mina-ssi. Aku sungguh tak bisa memakannya,” jelas Yoongi. Namun gadis itu tetap saja memasang wajah kesal, membuat Yoongi berulang kali harus merutuki diri atas takdir yang mengikatnya.

Berakhirlah mereka di kedai udon tepian jalan raya sekarang. Di tengah kekesalannya, gadis itu kembali mengulang pertanyaan, untuk memulai pembicaraan,

Jogiyo,” panggil Mina. “Tapi kau tahu? Sepertinya aku mulai penasaran padamu. Terutama dandelion tadi. Kau mengambilnya dari mana? Setahuku mereka baru mulai tumbuh di musim semi.”

Yoongi tersenyum sejenak sebelum membalas, “Dandelion? Kenapa? Kau menyukainya?”

Mina tertegun mendengar kalimat Yoongi. Jujur, ia jarang sekali melihat atau meniup dandelion. Namun ketika kelopak-kelopaknya tadi menyentuh wajah Mina, ia benar-benar jatuh cinta pada bunga itu.

“Ya, itu pertama kalinya bebungaan terbang di depanku. Aku sangat menyukainya,” Mina tersenyum setelah mengatakannya. Begitu pula Yoongi yang makin melebarkan senyum manisnya.

Yoongi mengambil beberapa tisu, lantas membersihkan noda makanan di sudut bibir Mina.

“Mau ke tempat yang penuh benda-benda itu?” tanya Yoongi setelah menarik tangannya kembali.

Mina mengerutkan dahi setelah dibuat malu sebelumnya, meragukan perkataaan Yoongi yang terdengar seperti akan mengajak Mina ke tempat yang barusan Yoongi katakan.

Tanpa seizin Mina, Yoongi menarik lengan gadis itu dan membawanya ke luar restoran. Namun…

SLASH

Segera setelah Yoongi membuka pintunya, percikan ombak Hindia menyambut mereka dengan ria. Memecahkan diri kepada bebatuan hitam asimetris, lalu kembali turun berkumpul dengan air-air lain.

Tebing itu berdiri gagah, dengan ratusan ilalang dan dandelion di atasnya. Tak mau kalah, sang bayu ikut berkejaran satu dengan lainnya, menciptakan desiran sejuk bagi para manusia yang baru menampakkan diri di sana.

“O… oh!” Mina tak bisa berhenti tersenyum, seraya memandangi bangau-bangau cantik yang berjajar indah layaknya sebuah piramid dua dimensi.

Yoongi dengan manisnya mengalungkan syal yang ia kenakan ke leher Mina, menimbulkan semburat pink di pipi gadis itu timbul.

“Udaranya akan semakin dingin,” ujar Yoongi.

Gadis itu tersenyum. Sedang si pria malah membeku melihat senyumnya. Yah, senang tangisnya yang dulu kini telah berubah menjadi senyum cantik.

“Bagaimana kau melakukannya? Kita di mana?” Mina menoleh ke arah Yoongi, mencoba mengalihkan topik.

Namun Yoongi, ia bukannya membalas, tapi malah menyeringai, lalu berjalan mendahului Mina. Tangannya seolah menerbangkan semua dandelion putih di tempat itu. Mereka terbang di sekitar Yoongi dan Mina seperti di alam mimpi. Lalu Yoongi mendudukkan diri di tepi tebing seraya mengayunkan kaki jenjang itu ke depan belakang dengan ditemani bunga-bunga dandelion yang meenebarkan diri di udara lepas.

Melihat Yoongi, Mina pun ikut mendudukkan diri di sebelah pemuda itu. Membalas sendiri pertanyaannya, menghilangkan sunyi yang juga diganggu berbisik-bisik angin, “Dari angin dan ombaknya, ini Hindia bukan? Kita dimana? Pulau tropis? Aku yakin kita di daerah tropis karena ilalang dan dandelionnya subur begini. Ck, kau benar-benar membuatku terkesan, Tuan Dandelion,” Mina mengatakannya seraya tertawa manis, membuat cekungan di pipi kanannya terlihat.

“Tuan Dandelion?” ulang Yoongi seraya menaikkan alis.

Mina menghempas nafasnya sembari tertawa kecil, “Kau tak ingatkah, kita belum saling berkenalan? Lalu harus bagaimana aku memanggilmu?”

“Yoongi. Namaku Min Yoongi,” balas Yoongi cepat. Ia mengulurkan tangannya pula ke arah Mina setelah itu.

Mina dengan senyum merekah ikut mengulurkan tangan, menjabat telapak Yoongi,  lalu membalas, “Senang bertemu denganmu, Min Yoongi. Namaku-“

DARRR…DARR…DARRRR

Puluhan petir saling bersahutan di atas lautan biru di depan kedua insan itu. Mina masih membeku di tempat mungkin saking terkejutnya. Guntur itu bahkan sampai menggema di telinga mereka yang mendengar. Para mahluk bersayap juga menghambur menjauh menghindari kilat. Membubarkan diri dari pleton rapi yang mereka bentuk.

Yoongi dengan segera menarik tangan Mina menuju satu gubuk yang berdiri tak jauh dari mereka sekarang. Tapi saat mereka melewati pintunya, mereka sudah berada di trotoar tepi jalanan Jeonju.

Mina tertawa setelahnya. Yoongi tahu Mina merasa aneh. Mulanya ia pikir Mina tak terlalu peduli pada semua kekuatan yang ia miliki. Namun sepertinya sekarang gadis itu mulai ketakutan.

Yoongi hendak melepas pegangannya, tapi si gadis malah balas menggenggam jemari Yoongi lebih erat, lalu menarik kurva bibirnya ke atas dengan mata berbinar.

“Kau sudah membawaku ke tempat yang menakjubkan. Sekarang giliranku membalasnya. Kajja!”

.

.

.

Mereka sampai di Moaksan dengan mobil Mina. Menikmati suasana gunung yang berpadu dengan pedesaan gaya Joseon. Duduk di salah satu rumah tradisionalnya, lalu mereka mulai bercerita dan kembali tertawa.

Kali ini Mina menceritakan semuanya. Bagaimana kehidupannya, hal-hal yang disukainya sekarang, bahkan sampai pengalaman menjadi agen yang sebenarnya tak boleh ada yang mengetahuinya.

Waktu terus berlalu, dan otak Yoongi yang sedari tadi berputar memikirkan sesuatu, akhirnya mendapat titik terang.

“Mina, aku ingin bercerita. Ini soal kisahku.”

Mina pun mengangguk membiarkan Yoongi menyusun paragrafnya sendiri.

“Tahu kenapa aku mengajakmu ke tempat tadi?”

Mina nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Karena aku ingin melihat Dandelion?”

Yoongi kembali tersenyum kecil mendengarnya.

“Aku pernah ke sana dengan seseorang sebelumnya. Kami sering mengunjungi tempat itu. Tapi atasanku memarahiku. Aku tahu hubungan kami memang seharusnya tak pernah terjadi. Jadi akhirnya kuputuskan untuk mengakhirinya.

“Di tebing itulah kami selesai. Dan ia menangis seolah akan menghabiskan semua air mata di tempat itu. Tapi aku tak bisa melakukan apapun untuknya.

“Kau… kau tahu aku punya kekuatan spesial, bukan?” Mina pun balas mengangguk.

“Aku menghapus ingatannya sehingga ia tak menangis lagi. Jika ia tak mengingatku, maka ia juga tak akan merasakan pedih.

“Kami diberi kesempatan beberapa kali untuk berpapasan oleh sang kuasa. Yah, ia hanya berlalu seperti angin. Sedangkan aku dengan bodohnya, selalu tersenyum seolah mengenalnya dengan baik,” Yoongi menyelesaikan ceritanya dengan sebuah senyum nanar. Tapi setelah senyum sejemang itu, ia melanjutkan,

“Satu hal yang kusesali adalah belum sempat mengatakan salam perpisahan. Padahal aku tahu sebentar lagi aku tak mampu melihatnya lagi.”

Mina diam sejenak sebelum menjawab. Matanya sempat meembulat ketika mendengar tuturan Yoongi. Tapi akhirnya, “Pasti sangat menyakitkan,” tanggap Mina. Lalu tiba-tiba gadis itu tersenyum sembari berujar,

“Gadis itu sangat beruntung. Ia tak mengenalmu lagi. Bahkan kalian lost kontak sama sekali. Bagaimana kau bisa masih peduli akan ucapan selamat tinggal? Ia saja tak tahu kalau kau ada,” ujar Mina panjang lebar. Matanya berbinar indah setelah mengatakan semua itu.

Seutas lengkungan bibir menghiasi wajah Yoongi. Kotak hitam berisikan tali perak yang sebelumnya selalu dipandangi oleh Yoongi kini telah duduk manis di genggamannya. Siap untuk diulurkannya kepada si gadis.

“Hwang Mina, aku-“

PLAKK

Seorang pria berjas hitam lainnya tiba-tiba datang menghampiri Yoongi, lalu memukul kepalanya cukup keras. Refleks, Yoongi mendongak berniat melampiaskan kesal pada orang yang mengganggunya. Tapi sebelum itu,

Hyung, paboya?” Taehyungpria berjas hitam itukini berdiri di sebelah Yoongi dengan wajah polos. Tentu Yoongi balik menatap Taehyung meminta penjelasan.

“Kau ceroboh sekali. Hyung, bagaimana kau bisa-“

“Ssst!”

“Yoon, ada sesuatu yang salah? Kau sedang melihat apa, serius begitu?” Mina kini menatap Yoongi heran. Yang ditatap itu pun balas menoleh, lalu tertawa renyah.

Mina tak bisa melihat Taehyung tentu saja. Yoongi pun mengelak dengan berkata, “Awannya sangat cantik. Bukankah begitu?”

Mina pun menoleh ke atas, membuktikan perkataan Yoongi.  Setelah netranya menangkap bayangan indah, sudut bibir Mina terangkat menciptakan sebuah senyuman manis. Di saat itulah Yoongi mengambil kesempatannya. Ia mengalungkan sebuah kalung perak berliontinkan malaikat cantik di leher Mina.

“Itu hadiahmu,” ujar Yoongi sementara Mina masih memegangi lehernya untuk memastikan sesuatu. “Bukankah dandelion terlalu sederhana untuk dijadikan hadiah?” lanjut Yoongi terceplos omongannya sendiri.

Namun Mina balas tertawa kecil,

“Kalungnya terlihat bagus,” balas Mina. “Tapi darimana kau tahu dandelion terlalu sederhana sebagai hadiah?” lanjut Mina.

Yoongi mengerutkan dahinya tak mengerti. Sedangkan Taehyung, ia menepuk dahinya sendiri.

“Awalnya aku hanya tertawa memikirkannya. Tapi setelah otakku kembali berkelana ke alam imajinasi, aku tak bisa berhenti tersenyum setiap mengingatnya.

“Dandelion tumbuh menciptakan puluhan kapas terbang yang ketika diterpa angin memunculkan semacam harapan pada diri peniupnya. Mereka tak ragu untuk saling berpisah. Karena mereka tahu memang takdir berjalan demikian. Ketika hembusan angin tak berdosa datang, mereka bisa apa selain menghamburkan diri? Ketika tebaran diri mereka bergerak saling menjauh, mereka bisa apa selain menurut? Mereka hanya bisa berharap untuk dipertemukan kembali menjadi kelopak tulip barangkali di kehidupan berikutnya. Karena takdir akan berkata lain. Dandelion tumbuh layaknya semua keindahan di alam ketika kau mengambil waktu untuk memerhatikannya,” Mina tersenyum manis ke arah Yoongi. Tapi Yoongi tak bisa membalasnya. Ia membulatkan mata sipit itu, menatap Mina dengan selubung keraguan.

“Min Yoongi. Semasa aku bayi, ibuku membawaku ke seorang peramal. Ia bilang bahwa usiaku tidaklah bertahan hingga masa tua.” Kini selaput bening cairan mata mulai melapisi kornea Yoongi.

“Belakangan ini tubuhku mudah lelah. Aku lesu tanpa sebab yang jelas. Dan daerah sekitar perutku terasa aneh. Menurutmu itu pertanda apa?” Mina kini mulai menangis dalam diam. Dan setetes cairan bening tadi, juga lolos begitu saja dari pelupuk Yoongi.

Hyung, aku ke sini untuk memberitahumu. Mina sudah mengingat semuanya. Ketika ia menyebut namamu, ia akan kembali ingat segala hal yang sudah kau hapus. Petir tadi dari Mors omong-omong. Dia agaknya marah padamu. Maafkan aku karena terlambat memberitahumu,” jelas Taehyung yang masih berdiri di sebelah Yoongi.

“Waktunya tinggal dua jam. Kau bisa periksa kartumu. Lakukan yang ingin kau lakukan,” lanjut Taehyung, lantas kembali menghilang setelah mengatakannya.

Cinta berjalan layaknya sebuah balon. Mudah untuk meniupnya. Menyenangkan untuk melihatnya perlahan mengembang. Tapi untuk melepasnya pergi dan melihat ia terbang menjauh bukanlah sebuah yang mudah dan menyenangkan. Hal yang paling sulit adalah melepaskan. Karena melepaskan adalah sebuah permulaan untuk memulai sebuah akhir.

 

***

 

Sore itu bersama puluhan mahluk bernama manusia, Yoongi kembali bertemu dengan Mina. Di samping mereka, sebuah tubuh mungil tengah tergeletak lemah dikelilingi manusia berwajah prihatin. Darahnya mungucur memenuhi persimpangan, juga bagian kepala truk yang beberapa saat sebelumnya menimpa tubuh si gadis.

“Jadi kau adalah seorang grim reaper ternyata,” ujar Mina dengan rekahan senyum. Kemudian ia melanjutkan dengan air muka yang dibuatnya ceria, “Kau yang bertugas membawaku ke alam lain?”

Yoongi diam di tempatnya. Bibirnya kaku tak mampu mengucap apapun. Bahkan untuk menatap tubuh Mina yang bercucuran darah itu, matanya pedas oleh air mata.

“Jadi semua yang kau lakukan tadi sebagai hadiah perpisahan.” Yoongi menoleh ke ruh Mina yang masih mengajaknya bicara, “Setelah sekali lagi kita diberi kesempatan untuk bertemu, di hari itu pula lah aku menghilang.” Yoongi tertunduk dalam, lalu bergumam pelan,

“Aku tahu itu kejam . Mafkan ak-“

“Terima kasih,” sela Mina. Yoongi kembali mendongak menatap jiwa cantik di depannya. “Terima kasih telah mengembalikan ingatanku. Sekarang aku bisa menyimpannya, dan kusampaikan kepada Tuhan. Kuharap tugasmu sebagai pencabut nyawa akan segera berakhir. Dengan begitu kita bisa memulai ulang di kehidupan yang lain. Aku akan menunggumu, Yoon. Jadi selesaikan tugasmu dengan baik, lalu jemput aku di kehidupan yang selanjutnya,” jelas Mina diiringi tawa manis di sela-sela air mata yang mengucur deras di pipinya.

“Segera kirim aku ke tempatku,” ujar Mina akhirnya.

Akhirnya Yoongi menggerak-gerakan tangannya lihai, lantaran tak punya pilihan lain. Lalu membiarkan Mina menghilang menjadi kemerlap indah yang bertabur dandelion.

“Selamat tinggal. Saranghae.”

 

***

 

Di bawah rindangnya Zaitun, Mina berdiri dengan gaun putih panjang, layaknya seorang putri. Di tangannya telah bertumpu manis sebuket Tulip dengan warna senada dengan dress yang Mina kenakan.

Di sisi lain bukit itu, seorang pria dengan setelan putih berjalan bak seorang pangeran dengan telapak yang ia masukkan ke saku celananya. Merajut langkah menuju Pohon Zaitun Tua berbentuk Mapel.

I’ve done my task.”

“Let’s start from the beginning then. Well, I love you too.”

.

.

-FIN

A/N: Hai haiii 😂. Well beginilah efek kesenengan nonton drakor *oops

Itu beberapa scene ada yang terinspirasi sama suatu drama. Kalau kalian nonton itu juga pasti tahu.

Kalau ada yang masih bingung, itu pokoknya Mina ‘first love’ nya Yungi. Tapi masa iya grim reaper pacaran ama manusia. Akhirnya putus deh.  Abis putus, ingatannya Mina dihapus ama Yungi. Tapi pas pertama Mina nyebut nama Yungi, tetiba semua ingatannya balik lagi.

Note nya panjang sekalee ya. Ceritanya jugak 😂😂😂. Yaudah akhiru kata (*apaan sii/*plakkk) semoga pada suka. 🙋👋👋

Advertisements

One thought on “[Boys Meet What?] First Love – Oneshot

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s